Ia Menghapus Suami Palsu dari Data Pernikahan, Lalu Pria Berstatus Meninggal Itu Memburunya Bersama Puluhan Pengacara

“Sembilan puluh tujuh persen.”

Dua kata itu membuat Nadia merasa ruangan di sekelilingnya mendadak menyempit.

Ia menatap layar komputer di hadapan Raka Adinata. Foto verifikasi yang tersimpan memang menyerupai dirinya. Rambut panjang, bentuk wajah, bahkan tahi lalat kecil di dekat rahang kiri terlihat sama.

Namun Nadia tahu perempuan itu bukan dirinya.

“Perbesar bagian telinga kirinya,” kata Nadia tiba-tiba.

Raka menoleh.

“Apa?”

“Foto itu. Perbesar telinga kirinya.”

Raka mengikuti permintaan tersebut.

Nadia mendekat ke layar.

“Citra punya bekas luka kecil di sini.”

Ia menunjuk bagian atas daun telinga perempuan dalam foto.

Benar.

Ada garis tipis berwarna pucat yang hampir tertutup rambut.

Nadia bersandar kembali.

“Itu sepupu saya.”

Raka tidak lagi terlihat seperti petugas yang sedang menangani kesalahan administrasi biasa.

“Kalau begitu, kita punya dugaan pemalsuan biometrik.”

Nadia mengerutkan kening.

“Sidik jari saya bagaimana?”

Raka memeriksa riwayat autentikasi.

Beberapa detik kemudian ekspresinya berubah.

“Verifikasi sidik jari dilakukan menggunakan data biometrik yang sudah tersimpan. Bukan pemindaian langsung.”

Nadia langsung memahami maksudnya.

Seseorang tidak sekadar mencuri fotokopi KTP-nya.

Orang itu memiliki akses ke data yang jauh lebih dalam.

Raka mencetak beberapa lembar dokumen dan memasukkannya ke map cokelat.

“Saya sarankan Saudari segera membuat laporan resmi. Jangan menghubungi Rangga atau Citra terlebih dahulu.”

“Kenapa?”

“Karena kalau mereka tahu Saudari sudah mengetahuinya, mereka bisa menghilangkan bukti.”

Nadia menerima map tersebut.

Saat hendak berdiri, matanya menangkap nama sebuah kantor notaris pada halaman terakhir dokumen pinjaman.

Kantor Notaris Arman Wijaya.

Alamatnya hanya sekitar seratus meter dari gedung itu.

Nadia menatap Raka.

“Boleh saya mendapatkan salinan halaman ini?”

Raka terdiam sejenak.

Kemudian printer kembali berbunyi.

Lima belas menit kemudian Nadia sudah berdiri di sebuah kantor notaris berlantai dua.

Seorang perempuan bernama Laras menerima berkasnya.

Awalnya Laras tampak biasa saja.

Namun ketika membaca nama Rangga Mahendra, wajahnya berubah.

“Sebentar.”

Ia masuk ke ruangan belakang.

Hampir sepuluh menit kemudian, seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun keluar.

“Saudari Nadia?”

“Ya.”

“Saya Arman Wijaya.”

Nadia menyerahkan dokumen.

“Saya ingin memastikan apakah tanda tangan ini dibuat di kantor Bapak.”

Arman membaca beberapa halaman.

Ia kemudian menatap Nadia lama sekali.

“Saudari yakin tidak pernah datang ke sini?”

“Yakin.”

Arman membuka lemari arsip.

Ia mengeluarkan satu map.

Di dalamnya terdapat salinan akta penjaminan utang.

Nama Nadia tercetak jelas.

Di bawahnya ada tanda tangan yang sangat mirip dengan miliknya.

Nadia merasakan tengkuknya dingin.

Arman kemudian mengeluarkan lembar lain.

“Saat penandatanganan, kami menerima surat kuasa.”

“Dari siapa?”

Arman meletakkannya di meja.

Nadia membaca nama pemberi kuasa.

Nadia Pratama.

Penerima kuasa.

Citra Pratama.

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Disdukcapil, Nadia tertawa.

Bukan karena lucu.

Ia tertawa karena semuanya sudah terlalu keterlaluan.

“Jadi saya memberikan kuasa kepada sepupu saya untuk menikah menggantikan saya, menjadikan saya penjamin utang, lalu menyerahkan hidup saya kepadanya?”

Arman tidak menjawab.

Nadia mengeluarkan ponselnya.

“Boleh saya foto?”

“Jangan.”

Nadia menatapnya.

Arman mengambil map tersebut, membawanya ke mesin fotokopi, lalu memberikan salinan lengkap.

“Bawa ini ke polisi.”

Malam itu Nadia tidak pulang ke apartemennya.

Ia menemui seorang teman lama yang bekerja di firma hukum, membuat laporan, mengirimkan keberatan kepada kreditur, dan meminta pembekuan sementara seluruh transaksi yang berkaitan dengan identitasnya.

Namun langkah terpenting dilakukan keesokan paginya.

Dengan bantuan dokumen dari Disdukcapil, laporan kepolisian, bukti absensi kantor, rekaman CCTV, dan surat pernyataan notaris, Nadia mengajukan pembatalan pencatatan perkawinan serta pemblokiran seluruh akses administrasi yang menggunakan identitasnya.

Kasus itu bergerak jauh lebih cepat daripada dugaan Rangga.

Karena semakin diperiksa, semakin banyak kejanggalan ditemukan.

Alamat tempat tinggal palsu.

Dokumen pendukung palsu.

Tanda tangan elektronik yang diterbitkan melalui nomor telepon yang tidak pernah dimiliki Nadia.

Bahkan rekening yang menerima dana pinjaman ternyata sudah dikosongkan tiga hari setelah pencairan.

Empat puluh delapan jam setelah Nadia pertama kali datang untuk mencetak KTP, Rangga Mahendra muncul di Bandara Soekarno-Hatta.

Ia hendak terbang ke Kuala Lumpur.

Petugas memeriksa paspornya.

Kemudian memeriksanya sekali lagi.

“Bapak Rangga Mahendra?”

“Iya.”

Petugas itu memanggil atasannya.

Rangga mulai gelisah.

“Ada masalah apa?”

Petugas menatap layar.

“Maaf, Pak. Dalam sistem kependudukan, status Anda tercatat telah meninggal.”

Wajah Rangga memucat.

“Apa?”

Status tersebut berasal dari satu dokumen kematian yang diajukan beberapa bulan sebelumnya menggunakan data perusahaan milik Rangga sendiri.

Ironisnya, dokumen itu bukan dibuat Nadia.

Seseorang dari jaringan yang sama yang membantu Rangga memalsukan pernikahan rupanya telah menyiapkan jalan untuk menghapus Rangga setelah uang pinjaman cair.

Rangga langsung tahu siapa yang mungkin telah membongkar semuanya.

Telepon Nadia berdering.

Sekali.

Lima kali.

Dua puluh kali.

Lima puluh dua kali.

Saat itu Nadia sedang duduk di salon sambil makan ceker pedas.

Ia akhirnya membuka pesan.

RANGGA:
ANGKAT TELEPON! APA YANG KAMU LAKUKAN?!

Nadia mengetik satu kalimat.

“Sinyal di alam kubur mungkin kurang bagus. Minta keluargamu mengirim menara pemancar.”

Kemudian ia mematikan ponsel.

Ia mengira semuanya selesai.

Ternyata tidak.

Tiga hari kemudian, dua belas mobil berhenti di depan kantor tempat Nadia bekerja.

Dari mobil-mobil tersebut turun belasan pria dan perempuan berpakaian formal.

Pengacara.

Rangga datang bersama mereka.

Status kematiannya telah dibatalkan setelah pemeriksaan awal membuktikan bahwa dokumen tersebut palsu. Ia juga belum ditahan karena perkara pemalsuan identitas masih dalam tahap penyidikan dan tim hukumnya berhasil menjamin kehadirannya.

Nadia sedang memeriksa laporan ketika resepsionis menelepon.

“Mbak Nadia, ada… banyak orang mencari Mbak.”

“Berapa banyak?”

“Saya berhenti menghitung setelah dua puluh.”

Nadia turun.

Rangga berdiri di tengah lobi.

Wajah pria itu berbeda dari foto pernikahan.

Lebih kurus.

Lebih lelah.

Namun tatapannya tajam.

“Kita bicara.”

Nadia berhenti tiga meter darinya.

“Dengan dua puluh pengacara?”

“Dua puluh tujuh.”

“Wah. Saya tersanjung.”

Rangga mengatupkan rahang.

“Aku tidak pernah berniat membuatmu menanggung utang itu.”

“Nama saya ada di dokumennya.”

“Citra yang mengurus semuanya.”

“Dan kamu menikah dengannya tanpa tahu nama perempuan di dokumen pernikahanmu?”

Rangga diam.

Jawaban itu sudah cukup.

Ia tahu.

“Di mana Citra?” tanya Nadia.

“Aku juga mencarinya.”

Kalimat itu mengubah suasana.

Rangga mengeluarkan sebuah dokumen.

“Uang Rp3,1 miliar itu hilang.”

“Bukan masalah saya.”

“Dua miliar delapan ratus juta masuk ke rekening perusahaan milik Citra. Setelah itu dipindahkan ke enam rekening lain.”

“Masih bukan masalah saya.”

Rangga mendekat.

“Rekening terakhir atas nama perusahaan yang direkturnya bernama Nadia Pratama.”

Nadia membeku.

Ia belum pernah mendirikan perusahaan.

Dalam beberapa jam berikutnya, keadaan berubah menjadi mimpi buruk.

Ada tiga perusahaan atas namanya.

Dua rekening bisnis.

Satu apartemen.

Empat kontrak investasi.

Dan semuanya dibuat dalam kurun waktu dua tahun terakhir.

Seseorang tidak sekadar mencuri identitas Nadia untuk menikah.

Seseorang telah membangun kehidupan kedua menggunakan namanya.

Berita mulai menyebar.

Petugas mencari Nadia untuk dimintai keterangan. Kreditur mencarinya. Pengacara Rangga mencarinya. Bahkan beberapa orang yang mengaku investor mendatangi apartemennya.

Nadia akhirnya melakukan satu hal yang tidak diketahui siapa pun.

Ia menghilang.

Bukan ke luar kota.

Ia justru kembali ke kantor Notaris Arman.

Begitu Arman melihatnya masuk malam itu, wajah lelaki tersebut berubah.

“Kamu seharusnya tidak datang ke sini.”

“Kenapa?”

Arman berdiri.

“Karena mereka pasti mengikuti kamu.”

Nadia menutup pintu.

“Bapak tahu sesuatu.”

Arman tidak menyangkal.

Ia berjalan menuju lemari besi.

Dari dalamnya ia mengambil amplop hitam.

“Saya menunggu kamu menyadarinya.”

“Menyadari apa?”

“Bahwa Citra tidak mungkin melakukan semua ini sendirian.”

Arman menyerahkan amplop itu.

Di dalamnya terdapat foto lama.

Nadia melihat seorang perempuan muda berdiri bersama ibunya.

Perempuan itu Citra.

Namun yang membuat napas Nadia berhenti adalah pria di sebelah mereka.

Raka Adinata.

Petugas Disdukcapil yang membantunya.

“Siapa dia sebenarnya?”

Arman menjawab pelan.

“Suami Citra.”

Nadia menatapnya tidak percaya.

“Tidak mungkin.”

“Mereka menikah secara agama tiga tahun lalu.”

Potongan-potongan peristiwa mulai menyatu.

Raka memiliki akses terhadap data kependudukan.

Citra memiliki dokumen keluarga Nadia.

Rangga memiliki perusahaan dan akses pinjaman.

Ketiganya membentuk skema sempurna.

Kecuali satu hal.

“Kenapa Raka membantu saya membongkarnya?”

“Karena rencana mereka berubah.”

Arman membuka laptop.

Ia memperlihatkan transaksi terakhir.

Rp2,8 miliar tidak berada di rekening Citra.

Uang itu dipindahkan ke rekening luar negeri dua hari sebelum Nadia datang ke Disdukcapil.

Pemilik rekening penerima tercatat sebagai perusahaan konsultasi.

Direkturnya adalah Raka Adinata.

Citra telah menghilang.

Rangga dijadikan kambing hitam.

Nadia dijadikan penanggung utang.

Dan Raka bersiap membawa uangnya.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.

Tiga kali.

Arman langsung mematikan layar.

Nadia tidak bergerak.

Ketukan terdengar lagi.

Lalu suara dari luar.

“Mbak Nadia?”

Nadia mengenal suara itu.

Raka.

Arman memandangnya dengan wajah pucat.

“Jangan buka.”

Namun pintu tiba-tiba terbuka.

Raka berdiri di sana.

Sendirian.

Tidak ada senyum ramah seperti di loket lima.

“Akhirnya ketemu.”

Nadia menggenggam ponselnya.

Raka melihat gerakan tersebut.

“Tidak perlu menelepon polisi.”

“Kenapa? Karena kamu punya akses ke sistem mereka juga?”

Raka tertawa kecil.

“Kamu lebih pintar daripada yang saya kira.”

“Di mana Citra?”

Senyum Raka menghilang.

“Meninggal.”

Ruangan itu sunyi.

Nadia menatapnya.

“Kamu bohong.”

Raka mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto sebuah mobil yang hancur di dasar jurang.

“Kecelakaan enam bulan lalu.”

Nadia merasa lututnya melemah.

“Lalu siapa yang memalsukan kematian Rangga?”

“Citra.”

“Kenapa?”

“Karena Rangga berencana membawa kabur uang dan meninggalkannya.”

“Dan kamu?”

Raka tersenyum pahit.

“Saya mencoba mengambil kembali uang yang menurut saya milik Citra.”

Nadia akhirnya memahami sesuatu yang jauh lebih buruk.

Tidak ada satu dalang.

Semua orang saling menipu.

Citra mencuri identitas Nadia untuk menikahi Rangga.

Rangga menggunakan pernikahan palsu untuk mendapatkan pinjaman.

Citra menyiapkan dokumen kematian Rangga agar dapat mengambil perusahaan.

Raka memindahkan uang setelah Citra meninggal.

Dan Nadia adalah satu-satunya orang yang tidak mengetahui permainan itu, tetapi namanya ada di setiap tahap.

Suara sirene tiba-tiba terdengar dari luar.

Raka menoleh ke jendela.

Wajahnya berubah.

“Kamu memanggil polisi?”

Nadia mengangkat ponselnya.

“Tidak.”

Arman tersenyum tipis.

“Saya yang memanggil mereka.”

Pintu kantor terbuka beberapa detik kemudian.

Polisi masuk.

Raka tidak melawan.

Sebelum dibawa pergi, ia menoleh kepada Nadia.

“Kamu masih belum tahu semuanya.”

Nadia tidak menjawab.

Dua minggu kemudian, penyidikan menemukan bukti bahwa Nadia tidak pernah menerima uang maupun menandatangani dokumen tersebut. Seluruh kewajiban penjaminannya dibekukan sambil proses pembatalan administrasi dan pidana berjalan.

Rangga akhirnya ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara pemalsuan dan penipuan kredit.

Raka ditahan karena manipulasi data serta pengalihan dana.

Namun bagian terakhir kasus itu baru terungkap ketika polisi membuka kotak penyimpanan milik Citra.

Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan.

Surat itu ditujukan kepada Nadia.

Nad,

Kalau kamu membaca ini, berarti aku gagal membereskan semuanya.

Aku memakai namamu karena Rangga tidak bisa menikah denganku secara legal tanpa membuka pernikahan lamanya. Aku tahu itu salah. Aku pikir aku bisa menghapus semuanya setelah bisnis kami berhasil.

Ternyata aku salah memilih orang.

Kalau suatu hari sesuatu terjadi padaku, jangan percaya Rangga.

Dan jangan percaya Raka.

Nadia berhenti membaca.

Ada satu kalimat terakhir.

Tapi kalau kamu ingin tahu siapa yang pertama kali memberikan salinan KTP dan data biometrikmu kepadaku, tanyakan kepada orang yang selama ini paling kamu percaya.

Di bawah kalimat itu terdapat sebuah nama.

Nadia membacanya tiga kali.

Ibunya sendiri.

Tangannya bergetar.

Malam itu ia pulang ke rumah masa kecilnya.

Ibunya sedang duduk di ruang makan.

Nadia meletakkan surat tersebut di meja.

“Kenapa?”

Perempuan itu tidak bertanya surat apa.

Ia hanya menutup mata.

“Citra datang dua tahun lalu. Dia menangis. Katanya hanya membutuhkan dokumen untuk urusan usaha keluarga. Ibu memberikan fotokopi kartu keluarga dan berkas lama yang ada di lemari.”

“Termasuk data biometrik?”

Ibunya menggeleng.

“Tidak.”

Nadia terdiam.

“Lalu siapa?”

Ibunya membuka laci.

Ia mengeluarkan sebuah amplop lama.

Di dalamnya terdapat formulir pendaftaran kerja Nadia dari lima tahun sebelumnya.

Di pojok atas tercetak nama perusahaan penyedia jasa administrasi yang pernah memproses data pegawai kantornya.

Nadia mengenali logo itu.

Ia pernah melihatnya beberapa hari sebelumnya.

Pada dokumen perusahaan luar negeri yang menerima Rp2,8 miliar.

Perusahaan yang dikendalikan Raka.

Nadia akhirnya mengerti.

Kejahatan itu tidak dimulai ketika Citra mencuri identitasnya.

Jauh sebelumnya, seseorang telah menemukan bahwa data pribadi manusia bisa lebih berharga daripada uang di rekening mereka.

Sebulan kemudian Nadia mendapatkan KTP barunya.

Ia berdiri di loket yang sama, memeriksa setiap huruf dan angka di kartu tersebut.

Nama: Nadia Pratama.

Status perkawinan: Belum Kawin.

Tidak ada Rangga.

Tidak ada utang Rp3,1 miliar.

Tidak ada kehidupan palsu.

Petugas menyerahkan kartu itu sambil tersenyum.

“Silakan diperiksa lagi, Mbak. Sudah benar semua?”

Nadia menatap KTP tersebut cukup lama.

Kemudian ia tersenyum.

“Untuk sekarang, benar.”

Ia keluar dari gedung.

Di depan kantor Disdukcapil, pedagang martabak telur mini yang sama masih berjualan.

Nadia membeli satu bungkus.

Kali ini ia memakannya ketika masih panas.

Ponselnya bergetar.

Sebuah nomor tidak dikenal mengirim pesan.

Saya punya informasi tentang Citra. Dia tidak meninggal dalam kecelakaan itu.

Nadia berhenti mengunyah.

Pesan kedua masuk.

Lalu sebuah foto.

Diambil tiga hari sebelumnya di sebuah kafe di Surabaya.

Seorang perempuan berkacamata hitam sedang keluar dari pintu samping.

Di telinga kirinya terlihat garis bekas luka tipis.

Citra.

Nadia menatap foto itu beberapa detik.

Kemudian, alih-alih panik, ia memasukkan potongan martabak terakhir ke mulut.

Ia mengetik balasan.

“Kalau dia masih hidup, suruh dia antre.”

Pesan terkirim.

Nadia memasukkan KTP barunya ke dompet dan berjalan pergi.

Karena setelah hampir kehilangan nama, uang, kebebasan, dan masa depannya, Nadia akhirnya memahami satu hal.

Identitas bukan sekadar nama yang tercetak pada selembar kartu.

Identitas adalah hak untuk menentukan siapa diri kita sendiri.

Dan kali ini, siapa pun yang mencoba mengambil hak itu darinya harus berhadapan langsung dengan Nadia Pratama.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang