Malam setelah Siti pergi, rumah keluarga Wijaya kembali menjadi tempat yang sangat sunyi.
Bukan sunyi karena tidak ada orang.
Ada belasan pekerja yang masih mondar-mandir di dapur, petugas keamanan berjaga di gerbang, perawat bergantian memeriksa tekanan darah Ibu Ratna, dan dokter keluarga bahkan datang dua kali dalam satu malam.
Namun bagi Rian, rumah itu terasa seperti kehilangan sesuatu yang selama tiga minggu terakhir baru saja hidup kembali.
Suara nyanyian Siti.
Tawa ibunya.
Bahkan suara perdebatan kecil ketika Siti memaksa Ibu Ratna memilih sendiri warna cardigan yang ingin dikenakannya.
Semua menghilang.
Menjelang tengah malam, dokter keluar dari kamar Ibu Ratna dengan wajah tegang.
“Pak Rian, kalau besok pagi beliau masih menolak makan dan minum, saya menyarankan rawat inap.”
Rian berdiri di ujung lorong.
“Infus saja di rumah.”
“Bukan hanya soal cairan.”
Dokter menatapnya serius.
“Secara fisik kondisinya memang lemah. Tapi saya melihat ada penurunan psikologis yang sangat cepat. Seolah beliau kehilangan keinginan untuk berjuang.”
Kalimat terakhir itu menghantam Rian lebih keras daripada yang ingin ia akui.
Ia masuk ke kamar ibunya.
Lampu tidur menyala redup.
Ibu Ratna berbaring miring, memunggunginya.
Foto perempuan muda yang menggendong bayi masih berada di tangan kirinya.
Rian menarik kursi lalu duduk.
“Ibu.”
Tidak ada respons.
“Siti bukan orang yang saya kira.”
Ibu Ratna tetap diam.
“Perhiasan itu ditemukan di tasnya.”
Mendadak tangan kiri ibunya bergerak.
Pelan, tetapi jelas.
Jari telunjuknya menunjuk ke arah Rian.
Kemudian menggeleng.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Rian terdiam.
“Ibu percaya Siti?”
Ibu Ratna mengangguk.
Tanpa ragu.
Rian menarik napas panjang.
“Ibu bahkan tidak tahu apa yang terjadi.”
Mata Ibu Ratna membesar.
Ia mengangkat tangannya dengan susah payah, lalu menunjuk ke arah pintu.
Kemudian ke arah kamera kecil di sudut lorong.
Rian mengikuti arah jarinya.
Kamera pengawas.
Ia langsung berdiri.
Selama beberapa menit berikutnya, untuk pertama kali sejak kasus itu terjadi, Rian benar-benar memikirkan satu hal sederhana.
Bagaimana perhiasan tersebut bisa berada di tas Siti?
Ia memanggil kepala keamanan malam itu juga.
Rekaman dari koridor kamar staf diperiksa.
Namun ada masalah.
Kamera di area itu ternyata mati selama hampir dua jam pada hari ketika Rian berada di Surabaya.
“Kenapa?”
Kepala keamanan berkeringat.
“Ada laporan gangguan jaringan, Pak.”
“Siapa yang melaporkan?”
Pria itu memeriksa sistem.
Wajahnya perlahan berubah.
“Bu Siska.”
Rian menatap layar.
“Tunangan saya punya akses untuk mematikan kamera?”
“Bukan mematikan langsung, Pak. Beliau menghubungi teknisi dan mengatakan ada masalah privasi karena sedang berganti pakaian di kamar tamu dekat koridor. Kamera zona itu kemudian dinonaktifkan sementara.”
Dada Rian mendadak terasa sesak.
Ia meminta seluruh rekaman pada hari tersebut dibuka.
Kamera koridor memang mati.
Tetapi kamera taman samping masih aktif.
Pada pukul 10.42 pagi, Siska terlihat keluar dari pintu samping rumah.
Dua belas menit kemudian, ia masuk kembali.
Yang membuat Rian terpaku adalah sesuatu yang ia pegang.
Sebuah kotak perhiasan kecil milik ibunya.
Rian tidak mengatakan apa-apa selama hampir satu menit.

Kemudian rahangnya mengeras.
“Panggil Siska ke sini besok pagi.”
Siska datang pukul sembilan dengan gaun krem dan kacamata hitam besar.
Ia bahkan membawa bunga untuk Ibu Ratna.
Begitu memasuki ruang kerja, ia tersenyum kepada Rian.
“Kondisi Mama bagaimana?”
Rian memutar layar laptop.
Rekaman kamera mulai berjalan.
Senyum Siska perlahan menghilang.
“Apa ini?”
“Seharusnya saya yang bertanya.”
Wajah Siska pucat.
“Rian, aku bisa jelaskan.”
“Silakan.”
“Aku hanya memindahkan perhiasan Mama.”
“Ke tas Siti?”
Siska menelan ludah.
Rian berdiri.
Selama bertahun-tahun ia terkenal sebagai negosiator yang sangat tenang. Bahkan ketika kehilangan ratusan juta dalam satu transaksi, nada bicaranya hampir tidak berubah.
Namun pagi itu suaranya terdengar jauh lebih dingin.
“Kenapa?”
Air mata mulai memenuhi mata Siska.
“Aku takut.”
“Takut pada pembantu rumah tangga?”
“Bukan pada dia.”
Siska menatapnya.
“Pada apa yang dia temukan.”
Rian membeku.
Siska rupanya mengetahui keberadaan surat lama itu.
Beberapa bulan sebelumnya, ketika membantu Ratna memindahkan dokumen, ia pernah melihat sebagian isi amplop tersebut.
Sejak itu Siska memahami bahwa kemungkinan keberadaan anak pertama Ratna dapat memengaruhi pembagian harta keluarga.
“Aku sudah bicara dengan pengacara,” katanya lirih. “Kalau perempuan itu masih hidup dan ada bukti hubungan keluarga, semuanya bisa menjadi rumit.”
Rian menatap Siska seolah baru pertama kali benar-benar mengenalnya.
“Jadi kamu menjebak Siti karena takut warisanku berkurang?”
“Aku memikirkan masa depan kita.”
“Tidak.”
Rian melepas cincin pertunangannya lalu meletakkannya di atas meja.
“Kamu memikirkan uang.”
Siska terdiam.
“Keluar.”
“Rian.”
“Keluar dari rumah ini. Dan jangan pernah datang menemui ibu saya lagi.”
Siska menangis, tetapi kali ini Rian tidak terpengaruh.
Beberapa menit setelah perempuan itu pergi, ia langsung menelepon semua staf yang mungkin mengetahui alamat Siti.
Tidak ada seorang pun yang tahu pasti.
Siti tinggal di rumah kontrakan daerah Ciputat bersama sepupunya, tetapi alamat yang tercatat di bagian administrasi ternyata tidak lengkap.
Rian menghubungi nomor teleponnya.
Tidak aktif.
Ia mengirim orang ke tempat yang diperkirakan sebagai rumah kontrakan.
Siti sudah pergi pagi itu.
“Ke mana?”
“Katanya pulang kampung.”
Karanganyar.
Rian menatap ibunya.
Wanita tua itu terlihat semakin lemah.
“Ibu, saya akan membawa Siti kembali.”
Untuk pertama kalinya malam itu Ibu Ratna menatapnya.
Lalu ia menggeleng.
Rian terkejut.
“Bukan?”
Ratna mengangkat foto bayi perempuan.
Kemudian menunjuk foto itu.
Lalu menunjuk ke arah Siti yang sudah tidak ada.
Rian mengerutkan kening.
“Siti tahu sesuatu tentang kakak saya?”
Ratna mengangguk.
Itulah saat ketika cerita yang jauh lebih besar mulai terbuka.
Sebelum pergi, Siti sebenarnya telah membantu Ibu Ratna membaca kembali surat lama tersebut.
Di bagian bawah surat ada satu nama keluarga yang sangat dikenal Siti.
Keluarga Surono.
Nama keluarga neneknya sendiri.
Ketika melihat foto bayi itu, Siti mulai curiga pada sesuatu yang mustahil.
Ia tidak berani mengatakannya kepada Rian karena belum memiliki bukti.
Tetapi kepada Ratna, ia pernah menunjukkan foto lama milik keluarganya yang tersimpan di ponsel.
Foto seorang perempuan bernama Sri Mulyani.
Nenek Siti.
Ketika Ibu Ratna melihat foto tersebut, ia menangis tanpa suara selama hampir sepuluh menit.
Ternyata bayi yang diberikan untuk diadopsi pada tahun 1972 diberi nama Sri Mulyani.
Siti bukan sekadar ART yang secara kebetulan membuat Ratna kembali tertawa.
Siti kemungkinan adalah cucu dari anak perempuan yang selama lima puluh empat tahun dicari dan dirindukan Ratna.
Rian merasa lantai di bawah kakinya seolah menghilang.
Keesokan paginya ia membatalkan seluruh agenda bisnis.
Pesawat pribadi perusahaan sebenarnya siap membawanya ke Solo.
Namun pada menit terakhir Rian memilih naik penerbangan komersial biasa.
Entah mengapa, untuk pertama kalinya ia merasa tidak ingin menyelesaikan masalah keluarga seperti menyelesaikan transaksi perusahaan.
Ia pergi sendirian.
Dari Solo ia melanjutkan perjalanan menuju sebuah desa di Karanganyar.
Menjelang sore, ia menemukan rumah sederhana dengan dinding yang mulai kusam dan halaman dipenuhi pot tanaman.
Siti sedang menyapu teras.
Begitu melihat Rian turun dari mobil sewaan, wajahnya langsung berubah.
“Pak Rian?”
Rian berdiri beberapa meter darinya.
“Saya datang untuk meminta maaf.”
Siti diam.
“Saya salah.”
Masih tidak ada jawaban.
“Siska mengaku.”
Siti menurunkan sapunya.
“Jadi sekarang Bapak percaya saya karena ada rekaman?”
Rian tidak bisa menjawab.
Siti tersenyum tipis.
“Kalau kamera itu tidak ada, mungkin sampai sekarang Bapak masih menganggap saya pencuri.”
Kalimat itu tepat mengenai bagian paling menyakitkan dalam diri Rian.
Ia menundukkan kepala.
“Anda benar.”
Siti terlihat terkejut.
Mungkin karena seorang Rian Wijaya hampir tidak pernah mengatakan kalimat seperti itu.
“Saya datang bukan untuk meminta Anda kembali bekerja,” lanjut Rian. “Saya datang karena ibu saya membutuhkan Anda.”
Siti memandangnya lama.
“Beliau membutuhkan Bapak jauh lebih daripada membutuhkan saya.”
Rian terdiam.
Siti kemudian membawa Rian masuk.
Di ruang tengah yang sederhana, seorang perempuan berusia sekitar tujuh puluhan duduk di kursi rotan.
Tubuhnya kurus.
Rambutnya hampir seluruhnya putih.
Siti memperkenalkannya.
“Nenek saya. Sri Mulyani.”
Rian kehilangan kata-kata.
Bentuk mata perempuan itu sama dengan mata Ibu Ratna.
Bahkan cara ia mengangkat alis ketika bingung terasa sangat familier.
Rian mengeluarkan foto lama dari sakunya.
Tangan Sri Mulyani langsung gemetar.
“Ibu Ratna?”
Rian menatapnya.
“Anda mengenalnya?”
Air mata Sri jatuh.
“Saya mencari nama itu selama hampir empat puluh tahun.”
Ternyata keluarga yang mengadopsinya tidak pernah menyembunyikan kenyataan bahwa ia bukan anak kandung.
Mereka hanya mengatakan bahwa ibu biologisnya masih sangat muda, miskin, dan dipaksa keadaan untuk menyerahkannya.
Ketika Sri berusia tiga puluh tahun, ia mulai mencari Ratna.
Namun alamat keluarga lama sudah berubah.
Ratna sendiri saat itu sudah menikah, pindah ke Jakarta, dan menggunakan nama keluarga Wijaya.
Mereka hanya terpisah oleh jejak administrasi yang hilang.
Dan selama puluhan tahun, dua perempuan itu sama-sama mencari dari arah yang berbeda.
Malam itu, Rian menelepon dokter.
Dua hari kemudian, dengan pengawasan medis, Ibu Ratna dibawa menggunakan ambulans khusus ke Karanganyar.
Ketika pintu rumah dibuka dan Sri Mulyani melihat kursi roda ibunya, perempuan berusia tujuh puluhan itu berdiri kaku.
Ibu Ratna menangis.
Bibirnya bergetar.
Selama enam belas bulan, ia hampir tidak mampu mengucapkan satu kata pun dengan jelas.
Namun saat Sri berlutut di depannya dan menggenggam tangan kirinya, suara kecil keluar dari tenggorokannya.
“Anakku.”
Ruangan itu langsung dipenuhi tangisan.
Sri memeluk ibunya.
Siti menutup mulut sambil terisak.
Bahkan Rian, yang selama bertahun-tahun menganggap emosi sebagai sesuatu yang harus dikendalikan, terpaksa berpaling untuk menyeka matanya.
Beberapa minggu berikutnya mengubah keluarga Wijaya.
Tes DNA memastikan hubungan mereka.
Sri Mulyani benar-benar anak kandung Ibu Ratna.
Artinya Siti adalah cicit Ratna.
Rian adalah paman dari ibu Siti.
Namun kejutan terbesar justru muncul setelah semuanya selesai.
Ketika Rian mulai membicarakan pembagian aset dan hak keluarga, Sri menghentikannya.
“Saya tidak datang untuk mengambil warisan.”
“Tapi itu hak Anda.”
Sri menggeleng.
“Saya sudah hidup lebih dari tujuh puluh tahun tanpa uang keluarga Wijaya. Saya datang karena akhirnya bisa memanggil seseorang Ibu sebelum salah satu dari kami meninggal.”
Rian tidak pernah melupakan kalimat itu.
Ibu Ratna kembali ke Jakarta beberapa minggu kemudian, tetapi kali ini Sri ikut bersamanya.
Siti juga kembali.
Bukan sebagai ART.
Rian menawarkan banyak hal kepadanya, termasuk posisi administratif di yayasan milik keluarga.
Siti menolak.
“Apa yang sebenarnya kamu inginkan?” tanya Rian suatu sore.
Siti berpikir sebentar.
“Saya ingin mendirikan tempat pendampingan untuk keluarga pasien stroke. Banyak orang mampu membayar dokter, tapi tidak tahu bagaimana memperlakukan orang sakit sebagai manusia.”
Rian tersenyum.
Beberapa bulan kemudian, sebuah pusat rehabilitasi stroke dan pendampingan keluarga berdiri di Jakarta Selatan.
Namanya Rumah Ratna.
Siti menjadi salah satu pengelolanya.
Tidak ada fasilitas berlebihan.
Tidak ada lampu kristal.
Tidak ada ruang VIP dengan sofa mahal.
Sebaliknya, ada taman, ruang musik, kelas memasak sederhana, terapi keluarga, dan program yang mengajarkan bahwa pasien tetap harus dilibatkan dalam percakapan sehari-hari.
Rian tetap menjalankan bisnisnya.
Ia masih terbang ke Singapura.
Masih menghadiri rapat bernilai miliaran rupiah.
Masih menjadi salah satu pengusaha paling sibuk di negeri itu.
Namun ada satu aturan yang tidak pernah lagi ia langgar.
Setiap Minggu siang, di mana pun ia berada, ia pulang untuk makan bersama keluarga.
Pada ulang tahun Ibu Ratna berikutnya, rumah Pondok Indah kembali dipenuhi suara.
Sri duduk di samping ibunya.
Siti memutar lagu lama yang dulu dinyanyikannya ketika Rian pertama kali pulang tanpa pemberitahuan.
Ibu Ratna mengangkat tangan kirinya.
Siti mulai melakukan gerakan tari yang sama konyolnya.
Semua orang tertawa.
Rian berdiri di pintu ruang keluarga.
Pemandangan itu hampir sama seperti satu tahun sebelumnya.
Hanya saja kali ini ia tidak bersembunyi di balik pilar.
Ia berjalan masuk.
Kemudian mengulurkan tangan kepada ibunya.
“Ayo, Bu.”
Ratna tertawa.
Rian ikut menari.
Gerakannya jauh lebih buruk daripada Siti.
Siti tertawa paling keras.
Dan di tengah ruangan itu, Rian akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh dunia bisnis kepadanya.
Selama bertahun-tahun ia mengira tugas seorang anak adalah memastikan ibunya memiliki rumah terbaik, dokter terbaik, obat terbaik, dan hidup tanpa kekurangan apa pun.
Ternyata ia keliru.
Ada kekurangan yang tidak bisa diisi dengan uang.
Ada luka yang tidak bisa diobati dokter.
Dan ada rahasia yang hanya berani keluar ketika seseorang akhirnya merasa cukup dicintai untuk mengatakannya.
Siti datang ke rumah keluarga Wijaya hanya sebagai seorang ART sederhana.
Namun perempuan itu tidak hanya membuat Ibu Ratna tertawa kembali.
Tanpa sengaja, ia mengembalikan seorang anak kepada ibunya.
Mengembalikan seorang ibu kepada anaknya.
Dan mengajarkan seorang miliarder bahwa warisan terbesar sebuah keluarga bukanlah rekening bank, perusahaan, rumah mewah, atau perhiasan berlian.
Melainkan kesempatan untuk pulang sebelum semuanya terlambat.
