Pintu mobil tertutup pelan di sampingku.
Sejak detik itu, aku berhenti berharap Raka akan memilihku.
Sepanjang perjalanan pulang, hujan mengetuk kaca jendela seperti ribuan jari kecil. Raka beberapa kali melirikku, lalu mengetik sesuatu di ponselnya.
“Tenggorokanmu sakit?”
Aku menggeleng.
Beberapa menit kemudian, layar ponselnya kembali diarahkan kepadaku.
“Mau makan apa malam ini?”

Aku kembali menggeleng.
Dahulu, perjalanan tiga puluh menit seperti ini tidak pernah terasa sunyi. Aku akan bercerita tentang pengendara motor yang memakai jas hujan terbalik, pedagang gorengan di dekat lampu merah, atau lagu lama yang tiba-tiba diputar radio.
Raka biasanya hanya mendengarkan.
Setidaknya, begitulah yang selama ini kupercaya.
Sekarang aku tahu, mungkin setiap kali aku berbicara, ia hanya menunggu kapan aku akan diam.
Sesampainya di rumah, aku berdiri cukup lama di ruang tamu.
Tidak ada yang berubah.
Pot monstera yang kubeli dua bulan lalu masih berada di dekat jendela. Foto pernikahan kami masih tergantung di dinding. Bahkan mug bertuliskan “Raka” dan “Nadia” masih berdampingan di rak dapur.
Namun rumah itu tidak lagi terasa seperti rumahku.
Raka menyentuh bahuku.
Aku menoleh.
Ia menunjuk tenggorokanku, lalu membuat gerakan agar aku beristirahat.
Aku mengangguk.
Malam itu, setelah ia tertidur, aku membuka laptop.
Aku mengirim email kepada atasanku dan meminta dipindahkan ke kantor cabang Surabaya. Permintaan itu sebenarnya pernah ditawarkan enam bulan lalu, tetapi kutolak karena tidak ingin meninggalkan Raka sendirian.
Kemudian aku membuka folder dokumen pribadi.
Sertifikat apartemen kecil peninggalan ayah.
Tabungan atas namaku.
Surat-surat pekerjaan.
Paspor.
Aku memasukkan semuanya ke dalam satu map.
Terakhir, aku membuka sebuah dokumen kosong dan mengetik dua kalimat.
“Aku pergi bukan karena kamu bisa bicara.”
“Aku pergi karena selama tiga tahun, kamu membuatku percaya bahwa diam adalah penderitaanmu, padahal ternyata diam adalah hukuman yang sengaja kamu berikan kepadaku.”
Aku mencetaknya.
Namun sebelum meletakkannya di meja, aku berhenti.
Tidak.
Raka tidak berhak mendapatkan penjelasan sepanjang itu.
Aku merobek kertas tersebut.
Tiga hari kemudian, kantor menyetujui pemindahanku.
Aku hanya perlu berangkat hari Senin.
Selama tiga hari itu, Raka mulai terlihat gelisah.
Mungkin karena aku benar-benar berhenti berbicara.
Dokter sebenarnya mengatakan luka di tenggorokanku tidak merusak pita suara secara permanen. Dengan pemulihan yang baik, perlahan aku akan dapat berbicara lagi.
Raka tidak tahu.
Ia mengira aku masih tidak mampu mengeluarkan suara.
Pagi hari, aku membuat sarapan tanpa mengatakan apa pun.
Sepulang kerja, aku membaca buku.
Saat ia menunjukkan video lucu di ponselnya, aku hanya tersenyum tipis.
Pada malam ketiga, ia akhirnya mengetik.
“Kamu marah padaku?”
Aku membaca kalimat itu lama.
Kemudian menggeleng.
Wajahnya justru semakin tegang.
Ia mengetik lagi.
“Kenapa kamu berubah?”
Aku hampir tertawa.
Tiga tahun ia berharap aku belajar diam.
Sekarang ketika keinginannya terkabul, ia malah bertanya mengapa aku berubah.
Aku meletakkan ponselnya di meja dan masuk kamar.
Jumat sore, Laras datang membawa buah.
Ia langsung memelukku.
“Nad, aku khawatir banget.”
Aku tersenyum.
Raka keluar dari dapur sambil membawa tiga gelas minuman.
Begitu melihat Laras, ekspresinya berubah.
Perubahan itu sangat kecil.
Namun sekarang aku bisa melihatnya.
Matanya menjadi lebih hidup.
Laras menanyakan sesuatu dengan bahasa isyarat. Raka menjawab dengan gerakan tangan.
Mereka masih berpura-pura di depanku.
Lucu sekali.
Dua orang yang bisa bicara memilih menggunakan bahasa isyarat hanya demi menjaga sebuah kebohongan.
Aku berdiri dan menunjuk kamar mandi.
Begitu pintu tertutup, aku tidak masuk.
Aku berdiri di balik dinding lorong.
Benar saja.
Tidak sampai sepuluh detik, suara Laras terdengar.
“Kamu belum bilang juga?”
“Belum.”
“Raka, ini sudah keterlaluan.”
Raka mengembuskan napas.
“Aku akan bilang setelah Nadia pulih.”
“Kenapa harus menunggu?”
Sunyi beberapa detik.
Lalu Raka berkata sesuatu yang membuat seluruh tubuhku membeku.
“Karena setelah itu aku akan minta cerai.”
Laras terdiam.
“Apa?”
“Aku sudah tidak tahan.”
Dadaku terasa kosong.
Aneh.
Aku mengira kalimat itu akan menghancurkanku.
Ternyata tidak.
Mungkin ada batas tertentu bagi hati manusia. Setelah terlalu banyak terluka, rasa sakit berikutnya hanya terdengar seperti ketukan di pintu rumah kosong.
Laras berbisik, “Karena aku?”
Raka tidak langsung menjawab.
Namun diamnya sudah cukup.
Aku kembali ke ruang tamu beberapa menit kemudian.
Mereka langsung berhenti berbicara.
Aku tersenyum kepada Laras.
Untuk pertama kalinya, aku tidak membencinya.
Aku justru merasa kasihan.
Karena Laras belum menyadari satu hal.
Pria yang mampu berbohong kepada istrinya selama tiga tahun juga mampu berbohong kepada perempuan lain jauh lebih lama.
Senin pagi, Raka berangkat lebih awal.
Begitu mobilnya keluar dari halaman, aku membawa koper yang sudah kusembunyikan di apartemen temanku.
Aku meninggalkan cincin pernikahan di atas meja makan.
Tidak ada surat.
Tidak ada pesan.
Tidak ada penjelasan.
Hanya cincin.
Pukul sebelas, aku sudah berada di bandara.
Pukul sebelas lewat tujuh belas menit, ponselku mulai bergetar.
Raka.
Aku tidak menjawab.
Kemudian pesan masuk bertubi-tubi.
“Kamu di mana?”
“Kenapa pakaianmu hilang?”
“Nadia, jawab.”
“Jangan bercanda.”
Aku mematikan layar.
Beberapa menit kemudian, Laras menelepon.
Aku juga tidak menjawab.
Saat pengumuman boarding terdengar, sebuah pesan suara masuk.
Pesan suara.
Dari Raka.
Jantungku berhenti sesaat.
Aku memasang earphone.
“Nadia.”
Hanya namaku.
Satu kata yang selama tiga tahun kutunggu.
Suara Raka bergetar.
“Nadia, pulanglah.”
Aku menutup mata.
Dulu, satu kata itu mungkin cukup membuatku berlari kembali.
Sekarang sudah terlambat.
Aku menghapus pesan tersebut dan naik pesawat.
Dua bulan pertama di Surabaya terasa seperti belajar hidup dari awal.
Aku tinggal di apartemen kecil milik ayah. Aku menjalani terapi tenggorokan dua kali seminggu.
Suara pertamaku terdengar serak dan nyaris tidak dikenali.
“Air.”
Terapisku tersenyum lebar.
Aku justru menangis.
Bukan karena sakit.
Melainkan karena akhirnya aku menyadari suaraku tidak pernah menjengkelkan.
Aku hanya memberikannya kepada orang yang salah.
Perlahan, aku belajar bicara lagi.
Satu kata menjadi satu kalimat.
Satu kalimat menjadi percakapan.
Aku mulai makan siang bersama rekan kantor. Aku kembali menelepon ibuku setiap malam. Aku bahkan mulai bercerita kepada penjaga minimarket tentang kucing yang sering tidur di depan apartemen.
Tidak ada seorang pun yang mengatakan aku berisik.
Sementara itu, Raka tidak berhenti mencariku.
Ia mengirim email.
Surat.
Bunga.
Bahkan datang ke kantor.
Aku selalu menolak menemuinya.
Sampai suatu sore, resepsionis menelepon.
“Mbak Nadia, ada Pak Raka. Katanya hanya butuh lima menit.”
Aku hampir menolak.
Namun hari itu, pengacaraku baru saja mengirim dokumen perceraian.
Mungkin memang waktunya menyelesaikan semuanya.
Aku turun ke lobi.
Raka berdiri di sana.
Ia tampak jauh lebih kurus.
Begitu melihatku, matanya memerah.
“Nadia.”
Aku berhenti tiga meter darinya.
Wajahnya langsung berubah ketika mendengar jawabanku.
“Ada apa?”
Raka menatapku seolah baru mendengar suara dari seseorang yang sudah mati.
“Kamu… sudah bisa bicara?”
“Sudah.”
“Sejak kapan?”
“Cukup lama.”
Ia menelan ludah.
“Kenapa kamu tidak memberitahuku?”
Aku tersenyum.
“Karena berisik.”
Wajah Raka seketika pucat.
Ia tahu.
Aku melihat kepanikan memenuhi matanya.
“Kamu dengar?”
“Semua.”
“Nadia, waktu itu aku…”
“Aku juga mendengar rencana perceraianmu.”
Raka terdiam.
Aku menyerahkan map dari pengacaraku.
“Jadi aku mempermudah pekerjaanmu.”
Tangannya tidak segera menerima map itu.
“Aku tidak mau cerai.”
Aku mengernyit.
“Bukankah itu yang kamu inginkan?”
“Itu sebelum kamu pergi.”
Aku tertawa kecil.
“Jadi kamu mencintaiku setelah aku berhenti tersedia untukmu?”
“Nadia, dengarkan aku.”
“Aku sudah mendengarkanmu selama tiga tahun, Raka. Bahkan ketika kamu tidak bicara.”
Matanya berkaca-kaca.
“Aku salah.”
“Ya.”
“Aku bodoh.”
“Ya.”
“Aku bisa berubah.”
Aku menatapnya lama.
“Masalahnya bukan apakah kamu bisa berubah.”
“Lalu apa?”
“Aku sudah berubah.”
Raka akhirnya menerima map itu dengan tangan gemetar.
Namun sebelum pergi, ia berkata, “Tidak pernah ada hubungan antara aku dan Laras.”
Aku tidak menjawab.
“Dia memang menyukaiku,” lanjutnya cepat. “Aku tahu. Tapi aku tidak pernah menyentuhnya.”
“Tidak penting.”
“Penting buatku.”
Aku hendak pergi ketika ia berkata lagi.
“Aku berpura-pura bisu bukan karena membencimu.”
Langkahku berhenti.
Raka menunduk.
“Setelah kecelakaan tiga tahun lalu, suaraku sebenarnya pulih sekitar enam bulan kemudian.”
Aku sudah tahu bagian itu.
Namun kalimat berikutnya tidak kuduga.
“Waktu aku pertama kali mencoba bicara, aku mendengar kamu menelepon ibumu.”
Aku mengernyit.
“Kamu bilang hidup bersamaku melelahkan.”
Ingatan samar muncul.
Tiga tahun lalu.
Malam setelah terapi yang gagal.
Aku menangis di dapur sambil menelepon Ibu.
Aku memang pernah berkata lelah.
Namun setelahnya aku juga berkata bahwa aku tetap ingin menemani Raka sampai pulih.
“Aku dengar bagian pertama,” katanya. “Aku pergi sebelum mendengar sisanya.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Jadi selama hampir tiga tahun, kamu menghukumku karena satu kalimat yang kamu dengar setengah?”
Raka menutup mata.
“Aku pikir kamu menyesal menikah denganku. Awalnya aku cuma ingin melihat berapa lama kamu bisa bertahan.”
“Lalu?”
“Kamu terus bertahan.”
Suaranya pecah.
“Dan semakin lama aku berbohong, semakin sulit bagiku mengaku.”
Aku akhirnya memahami semuanya.
Bukan cinta kepada Laras.
Bukan gangguan bicara.
Bukan trauma.
Hanya ego seorang laki-laki yang terluka, lalu memilih menguji cinta istrinya tanpa pernah memberinya kesempatan menjelaskan.
Aku mengangguk perlahan.
“Terima kasih sudah memberitahuku.”
Raka menatapku penuh harap.
“Tapi itu tidak mengubah apa pun.”
Harapan itu runtuh.
Aku meninggalkannya di lobi.
Perceraian kami selesai empat bulan kemudian.
Laras menghubungiku sekali.
Ia meminta bertemu.
Aku menolak.
Namun ia mengirim satu pesan terakhir.
“Aku minta maaf. Aku seharusnya memberitahumu sejak awal.”
Aku membalas untuk pertama dan terakhir kalinya.
“Kamu benar.”
Lalu aku memblokir nomornya.
Setahun berlalu.
Pada suatu Sabtu pagi, aku duduk di sebuah kafe kecil dekat Taman Bungkul bersama beberapa teman kantor.
Aku sedang bercerita tentang seorang anak kecil yang mengejar burung merpati ketika temanku, Mira, tertawa.
“Nadia, kamu sadar nggak sih? Kalau sudah mulai cerita, kamu bisa ngomong dua puluh menit tanpa berhenti.”
Aku terdiam.
Semua orang di meja ikut diam, khawatir aku tersinggung.
Lalu aku tertawa.
“Serius?”
“Serius.”
“Berisik?”
Mira mengangkat bahu.
“Lumayan.”
Aku tertawa semakin keras.
“Bagus.”
Ponselku bergetar.
Sebuah nomor yang tidak kusimpan mengirim pesan.
Aku hampir mengabaikannya sampai melihat foto yang terlampir.
Raka sedang berdiri di sebuah acara komunitas.
Di sampingnya ada Laras.
Namun yang membuatku terpaku adalah keterangan di bawah foto.
Raka menjadi relawan di sebuah pusat rehabilitasi bagi pasien yang kehilangan kemampuan bicara akibat kecelakaan.
Di bawahnya ada kutipan pendek darinya.
“Dulu saya menggunakan diam untuk menyakiti seseorang. Sekarang saya ingin menggunakan suara saya untuk membantu orang lain menemukan suara mereka kembali.”
Aku menatap foto itu beberapa detik.
Kemudian menghapus pesannya.
Tidak ada marah.
Tidak ada sedih.
Tidak ada keinginan kembali.
Hanya lega.
Mungkin Raka akhirnya berubah.
Mungkin penyesalannya benar-benar tulus.
Namun tidak semua perubahan harus dibayar dengan kesempatan kedua.
Beberapa orang datang ke hidup kita untuk tinggal.
Beberapa lainnya datang untuk mengajarkan batas yang tidak boleh lagi kita biarkan siapa pun lewati.
Aku meletakkan ponsel dan kembali menatap teman-temanku.
“Tadi sampai mana?”
Mira tertawa.
“Burung merpati.”
“Oh iya. Jadi anak kecil itu lari mengejar merpati, terus tiba-tiba…”
Aku kembali bercerita.
Tentang hal-hal kecil.
Tentang cuaca.
Tentang kopi yang terlalu pahit.
Tentang bunga yang kulihat mekar di pinggir jalan pagi tadi.
Tentang semua hal yang dulu dianggap tidak penting.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak takut dianggap terlalu banyak bicara.
Karena akhirnya aku mengerti.
Orang yang benar-benar mencintaimu tidak akan membuatmu merasa harus mengecilkan dirimu agar pantas berada di sisinya.
Ia tidak akan meminta tawamu lebih pelan.
Tidak akan membuat ceritamu terasa seperti gangguan.
Dan tidak akan menjadikan keheningan sebagai hukuman.
Aku pernah menghabiskan tiga tahun menunggu seorang laki-laki menemukan kembali suaranya.
Pada akhirnya, justru aku yang hampir kehilangan suaraku sendiri.
Untungnya aku pergi sebelum benar-benar lupa bagaimana cara menggunakannya.
