Di usia 35 tahun, Rendra Salgado telah memiliki hampir semua hal yang dulu hanya berani ia impikan. Ia memulai semuanya dari nol, dari sebuah warung kecil di Surabaya, bekerja sejak pagi buta sampai larut malam, menghitung setiap rupiah yang masuk dan kadang menunda membayar tagihan agar usahanya tetap bertahan.
Namun ada satu hal yang tidak pernah bisa dibeli Rendra dengan uang sebanyak apa pun.
Waktu bersama Maya.
Maya adalah perempuan yang tetap berada di sisinya ketika mereka masih tinggal di kontrakan sempit dengan atap bocor. Ketika semua orang menertawakan mimpi Rendra membangun jaringan restoran, hanya Maya yang berkata bahwa suatu hari ia pasti berhasil.
Karena itulah, ketika perjalanan bisnisnya selesai dua hari lebih cepat, Rendra sengaja tidak memberi tahu siapa pun.
Ia ingin mengejutkan istrinya.
Sebuah kalung berlian tersimpan di saku jasnya ketika mobilnya memasuki halaman rumah mereka di Pondok Indah.
Namun senyum Rendra menghilang saat melihat belasan mobil mewah terparkir di depan rumah.
Musik terdengar keras.
Puluhan tamu memenuhi ruang utama.
Rendra masuk melalui pintu samping dan mendengar suara Fikri, adik bungsunya, berseru sambil mengangkat gelas.
“Untuk Kak Rendra dan transferan bulanannya yang tidak pernah telat!”
Tawa meledak.
“Semoga rezekinya terus mengalir supaya kita semua bisa terus menikmati hidup seperti ini!”
Rendra berdiri diam.
Ibunya, Ratih, duduk mengenakan perhiasan baru. Siska memakai gaun mahal. Fikri memamerkan jam tangan yang harganya hampir setara sebuah mobil.
Namun Maya tidak ada.
Setelah bertanya kepada seorang petugas katering, Rendra akhirnya menemukan istrinya di dapur servis belakang.
Maya sedang mencuci tumpukan kuali.
Tangannya merah, kulit jemarinya pecah-pecah, rambutnya basah oleh keringat.
Siska berdiri di belakangnya sambil berkata dingin, “Yang bersih, dong. Setelah itu bersihkan ruang makan juga.”
Maya hanya mengangguk.
“Iya, Siska.”
Rendra merasa dadanya terbakar.
“Maya.”
Spons terlepas dari tangan istrinya.
Siska langsung pucat.
“K-Kak Rendra?”
Rendra mendekati Maya dan menatap kedua tangannya.
“Apa yang terjadi di sini?”
“Enggak ada apa-apa.”
“Maya, apa yang terjadi di rumah ini selama aku pergi?”
Siska mencoba menyela, tetapi Rendra membungkamnya dengan satu kata.
“Diam.”
Anehnya, Maya justru mencengkeram lengan suaminya.
“Rendra, tolong.”
“Apa?”
“Jangan bilang kepada mereka kalau kamu sudah tahu. Pura-pura saja kamu belum melihat apa-apa.”
Rendra terpaku.
Saat itulah ia memahami sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada pemandangan di dapur itu.
Maya takut kepada keluarganya.
Rendra menarik napas panjang. Amarahnya nyaris meledak, tetapi ia mengenal Maya terlalu baik. Jika istrinya meminta sesuatu dengan tatapan seperti itu, pasti ada alasan.
Ia menoleh kepada Siska.
“Kamu tidak melihat aku pulang.”
Siska mengangguk cepat.
“Iya, Kak.”
“Keluar.”
Begitu Siska pergi, Rendra mematikan keran dan mengambil kuali dari tangan Maya.
“Kita bicara sekarang.”
Maya menggeleng.
“Jangan di sini.”
“Mereka melakukan apa kepadamu?”
“Rendra…”
“Berapa lama?”
Maya menunduk.
Jawabannya nyaris tak terdengar.
“Hampir dua tahun.”
Rendra membeku.
Dua tahun.
Selama dua tahun terakhir, ia memang lebih sering bepergian. Membuka cabang di Bali, Bandung, Makassar, lalu mengurus investasi baru di Singapura. Ia selalu memastikan kebutuhan rumah terpenuhi.
Bahkan setiap bulan ia mentransfer seratus lima puluh juta rupiah kepada ibunya untuk kebutuhan keluarga.
Ratih selalu mengatakan uang itu digunakan untuk biaya rumah, pengobatan, kebutuhan Fikri, dan membantu beberapa kerabat.
Rendra tidak pernah bertanya.
Baginya, setelah bertahun-tahun hidup susah, memberikan kenyamanan kepada keluarga adalah bentuk balas budi.
“Apa hubungannya uang itu dengan kamu?”
Maya memejamkan mata.
“Semua.”
Maya membawa Rendra ke ruang penyimpanan kecil di samping dapur. Dari balik tumpukan kardus, ia mengambil sebuah map plastik.
Di dalamnya ada fotokopi rekening, tagihan kartu kredit, kuitansi, dan beberapa surat.
Rendra membaca satu per satu.
Tangannya mulai gemetar.
Transfer yang ia kirim kepada Ratih hampir selalu habis dalam beberapa hari.
Spa.
Tas mewah.
Hotel.
Perhiasan.
Cicilan mobil Fikri.
Tagihan kartu kredit Siska.
Pesta.
Bahkan uang muka sebuah apartemen atas nama Siska.
“Kenapa kamu punya semua ini?”
“Karena rekening operasional rumah atas namaku. Awalnya Ibu selalu meminta aku mentransfer uang setelah uang darimu masuk. Lama-lama jumlahnya makin besar.”
“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”
Maya tersenyum getir.
“Aku pernah mencoba.”
“Kapan?”
“Setahun lalu.”
Maya membuka ponselnya.
Ia menunjukkan sebuah pesan lama.
Pesan itu dikirim kepada Rendra.
Mas, kalau sudah ada waktu, aku mau bicara soal Ibu dan uang rumah. Ada beberapa hal yang menurutku mulai tidak wajar.
Di bawahnya ada balasan Rendra.
Maya, tolong jangan perhitungan sama keluargaku. Aku lagi banyak masalah kerja. Kasih saja apa yang mereka butuhkan.
Rendra merasa seperti ditampar.
Ia bahkan tidak mengingat pesan itu.
Maya melanjutkan.
“Setelah itu Ibu tahu aku mencoba bicara denganmu.”
“Apa yang dia lakukan?”
“Dia bilang aku perempuan tidak tahu diri. Katanya waktu kamu susah, keluargamu juga membantu. Dia bilang aku mau memisahkan kamu dari mereka.”
“Itu tidak menjawab pertanyaanku.”
Maya terdiam.
Rendra menatapnya.
“Apa yang mereka lakukan kepadamu?”
Mata Maya mulai basah.
“Mereka mengambil kartu ATM rumah dariku. Kalau aku menolak, mereka mengancam akan bilang kepadamu bahwa aku menghambur-hamburkan uang.”
Rendra tertawa pendek, tetapi tidak ada sedikit pun humor dalam suaranya.
“Mereka?”
“Ibu, Siska, dan Fikri.”
“Lalu ini?”
Ia menunjuk tangan Maya.
Maya cepat-cepat menyembunyikannya.
“Biasanya tidak seperti ini.”
“Biasanya?”
Rendra menekankan kata itu.
Maya akhirnya mengaku bahwa setiap kali Ratih mengadakan pesta, ia sengaja tidak menggunakan staf rumah untuk pekerjaan setelah acara.
Ratih mengatakan Maya harus belajar menjadi menantu yang tahu tempat.
Kadang Maya disuruh memasak untuk puluhan tamu.
Kadang membersihkan rumah.
Kadang mencuci semua peralatan pesta.
Yang paling menyakitkan bukan pekerjaannya.
Maya pernah melakukan pekerjaan jauh lebih berat ketika membantu Rendra membangun warung mereka.
Yang menyakitkan adalah penghinaan.
Ratih sering memperkenalkan Maya kepada tamu sebagai perempuan kampung yang beruntung menikahi anaknya.

Siska beberapa kali mengatakan Maya tidak pantas menikmati kekayaan Rendra karena tidak pernah melahirkan anak.
Rendra langsung mengangkat wajah.
“Apa?”
Maya terdiam.
“Katakan lagi.”
Maya menghapus air matanya.
“Mereka bilang aku tidak berguna karena sampai sekarang kita belum punya anak.”
Rendra berdiri.
Wajahnya berubah.
“Sudah cukup.”
Maya buru-buru menahan tangannya.
“Kamu janji tidak membuat keributan.”
“Aku tidak pernah janji.”
“Rendra.”
“Aku memang tidak akan membuat keributan.”
Nada suaranya justru menjadi sangat tenang.
“Aku cuma akan mencari tahu semuanya.”
Malam itu Rendra keluar lagi melalui pintu samping.
Ia menghubungi Dimas, direktur keuangan perusahaan sekaligus sahabat yang sudah bekerja bersamanya sejak restoran kedua berdiri.
“Dimas, aku butuh audit.”
“Audit apa?”
“Semua rekening pribadi yang selama ini menerima transfer rutin dariku. Dua tahun terakhir.”
Dimas terdiam.
“Ren, itu rekening keluargamu.”
“Aku tahu.”
“Ada masalah?”
Rendra menatap rumahnya dari dalam mobil.
“Aku juga ingin tahu.”
Keesokan paginya, Ratih menelepon.
“Rendra, kapan pulang? Ibu kemarin bikin acara kecil di rumah.”
Rendra menahan napas.
“Masih dua hari lagi.”
“Bagus. Jangan buru-buru. Fokus kerja saja.”
“Acara apa, Bu?”
“Oh, cuma kumpul keluarga. Enggak habis banyak.”
Rendra hampir tertawa.
“Ya sudah.”
Setelah telepon ditutup, Dimas mengirim laporan awal.
Jumlahnya membuat Rendra terdiam lama.
Dalam dua tahun, lebih dari 3,4 miliar rupiah telah berpindah dari rekening yang disediakan Rendra untuk kebutuhan keluarga.
Namun itu belum semuanya.
Ada beberapa transfer dari rekening perusahaan.
Rendra langsung menelepon Dimas.
“Kenapa ada uang perusahaan?”
“Itu yang mau aku jelaskan.”
Dimas terdengar tegang.
“Fikri ternyata punya akses sebagai vendor.”
Rendra mengernyit.
“Vendor apa?”
“PT Arunika Prima.”
Nama itu asing.
“Perusahaan siapa?”
“Secara hukum milik orang lain. Tapi nomor kontak, alamat korespondensi, dan rekening penampungnya terhubung ke Fikri.”
Darah Rendra terasa dingin.
Selama delapan belas bulan, PT Arunika Prima memasok bahan kemasan ke beberapa restoran milik Rendra dengan harga hampir dua kali lipat dari harga pasar.
Kerugiannya mencapai lebih dari dua miliar rupiah.
“Siapa yang menyetujui vendor itu?”
Dimas terdiam beberapa detik.
“Pak Hadi.”
Pak Hadi adalah paman Rendra.
Orang yang dipercaya Rendra memimpin bagian pengadaan.
Potongan-potongan itu akhirnya tersusun.
Ini bukan lagi sekadar keluarga yang hidup boros menggunakan uangnya.
Mereka telah mencuri dari perusahaan.
Dua hari kemudian, Rendra pulang sesuai jadwal yang diketahui keluarganya.
Ratih menyambutnya dengan pelukan.
“Anak Ibu akhirnya pulang.”
Siska tersenyum manis.
Fikri bahkan membantu membawa koper.
Maya berdiri sedikit jauh di belakang.
Tidak ada yang tahu bahwa Rendra sudah berada di Jakarta selama dua hari.
Saat makan malam, Ratih mulai mengeluh.
“Ren, uang bulanan bulan depan mungkin perlu ditambah sedikit.”
“Berapa?”
“Mungkin dua ratus lima puluh juta.”
Rendra memotong daging di piringnya.
“Untuk apa?”
Ratih terlihat terkejut.
Biasanya Rendra tidak pernah bertanya.
“Ya kebutuhan rumah. Harga-harga naik.”
Fikri menyahut, “Kak, aku juga lagi mau buka usaha. Kalau bisa bantu modal sekitar lima ratus juta.”
Siska ikut tersenyum.
“Aku juga cuma perlu sedikit buat renovasi apartemen.”
Rendra meletakkan garpunya.
“Menarik.”
Ratih mengernyit.
“Apanya?”
“Kalian semua butuh uang.”
Ia menatap Maya.
“Tapi istriku tidak pernah meminta apa-apa.”
Ruangan langsung sunyi.
Wajah Siska berubah.
Maya menatap Rendra dengan cemas.
Ratih tersenyum kaku.
“Maya memang sederhana.”
“Bukan.”
Rendra menatap ibunya.
“Karena kalian memastikan dia tidak punya kesempatan meminta.”
Fikri berdiri.
“Kak, maksudnya apa?”
Rendra mengeluarkan sebuah map dan melemparkannya ke atas meja.
Tagihan, rekening, bukti transfer, dan laporan audit berserakan.
Ratih pucat.
Siska tidak bergerak.
Fikri menelan ludah.
“Aku tahu soal pesta.”
Tidak ada jawaban.
“Aku tahu soal apartemen Siska. Mobil Fikri. Perhiasan Ibu.”
Rendra berhenti.
“Dan PT Arunika Prima.”
Gelas di tangan Fikri jatuh.
Pecahannya berserakan di lantai.
Ratih segera berkata, “Rendra, dengarkan Ibu dulu.”
“Belum selesai.”
Rendra membuka ponselnya.
Di layar terdapat rekaman CCTV dari dapur servis.
Ternyata sistem kamera rumah menyimpan rekaman otomatis di cloud perusahaan keamanan. Ratih dan Siska tidak pernah menyadarinya.
Dalam rekaman itu terdengar suara Siska menyuruh Maya mencuci kuali.
Kemudian rekaman lain.
Ratih memarahi Maya karena menolak memberikan uang.
Rekaman berikutnya bahkan menunjukkan Fikri mengambil kartu ATM dari tangan Maya.
Wajah Ratih kehilangan warna.
“Kamu memata-matai ibu sendiri?”
“Ini rumahku.”
Rendra menatapnya tajam.
“Dan perempuan yang kalian perlakukan seperti pembantu itu istriku.”
Ratih bangkit.
“Ibu melakukan semuanya demi keluarga!”
“Keluarga?”
Suara Rendra akhirnya meninggi.
“Keluarga tidak mencuri.”
“Kami tidak mencuri! Semua yang kamu punya juga karena doa Ibu!”
Rendra tertawa pahit.
“Ibu tahu siapa yang berada di sampingku saat aku hampir bangkrut?”
Ratih diam.
“Maya.”
“Siapa yang menjual gelang satu-satunya supaya aku bisa membeli kompor kedua?”
Ratih tidak menjawab.
“Maya.”
Rendra menunjuk meja.
“Siapa yang bekerja bersamaku sampai jam dua pagi ketika warung pertama hampir tutup?”
Sekali lagi tidak ada jawaban.
“Maya.”
Mata Rendra memerah.
“Jadi jangan pernah berdiri di rumah ini dan mengatakan perempuan itu hidup dari uangku. Kalau mau dihitung, sebagian dari semua yang aku punya hari ini ada karena pengorbanannya.”
Ratih menoleh kepada Maya.
“Kamu puas sekarang? Kamu berhasil mengadu anak saya dengan keluarganya.”
Maya hendak menjawab, tetapi Rendra berdiri di depannya.
“Bukan Maya yang menunjukkan semuanya.”
Ratih terdiam.
“Aku yang pulang lebih awal.”
Wajah Siska seketika pucat.
Rendra menatapnya.
“Dan aku melihat sendiri istriku mencuci kuali sementara kalian bersulang untuk uangku.”
Siska mulai menangis.
“Kak, aku minta maaf.”
“Besok pagi kalian keluar dari rumah ini.”
Ratih menatapnya tak percaya.
“Rendra!”
“Semua fasilitas berhenti malam ini. Kartu tambahan diblokir. Mobil yang dibeli menggunakan rekeningku dikembalikan.”
Fikri membentak.
“Kak enggak bisa begini!”
“Bisa.”
Rendra mengeluarkan satu dokumen terakhir.
“Dan untuk Arunika Prima, pengacaraku sudah menyerahkan bukti kepada pihak berwenang.”
Fikri langsung terduduk.
Ratih menangis.
Namun Rendra tidak mengubah keputusan.
Malam semakin larut ketika rumah akhirnya sunyi.
Maya duduk di teras belakang. Rendra datang membawa dua cangkir teh.
Untuk beberapa menit mereka tidak bicara.
Kemudian Rendra mengeluarkan kotak beludru dari sakunya.
“Aku sebenarnya pulang membawa ini.”
Maya membuka kotaknya dan terdiam melihat kalung berlian.
Namun Rendra menutup kembali kotak itu.
“Aku malu.”
“Kenapa?”
“Aku pikir hadiah mahal bisa mengganti waktu yang tidak kuberikan kepadamu.”
Maya menatapnya.
“Aku bekerja keras supaya kamu tidak perlu merasakan hidup susah lagi. Tapi aku terlalu sibuk mencari uang sampai tidak tahu kamu menderita di rumahku sendiri.”
Maya menggenggam tangannya.
“Kamu tidak tahu.”
“Seharusnya aku tahu.”
Rendra terdiam.
“Kenapa kamu tetap bertahan?”
Maya tersenyum tipis.
“Karena aku masih melihat laki-laki yang dulu mencuci piring bersamaku di warung kecil itu. Aku cuma takut laki-laki itu sudah hilang.”
Rendra menunduk.
“Dia enggak hilang.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Maya benar-benar tersenyum.
Tiga bulan kemudian, kasus PT Arunika Prima masih berjalan. Fikri harus mempertanggungjawabkan tindakannya. Pak Hadi diberhentikan. Siska menjual apartemennya untuk mengembalikan sebagian uang yang telah ia terima.
Ratih pindah ke rumah lamanya di Surabaya.
Rendra tetap membiayai kebutuhan dasar ibunya, tetapi tidak lagi memberikan uang tanpa batas.
Hubungan mereka belum pulih.
Mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Mungkin tidak akan pernah sama lagi.
Namun perubahan terbesar justru terjadi di rumah Rendra.
Ia mengurangi perjalanan bisnis dan menyerahkan lebih banyak pekerjaan kepada tim profesional.
Maya kembali terlibat dalam bisnis restoran, sesuatu yang sudah lama ia tinggalkan.
Suatu sore, mereka mengunjungi cabang pertama yang dulu berasal dari warung kecil mereka.
Di gudang belakang, Maya menemukan sebuah kuali tua dengan gagang yang sudah menghitam.
“Masih disimpan?”
Rendra tertawa.
“Mana mungkin dibuang.”
Maya menyentuh permukaannya.
“Kita dulu sering rebutan siapa yang mencuci ini.”
“Enggak. Kamu selalu nyuruh aku.”
“Karena kamu kalau mencuci enggak pernah bersih.”
Mereka tertawa.
Kemudian Rendra tiba-tiba terdiam.
Ia mengambil kuali itu dan meletakkannya di atas meja.
“Aku mau pasang ini di restoran utama.”
“Buat apa?”
“Supaya aku ingat.”
“Ingat apa?”
Rendra menatap istrinya.
“Bahwa sebelum ada restoran, rumah besar, mobil, atau uang miliaran, kita cuma punya satu kuali, dua pasang tangan, dan kepercayaan satu sama lain.”
Mata Maya berkaca-kaca.
Rendra menggenggam tangannya.
“Dan aku hampir kehilangan hal paling berharga karena terlalu sibuk menjaga semua yang sebenarnya tidak penting.”
Beberapa minggu kemudian, kuali tua itu benar-benar dipajang di restoran utama mereka.
Di bawahnya hanya terdapat sebuah kalimat sederhana.
Jangan pernah melupakan siapa yang berdiri di sampingmu ketika meja masih kosong.
Kalung berlian yang dibeli Rendra akhirnya tetap diberikan kepada Maya.
Namun Maya hanya memakainya sekali.
Ketika Rendra bertanya mengapa, Maya tersenyum dan menunjuk cincin pernikahan sederhana di jarinya.
“Aku lebih suka ini.”
“Itu murah sekali.”
“Justru itu.”
Maya menggenggam tangannya.
“Kamu membelinya ketika kita belum punya apa-apa.”
Rendra menatap cincin itu lama.
Ia baru memahami sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah diajarkan oleh bisnis, investasi, ataupun kekayaan.
Uang memang bisa mengubah hidup seseorang.
Namun uang juga bisa menunjukkan siapa sebenarnya orang-orang di sekeliling kita.
Ada yang mendekat ketika meja sudah penuh.
Ada yang pergi ketika uang berhenti mengalir.
Dan hanya sedikit yang bersedia duduk bersama kita ketika meja itu masih kosong.
Rendra pernah mengira keberhasilannya dimulai ketika restoran pertamanya menghasilkan keuntungan.
Ternyata ia salah.
Keberhasilannya dimulai jauh sebelum itu.
Di sebuah warung kecil di Surabaya, ketika seorang perempuan bernama Maya berdiri di sampingnya, menggulung lengan baju, mengambil spons, lalu berkata sambil tersenyum,
“Ayo, kita cuci kualinya bareng-bareng.”
