Nadia menutup koper tanpa tergesa-gesa.
Dari lantai bawah, suara tawa keluarga Candra masih terdengar. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa menit sebelumnya Nadia baru saja meminta pengacaranya menghentikan seluruh proses penjaminan kredit yang selama ini menjadi satu-satunya harapan bisnis mereka.
Lutut Nadia masih berdenyut akibat benturan dengan lantai. Sikunya memerah. Rambutnya masih sedikit lengket oleh teh manis yang disiramkan Bu Ratna.
Namun rasa sakit itu justru membuat pikirannya semakin jernih.
Ia membuka kamera ponselnya dan memotret luka di siku, lutut, serta bekas teh pada pakaiannya. Setelah itu ia mengirim pesan kepada Pak Hendra.
“Tolong simpan ini juga. Saya mungkin akan membutuhkannya.”
Tak sampai semenit, balasan masuk.
“Baik, Bu. Sebaiknya Ibu juga melakukan pemeriksaan medis hari ini.”
Nadia memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Ketika ia menarik koper menuju pintu kamar, daun pintu tiba-tiba terbuka.
Arga berdiri di sana.
Tatapan laki-laki itu langsung jatuh pada koper.
“Kamu mau ke mana?”
“Pulang.”
Arga mengerutkan kening.
“Pulang ke mana?”
“Ke rumah saya.”
Arga tertawa pendek.
“Jangan kekanak-kanakan, Nadia. Masalah kecil begini saja mau kabur dari rumah?”
Nadia menatap laki-laki yang baru dua hari menjadi suaminya.
Aneh sekali.
Sebelum menikah, Arga selalu terlihat lembut. Selama hampir dua tahun berpacaran, laki-laki itu tidak pernah sekalipun membentaknya. Ia selalu membukakan pintu mobil, mengingatkan Nadia makan, bahkan berkali-kali berkata bahwa dirinya kagum kepada perempuan mandiri.
Namun baru 48 jam setelah pernikahan, topeng itu jatuh.
Nadia akhirnya memahami sesuatu.
Mungkin Arga tidak berubah setelah menikah.
Mungkin selama ini ia hanya menunggu sampai Nadia merasa sudah terikat.
“Geser,” kata Nadia.
Arga justru berdiri semakin tegak di depan pintu.
“Kamu belum minta maaf sama Ibu.”
Nadia hampir tertawa.
“Setelah ibumu menyiram saya dan kamu mendorong saya sampai jatuh, kamu masih berpikir saya yang harus minta maaf?”
“Kamu yang memancing semuanya!”
“Tidak.”
Suara Nadia tetap rendah.
“Kalian hanya baru menunjukkan siapa diri kalian sebenarnya.”
Wajah Arga berubah.
“Jaga omonganmu.”
Nadia menatap tangannya.
“Tadi tangan itu mendorong saya. Jangan sentuh saya lagi.”
Ada sesuatu dalam tatapan Nadia yang membuat Arga tidak bergerak.
Perempuan itu menarik kopernya melewati suaminya, kemudian turun ke lantai bawah.
Bu Ratna dan Vina masih berada di ruang keluarga.
Ketika melihat koper, Bu Ratna mendengus.
“Mau drama apa lagi?”
Nadia terus berjalan.
“Kamu pikir kalau kamu pergi, Arga bakal mengejar?”
Nadia berhenti.
Ia berbalik perlahan.
“Saya justru berharap dia tidak pernah mengejar saya lagi.”
Bu Ratna terdiam.
Vina menurunkan ponselnya.
Arga yang mengikuti dari belakang mulai kehilangan kesabaran.
“Nadia!”
Namun Nadia sudah membuka pintu.
Sebelum keluar, ia memandang rumah besar itu untuk terakhir kali.
Rumah yang selama beberapa bulan terakhir begitu dibanggakan keluarga Candra.
Rumah yang tidak mereka ketahui sedang berada di ujung jurang finansial.
Kemudian Nadia pergi.
Malam itu ia menginap di apartemen miliknya di pusat Surabaya. Setelah memeriksakan luka ke rumah sakit dan mendapatkan laporan medis, ia menghabiskan hampir dua jam bersama Pak Hendra melalui panggilan video.
Pak Hendra tidak banyak bertanya.
Ia hanya memastikan satu hal.
“Ibu benar-benar ingin menghentikan seluruh dukungan finansial?”
“Benar.”
“Kalau begitu besok akan terjadi masalah besar. Bank sudah menjadwalkan penandatanganan pukul sembilan.”
“Itu bukan masalah saya lagi.”
Pak Hendra mengangguk.
“Dan mengenai pernikahan?”
Nadia terdiam beberapa detik.
“Saya ingin keluar secepat mungkin.”
Keesokan paginya, pukul 08.47, Arga masih belum menghubunginya.
Nadia tidak terkejut.
Ia bahkan bisa membayangkan keluarga itu sedang duduk di kantor bank dengan pakaian terbaik mereka, yakin bahwa hari tersebut akan menjadi hari penyelamatan bisnis keluarga.
Dan memang itulah yang terjadi.
Pak Candra, ayah Arga, datang bersama Bu Ratna dan Arga ke sebuah kantor bank di kawasan pusat bisnis Surabaya.
Mereka duduk di ruang pertemuan dengan wajah penuh percaya diri.
“Bu Nadia belum datang?” tanya petugas bank.
Arga melihat jam tangannya.
“Mungkin terlambat. Biasalah, habis bertengkar sedikit.”
Petugas bank mengangguk tipis.
Pukul sembilan lewat lima menit, seorang manajer kredit masuk membawa map.
Ekspresinya tidak seperti biasanya.
“Pak Candra, kami baru menerima pemberitahuan resmi dari kuasa hukum Ibu Nadia Putri.”
Senyum Pak Candra menghilang.
“Pemberitahuan apa?”
“Ibu Nadia menarik persetujuannya sebagai penjamin pribadi.”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Bu Ratna menatap Arga.
“Apa maksudnya?”
Manajer tersebut membuka dokumen.
“Tanpa jaminan dari Ibu Nadia, profil risiko fasilitas kredit berubah. Karena kondisi arus kas perusahaan Bapak dan nilai kewajiban yang berjalan, kami tidak dapat melanjutkan pencairan Rp2,4 miliar.”

Pak Candra langsung berdiri.
“Tapi semuanya sudah disetujui!”
“Persetujuan sebelumnya bersifat bersyarat.”
“Rumah saya juga dijadikan jaminan!”
“Nilai rumah tidak mencukupi berdasarkan rasio yang disyaratkan.”
Wajah Pak Candra memucat.
Arga buru-buru mengeluarkan ponselnya.
Ia menelepon Nadia.
Sekali.
Tidak dijawab.
Dua kali.
Tetap tidak dijawab.
Pada panggilan keenam, Nadia akhirnya mengangkat.
“Apa yang kamu lakukan?” bentak Arga tanpa salam.
Nadia sedang duduk di kantornya.
Di depannya terdapat secangkir kopi dan laporan operasional perusahaan.
“Saya sedang bekerja.”
“Jangan pura-pura bodoh! Kenapa kamu membatalkan jaminan bank?”
“Karena itu aset saya.”
“Kamu tahu bisnis Papa bisa hancur!”
Nadia terdiam sebentar.
“Seharusnya kalian memikirkan itu sebelum memperlakukan penjamin kalian seperti pembantu.”
Arga langsung menurunkan nada suaranya.
“Nadia, dengar dulu. Kemarin aku emosi.”
“Kamu mendorong saya.”
“Aku tidak sengaja.”
“Kamu mencengkeram bahu saya lalu mendorong saya.”
“Itu refleks.”
“Menarik sekali. Kemarin kamu bilang saya harus tahu diri. Hari ini berubah menjadi refleks.”
Arga mulai panik.
“Nadia, kita suami istri.”
“Benar. Dan baru dua hari menjadi istrimu, saya sudah tahu seperti apa hidup saya kalau bertahan.”
Nadia memutus telepon.
Siang harinya, Bu Ratna datang ke kantor Nadia.
Perempuan yang sehari sebelumnya menyiram wajah menantunya itu kini duduk di ruang tunggu hampir empat puluh menit.
Ketika akhirnya Nadia menerima, Bu Ratna masuk dengan ekspresi keras.
“Kamu puas?”
Nadia menutup laptop.
“Dengan apa?”
“Mempermalukan keluarga kami.”
“Saya tidak melakukan apa pun kepada keluarga Ibu. Saya hanya berhenti mempertaruhkan aset saya.”
Bu Ratna menepuk meja.
“Karena masalah nasi kamu menghancurkan bisnis orang?”
Nadia berdiri.
“Bukan karena nasi.”
Untuk pertama kalinya suaranya terdengar tajam.
“Karena Ibu menyiram saya. Karena anak Ibu mendorong saya sampai jatuh. Karena setelah itu tidak seorang pun merasa ada yang salah.”
Bu Ratna kehilangan kata-kata.
Nadia melanjutkan.
“Yang lebih penting, bisnis keluarga Ibu sudah bermasalah jauh sebelum saya datang. Saya hanya hampir melakukan kesalahan dengan ikut menanggung akibatnya.”
Wajah Bu Ratna berubah.
“Kamu sudah jadi istri Arga. Harta suami istri itu milik bersama.”
Nadia tersenyum tipis.
“Perusahaan saya berdiri bertahun-tahun sebelum pernikahan. Asetnya tercatat jelas. Dan sebelum menikah, Arga menandatangani perjanjian perkawinan.”
Bu Ratna membeku.
“Kamu bohong.”
“Silakan tanya anak Ibu.”
Saat itulah Nadia melihat sesuatu yang mengejutkan.
Bu Ratna ternyata benar-benar tidak tahu.
Arga tidak pernah mengatakan kepada keluarganya tentang perjanjian tersebut.
Perjanjian yang memisahkan aset dan kewajiban finansial keduanya.
Artinya utang keluarga Candra tidak bisa menyentuh PT Cahaya Distribusi Logistik.
Bu Ratna pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Namun masalah keluarga Candra baru dimulai.
Dalam dua minggu berikutnya, tiga pemasok menghentikan pengiriman karena tagihan belum dibayar. Salah satu kreditur meminta pembayaran dipercepat. Toko bahan bangunan mereka mulai kekurangan stok.
Pak Candra akhirnya mengetahui kondisi sebenarnya.
Selama hampir satu tahun, Arga ternyata mengambil keputusan bisnis tanpa sepengetahuan ayahnya.
Ia membuka cabang baru dengan utang.
Menggunakan dana operasional untuk investasi properti yang gagal.
Lebih buruk lagi, sebagian kewajiban ditutupi menggunakan pinjaman jangka pendek berbunga tinggi.
Pak Candra terkena serangan tekanan darah dan harus dirawat.
Untuk pertama kalinya, Nadia merasa iba.
Bukan kepada Arga.
Kepada ayahnya.
Pak Candra ternyata tidak pernah berada di meja makan saat Nadia diperlakukan buruk. Ia juga tidak mengetahui detail fasilitas kredit karena Arga selama ini mengurus semuanya.
Beberapa hari kemudian, Pak Candra meminta bertemu.
Nadia setuju di sebuah kafe.
Laki-laki berusia enam puluhan itu datang seorang diri.
Wajahnya terlihat jauh lebih tua dibandingkan ketika mereka bertemu saat pesta pernikahan.
“Saya tidak datang meminta kamu menandatangani apa pun,” katanya.
Nadia menatapnya.
“Saya datang untuk meminta maaf.”
Nadia tidak menyangka.
Pak Candra menunduk.
“Saya gagal membangun keluarga yang memahami arti menghormati orang lain.”
“Itu bukan kesalahan Bapak sendiri.”
“Arga anak saya.”
Pak Candra menghela napas panjang.
“Dan saya terlalu sibuk bekerja sampai tidak sadar dia tumbuh menjadi laki-laki yang merasa semua orang harus menyelesaikan akibat dari perbuatannya.”
Nadia tidak menjawab.
Kemudian Pak Candra mengeluarkan sebuah amplop.
Di dalamnya terdapat salinan beberapa laporan transaksi.
“Saya menemukan ini setelah memeriksa pembukuan.”
Nadia membacanya.
Ada beberapa transfer dari rekening perusahaan keluarga Candra menuju rekening pribadi Arga.
Jumlahnya besar.
Lebih dari Rp800 juta.
“Untuk apa?”
“Investasi yang katanya akan menghasilkan keuntungan cepat.”
Pak Candra tertawa pahit.
“Semua hilang.”
Nadia akhirnya memahami mengapa Arga begitu bersemangat mendorong proses kredit.
Bukan hanya untuk menyelamatkan bisnis keluarga.
Ia sedang berusaha menutupi kesalahannya sendiri.
Sore itu Nadia menyerahkan salinan dokumen tersebut kepada Pak Hendra.
Proses hukum perceraian berjalan.
Arga awalnya menolak.
Kemudian memohon.
Lalu mengancam.
Pesannya berubah setiap beberapa hari.
“Aku masih sayang kamu.”
“Kita bisa mulai lagi.”
“Ibu sudah menyesal.”
“Kamu menghancurkan keluarga saya.”
“Saya akan menuntut bagian perusahaanmu.”
Nadia tidak membalas satu pun.
Semua pesan diteruskan kepada pengacaranya.
Tiga bulan kemudian, toko keluarga Candra akhirnya dijual kepada investor lain. Hasil penjualan digunakan untuk membayar sebagian besar utang.
Rumah mereka tidak disita.
Pak Candra memilih menjual dua aset lain dan mempertahankan rumah tersebut.
Namun Arga kehilangan posisinya dalam bisnis keluarga.
Pak Candra sendiri yang memecat anaknya.
Bu Ratna tidak pernah datang meminta maaf.
Vina juga tidak.
Nadia tidak membutuhkannya.
Hampir enam bulan setelah hari pernikahan itu, Nadia berdiri di ruang rapat PT Cahaya Distribusi Logistik.
Perusahaannya baru saja menandatangani kontrak distribusi baru yang nilainya jauh lebih besar daripada seluruh kredit yang dahulu diminta keluarga Candra.
Para staf bertepuk tangan.
Namun bagi Nadia, kemenangan terbesar hari itu bukan angka di atas kontrak.
Melainkan ketenangan.
Ketika rapat selesai, resepsionis menghubunginya.
“Bu Nadia, ada seseorang mau bertemu.”
“Siapa?”
“Pak Candra.”
Nadia terdiam sebentar sebelum mengizinkannya masuk.
Pak Candra datang membawa sebuah kotak kecil.
“Saya menemukan ini waktu membersihkan kamar Arga.”
Ia meletakkannya di meja.
Nadia membukanya.
Di dalamnya terdapat amplop yang pernah ia berikan kepada Arga seminggu sebelum pernikahan.
Nadia langsung mengenalinya.
Itu adalah salinan surat persetujuan awal fasilitas kredit.
Namun di belakang dokumen tersebut ada tulisan tangan Arga.
Nadia membacanya perlahan.
Setelah menikah, Nadia pasti tanda tangan. Tinggal pastikan dia sudah masuk keluarga dulu.
Jari Nadia berhenti.
Ruangan terasa sunyi.
Pak Candra menundukkan kepala.
“Saya pikir kamu perlu tahu.”
Nadia menatap tulisan itu lama sekali.
Semua pertanyaan yang selama berbulan-bulan masih tersisa di kepalanya akhirnya mendapatkan jawaban.
Mengapa Arga begitu terburu-buru menikah.
Mengapa fasilitas kredit dijadwalkan hanya beberapa hari setelah pernikahan.
Mengapa laki-laki itu begitu yakin Nadia tidak akan berani pergi.
Ternyata sejak awal, Arga tidak hanya melihatnya sebagai istri.
Ia juga melihat Nadia sebagai jalan keluar finansial.
Nadia menutup kotak itu.
Anehnya, ia tidak marah.
Ia justru merasa lega.
“Terima kasih sudah memberikannya kepada saya, Pak.”
Pak Candra berdiri.
Sebelum pergi, laki-laki itu berkata pelan, “Saya kehilangan bisnis yang saya bangun puluhan tahun karena terlalu terlambat mengetahui siapa anak saya sendiri. Tapi kamu beruntung.”
Nadia menatapnya.
“Beruntung?”
Pak Candra mengangguk.
“Kamu mengetahuinya dalam dua hari.”
Setelah pintu tertutup, Nadia berdiri di depan jendela.
Di bawah sana, Surabaya bergerak seperti biasa.
Mobil memenuhi jalan.
Orang-orang berjalan mengejar urusan masing-masing.
Enam bulan sebelumnya, Nadia mengira hari ketika ia disiram teh dan didorong hingga jatuh adalah salah satu hari terburuk dalam hidupnya.
Sekarang ia memahami sesuatu yang berbeda.
Kadang penghinaan terbesar justru datang sebagai peringatan paling berharga.
Seandainya Bu Ratna tidak menyuruhnya mengambilkan nasi.
Seandainya Nadia memilih diam.
Seandainya Arga tidak kehilangan kendali.
Mungkin keesokan paginya Nadia akan datang ke bank.
Mungkin ia akan menandatangani dokumen itu.
Dan mungkin bertahun-tahun kemudian, ketika seluruh kebohongan terbongkar, perusahaan yang ia bangun dengan kerja keras sudah ikut terseret ke dalam kehancuran keluarga Candra.
Nadia mengambil dokumen lama itu.
Ia tidak merobeknya.
Ia memasukkannya ke dalam laci meja sebagai pengingat.
Bukan tentang Arga.
Bukan tentang Bu Ratna.
Melainkan tentang dirinya sendiri.
Bahwa cinta tidak pernah membutuhkan seseorang kehilangan harga diri agar sebuah hubungan dapat bertahan.
Dan terkadang, ketika seseorang mendorongmu hingga jatuh, keputusan terpenting bukan bagaimana membalasnya.
Melainkan memastikan bahwa saat kamu berdiri kembali, kamu tidak pernah memberikan mereka kesempatan untuk menjatuhkanmu untuk kedua kalinya.
