SELAMA 11 TAHUN, SUAMIKU BERSUMPAH KELUARGANYA TIDAK PERNAH MAU MENGUNDANG KAMI…

Pesawat mendarat di Bandara I Gusti Ngurah Rai hampir pukul sebelas malam ketika Ratna akhirnya menyadari bahwa kedua tangannya tidak berhenti gemetar sejak meninggalkan Jakarta.

Bukan karena takut bertemu Hendra.

Yang paling menakutkan justru kemungkinan bahwa semua yang dipercayainya selama sebelas tahun hanyalah sebagian kecil dari kebohongan suaminya.

Di pintu kedatangan, Ibu Kartika sudah menunggu.

Perempuan berusia enam puluh delapan tahun itu berdiri bersama Pak Surya, ayah Hendra. Begitu melihat Kirana dan Diko, wajah keduanya langsung berubah.

Ibu Kartika menutup mulut dengan kedua tangan.

“Kirana…”

Kirana berhenti beberapa langkah di depan neneknya.

Selama ini ia mengenal perempuan itu hanya melalui foto, panggilan video singkat saat Lebaran, dan hadiah ulang tahun yang selalu dikatakan Hendra berasal dari dirinya sendiri.

Ibu Kartika maju perlahan.

“Nenek boleh memelukmu?”

Pertanyaan sederhana itu membuat pertahanan Kirana runtuh.

Ia mengangguk.

Ibu Kartika langsung memeluk cucunya sambil menangis. Beberapa detik kemudian Diko ikut masuk ke pelukan itu, meski awalnya berdiri kaku.

Ratna memalingkan wajah.

Sebelas tahun telah dicuri dari mereka.

Dan tidak ada seorang pun yang bisa mengembalikannya.

Mereka tidak pergi ke hotel tempat acara keluarga berlangsung. Pak Surya membawa Ratna dan anak-anak ke vila keluarga di Sanur.

Setelah Kirana dan Diko masuk kamar, Ibu Kartika meletakkan sebuah kotak kayu di atas meja makan.

“Ini yang Ibu maksud.”

Ratna membukanya.

Di dalamnya ada puluhan amplop.

Beberapa bertuliskan nama Kirana. Beberapa nama Diko. Ada kartu ulang tahun, undangan pernikahan, undangan Lebaran, bahkan tiket pesawat lama.

Ratna mengambil salah satunya.

Untuk Kirana, ulang tahun ke-7. Nenek menunggu di Bali.

Tangannya bergetar.

“Kenapa semuanya ada di sini?”

“Hendra selalu bilang jangan dikirim langsung,” jawab Pak Surya. “Katanya kamu akan membuangnya.”

Ratna merasa mual.

Lalu Ibu Kartika mengeluarkan sebuah map cokelat.

“Tapi bukan ini rahasia terbesarnya.”

Ia mendorong map itu ke arah Ratna.

Di dalamnya terdapat salinan dokumen perusahaan, mutasi rekening lama, dan sebuah perjanjian yang ditandatangani Hendra serta Maya.

Ratna membaca halaman pertama.

Kemudian halaman kedua.

Wajahnya kehilangan warna.

Sebelas tahun sebelumnya, beberapa bulan setelah Ratna melahirkan Kirana, Hendra ternyata tidak pernah benar-benar memutus hubungan keuangan dengan Maya.

Mereka masih memiliki sebuah perusahaan investasi kecil bersama.

Itu sendiri sebenarnya tidak cukup mengejutkan.

Yang membuat Ratna membeku adalah isi perjanjiannya.

Hendra secara diam-diam telah menggunakan sebagian aset keluarga yang dibangun bersama Ratna sebagai jaminan untuk menyelamatkan perusahaan Maya dari kebangkrutan.

“Apa ini?”

Suara Ratna hampir tidak terdengar.

Pak Surya menunduk.

“Kesalahan terbesar kami adalah diam.”

Ratna menatap mertuanya.

“Diam tentang apa?”

Ibu Kartika menarik napas.

“Sebelas tahun lalu, bisnis Maya hampir bangkrut. Hendra membantu karena katanya dia merasa bertanggung jawab kepada Sinta. Ayah dan Ibu tidak setuju karena sebagian uang yang digunakan berasal dari usaha yang kamu bangun bersama Hendra.”

Ratna teringat tahun-tahun awal pernikahan mereka.

Ia pernah menjual apartemen kecil warisan ayahnya untuk membantu Hendra membuka perusahaan distribusi di Jakarta.

Hendra mengatakan uang itu menjadi modal keluarga.

“Berapa banyak?”

Pak Surya menyebut angkanya.

Ratna menutup mata.

Hampir seluruh nilai apartemen itu.

“Kenapa saya tidak pernah tahu?”

“Karena Hendra memohon agar kami merahasiakannya. Dia bilang semuanya akan dikembalikan dalam dua tahun.”

“Tapi kenapa harus memisahkan saya dari keluarga selama sebelas tahun?”

Ibu Kartika menangis lagi.

“Karena Maya tahu.”

Ratna mengangkat kepala.

“Hendra takut kalau kamu terlalu dekat dengan kami, suatu hari pembicaraan tentang bisnis itu akan keluar. Dia juga takut kamu dan Maya berbicara langsung.”

Semuanya tiba-tiba masuk akal.

Bukan karena Maya membencinya.

Bukan karena keluarga menolaknya.

Hendra membutuhkan dua dunia yang tidak pernah saling bertemu.

Selama mereka terpisah, ia bisa menceritakan versi berbeda kepada masing-masing pihak.

Kepada Ratna, keluarga membenci dirinya.

Kepada keluarga, Ratna membenci Maya.

Kepada Maya, mungkin ada cerita lain lagi.

Ponsel Ratna bergetar.

Hendra.

Ia tidak mengangkatnya.

Pesan masuk beberapa detik kemudian.

“Kamu di mana? Kirana dan Diko juga tidak di rumah.”

Ratna hanya membaca.

Kemudian mematikan layar.

Pagi berikutnya, keluarga besar Hendra berkumpul untuk sarapan di sebuah restoran tepi pantai.

Tidak seorang pun selain Ibu Kartika dan Pak Surya mengetahui Ratna sudah berada di Bali.

Hendra sedang tertawa bersama beberapa sepupunya ketika suasana mendadak senyap.

Ia mengikuti arah pandangan mereka.

Ratna berdiri di pintu masuk.

Di sebelahnya ada Kirana.

Diko berdiri di sisi lain.

Wajah Hendra seketika pucat.

“Ratna?”

Tidak ada yang menjawab.

Beberapa anggota keluarga justru berdiri dengan wajah terkejut sekaligus bahagia.

“Bukankah itu Kirana?”

“Ya Tuhan, Diko sudah sebesar itu?”

Seorang bibi bahkan langsung menangis.

Hendra berjalan cepat menghampiri istrinya.

“Kamu ngapain di sini?”

Ratna menatapnya tenang.

“Datang ke acara keluarga.”

“Siapa yang mengundangmu?”

Pertanyaan itu membuat beberapa orang saling memandang.

Ibu Kartika bangkit dari kursinya.

“Ibu.”

Hendra menoleh tajam.

“Ibu kenapa ikut campur?”

Untuk pertama kalinya, Ratna melihat wajah suaminya bukan sebagai seorang pria yang terjebak keadaan.

Ia melihat seorang pria yang kehilangan kendali atas cerita yang selama ini ia bangun.

Kemudian terdengar suara perempuan dari belakang.

“Ratna?”

Maya berdiri beberapa meter dari mereka.

Ratna menatap perempuan yang selama sebelas tahun digambarkan Hendra sebagai alasan utama ia tidak boleh berada di sana.

Maya justru tampak kebingungan.

“Aku kira kamu tidak pernah mau bertemu denganku.”

Ratna tersenyum pahit.

“Aku diberi tahu hal yang sama tentangmu.”

Maya perlahan menoleh kepada Hendra.

Keheningan menyebar di seluruh meja.

“Hendra bilang kamu melarang Kirana dan Diko dekat dengan Sinta,” kata Ratna.

Maya mengernyit.

“Apa?”

Sinta yang berdiri di samping ibunya ikut terdiam.

Ratna melanjutkan.

“Katanya kamu akan merasa terganggu kalau kami datang.”

Maya tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Karena tidak percaya.

“Hendra mengatakan kepadaku bahwa kamu tidak mau anak-anakmu mengenal Sinta karena kamu menganggap dia bagian dari masa lalu.”

Sinta langsung menatap ayahnya.

“Ayah bilang begitu?”

Hendra mulai panik.

“Kalian jangan membesar-besarkan sesuatu yang sebenarnya sederhana.”

“Sederhana?”

Suara Kirana memotongnya.

Semua orang menoleh.

Gadis itu membuka tasnya dan mengeluarkan sekop plastik kuning.

Ia meletakkannya di atas meja.

“Ayah ingat ini?”

Hendra terdiam.

“Ayah kasih ini waktu aku empat tahun.”

Mata Kirana mulai berkaca-kaca.

“Ayah bilang aku akan bikin istana pasir sama sepupu-sepupuku.”

Hendra mencoba mendekat.

“Kirana, dengarkan Ayah dulu.”

Kirana mundur.

“Sebelas tahun aku menunggu keadaan menjadi lebih baik.”

Ia menatap seluruh keluarga yang selama ini hanya dikenalnya dari kejauhan.

“Ternyata tidak ada keadaan yang harus menjadi lebih baik. Ayah cuma tidak mau kami datang.”

Diko yang sejak tadi diam akhirnya bicara.

“Kenapa?”

Satu kata itu terdengar jauh lebih berat daripada teriakan.

“Kenapa Ayah bikin kami percaya keluarga sendiri tidak suka sama kami?”

Hendra tidak menjawab.

Ratna mengeluarkan map cokelat dari tasnya.

Wajah Hendra berubah ketika melihatnya.

“Kamu dapat itu dari mana?”

“Jadi ini benar?”

“Ratna, kita bicara berdua.”

“Tidak.”

Ratna meletakkan map itu di meja.

“Sebelas tahun kamu memastikan semua orang tidak pernah bicara langsung. Hari ini semuanya akan dibicarakan di sini.”

Hendra menatap ibunya dengan marah.

“Ibu memberikan dokumen itu?”

Pak Surya berdiri.

“Jangan salahkan ibumu. Seharusnya Ayah yang membukanya sejak dulu.”

Hendra mengepalkan tangan.

“Aku melakukan semuanya untuk Sinta!”

Maya langsung menyela.

“Jangan bawa nama anakku.”

Wajah Hendra membeku.

Maya mengambil beberapa dokumen dan membacanya.

Kemudian ia menggeleng.

“Aku tahu kamu membantu perusahaan waktu itu. Tapi kamu bilang uang itu milikmu.”

Ratna menatapnya.

Maya tampak benar-benar terkejut.

“Aku tidak pernah tahu itu berasal dari aset Ratna.”

Hendra kehilangan satu-satunya perlindungan yang tersisa.

Ia mulai bicara cepat.

“Aku akan mengembalikannya. Bisnis waktu itu sedang kacau. Aku cuma ingin memastikan Sinta tetap punya masa depan.”

Ratna menatap suaminya lama.

“Membantu Sinta bukan kesalahanmu.”

Hendra terdiam.

“Berbohong kepadaku adalah kesalahanmu. Mengambil uang tanpa persetujuanku adalah kesalahanmu. Membuat tiga anak tumbuh terpisah supaya kebohonganmu tidak terbongkar adalah pilihanmu.”

Sinta tiba-tiba menangis.

“Ayah membuat aku berpikir Kirana dan Diko membenciku.”

Kirana memandang kakak tirinya.

Untuk beberapa saat keduanya hanya berdiri saling menatap.

Kemudian Sinta berkata pelan, “Aku selalu ingin punya adik.”

Kirana menggigit bibir menahan tangis.

“Aku juga selalu ingin punya kakak.”

Kalimat itu menghancurkan sesuatu yang tersisa di ruangan tersebut.

Maya memeluk Sinta.

Ibu Kartika memeluk Diko.

Dan Hendra berdiri sendirian di tengah keluarganya sendiri.

Ratna tidak membuat keputusan besar hari itu.

Ia tidak berteriak meminta cerai di depan semua orang.

Ia tidak menampar Hendra.

Ia hanya meminta akses penuh terhadap seluruh dokumen keuangan keluarga dan mengatakan bahwa sepulang dari Bali, mereka akan menyelesaikan semuanya melalui pengacara serta konselor keluarga.

“Kalau masih ada satu kebohongan lagi,” katanya, “kamu tidak akan mendapat kesempatan untuk menjelaskannya.”

Hendra akhirnya menunduk.

Untuk pertama kalinya, ia tidak memiliki cerita lain untuk menyelamatkan dirinya.

Sore harinya, Kirana berjalan menuju pantai bersama Diko dan Sinta.

Ratna memperhatikan dari kejauhan.

Kirana membawa sekop kuning itu.

Ia berjongkok di pasir dan mulai menggali.

Sinta membantu membuat dinding kecil.

Diko mengambil air laut dengan ember pinjaman dari restoran.

Sebelas tahun terlambat, istana pasir itu akhirnya dibangun.

Namun kejutan terakhir datang sebelum mereka pulang ke Jakarta.

Maya menemui Ratna sendirian.

Ia menyerahkan sebuah amplop.

“Apa ini?”

“Bukti transfer.”

Ratna membukanya.

Beberapa tahun setelah bisnis Maya pulih, ternyata seluruh uang yang dipinjam Hendra sudah dikembalikan.

Bahkan lengkap dengan keuntungan.

Jumlahnya jauh lebih besar daripada yang pernah diambil.

Ratna menatap Maya tidak percaya.

“Kalau uangnya sudah dikembalikan, kenapa Hendra tetap memisahkan kami?”

Maya menggeleng.

“Itulah yang juga tidak kumengerti.”

Ratna melihat tanggal transfer terakhir.

Delapan tahun lalu.

Artinya selama delapan tahun terakhir, Hendra sebenarnya tidak lagi memiliki alasan keuangan untuk mempertahankan kebohongan itu.

Kemudian Pak Surya memeriksa rekening tujuan transfer tersebut.

Rekening itu bukan rekening perusahaan keluarga.

Bukan pula rekening bersama Ratna dan Hendra.

Itu rekening investasi pribadi atas nama Hendra.

Ratna akhirnya memahami semuanya.

Pada awalnya Hendra berbohong untuk menutupi uang yang ia ambil.

Tetapi ketika uang itu kembali, kebohongan tersebut berubah fungsi.

Ia mempertahankan permusuhan palsu agar tidak seorang pun mengetahui bahwa uang keluarga telah berubah menjadi kekayaan pribadinya.

Hendra bukan sekadar takut kehilangan rumah tangga.

Ia takut kehilangan uang.

Beberapa bulan kemudian, proses hukum mengenai aset mereka berjalan.

Ratna memilih berpisah.

Namun ada sesuatu yang tidak ia izinkan ikut hancur bersama pernikahannya.

Hubungan ketiga anak itu.

Kirana mulai sering berbicara dengan Sinta. Diko menemukan bahwa sepupu-sepupunya ternyata sudah bertahun-tahun bertanya mengapa ia tidak pernah datang. Ibu Kartika datang ke Jakarta hampir setiap bulan untuk mengejar waktu yang hilang.

Pada ulang tahun Kirana yang keenam belas, keluarga besar berkumpul di Jakarta.

Di tengah pesta, Ibu Kartika memberikan sebuah kotak kecil kepadanya.

Kirana membukanya.

Di dalamnya ada sekop plastik kuning yang sudah dibersihkan dan dipasang pada bingkai kayu.

Di bawahnya hanya ada satu kalimat.

Yang terlambat masih bisa dimulai.

Kirana memeluk neneknya.

Ratna berdiri beberapa langkah dari mereka sambil tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

Ia akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh sebelas tahun pernikahannya.

Keluarga tidak selalu hancur karena kebencian.

Kadang keluarga hancur karena orang-orang yang sebenarnya saling menyayangi terlalu lama mempercayai cerita dari satu orang tanpa pernah berbicara langsung satu sama lain.

Hendra telah mencuri sebelas tahun dari mereka.

Tetapi Ratna memutuskan ia tidak akan membiarkan kebohongan itu mencuri tahun kedua belas.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang