Nama yang tercantum di kolom ayah biologis itu adalah Rian Pradipta.
Suami Maya sendiri.
Untuk beberapa detik, suara dari dalam rumah seolah menghilang. Tidak ada denting sendok, tidak ada suara televisi, tidak ada percakapan dari ruang makan.
Yang tersisa hanya napas Maya dan Doni yang sama-sama berat.
Maya membaca dokumen itu sekali lagi, memastikan matanya tidak sedang mempermainkannya.
Tanggal pemeriksaan dilakukan hampir lima bulan lalu.
Artinya, hubungan Rian dan Siska bukan sesuatu yang baru terjadi setelah kehamilan mulai terlihat.
Mereka sudah menjalani kebohongan itu sejak lama.
Doni menunduk.
“Aku menemukannya dua hari lalu,” katanya lirih. “Awalnya aku cuma mau cari invoice rumah sakit di email Siska. Aku nggak sengaja lihat file ini di folder arsip.”
Maya mengangkat pandangannya.
“Kamu sudah tanya dia?”
Doni menggeleng.
“Aku takut kalau aku bicara sekarang, mereka hapus semua bukti.”
Kalimat itu membuat Maya menatapnya lebih lama.
Di balik wajah lelah pria itu, ia melihat sesuatu yang sangat ia kenal.
Rasa dikhianati.
Rasa malu.
Rasa bodoh karena terlalu percaya.
Ternyata malam itu, bukan hanya satu pernikahan yang sedang runtuh.
Dua rumah tangga telah dihancurkan oleh dua orang yang sama.
“Doni,” kata Maya pelan, “kalau kita bergerak, kita harus bergerak dengan benar.”
Doni menatapnya.
“Bukan pakai emosi.”
Maya melipat kembali hasil tes DNA itu.
“Kita pakai bukti.”
Malam itu menjadi awal dari sesuatu yang tidak pernah dibayangkan siapa pun dalam keluarga mereka.
Maya menghubungi seorang pengacara korporasi bernama Ratih Mahendra, teman kuliahnya yang kini menangani kasus penipuan keuangan dan pemalsuan dokumen.
Mereka bertemu pagi berikutnya di sebuah kafe kecil di kawasan Senopati.
Ratih membaca seluruh dokumen yang Maya bawa tanpa banyak bicara.
Mutasi rekening.
Salinan pinjaman komersial.
Tanda tangan palsu.
Dokumen perusahaan PT Bina Verde Nusantara.
Bukti transfer.
Dan terakhir, hasil tes DNA prenatal.
Setelah hampir empat puluh menit, Ratih menutup laptop.
“Ini bukan sekadar perselingkuhan.”
“Aku tahu.”
“Kalau semua ini benar, Rian dan Siska bisa berhadapan dengan beberapa masalah hukum sekaligus. Dugaan pemalsuan tanda tangan, penyalahgunaan identitas, kemungkinan penipuan dalam pengajuan fasilitas kredit, dan aliran dana yang harus ditelusuri.”
Maya duduk tegak.
“Aku ingin semuanya diproses sesuai hukum.”
Ratih memandangnya hati-hati.
“Kamu yakin?”
Maya tidak langsung menjawab.
Ia menatap jendela.
Di luar, Jakarta bergerak seperti biasa. Motor menyelip di antara mobil, pegawai kantoran berjalan tergesa, orang-orang membeli kopi sebelum memulai hari.
Dunia tetap berjalan meskipun hidup seseorang sedang runtuh.
“Aku bertahun-tahun menyelesaikan masalah mereka,” kata Maya akhirnya. “Mungkin itu kesalahanku. Aku membuat mereka percaya bahwa apa pun yang mereka lakukan, aku akan tetap datang dan membereskan semuanya.”
Ratih tidak menyela.
“Kali ini tidak.”
Hari-hari berikutnya berjalan dalam diam yang menegangkan.
Maya tetap pergi bekerja.
Tetap menghadiri rapat.
Tetap pulang ke rumah.
Dan Rian tetap bersikap seperti suami biasa.
Bahkan suatu malam, pria itu membawakannya teh hangat.
“Kamu kelihatan capek akhir-akhir ini.”
Maya menerima cangkir itu.
“Banyak audit.”
Rian tersenyum.
“Kamu memang nggak pernah bisa santai.”
Maya hanya membalas dengan senyum tipis.
Dalam hati, ia bertanya-tanya bagaimana seseorang bisa berbohong sedekat itu.
Duduk satu meja.
Tidur satu rumah.
Menyentuh tangan pasangannya.
Sambil diam-diam merencanakan kehancurannya.
Namun Maya tahu, waktunya hampir tiba.
Ratih berhasil menemukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada dugaan awal mereka.
PT Bina Verde Nusantara ternyata tidak memiliki aktivitas bisnis yang jelas.
Tidak ada kantor operasional yang layak.
Tidak ada karyawan tetap dalam jumlah signifikan.
Tidak ada transaksi bisnis yang konsisten.
Tetapi selama satu tahun terakhir, perusahaan itu menerima dana hampir Rp4,8 miliar dari berbagai rekening.
Sebagian berasal dari rekening bersama Maya dan Rian.
Sebagian dari pinjaman yang menggunakan nama Maya.
Dan sebagian lagi berasal dari satu rekening yang mengejutkan.
Rekening milik Ibu Lina.
Maya membaca laporan itu dengan dahi berkerut.
“Ibu?”
Ratih mengangguk.
“Transfernya rutin.”
“Berapa?”
“Sekitar Rp760 juta total.”
Maya terdiam.
Ia langsung teringat berbagai percakapan selama dua tahun terakhir.
Ibunya berkali-kali mengeluh tidak punya uang.
Mengaku biaya hidup semakin berat.
Meminta Maya membayar renovasi rumah.
Meminta Maya menanggung cicilan kendaraan.
Meminta Maya membantu Siska.
Ternyata sebagian uang yang diterima Ibu Lina justru kembali masuk ke perusahaan milik Siska.
“Ada kemungkinan ibumu tahu,” kata Ratih.
Maya tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, dadanya terasa benar-benar sesak.
Perselingkuhan Rian menyakitkan.
Pengkhianatan Siska menghancurkan.
Tetapi kemungkinan bahwa ibunya sendiri mengetahui semua itu terasa seperti luka yang berbeda.

Luka yang lebih tua.
Lebih dalam.
Dan lebih sulit diterima.
Jawabannya datang dua malam kemudian.
Doni menghubungi Maya.
“Aku dapat sesuatu.”
Mereka bertemu di parkiran sebuah minimarket yang sepi.
Doni menyerahkan ponselnya.
Di layar terdapat rekaman percakapan suara dari aplikasi pesan.
Suara Siska terdengar jelas.
“Kalau Maya tahu bayi ini anak Rian sebelum urusan pinjaman selesai, semuanya hancur.”
Kemudian terdengar suara Ibu Lina.
“Makanya Ibu bilang jangan gegabah. Kakakmu itu kalau soal angka memang pintar. Tapi kelemahannya cuma satu.”
Siska tertawa kecil.
“Apa?”
“Keluarga.”
Maya merasa ujung jarinya dingin.
Rekaman terus berjalan.
“Selama Ibu bilang kamu butuh bantuan, Maya pasti kasih. Apartemen itu juga nanti harus kita dapatkan sebelum dia sadar.”
Siska terdengar ragu.
“Kalau dia tetap nggak mau?”
Suara Ibu Lina berubah datar.
“Tekan saja pakai ayahmu. Maya paling nggak tahan kalau dibilang anak durhaka.”
Doni mematikan rekaman.
Maya tidak bergerak.
Kini semuanya jelas.
Bukan hanya Rian.
Bukan hanya Siska.
Ibunya juga terlibat.
Mereka bukan sekadar memanfaatkan kebaikannya.
Mereka mempelajarinya.
Mencari titik lemahnya.
Lalu menggunakannya seperti strategi.
“Aku minta maaf,” kata Doni.
Maya menatapnya.
“Kamu tidak melakukan ini.”
“Bukan. Tapi selama ini aku juga sering ikut diam waktu keluargamu menekan kamu. Aku pikir itu urusan kakak-adik.”
Maya tersenyum getir.
“Semua orang selalu berpikir begitu.”
Seminggu kemudian, Ibu Lina mengadakan acara kecil di rumah untuk menyambut kepulangan Siska dan bayinya.
Hampir seluruh keluarga besar datang.
Ruang tamu dipenuhi bunga, makanan, dan ucapan selamat.
Siska duduk di sofa sambil menggendong bayi.
Rian berdiri tidak jauh darinya.
Doni berada di sisi lain ruangan.
Wajahnya tenang, meski Maya tahu apa yang sedang ia tahan.
Maya datang paling akhir.
Ia mengenakan setelan kerja sederhana dan membawa sebuah map hitam.
Ibu Lina langsung menghampirinya.
“Kamu telat.”
“Ada urusan.”
Ibunya melirik map yang dibawa Maya.
“Itu apa?”
“Hadiah keluarga.”
Ibu Lina tersenyum puas.
Mungkin ia mengira Maya akhirnya menyerah soal apartemen.
Beberapa menit kemudian, setelah semua orang duduk, Ibu Lina mulai berbicara keras-keras.
“Mumpung keluarga lengkap, Ibu mau sekalian bahas sesuatu.”
Maya menatapnya.
Ibu Lina melanjutkan.
“Maya sudah setuju bantu Siska soal tempat tinggal.”
Beberapa kepala langsung menoleh ke arah Maya.
Siska tersenyum kecil.
Rian terlihat lega.
Pak Bambang mengangguk seolah semuanya sudah diputuskan.
Maya berdiri.
“Saya memang datang untuk membahas aset.”
Rian tersenyum.
“Maya, nggak perlu formal begitu.”
Maya membuka map hitam.
“Tapi bukan apartemen.”
Ia mengeluarkan beberapa lembar dokumen.
“Saya mau membahas Rp3,012 miliar yang hilang dari rekening bersama saya.”
Ruangan mendadak sunyi.
Senyum Rian lenyap.
Maya mengeluarkan dokumen berikutnya.
“Lalu pinjaman Rp1,4 miliar atas nama saya, dengan tanda tangan yang bukan milik saya.”
Wajah Siska memucat.
Ibu Lina berdiri.
“Maya, jangan bikin keributan di depan keluarga.”
Maya menatap ibunya.
“Saya belum selesai.”
Ia mengangkat dokumen perusahaan.
“PT Bina Verde Nusantara. Pemilik: Siska Prasetya.”
Beberapa kerabat mulai saling berbisik.
Siska menggenggam bayinya lebih erat.
“Kak, aku bisa jelaskan.”
“Bagus.”
Maya mengangguk.
“Jelaskan juga kenapa rekening perusahaanmu menerima uang dari pinjaman ilegal atas nama saya.”
Rian maju satu langkah.
“Maya, kita pulang dulu. Kita omongin di rumah.”
Maya menoleh.
“Rumah?”
Nada suaranya tetap tenang.
“Rumah tempat kamu setiap malam tidur di samping saya setelah menghamili adik saya?”
Seisi ruangan seperti membeku.
Siska spontan berdiri.
Ibu Lina memegang dadanya.
Pak Bambang menatap Rian dengan wajah tak percaya.
Rian sendiri kehilangan warna di wajahnya.
“Kamu ngomong apa?”
Maya mengeluarkan lembar terakhir.
“Hasil tes DNA prenatal.”
Doni berdiri dari tempatnya.
Kali ini, ia yang berbicara.
“Dan dokumen itu saya yang menemukan.”
Siska langsung menatap suaminya.
“Mas…”
Doni menatapnya tanpa ekspresi.
“Jangan panggil aku begitu.”
Bayi di pelukan Siska mulai menangis.
Tangisannya memenuhi ruang tamu.
Suara kecil itu justru membuat semua orang semakin diam.
Ibu Lina tiba-tiba menunjuk Maya.
“Kamu tega sekali! Siska baru melahirkan!”
Maya menatap ibunya.
“Aneh.”
“Apa?”
“Waktu saya yang dikhianati, Ibu tidak pernah bilang mereka tega.”
Ibu Lina membeku.
Maya mengeluarkan ponsel.
Lalu memutar rekaman suara.
Suara Ibu Lina sendiri terdengar memenuhi ruangan.
“Kelemahannya cuma satu. Keluarga.”
Tidak ada yang bergerak.
Bahkan Pak Bambang perlahan menoleh ke arah istrinya.
“Kamu tahu?”
Ibu Lina tidak menjawab.
“Kamu tahu?” bentak Pak Bambang.
“Bambang, dengarkan dulu…”
“Sejak kapan?”
Ibu Lina mulai menangis.
Namun kali ini, tidak ada seorang pun yang langsung membelanya.
Siska ikut menangis.
Rian mencoba mengambil kendali.
“Oke, semua orang tenang. Ini cuma masalah keluarga. Nggak perlu dibawa ke luar.”
Maya menatapnya.
“Itulah kesalahan terbesar kalian.”
Rian mengerutkan kening.
“Apa?”
“Kalian pikir semuanya masih bisa diselesaikan sebagai masalah keluarga.”
Pintu depan tiba-tiba berbunyi.
Seorang pria dan seorang perempuan masuk bersama Ratih.
Mereka memperkenalkan diri sebagai kuasa hukum dan penyidik yang datang berkaitan dengan laporan dugaan pemalsuan dokumen serta penyalahgunaan identitas dalam fasilitas kredit.
Wajah Rian langsung berubah.
“Kamu lapor polisi?”
Maya tidak menjawab.
Ratih yang menjawab.
“Laporan sudah dibuat tiga hari lalu.”
Siska terisak.
“Kak, kamu mau hancurin hidup aku?”
Maya menatap adiknya lama.
Lalu matanya turun pada bayi yang masih menangis dalam pelukannya.
“Tidak.”
Suaranya sangat pelan.
“Kalian yang menghancurkannya sendiri.”
Proses hukum yang berjalan setelah malam itu tidak cepat.
Namun bukti-buktinya terlalu jelas untuk diabaikan.
Pihak bank melakukan investigasi internal dan menyatakan terdapat indikasi kuat penggunaan dokumen yang tidak sah dalam pengajuan pinjaman.
Tanda tangan Maya diperiksa oleh ahli forensik dokumen.
Hasilnya menunjukkan ketidaksesuaian.
Sebagian besar aset dan rekening terkait PT Bina Verde Nusantara dibekukan selama proses pemeriksaan.
Rian akhirnya mengakui bahwa ia menggunakan akses terhadap dokumen pribadi Maya untuk melengkapi pengajuan kredit.
Ia mengaku awalnya hanya ingin mendapat modal bisnis.
Namun dari satu kebohongan, muncul kebohongan berikutnya.
Bisnis gagal.
Utang bertambah.
Hubungannya dengan Siska semakin jauh.
Dan ketika Siska hamil, mereka mulai merencanakan untuk mengambil lebih banyak aset sebelum pergi meninggalkan pasangan masing-masing.
Yang paling mengejutkan justru datang dari Ibu Lina.
Ia mengakui telah mengetahui hubungan Rian dan Siska sejak hampir setahun sebelumnya.
Bukan karena ia menyetujui perselingkuhan itu.
Setidaknya begitu katanya.
Ia hanya takut Siska akan kehilangan Rian jika hubungan itu terbongkar.
Dan seperti biasa, ketika harus memilih antara kedua anaknya, ia memilih Siska.
Pak Bambang meninggalkan rumah selama beberapa bulan setelah mengetahui semuanya.
Ia sendiri akhirnya meminta maaf kepada Maya.
“Ayah terlalu sering menganggap kamu kuat, jadi Ayah pikir kamu nggak akan sakit.”
Maya menatapnya.
“Orang kuat juga bisa sakit, Yah.”
Pak Bambang menunduk.
“Ayah tahu sekarang.”
Maya menggugat cerai Rian.
Doni juga mengajukan perceraian dari Siska.
Namun satu keputusan Doni membuat banyak orang terkejut.
Ia tetap memastikan bayi itu mendapat perawatan medis yang layak selama proses hukum berjalan.
Ketika Maya bertanya mengapa, Doni hanya menjawab sederhana.
“Bayi itu tidak memilih lahir dari kebohongan siapa.”
Kalimat itu tinggal lama dalam pikiran Maya.
Beberapa bulan kemudian, hidupnya perlahan kembali tenang.
Ia pindah dari rumah yang pernah ditempatinya bersama Rian dan tinggal sementara di apartemennya di Jakarta Selatan.
Apartemen yang dulu ingin direbut keluarganya.
Pada suatu sore, saat Maya sedang membereskan dokumen lama, Ratih menelepon.
“Ada kabar soal PT Bina Verde.”
“Apa?”
“Ternyata perusahaan itu bukan dibuat pertama kali oleh Siska.”
Maya berhenti bergerak.
“Maksudmu?”
“Akta pendirian awalnya dibuat tiga tahun lalu. Pemegang saham pertamanya bukan Siska.”
Maya mengerutkan kening.
“Siapa?”
Ratih diam beberapa detik.
“Rian dan ibumu.”
Maya tidak berkata apa-apa.
Ratih melanjutkan.
“Siska baru dimasukkan sebagai pemilik mayoritas delapan bulan lalu. Kemungkinan besar untuk menjauhkan nama Rian dari aliran dana kalau suatu hari ada pemeriksaan.”
Maya perlahan duduk.
Selama ini ia mengira ibunya hanya tahu soal perselingkuhan.
Ternyata Ibu Lina sudah terlibat dalam urusan keuangan jauh sebelum bayi Siska dikandung.
Maya teringat satu hal.
Tiga tahun lalu, ibunya pernah meminjam uang Rp300 juta dengan alasan ingin membuka usaha kecil bersama seorang teman.
Maya memberikannya tanpa bertanya banyak.
Uang itulah, setelah ditelusuri Ratih, yang ternyata menjadi setoran modal awal PT Bina Verde Nusantara.
Maya tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Melainkan karena akhirnya ia memahami semuanya.
Pengkhianatan itu tidak dimulai di rumah sakit.
Tidak dimulai dari hubungan Rian dan Siska.
Bahkan tidak dimulai dari kehamilan.
Pengkhianatan itu dimulai jauh sebelumnya, setiap kali Maya mengatakan iya saat sebenarnya ingin berkata tidak.
Setiap kali ia menyerahkan uang demi menghindari konflik.
Setiap kali keluarganya membuatnya merasa bersalah karena memiliki lebih banyak.
Dan setiap kali ia mengira cinta harus dibuktikan dengan mengorbankan diri sendiri.
Maya berdiri lalu berjalan menuju balkon.
Jakarta Selatan terlihat keemasan menjelang matahari terbenam.
Ponselnya kembali bergetar.
Pesan dari Ibu Lina.
“Maya, Ibu ingin ketemu. Ibu benar-benar menyesal. Kita tetap keluarga.”
Maya membaca pesan itu cukup lama.
Dulu, kalimat terakhir itu pasti akan membuatnya luluh.
Namun sekarang tidak.
Ia mengetik balasan singkat.
“Keluarga tidak seharusnya menjadi alasan untuk mencuri hak seseorang.”
Maya berhenti sejenak.
Lalu menambahkan satu kalimat lagi.
“Kalau suatu hari kita bertemu lagi, saya ingin kita bertemu sebagai orang yang sama-sama belajar bertanggung jawab atas pilihan masing-masing.”
Ia mengirim pesan itu.
Kemudian mematikan layar ponselnya.
Dari kejauhan terdengar suara bayi menangis dari apartemen sebelah.
Maya tersenyum tipis.
Tangisan yang dulu menjadi awal terbongkarnya kehancuran dalam hidupnya kini terdengar berbeda.
Bukan seperti pertanda buruk.
Melainkan seperti pengingat bahwa sesuatu yang baru selalu bisa lahir setelah sesuatu yang lama runtuh.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Maya tidak merasa perlu menyelamatkan siapa pun.
Kecuali dirinya sendiri.
