MALAM SAAT SUAMIKU MENGUSIRKU DI TENGAH HUJAN DERAS KARENA MENGANGGAPKU MISKIN…

Tepat pukul dua lewat tiga belas menit dini hari, lampu di lantai tiga puluh dua Gedung Pratama Capital kembali menyala setelah hampir enam tahun tidak pernah menerima pemiliknya.

Valerie berdiri di depan jendela besar dengan pakaian yang masih sedikit lembap akibat hujan.

Rambutnya sudah dikeringkan seadanya. Di atas meja di belakangnya tergeletak beberapa map tebal, dua laptop, dan segelas kopi yang belum disentuh.

Ruangan itu tidak berubah banyak sejak terakhir kali ia meninggalkannya.

Meja kayu gelap.

Rak berisi laporan tahunan.

Foto mendiang ayahnya di sudut ruangan.

Dan sebuah plakat kecil bertuliskan nama yang sudah lama ia sembunyikan dari dunia luar.

Valerie Pratama.

Komisaris Utama Pratama Strategic Investment.

Pria tua yang menerima teleponnya tadi malam, Surya Mahendra, berdiri beberapa langkah di belakangnya.

Ia sudah mengabdi kepada keluarga Pratama lebih dari tiga puluh tahun.

“Audit awal sudah berjalan,” katanya. “Tim risiko, legal, dan forensic accounting semuanya sudah masuk.”

Valerie berbalik.

“Apa yang paling cepat bisa kita dapat?”

Surya membuka tablet.

“Struktur utang Cipta Properti lebih rapuh dari yang terlihat di laporan publik. Mereka memiliki beberapa pinjaman sindikasi, dan sebagian fasilitas itu dijamin oleh aset proyek Kota Hijau Nusantara.”

Valerie mengangguk.

“Itu saya sudah duga.”

“Tapi ada sesuatu yang lebih menarik.”

Surya menggeser layar.

“Penilaian beberapa aset tanah meningkat hampir tiga kali lipat hanya dalam delapan belas bulan.”

Valerie menatap angka-angka itu.

“Appraisal independen?”

“Secara dokumen, iya.”

“Secara kenyataan?”

Surya terdiam sebentar.

“Kami belum yakin.”

Valerie berjalan mendekati meja.

“Jangan serang mereka.”

Surya mengangkat alis.

“Maaf?”

“Saya tidak ingin ada tindakan emosional hanya karena Rendy menceraikan saya.”

Tatapan Valerie tajam.

“Kalau perusahaan itu sehat, biarkan tetap berdiri. Kalau memang ada pelanggaran, biarkan angka-angkanya sendiri yang menjatuhkan mereka.”

Surya tersenyum tipis.

“Itu terdengar lebih berbahaya.”

Valerie duduk.

“Karena memang begitu.”

Pagi harinya, Rendy bangun dengan perasaan luar biasa ringan.

Selly sudah berada di rumah.

Ratna bahkan meminta staf rumah tangga mengganti bunga di ruang keluarga dan memindahkan beberapa barang milik Valerie ke gudang.

“Rumah ini akhirnya terasa hidup lagi,” kata Ratna.

Selly tertawa kecil.

Ia mengenakan setelan putih elegan dan duduk santai sambil melihat-lihat interior rumah.

“Valerie benar-benar pergi cuma membawa satu tas?”

Rendy mengangguk.

“Dia memang tidak punya apa-apa.”

Selly memiringkan kepala.

“Enam tahun menikah dan tidak mengambil tas, perhiasan, atau mobil?”

Rendy terkekeh.

“Mungkin dia terlalu malu.”

Ratna ikut tertawa.

Namun Selly tidak.

Ada sesuatu yang terasa aneh baginya.

Orang yang tidak punya apa-apa biasanya akan berusaha mempertahankan apa pun yang bisa dibawa.

Tapi Valerie justru meninggalkan semuanya.

Seolah barang-barang mewah itu memang tidak pernah berarti baginya.

Telepon Rendy berdering.

Nama direktur keuangannya muncul.

Rendy mengangkat dengan santai.

