SAYA MENCERAIKAN SUAMI KONGLOMERAT SAYA TIGA BULAN LALU. HARI INI, DIA MENEMUKAN SAYA

Reza tidak bergerak selama beberapa detik.

Suara monitor detak jantung bayi terdengar jelas di tengah kesibukan ruang tindakan. Bunyi teratur itu justru membuat kenyataan yang baru saja menghantamnya terasa semakin nyata.

Maya benar-benar mengandung anaknya.

Dan kandungannya sudah memasuki minggu-minggu terakhir.

Seorang dokter perempuan masuk tergesa-gesa sambil memeriksa hasil pemantauan.

“Kontraksinya cukup kuat. Kami perlu observasi lebih ketat. Ada sedikit perdarahan dan tekanan darah Ibu Maya mulai turun.”

Wajah Reza langsung berubah.

“Apa bayinya baik-baik saja?”

Dokter menatapnya sekilas.

“Untuk sementara detak jantung janin masih stabil. Tapi kami belum bisa memastikan apakah persalinan bisa ditahan.”

Maya menarik napas panjang, berusaha mengendalikan rasa sakit yang terus datang bergelombang.

Reza berdiri di sisi ranjang.

Tangannya mengepal.

Selama bertahun-tahun dia menghadapi rapat miliaran rupiah, negosiasi sengit, ancaman pembatalan proyek, bahkan krisis perusahaan.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Reza merasa benar-benar tidak memiliki kendali atas apa pun.

“Maya,” katanya pelan.

Maya tidak menoleh.

“Kenapa kamu tidak memberitahu saya?”

Pertanyaan itu membuat Maya tertawa pendek.

Bukan karena lucu.

Melainkan karena sakit hati yang sudah terlalu lama ditahan.

“Memberitahumu?”

Dia akhirnya menatap Reza.

“Untuk apa?”

Reza mengerutkan kening.

“Karena saya ayahnya.”

“Sekarang kamu ingat caranya menjadi keluarga?”

Kalimat itu menghantam tepat sasaran.

Reza terdiam.

Maya mengusap air mata yang keluar tanpa izin.

“Tiga bulan lalu aku duduk di depanmu dan bilang aku cuma butuh suamiku. Kamu bahkan tidak menjawab.”

“Saya tahu.”

“Tidak. Kamu tidak tahu.”

Suara Maya mulai bergetar.

“Kamu tidak tahu rasanya menunggu seseorang pulang setiap malam lalu mendengar dari sekretarisnya bahwa dia menginap di kantor. Kamu tidak tahu rasanya melihat satu kursi kosong di meja makan selama berbulan-bulan.”

Reza hendak bicara, tetapi Maya mengangkat tangan.

“Jangan.”

Kontraksi kembali datang.

Maya meringis sambil memegang perutnya.

Reza refleks meraih tangannya.

Namun Maya langsung menarik tangannya kembali.

Dokter segera meminta perawat mendorong ranjang menuju ruang observasi kebidanan.

Reza mengikuti dari belakang.

Seorang perawat menghentikannya di depan pintu.

“Bapak tunggu di sini dulu.”

“Saya ikut.”

“Maaf, pemeriksaan harus dilakukan tanpa pendamping.”

Pintu tertutup di hadapannya.

Reza berdiri sendirian di lorong rumah sakit.

Untuk pertama kalinya, pria yang terbiasa membuat semua pintu terbuka hanya dengan menyebut namanya itu tidak bisa melakukan apa-apa selain menunggu.

Dia mengambil ponsel.

Ada dua belas panggilan tak terjawab dari asistennya.

Tiga pesan dari direktur perusahaan.

Satu pesan dari ibunya.

Reza mematikan ponsel.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, dunia bisnis tidak berarti apa-apa baginya.

Yang ada di pikirannya hanya Maya.

Dan seorang bayi yang bahkan belum pernah dia tahu keberadaannya.

Sekitar dua puluh menit kemudian, dokter keluar.

Reza langsung berdiri.

“Bagaimana?”

“Kontraksi masih ada, tapi pembukaan belum bertambah. Kemungkinan besar tubuh pasien bereaksi akibat benturan dan stres.”

Reza mengembuskan napas.

“Jadi bayinya tidak akan lahir malam ini?”

“Kami berharap begitu. Usianya memang sudah cukup besar, tetapi lebih baik bertahan beberapa minggu lagi.”

“Boleh saya masuk?”

Dokter mengangguk.

Saat Reza masuk, Maya sedang berbaring dengan infus terpasang.

Wajahnya terlihat kelelahan.

Reza menarik kursi dan duduk di samping ranjang.

Beberapa menit mereka hanya diam.

Akhirnya Maya berkata,

“Bagaimana kamu tahu aku ada di sini?”

Reza menatap lantai.

“Saya kebetulan sedang lewat.”

Maya menoleh.

Tatapannya tajam.

“Jangan bohong.”

Reza mengangkat wajah.

Ada keraguan yang jarang sekali terlihat pada dirinya.

“Saya mengikuti kamu.”

Maya membeku.

“Apa?”

“Bukan malam ini saja.”

Nada suara Reza rendah.

“Saya mencari kamu sejak sebulan setelah perceraian.”

Maya menatapnya seolah baru melihat orang asing.

“Kamu mencari aku?”

Reza mengangguk.

“Saya mengirim orang untuk memastikan kamu baik-baik saja.”

“Kamu menyuruh orang menguntitku?”

“Saya tidak tahu harus melakukan apa.”

Maya tertawa getir.

“Telepon. Datang. Bicara. Bukankah itu jauh lebih sederhana?”

Reza tidak membantah.

Dia menundukkan kepala.

“Saya pengecut.”

Maya tidak menyangka akan mendengar kalimat itu dari mulut Reza Alcazar.

Pria itu selalu tampak terlalu yakin untuk mengakui kelemahan.

“Saya pikir kalau saya memberi kamu ruang, kamu akan merasa lebih tenang,” lanjutnya.

“Padahal sebenarnya saya takut kamu menolak menemui saya.”

Maya menatapnya lama.

“Kenapa sekarang?”

Reza menarik napas.

“Saya menyesal.”

“Hanya itu?”

“Saya menyesal setiap hari.”

Suara Reza hampir berbisik.

“Saya masih tinggal di penthouse itu. Saya belum memindahkan satu pun barangmu.”

Mata Maya berkedip pelan.

Reza melanjutkan.

“Cangkirmu masih ada di rak yang sama. Buku yang kamu baca masih ada di samping tempat tidur. Bahkan tanaman yang selalu kamu marahi karena saya lupa menyiramnya masih ada.”

Maya menelan ludah.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

“Karena saya tidak tahu bagaimana memperbaiki sesuatu yang saya sendiri hancurkan.”

Maya memalingkan wajah ke jendela.

Jakarta di luar sana tetap dipenuhi cahaya gedung-gedung tinggi.

Namun dalam ruangan kecil itu, dunia mereka terasa jauh lebih sempit.

“Kenapa kamu berubah dulu?” tanya Maya.

Pertanyaan itu akhirnya keluar.

Pertanyaan yang selama dua tahun tidak pernah mendapat jawaban.

Reza terdiam cukup lama.

Kemudian dia berdiri dan berjalan beberapa langkah.

“Ayah saya meninggal karena serangan jantung di ruang rapat.”

Maya mengerutkan kening.

“Aku tahu.”

“Tapi kamu tidak tahu apa yang terjadi sebelum itu.”

Reza menatapnya.

“Perusahaan hampir bangkrut.”

Maya tidak pernah mendengar cerita itu.

Reza Alcazar selalu dikenal sebagai pewaris kerajaan bisnis yang kokoh.

“Banyak utang disembunyikan dari saya. Ada proyek bermasalah, gugatan, penipuan internal. Waktu saya menikah dengan kamu, situasinya belum benar-benar selesai.”

“Kenapa kamu tidak cerita?”

“Karena saya ingin kamu percaya bahwa semuanya baik-baik saja.”

“Jadi kamu memilih menjauh dariku?”

Reza mengangguk pelan.

“Saya pikir kalau saya bekerja lebih keras, semuanya akan selesai lebih cepat. Saya mulai tidur di kantor. Mengabaikan telepon. Membatalkan makan malam. Lalu semakin lama saya menjauh, semakin sulit saya menjelaskan.”

Maya menatapnya dengan mata merah.

“Kamu seharusnya membiarkanku memilih apakah aku mau menghadapi masalah itu bersamamu.”

“Saya tahu.”

“Kamu tidak melindungiku, Reza. Kamu mengusirku tanpa mengucapkan kata apa pun.”

Reza menutup mata.

“Ya.”

Tidak ada pembelaan.

Tidak ada alasan lain.

Dan justru karena itulah kemarahan Maya perlahan berubah menjadi kesedihan.

Malam semakin larut.

Kontraksi mulai mereda.

Dokter memutuskan Maya harus menginap untuk observasi.

Reza tidak pergi.

Dia duduk di kursi keras di samping ranjang sampai dini hari.

Ketika Maya terbangun sekitar pukul tiga, dia melihat Reza tertidur dengan kepala bersandar ke dinding.

Dasi pria itu sudah dilepas.

Jasnya tergantung di kursi.

Satu tangannya masih menggenggam hasil pemeriksaan janin yang tadi diberikan dokter.

Untuk sesaat, Maya memandanginya.

Dulu pemandangan sederhana seperti itu adalah sesuatu yang selalu dia inginkan.

Reza berada di dekatnya.

Tidak sibuk dengan telepon.

Tidak memikirkan rapat.

Hanya berada di sana.

Pagi harinya, kondisi Maya membaik.

Namun sebelum dokter mengizinkannya pulang, seorang perempuan datang ke rumah sakit.

Ibu Reza.

Helena Alcazar.

Maya langsung menegang saat melihat mantan ibu mertuanya memasuki kamar.

Helena dikenal sebagai perempuan tegas yang hampir tidak pernah menunjukkan emosi.

Namun pagi itu matanya sembap.

Dia mendekati Maya.

“Kenapa kamu tidak memberitahu saya?”

Maya terdiam.

Helena memandang perutnya.

Air matanya jatuh.

“Saya akan punya cucu.”

Maya tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

Helena duduk di tepi ranjang.

“Reza baru memberitahu saya pagi tadi.”

Reza yang berdiri dekat jendela berkata,

“Ibu, jangan membuat Maya tertekan.”

Helena menoleh tajam.

“Kalau kamu dulu tidak membuat dia tertekan, mungkin semua ini tidak terjadi.”

Maya hampir tersenyum.

Reza menghela napas.

“Ibu.”

“Apa?”

Helena kembali menatap Maya.

“Anak saya memang bodoh.”

Reza menutup mata sebentar.

“Ibu.”

“Diam.”

Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, Maya tertawa kecil.

Suasana tegang sedikit mencair.

Namun Helena kemudian berkata sesuatu yang membuat Maya kembali terdiam.

“Sebenarnya saya yang membuat semuanya lebih buruk.”

Reza menoleh.

“Apa maksud Ibu?”

Helena meremas tasnya.

“Waktu perusahaan berada dalam masalah, saya meminta Reza untuk tidak melibatkan kamu.”

Reza mengerutkan kening.

“Ibu hanya bilang saya harus fokus.”

“Saya juga mengatakan bahwa istri seorang Alcazar tidak perlu tahu masalah bisnis keluarga.”

Wajah Helena dipenuhi penyesalan.

“Saya takut kamu akan pergi kalau tahu keadaan sebenarnya.”

Maya menatapnya.

“Jadi kalian berdua memilih tidak mengatakan apa-apa?”

Helena mengangguk.

“Dan ternyata justru itu yang membuat kamu pergi.”

Kejujuran itu terasa pahit.

Namun untuk pertama kalinya Maya mendapatkan gambaran utuh tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Bukan karena Reza tidak mencintainya.

Melainkan karena Reza tidak tahu cara mencintai seseorang tanpa merasa harus terlihat kuat di depan orang tersebut.

Tiga hari kemudian, Maya diperbolehkan pulang.

Reza menawarkan apartemen lain, perawat pribadi, bahkan sopir.

Maya menolak semuanya.

“Jangan mencoba membeli jalan kembali ke hidupku.”

Reza mengangguk.

“Saya mengerti.”

Namun ada satu hal yang Maya izinkan.

Reza boleh mengantarnya kontrol.

Hanya itu.

Tidak lebih.

Sejak hari itu, Reza benar-benar menepati batas yang diberikan.

Dia datang tepat waktu.

Membawa air mineral.

Menunggu di luar ruang pemeriksaan jika Maya meminta.

Tidak pernah memaksa.

Tidak pernah membahas pernikahan mereka.

Perlahan, sesuatu yang lama hilang mulai tumbuh kembali.

Bukan cinta.

Belum.

Melainkan kepercayaan.

Empat minggu kemudian, Maya mulai mengalami kontraksi saat sedang berada di apartemen.

Kali ini bukan kontraksi palsu.

Air ketubannya pecah.

Dengan tangan gemetar dia meraih ponsel.

Tanpa berpikir panjang, nomor pertama yang diteleponnya adalah Reza.

Pria itu menjawab pada dering pertama.

“Maya?”

“Sepertinya sudah waktunya.”

Dua puluh menit kemudian Reza sudah tiba.

Di rumah sakit, persalinan berlangsung selama hampir sepuluh jam.

Reza berada di samping Maya sepanjang waktu.

Saat Maya berteriak kesakitan, tangannya menjadi sasaran remasan hingga hampir mati rasa.

Namun Reza tidak pernah melepaskannya.

Menjelang sore, tangisan seorang bayi akhirnya memenuhi ruang bersalin.

Maya langsung menangis.

Dokter mengangkat seorang bayi laki-laki kecil.

“Selamat. Bayinya sehat.”

Reza berdiri kaku.

Air mata jatuh begitu saja dari matanya.

Maya menatapnya.

Selama mengenal Reza, dia hampir tidak pernah melihat pria itu menangis.

Namun sore itu, Reza bahkan tidak berusaha menyembunyikannya.

Ketika bayi itu diletakkan di dada Maya, Reza mendekat.

Tangannya gemetar saat menyentuh kepala kecil anak mereka.

“Dia kecil sekali,” bisiknya.

Maya tertawa dalam tangis.

“Namanya Arka.”

Reza memandang Maya.

“Arka?”

“Aku sudah memilihnya beberapa bulan lalu.”

Reza tersenyum.

“Itu nama yang bagus.”

Beberapa jam kemudian, ketika Maya terbangun dari tidur singkat, dia melihat Reza duduk di kursi sambil menggendong Arka.

Pria yang biasa menandatangani kontrak miliaran rupiah itu terlihat kaku memegang botol susu.

Namun wajahnya sangat serius.

“Kenapa dia tidak mau minum?” gumam Reza.

Perawat yang berdiri di dekatnya tersenyum.

“Bapak terlalu tegang.”

“Saya tidak tegang.”

“Botolnya Bapak pegang terbalik.”

Maya tertawa sampai jahitan persalinannya terasa nyeri.

Reza menoleh dan tersenyum malu.

Momen itu sederhana.

Namun entah mengapa, terasa lebih berharga dibanding seluruh kemewahan yang pernah mereka miliki.

Dua bulan kemudian, Reza datang ke apartemen Maya membawa sebuah map.

Maya langsung mengerutkan kening.

“Apa itu?”

Reza menyerahkan map tersebut.

Maya membukanya.

Di dalamnya terdapat dokumen pengalihan kepemilikan sebuah rumah di kawasan Kemang atas nama Arka.

Maya langsung menutup map.

“Reza.”

“Bukan untuk membeli kamu.”

“Lalu?”

“Untuk Arka.”

Maya masih terlihat tidak suka.

Reza menghela napas.

“Kalau kamu tidak mau tinggal di sana, tidak masalah. Rumah itu tetap atas nama dia.”

Maya menatapnya.

“Aku tidak butuh rumah.”

“Saya tahu.”

Reza tersenyum kecil.

“Yang kamu butuhkan dulu adalah suami.”

Kalimat itu membuat ruangan mendadak sunyi.

Reza tidak melanjutkan.

Dia hanya duduk di sofa sambil memandang Arka yang tertidur.

Kemudian Maya berkata,

“Kalau waktu bisa diputar kembali, apa yang akan kamu lakukan?”

Reza menjawab tanpa ragu.

“Saya akan pulang lebih cepat.”

Maya menatapnya.

“Saya akan duduk di meja makan itu.”

Suara Reza semakin pelan.

“Saya akan cerita semua masalah saya.”

Dia menatap Maya.

“Dan saya akan meminta kamu tinggal.”

Maya merasakan dadanya sesak.

“Tapi waktu tidak bisa diputar.”

“Saya tahu.”

“Perceraian kita tetap terjadi.”

“Saya tahu.”

Reza berdiri.

“Karena itu saya tidak akan meminta kamu kembali ke masa lalu.”

Dia mengambil jasnya.

“Saya hanya berharap suatu hari nanti kamu mau memberi saya kesempatan membangun sesuatu yang baru.”

Lalu dia pergi.

Tidak ada permintaan.

Tidak ada tekanan.

Hanya sebuah pintu yang dibiarkan terbuka.

Enam bulan kemudian, Maya membawa Arka ke taman kecil dekat apartemennya.

Reza datang membawa kopi dan sebuah mainan berbentuk excavator.

Maya menggeleng.

“Dia bahkan belum bisa jalan.”

“Saya tahu.”

“Terus kenapa dibelikan excavator?”

Reza mengangkat bahu.

“Persiapan.”

Maya tertawa.

Mereka duduk di bangku taman.

Arka berada di stroller di antara mereka.

Reza tiba-tiba berkata,

“Saya menjual dua proyek luar negeri.”

Maya menoleh.

“Kenapa?”

“Saya ingin mengurangi pekerjaan.”

“Kamu serius?”

“Sangat.”

“Reza Alcazar mengurangi pekerjaan?”

Reza tersenyum.

“Saya belajar bahwa perusahaan bisa mengganti direktur.”

Dia memandang Arka.

“Tapi anak saya tidak bisa mengganti ayah.”

Maya terdiam.

Kemudian Reza menambahkan,

“Dan ada seseorang yang pernah bilang dia hanya membutuhkan suaminya.”

Maya menatapnya.

Mata mereka bertemu.

Kali ini tidak ada meja pengacara di antara mereka.

Tidak ada kartu kredit hitam.

Tidak ada diam yang menyakitkan.

Hanya dua orang yang pernah gagal mencintai dengan benar.

Dan seorang anak kecil yang memberi mereka kesempatan untuk belajar lagi.

Beberapa bulan setelah ulang tahun pertama Arka, Reza mengajak Maya makan malam.

Bukan di restoran mewah.

Bukan di hotel miliknya.

Melainkan di apartemen lama mereka di SCBD.

Ketika Maya masuk, dia langsung melihat meja makan yang dulu selalu terasa terlalu besar.

Kali ini hanya ada dua piring.

Satu vas bunga kecil.

Dan kursi bayi milik Arka di ujung meja.

Reza berdiri di seberangnya.

“Saya tidak akan meminta kamu melupakan semuanya.”

Maya diam.

“Saya juga tidak akan bilang bahwa kita harus kembali seperti dulu.”

Reza mengambil napas.

“Saya cuma ingin bertanya satu hal.”

Maya menatapnya.

“Maukah kamu membangun keluarga baru dengan saya?”

Bukan melanjutkan yang lama.

Bukan berpura-pura bahwa luka mereka tidak pernah ada.

Tetapi memulai lagi.

Maya menunduk.

Kemudian dia tersenyum kecil.

“Dengan satu syarat.”

“Apa?”

“Kalau ada masalah, kamu bicara.”

Reza mengangguk.

“Ya.”

“Kalau takut, bilang takut.”

“Ya.”

“Kalau sedih, bilang sedih.”

“Ya.”

“Dan jangan pernah lagi mengganti percakapan dengan kartu kredit.”

Reza tertawa.

“Kesalahan terbesar dalam hidup saya.”

Maya menatapnya beberapa detik.

Kemudian mengulurkan tangan.

Reza menggenggamnya.

Tidak lama setelah itu, mereka menikah kembali dalam sebuah upacara kecil yang hanya dihadiri keluarga dan sahabat terdekat.

Tidak ada pesta besar.

Tidak ada liputan media.

Tidak ada daftar tamu pengusaha terkenal.

Maya bahkan menolak memakai ballroom hotel milik keluarga Alcazar.

Dia memilih sebuah taman sederhana di Bogor.

Saat upacara selesai, Helena menggendong Arka sambil menangis lebih keras daripada pengantin perempuan.

Namun kejutan terbesar datang setelah pernikahan.

Reza menjual penthouse mereka.

Maya terkejut ketika mengetahui alasannya.

“Saya pikir kamu mencintai tempat itu.”

Reza menggeleng.

“Itu rumah tempat saya kehilangan kamu.”

Beberapa bulan kemudian mereka pindah ke rumah baru.

Tidak sebesar penthouse lama.

Tidak semewah properti keluarga Alcazar.

Namun setiap malam, Reza berusaha pulang sebelum makan malam.

Dan di meja makan yang jauh lebih kecil itu, hampir tidak pernah ada kursi kosong.

Bertahun-tahun kemudian, ketika Arka bertanya mengapa orang tuanya memiliki dua tanggal pernikahan, Maya dan Reza saling berpandangan.

Reza tersenyum.

“Karena Ayah pernah sangat bodoh.”

Maya tertawa.

Arka menatap ayahnya dengan serius.

“Seberapa bodoh?”

Reza berpikir sebentar.

“Sampai hampir kehilangan dua orang paling penting dalam hidup Ayah.”

Arka tidak sepenuhnya memahami jawabannya.

Namun Maya memahami.

Malam kecelakaan itu dulu terasa seperti salah satu malam terburuk dalam hidupnya.

Dia ketakutan, kesakitan, dan yakin bahwa masa lalunya datang kembali pada saat yang paling tidak tepat.

Namun pada akhirnya, malam itu bukanlah saat ketika Reza menemukan rahasia kehamilan Maya.

Itu adalah malam ketika dua orang yang pernah saling mencintai akhirnya dipaksa menghadapi satu kebenaran sederhana.

Kadang sebuah keluarga tidak hancur karena tidak ada cinta.

Kadang keluarga hancur karena orang-orang di dalamnya terlalu takut mengatakan bahwa mereka masih membutuhkan satu sama lain.

Dan terkadang, kesempatan kedua tidak datang dalam bentuk permintaan maaf yang sempurna.

Ia datang melalui sebuah kecelakaan, tangisan bayi di ruang bersalin, tangan yang akhirnya memilih untuk tetap menggenggam, dan keberanian untuk mengatakan apa yang dulu terlalu lama dipendam.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang