“Pak, tolong agak cepat.”
Sopir taksi melirikku melalui kaca spion, lalu mengangguk. Mobil bergerak meninggalkan kompleks apartemen ketika aku masih menatap gedung tinggi di belakang kami.
Lampu apartemen di lantai atas menyala terang.
Aku menggenggam pegangan kereta dorong sampai buku-buku jariku memutih.
Jangan turun.
Jangan mengejar.
Biarkan aku pergi.

Aku mengulang kalimat itu dalam hati, meski ada bagian kecil dalam diriku yang justru berharap pintu lobi terbuka dan Aditya muncul.
Tidak ada siapa-siapa.
Lima belas menit kemudian, ponselku bergetar.
Aditya.
Aku menatap namanya cukup lama sebelum akhirnya mematikan ponsel.
“Mama mau ke mana?”
Arka tiba-tiba bertanya dengan suara mengantuk.
Aku menoleh. Bocah itu sudah membuka mata, sementara Nino masih tidur dengan kepala miring.
“Kita jalan-jalan.”
“Papa ikut?”
Dadaku terasa seperti ditusuk.
“Papa sibuk.”
Arka mengerucutkan bibir.
“Papa janji besok bikin pancake.”
Aku tidak menjawab.
Setibanya di Stasiun Gambir, langit masih gelap. Aku membayar taksi, menurunkan koper, lalu berjuang mendorong kereta sambil menjaga dua anak yang masih setengah tidur.
Aku baru mencapai pintu masuk ketika seseorang berkata di belakangku.
“Bu Tiara.”
Langkahku berhenti.
Dua pria berjas berdiri beberapa meter dariku.
Aku mengenali salah satunya.
Dimas, sekretaris pribadi Aditya sebelum kecelakaan.
Wajahku langsung pucat.
“Pak Aditya meminta kami menjemput Ibu.”
“Aku tidak mau pulang.”
Dimas tidak bergerak.
“Beliau sudah menduga Ibu akan mengatakan itu.”
“Kalau begitu bilang padanya aku menculik anak-anaknya.”
Dimas terdiam.
Aku menarik napas dan menatap lurus kepadanya.
“Suruh dia lapor polisi.”
Untuk pertama kalinya, ekspresi Dimas berubah aneh.
“Bu Tiara, Pak Aditya tidak menyuruh kami menghentikan Ibu.”
Aku membeku.
“Lalu?”
“Beliau hanya meminta saya menyerahkan ini.”
Dimas mengulurkan sebuah amplop cokelat.
Aku menerimanya dengan curiga.
Di dalamnya ada empat tiket kereta menuju Yogyakarta.
Empat.
Bukan tiga.
Di belakang tiket terakhir terdapat tulisan tangan yang sangat kukenal.
Kamu lupa membelikan tiket untuk suamimu.
Aku hampir menjatuhkan amplop itu.
Suara langkah terdengar dari belakang.
Aku berbalik.
Aditya berjalan ke arah kami dengan kemeja hitam dan celana panjang yang dipakainya tadi malam. Rambutnya sedikit berantakan, seolah dia benar-benar baru bangun.
Dia berhenti di depanku.
“Kabur jam empat pagi saat hamil tujuh bulan?”
Aku tidak bisa berkata-kata.
Aditya mengambil koper dari tanganku.
“Tiara, kemampuanmu merencanakan pelarian ternyata tidak meningkat sejak tiga tahun lalu.”
Aku menatapnya.
“Kamu ingat?”
Dia tidak menjawab.
Sebaliknya, dia berjongkok di depan Arka.
“Kenapa bangun pagi sekali?”
“Jalan-jalan sama Mama.”
“Begitu?”
Arka mengangguk.
“Papa ikut?”
Aditya melirikku sekilas.
“Tanya Mama.”
Aku menggigit bibir.
“Aditya, kita bicara.”
“Boleh.”
“Berdua.”
Dia berdiri.
Kami berjalan beberapa meter menjauh.
Aku tidak tahu harus memulai dari mana.
Akhirnya hanya satu kalimat yang keluar.
“Sejak kapan?”
“Dua bulan lalu.”
Kakiku seperti kehilangan tenaga.
Dua bulan.
Selama dua bulan dia tidur di sampingku, menciumku, memasak untukku, mengantar anak-anak ke sekolah, dan berpura-pura masih tidak ingat.
“Kamu membohongiku.”
Aditya menatapku datar.
Aku hampir tertawa karena ironisnya.
Aku, manusia yang selama tiga tahun membangun pernikahan dari kebohongan, sekarang menuduhnya berbohong.
“Ya,” katanya. “Rasanya tidak menyenangkan, kan?”
Aku menunduk.
“Aku minta maaf.”
“Untuk apa?”
“Semua.”
“Spesifik.”
Aku menatapnya dengan mata panas.
“Karena mengaku sebagai istrimu. Karena memanfaatkan kondisimu. Karena membuatmu percaya kita menikah. Karena…”
Suaraku patah.
“Karena membuatmu hidup tiga tahun dalam kebohongan.”
Aditya diam cukup lama.
“Aku sudah menyelidikimu.”
“Aku tahu.”
“Dengar sampai selesai.”
Aku mengangkat kepala.
“Setelah ingatanku kembali, hal pertama yang kuingat adalah bahwa sebelum kecelakaan kita tidak menikah.”
Air mataku mulai turun.
“Aku tahu.”
“Aku juga ingat kamu cuma asistensku.”
“Iya.”
“Kamu sering membawakan kopi tanpa gula meskipun aku berkali-kali bilang jangan terlalu panas.”
Aku terdiam.
“Kamu selalu pulang paling akhir kalau ada laporan bulanan. Kamu pernah diam-diam mengganti dasiku sebelum presentasi karena ada noda tinta.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Kamu ingat itu?”
“Aku ingat semuanya.”
Dia mendekat sedikit.
“Aku juga ingat malam sebelum kecelakaan.”
Jantungku berhenti sesaat.
Aditya menatap mataku.
“Kamu mengundurkan diri.”
Aku membeku.
Kenangan yang selama ini paling ingin kulupakan kembali menghantam.
Malam itu aku menyerahkan surat pengunduran diri karena tidak sanggup lagi bekerja di dekat pria yang kucintai diam-diam selama hampir empat tahun.
Aditya bahkan tidak bertanya kenapa.
Dia hanya berkata, “Baik. HRD akan mengurusnya.”
Aku pulang sambil menangis.
Beberapa jam kemudian, mobilnya mengalami kecelakaan.
“Aku pergi ke rumah sakit karena Dimas menelepon semua staf,” bisikku.
“Aku tahu.”
“Ketika kamu bertanya siapa aku… aku tidak tahu kenapa aku mengatakan itu.”
“Kamu tahu.”
Aku terdiam.
Aditya menjawab untukku.
“Karena kamu mencintaiku.”
Aku menutup mata.
Itulah kebenaran paling memalukan dalam hidupku.
“Aku egois.”
“Benar.”
“Aku keterlaluan.”
“Benar.”
“Kamu boleh membenciku.”
“Bagian itu yang sulit.”
Aku membuka mata.
Aditya menatap Arka dan Nino yang sedang bermain dengan Dimas.
“Dua bulan terakhir aku mencari bukti bahwa tiga tahun hidupku dicuri.”
Aku menahan napas.
“Aku memeriksa rekeningmu. Riwayat pekerjaanmu. Catatan rumah sakit. Semua orang yang pernah berhubungan denganmu.”
“Dan?”
“Dan aku menemukan sesuatu yang sangat menjengkelkan.”
“Apa?”
“Kamu hampir tidak pernah menggunakan uangku untuk dirimu sendiri.”
Aku terdiam.
“Gajiku selama tiga tahun masuk ke rekening bersama. Kartu kredit yang kuberikan hampir semuanya dipakai untuk kebutuhan rumah dan anak-anak. Bahkan tas mahal yang kukira kubelikan untukmu ternyata kamu kembalikan.”
Aku menunduk.
“Aku tidak suka tasnya.”
“Bohong.”
Aditya mengeluarkan ponselnya.
“Aku juga menemukan bahwa ketika perusahaan mengalami masalah likuiditas dua tahun lalu, kamu menjual apartemen peninggalan ibumu.”
Wajahku berubah.
“Dari mana kamu tahu?”
“Karena uangnya masuk ke perusahaan investasi kecil atas nama orang lain, lalu digunakan membeli obligasi anak perusahaan Pratama Group.”
Aku tidak menjawab.
Waktu itu Aditya tidak ingat apa pun tentang bisnis. Dewan direksi hampir menyingkirkannya. Aku tidak punya kemampuan menyelamatkan perusahaan, jadi aku melakukan satu-satunya hal yang bisa kulakukan.
Menaruh seluruh tabunganku pada perusahaan yang dibangunnya.
Aditya menatapku lama.
“Kalau tujuanmu uang, Tiara, kamu adalah penipu paling bodoh yang pernah kutemui.”
Aku tertawa kecil di antara air mata.
“Berarti tetap penipu.”
“Ya.”
Dia tidak menyangkalnya.
Itu justru membuat dadaku semakin sakit.
“Aku akan pergi. Anak-anak bisa tetap bersamamu kalau kamu mau. Aku tidak akan menuntut apa pun.”
“Kenapa?”
“Karena mereka anakmu.”
“Siapa bilang?”
Aku langsung menatapnya.
Aditya mengeluarkan sebuah amplop putih.
Tanganku gemetar ketika melihat logo laboratorium.
Tes DNA.
Dunia di sekelilingku terasa sunyi.
“Kamu melakukan tes DNA?”
“Ya.”
Aku mundur.
Entah kenapa, meski tahu Arka dan Nino adalah anak kandungnya, tetap saja rasanya menyakitkan mengetahui dia sampai meragukan mereka.
“Dan hasilnya?”
“99,99 persen.”
Aku mengembuskan napas.
Aditya memasukkan amplop itu kembali.
“Awalnya aku marah karena kamu berbohong. Lalu aku marah karena aku harus melakukan tes itu. Setelah hasilnya keluar, aku malah lebih marah lagi.”
“Kenapa?”
“Karena aku sadar masalah sebenarnya bukan siapa ayah mereka.”
Tatapannya turun ke perutku.
“Masalahnya adalah kenapa selama tiga tahun aku tidak pernah mempertanyakan bagaimana aku bisa jatuh cinta kepadamu.”
Aku membeku.
Aditya melanjutkan.
“Kalau hubungan kita benar-benar cuma kebohongan, seharusnya setelah ingatanku kembali aku merasa jijik setiap kali kamu menyentuhku.”
Aku tidak bergerak.
“Tapi malam pertama setelah ingatanku pulih, kamu tertidur sambil memegang kemejaku karena takut aku pergi.”
Suaranya menjadi lebih rendah.
“Aku tidak melepaskan tanganmu.”
Air mataku jatuh lagi.
“Besoknya kamu muntah karena kehamilan dan memarahiku karena salah membeli mangga. Aku masih pergi mencari mangga yang kamu mau.”
Aku tertawa sambil menangis.
“Karena kamu sudah terbiasa.”
“Mungkin.”
Aditya mengangguk.
“Tapi manusia juga bisa terbiasa meninggalkan sesuatu yang tidak penting.”
Dia menatapku.
“Aku tidak bisa meninggalkanmu.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
“Jangan mengatakan itu hanya karena anak-anak.”
“Aku belum selesai.”
Aditya mengambil sesuatu dari saku celananya.
Sebuah kotak kecil.
Aku menatapnya dengan bingung.
Ketika kotak itu dibuka, ada cincin sederhana di dalamnya.
“Ini apa?”
“Masalah lain yang ditemukan penyelidikku.”
“Apa?”
“Ternyata kita memang tidak pernah menikah secara hukum.”
Aku menunduk.
“Tentu saja.”
“Selama tiga tahun kamu mengisi semua formulir rumah sakit sebagai istriku, tetapi status resmi kita tidak pernah berubah.”
Aku sudah tahu itu.
Karena itulah aku selalu takut.
Suatu hari kebohongan itu akan terbuka hanya dengan satu pemeriksaan dokumen.
Aditya menghela napas.
“Jadi sekarang aku punya masalah administratif.”
Aku menatapnya.
Dia tiba-tiba berlutut.
Di tengah Stasiun Gambir.
Aku benar-benar panik.
“Aditya, berdiri!”
Beberapa orang mulai melihat.
Arka bahkan berteriak dari kejauhan.
“Papa jatuh!”
Aditya tidak peduli.
“Tiara Maheswari.”
Aku menangis semakin keras.
“Jangan.”
“Dulu kamu memutuskan sendiri bahwa kamu istriku.”
Aku menutupi wajah.
“Jangan diungkit sekarang.”
“Kali ini giliranku memutuskan.”
Dia mengangkat cincin itu.
“Mau menikah denganku secara sungguhan?”
Aku tidak bisa menjawab.
“Aku sudah menipu kamu.”
“Aku tahu.”
“Aku bisa saja berbohong lagi.”
“Aku punya tim audit.”
Aku tertawa di tengah tangis.
“Aku tidak pantas.”
Ekspresi Aditya berubah.
Dia berdiri perlahan.
“Jangan menentukan itu untukku.”
Aku terdiam.
“Kesalahanmu tetap kesalahan. Aku tidak akan berpura-pura tiga tahun lalu kamu melakukan sesuatu yang benar.”
Aku mengangguk sambil menangis.
“Tapi tiga tahun setelahnya juga nyata. Arka nyata. Nino nyata. Anak di perutmu nyata. Malam-malam ketika kita bergantian menjaga mereka saat demam juga nyata.”
Tangannya menggenggam tanganku.
“Dan perasaanku sekarang nyata.”
Aku menatap cincin itu lama sekali.
“Kalau suatu hari kamu menyesal?”
“Aku akan menyalahkan diriku sendiri.”
“Kalau ingatanmu hilang lagi?”
Kali ini Aditya tersenyum.
“Jangan mengaku jadi istriku lagi.”
Aku hampir tertawa.
“Kenapa?”
“Karena setelah kita menikah, kamu tinggal menunjukkan buku nikah.”
Aku akhirnya menangis sambil memukul dadanya.
Aditya memelukku.
Dari belakang terdengar tepuk tangan kecil.
Arka dan Nino ternyata ikut bertepuk tangan meskipun jelas tidak memahami apa yang terjadi.
Kami tidak jadi naik kereta pagi itu.
Tiga minggu kemudian, kami menikah secara resmi dalam acara sederhana yang hanya dihadiri keluarga dekat dan beberapa sahabat.
Tidak ada pesta besar.
Tidak ada ratusan tamu.
Aditya hanya mengatakan dia sudah pernah menjalani tiga tahun pernikahan tanpa pernikahan, jadi kali ini dia ingin memulai dengan sesuatu yang benar.
Namun kejutan terakhir baru datang malam setelah akad.
Aku sedang merapikan dokumen ketika menemukan sebuah map lama di laci ruang kerja.
Di dalamnya terdapat beberapa dokumen dari tiga tahun lalu.
Salah satunya membuat tanganku membeku.
Surat pengunduran diriku.
Di pojok kanan atas terdapat tulisan tangan Aditya.
Tolak pengunduran diri. Pindahkan Tiara langsung di bawah koordinasi saya mulai bulan depan.
Tanggalnya sehari sebelum kecelakaan.
Aku membawa kertas itu ke kamar.
“Aditya.”
Dia sedang memasangkan piyama Nino.
“Apa?”
Aku menunjukkan dokumen itu.
Wajahnya berubah sedikit.
“Apa maksudnya?”
Dia terdiam.
“Bukankah malam itu kamu bilang HRD akan mengurus pengunduran diriku?”
“Iya.”
“Tapi kamu menulis supaya ditolak.”
Aditya mengangkat Nino ke tempat tidur, menyelimutinya, lalu baru menatapku.
“Aku memang berniat menolaknya.”
“Kenapa?”
Dia terlihat tidak nyaman untuk pertama kalinya.
“Karena asistensku bagus.”
Aku menyipitkan mata.
“Aditya.”
Dia menghela napas.
“Karena aku tidak ingin kamu pergi.”
Jantungku berdebar.
“Sejak kapan?”
“Entahlah.”
“Bohong.”
Dia berjalan melewatiku.
Aku langsung mengejarnya.
“Aditya Pratama!”
Dia berhenti di ambang pintu.
Lalu tanpa menoleh, dia berkata pelan.
“Mungkin jauh sebelum kecelakaan.”
Aku benar-benar terpaku.
Selama bertahun-tahun aku mengira kisah kami dimulai dari sebuah kebohongan di kamar rumah sakit.
Ternyata tidak.
Aku memang berbohong ketika mengatakan aku adalah istrinya.
Tetapi mungkin, tanpa pernah kuketahui, aku tidak sepenuhnya berbohong ketika menangis dan berkata bahwa kami saling mencintai.
Aditya hanya kehilangan ingatan.
Sedangkan aku terlalu takut untuk percaya bahwa sebelum kehilangan semua kenangannya, mungkin hatinya sudah lebih dulu mengingatku.