“Ya?”

Suara dari seberang terdengar tegang.

“Pak, Bank Dharma meminta klarifikasi tambahan untuk fasilitas pinjaman proyek Kota Hijau Nusantara.”

Rendy mengerutkan kening.

“Klarifikasi apa?”

“Mereka ingin memperbarui data appraisal atas tanah di Serpong dan Karawang.”

Rendy berdiri.

“Itu semua sudah selesai tahun lalu.”

“Benar, Pak. Tapi mereka bilang ada evaluasi risiko internal baru.”

Rendy mendengus.

“Biasa. Kirim saja dokumennya.”

Ia mematikan telepon.

Selly memperhatikannya.

“Ada masalah?”

“Tidak.”

Rendy tersenyum.

“Kalau proyek sebesar ini tidak pernah diperiksa bank, justru aneh.”

Siang itu, pemeriksaan tidak hanya datang dari satu bank.

Dua kreditur lain mengirim permintaan serupa.

Menjelang sore, sebuah firma investasi yang selama bertahun-tahun menjadi pembeli obligasi Cipta Properti tiba-tiba menunda pembelian surat utang baru perusahaan.

Belum ada bencana.

Belum ada pengumuman buruk.

Tapi sesuatu mulai bergerak.

Dan dalam bisnis, terkadang ketakutan muncul bahkan sebelum masalah memiliki nama.

Di kantor Pratama Capital, Valerie menerima laporan kedua.

Seorang perempuan bernama Anissa, kepala audit forensik, meletakkan beberapa dokumen di hadapannya.

“Kami menemukan pola transaksi antara Cipta Properti dengan tiga perusahaan vendor.”

“Vendor konstruksi?”

“Di atas kertas.”

Anissa menarik satu lembar.

“Tapi alamat kantor dua perusahaan ternyata hanya ruko kosong. Direkturnya memiliki hubungan keluarga dengan salah satu anggota direksi Cipta Properti.”

Valerie membaca cepat.

“Yang ketiga?”

Anissa menghela napas.

“Perusahaan konsultasi lingkungan.”

Valerie berhenti.

“Proyek Kota Hijau Nusantara punya izin lingkungan melalui mereka?”

“Sebagian besar kajian pendukungnya, iya.”

“Ada transaksi mencurigakan?”

“Sekitar seratus delapan puluh miliar rupiah dalam dua tahun.”

Surya yang duduk di ujung meja menatap Valerie.

“Kalau ini dibawa ke kreditur, fasilitas pinjaman mereka bisa ditinjau ulang.”

Valerie menutup map.

“Belum.”

Anissa tampak heran.

“Kita tunggu sampai buktinya lengkap.”

“Tapi jejaknya sudah cukup kuat.”

“Cukup kuat untuk menimbulkan kepanikan belum tentu cukup kuat untuk membuktikan kesalahan.”

Valerie menyandarkan punggung.

“Saya tidak mau menjadi perempuan marah yang menghancurkan perusahaan mantan suaminya.”

Ia memandang mereka satu per satu.

“Saya ingin menjadi pihak yang menunjukkan fakta yang selama ini mereka sembunyikan.”

Dua puluh empat jam setelah Valerie meninggalkan rumah itu, Rendy mulai kehilangan kesabarannya.

Rapat direksi yang seharusnya membahas peluncuran fase pertama Kota Hijau Nusantara berubah menjadi ruang interogasi.

“Kenapa tiga bank meminta review agunan bersamaan?” bentaknya.

Direktur keuangan, Bima, menelan ludah.

“Kemungkinan ada informasi yang beredar di pasar.”

“Informasi apa?”

“Kami belum tahu.”

Rendy memukul meja.

“Kalau tidak tahu, cari tahu!”

Di seberang meja, seorang komisaris independen membuka suara.

“Pak Rendy, mungkin sebaiknya kita menunda penarikan kredit tahap berikutnya.”

Rendy menatap tajam.

“Tidak mungkin.”

“Likuiditas kita tidak besar.”

“Itulah sebabnya kita harus menarik dana.”

“Dan kalau bank menolak?”

Ruangan hening.

Rendy tidak menjawab.

Sore itu, Hendra Sutanto datang ke kantor.

Ayah Selly itu tidak langsung duduk.

Wajahnya datar.

“Kamu bilang pembiayaan proyek ini aman.”

“Aman.”

“Lalu kenapa bank-bank mulai bertanya?”

“Pemeriksaan rutin.”

Hendra tertawa pendek.

“Jangan bicara kepada saya seperti saya baru masuk dunia bisnis kemarin.”

Rendy menarik napas.

“Pak Hendra, situasi ini sementara.”

Hendra berjalan ke jendela.

“Saya tidak menanamkan nama keluarga saya ke proyek yang bisa meledak kapan saja.”

“Tidak ada yang akan meledak.”

Hendra menoleh.

“Pastikan.”

Malam kedua, Valerie akhirnya pulang.

Bukan ke rumah mewah keluarganya.

Bukan pula ke hotel bintang lima.

Ia memilih apartemen lama milik ibunya di kawasan Menteng.

Apartemen dua kamar itu sudah lama kosong.

Perabotnya sederhana.

Di ruang tamu masih ada sofa berwarna krem dan sebuah piano tua.

Valerie duduk di lantai di depan lemari kecil.

Ia membuka foto yang dibawanya dari rumah Rendy.

Foto ibunya.

Enam tahun lalu, sebelum meninggal, ibunya pernah bertanya satu hal.

“Kamu yakin mau hidup dengan menyembunyikan siapa dirimu?”

Saat itu Valerie menjawab iya.

Ia lelah hidup sebagai putri keluarga Pratama.

Setiap pertemanan terasa penuh kepentingan.

Setiap lelaki yang mendekatinya membuatnya bertanya apakah mereka menyukai Valerie atau nama belakangnya.

Lalu ia bertemu Rendy.

Saat itu Rendy belum memiliki perusahaan besar.

Ia hanya pengusaha muda yang sedang membangun bisnis properti kecil.

Valerie memperkenalkan diri sebagai Valerie Suwandi, memakai nama keluarga ibunya.

Ia bekerja di sebuah yayasan pendidikan milik kenalan keluarga, bukan karena membutuhkan uang, melainkan karena ingin menjalani kehidupan biasa.

Rendy terlihat tulus.

Setidaknya pada awalnya.

Valerie bahkan pernah membantu mencarikan investor pertama untuk proyek Rendy melalui jaringan keluarga tanpa memberi tahu siapa dirinya.

Satu bantuan menjadi dua.

Dua menjadi sepuluh.

Sampai akhirnya Cipta Properti tumbuh.

Dan semakin besar perusahaan itu, semakin berubah pula Rendy.

Valerie menatap foto ibunya.

“Mama benar.”

Teleponnya bergetar.

Anissa.

“Nona, kami menemukan sesuatu.”

Valerie langsung berdiri.

“Apa?”

“Dana dari perusahaan vendor ketiga mengalir ke rekening sebuah perusahaan di Singapura.”

“Pemilik manfaatnya?”

“Sedang diverifikasi.”

Ada jeda.

“Tapi salah satu penerima transfer berikutnya memiliki hubungan langsung dengan Hendra Sutanto.”

Valerie terdiam.

“Hendra?”

“Iya.”

Sekarang semuanya berubah.

Perselingkuhan Rendy dengan Selly mungkin memang bagian dari sebuah transaksi.

Namun transaksi itu tampaknya jauh lebih besar daripada yang Valerie duga.

Pagi ketiga, harga saham Cipta Properti turun tujuh persen dalam satu jam pertama perdagangan.

Sebuah rumor beredar di kalangan investor institusi bahwa salah satu kreditur utama sedang melakukan pemeriksaan ulang kualitas agunan.

Rendy berdiri di ruang kerjanya sambil menatap layar monitor.

“Siapa yang membocorkan ini?”

Tidak ada yang menjawab.

Telepon terus berdering.

Investor.

Bank.

Jurnalis.

Mitra konstruksi.

Salah satu kontraktor meminta pembayaran lebih cepat.

Vendor lain menolak memperpanjang tempo.

Ketakutan mulai berubah menjadi tekanan nyata.

Lalu sekretaris Rendy masuk.

“Pak, Bank Dharma meminta pertemuan darurat siang ini.”

Rendy menutup mata.

“Apa lagi?”

“Mereka juga meminta Bapak membawa dokumen asli appraisal lahan.”

Bima, yang berdiri di ruangan itu, mendadak pucat.

Rendy melihatnya.

“Kenapa?”

Bima tidak menjawab.

“Bima.”

Direktur keuangan itu menunduk.

“Ada beberapa dokumen appraisal yang proses pembaruannya tidak sepenuhnya dilakukan sesuai prosedur.”

Darah Rendy serasa berhenti.

“Maksudmu apa?”

“Nilainya dinaikkan agar loan-to-value kita memenuhi syarat.”

Rendy melangkah mendekat.

“Kamu gila?”

“Bapak menyuruh kami mencari cara supaya pendanaan cair.”

“Aku tidak pernah menyuruh memalsukan dokumen!”

Bima menatapnya dengan wajah putus asa.

“Bapak bilang jangan kembali sebelum ada solusi.”

Rendy memegang kepala.

Untuk pertama kalinya, ia mulai merasa ada tanah yang bergeser di bawah kakinya.

Pada jam ke enam puluh delapan setelah Valerie diusir, Rendy menerima pesan dari Selly.

Aku di rumah Papa. Kita bicara nanti.

Ia langsung menelepon.

Tidak dijawab.

Rendy mencoba lagi.

Tetap tidak ada jawaban.

Ratna muncul dari lantai atas.

“Kenapa Selly membawa semua barangnya?”

Rendy menatap ibunya.

“Apa?”

“Dia pergi pagi-pagi.”

Rendy menekan nomor Hendra.

Kali ini panggilannya diterima.

“Pak Hendra, Selly kenapa?”

Suara Hendra dingin.

“Pertunangan bisnis kita selesai.”

Rendy terpaku.

“Apa maksud Bapak?”

“Saya tidak mengikat keluarga saya dengan perusahaan yang sedang menuju penyelidikan.”

“Penyelidikan apa?”

Hendra diam sebentar.

Lalu berkata, “Tanyakan kepada bankmu.”

Sambungan diputus.

Rendy melempar ponselnya ke sofa.

Ratna panik.

“Ini pasti gara-gara Valerie.”

Rendy menoleh.

“Apa?”

“Perempuan itu!”

Ratna menunjuk ke arah pintu.

“Sejak dia pergi, semuanya kacau.”

Rendy tertawa tanpa humor.

“Valerie bahkan tidak punya akses ke rekening perusahaan.”

“Lalu kenapa semuanya terjadi tepat setelah dia pergi?”

Kalimat itu membuat Rendy membeku.

Ia teringat malam hujan itu.

Cara Valerie membaca klausul perceraian.

Cara ia tidak mengambil perhiasan.

Kalimatnya kepada Ratna.

Hal-hal yang benar-benar menjadi milik saya tidak pernah ada di rumah ini.

Kemudian ada telepon tua yang dibawanya.

Rendy segera mengambil laptop.

Ia mengetik nama Valerie Suwandi.

Tidak banyak.

Profil lama yayasan.

Beberapa kegiatan sosial.

Tidak ada yang aneh.

Lalu sesuatu terlintas di pikirannya.

Ia mengetik nama lengkap ibu Valerie yang pernah dilihatnya di salah satu dokumen lama.

Marissa Suwandi Pratama.

Rendy menatap layar.

Tangannya mulai dingin.

Ia mengetik lagi.

Pratama Strategic Investment.

Muncul berbagai berita bisnis.

Kelompok investasi keluarga tertutup.

Kepemilikan di sektor perbankan, energi, logistik, infrastruktur, dan pembiayaan.

Kemudian sebuah foto lama muncul dari artikel hampir tujuh tahun lalu.

Foto acara pemegang saham.

Di barisan belakang, berdiri seorang perempuan muda mengenakan blazer hitam.

Valerie.

Judul fotonya sederhana.

Valerie Pratama, putri tunggal mendiang Adrian Pratama.

Rendy menjauh dari layar.

Ratna mendekat.

“Apa itu?”

Rendy tidak mampu menjawab.

Wajahnya memucat.

“Tidak mungkin.”

Ratna membaca nama itu.

“Pratama?”

Rendy berdiri mendadak.

Ia langsung mengambil kunci mobil.

“Rendy!”

Namun pria itu sudah keluar.

Kurang dari satu jam kemudian, ia berdiri di lobi Gedung Pratama Capital.

Petugas keamanan menghentikannya.

“Saya mau bertemu Valerie.”

“Apakah Bapak memiliki janji?”

“Saya suaminya.”

Petugas itu tetap tenang.

“Data kami menyatakan status tersebut sudah tidak berlaku.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada yang ia duga.

“Sampaikan kepada Valerie bahwa Rendy Cipta datang.”

Petugas berbicara melalui headset.

Beberapa menit kemudian, Rendy diperbolehkan naik.

Pintu lift terbuka di lantai tiga puluh dua.

Valerie sedang berdiri di ruang rapat bersama Surya, Anissa, dan beberapa orang yang tidak dikenalnya.

Ia mengenakan setelan abu-abu gelap.

Rambutnya terikat rapi.

Tidak ada jejak perempuan yang dua malam lalu berjalan kehujanan membawa satu tas kecil.

Rendy berhenti di ambang pintu.

“Valerie.”

Semua orang memandangnya.

Valerie mengangkat tangan.

“Berikan kami waktu lima menit.”

Ruangan perlahan kosong.

Rendy menatap mantan istrinya.

“Jadi ini semua kamu?”

Valerie tetap berdiri.

“Apa yang kamu maksud?”

“Bank. Investor. Audit. Saham turun.”

“Kamu pikir saya mengendalikan seluruh pasar?”

“Jangan bermain denganku!”

Suara Rendy meninggi.

“Kamu sengaja menghancurkan perusahaan saya.”

Valerie menatapnya tanpa berkedip.

“Perusahaanmu dihancurkan oleh dokumen palsu, transaksi afiliasi tersembunyi, dan struktur utang yang kamu sendiri setujui.”

Rendy terdiam.

Valerie melanjutkan.

“Tim saya hanya memeriksa.”

“Kamu tidak punya hak.”

“Saya punya.”

Ia mendorong satu dokumen ke meja.

“Pratama Strategic Investment adalah beneficial holder atas sebagian instrumen pembiayaan yang selama ini menopang beberapa fasilitas kredit Cipta Properti.”

Rendy membaca halaman itu.

Dunia terasa berputar.

“Jadi selama ini…”

“Sebagian modal yang membuat perusahaanmu berkembang berasal dari dana keluarga saya.”

Rendy mengangkat kepala.

“Kamu menjebakku.”

Valerie tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya.

“Menjebak?”

“Saya tidak pernah meminta kamu memalsukan appraisal.”

“Saya tidak pernah meminta kamu menggunakan perusahaan cangkang.”

“Saya tidak pernah meminta kamu tidur dengan Selly demi mendapat akses ke Hendra.”

Wajah Rendy memerah.

“Itu bukan seperti yang kamu pikir.”

“Tidak penting.”

Valerie menatapnya tajam.

“Pernikahan kita sudah selesai.”

Rendy menelan ludah.

“Kalau begitu hentikan auditnya.”

Valerie menggeleng.

“Tidak bisa.”

“Valerie.”

Nada suara Rendy berubah.

Kemarahan bergeser menjadi kecemasan.

“Kamu tahu berapa banyak pegawai yang bergantung pada perusahaan itu?”

“Saya tahu.”

“Kalau bank mencabut fasilitas, ribuan orang bisa terdampak.”

“Itulah sebabnya saya tidak pernah meminta bank mencabut apa pun.”

Rendy membeku.

Valerie menarik map lain.

“Saya justru sudah meminta tim menyusun opsi restrukturisasi.”

Rendy menatapnya tidak percaya.

“Kamu mau menyelamatkan perusahaan saya?”

“Bukan.”

Valerie duduk.

“Saya mau menyelamatkan perusahaan dari kamu.”

Ruangan hening.

Rendy kehilangan kata-kata.

“Dewan akan menerima hasil audit lengkap sore ini,” lanjut Valerie. “Kalau temuan awal terbukti, mereka harus memilih. Melakukan restrukturisasi kepemimpinan atau menghadapi risiko gagal bayar.”

“Kamu mau mengambil Cipta Properti?”

“Saya tidak tertarik.”

“Lalu apa yang kamu mau?”

Valerie menatapnya lama.

“Saya mau memastikan para pegawai tidak kehilangan pekerjaan hanya karena pemiliknya terlalu sibuk bermain raja.”

Rendy mengepalkan tangan.

“Kamu merasa menang?”

“Tidak.”

Valerie menjawab cepat.

“Enam tahun hidup dengan orang yang ternyata tidak pernah mengenal saya bukan kemenangan.”

Kalimat itu membuat Rendy terdiam.

Untuk sesaat, kesombongan di wajahnya runtuh.

“Aku pernah mencintaimu.”

Valerie memandangnya.

“Mungkin.”

“Dan kamu?”

Valerie tidak langsung menjawab.

“Dulu.”

Satu kata itu terasa lebih berat daripada teriakan.

Rendy menunduk.

Kemudian ia teringat sesuatu.

“Hendra.”

Valerie mengangkat alis.

“Apa?”

“Dia terlibat?”

Tatapan Valerie berubah.

Rendy melihatnya.

“Kamu menemukan sesuatu tentang Hendra, kan?”

Valerie diam beberapa detik.

Lalu berkata, “Pergilah.”

“Valerie.”

“Pergi, Rendy.”

Ia berdiri.

“Kali ini kamu yang punya sepuluh menit untuk memahami bahwa masalah terbesarmu bukan saya.”

Rendy menatapnya tajam.

“Maksudmu?”

Namun Valerie sudah memanggil sekretaris.

Sore itu, tepat tujuh puluh dua jam setelah Valerie melangkah keluar dari rumah Pondok Indah, Cipta Properti mengumumkan penundaan sementara proyek Kota Hijau Nusantara.

Dewan komisaris juga mengumumkan pembentukan komite investigasi independen.

Rendy dinonaktifkan sementara dari posisi direktur utama.

Berita itu menyebar luas.

Media menyebutnya krisis terbesar sepanjang sejarah perusahaan.

Ratna mengurung diri di rumah.

Selly tidak pernah kembali.

Sementara Hendra Sutanto mendadak terbang ke Singapura dengan alasan kesehatan.

Namun dua hari kemudian, kejutan terbesar muncul.

Bukan dari Cipta Properti.

Melainkan dari hasil investigasi lintas perusahaan.

Dana yang dialihkan melalui perusahaan konsultasi lingkungan ternyata bukan digunakan untuk memperkaya Rendy.

Sebagian besar aliran uang justru masuk ke jaringan perusahaan yang dikendalikan orang-orang dekat Hendra.

Rendy memang ceroboh.

Ia membiarkan struktur perusahaan disusupi.

Ia menyetujui laporan tanpa memeriksa.

Ia mengejar proyek dan koneksi hingga mengabaikan risiko.

Namun ia bukan dalang terbesar.

Ia hanyalah orang yang terlalu rakus untuk menyadari dirinya sedang digunakan.

Beberapa minggu kemudian, Rendy datang lagi menemui Valerie.

Kali ini bukan di gedung pencakar langit.

Mereka bertemu di sebuah kafe kecil di Jakarta Selatan.

Rendy tampak berbeda.

Tidak ada jas mahal.

Tidak ada jam tangan mewah.

Ia sudah resmi mengundurkan diri dari Cipta Properti.

Perusahaan berhasil direstrukturisasi dan tetap berjalan di bawah manajemen baru.

Sebagian aset proyek dijual.

Sebagian utang dijadwalkan ulang.

Rendy kehilangan kendali, tetapi ribuan pegawai tetap bekerja.

“Aku akan memberikan kesaksian tentang Hendra,” katanya.

Valerie mengaduk kopinya.

“Itu keputusanmu.”

“Aku juga akan mengembalikan bonus dan keuntungan yang berasal dari transaksi bermasalah.”

Valerie menatapnya.

“Kamu tidak perlu memberitahu saya.”

Rendy tersenyum pahit.

“Mungkin aku cuma ingin sekali saja melakukan sesuatu yang benar di depanmu.”

Valerie tidak membalas senyum itu.

Rendy menarik napas.

“Aku mau tanya satu hal.”

“Apa?”

“Kenapa selama enam tahun kamu tidak pernah memberitahu siapa kamu sebenarnya?”

Valerie terdiam.

Kemudian ia menjawab pelan.

“Karena saya ingin tahu apakah seseorang bisa mencintai saya tanpa mengetahui apa yang saya punya.”

Rendy menunduk.

“Dan ternyata aku gagal.”

Valerie memandang keluar jendela.

“Bukan saat kamu tidak tahu siapa keluarga saya.”

Rendy mengangkat kepala.

“Kamu gagal saat mulai mengukur nilai manusia dari uang dan nama belakang.”

Rendy tidak membantah.

Beberapa menit kemudian, ia berdiri.

Sebelum pergi, ia berkata, “Maaf untuk malam itu.”

Valerie menatapnya.

“Malam itu memang menyakitkan.”

Rendy berhenti.

“Tapi saya tetap bersyukur kamu membuka pintu.”

Rendy tampak bingung.

Valerie tersenyum tipis.

“Kalau kamu tidak mengusir saya, mungkin saya akan terus tinggal di tempat yang sudah lama bukan rumah.”

Rendy pergi tanpa berkata apa-apa lagi.

Valerie tetap duduk beberapa saat.

Ponselnya berbunyi.

Surya mengirim pesan.

Hasil rapat dewan Pratama Strategic Investment sudah selesai.

Mereka meminta Valerie kembali menjabat penuh sebagai komisaris utama.

Enam tahun lalu, ia meninggalkan posisi itu demi mencari kehidupan yang lebih sederhana.

Sekarang ia kembali dengan pemahaman yang berbeda.

Kekayaan tidak pernah menjadi masalah.

Kekuasaan juga tidak.

Yang berbahaya adalah ketika seseorang membiarkan keduanya menentukan harga diri manusia.

Valerie membalas pesan Surya dengan satu kalimat.

Saya terima.

Ia lalu membuka tas.

Di dalamnya masih tersimpan ponsel tua yang ia gunakan pada malam hujan itu.

Valerie memandang benda tersebut beberapa detik.

Satu panggilan memang telah mengubah semuanya.

Namun bukan karena panggilan itu memberinya kekuasaan.

Kekuasaan itu selalu ada.

Panggilan tersebut hanya mengingatkannya bahwa selama enam tahun, Valerie terlalu sibuk mengecilkan dirinya sendiri agar bisa diterima oleh seseorang yang justru semakin besar kepala.

Ia memasukkan kembali ponsel itu ke dalam tas.

Kemudian berjalan keluar dari kafe.

Langit Jakarta sore itu mendung, tetapi tidak hujan.

Di depan pintu, sebuah sedan hitam sudah menunggu.

Surya berdiri di samping mobil.

“Ke kantor pusat, Nona?”

Valerie tersenyum.

Kali ini jawabannya berbeda.

“Ya.”

Ia masuk ke dalam mobil.

Dan ketika kendaraan itu bergerak memasuki lalu lintas Jakarta, Valerie tidak lagi menoleh ke belakang.

Bukan karena ia telah menghancurkan kerajaan bisnis mantan suaminya.

Melainkan karena akhirnya ia berhenti membiarkan orang lain menentukan seberapa besar dirinya boleh berdiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang