CALON MERTUAKU MENYIRAMKAN WINE KE TANGAN PALSU AYAHKU DAN MENGHINANYA KARENA MISKIN…

Untuk beberapa detik, tak seorang pun di ruangan itu bergerak.

Surya Bramantyo menatap Hendra seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil. Rina masih menggenggam gelas wine yang beberapa saat sebelumnya ia gunakan untuk menyiram tangan palsu pria tua itu. Sementara Rendy akhirnya meletakkan ponselnya, tetapi bukan karena rasa bersalah.

Wajahnya justru menunjukkan kepanikan.

“Bapak… pemilik Cakrawala Capital?” suara Surya terdengar serak.

Hendra tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap tangan mekaniknya yang masih menyisakan noda merah wine, lalu mengangkat pandangan kepada Adrian.

“Berapa lama tim kita melakukan pemeriksaan terhadap PT Bramantyo Konstruksi?”

“Empat bulan, Pak,” jawab Adrian.

“Dan rekomendasi terakhir?”

Adrian menarik napas.

“Secara teknis proyek mereka cukup menjanjikan. Tetapi tim risiko menemukan beberapa transaksi yang perlu klarifikasi sebelum persetujuan final.”

Surya langsung berdiri.

“Pak Hendra, tunggu dulu. Saya bisa menjelaskan semuanya.”

Nada sombong yang sejak tadi memenuhi suaranya mendadak lenyap.

Hendra menatapnya datar.

“Aneh.”

“Apa?”

“Lima menit lalu Anda mengatakan orang kecil harus tahu posisi. Sekarang kenapa Anda berdiri untuk menjelaskan sesuatu kepada orang kecil itu?”

Wajah Surya memerah.

Rina buru-buru meletakkan gelasnya.

“Pak Hendra, tadi itu hanya bercanda. Saya memang suka bercanda agak kelewatan.”

Nindy menatap wanita itu dengan jijik.

“Bercanda?”

Suaranya bergetar.

“Anda menyiram wine ke tangan palsu ayah saya.”

Rina membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.

Hendra justru mengangkat tangan kirinya.

“Tidak apa-apa, Nindy.”

Lalu ia menatap Rina.

“Wine bisa dibersihkan. Yang sulit dibersihkan adalah watak seseorang ketika dia merasa sedang berhadapan dengan orang yang lebih lemah.”

Ruangan itu kembali sunyi.

Adrian kemudian membuka tablet yang dibawanya.

“Pak, sebenarnya saya datang karena ada temuan baru yang perlu Bapak lihat malam ini.”

Surya tampak semakin gelisah.

“Temuan apa?”

Adrian tidak menjawabnya.

Ia menyerahkan tablet kepada Hendra.

Beberapa angka terlihat di layar.

Hendra membaca dalam diam selama hampir satu menit.

Kemudian ia mengangkat kepala.

“Pak Surya, ada tujuh pembayaran dari rekening perusahaan Anda ke tiga perusahaan konsultan dalam enam bulan terakhir. Totalnya Rp18,7 miliar.”

Surya membeku.

“Itu biaya konsultasi proyek.”

“Ketiga perusahaan tersebut baru berdiri kurang dari setahun.”

“Itu normal.”

“Direktur salah satunya mantan sopir pribadi Anda.”

Surya kehilangan kata-kata.

Adrian melanjutkan dengan tenang.

“Dan alamat kantor perusahaan kedua adalah rumah milik saudara kandung Ibu Rina.”

Rina langsung menoleh kepada suaminya.

“Mas?”

“Diam dulu!”

Bentakan Surya membuatnya terkejut.

Hendra kini memahami sesuatu.

Masalah keluarga Bramantyo ternyata jauh lebih besar daripada penghinaan di meja makan.

“Apakah dana investasi kita direncanakan untuk menutup kebutuhan kas perusahaan?” tanya Hendra.

Adrian mengangguk.

“Berdasarkan proyeksi yang mereka kirim, seharusnya untuk ekspansi tiga proyek baru. Tetapi setelah kami mendapatkan laporan keuangan tambahan sore ini, ditemukan utang jangka pendek yang sebelumnya tidak tercantum lengkap.”

“Berapa?”

“Sekitar Rp126 miliar.”

Nindy menutup mulut.

Rendy mendadak berdiri.

“Pa, katanya perusahaan baik-baik saja.”

Surya menatap putranya tajam.

“Kamu jangan ikut campur!”

Namun Rendy mulai panik.

“Kalau investasi itu batal, bagaimana dengan uangku?”

Kalimat itu membuat semua orang menoleh.

Surya memejamkan mata sesaat.

Hendra menatap Rendy.

“Uang apa?”

Rendy sadar telah salah bicara.

“Bukan apa-apa.”

Adrian menyentuh layar tabletnya.

“Pak Hendra, ada satu temuan lain.”

Ia menunjukkan catatan transaksi.

“Selama delapan bulan terakhir, ada transfer berkala dari rekening pribadi Pak Surya ke rekening Rendy. Totalnya hampir Rp4,3 miliar.”

Hendra mengerutkan kening.

“Untuk apa?”

Rendy tidak menjawab.

Nindy perlahan mengambil ponsel Rendy yang tergeletak di meja.

Layar aplikasi taruhan masih terbuka.

Riwayat transaksinya terlihat jelas.

Nindy merasa dadanya seperti ditimpa sesuatu yang berat.

Selama enam bulan bertunangan, Rendy selalu mengaku sedang membangun portofolio investasi digital.

Setiap kali Nindy bertanya, Rendy mengatakan uangnya ditempatkan dalam aset berisiko tinggi.

Ternyata semuanya kebohongan.

“Jadi ini investasi yang selama ini kamu ceritakan?” tanya Nindy lirih.

Rendy mencoba merebut ponselnya.

“Nindy, kasih sini.”

Nindy menarik tangannya.

“Berapa banyak?”

“Bukan urusan kamu.”

“Kita akan menikah tiga bulan lagi!”

“Belum menikah!”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Rendy langsung terdiam.

Mata Nindy berkaca-kaca.

Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat tunangannya sebagai pria yang dicintainya.

Ia melihat seseorang yang selama ini berhasil menyembunyikan wajah sebenarnya.

Rendy menarik napas dan mencoba mengubah nada suaranya.

“Sayang, dengar dulu. Aku memang pernah rugi, tapi kalau investasi Rp650 miliar itu cair, perusahaan Papa akan berkembang. Aku bisa mengembalikan semuanya.”

Nindy menatapnya.

“Jadi kamu berharap uang perusahaan ayahmu menyelamatkan utang taruhanmu?”

“Jangan dibesar-besarkan.”

“Dan tadi ketika ibumu menyiram tangan ayahku dengan wine, kamu malah membentakku.”

Rendy kehilangan kesabaran.

“Karena kamu hampir merusak hubungan keluarga kita!”

Nindy tersenyum getir.

“Tidak, Rendy. Keluarga kita belum pernah ada.”

Ia melepaskan cincin pertunangan dari jarinya.

Benda kecil itu diletakkannya perlahan di atas meja.

Suara logam yang menyentuh permukaan marmer terdengar sangat jelas.

Rendy menatap cincin tersebut.

“Apa maksudmu?”

“Pertunangan kita selesai.”

Rina langsung bangkit.

“Kamu jangan mengambil keputusan emosional!”

Nindy menatapnya tajam.

“Enam bulan lalu saya menerima cincin ini karena saya pikir saya akan menikah dengan seorang pria yang menghormati keluarga saya.”

Ia kemudian melihat Rendy.

“Ternyata saya hampir menikah dengan seseorang yang bahkan tidak mampu berdiri membela orang yang katanya dia cintai.”

Rendy mengepalkan tangan.

“Kamu berani meninggalkan aku cuma karena sekarang tahu ayahmu kaya?”

Nindy tertawa kecil, tetapi air matanya jatuh.

“Justru selama ini kamu yang tidak tahu ayahku kaya.”

Rendy terdiam.

“Kalau uang yang menentukan caramu memperlakukan seseorang, berarti keputusan saya malam ini benar.”

Hendra memandang putrinya.

Ada kesedihan di wajah Nindy, tetapi untuk pertama kalinya malam itu ia juga melihat ketegasan yang membuatnya bangga.

Surya mendadak mendekati Hendra.

“Pak Hendra, masalah anak-anak jangan dicampur dengan bisnis.”

Hendra mengangguk.

“Saya setuju.”

Surya tampak sedikit lega.

“Jadi investasi tetap berjalan?”

“Tidak.”

Satu kata itu membuat wajah Surya kembali pucat.

Hendra menarik dokumen Rp650 miliar di atas meja.

“Investasi ini tidak saya hentikan karena putri saya membatalkan pertunangan.”

Ia mengetuk laporan di tablet Adrian.

“Saya hentikan karena perusahaan Anda gagal memenuhi standar transparansi dan tata kelola.”

“Pak Hendra, kami bisa memperbaiki laporan itu.”

“Laporan bisa diperbaiki.”

Hendra menatapnya tajam.

“Tetapi Rp18,7 miliar yang keluar melalui perusahaan terafiliasi harus dijelaskan kepada auditor.”

Surya menelan ludah.

“Berikan saya waktu.”

“Tim kami sudah memberikan waktu empat bulan.”

“Seminggu saja.”

Hendra menggeleng.

“Mulai malam ini, proses investasi dibekukan. Besok pagi tim legal dan audit Cakrawala Capital akan mengirim surat resmi.”

Surya kehilangan tenaga dan perlahan duduk kembali.

Rina mulai menangis.

“Kalau investasi ini batal, perusahaan kami bisa hancur.”

Hendra memandangnya tanpa ekspresi.

“Beberapa menit lalu Anda mengatakan orang miskin seperti saya tidak pantas berada dalam lingkungan keluarga Anda.”

Rina menunduk.

“Sekarang Anda meminta orang yang sama menyelamatkan perusahaan Anda.”

Tidak ada jawaban.

Hendra berdiri.

Tangan mekaniknya mengeluarkan bunyi kecil ketika ia mengambil jaket.

Sebelum pergi, ia menatap Adrian.

“Jangan langsung menolak proposal mereka secara permanen.”

Surya mendongak dengan harapan.

Hendra melanjutkan.

“Lakukan audit independen. Kalau perusahaan masih layak diselamatkan, lindungi karyawannya. Jangan biarkan ribuan orang kehilangan pekerjaan hanya karena kesalahan pemilik.”

Adrian mengangguk.

“Baik, Pak.”

“Kalau ditemukan pelanggaran hukum, serahkan kepada pihak yang berwenang.”

Harapan di wajah Surya kembali menghilang.

Hendra kemudian berjalan menuju pintu bersama Nindy.

Namun sebelum mereka keluar, Rendy mengejar.

“Nindy!”

Nindy berhenti.

“Aku salah.”

Untuk pertama kalinya malam itu, suara Rendy terdengar benar-benar putus asa.

“Aku bisa berubah.”

Nindy menatap pria yang beberapa jam sebelumnya masih ia bayangkan berdiri bersamanya di pelaminan.

“Kalau ayahku benar-benar miskin, apakah kamu akan mengatakan kalimat yang sama?”

Rendy terdiam.

Keheningan itu menjadi jawabannya.

Nindy berbalik dan pergi.

Di luar restoran, sebuah sedan hitam sudah menunggu.

Sopir segera membukakan pintu.

Begitu masuk, Nindy akhirnya tidak mampu menahan tangis.

“Ayah sudah tahu semuanya?”

Hendra duduk di sebelahnya.

“Tidak.”

“Tapi Ayah sengaja berpakaian seperti itu.”

Hendra mengangguk.

“Saya hanya curiga.”

“Kenapa tidak bilang dari awal kalau Cakrawala Capital milik Ayah?”

Hendra menatap lampu-lampu Jakarta di balik kaca mobil.

“Karena saya tidak ingin Rendy menikahimu karena mengetahui siapa ayahmu.”

Nindy terdiam.

“Tapi saya juga tidak ingin melarangmu tanpa alasan. Kamu sudah dewasa. Kalau Ayah mengatakan Rendy tidak baik, kamu mungkin akan menganggap Ayah terlalu protektif.”

Nindy menundukkan kepala.

“Jadi Ayah menguji mereka?”

“Saya memberi mereka kesempatan untuk menunjukkan diri sendiri.”

Hendra mengangkat tangan mekaniknya yang masih sedikit basah.

“Dan ternyata mereka melakukannya lebih cepat dari dugaan.”

Nindy tersenyum tipis di tengah tangisnya.

Kemudian pandangannya jatuh pada tangan palsu itu.

“Kenapa Ayah membawa yang lama?”

Hendra tertawa kecil.

“Karena yang baru terlalu mahal. Sulit meyakinkan orang bahwa kita miskin kalau tangan palsunya seharga apartemen.”

Untuk pertama kalinya sejak makan malam dimulai, Nindy tertawa.

Namun tawa itu segera berubah menjadi tangis lagi.

Ia menyandarkan kepala ke bahu ayahnya.

Tiga minggu kemudian, hasil audit independen keluar.

Masalah PT Bramantyo Konstruksi ternyata lebih buruk daripada perkiraan awal. Sejumlah transaksi tidak memiliki dasar yang jelas, beberapa proyek dibebani utang besar, dan sebagian aset perusahaan telah dijadikan jaminan untuk menutup kewajiban lama.

Tetapi Hendra menepati ucapannya.

Ia tidak membiarkan ribuan pekerja kehilangan mata pencaharian.

Cakrawala Capital tidak memberikan Rp650 miliar kepada keluarga Bramantyo.

Sebagai gantinya, setelah proses restrukturisasi dan persetujuan kreditur, mereka masuk sebagai investor penyelamat dengan syarat manajemen lama melepaskan kendali operasional.

Surya kehilangan posisi direktur utama.

Perusahaan tetap hidup, tetapi tidak lagi menjadi kerajaan pribadi keluarga Bramantyo.

Rina menjual sebagian besar barang mewahnya untuk membantu menyelesaikan kewajiban keluarga.

Sedangkan Rendy mengalami kejatuhan paling keras.

Setelah sumber uang dari ayahnya berhenti, utang taruhannya terbongkar. Mobil sport yang selama ini dibanggakannya dijual. Apartemennya ikut dilepas.

Beberapa bulan kemudian, ia mengirim pesan kepada Nindy.

Bukan untuk meminta kembali hubungan mereka.

Ia hanya menulis bahwa dirinya sedang menjalani terapi untuk kecanduan judi dan akhirnya bekerja di perusahaan lain dengan gaji biasa.

Nindy tidak membalas panjang.

Ia hanya berharap Rendy benar-benar berubah, bukan untuk mendapatkannya kembali, melainkan untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Setahun kemudian, Nindy menemani Hendra menghadiri peresmian sebuah pusat pelatihan keselamatan kerja untuk buruh konstruksi di Bekasi.

Di depan gedung terdapat sebuah papan sederhana.

Pusat Keselamatan Kerja Gunawan.

Nindy baru mengetahui bahwa ayahnya membangun tempat itu untuk mengenang kecelakaan yang merenggut tangan kanannya puluhan tahun lalu.

Seorang wartawan bertanya mengapa seorang investor besar bersedia menghabiskan begitu banyak uang untuk fasilitas yang tidak menghasilkan keuntungan.

Hendra melihat tangan mekaniknya.

“Dulu saya kehilangan tangan ini ketika menyelamatkan seorang pekerja.”

Ia berhenti sejenak.

“Saat itu saya belum punya perusahaan. Belum punya rumah besar. Bahkan untuk membeli tangan palsu pertama saja saya harus menabung bertahun-tahun.”

Nindy menatap ayahnya.

“Kalau ada sesuatu yang saya pelajari dari hidup, itu sederhana. Nilai manusia tidak pernah ditentukan oleh pakaian, rekening bank, jabatan, atau tubuh yang sempurna.”

Hendra tersenyum.

“Karena semua itu bisa hilang dalam satu hari.”

Setelah acara selesai, Nindy melihat sebuah benda di dalam kotak kaca di lobi gedung.

Ia terkejut.

Tangan mekanik tua yang pernah disiram wine oleh Rina berada di sana.

Sudah dibersihkan dan dipoles, tetapi Hendra sengaja tidak mengganti beberapa bagian yang lecet.

Di bawahnya terdapat sebuah kalimat kecil.

Hormati manusia sebelum mengetahui siapa dirinya.

Nindy menoleh kepada ayahnya.

“Ayah sengaja menyimpannya?”

Hendra mengangguk.

“Supaya saya sendiri tidak lupa.”

“Lupa apa?”

Hendra memandang tangan palsu itu cukup lama.

“Bahwa kekayaan juga bisa membuat seseorang berubah menjadi seperti mereka malam itu kalau kita tidak hati-hati.”

Nindy terdiam.

Ia akhirnya memahami bahwa makan malam di SCBD setahun lalu bukan hanya ujian bagi keluarga Bramantyo.

Tanpa disadari, itu juga ujian bagi Hendra sendiri.

Ia memiliki kekuasaan untuk menghancurkan keluarga yang telah menghinanya, tetapi memilih menyelamatkan para pekerja yang tidak bersalah.

Ia memiliki alasan untuk membalas dendam, tetapi memilih membiarkan hukum dan konsekuensi melakukan tugasnya.

Dan tangan palsu tua yang pernah dianggap sebagai barang rongsokan itu akhirnya menjadi benda paling berharga di gedung tersebut.

Bukan karena harga logamnya.

Bukan karena siapa pemiliknya.

Melainkan karena tangan itulah yang mengingatkan semua orang bahwa karakter seseorang paling jelas terlihat bukan dari cara ia memperlakukan orang yang berkuasa, tetapi dari cara ia memperlakukan seseorang yang ia kira tidak memiliki apa-apa.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang