MERTUAKU KABUR KE AUSTRALIA SAAT SUAMIKU KOMA, MENINGGALKANKU DENGAN BUKU HITAM…

Aku menatap botol kapsul di meja, lalu kembali menatap Arga. Tenggorokanku terasa kering.

“Apa maksudmu mereka akan melakukan sesuatu kepadamu malam ini?”

Arga tidak langsung menjawab. Ia memejamkan mata beberapa detik, seperti sedang mengumpulkan tenaga yang tersisa. Ketika membukanya kembali, sorot matanya jauh lebih tajam daripada tubuhnya yang lemah.

“Buku hitam Nita,” bisiknya. “Kamu masih tahu di mana?”

“Di lemari obat. Setelah aku memergokinya menulis catatan palsu, dia menyimpannya di sana.”

“Ambil. Tapi jangan sampai kamera melihat kamu membacanya.”

Aku hampir bertanya bagaimana Arga mengetahui kamera itu, tetapi suara langkah dari lorong membuat jantungku serasa meloncat.

Arga segera menutup mata.

Aku berdiri dan berpura-pura merapikan selimutnya.

Pintu terbuka.

Nita muncul dengan pakaian tidur dan rambut terikat seadanya.

“Bu Maya belum tidur?”

“Belum.”

Tatapannya bergerak dari wajahku ke Arga.

“Pak Arga tidak ada perubahan?”

Aku memaksa diriku terlihat lelah.

“Tidak.”

Nita mengangguk, tetapi sebelum pergi, matanya berhenti pada botol kapsul di meja.

“Ibu Linda bilang Bu Maya harus minum obat itu.”

“Aku akan minum nanti.”

“Lebih baik sekarang. Ibu perlu istirahat.”

Ada sesuatu dalam caranya mengucapkan kalimat itu yang membuat bulu kudukku berdiri.

Aku tersenyum tipis.

“Nanti.”

Nita menatapku beberapa detik sebelum akhirnya keluar.

Begitu pintu tertutup, aku tidak bergerak sampai suara langkahnya benar-benar menghilang.

Arga membuka mata.

“Dia bagian dari mereka.”

“Aku tahu.”

“Tidak. Kamu belum tahu semuanya.”

Aku mengambil buku hitam dari lemari obat sambil berpura-pura mencari selimut tambahan. Lalu aku membawanya ke sisi ranjang yang tidak terlihat langsung dari kamera.

Kami membukanya bersama.

Halaman pertama berisi catatan medis biasa.

Tekanan darah.

Suhu tubuh.

Obat.

Makanan.

Namun semakin jauh aku membalik halaman, semakin dingin tanganku.

Ada catatan yang belum terjadi.

Tanggal besok.

Pukul 01.15.

Maya Salcedo memasuki kamar pasien seorang diri.

Pukul 01.22.

Maya memberikan dua kapsul tanpa instruksi dokter.

Pukul 02.10.

Pasien mengalami gangguan pernapasan.

Pukul 02.25.

Pasien tidak memberikan respons.

Dan kalimat terakhir membuat lututku hampir kehilangan tenaga.

Pukul 02.40.

Dokter menyatakan pasien meninggal dunia.

Aku menutup mulut.

“Mereka sudah menulis kematianmu sebelum kamu mati.”

Arga mengangguk pelan.

“Dan mereka sudah menulis siapa pembunuhnya.”

Aku.

Seluruh kronologi itu dirancang untuk menjadikanku tersangka.

Kapsul pemberian Linda bukan hanya untuk membuatku tertidur. Jika zat itu ditemukan dalam tubuhku, mereka bisa mengatakan aku berada dalam kondisi tidak sadar, panik, atau bahkan mengonsumsi obat tanpa resep sebelum memberikan obat yang salah kepada Arga.

“Kenapa?” bisikku. “Semua ini hanya demi lima miliar?”

“Lebih besar.”

Arga menggerakkan tangannya ke bawah bantal.

Dari sana ia mengeluarkan sebuah kunci kecil.

“Aku sudah curiga sejak makan malam itu. Tiga hari sebelum jatuh, aku memeriksa laporan perusahaan keluarga.”

“Bagaimana kamu mendapatkannya?”

“Papa memintaku menandatangani dokumen restrukturisasi. Aku tidak percaya, jadi aku minta orang kepercayaanku memeriksa semuanya.”

Ia menarik napas.

“Rendy dan Surya bukan cuma terlilit utang. Mereka menggunakan perusahaan keluarga sebagai jalur pembayaran transaksi fiktif. Nilainya hampir tiga puluh miliar.”

Aku tercekat.

“Papa tahu?”

“Dia yang menutupinya.”

Potongan-potongan kejadian mulai tersusun.

Mereka membutuhkan aset Arga bukan hanya untuk menyelamatkan kontainer di Australia, tetapi juga untuk menutup lubang keuangan yang jauh lebih besar.

“Kalau kamu meninggal…”

“Sebagian aset bisnisku jatuh kepadamu. Sisanya terkait kepemilikan keluarga karena modal awal perusahaan dulu berasal dari hibah Papa. Tapi kalau kamu dipenjara karena dianggap menyebabkan kematianku…”

Aku menyelesaikan kalimatnya.

“Mereka bisa menggugat hakku.”

Arga mengangguk.

Saat itu aku memahami betapa rapi rencana keluarga Mahendra.

Mereka tidak membutuhkan tanda tangan Arga.

Mereka hanya membutuhkan Arga mati dan aku kehilangan hak atas warisannya.

“Tapi kenapa mereka pergi ke Australia malam ini?”

Arga tersenyum pahit.

“Alibi.”

Aku menatapnya.

“Mereka ingin berada di negara lain saat aku mati.”

Tiba-tiba terdengar suara pintu depan paviliun.

Aku melihat jam.

00.37.

Arga langsung memejamkan mata.

Beberapa detik kemudian terdengar dua orang berbicara pelan di lorong.

Salah satunya Nita.

Yang lain laki-laki.

Dokter Ronald.

Padahal ia mengatakan akan kembali pagi hari.

Aku segera mengambil ponselku dan menyalakan perekam suara, lalu menyelipkannya di bawah selimut Arga.

Pintu terbuka.

Dokter Ronald masuk membawa tas medis.

“Bu Maya masih belum tidur?”

“Ada apa, Dok?”

“Pak Gunawan meminta saya melakukan pemeriksaan tambahan.”

“Jam setengah satu malam?”

Ronald tersenyum kaku.

“Dalam kondisi seperti ini, waktu tidak terlalu penting.”

Nita masuk di belakangnya.

Tangannya membawa nampan berisi suntikan.

Aku berdiri tepat di depan ranjang.

“Itu apa?”

“Obat untuk mencegah kejang.”

“Aku mau lihat namanya.”

Ronald menatap Nita.

Hanya sepersekian detik.

Namun cukup.

“Bu Maya,” katanya, “Anda bukan tenaga medis.”

“Aku istrinya.”

“Dan saya dokternya.”

“Kalau begitu tunjukkan ampulnya.”

Suasana mendadak membeku.

Nita melangkah mendekat.

“Bu Maya sebaiknya istirahat.”

Tangannya hampir menyentuh lenganku ketika suara serak terdengar dari ranjang.

“Jangan sentuh istri saya.”

Wajah Ronald seketika pucat.

Nita menjatuhkan nampan.

Suara logam menghantam lantai memecah kesunyian.

Arga membuka mata.

“A… Arga?”

Ronald mundur selangkah.

Arga mencoba bangkit, tetapi tubuhnya belum cukup kuat. Aku segera menopang punggungnya.

“Sejak kapan Anda sadar?” tanya Ronald.

“Cukup lama untuk mendengar kalian.”

Nita langsung bergerak menuju pintu.

Aku menghalanginya.

“Jangan ke mana-mana.”

Ronald mengambil ponselnya.

Namun sebelum ia sempat melakukan apa pun, lampu paviliun tiba-tiba padam.

Gelap.

Aku mendengar Nita berteriak.

Kemudian suara benda jatuh.

“May!”

Aku meraba-raba mencari tangan Arga.

Dalam kegelapan, terdengar pintu terbuka dan langkah seseorang berlari.

Beberapa detik kemudian generator rumah menyala.

Ronald sudah tidak ada.

Nita berdiri di dekat pintu dengan wajah panik.

Suntikan di lantai juga hilang.

“Dia membawanya,” kataku.

Arga menatap pintu.

“Biarkan.”

Aku menoleh kepadanya.

“Biarkan?”

“Karena kita tidak perlu suntikan itu.”

Arga menunjuk ponselku.

“Kita sudah punya percakapan mereka.”

Ternyata bukan hanya ponselku yang merekam.

Sebelum kecelakaan, Arga telah memasang sistem penyimpanan cadangan pada kamera keamanan bengkel dan menghubungkannya ke server independen.

Rekaman menunjukkan sopir Rendy datang membawa minuman untuk Arga.

Lebih penting lagi, kamera gudang menangkap sopir itu berbicara dengan Rendy melalui panggilan video.

Suara Rendy terdengar jelas.

“Pastikan dia minum sebelum naik ke lantai dua.”

Arga tidak langsung kehilangan kesadaran setelah meminum minuman itu. Ia mengalami pusing saat memeriksa unit pendingin di dekat tangga baja, kemudian jatuh.

Keesokan paginya, aku menghubungi polisi dan menyerahkan buku hitam, rekaman suara, serta salinan video dari server bengkel.

Botol kapsul Linda juga diamankan untuk pemeriksaan laboratorium.

Hasilnya membuat penyidik mengubah kasus kecelakaan menjadi penyelidikan pidana.

Kapsul tersebut mengandung obat penenang dosis tinggi yang tidak tercatat dalam resep apa pun untukku.

Sementara pemeriksaan darah lama Arga yang masih tersimpan di rumah sakit menunjukkan adanya zat yang dapat menyebabkan pusing berat.

Namun kejutan terbesar datang tiga hari kemudian.

Nita menghilang.

Ronald juga tidak dapat ditemukan.

Keluarga Mahendra masih berada di Melbourne dan melalui pengacara mereka menyangkal seluruh tuduhan.

Linda bahkan meneleponku.

“Maya, jangan menghancurkan keluarga ini karena kesalahpahaman.”

Aku tertawa getir.

“Kesalahpahaman?”

“Kamu sedang emosional. Arga sakit. Dia mungkin tidak berpikir jernih.”

“Buku hitam itu juga sedang tidak berpikir jernih ketika mencatat kematian Arga sebelum terjadi?”

Linda diam.

Untuk pertama kalinya selama enam tahun mengenalnya, perempuan itu tidak memiliki jawaban.

Kemudian suaranya berubah.

“Kamu pikir Arga akan memilihmu daripada keluarganya?”

Aku melihat suamiku yang sedang menjalani pemeriksaan di ruang sebelah.

“Dia sudah memilih sejak lama.”

Aku memutus sambungan.

Seminggu kemudian, Gunawan, Linda, Rendy, dan Surya pulang ke Indonesia.

Mereka tidak pulang sebagai keluarga kaya yang bisa mengendalikan semuanya.

Penyidik sudah menunggu.

Rendy diperiksa terkait dugaan pemberian zat berbahaya dan manipulasi aset. Gunawan serta Surya diperiksa mengenai transaksi perusahaan. Linda menghadapi pertanyaan tentang kapsul dan instruksinya kepada Nita.

Tetapi orang yang akhirnya menghancurkan pertahanan mereka bukan aku.

Bukan Arga.

Melainkan Nita.

Tiga hari setelah menghilang, ia datang sendiri ke kantor polisi bersama seorang pengacara.

Ia membawa ponsel lama yang selama ini disembunyikannya.

Di dalamnya terdapat percakapan dengan Linda dan Ronald.

Nita mengaku dibayar untuk membuat catatan palsu. Awalnya ia diberi tahu bahwa keluarga hanya membutuhkan dokumentasi untuk membuktikan Maya lalai merawat suaminya.

Namun dua hari sebelum keluarga berangkat ke Australia, Ronald memerintahkannya menyiapkan kronologi kematian.

Saat itulah Nita sadar bahwa rencana tersebut jauh lebih berbahaya.

“Kenapa kamu tetap melakukannya?” tanyaku ketika kami bertemu di kantor penyidik.

Nita menangis.

“Karena mereka mengancam anak saya. Saya punya utang biaya operasi ibu saya. Bu Linda tahu semuanya.”

Aku tidak mampu langsung memaafkannya.

Tetapi aku juga melihat ketakutan yang sama seperti yang kurasakan malam itu.

Berbulan-bulan kemudian, kasus keluarga Mahendra mulai membuka skandal yang lebih luas. Audit menemukan transaksi fiktif, utang tersembunyi, dokumen jaminan yang dimanipulasi, dan perusahaan cangkang yang terhubung dengan bisnis Rendy di Australia.

Rumah besar di Graha Famili yang selama bertahun-tahun menjadi simbol kesuksesan akhirnya disita sebagai bagian dari proses hukum.

Arga pulih perlahan.

Ia membutuhkan terapi berbulan-bulan untuk mengembalikan keseimbangan tubuhnya.

Suatu sore, kami kembali ke bengkel untuk pertama kalinya.

Para pekerja berdiri menyambutnya.

Tidak ada pesta mewah.

Tidak ada karangan bunga besar.

Hanya tepuk tangan panjang dari orang-orang yang selama ini ia bela ketika keluarganya meminta aset perusahaan dijadikan jaminan.

Arga berdiri di sampingku dengan tongkat.

“May.”

“Hm?”

“Aku mau menunjukkan sesuatu.”

Ia membawaku ke ruang kerjanya.

Di dalam laci meja terdapat sebuah map biru.

Aku membukanya.

Dokumen kepemilikan perusahaan.

Namaku tercantum sebagai pemegang saham.

Aku terkejut.

“Kapan kamu melakukan ini?”

“Tiga bulan sebelum kecelakaan.”

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

Arga tersenyum.

“Karena aku berharap kamu tidak pernah perlu mengetahuinya.”

Ternyata sejak kecurigaan pertamanya muncul, Arga telah memindahkan sebagian besar kepemilikan perusahaan ke sebuah badan usaha yang kami miliki bersama. Ia juga mengubah polis asuransi dan membuat wasiat baru melalui notaris independen.

Artinya, bahkan jika rencana keluarganya berhasil membunuh Arga dan menjebloskanku ke penjara, mereka tetap tidak akan mendapatkan bengkel itu dengan mudah.

Aku menatapnya lama.

“Jadi kamu sudah tahu mereka mungkin akan melakukan sesuatu?”

“Aku tahu mereka putus asa. Aku tidak pernah membayangkan mereka akan sejauh ini.”

Aku menggenggam tangannya.

“Ada satu hal yang masih tidak kupahami.”

“Apa?”

“Kenapa kamu menyembunyikan kamera di kamar paviliun? Kamu bahkan belum tahu mereka akan memindahkanmu ke sana.”

Arga terdiam.

Wajahnya berubah.

Lalu ia membuka laci paling bawah.

Di dalamnya ada sebuah kamera kecil.

“Aku tidak memasang kamera itu.”

Aku membeku.

“Tapi malam itu kamu bilang ada kamera di sudut kamar.”

“Aku memang melihatnya. Tapi bukan milikku.”

“Lalu siapa?”

Arga mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan satu rekaman yang baru diperoleh penyidik.

Rekaman kamera keamanan rumah menunjukkan seseorang memasuki paviliun beberapa jam sebelum Arga dipindahkan dari rumah sakit.

Bukan Rendy.

Bukan Surya.

Bukan Linda.

Gunawan.

Ayah Arga sendiri memasang kamera tersembunyi itu.

Namun rekaman berikutnya jauh lebih mengejutkan.

Gunawan ternyata tidak menghubungkan kamera tersebut kepada Rendy.

Ia menghubungkannya ke penyimpanan pribadi.

Ketika penyidik menyita laptopnya, ditemukan puluhan rekaman percakapan anggota keluarga selama bertahun-tahun.

Gunawan selama ini mengawasi semua orang.

Termasuk kedua putranya.

Dan dari rekaman-rekaman itulah polisi akhirnya menemukan bukti bahwa Gunawan sebenarnya sudah mengetahui rencana Rendy dan Linda sejak awal.

Ia tidak menghentikannya.

Ia membiarkan semuanya terjadi karena berharap kematian Arga dapat menyelesaikan masalah keuangan keluarga.

Saat mengetahui fakta itu, Arga tidak menangis.

Ia hanya duduk diam sangat lama.

Mungkin pengkhianatan seorang saudara masih bisa disebut keserakahan.

Pengkhianatan seorang dokter masih bisa disebut kejahatan.

Tetapi ketika seorang ayah mengetahui anaknya akan dibunuh dan memilih diam karena angka di rekening, tidak ada istilah yang cukup sederhana untuk menjelaskannya.

Enam bulan setelah malam itu, aku dan Arga meninggalkan rumah keluarga Mahendra untuk selamanya.

Kami tidak membawa furnitur mahal.

Tidak membawa lukisan.

Tidak membawa satu pun benda yang mengingatkan kami pada status keluarga itu.

Aku hanya membawa buku hitam milik Nita.

Bukan sebagai kenang-kenangan.

Melainkan sebagai pengingat.

Di halaman terakhir buku tersebut masih tertulis bahwa Arga meninggal pukul 02.40 dan aku adalah orang terakhir yang memberinya obat.

Kenyataannya, pukul 02.40 malam itu Arga masih hidup.

Aku juga masih berada di sisinya.

Dan orang-orang yang telah menulis masa depan kami seolah-olah mereka adalah Tuhan akhirnya harus menghadapi satu hal yang tidak pernah mereka perhitungkan.

Manusia bisa memalsukan dokumen.

Bisa membeli kesaksian.

Bisa menyusun kronologi sebelum sebuah kejahatan terjadi.

Tetapi selama seseorang masih berani membuka mata dan mengatakan kebenaran, cerita yang sudah mereka tulis belum tentu menjadi akhir yang sebenarnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang