Tunangan Masa Kecilku Mengaku Aku Merepotkan, Lalu Aku Tahu Aku Bukan Putri Kandung Keluarga yang Membesarkanku

Tiga hari setelah aku memutuskan berhenti menjadi Laras yang merepotkan, aku baru sadar satu hal.

Ternyata menjadi mandiri jauh lebih sulit daripada sekadar berhenti menjual tas pemberian Arga.

Aku membuka laptop dan menatap saldo rekening pribadiku. Angkanya sebenarnya cukup besar untuk ukuran orang biasa, tetapi hampir seluruh uang itu berasal dari Papa, Mama, atau Arga.

Kalau suatu hari aku benar-benar harus meninggalkan keluarga Pratama, aku ingin membawa sesuatu yang benar-benar kuhasilkan sendiri.

Karena itu, diam-diam aku menghubungi sebuah agensi digital di Jakarta Selatan yang pernah menawariku pekerjaan dua tahun lalu.

Dulu aku menolaknya mentah-mentah.

Sekarang aku menerima posisi junior marketing dengan gaji yang bahkan tidak cukup untuk membeli satu pasang sepatuku.

Hari pertama bekerja, aku datang menggunakan MRT.

Hari kedua, aku belajar makan siang di warteg bersama rekan kantor.

Hari ketiga, aku berhasil membuat kopi sendiri tanpa bantuan siapa pun.

Aku merasa sangat bangga sampai Tiara tertawa hampir lima menit ketika mendengarnya.

“Standar pencapaian hidupmu benar-benar menyedihkan.”

“Diam.”

“Tapi kenapa tiba-tiba begini?”

Aku mengaduk es kopi.

“Cuma mau belajar hidup normal.”

Aku tidak mengatakan alasan sebenarnya.

Rahasia bahwa aku anak adopsi pun kudengar secara tidak sengaja ketika Papa dan Mama bertengkar tiga hari sebelum pertunanganku.

Aku belum siap menanyakannya.

Terutama karena sejak malam itu, mereka tidak pernah membahasnya lagi.

Satu minggu berlalu.

Arga juga tidak mencariku.

Biasanya satu hari saja aku tidak mengganggunya, dia akan mengirim pesan pendek.

Mati?

Sekarang tidak ada apa-apa.

Mungkin akhirnya dia menikmati ketenangan yang selama ini dia inginkan.

Anehnya, pikiran itu justru membuat dadaku sesak.

Jumat malam, Mama mengetuk pintuku.

“Besok makan malam di rumah keluarga Wijaya. Jangan terlambat.”

Aku mengangguk.

“Baik.”

Mama menatapku cukup lama.

“Kamu bertengkar dengan Arga?”

“Nggak.”

“Dia sudah seminggu nggak datang.”

Aku tersenyum.

“Bukannya bagus? Dulu Mama selalu bilang aku terlalu menempel padanya.”

Wajah Mama berubah aneh.

“Laras.”

“Iya?”

“Kalau ada masalah, jangan mengambil keputusan sendiri.”

Aku hampir bertanya tentang adopsi.

Namun pada akhirnya aku hanya tersenyum.

“Tenang, Ma.”

Keesokan malamnya, meja makan keluarga Wijaya dipenuhi makanan.

Om Surya dan Tante Maya menyambutku seperti biasa.

Hanya Arga yang tidak ada.

“Arga mana?” tanya Mama.

“Katanya ada urusan,” jawab Tante Maya kesal. “Anak itu sekarang makin sulit diatur.”

Aku menunduk sambil memotong steak.

Setengah jam kemudian, suara mobil terdengar di halaman.

Arga akhirnya masuk.

Dia mengenakan kemeja hitam dan celana panjang, rambutnya sedikit berantakan.

Di belakangnya berjalan seorang perempuan cantik.

Semua orang terdiam.

“Ini Nadine,” kata Arga singkat. “Partner proyek baru.”

Nadine tersenyum sopan.

Mataku tanpa sadar jatuh pada tangannya.

Dia membawa sebuah tas keluaran terbaru dari merek yang kusukai.

Model yang bahkan belum resmi masuk butik Indonesia.

Arga dulu berjanji akan membelikannya untukku.

Aku segera mengalihkan pandangan.

Tidak masalah.

Bukankah aku sendiri yang bilang tidak akan mengaturnya lagi?

Aku berdiri.

“Halo. Laras.”

Nadine tampak sedikit terkejut.

“Aku tahu.”

Dia menatap cincin pertunanganku.

Lalu tersenyum.

“Mbak Laras terkenal.”

Arga menatapku.

Aku hanya tersenyum balik.

Sepanjang makan malam, aku tidak sekali pun bertanya hubungan mereka.

Aku bahkan membantu Nadine mengambil makanan.

Anehnya, semakin tenang aku, wajah Arga justru semakin gelap.

Saat aku hendak pulang, dia akhirnya menarik tanganku ke taman belakang.

“Kamu nggak mau tanya?”

“Tanya apa?”

“Nadine.”

“Oh.”

Aku mengangguk.

“Partner proyekmu, kan?”

“Cuma itu?”

Aku bingung.

“Memangnya ada yang lain?”

Rahangnya mengeras.

“Nggak.”

“Kalau begitu aku pulang dulu.”

Aku baru melangkah ketika dia menahan pergelangan tanganku.

“Laras.”

“Hmm?”

“Kenapa kamu kerja?”

Aku membeku.

“Siapa yang bilang?”

“Aku.”

Dia mengeluarkan ponsel.

Di layar terlihat fotoku sedang berdiri di depan gedung kantor.

“Kamu mengikutiku?”

“Aku kebetulan lewat.”

“Kantorku di Blok M. Kantormu di SCBD.”

Arga terdiam.

Aku hampir tertawa.

“Jangan ikut campur, Ga.”

Tatapannya langsung berubah.

Aku melanjutkan dengan suara lebih lembut.

“Kamu sendiri bilang aku merepotkan. Jadi aku sedang belajar supaya nggak merepotkan siapa pun.”

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Arga terlihat benar-benar kehilangan kata-kata.

Aku melepaskan tangannya.

“Malam.”

Tiga hari kemudian, Papa memanggilku ke ruang kerja.

Di atas meja terdapat sebuah amplop cokelat.

Begitu aku melihat dokumen di dalamnya, jantungku berhenti sesaat.

Akta adopsi.

“Jadi kamu sudah tahu,” katanya.

Aku duduk perlahan.

“Sudah.”

“Dari mana?”

“Aku dengar Papa dan Mama bertengkar.”

Papa menutup mata sebentar.

“Aku memang ingin memberitahumu setelah pernikahan.”

“Kenapa setelah menikah?”

Dia tidak menjawab.

Dan diamnya justru membuatku mengerti.

“Keluarga Wijaya belum tahu?”

Papa akhirnya mengangguk.

Darahku terasa dingin.

“Jadi mereka pikir aku anak kandung Papa?”

“Laras, dengarkan dulu.”

Aku berdiri.

“Pertunangan ini bagian dari kerja sama bisnis?”

“Tidak sesederhana itu.”

“Tapi ada hubungannya?”

Papa mengusap wajah.

“Keluarga kita dan Wijaya sedang menggabungkan dua proyek besar. Pernikahan kalian memperkuat kepercayaan kedua pihak.”

Aku tertawa kecil.

“Lalu kalau mereka tahu aku cuma anak adopsi?”

“Kamu tetap anak Papa.”

“Tapi secara hukum warisan dan kepemilikan perusahaan bisa berbeda.”

Papa terdiam.

Itu sudah cukup menjadi jawaban.

Aku mengambil cincin dari jari.

“Kalau begitu batalkan pertunangannya.”

Papa langsung berdiri.

“Jangan bertindak bodoh.”

“Justru untuk pertama kalinya aku sedang mencoba tidak bodoh.”

“Arga mencintaimu.”

Aku tersenyum pahit.

“Papa yakin?”

Malam itu aku mengemas koper.

Bukan untuk kabur.

Aku sudah menyewa studio kecil dekat kantor menggunakan gajiku sendiri dan uang hasil menjual beberapa barang yang kubeli dengan uang pribadiku.

Aku meninggalkan semua hadiah Arga.

Tas, jam, perhiasan, bahkan mobil.

Cincin pertunangan kutaruh di atas meja.

Aku baru menarik koper keluar kamar ketika Mama berdiri di lorong sambil menangis.

“Kamu mau ke mana?”

“Belajar hidup sendiri.”

“Karena kamu tahu soal adopsi?”

Aku mengangguk.

Mama memelukku tiba-tiba.

“Maaf.”

Untuk pertama kalinya, aku menangis.

“Kenapa Mama nggak pernah bilang?”

“Karena Mama takut.”

“Takut apa?”

“Takut kamu merasa berbeda.”

Aku tertawa sambil menangis.

“Padahal selama ini aku memang selalu merasa berbeda.”

Tubuh Mama membeku.

Aku melepaskan pelukannya.

“Papa selalu lebih keras kepadaku. Kalian selalu membela Dimas. Aku pikir karena aku anak sulung.”

“Bukan.”

Suara Mama pecah.

“Kami terlalu takut orang menganggap kami memanjakan anak yang bukan darah sendiri. Kami justru melakukan kesalahan sebaliknya.”

Aku menutup mata.

Kadang-kadang cinta yang dipenuhi ketakutan memang bisa terlihat seperti ketidakadilan.

Aku tetap pergi malam itu.

Dua minggu hidup sendirian mengubah banyak hal.

Aku belajar mencuci pakaian.

Belajar menghitung pengeluaran.

Belajar bahwa mi instan tidak boleh menjadi makan malam empat hari berturut-turut.

Dan belajar bahwa kesepian ternyata tidak membunuh siapa pun.

Arga tidak menghubungiku.

Aku juga tidak menghubunginya.

Sampai suatu sore resepsionis kantor menelepon.

“Mbak Laras, ada tamu.”

Aku turun.

Arga berdiri di lobi.

Wajahnya dingin.

Di tangannya ada cincin pertunangan kami.

“Naik mobil.”

“Aku masih kerja.”

“Aku tunggu.”

“Pulangku dua jam lagi.”

“Ya sudah.”

Dia benar-benar duduk di sofa lobi.

Dua jam.

Ketika aku akhirnya turun, Arga masih di sana.

Kami masuk mobil.

Begitu pintu tertutup, dia meletakkan cincin di telapak tanganku.

“Pakai.”

“Nggak.”

“Kenapa?”

“Karena pertunangan kita seharusnya dibatalkan.”

“Siapa yang bilang?”

“Papa.”

“Om Hendra tidak punya hak membatalkan pertunanganku.”

Aku menatapnya.

“Kalau kamu tahu siapa aku, kamu mungkin berubah pikiran.”

“Aku tahu.”

Aku membeku.

“Apa?”

“Aku tahu kamu anak adopsi.”

Dunia terasa berhenti.

“Sejak kapan?”

“Sejak umur tujuh belas.”

Aku menatapnya tak percaya.

Arga mengeluarkan sebuah map dari kompartemen mobil dan melemparkannya ke pangkuanku.

Di dalamnya ada salinan dokumen adopsiku.

Lebih lengkap daripada milik Papa.

“Kenapa kamu punya ini?”

“Karena aku yang mencari.”

“Kenapa?”

Arga menatap ke depan.

“Waktu SMA kamu pernah menangis karena Dimas bilang wajahmu nggak mirip siapa pun di rumah. Kamu pikir aku lupa?”

Aku ingat.

Aku bahkan sudah melupakannya sendiri.

“Tapi kalau kamu sudah tahu…”

“Kenapa aku tetap bertunangan denganmu?”

Aku diam.

Dia akhirnya menatapku.

“Karena yang mau kunikahi Laras, bukan nama belakangmu.”

Dadaku terasa sesak.

“Tapi malam pertunangan itu kamu bilang aku merepotkan.”

Arga mengernyit.

“Memang.”

Aku menatapnya tajam.

“Terus?”

“Kamu memang merepotkan.”

Dia mulai menghitung dengan jarinya.

“Kamu menyembunyikan rokokku. Memaksa aku minum vitamin. Menelepon tiga puluh kali kalau aku terlambat pulang. Mengganti kopi di apartemenku dengan kopi rendah kafein. Pernah membuang semua makanan pedas karena aku sakit lambung.”

Mataku mulai panas.

“Jadi kamu membencinya?”

“Kalau aku membencinya, kenapa aku membiarkanmu melakukannya selama dua puluh tahun?”

Aku terdiam.

Arga mendekat.

“Yang kutahu, setelah kamu berhenti merepotkanku, hidupku malah lebih merepotkan.”

Aku hampir tertawa sekaligus menangis.

“Terus Nadine?”

“Sepupuku.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Sepupu dari Bandung.”

“Kenapa kamu bilang partner proyek?”

“Memang partner proyek.”

“Terus tasnya?”

“Dia beli sendiri.”

Aku menutup wajah.

Bodoh.

Benar-benar bodoh.

Namun kemudian aku teringat sesuatu.

“Kenapa kamu nggak mencariku dua minggu?”

“Aku marah.”

“Karena aku pindah?”

“Karena kamu pergi tanpa bicara denganku.”

Dia mengambil napas panjang.

“Dan karena aku ingin melihat berapa lama kamu bertahan.”

Aku mencubit lengannya.

“Kurang ajar.”

Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, Arga tertawa.

Namun aku tetap tidak memakai cincin itu.

“Aku belum mau menikah.”

Senyumnya menghilang.

“Aku perlu belajar berdiri sendiri dulu.”

“Berapa lama?”

“Nggak tahu.”

Dia menatapku lama.

Lalu mengangguk.

“Baik.”

Aku terkejut.

“Serius?”

“Asalkan satu hal.”

“Apa?”

“Jangan berhenti merepotkanku.”

Enam bulan kemudian, aku masih tinggal di studio kecil itu.

Aku mendapatkan promosi pertama.

Hubunganku dengan Papa dan Mama perlahan membaik.

Arga juga tidak pernah memaksaku kembali.

Sampai pada suatu malam, Papa menelepon dan memintaku pulang.

Di ruang keluarga sudah ada keluarga Wijaya.

Di atas meja terdapat sebuah dokumen.

Papa menyerahkannya kepadaku.

Aku membaca halaman pertama.

Tanganku gemetar.

Itu bukan dokumen pernikahan.

Bukan pula dokumen perusahaan.

Itu hasil pencarian keluarga biologisku.

Nama ibu kandungku tertulis di sana.

Ratih Kusumawardani.

Aku belum pernah mendengar nama itu.

Namun Om Surya, ayah Arga, langsung berdiri ketika membacanya.

Wajahnya kehilangan warna.

“Ini tidak mungkin.”

Semua orang menatapnya.

Papa mengerutkan kening.

“Kamu mengenalnya?”

Om Surya tidak menjawab.

Arga mengambil dokumen itu.

Lalu wajahnya berubah.

Di halaman berikutnya terdapat foto seorang perempuan muda bersama seorang pria.

Pria itu adalah Om Surya.

Ruangan menjadi sunyi.

Aku merasa telingaku berdenging.

Tante Maya perlahan berdiri.

“Surya?”

Om Surya menutup wajah.

“Aku bisa jelaskan.”

Aku menatap Arga.

Dia juga menatapku.

Untuk beberapa detik, ketakutan yang sama muncul di mata kami.

Namun Om Surya tiba-tiba berkata,

“Ratih bukan kekasihku.”

Dia menunjuk foto itu dengan tangan gemetar.

“Dia adik kandungku.”

Aku berhenti bernapas.

“Apa?”

“Adikku yang kabur dari rumah dua puluh lima tahun lalu.”

Om Surya menatapku dengan mata memerah.

“Kalau Ratih benar-benar ibu kandungmu…”

Dia tidak mampu melanjutkan.

Tante Maya menutup mulut.

Arga justru terlihat seperti baru memahami sesuatu yang mengerikan.

Aku adalah keponakan biologis Om Surya.

Berarti Arga adalah sepupu kandungku.

Cincin di tanganku terasa seperti terbakar.

Namun sebelum siapa pun sempat berkata lagi, Papa membalik halaman terakhir.

“Baca sampai selesai.”

Aku menunduk.

Ada hasil pemeriksaan DNA.

Om Surya bukan saudara biologis Ratih.

Di bawahnya terdapat catatan hukum lama.

Ratih ternyata diadopsi keluarga Kusumawardani ketika masih bayi.

Tidak ada hubungan darah antara aku dan keluarga Wijaya.

Aku terduduk lemas.

Arga menutup mata sambil mengembuskan napas panjang.

Om Surya malah tertawa kecil karena lega.

Namun kejutan sebenarnya berada di baris terakhir.

Identitas ayah biologisku.

Bukan pengusaha.

Bukan orang kaya.

Bukan seseorang dari keluarga terkenal.

Ia seorang guru SMA bernama Bima Santoso yang meninggal ketika menyelamatkan tiga murid dalam kecelakaan bus bertahun-tahun lalu.

Aku membaca namanya berkali-kali.

Aneh.

Selama berbulan-bulan aku takut kehilangan identitas karena ternyata bukan putri kandung keluarga Pratama.

Ternyata orang yang memberikan darahnya kepadaku bahkan tidak meninggalkan perusahaan, rumah mewah, atau nama besar.

Dia hanya meninggalkan cerita tentang keberanian.

Arga duduk di sampingku.

Tangannya perlahan menggenggam tanganku.

Kali ini aku tidak menariknya.

Aku akhirnya mengerti sesuatu.

Keluarga bukan sekadar orang yang memberikan darah kepadamu.

Bukan pula nama yang tercetak di belakang namamu.

Ada orang yang melahirkanmu.

Ada orang yang membesarkanmu.

Ada orang yang memilih tinggal ketika kamu menyebalkan, egois, ketakutan, bahkan ketika kamu sendiri ingin pergi.

Dan mungkin menjadi dewasa bukan berarti berhenti merepotkan semua orang.

Melainkan belajar bertanggung jawab atas hidup sendiri tanpa menolak cinta dari orang-orang yang memang memilih untuk tetap berada di sisimu.

Aku menoleh kepada Arga.

“Ga.”

“Hmm?”

“Aku kayaknya tetap akan merepotkanmu.”

Sudut bibirnya terangkat.

“Sudah terlambat untuk berubah pikiran.”

Aku mengulurkan tangan.

“Cincinnya mana?”

Arga terdiam.

Lalu dia merogoh saku celananya.

Aku langsung mengerutkan kening.

“Kamu bawa terus?”

“Enam bulan.”

“Serius?”

“Siapa tahu kamu sadar.”

Aku memukul lengannya.

Semua orang tertawa.

Dan saat Arga kembali memasangkan cincin itu ke jariku, aku sadar untuk pertama kalinya dalam hidupku aku menerimanya bukan karena aku Laras Pratama.

Bukan karena dua keluarga menginginkannya.

Bukan karena aku takut kehilangan tempat untuk pulang.

Aku menerimanya sebagai Laras.

Hanya Laras.

Dan ternyata, itu sudah lebih dari cukup.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang