Hamil Delapan Bulan, Aku Dibiarkan Terjebak Hujan karena Suamiku Menunggu Uang Asuransi Rp7,5 Miliar

“Perawat, saya suami Ayu Pramesti. Sore ini ada pasien hamil delapan bulan yang dibawa ke sini karena kontraksi atau perdarahan? Istri saya seharusnya melahirkan sebentar lagi.”

Perawat di meja informasi mengetik nama Ayu ke komputer, lalu menggeleng.

“Maaf, Pak. Tidak ada pasien dengan nama itu.”

Bagas membeku.

Bu Ratna yang berdiri di sampingnya langsung mencengkeram lengan putranya.

“Coba tanya lagi,” bisiknya.

Bagas memaksakan senyum.

“Mungkin belum terdaftar. Tolong dicek sekali lagi.”

Perawat mengulangi pencarian.

Tetap tidak ada.

Wajah Bagas mulai kehilangan warna.

Seharusnya semuanya berjalan sederhana.

Ayu terjebak di apartemen saat hujan deras. Aplikasi transportasinya tidak bisa digunakan. Gerbang sudah dikunci. Jika kontraksi berubah menjadi kondisi darurat, pertolongan akan terlambat.

Bagas hanya perlu datang setelah semuanya terlambat.

Dia bahkan sudah menyiapkan bunga.

Namun Ayu menghilang.

Dan orang yang seharusnya berada di apartemen seberang juga tidak menjawab telepon.

Maya.

Bagas mengeluarkan ponselnya dan menelepon perempuan itu untuk kelima kalinya.

Tidak aktif.

“Gas,” bisik Bu Ratna, “jangan bilang mereka pergi bersama.”

Bagas menatap ibunya.

Untuk pertama kalinya malam itu, ketakutan benar-benar muncul di matanya.

Sementara itu, hampir dua belas kilometer dari sana, aku terbaring di ruang pemulihan dengan tubuh lemas dan kepala masih berat.

Di balik kaca ruang perawatan neonatal, putriku tidur di dalam inkubator.

Kecil.

Rapuh.

Tetapi hidup.

Aku menempelkan telapak tangan ke kaca.

“Maafkan Mama,” bisikku.

Selama berbulan-bulan aku memaksanya bertahan dalam tubuh yang kelelahan. Aku berdiri berjam-jam di KRL, berjalan di tengah panas, bekerja sampai malam, dan menganggap semua itu sebagai pengorbanan biasa seorang ibu.

Aku tidak pernah membayangkan bahwa orang yang seharusnya melindungi kami justru sedang menunggu kami hancur.

Pintu di belakangku terbuka.

Maya masuk ditemani seorang perempuan berkacamata dengan blazer hitam.

“Ayu, ini Mbak Rika,” katanya. “Pengacara yang pernah membantuku mengurus kontrak apartemen.”

Rika tidak banyak berbasa-basi.

Dia meletakkan laptop di meja dan membuka beberapa berkas.

“Aku sudah mendengar rekaman dari Maya,” katanya. “Dan aku sudah melihat dokumen polis yang kalian bawa.”

Aku menatapnya.

“Apakah itu cukup?”

“Untuk membuktikan niat pembunuhan? Belum tentu.”

Dadaku langsung sesak.

“Tapi untuk memulai penyelidikan atas dugaan manipulasi polis, penipuan, penggelapan dana perusahaan, dan perencanaan tindakan yang membahayakan keselamatan, kita punya dasar yang jauh lebih kuat.”

Aku teringat USB hitam itu.

Rika mengangkatnya.

“Ini justru yang paling menarik.”

Dia membuka salah satu file.

Deretan transaksi memenuhi layar.

Sebagian besar pernah kulihat.

Namun ada satu nama rekening yang sebelumnya tidak pernah kuperhatikan.

PT Mahardika Sentosa Abadi.

“Perusahaan apa ini?” tanyaku.

“Perusahaan cangkang,” jawab Rika. “Didirikan sebelas bulan lalu. Direktur nominalnya seseorang bernama Hendra Gunawan.”

Aku mengernyit.

Nama itu asing.

Maya tiba-tiba duduk lebih tegak.

“Hendra?”

“Kamu kenal?”

Wajah Maya berubah.

“Itu adik Bu Ratna.”

Ruangan mendadak sunyi.

Rika menatap kami bergantian.

“Kalau benar, berarti aliran dana perusahaan Bagas mungkin tidak berhenti pada Bagas sendiri.”

Aku menatap layar.

Transaksi-transaksi itu terjadi berkali-kali.

Rp180 juta.

Rp320 juta.

Rp475 juta.

Jumlahnya semakin besar.

Dan setiap transaksi disamarkan sebagai pembayaran vendor.

“Totalnya?” tanyaku.

Rika menarik napas.

“Sedikit di atas Rp11 miliar.”

Tanganku langsung dingin.

Jadi Rp7,5 miliar dari asuransiku bukan hadiah besar bagi Bagas.

Itu hanya lubang yang ingin dia gunakan untuk menutup lubang lain.

Ponsel Maya bergetar.

Nama Bagas muncul di layar.

Kami bertiga terdiam.

Maya menatapku.

“Angkat,” kata Rika. “Jangan beri tahu lokasi kalian.”

Maya mengaktifkan pengeras suara.

“Halo?”

Suara Bagas langsung terdengar.

“Kamu di mana?”

“Kenapa?”

“Aku tanya kamu di mana!”

Maya tersenyum hambar.

“Bukannya malam ini kamu seharusnya sibuk menjadi suami yang berduka?”

Hening.

Lalu suara Bagas berubah rendah.

“Kamu ketemu Ayu?”

Maya tidak menjawab.

“May, dengar aku. Apa pun yang kamu pikir kamu dengar tadi malam, kamu salah paham.”

“Aku mendengar semuanya.”

“Percakapan orang bisa terdengar berbeda kalau dipotong.”

“Termasuk bagian ketika ibumu bilang aku bisa dimasukkan ke rumah sakit jiwa setelah melahirkan?”

Tidak ada jawaban.

Maya menutup mata.

Kemudian terdengar suara Bu Ratna dari kejauhan.

“Jangan bicara lewat telepon!”

Sambungan langsung terputus.

Rika menyimpan rekaman panggilan itu.

“Bagus,” katanya.

Aku tidak merasakan kemenangan.

Yang kurasakan justru kehampaan.

Laki-laki yang menikahiku enam tahun lalu adalah orang yang sama yang pernah menunggu di depan ruang operasi ketika aku mengalami keguguran pertama.

Dia pernah menangis sambil memegang tanganku.

Dia pernah berkata, “Kalau kita nggak punya anak pun nggak apa-apa. Aku cuma butuh kamu.”

Kapan kalimat itu berubah menjadi harga Rp7,5 miliar?

Aku tidak tahu.

Dua jam kemudian, polisi datang.

Aku memberikan keterangan dari tempat tidur.

Maya menyerahkan rekaman kamera dasbor, salinan percakapan, pesan-pesan Bagas, dan bukti bahwa Bu Ratna selama berbulan-bulan mengirim makanan serta biaya kebutuhan ke apartemennya.

Aku menyerahkan dokumen keuangan.

Tetapi Rika meminta satu hal.

“Jangan tangkap Bagas malam ini kalau belum perlu.”

Aku terkejut.

“Kenapa?”

“Karena kita belum tahu sejauh mana mereka sudah menyiapkan cerita.”

Rika menatapku.

“Kalau Bagas percaya kamu belum mengetahui apa pun, dia mungkin akan menunjukkan sendiri bukti yang kita butuhkan.”

Rencana itu membuatku takut.

Tetapi aku setuju.

Pukul tiga pagi, aku menyalakan ponsel.

Ada 47 panggilan tak terjawab dari Bagas.

Dua belas dari Bu Ratna.

Pesan terakhir masuk beberapa menit sebelumnya.

Ayu, kamu di mana? Aku cari kamu ke mana-mana. Aku khawatir banget. Tolong jawab.

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Lalu mengetik.

Aku di rumah sakit. Bayinya lahir.

Tidak sampai sepuluh detik, Bagas menelepon.

Aku mengangkat.

“Ayu!”

Suara lega yang dibuatnya hampir sempurna.

“Kamu di rumah sakit mana? Kenapa nggak kabarin aku? Aku hampir gila nyari kamu!”

Aku menatap Rika yang berdiri di samping tempat tidur.

“Rumah Sakit Harapan Bunda.”

“Kamu tunggu. Aku ke sana sekarang.”

Empat puluh menit kemudian, Bagas datang bersama Bu Ratna.

Buket anyelir yang tadi dibawanya sudah diganti dengan bunga lili putih yang jauh lebih mahal.

Begitu masuk, Bagas langsung memelukku.

Tubuhku membeku.

“Aku takut kehilangan kamu,” bisiknya.

Aku bisa mencium parfumnya.

Parfum yang dulu membuatku merasa aman.

Sekarang membuatku mual.

Bu Ratna berdiri di samping tempat tidur.

“Cucunya bagaimana?”

Bukan aku.

Pertanyaan pertamanya tentang bayi.

“Perempuan,” jawabku.

Wajahnya berubah sepersekian detik.

Hanya sepersekian detik.

Tetapi aku melihatnya.

Bagas segera menggenggam tanganku.

“Yang penting sehat.”

Aku menatap matanya.

“Bagas.”

“Ya?”

“Kenapa gerbang apartemen digembok?”

Tangannya berhenti bergerak.

“Apa?”

“Dan kenapa aplikasi transportasiku tiba-tiba nggak bisa dipakai?”

Dia tertawa kecil.

“Mungkin sistemnya error.”

“Semalam kamu pinjam ponselku.”

“Aku cuma bersihin memori.”

“Lalu kenapa password akun transportasiku berubah?”

Wajah Bagas mengeras.

Bu Ratna menyela.

“Ayu, kamu baru melahirkan. Jangan mikir aneh-aneh.”

Aku mengangguk perlahan.

“Benar.”

Aku mengambil sebuah map dari meja.

“Makanya aku ingin bertanya hal yang sederhana saja.”

Kutarik dokumen polis.

Kutaruh di hadapan mereka.

Wajah Bagas langsung pucat.

Bu Ratna bahkan mundur satu langkah.

“Kenapa kalau aku meninggal karena kecelakaan, kamu menerima Rp7,5 miliar?”

“Ayu, aku bisa jelaskan.”

“Jelaskan.”

“Ini perlindungan keluarga.”

“Perlindungan untuk siapa?”

Bagas membuka mulut.

Tidak ada suara keluar.

Pintu kamar terbuka.

Maya masuk.

Bu Ratna seperti melihat hantu.

“Kamu?”

Maya berjalan perlahan ke dalam.

Perutnya yang besar tampak jelas di balik gaun rumah sakit.

Bagas langsung berdiri.

“May, kamu ngapain di sini?”

“Menunggu anak-anakmu lahir,” jawab Maya.

Bu Ratna memandang lorong dengan panik.

“Kita pulang.”

“Belum.”

Aku mengeluarkan ponsel dan menekan tombol putar.

Suara Bagas memenuhi ruangan.

Suara dari rekaman kamera dasbor.

“Kalau Ayu kenapa-kenapa waktu hujan, kita nggak ada di lokasi. Nggak ada yang bisa bilang kita melakukan sesuatu.”

Kemudian suara Bu Ratna.

“Yang penting polisnya jangan sampai bermasalah.”

Bagas menerjang ke arah ponselku.

Namun dua petugas kepolisian langsung masuk dari luar.

Dia berhenti.

Wajahnya berubah total.

Tidak ada lagi suami cemas.

Tidak ada lagi senyum.

“Ayu,” katanya pelan, “kamu nggak tahu apa yang kamu lakukan.”

“Aku tahu.”

“Kamu mau menghancurkan keluarga kita?”

Aku tertawa.

Untuk pertama kalinya, kalimat itu terdengar begitu absurd.

“Keluarga mana?”

Bagas menunjuk Maya.

“Dia yang menghancurkan semuanya! Dia perempuan gila. Dia yang mengejarku!”

Maya tidak bereaksi.

Lalu Bagas menoleh kepadaku.

“Kamu percaya selingkuhanku daripada suamimu sendiri?”

Aku menatapnya lama.

“Aku percaya bukti.”

Rika masuk membawa laptop.

“Dan buktinya belum selesai.”

Dia memutar layar.

Bagas melihat daftar transaksi perusahaan.

Kakinya seolah kehilangan kekuatan.

“Dari mana kamu dapat itu?”

Aku tidak menjawab.

Bu Ratna justru berbisik, “Gas, jangan ngomong lagi.”

Terlambat.

Petugas meminta Bagas dan Bu Ratna ikut untuk pemeriksaan.

Bagas masih berusaha melawan dengan kata-kata.

Dia mengatakan semuanya salah paham.

Dia mengatakan polis itu sah.

Dia mengatakan uang perusahaan adalah pinjaman internal.

Tetapi ketika petugas menyebut nama PT Mahardika Sentosa Abadi, wajah Bu Ratna langsung runtuh.

Tiga hari berikutnya membuka sesuatu yang bahkan tidak kami duga.

Polisi menemukan bahwa Bagas memang memindahkan dana perusahaan melalui perusahaan cangkang milik pamannya.

Utangnya bukan berasal dari satu bisnis gagal.

Dia telah menggunakan uang perusahaan untuk investasi spekulatif dan menutup kerugian dengan transaksi palsu.

Ketika kerugian membesar, polis asuransiku dinaikkan.

Namun kejutan terbesar datang dari perusahaan asuransi.

Tanda tanganku memang asli.

Tetapi formulir yang kutandatangani enam bulan lalu bukan formulir yang sama dengan dokumen akhir yang diajukan.

Beberapa halaman telah diganti setelah aku menandatanganinya.

Dan orang yang membantu memproses perubahan itu adalah seorang agen asuransi yang menerima transfer dari rekening Bagas.

Aku mengajukan gugatan cerai sebelum keluar dari rumah sakit.

Aku juga meminta pemblokiran sementara aset bersama.

Maya pindah dari apartemen itu.

Dua minggu kemudian dia melahirkan dua bayi laki-laki dengan selamat.

Kami tidak menjadi sahabat.

Setidaknya tidak seperti yang sering terjadi dalam cerita.

Ada luka yang terlalu rumit untuk diubah menjadi persahabatan hanya karena kami memiliki musuh yang sama.

Maya tetap perempuan yang pernah memiliki hubungan dengan suamiku.

Aku tetap perempuan yang terluka karena hubungan itu.

Tetapi ketika dia meminta maaf, aku tidak membencinya.

“Aku percaya semua kebohongannya,” katanya suatu sore.

Aku menatap putriku yang tertidur di pelukanku.

“Aku juga.”

Enam bulan kemudian, aku menerima telepon dari Rika.

“Ayu, ada sesuatu yang harus kamu lihat.”

Dia mengirimkan sebuah dokumen lama.

Dokumen pembelian polis pertamaku.

Ternyata Bagas mulai mengurus asuransi jiwa bernilai besar bukan setelah mengetahui bayi kami perempuan.

Bukan pula setelah bisnisnya mulai runtuh.

Dia memulainya hampir dua tahun sebelumnya.

Sebelum aku hamil.

Aku membaca tanggalnya berkali-kali.

Seluruh tubuhku merinding.

Artinya, kehamilanku bukan alasan Bagas ingin menyingkirkanku.

Anak perempuan kami bukan penyebabnya.

Utang hanya membuat rencananya dipercepat.

Rencana itu sudah ada jauh sebelum semuanya.

Aku menatap putriku yang sedang belajar merangkak di lantai.

Untuk pertama kalinya aku memahami sesuatu yang selama ini tidak ingin kuakui.

Kadang bahaya terbesar tidak datang dengan wajah penuh kebencian.

Ia bisa tidur di sampingmu setiap malam.

Membuatkan teh ketika kamu sakit.

Mengusap perutmu ketika bayi bergerak.

Menciummu sebelum berangkat kerja.

Dan diam-diam menghitung berapa banyak uang yang akan diterimanya ketika kamu berhenti bernapas.

Aku mengangkat putriku dan memeluknya erat.

Namanya Arunika.

Aku memilih nama itu karena berarti cahaya fajar.

Bukan karena hidup kami tidak lagi memiliki malam.

Tetapi karena aku akhirnya tahu bahwa malam, sepanjang apa pun, tidak berhak menentukan bagaimana kisah kami berakhir.

Bagas pernah menghitung harga kematianku sebesar Rp7,5 miliar.

Yang tidak pernah dia hitung adalah satu hal.

Aku berhasil keluar dari hujan itu hidup-hidup.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang