Suamiku Menikahiku untuk Menghukumku atas Kematian Cinta Pertamanya, tetapi Saat Aku Minta Cerai, Dia Justru Kehilangan Kendali

Sepanjang perjalanan pulang, Arman tidak mengatakan apa-apa.

Namun tangannya tidak pernah benar-benar melepaskanku.

Aku duduk di sudut kursi belakang, menatap lampu-lampu Jakarta yang berkelebat di balik jendela. Bekas cengkeramannya masih terasa panas di pergelangan tanganku.

“Lepaskan.”

“Aku tidak memegangmu.”

Aku menoleh. “Maksudku, lepaskan aku dari hidupmu.”

Rahang Arman langsung menegang.

Aku hampir tertawa.

Dua tahun aku menunggu reaksi darinya. Dua tahun aku berharap suatu hari dia akan marah karena takut kehilangan aku, bukan karena membenciku.

Sekarang ketika reaksinya akhirnya datang, aku justru sudah tidak menginginkannya.

“Aku sudah meninggalkan surat cerai di ruang kerjamu,” kataku.

Arman menoleh begitu cepat.

“Apa?”

“Sudah kutandatangani.”

Untuk beberapa detik, kabin mobil terasa begitu sunyi.

Kemudian Arman tertawa pendek.

Bukan karena lucu.

Lebih seperti seseorang yang baru mendengar sesuatu yang mustahil.

“Kamu pikir aku akan menandatanganinya?”

“Kenapa tidak?”

“Karena aku tidak mau.”

Aku menatapnya.

Jawaban itu benar-benar membuatku bingung.

“Bukankah selama ini tujuanmu menikahiku untuk menghukumku?”

Arman diam.

“Kalau begitu kamu sudah berhasil.” Suaraku tetap tenang. “Aku kehilangan dua tahun hidupku. Aku kehilangan berat badan, kesehatan, harga diri, dan hampir kehilangan diriku sendiri. Bukankah itu cukup?”

“Laras.”

“Kalau belum cukup, bilang berapa tahun lagi yang kamu butuhkan.”

Dia tidak menjawab.

Sesampainya di rumah, aku langsung naik ke kamar.

Arman menyusul.

Aku baru membuka lemari ketika dia berdiri di ambang pintu.

“Kamu mau apa?”

“Mengemasi barang.”

“Mau ke mana?”

“Hotel. Besok aku cari apartemen.”

Arman masuk dan menutup pintu.

“Tidak ada yang pergi.”

Aku berbalik.

“Arman, aku tidak sedang meminta izin.”

Entah mengapa kalimat itu seperti menghantam sesuatu dalam dirinya.

Dia mendekat, tetapi aku mundur.

Gerakanku membuatnya berhenti.

Untuk pertama kalinya aku melihat Arman menyadari bahwa aku takut disentuh olehnya.

Wajahnya berubah.

Hanya sesaat.

Kemudian kembali dingin.

“Karena Galang?”

“Bukan.”

“Jangan bohong.”

“Aku pergi karena kamu.”

Kalimat itu membuatnya bungkam.

Aku mengambil koper dari atas lemari.

Arman merebutnya.

Aku menatapnya tidak percaya.

“Kembalikan.”

“Tidak.”

“Arman.”

“Kamu tidak akan ke mana-mana malam ini.”

Aku hampir kehilangan kesabaran.

“Kenapa? Takut mainanmu pergi sebelum kamu selesai menghancurkannya?”

Tangannya yang memegang koper membeku.

Aku tidak menunggu jawabannya.

Aku mengambil tas kecil, ponsel, dompet, lalu berjalan keluar kamar.

Kali ini Arman tidak mengejar.

Malam itu aku tidur di hotel.

Pagi berikutnya ada tujuh belas panggilan tak terjawab.

Semuanya dari Arman.

Selama dua tahun pernikahan kami, bahkan ketika aku demam tinggi dan meneleponnya berkali-kali, dia hanya pernah membalas dengan satu pesan.

Hubungi dokter.

Sekarang dia menelepon tujuh belas kali hanya karena aku tidak pulang.

Aku memblokir nomornya.

Tiga hari berikutnya terasa seperti kehidupan yang baru.

Aku menyewa apartemen kecil di Jakarta Selatan. Tidak mewah, tetapi ketika pertama kali membuka tirainya dan melihat cahaya pagi masuk, aku hampir menangis.

Tidak ada foto Melati.

Tidak ada langkah kaki yang membuatku tegang.

Tidak ada suara pintu mobil tengah malam yang membuatku bertanya apakah suamiku pulang atau tidak.

Aku bisa bernapas.

Galang membantuku memindahkan beberapa barang.

Dia tidak pernah menanyakan apa yang terjadi malam itu.

Sampai ketika kami sedang memasang rak kecil, aku sendiri yang berkata, “Aku sedang mengurus perceraian.”

Tangannya berhenti.

Dia menatapku lama.

“Aku tidak mau kamu bercerai karena aku.”

“Aku tahu.”

“Aku juga tidak mau jadi pelarian.”

“Aku tahu.”

Galang menghela napas.

“Terus kenapa kamu bilang begitu?”

Aku tersenyum.

“Supaya kamu tahu aku akhirnya memilih diriku sendiri.”

Dia ikut tersenyum.

Untuk beberapa waktu, semuanya terasa tenang.

Sampai sebuah nomor asing meneleponku.

Suara perempuan tua terdengar di seberang.

“Laras?”

Aku mengenalinya.

Bu Ratih.

Dosen pembimbing Melati.

Kami bertemu di sebuah kafe dekat kampus lama.

Bu Ratih terlihat jauh lebih tua daripada yang kuingat. Setelah berbasa-basi sebentar, dia mengeluarkan sebuah flashdisk.

“Ada sesuatu yang seharusnya kamu lihat sejak empat tahun lalu.”

Aku menatap benda itu.

“Ini tentang Melati?”

Dia mengangguk.

Tanganku langsung dingin.

Bu Ratih menjelaskan bahwa beberapa minggu sebelum meninggal, Melati pernah mengikuti sesi konseling kampus. Catatan resmi tidak boleh dibuka sembarangan, tetapi setelah orang tua Melati meninggal dua tahun lalu, beberapa dokumen pribadinya dikembalikan kepada pihak kampus.

Di antaranya ada rekaman suara yang tidak pernah masuk laporan publik.

Malam itu aku mendengarkannya sendirian.

Suara Melati terdengar pelan.

“Aku capek.”

Lalu suara konselor.

“Kamu merasa teman-temanmu mengganggumu?”

“Tidak.”

Aku membeku.

Melati melanjutkan.

“Laras tidak pernah merundungku. Kami memang sering bersaing nilai, tapi dia bahkan beberapa kali membantuku.”

Dadaku terasa sesak.

Rekaman berlanjut.

Melati ternyata mengalami tekanan berat dari keluarganya. Ayahnya memiliki utang. Ibunya terus meminta uang. Dia bekerja malam, kuliah pagi, mempertahankan beasiswa, dan menyembunyikan gangguan depresi yang semakin berat.

Kemudian muncul satu nama.

Arman.

“Aku mau putus dari Arman,” katanya.

Konselor bertanya kenapa.

“Karena kalau terus bersamanya, aku merasa makin bersalah. Dia selalu ingin menyelamatkanku. Tapi aku tidak bisa diselamatkan hanya dengan cinta.”

Aku menutup mulut.

Air mata jatuh tanpa suara.

Selama empat tahun, Arman membangun seluruh kebenciannya di atas kebohongan.

Dan aku membayar harga untuk sesuatu yang tidak pernah kulakukan.

Aku mengirim rekaman itu kepada pengacaraku.

Aku tidak mengirimkannya kepada Arman.

Tidak perlu.

Tetapi dua hari kemudian, seseorang datang ke apartemenku.

Ketika membuka pintu, Arman berdiri di sana.

Dia terlihat kacau.

Kemejanya kusut. Matanya merah seperti tidak tidur.

“Aku sudah dengar rekamannya.”

Aku terdiam.

Ternyata pengacara keluarga kami mengirim salinan bukti kepadanya karena dokumen itu relevan dengan proses perceraian.

Arman menatapku.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

Aku hampir tidak percaya.

“Bilang apa?”

“Bahwa kamu tidak melakukan itu kepada Melati.”

Aku tertawa kecil.

“Sudah.”

Dia membeku.

“Aku sudah bilang berkali-kali.”

Ingatan malam pernikahan itu kembali begitu jelas.

Aku menangis sambil mengatakan bahwa aku tidak pernah menyakiti Melati.

Arman menjawab bahwa orang sepertiku tentu akan menyangkal.

Aku pernah membawa laporan kampus kepadanya.

Dia merobeknya.

Aku pernah meminta dia bertemu dosen pembimbing Melati.

Dia berkata aku sedang membeli saksi.

“Aku bilang selama dua tahun, Man.”

Wajahnya kehilangan warna.

“Kamu hanya tidak pernah mau percaya.”

Dia menunduk.

“Aku salah.”

Dulu aku membayangkan hari ketika Arman akhirnya mengatakan itu.

Dalam khayalanku, aku akan menangis, memeluknya, lalu semuanya kembali baik.

Ternyata ketika hari itu benar-benar datang, aku tidak merasakan apa-apa.

“Aku tahu.”

“Aku bisa memperbaikinya.”

“Tidak.”

“Aku akan berubah.”

“Untuk siapa?”

Dia menatapku.

Aku melanjutkan, “Untuk Melati? Untuk rasa bersalahmu? Atau karena sekarang kamu takut kehilangan orang yang selama ini selalu ada?”

Arman tidak bisa menjawab.

Aku menutup pintu.

Sejak hari itu, Arman berubah.

Dia berhenti bekerja sampai larut malam.

Dia mengirim makanan ketika tahu aku sering lupa makan.

Dia mengembalikan semua barangku yang masih ada di rumah.

Bahkan bunga yang kusukai datang hampir setiap pagi.

Aku membuang semuanya.

Sebulan kemudian, mediasi perceraian dimulai.

Arman datang lebih awal.

Dia duduk di seberangku dengan wajah yang jauh lebih kurus.

Mediator bertanya apakah masih ada kemungkinan berdamai.

“Tidak,” jawabku.

Arman tidak bicara.

Ketika dokumen diletakkan di depannya, tangannya tidak bergerak.

“Pak Arman?”

Dia menatapku.

“Kalau aku tanda tangan, kamu akan bersama Galang?”

Aku menarik napas.

“Bukan urusanmu.”

Tangannya mengepal.

Kemudian dia berkata pelan, “Aku mencintaimu.”

Ruangan mendadak sunyi.

Aku menatap laki-laki yang selama bertahun-tahun kuinginkan mengatakan kalimat itu.

Aneh sekali.

Aku tidak bahagia.

Aku justru merasa sedih.

“Tidak, Man.”

“Aku tahu apa yang kurasakan.”

“Kamu baru merasa mencintaiku ketika aku berhenti mencintaimu.”

Matanya memerah.

Aku melanjutkan, “Mungkin yang kamu cintai bukan aku. Mungkin kamu cuma tidak tahan kehilangan seseorang untuk kedua kalinya.”

Kalimat itu menghancurkannya.

Arman akhirnya menandatangani.

Perceraian kami selesai beberapa bulan kemudian.

Aku tidak langsung berpacaran dengan Galang.

Aku pergi ke psikolog.

Aku kembali bekerja.

Berat badanku perlahan naik.

Aku belajar makan tanpa merasa mual karena cemas. Belajar tidur tanpa menunggu suara mobil. Belajar bahwa kesendirian tidak sama dengan ditinggalkan.

Galang tetap ada.

Tidak mendesak.

Setiap pagi dia mengirim foto aneh.

Awan berbentuk kelinci.

Kopi dengan busa mirip bebek.

Kucing tidur di atas motor.

Setahun kemudian, pada ulang tahunku, Galang datang membawa kue kecil.

Kami duduk di balkon apartemen.

Aku memotong bagian paling bagus dan menyodorkannya.

“Ini buat kamu.”

Galang menggigit langsung dari garpu di tanganku.

“Enak.”

Aku tertawa.

Tiba-tiba mataku panas.

Galang langsung panik.

“Lho, kenapa?”

Aku menggeleng sambil tertawa dan menangis sekaligus.

“Enggak apa-apa.”

Malam itu Galang tidak melamarku.

Dia hanya menggenggam tanganku.

Dan untuk pertama kalinya aku mengerti bahwa cinta yang sehat tidak selalu datang dengan ledakan besar.

Kadang cinta hanya berupa seseorang yang menerima potongan kue dari tanganmu tanpa membuatmu merasa tidak berharga.

Tiga bulan kemudian aku menerima sebuah paket.

Tidak ada nama pengirim.

Di dalamnya ada dompet kulit milik Arman.

Aku mengenalinya seketika.

Dompet yang pernah dia pertaruhkan nyawanya untuk kembali mencarinya saat bencana.

Aku membukanya.

Foto Melati sudah tidak ada.

Sebagai gantinya terdapat selembar kertas kecil.

Tulisan tangan Arman.

Aku pernah mengira mencintai seseorang berarti tidak pernah melepaskannya. Ternyata aku baru mengerti bahwa kadang satu-satunya cara mencintai seseorang adalah berhenti menyakitinya.

Aku menatap tulisan itu cukup lama.

Kemudian menemukan sesuatu di bawahnya.

Foto lama.

Aku dan Melati.

Diambil saat tahun kedua kuliah.

Kami sedang tertawa sambil memegang sertifikat lomba.

Di belakang foto ada tulisan tangan Melati.

Aku membacanya perlahan.

Kalau suatu hari orang-orang menyalahkan Laras karena aku, jangan percaya mereka. Dia bukan musuhku. Dia salah satu dari sedikit orang yang pernah baik kepadaku.

Tanganku mulai gemetar.

Di sudut bawah tertulis tanggal.

Tiga hari sebelum Melati meninggal.

Aku langsung memahami semuanya.

Foto itu bukan baru ditemukan.

Foto itu sudah ada selama ini.

Arman pasti menemukannya di antara barang-barang Melati jauh sebelum menikahiku.

Artinya, setidaknya pernah ada bukti bahwa Melati sendiri tidak menyalahkanku.

Namun Arman memilih kebenciannya.

Mungkin karena lebih mudah mencari seseorang untuk dihukum daripada menerima kenyataan bahwa orang yang kita cintai bisa pergi tanpa ada satu penjahat yang bisa disalahkan.

Aku tidak menelepon Arman.

Aku juga tidak marah.

Aku memasukkan foto Melati ke sebuah kotak, tetapi membuang dompet itu.

Beberapa minggu kemudian, aku pergi sendiri ke makam Melati.

Aku membawa bunga putih.

Aku duduk cukup lama di samping nisannya.

“Aku dulu marah sama kamu,” bisikku. “Padahal ternyata kita berdua cuma terluka oleh hal yang berbeda.”

Angin bergerak pelan di antara pepohonan.

Aku tersenyum.

“Aku tidak akan membawa semua ini lagi.”

Ketika berdiri untuk pergi, ponselku berbunyi.

Pesan dari Galang.

Ada foto langit biru dengan satu awan besar.

Menurutmu ini bentuk gajah atau kentang?

Aku tertawa.

Lalu berjalan meninggalkan makam sambil mengetik balasan.

Di belakangku ada masa lalu yang akhirnya bisa kutinggalkan.

Di depanku tidak ada kepastian bahwa hidup akan selalu baik.

Tetapi untuk pertama kalinya, aku tidak membutuhkan kepastian itu.

Karena akhirnya aku memahami sesuatu yang tidak pernah kupahami selama menikah dengan Arman.

Mencintai seseorang tidak pernah mengharuskan kita menghancurkan diri sendiri untuk membuktikannya.

Dan memaafkan seseorang tidak berarti kita harus kembali kepadanya.

Kadang akhir paling bahagia bukan ketika orang yang pernah menyakiti kita akhirnya mencintai kita.

Kadang akhir paling bahagia adalah ketika cintanya sudah tidak lagi kita butuhkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang