Ratna menatap ponselnya tanpa berkedip.
Ruangan kantor Aris mendadak terasa terlalu sunyi.
“Apa yang mau Papa ambil?” tanyanya akhirnya.
Suara Kevin terdengar lebih pelan.
“Perusahaan, Ma. Dan bukan cuma perusahaan.”
Ratna merasakan tengkuknya dingin.
Kevin menjelaskan bahwa tiga hari sebelumnya ia sedang menguji sebuah program keamanan untuk persiapan kompetisi coding. Karena penasaran dengan sistem lama milik PT Cipta Integra, ia mencoba memeriksa server cadangan yang pernah diberikan Hendra kepadanya untuk belajar.
Awalnya Kevin hanya menemukan folder administratif biasa.
Namun di salah satu direktori tersembunyi terdapat salinan dokumen yang seharusnya tidak pernah bisa diakses olehnya.
Perjanjian pengalihan saham.
Surat kuasa.
Draf perubahan struktur kepemilikan.
Dan beberapa dokumen yang menggunakan tanda tangan digital Ratna.
Masalahnya, Ratna tidak pernah menandatangani dokumen tersebut.
“Ma, ada surat persetujuan yang seolah-olah dibuat Mama untuk memindahkan dua puluh lima persen saham Mama ke perusahaan lain.”
Ratna langsung menoleh kepada Aris.
Pengacara itu mengangkat alis.
“Perusahaan apa?”
Kevin menjawab, “PT Meridian Solusi Global.”
Aris segera membuka laptop.
Jarinya bergerak cepat di atas keyboard.
Ratna menunggu dengan dada sesak.
Beberapa menit kemudian wajah Aris berubah.
“Pemegang saham mayoritas perusahaan ini adalah Siska Melani.”
Ratna menutup mata.
Semua kepingan mendadak mulai tersusun.
Enam tahun Siska mendampingi Hendra.
Enam tahun pula, jika perkiraan Ratna benar, anak kecil itu hadir dalam kehidupan mereka.
Namun ternyata hubungan itu bukan sekadar perselingkuhan.
Ada sesuatu yang jauh lebih terencana.
Kevin melanjutkan.
“Aku juga menemukan jadwal transaksi. Pengalihan saham final rencananya dilakukan minggu depan.”
“Bagaimana caranya kalau Mama tidak tanda tangan?” tanya Ratna.
“Hendra mungkin menggunakan sertifikat elektronik lama Ibu,” jawab Aris sebelum Kevin sempat menjawab. “Kalau aksesnya belum dicabut, secara teknis penyalahgunaan masih mungkin dilakukan.”
Ratna menatap pengacaranya.
“Jadi dia benar-benar berniat mengambil sahamku?”
Aris mengangguk perlahan.
“Kalau dokumen yang Kevin temukan asli, kemungkinan besar iya.”
Ratna merasakan sakit yang aneh.
Bukan lagi sakit seorang istri yang mengetahui suaminya berselingkuh.
Ini terasa seperti menyadari bahwa dua puluh satu tahun kehidupannya sedang dihapus sedikit demi sedikit oleh orang yang paling dipercayainya.
Namun Kevin belum selesai.
“Ma, itu belum semuanya.”
Ratna menegang.
Kevin kemudian mengirimkan sebuah berkas terenkripsi kepada Aris.
Setelah berhasil membukanya, muncul laporan transaksi selama hampir empat tahun.
Puluhan transfer.
Jumlahnya beragam.
Sebagian ratusan juta.
Sebagian mencapai miliaran rupiah.
Semua berasal dari beberapa rekening perusahaan menuju entitas yang terhubung dengan PT Meridian Solusi Global.
Aris membaca dalam diam.
“Kalau angka ini benar,” katanya akhirnya, “jumlahnya lebih dari tiga puluh dua miliar rupiah.”
Ratna memegang tepi meja.
“Hendra mengambil uang perusahaan?”
“Belum tentu secara langsung,” jawab Aris. “Tapi ada indikasi transaksi afiliasi yang disembunyikan.”
Ratna menatap foto Hendra di ponselnya.
Pria yang selama bertahun-tahun selalu berkata bahwa setiap perjalanan dinas, setiap rapat malam, setiap akhir pekan yang hilang, dilakukan demi perusahaan.
Ternyata mungkin perusahaan justru sedang dipakai untuk membangun kehidupan lain.
“Aku mau pulang,” kata Ratna.
Aris langsung menggeleng.
“Jangan konfrontasi Pak Hendra.”
“Aku tidak akan konfrontasi.”
Ratna memasukkan ponselnya ke tas.
“Aku akan makan malam bersamanya.”
Aris dan Kevin sama-sama diam.
Malam itu, Hendra pulang pukul sembilan.
Seperti biasa.
Tidak terburu-buru.
Tidak tampak bersalah.
Dia bahkan meletakkan sebuah kotak kecil berisi kue di meja makan.
“Aku belikan cheesecake favoritmu.”
Ratna yang sedang duduk membaca majalah mengangkat wajah.
“Rapat Surabaya bagaimana?”
Hendra membuka kancing jas.
“Panjang sekali. Investor baru banyak maunya.”
Ratna tersenyum tipis.
“Capek?”
“Banget.”
Hendra duduk di hadapannya.
Untuk beberapa detik Ratna hanya memperhatikan wajah lelaki yang telah hidup bersamanya sejak usia dua puluh tujuh tahun.
Wajah itu begitu dikenalnya.
Kerutan di sekitar mata.
Cara mengusap dagu ketika berpikir.
Kebiasaan mengetuk meja dengan jari telunjuk.
Namun malam itu Ratna merasa sedang duduk di hadapan orang asing.
“Kevin mana?” tanya Hendra.
“Di kamar.”
Hendra mengangguk.
Tidak bertanya lebih jauh.
Ratna nyaris tertawa.
Bahkan setelah delapan belas tahun, lelaki itu masih tidak tahu bahwa malam itu Kevin biasanya mengikuti kelas daring persiapan kompetisi.
Ratna kemudian bertanya dengan nada ringan.
“Kalau suatu hari perusahaan harus memilih antara keluarga dan bisnis, menurutmu mana yang harus diselamatkan?”
Hendra mengerutkan kening.
“Pertanyaan apa itu?”
“Cuma penasaran.”
Hendra tersenyum.
“Bisnis dulu. Karena kalau bisnis selamat, keluarga juga ikut selamat.”
Jawaban itu membuat Ratna semakin yakin.
Dia berdiri.
“Selamat malam, Hendra.”
Hendra menatap punggungnya.
“Cheesecake-nya tidak dimakan?”
Ratna berhenti sebentar.
“Besok saja.”
Keesokan paginya, Ratna melakukan sesuatu yang selama dua puluh satu tahun tidak pernah dia lakukan.
Dia mendatangi kantor pusat PT Cipta Integra tanpa memberi tahu Hendra.
Bukan sebagai istri direktur utama.
Melainkan sebagai pemegang saham.
Ratna meminta bertemu dengan kepala audit internal dan komisaris independen.
Aris ikut bersamanya.

Selama hampir tiga jam mereka memeriksa dokumen.
Temuan Kevin ternyata bukan rekayasa.
Ada transaksi tidak wajar.
Ada vendor yang tidak memiliki aktivitas operasional jelas.
Dan beberapa keputusan direksi dilakukan tanpa persetujuan sesuai prosedur.
Lebih buruk lagi, sebagian rekening tujuan memiliki hubungan tidak langsung dengan Siska.
Komisaris independen, Budi Santoso, terlihat pucat.
“Pak Hendra mengatakan semua ini bagian dari strategi ekspansi.”
“Ekspansi ke mana?” tanya Ratna.
Budi terdiam.
Ratna meletakkan daftar transaksi di meja.
“Ke rekening asisten pribadinya?”
Sore itu, rapat darurat dewan komisaris dijadwalkan dua hari kemudian.
Ratna tahu Hendra pasti segera mendengar sesuatu.
Namun dia tidak menyangka reaksinya akan datang secepat itu.
Pukul tujuh malam, Hendra masuk ke rumah dengan wajah tegang.
“Apa yang kamu lakukan di kantor?”
Ratna sedang menyiram tanaman.
Dia tidak menoleh.
“Memeriksa aset yang sebagian masih milikku.”
“Jangan bermain-main dengan urusan perusahaan.”
Ratna meletakkan penyiram.
“Perusahaan itu bisa bertahan dua belas tahun lalu karena tanah warisan ayahku dijual.”
Hendra terdiam sesaat.
Lalu ekspresinya berubah dingin.
“Siapa yang menghasutmu?”
Ratna akhirnya menatapnya.
“Menarik. Setelah dua puluh satu tahun, setiap kali aku mulai berpikir sendiri, menurutmu pasti ada orang lain yang menghasut.”
Hendra mendekat.
“Apa yang kamu tahu?”
Ratna tersenyum tipis.
Pertanyaan itu sudah cukup menjadi jawaban.
Malam berikutnya, Hendra tidak pulang.
Paginya, Ratna menerima pesan dari nomor tak dikenal.
Sebuah alamat apartemen di kawasan Senopati.
Di bawahnya hanya ada satu kalimat.
Kalau Ibu ingin tahu kebenaran tentang anak itu, datang sendiri.
Aris melarang Ratna pergi.
Namun Ratna tetap datang dengan pengemudi menunggu di bawah.
Pintu apartemen dibuka oleh Siska.
Perempuan itu tampak jauh berbeda dibanding di mal.
Tidak ada riasan tebal.
Tidak ada pakaian formal.
Wajahnya pucat.
“Ayo masuk, Bu.”
Ratna berdiri di ruang tamu kecil.
Di sudut ruangan terdapat mainan anak-anak.
Beberapa foto tergantung di dinding.
Hendra bersama anak laki-laki yang dilihat Ratna di mal.
Namun anehnya, hampir tidak ada foto Siska bersama mereka.
Ratna langsung bertanya.
“Dia anak Hendra?”
Siska menunduk.
“Namanya Rafi.”
“Itu bukan jawaban.”
Siska mengangkat wajah.
“Secara biologis, iya.”
Ratna merasakan dadanya seperti dipukul.
Meskipun sudah menduga, mendengar kalimat itu secara langsung tetap berbeda.
“Sejak kapan?”
“Enam tahun.”
Ratna tertawa kecil tanpa kegembiraan.
“Tepat sekali.”
Siska segera berkata, “Tapi Ibu salah kalau mengira saya yang merencanakan semuanya.”
Ratna memandangnya tajam.
Siska mengambil sebuah map dari laci.
“Saya memang bersalah karena menjalin hubungan dengan suami Ibu. Saya tidak akan membela diri.”
Tangannya gemetar.
“Tapi perusahaan-perusahaan itu bukan milik saya dalam arti sebenarnya.”
Ratna membuka map.
Di dalamnya terdapat beberapa akta.
Nama Siska memang tercantum sebagai pemegang saham.
Namun ada perjanjian terpisah yang menyatakan bahwa seluruh keputusan keuangan dikendalikan oleh Hendra.
“Saya cuma dipakai sebagai nama,” kata Siska.
“Dan kamu menurut?”
Siska tersenyum pahit.
“Awalnya karena saya mencintainya.”
Ratna menatapnya.
“Lalu?”
“Setelah Rafi lahir, saya ingin berhenti.”
Siska menarik napas.
“Tapi Hendra mulai menggunakan Rafi untuk menahan saya. Dia bilang kalau saya meninggalkan semuanya, dia akan memastikan saya kehilangan hak asuh karena secara finansial saya dianggap bergantung padanya.”
Ratna mengepalkan rahang.
Siska kemudian mengeluarkan sebuah perekam suara kecil.
“Saya sudah menyimpan beberapa percakapan.”
Ratna tidak langsung mengambilnya.
“Kenapa baru sekarang?”
“Karena minggu lalu saya dengar dia bicara dengan seseorang tentang rencana memindahkan saham Ibu.”
Siska menatap Ratna.
“Setelah itu, dia bilang akan menjual sebagian perusahaan dan pindah ke Singapura.”
Ratna membeku.
“Dengan kamu?”
Siska menggeleng.
“Tidak.”
Air mata muncul di mata perempuan itu.
“Tanpa saya.”
Untuk pertama kalinya Ratna memahami bahwa Siska mungkin bukan sekadar pasangan rahasia.
Perempuan itu juga korban dari lelaki yang sama.
Dua hari kemudian, ruang rapat lantai dua puluh satu PT Cipta Integra dipenuhi anggota direksi dan komisaris.
Hendra masuk dengan setelan hitam.
Dia terlihat sangat tenang.
Sampai melihat Ratna duduk di sisi kanan meja bersama Aris.
Kevin juga ada di sana.
Wajah Hendra berubah.
“Kenapa Kevin di sini?”
Ratna menjawab, “Karena dia yang menemukan semuanya.”
Hendra menatap putranya.
Ekspresinya bukan bangga.
Melainkan marah.
“Kamu masuk ke server perusahaan?”
Kevin tidak bergeming.
“Aku masuk ke server cadangan yang Papa sendiri kasih ke aku.”
“Kamu tidak punya hak.”
Kevin tersenyum tipis.
“Aneh. Papa bicara soal hak setelah menggunakan tanda tangan digital Mama tanpa izin.”
Suasana ruangan langsung membeku.
Aris mulai memaparkan dokumen.
Transaksi.
Perusahaan cangkang.
Rencana pengalihan saham.
Rekaman percakapan.
Ketika nama Siska disebut, Hendra membanting meja.
“Perempuan itu berbohong!”
Pintu ruang rapat kemudian terbuka.
Siska masuk.
Hendra memucat.
Di belakangnya ada dua petugas dari divisi kepatuhan perusahaan serta seorang penyidik yang sebelumnya sudah menerima laporan resmi dari kuasa hukum Ratna.
Siska meletakkan perekam suara di meja.
“Aku sudah terlalu lama berbohong untukmu, Hendra.”
Untuk pertama kali sejak Ratna mengenalnya, Hendra kehilangan kendali.
“Kalian semua menikmati hasil kerjaku!”
Ratna berdiri.
“Hasil kerjamu?”
Suaranya tetap tenang.
“Tanah ayahku yang menyelamatkan perusahaan.”
Dia menunjuk dokumen investasi.
“Jaringan keluargaku yang membawa investor pertama.”
Kemudian Ratna menatap Kevin.
“Dan anak yang hampir tidak pernah kamu peluk sekarang justru menjadi orang yang menyelamatkan perusahaan dari ayahnya sendiri.”
Hendra menoleh kepada Kevin.
“Nak, dengarkan Papa.”
Kevin langsung memotong.
“Jangan panggil aku begitu hanya karena sekarang Papa butuh aku.”
Hendra membeku.
Kalimat itu terdengar jauh lebih menyakitkan dibanding tuduhan hukum mana pun.
Kevin menatap ayahnya.
“Seumur hidup aku pikir aku kurang pintar, kurang hebat, atau kurang membanggakan sehingga Papa tidak pernah punya waktu.”
Suaranya mulai bergetar.
“Ternyata Papa punya waktu.”
Dia melirik ke arah Siska.
“Hanya saja bukan untuk kami.”
Ratna menunduk.
Itulah pertama kalinya hari itu air matanya jatuh.
Bukan karena Hendra.
Melainkan karena akhirnya dia menyadari luka yang selama ini disimpan anaknya sendirian.
Rapat tersebut berakhir dengan penonaktifan sementara Hendra dari posisi direktur utama sambil menunggu audit independen dan proses hukum lebih lanjut.
Beberapa minggu kemudian, Ratna resmi mengajukan gugatan cerai.
Kali ini dia menandatanganinya tanpa ragu.
Audit perusahaan berlangsung berbulan-bulan.
Sebagian dana berhasil dibekukan.
Sejumlah aset dikembalikan.
Kasus Hendra masuk ke proses hukum karena dugaan pemalsuan dokumen dan penyalahgunaan wewenang.
Siska bersedia menjadi saksi.
Ratna tidak pernah memaafkan perselingkuhan perempuan itu.
Namun dia juga tidak menggunakan Rafi sebagai alat balas dendam.
Anak kecil tersebut tidak memilih dilahirkan ke dalam kebohongan orang dewasa.
Setahun kemudian, Ratna berdiri di auditorium sebuah universitas di Jakarta.
Kevin baru saja memenangkan kompetisi keamanan siber tingkat Asia.
Ketika namanya diumumkan sebagai juara pertama, seluruh ruangan bertepuk tangan.
Kevin naik ke panggung.
Setelah menerima penghargaan, dia mencari seseorang di antara penonton.
Matanya menemukan Ratna.
Kevin mengangkat pialanya sedikit.
Ratna tersenyum sambil menangis.
Untuk pertama kalinya dia tidak memikirkan Hendra.
Tidak memikirkan perusahaan.
Tidak memikirkan dua puluh satu tahun yang terasa sia-sia.
Setelah acara selesai, Kevin menghampirinya.
“Mama bangga?”
Ratna memeluknya erat.
“Selalu.”
Kevin tertawa kecil.
“Padahal dulu Papa bilang aku terlalu banyak buang waktu di depan komputer.”
Ratna mengusap rambut putranya.
“Komputer itu justru membongkar semuanya.”
Kevin menatap ibunya beberapa detik.
Lalu berkata pelan, “Ma, sebenarnya waktu aku pertama kali menemukan folder rahasia Papa, aku hampir menghapus semuanya.”
Ratna terkejut.
“Kenapa?”
“Karena aku takut kalau kebenarannya keluar, keluarga kita hancur.”
Ratna terdiam.
Kevin kemudian tersenyum tipis.
“Tapi aku sadar sesuatu.”
“Apa?”
“Keluarga kita tidak hancur ketika rahasianya terbongkar.”
Dia menggenggam tangan ibunya.
“Keluarga kita sudah hancur sejak lama. Kita cuma terlalu sibuk mempertahankan bentuknya.”
Ratna tidak menjawab.
Dia menatap putranya, kemudian memandang langit Jakarta dari pintu kaca auditorium.
Selama dua puluh satu tahun Ratna percaya bahwa pengorbanan adalah bukti cinta.
Dia mengira semakin banyak yang dia tahan, semakin kuat keluarganya.
Ternyata dia salah.
Cinta tidak seharusnya meminta seseorang kehilangan harga dirinya.
Kesetiaan tidak berarti membiarkan kebohongan tumbuh tanpa batas.
Dan keluarga bukan tentang mempertahankan seseorang hanya karena telah hidup bersama terlalu lama.
Hari itu Ratna akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah dia pelajari selama dua puluh satu tahun pernikahan.
Kadang-kadang keberanian terbesar bukan bertahan.
Melainkan berani pergi setelah akhirnya tahu bahwa dirinya pantas mendapatkan kehidupan yang lebih jujur.
