Eka menatap map berisi dokumen Rani yang tergeletak di atas meja ayahnya. Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, ruangan kerja itu terasa lebih sempit daripada biasanya.
Besok pagi.
Hanya dua kata itu yang terus berputar di kepalanya.
Besok pagi dia harus memilih antara perempuan yang membuatnya kembali merasa hidup dan perusahaan yang telah menyita hampir separuh usianya.
Hendra berdiri dari kursinya.
“Saya tidak meminta pendapatmu, Eka. Saya memberimu waktu sampai besok.”
Eka mengangkat wajah. “Kalau saya memilih Rani?”
Ayahnya berhenti.
“Kalau begitu, kamu bukan lagi orang yang pantas memimpin Nusantara Land.”
Eka tidak menjawab. Dia mengambil map itu lalu keluar.
Malam Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya.
Sepanjang perjalanan menuju penthouse, Eka tidak menyalakan radio. Ponselnya terus bergetar. Pesan dari direktur keuangan, kepala proyek, sekretaris, dan beberapa anggota dewan masuk silih berganti.
Semua terasa tidak penting.
Sesampainya di rumah, Eka meletakkan map Rani di meja makan yang sama tempat dia menghabiskan malam Natal sendirian beberapa minggu sebelumnya.
Dia memandang dua gelas kristal di atas lemari.
Tiba-tiba dia teringat rumah kecil di Tebet.
Piring yang tidak seragam.
Lampu teras yang berkedip.
Tawa yang terlalu keras.
Dan Rani yang mengatakan bahwa benda mahal tidak bisa diajak bicara.
Eka tersenyum pahit.
Mungkin selama ini dia memang telah menukar terlalu banyak hal dengan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah bisa memeluknya kembali.
Pukul enam pagi, teleponnya berdering.
Rani.
Eka segera mengangkatnya.
“Pak Eka?”
Nada suara Rani terdengar aneh.
“Ada apa?”
“Saya diminta datang ke kantor pusat jam delapan. Katanya ada evaluasi kontrak.”
Eka memejamkan mata.
Ayahnya bergerak lebih cepat.
“Jangan tanda tangan apa pun.”
“Kenapa?”
“Saya akan jelaskan di kantor.”
Namun saat Eka tiba, Rani sudah duduk di ruang HR.
Di hadapannya terdapat surat penghentian kontrak.
Hendra berdiri di dekat jendela bersama kepala HR dan dua anggota direksi senior.
Rani menatap Eka ketika dia masuk.
Tatapannya bukan marah.
Justru itu yang membuat dada Eka terasa semakin sesak.
“Jadi ini maksudnya?” tanyanya pelan.
Eka berjalan mendekat.
“Rani, dengarkan saya.”
“Apakah saya melakukan kesalahan?”
“Tidak.”
“Apakah pekerjaan saya buruk?”
“Tidak.”
Rani mengangguk perlahan. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi dia menahannya.
“Kalau begitu saya dipecat karena dekat dengan Bapak?”
Ruangan mendadak sunyi.
Hendra menjawab lebih dulu.
“Ini keputusan perusahaan.”
Rani menoleh kepadanya.
“Saya bertanya kepada Pak Eka.”
Eka menatap perempuan itu lama.
Kemudian tangannya mengambil surat pemecatan di atas meja.
Hendra berkata dingin, “Tanda tangani.”
Eka membaca nama Rani di bagian atas dokumen.
Lalu sesuatu dalam dirinya terasa benar-benar selesai.
Dia merobek surat itu menjadi dua.
Semua orang membeku.
Eka merobeknya sekali lagi.
Dan sekali lagi.
Potongan kertas jatuh ke lantai.
“Eka!” suara Hendra meninggi.
Eka mengeluarkan kartu akses perusahaan dari sakunya dan meletakkannya di meja.
“Saya mengundurkan diri.”
Rani langsung berdiri.
“Pak Eka, jangan.”
Hendra memandang anaknya seolah tidak percaya.
“Kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan?”
“Sangat tahu.”
“Lima belas tahun kamu membangun perusahaan ini.”
“Benar.”
“Dan kamu membuang semuanya demi seorang petugas kebersihan?”
Eka menggeleng.
“Bukan demi Rani.”
Dia menatap ayahnya.
“Saya berhenti karena baru sekarang saya sadar perusahaan ini sudah membuat kita menganggap manusia berdasarkan jabatan, rekening bank, dan nama keluarganya.”
Wajah Hendra mengeras.
“Kamu akan menyesal.”
“Mungkin.”
Eka menarik napas.
“Tapi kalau saya tetap duduk di kursi itu setelah membiarkan orang yang tidak bersalah kehilangan pekerjaan hanya karena saya takut kehilangan kekuasaan, saya pasti menyesal.”
Dia menoleh kepada Rani.
“Ayo.”
Namun Rani tidak bergerak.

“Pak Eka, saya enggak pernah minta Bapak melakukan ini.”
“Saya tahu.”
“Kalau begitu tarik kembali pengunduran diri Bapak.”
Eka tersenyum kecil.
“Untuk pertama kalinya saya mengambil keputusan bukan karena seseorang meminta saya melakukannya.”
Dia berjalan keluar.
Rani akhirnya mengikuti.
Di lift, keduanya berdiri dalam diam.
Begitu pintu tertutup, Rani tiba-tiba memukul lengan Eka.
“Kenapa Bapak sebodoh ini?”
Eka tertawa kecil.
“Katanya dari dulu saya memang bodoh.”
“Saya serius.”
“Saya juga.”
Air mata yang sejak tadi ditahan Rani akhirnya jatuh.
“Saya cuma kehilangan pekerjaan kontrak. Bapak kehilangan perusahaan.”
Eka menatap angka lantai yang terus turun.
“Perusahaan bisa dibangun lagi.”
Kemudian dia menoleh.
“Hidup yang terbuang enggak bisa dikembalikan.”
Enam minggu setelah pengunduran dirinya, hidup Eka berubah drastis.
Berita tentang konflik keluarga Pratama menjadi bahan pembicaraan media bisnis. Beberapa analis memprediksi Nusantara Land akan terguncang. Clara bahkan sempat mengirim pesan kepadanya.
Kamu menghancurkan masa depanmu sendiri.
Eka tidak membalas.
Dia menjual sebagian kecil investasi pribadinya dan menyewa sebuah ruko sederhana di Tebet.
Ketika Rani dibawa ke sana, perempuan itu berdiri terpaku di depan bangunan kosong.
“Apa ini?”
“Calon kedai kopi.”
Rani langsung menatapnya tajam.
“Jangan bilang Bapak membelikan ini buat saya.”
“Bukan.”
Eka menyerahkan sebuah map.
“Ini proposal investasi.”
Rani membuka halaman pertama.
Nama sementara kedai itu tertulis di sana.
Ruang Pulang.
Di bawahnya terdapat struktur kepemilikan.
Rani memegang saham mayoritas.
Eka hanya menjadi investor.
Rani menatapnya lama.
“Kenapa bukan hadiah?”
“Karena kamu bilang ingin punya kedai sendiri. Kalau saya memberikannya begitu saja, itu kedai saya yang saya titipkan kepada kamu.”
Eka menunjuk dokumen tersebut.
“Kalau kamu menerima investasi ini, kamu pemiliknya. Saya hanya orang yang cukup beruntung bisa ikut membantu.”
Untuk beberapa saat Rani tidak mengatakan apa-apa.
Lalu dia bertanya, “Kalau rugi?”
“Saya akan protes.”
“Kalau untung?”
“Saya juga akan protes kalau kopi saya tetap harus bayar.”
Rani tertawa.
Itulah jawaban yang Eka tunggu.
Tiga bulan kemudian, Ruang Pulang dibuka.
Tidak besar.
Hanya dua belas meja, sebuah rak buku, beberapa tanaman hijau, dan meja panjang yang boleh digunakan siapa saja tanpa kewajiban membeli makanan mahal.
Rani sengaja mempertahankan kursi yang berbeda-beda bentuk.
“Supaya enggak ada kursi yang merasa paling kaya,” katanya.
Kedai itu perlahan dikenal.
Bukan karena pemiliknya pernah bekerja sebagai petugas kebersihan seorang miliarder.
Bukan pula karena Eka sering terlihat membantu mengangkat kardus atau memperbaiki kursi.
Orang datang karena suasananya.
Mahasiswa mengerjakan tugas di sana. Pengemudi ojek daring mampir beristirahat. Pegawai kantor makan siang. Lansia duduk membaca koran.
Ada sebuah papan kecil di dekat kasir.
Kalau hari ini kamu tidak punya cukup uang, minumlah dulu. Bayar ketika hidupmu sudah sedikit lebih baik.
Ide itu berasal dari Rani.
Anehnya, hampir tidak pernah ada yang menyalahgunakannya.
Sementara itu, kondisi Nusantara Land mulai berubah.
Hendra kembali memegang kendali. Beberapa eksekutif senior yang selama ini tidak berani menentangnya mulai meninggalkan perusahaan.
Kemudian sebuah masalah besar muncul.
Proyek hunian senilai triliunan rupiah di Bekasi terancam dihentikan karena persoalan pembebasan lahan dan konflik dengan warga.
Dulu Eka telah memperingatkan dewan agar tidak terburu-buru.
Namun setelah dia pergi, proyek tersebut dipaksakan berjalan.
Nilai saham perusahaan turun.
Mitra mulai menarik diri.
Suatu malam, hampir setahun setelah peristiwa di ruang HR, sebuah mobil hitam berhenti di depan Ruang Pulang.
Hendra turun sendirian.
Rani yang sedang membersihkan meja langsung mengenalinya.
Dia tidak mengusir pria itu.
“Pak Eka ada di belakang.”
“Saya datang bukan mencari Eka.”
Rani terdiam.
Hendra memilih kursi dekat jendela.
“Anda mau minum apa?”
“Apa saja.”
Rani membuatkan kopi hitam.
Hendra menyesapnya, lalu memandang kedai yang masih ramai meski sudah hampir pukul sepuluh malam.
“Tempat ini menghasilkan uang?”
Rani tersenyum.
“Cukup untuk bayar pegawai, sewa, listrik, bahan baku, dan hidup.”
“Itu bukan jawaban seorang pebisnis.”
“Karena saya enggak sedang berusaha jadi konglomerat.”
Hendra menatapnya.
“Kenapa kamu tidak membenci saya?”
Rani berhenti membersihkan meja.
“Saya pernah marah.”
“Lalu?”
“Capek.”
Jawaban itu membuat Hendra terdiam.
Rani duduk di seberangnya.
“Bapak kehilangan anak karena takut kehilangan perusahaan.”
Hendra mengangkat wajah.
“Jangan menggurui saya.”
“Saya enggak menggurui.”
Rani menunjuk kopi di depannya.
“Saya cuma bilang kopi yang dibiarkan terlalu lama akan dingin. Hubungan juga begitu.”
Hendra tidak menjawab.
Beberapa menit kemudian Eka keluar dari ruang penyimpanan sambil membawa kardus.
Langkahnya terhenti saat melihat ayahnya.
Keduanya saling menatap.
“Ayah.”
Hendra berdiri.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Eka melihat ayahnya tampak tua.
Bukan sebagai pendiri perusahaan.
Bukan sebagai konglomerat.
Hanya seorang pria berusia hampir tujuh puluh tahun yang sepertinya terlalu lelah untuk mempertahankan gengsinya.
“Saya butuh bantuanmu,” kata Hendra.
Eka meletakkan kardus.
“Untuk perusahaan?”
Hendra mengangguk.
“Krisis proyek Bekasi lebih buruk daripada yang diberitakan.”
Eka diam.
“Saya tidak meminta kamu kembali menjadi CEO.”
Hendra menarik napas panjang.
“Saya hanya ingin kamu membantu menyelesaikannya.”
Eka memandang Rani.
Rani tidak memberikan jawaban untuknya.
Dia hanya berkata, “Keputusan Bapak sendiri.”
Dua hari kemudian, Eka datang ke kantor Nusantara Land.
Namun dia membawa syarat.
Tidak ada penggusuran paksa.
Tidak ada tekanan kepada warga.
Sebagian kawasan proyek harus dialihkan menjadi hunian terjangkau dan ruang usaha untuk masyarakat setempat.
Dewan menolak.
Eka berdiri untuk pergi.
Hendra menghentikannya.
“Lakukan.”
Semua orang menoleh.
Hendra menandatangani persetujuan.
Butuh delapan bulan untuk menyelesaikan krisis.
Keuntungan proyek memang berkurang.
Namun konflik selesai, pembangunan kembali berjalan, dan reputasi perusahaan perlahan pulih.
Lebih mengejutkan lagi, pendekatan tersebut justru membuka model bisnis baru bagi Nusantara Land.
Proyek-proyek berikutnya mulai memasukkan hunian terjangkau, ruang komunitas, serta skema usaha bagi warga lokal.
Setahun kemudian, dewan menawarkan posisi CEO kembali kepada Eka.
Dia menolaknya.
Sebagai gantinya, dia menerima posisi komisaris dengan kewenangan khusus mengawasi tata kelola dan dampak sosial perusahaan.
Hendra tidak memprotes.
Pada malam Natal berikutnya, penthouse lantai 35 milik Eka kosong.
Meja marmer panjang itu tidak digunakan.
Tidak ada satu porsi makanan mahal.
Tidak ada dua gelas kristal yang menunggu seseorang yang tidak pernah datang.
Eka berada di Tebet.
Ruang Pulang ditutup lebih awal malam itu.
Beberapa meja disatukan. Nenek Rani membawa rendang. Para pegawai datang bersama keluarga mereka. Musik terdengar terlalu keras.
Lampu di depan kedai berkedip-kedip.
Rani sebenarnya sudah membeli lampu baru, tetapi Eka melarangnya mengganti.
“Tradisi,” katanya.
Menjelang makan malam, sebuah mobil berhenti.
Hendra keluar membawa kotak kue.
Semua orang mendadak diam.
Rani yang pertama tertawa.
“Masuk saja, Pak. Di sini enggak ada kursi komisaris.”
Malam itu Hendra duduk di kursi plastik.
Dia makan menggunakan piring yang berbeda warna dengan milik orang di sebelahnya.
Dan tidak seorang pun membicarakan harga saham.
Menjelang tengah malam, Eka berdiri di depan kedai bersama Rani.
Hujan tipis turun di jalanan Tebet.
“Ran.”
“Hm?”
“Dulu kamu bilang ingin membuat tempat di mana siapa pun bisa datang tanpa merasa rendah diri.”
Rani memandang ke dalam kedai.
“Kayaknya lumayan berhasil.”
Eka tersenyum.
“Lalu kalau ada orang yang ingin tinggal lebih lama?”
“Maksudnya?”
Eka mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku.
Rani langsung mundur setengah langkah.
“Pak Eka.”
“Jangan panggil Pak.”
“Eka.”
“Nah, lebih bagus.”
Eka membuka kotak itu.
Namun sebelum dia sempat mengatakan apa pun, Rani menutupnya kembali.
“Jangan di sini.”
Eka terkejut.
“Kenapa?”
“Di dalam ada Nenek. Kalau lihat ini, besok pagi seluruh Tebet sudah tahu.”
Eka tertawa sampai matanya berair.
Kemudian Rani menggenggam tangannya.
“Jawabannya iya.”
Eka berhenti tertawa.
“Saya belum bertanya.”
“Saya sudah tahu pertanyaannya.”
“Tapi saya sudah menyiapkan pidato.”
“Berapa lama?”
“Kurang lebih tujuh menit.”
“Enggak usah.”
Rani menariknya masuk.
Tepat tengah malam, mereka mengangkat cangkir masing-masing.
Hendra berdiri di sudut ruangan, memandang anaknya tertawa bersama orang-orang yang setahun lalu mungkin tidak akan pernah dia anggap bagian dari kehidupan mereka.
Matanya berkaca-kaca.
Saat itulah dia akhirnya memahami sesuatu yang terlambat dia pelajari.
Kerajaan terbesar yang pernah dibangun manusia bukanlah perusahaan, gedung pencakar langit, atau kekayaan yang diwariskan turun-temurun.
Melainkan sebuah tempat di mana seseorang selalu diterima ketika pulang.
Dan semuanya bermula dari sebuah undangan sederhana di malam Natal, ketika seorang petugas kebersihan berani mengatakan kepada seorang miliarder kesepian bahwa seluruh kekayaannya tidak akan pernah bisa diajak berbicara.
