20 MENIT SETELAH RESMI BERCERAI DI SURABAYA, MANTAN SUAMIKU PAMER BAYI BERSAMA WANITA LAIN.

Nadia belum sempat memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas ketika Risa menelepon untuk kedua kalinya.

“Mbak, Danu benar-benar masuk ke kamar Clarissa.”

Suara Risa kali ini lebih cepat, seolah takut seseorang akan merebut ponselnya.

Nadia berdiri di area penjemputan Bandara Soekarno-Hatta. Di depan mereka, sopir dari perusahaan barunya sudah menunggu sambil membawa papan kecil bertuliskan namanya.

“Apa yang dia bawa?” tanya Nadia.

“Entahlah. Tapi katanya ada hasil pemeriksaan kehamilan lama, percakapan, sama bukti transfer.”

Nadia memandang Aurel dan Rian yang berdiri di samping Mbok Darmi. Wajah kedua anak itu terlihat lelah setelah perjalanan.

“Risa,” kata Nadia pelan, “aku sudah tidak punya urusan dengan Arga.”

“Tapi Mbak harus tahu ini.”

“Kalau penting, kabari aku nanti.”

Nadia memutus sambungan.

Untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan, dia benar-benar merasa bahwa kehidupan Arga bukan lagi sesuatu yang harus dia awasi.

Mereka naik ke mobil dan bergerak menuju sebuah apartemen sewaan di kawasan Kuningan yang telah Nadia bayar untuk enam bulan pertama.

Di kursi belakang, Aurel bersandar di bahunya.

“Jakarta rumah kita sekarang?”

Nadia mengusap rambut putrinya.

“Iya.”

“Papa tahu alamatnya?”

Nadia terdiam sebentar.

“Papa bisa menghubungi kalian kalau Papa mau.”

Aurel mengangguk, lalu memejamkan mata.

Jawaban itu sederhana, tetapi Nadia tahu kehidupan mereka setelah hari itu tidak akan pernah sederhana lagi.

Sementara mobil yang membawa Nadia melaju di tengah kemacetan Jakarta, suasana di National Hospital Surabaya berubah menjadi kekacauan.

Danu berdiri tepat di depan pintu kamar Clarissa.

Arga menghadangnya.

“Keluar.”

Danu tidak bergerak.

“Aku cuma mau lima menit.”

“Aku bilang keluar.”

Arga hendak mendorong bahunya ketika Danu mengangkat sebuah map cokelat.

“Kalau aku keluar sekarang, kamu mungkin akan menghabiskan beberapa tahun lagi membesarkan anak yang bukan anakmu.”

Wajah Arga mengeras.

Di belakangnya, Rosma berdiri dengan wajah pucat.

Clarissa yang masih terbaring di ranjang langsung menangis.

“Danu, jangan.”

Kalimat itu justru membuat Arga menoleh tajam kepadanya.

“Kenapa dia tidak boleh bicara?”

Clarissa menutup wajah.

Danu meletakkan map di meja.

Di dalamnya terdapat salinan percakapan pribadi mereka, bukti transfer biaya pemeriksaan kehamilan, foto hasil ultrasonografi dari sebuah klinik di Malang, dan satu dokumen yang paling membuat Arga kehilangan suara.

Tanggal perkiraan usia kandungan.

Clarissa diketahui sudah hamil sebelum malam pertama kali dia mengaku tidur bersama Arga.

Arga membaca angka pada dokumen itu berkali-kali.

“Ini palsu.”

“Silakan cek kliniknya.”

Danu menatap Clarissa.

“Aku nggak pernah mau bikin keributan. Aku pergi karena dia bilang mau menggugurkan kandungan dan meminta aku jangan mencarinya lagi.”

Clarissa menangis semakin keras.

“Waktu itu aku takut!”

“Takut apa?” bentak Arga.

“Takut hidup miskin!”

Jawaban itu keluar begitu saja.

Ruangan mendadak sunyi.

Rosma memegang tepi meja.

Clarissa menatap Arga dengan mata sembab.

“Aku tahu kamu suka sama aku. Aku tahu keluargamu punya uang. Aku pikir kalau aku bilang bayi ini anakmu, semuanya akan lebih mudah.”

Arga seperti baru saja ditampar.

Selama berbulan-bulan dia menghina Nadia sebagai perempuan dingin yang tidak mampu menjaga keharmonisan rumah tangga.

Dia mengatakan kepada semua orang bahwa Clarissa membuatnya merasa dihargai sebagai laki-laki.

Sekarang perempuan yang dia bela itu mengaku memilihnya karena uang.

“Jadi selama ini…” suara Arga serak. “Kamu memang sudah tahu?”

Clarissa tidak menjawab.

Rosma tiba-tiba maju.

“Kamu perempuan nggak tahu diri!”

Dia hampir menarik selimut Clarissa, tetapi seorang perawat segera menghentikannya.

“Bu, mohon jangan membuat keributan. Pasien baru melahirkan.”

Arga mengambil map itu, lalu keluar dari kamar.

Langkahnya terhuyung.

Di lorong rumah sakit, dia melihat unggahan media sosialnya sendiri masih terbuka di layar ponsel.

Kini kami resmi menjadi keluarga yang utuh dan sesungguhnya.

Sudah ribuan orang melihat foto itu.

Sebagian memberi selamat.

Sebagian mulai mempertanyakan perubahan statusnya yang begitu cepat setelah perceraian.

Arga langsung menghapus unggahan tersebut.

Namun tangkapan layarnya sudah tersebar.

Malam itu juga, kabar tentang pertengkaran di rumah sakit sampai ke keluarga besar mereka.

Dan tanpa Nadia melakukan apa pun, kehidupan baru yang dibanggakan Arga mulai runtuh dari dalam.

Di Jakarta, Nadia justru tertidur untuk pertama kalinya tanpa suara mobil Arga pulang tengah malam.

Hari berikutnya, dia memasuki kantor barunya di lantai tinggi sebuah gedung kawasan SCBD.

Nadia mengenakan blazer krem sederhana dengan rambut dikuncir rapi.

Direktur Asia Pasifik dari perusahaan tersebut, seorang perempuan Prancis bernama Marianne Duval, menyambutnya di ruang konferensi.

“Welcome to Jakarta, Nadia.”

“Thank you.”

Marianne tersenyum.

“Kami sudah membaca presentasi strategi Anda. Kantor pusat sangat terkesan.”

Nadia tidak memperlihatkan rasa gugupnya.

Pekerjaan baru itu bukan sekadar promosi.

Gajinya hampir tiga kali lipat dari pendapatannya di Surabaya, ditambah bonus tahunan dan fasilitas pendidikan untuk kedua anaknya.

Tujuh bulan terakhir, ketika Arga mengira Nadia sibuk menangisi pernikahan mereka, Nadia sebenarnya sedang membangun pintu keluar.

Menjelang siang, ponselnya bergetar.

Arga.

Nadia membiarkannya.

Panggilan kedua masuk lima menit kemudian.

Kemudian pesan.

Aku perlu bicara.

Nadia tidak membalas.

Malamnya, Arga menelepon lagi.

Kali ini Nadia mengangkat karena Aurel sedang bertanya kapan ayahnya akan menelepon.

“Ada apa?”

Suara Arga terdengar berbeda.

Tidak lagi penuh kesombongan.

“Nadia, aku salah.”

Nadia menutup pintu balkon agar anak-anak tidak mendengar.

“Soal apa?”

“Semuanya.”

Hening beberapa detik.

“Aku tertipu Clarissa.”

Nadia memandang lampu gedung Jakarta dari lantai dua puluh satu.

“Lalu?”

Arga sepertinya tidak menyangka respons itu.

“Kamu nggak mau tahu hasil tes DNA?”

“Tidak.”

“Nad…”

“Apa pun hasilnya tidak akan mengubah fakta bahwa kamu berselingkuh ketika kita masih menikah.”

Arga terdiam.

“Aku mau ke Jakarta.”

“Untuk menemui anak-anak, silakan atur waktu. Tapi bukan untuk menemuiku.”

“Aku ingin memperbaiki semuanya.”

Nadia tersenyum tipis.

“Arga, rumah kita sudah kamu bakar sendiri. Aku hanya memilih keluar sebelum atapnya jatuh.”

Nadia memutus sambungan.

Tiga hari kemudian, hasil tes DNA resmi keluar.

Danu adalah ayah biologis bayi Clarissa.

Namun masalah Arga tidak berhenti di sana.

Audit internal di agensi digital miliknya menemukan beberapa transfer tidak wajar ke sebuah vendor yang ternyata terhubung dengan rekening Clarissa.

Selama hubungan mereka berlangsung, Arga menggunakan anggaran perusahaan untuk membayar apartemen, perjalanan, dan berbagai kebutuhan pribadi perempuan itu.

Salah satu investor utama mengajukan pemeriksaan.

Dua klien besar membatalkan kontrak.

Dalam waktu kurang dari sebulan, agensi yang selama bertahun-tahun dibanggakan Arga mulai menghadapi krisis arus kas.

Rosma menyalahkan Clarissa.

Arga menyalahkan Danu.

Namun untuk pertama kalinya, tidak ada seorang pun yang bisa menyalahkan Nadia.

Dua bulan berlalu.

Nadia mulai terbiasa dengan Jakarta.

Aurel masuk sekolah baru di kawasan Jakarta Selatan. Rian sudah memiliki teman bermain di apartemen. Mbok Darmi memilih tetap tinggal bersama mereka.

Suatu Sabtu pagi, resepsionis apartemen menelepon.

“Bu Nadia, ada tamu bernama Pak Arga.”

Nadia menutup mata beberapa detik.

“Biarkan naik.”

Arga muncul lima menit kemudian.

Nadia hampir tidak mengenalinya.

Tidak ada kemeja mahal.

Tidak ada jam tangan mewah.

Dia hanya memakai polo gelap dan celana panjang biasa.

Di tangannya ada dua kantong mainan.

Begitu pintu terbuka, Aurel berlari.

“Papa!”

Arga langsung berlutut dan memeluk putrinya.

Rian menatap ragu beberapa detik sebelum ikut mendekat.

Wajah Arga berubah.

Matanya basah.

Nadia berdiri beberapa meter dari mereka tanpa bicara.

Setelah hampir satu jam bermain, anak-anak dibawa Mbok Darmi ke taman apartemen.

Arga dan Nadia akhirnya duduk berhadapan.

“Aku kehilangan banyak hal,” kata Arga.

Nadia mengangguk.

“Aku dengar.”

“Agensi mungkin harus dijual.”

“Semoga kamu bisa menyelesaikannya.”

Arga menatap wajah mantan istrinya.

“Kok kamu bisa setenang ini?”

Nadia tersenyum tipis.

“Karena masalahmu bukan lagi hidupku.”

Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada makian apa pun.

Arga menunduk.

“Aku dulu benar-benar yakin kamu nggak akan sanggup tanpa aku.”

“Aku tahu.”

“Aku bahkan bilang ke Mama bahwa maksimal tiga bulan kamu pasti minta pulang.”

Nadia tidak tersinggung.

Dia hanya mengambil sebuah amplop dari laci meja.

“Aku sebenarnya belum pernah menunjukkan ini kepadamu.”

Arga menerimanya.

Di dalamnya terdapat salinan kontrak kerja Nadia.

Arga membaca beberapa bagian.

Jabatan.

Tunjangan.

Besaran kompensasi tahunan.

Wajahnya berubah.

“Kamu dapat pekerjaan ini sejak kapan?”

“Prosesnya dimulai tujuh bulan sebelum perceraian.”

Arga menatapnya.

“Berarti waktu aku…”

“Waktu kamu sibuk ke apartemen Clarissa, aku sibuk wawancara.”

Arga kehilangan kata-kata.

Nadia melanjutkan.

“Aku tidak pergi karena marah. Aku pergi karena sudah selesai.”

Arga meremas kertas di tangannya sedikit.

“Aku menyesal.”

“Aku percaya.”

“Masih ada kemungkinan kita…”

“Tidak.”

Jawaban Nadia begitu cepat.

“Bukan karena Clarissa?”

“Bukan.”

“Karena apa?”

Nadia menatapnya tenang.

“Karena selama bertahun-tahun kamu merasa nilai seseorang ditentukan oleh seberapa besar uang yang dia bawa, seberapa mewah hidupnya, dan seberapa bergantung dia padamu. Clarissa hanya membuatku melihat semuanya dengan lebih jelas.”

Arga menunduk.

Beberapa menit kemudian, dia berdiri untuk pergi.

Namun sebelum sampai ke pintu, Nadia memanggilnya.

“Arga.”

Arga menoleh dengan sedikit harapan.

“Jadilah ayah yang baik untuk Aurel dan Rian. Itu satu-satunya hal yang masih bisa kamu perbaiki bersama kami.”

Harapan di wajah Arga berubah menjadi kesadaran pahit.

Dia mengangguk.

Enam bulan kemudian, Nadia berdiri di sebuah ballroom hotel di Jakarta.

Perusahaannya baru saja meluncurkan kampanye regional yang dipimpinnya untuk enam negara Asia Tenggara.

Di layar besar di belakang panggung terpampang namanya sebagai Regional Marketing Director.

Setelah acara selesai, Nadia menerima sebuah pesan dari nomor yang sudah lama tidak menghubunginya.

Rosma.

Nadia sempat mempertimbangkan untuk mengabaikannya.

Namun akhirnya dia membuka pesan itu.

Maafkan Mama.

Hanya tiga kata.

Nadia tidak langsung membalas.

Beberapa menit kemudian, muncul foto berikutnya.

Arga sedang duduk di sebuah restoran sederhana bersama Aurel dan Rian.

Tidak ada mobil mewah.

Tidak ada meja mahal.

Tidak ada pakaian bermerek.

Namun kedua anak itu tersenyum lebar sambil memegang es krim.

Untuk pertama kalinya, Nadia merasa tidak ada kemarahan ketika melihat wajah mantan suaminya.

Malam itu setelah pulang, dia berdiri di balkon apartemen sambil memandangi Jakarta.

Aurel keluar membawa sebuah foto lama.

Foto keluarga mereka ketika masih tinggal di Surabaya.

“Ibu,” katanya, “keluarga kita sekarang sudah tidak utuh, ya?”

Nadia berlutut.

“Siapa bilang?”

“Papa nggak tinggal sama kita.”

Nadia tersenyum.

Dia menunjuk dada Aurel.

“Utuh itu bukan berarti semua orang harus tinggal di rumah yang sama.”

Aurel berpikir sejenak.

“Terus apa?”

“Utuh itu ketika orang-orang yang sayang sama kamu tidak saling menyakiti hanya demi terlihat seperti keluarga.”

Aurel memandang foto itu lagi.

Lalu dia meletakkannya di meja.

“Ibu sekarang bahagia?”

Pertanyaan itu membuat Nadia terdiam.

Selama tujuh bulan sebelum perceraian, dia hanya memikirkan bagaimana caranya bertahan.

Selama bulan-bulan setelah pindah ke Jakarta, dia hanya memikirkan bagaimana membangun hidup baru.

Baru malam itu seseorang bertanya apakah dia bahagia.

Nadia memeluk putrinya.

“Iya.”

Di Surabaya, Arga pernah mengumumkan kepada ribuan orang bahwa dia akhirnya memiliki keluarga yang sesungguhnya.

Dia membutuhkan satu bayi yang bukan darah dagingnya, satu skandal, dan kehilangan hampir semua yang dibanggakannya untuk memahami betapa keliru arti kalimat itu.

Sementara Nadia tidak pernah membuat pengumuman apa pun.

Dia hanya memilih pergi dengan dua anak, empat tiket sekali jalan, sebuah map biru tua, dan masa depan yang telah disiapkannya sendiri.

Dan akhirnya dia mengerti sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah diajarkan siapa pun kepadanya.

Kemenangan terbesar bukanlah melihat orang yang menyakitimu jatuh.

Kemenangan terbesar adalah ketika kejatuhannya sudah tidak lagi menentukan arah hidupmu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang