Suamiku Membawa Wanita Yang Selalu Diakuinya Sebagai Adik Sendiri Ke Hotel Mewah Dan Berbohong Padaku, Tapi Hanya Dengan Satu Foto Yang Kusebar Ke Grup Chat Keluarga Semuanya Hancur Berantakan Hingga Kehormatan Keluarga Mereka Ditelan Bumi!

Aku sangat yakin, Mas. Bukan aku yang bakal menyesal sampai berdarah-darah.

Rizky menatapku seolah aku baru saja kehilangan akal sehat. Beberapa detik kemudian, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum mengejek.

“Kamu pikir hidupmu bakal baik-baik saja setelah cerai dariku?”

Aku tidak menjawab.

“Studio desainmu itu bahkan belum tentu bisa bertahan tiga bulan tanpa koneksiku. Apartemen yang kita tempati, mobil yang kamu pakai, klien-klien besar yang datang ke studionya, semua itu karena nama Prasetyo.”

Aku hampir tertawa.

Selama tiga tahun menikah, ternyata Rizky benar-benar tidak pernah mengenalku.

Dia mengenal Maya yang memilih mengenakan pakaian sederhana, mengendarai mobil biasa, dan bekerja dari sebuah studio desain kecil di Kemang. Dia mengenal Maya yang selalu diam ketika ibunya merendahkanku di meja makan.

Namun dia tidak pernah mengenal Maya Wicaksono.

Aku mengambil tas dan berjalan meninggalkan lobby.

“Maya!”

Rizky mengejarku.

Tangannya hampir meraih lenganku ketika dua petugas keamanan hotel maju menghalanginya.

“Mohon menjaga jarak, Pak.”

Rizky tertegun.

“Kalian tahu saya siapa?”

Manajer hotel berdiri beberapa langkah di belakangku.

“Mohon maaf, Pak Rizky. Kami hanya menjalankan instruksi Ibu Maya.”

Rizky memandangku dengan wajah bingung.

Aku tidak menjelaskan apa pun.

Aku pulang ke rumah sekitar pukul sembilan pagi.

Rumah yang selama tiga tahun kusebut rumah kami terasa asing begitu aku membuka pintunya.

Foto pernikahan kami masih tergantung di ruang keluarga. Dalam foto itu, Rizky mencium keningku sementara aku tersenyum bahagia.

Aku berdiri cukup lama di depannya.

Ternyata sebuah foto bisa menyimpan kebohongan dengan sangat indah.

Aku naik ke kamar dan mengeluarkan koper.

Aku tidak membawa banyak barang. Pakaian, laptop, beberapa dokumen pribadi, dan sebuah kotak kayu peninggalan ayah.

Belum selesai aku berkemas, pintu kamar terbuka keras.

Rizky masuk dengan wajah merah.

“Kita bicara.”

“Aku sedang sibuk.”

“Maya!”

Dia menarik koperku hingga terjatuh.

“Jangan bertindak seolah semuanya sudah selesai!”

Aku menatapnya.

“Memang sudah selesai.”

“Indah tidak berarti apa-apa bagiku.”

Aku terdiam sesaat.

Kalimat itu justru terdengar lebih menjijikkan.

“Kalau dia tidak berarti apa-apa, kamu menghancurkan pernikahanmu demi seseorang yang bahkan tidak berarti?”

Rizky kehilangan kata-kata.

“Aku salah,” katanya akhirnya. “Aku mengaku salah. Tapi tidak perlu sampai cerai.”

“Sudah berapa lama?”

“Apa?”

“Kalian.”

Wajahnya berubah.

“Tidak ada kami.”

Aku mengambil flashdisk dari tas.

“CCTV lift hotel.”

Tubuh Rizky langsung kaku.

“Aku melihat semuanya.”

Wajahnya kehilangan warna.

“Ciuman itu…”

“Jangan.”

Suaraku pelan, tetapi cukup membuatnya diam.

“Jangan menghina kecerdasanku sekali lagi.”

Beberapa detik kami hanya saling menatap.

Lalu ponselnya berdering.

Ibunya.

Rizky tidak menjawab.

Panggilan kedua masuk.

Ketiga.

Keempat.

Akhirnya dia mengangkatnya.

Belum sempat bicara, suara Ibu Ratna sudah terdengar keras.

“Rizky! Cepat pulang ke rumah Mama! Om Harsono, Tante Lilis, semuanya datang! Foto itu sudah menyebar ke mana-mana!”

Rizky menutup mata.

“Aku sedang bicara dengan Maya.”

“Bawa dia ke sini! Suruh dia minta maaf!”

Aku tertawa kecil.

Ibu Ratna mendengarnya.

“Kamu tertawa, Maya?”

“Iya, Bu.”

“Kamu sudah menghancurkan nama baik keluarga kami!”

Aku mengambil ponsel dari tangan Rizky.

“Kalau satu foto bisa menghancurkan nama baik keluarga Ibu, mungkin masalahnya bukan pada fotonya.”

Lalu aku memutus sambungan.

Rizky memandangku seperti tidak percaya.

“Kamu benar-benar berubah.”

“Tidak. Aku cuma berhenti takut.”

Aku membawa koper keluar.

Sebelum meninggalkan rumah, aku meletakkan kunci rumah di atas meja.

“Pengacara akan menghubungimu.”

Siangnya aku tiba di kantor pusat Wicaksono Group di kawasan Sudirman.

Sudah hampir empat tahun aku tidak datang sebagai anggota keluarga pemilik perusahaan. Setelah ayah meninggal, aku menyerahkan pengelolaan bisnis kepada pamanku, Adrian Wicaksono, sementara aku memilih membangun studio desain sendiri.

Paman Adrian menungguku di ruang kerjanya.

Begitu melihat wajahku, dia tidak bertanya apa-apa.

Dia hanya memelukku.

Untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya, pertahananku runtuh.

Aku menangis di bahunya.

“Kenapa kamu tidak pernah cerita?” tanyanya.

“Aku pikir aku bisa memperbaiki semuanya sendiri.”

Paman Adrian menghela napas.

“Ayahmu dulu takut hal seperti ini terjadi.”

Aku menatapnya.

“Apa maksud Paman?”

Dia membuka laci dan mengeluarkan sebuah map.

Di dalamnya terdapat beberapa dokumen investasi.

Nama PT Prasetyo Karya Sentosa tercetak jelas di halaman pertama.

Perusahaan keluarga Rizky.

Aku membaca halaman demi halaman.

Tanganku perlahan menjadi dingin.

Ternyata lima tahun sebelumnya, ketika perusahaan keluarga Prasetyo hampir bangkrut akibat utang proyek, ayahku diam-diam menyelamatkannya melalui perusahaan investasi milik Wicaksono Group.

Sebagian besar saham perusahaan Prasetyo ternyata berada di bawah kendali perusahaan investasi keluarga kami.

Aku menatap Paman Adrian.

“Berapa?”

“Empat puluh sembilan persen.”

Aku terdiam.

“Kenapa aku tidak pernah tahu?”

“Karena ayahmu tidak ingin hubunganmu dengan Rizky dipengaruhi uang.”

Ironis.

Keluarga yang selama bertahun-tahun menuduhku menumpang hidup ternyata berdiri di atas uang keluargaku.

Paman Adrian melanjutkan.

“Dan ada satu hal lagi.”

Dia menunjukkan laporan terbaru.

Perusahaan Prasetyo sedang mengajukan fasilitas kredit besar untuk proyek apartemen di Bekasi. Jaminan reputasi dan dukungan finansial mereka berasal dari kerja sama strategis dengan Wicaksono Group.

“Kalau kerja sama itu dihentikan?”

“Bank kemungkinan besar akan mengevaluasi ulang pinjaman.”

Aku menutup map.

“Aku tidak mau menghancurkan perusahaan mereka karena masalah rumah tangga.”

Paman Adrian mengangguk.

“Ayahmu pasti bangga mendengar itu.”

“Tapi aku juga tidak mau keluarga kita terus menanggung risiko mereka.”

“Itu keputusan bisnis yang berbeda.”

Aku mengangguk.

“Lakukan audit menyeluruh. Kalau secara bisnis memang tidak layak, hentikan kerja samanya.”

Tiga hari kemudian, badai sesungguhnya datang.

Aku menerima puluhan panggilan dari keluarga Prasetyo.

Tidak kujawab.

Sampai akhirnya Ibu Ratna sendiri datang ke studionya.

Dia masuk tanpa mengetuk.

“Kamu puas sekarang?”

Aku sedang memeriksa desain interior sebuah restoran.

Aku menutup laptop.

“Ada apa, Bu?”

“Bank menahan pencairan dana perusahaan kami!”

“Apa hubungannya dengan saya?”

“Jangan pura-pura bodoh!”

Ibu Ratna melempar sebuah dokumen ke mejaku.

“Wicaksono Group menarik dukungan!”

Aku membaca surat itu sekilas.

Hasil audit menemukan arus kas perusahaan Prasetyo tidak sehat, rasio utang terlalu tinggi, dan beberapa laporan keuangan memiliki ketidaksesuaian.

“Kalau begitu ini masalah perusahaan.”

“Karena kamu!”

“Bukan.”

Aku mengembalikan dokumen itu.

“Karena perusahaan Ibu bermasalah.”

Wajah Ibu Ratna memerah.

“Siapa kamu sampai berani bicara seperti itu?”

Aku menatapnya tenang.

Pintu studio terbuka.

Paman Adrian masuk bersama dua pengacara perusahaan.

Ibu Ratna langsung berdiri.

“Pak Adrian?”

Dia jelas mengenalnya.

Hampir semua pengusaha besar Jakarta mengenal Adrian Wicaksono.

Paman Adrian berdiri di sampingku.

“Bu Ratna, saya rasa ada kesalahpahaman yang perlu diluruskan.”

“Apa?”

“Studio ini bukan perusahaan yang hidup dari bantuan keluarga Anda.”

Ibu Ratna mengerutkan dahi.

“Studio ini merupakan salah satu investasi pribadi Maya.”

“Investasi pribadi?”

Paman Adrian tersenyum tipis.

“Maya adalah pemegang saham Wicaksono Group.”

Ruangan mendadak sunyi.

Wajah Ibu Ratna perlahan berubah.

“Wicaksono?”

Dia menoleh kepadaku.

“Maya… Wicaksono?”

Aku mengangguk.

Seolah baru menyadari sesuatu, dia mundur selangkah.

“Kamu anaknya almarhum Pak Surya Wicaksono?”

“Iya.”

Wajahnya pucat.

Aku bisa melihat pikirannya bekerja cepat, mengingat setiap hinaan yang pernah dilemparkannya kepadaku.

Studio kecil tidak berguna.

Perempuan numpang hidup.

Tidak punya kelas.

Tidak selevel keluarga Prasetyo.

Paman Adrian kemudian meletakkan dokumen lain di meja.

“Dan mungkin Ibu juga perlu mengetahui bahwa perusahaan investasi keluarga kami memegang empat puluh sembilan persen saham PT Prasetyo Karya Sentosa.”

Ibu Ratna terduduk.

Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara keluar.

Untuk pertama kalinya, perempuan yang selalu berbicara kepadaku dari tempat yang tinggi tidak mampu mengucapkan satu kata pun.

Sore itu Rizky datang.

Dia masuk dengan wajah kacau.

“Maya.”

Aku tidak menjawab.

“Mama sudah cerita semuanya.”

“Lalu?”

“Kenapa kamu tidak pernah bilang siapa keluargamu?”

Pertanyaan itu membuatku tertawa pahit.

“Kenapa aku harus bilang?”

“Karena aku suamimu!”

“Mantan suami.”

“Kita belum resmi cerai!”

Aku menatapnya.

“Prosesnya sedang berjalan.”

Rizky menarik kursi.

“Aku mau memperbaiki semuanya.”

“Karena sekarang kamu tahu aku Maya Wicaksono?”

“Bukan begitu.”

“Kalau aku benar-benar cuma pemilik studio kecil seperti yang kalian kira, kamu tetap akan datang memohon?”

Dia diam.

Diamnya adalah jawaban paling jujur yang pernah diberikan Rizky selama pernikahan kami.

“Aku mencintaimu.”

“Tidak.”

Aku menggeleng.

“Kamu mencintai kenyamanan yang kuberikan. Kamu mencintai perempuan yang diam ketika kamu berbohong. Kamu mencintai istri yang bisa kamu kendalikan.”

Air muka Rizky runtuh.

“Indah sudah pergi.”

Aku terdiam.

“Dia pulang ke Semarang.”

“Lalu?”

“Aku sudah memutus semua hubungan dengannya.”

Aku menatapnya lama.

“Mas, kamu masih belum mengerti.”

“Apa?”

“Masalahnya bukan Indah.”

Aku menunjuk dadanya.

“Masalahnya kamu.”

Rizky menunduk.

Untuk pertama kalinya, aku melihatnya benar-benar kehilangan kesombongan.

Namun sesuatu yang sudah pecah tidak selalu harus diperbaiki.

Kadang-kadang kita hanya perlu berhenti menginjak pecahannya.

Dua bulan kemudian, perceraian kami memasuki tahap akhir.

Aku tidak menuntut harta apa pun milik Rizky.

Sebaliknya, aku meminta seluruh aset pribadi yang kubawa sebelum menikah dipisahkan secara hukum.

Rumah yang kami tempati ternyata dibeli melalui perusahaan milikku sebelum pernikahan.

Mobil yang selama ini disebut Ibu Ratna sebagai pemberian Rizky juga dibayar dari rekening investasiku.

Satu demi satu kebohongan tentang siapa yang sebenarnya menumpang hidup akhirnya terbuka.

Namun kejutan terbesar datang seminggu sebelum putusan perceraian.

Indah menghubungiku.

Aku hampir mengabaikan pesannya.

Mbak Maya, aku tahu aku tidak berhak meminta apa pun. Tapi ada sesuatu yang harus Mbak ketahui tentang Mas Rizky.

Dia mengirimkan puluhan tangkapan layar percakapan.

Aku membacanya satu per satu.

Ternyata selama hampir dua tahun, Rizky bukan hanya berselingkuh.

Dia juga menggunakan kedekatannya dengan Indah untuk memindahkan sejumlah dana perusahaan ke rekening pihak ketiga.

Indah mengetahui semuanya karena beberapa rekening menggunakan nama kerabatnya.

Aku segera menyerahkan bukti itu kepada auditor.

Hasil pemeriksaan membuat seluruh keluarga Prasetyo gempar.

Dana proyek bernilai miliaran rupiah ternyata telah dialihkan secara ilegal.

Rizky selama ini hidup mewah bukan karena perusahaan keluarganya berkembang, melainkan karena dia mengambil uang dari perusahaan sedikit demi sedikit.

Ironisnya, foto yang kukirim ke grup keluarga bukanlah hal yang menghancurkan mereka.

Foto itu hanya membuka pintu.

Kebohongan merekalah yang melakukan sisanya.

Enam bulan kemudian, aku berdiri di balkon kantor baruku di Jakarta Selatan.

Studio kecil yang dulu dihina Ibu Ratna kini berkembang menjadi perusahaan desain dan arsitektur dengan puluhan karyawan.

Aku memilih tetap bekerja.

Bukan karena membutuhkan uang.

Aku menyukai pekerjaanku.

Di meja kerjaku masih tersimpan foto ayah.

Aku sering berpikir, seandainya beliau masih hidup, mungkin beliau akan memarahiku karena terlalu lama membiarkan orang lain merendahkanku.

Suatu sore, sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah lama tidak kusimpan.

Rizky.

Maya, aku tidak meminta kamu kembali. Aku cuma ingin meminta maaf. Sekarang aku mengerti apa yang kuhancurkan.

Aku membaca pesan itu dua kali.

Lalu menghapusnya.

Bukan karena membencinya.

Aku hanya tidak membutuhkan permintaan maaf itu lagi untuk melanjutkan hidup.

Aku berjalan menuju jendela.

Jakarta sedang diguyur hujan. Lampu-lampu kendaraan memenuhi jalan seperti garis-garis cahaya panjang.

Dulu aku mengira malam ketika melihat suamiku masuk hotel bersama perempuan lain adalah malam terburuk dalam hidupku.

Ternyata aku salah.

Malam itu justru menyelamatkanku.

Kalau Rizky tidak berbohong malam itu, mungkin aku masih duduk di meja makan keluarga Prasetyo sambil tersenyum ketika dihina. Mungkin aku masih percaya bahwa mempertahankan pernikahan berarti menelan semua luka sendirian.

Ponselku berbunyi.

Pesan dari Paman Adrian masuk.

Audit final selesai. Perusahaan Prasetyo akan direstrukturisasi. Seluruh saham Rizky sebagai direktur sudah dibekukan sampai proses hukum selesai.

Aku membaca pesan itu tanpa rasa puas.

Tidak ada kemenangan dalam melihat seseorang menghancurkan hidupnya sendiri.

Aku meletakkan ponsel.

Di luar jendela, hujan perlahan berhenti.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku menyadari sesuatu yang sederhana.

Kehormatan keluarga tidak pernah dihancurkan oleh sebuah foto.

Kehormatan juga tidak lahir dari nama belakang, gedung tinggi, mobil mahal, atau jumlah uang di rekening.

Kehormatan lahir dari apa yang kita lakukan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Rizky kehilangan semuanya bukan ketika aku menekan tombol kirim di WhatsApp.

Dia sudah kehilangan semuanya jauh sebelumnya.

Tepat pada saat dia memilih kebohongan dan mengira aku akan selamanya terlalu mencintainya untuk berani pergi.

Sedangkan aku?

Aku tidak kehilangan suami malam itu.

Aku menemukan kembali diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang