“Saya sudah punya pacar.”
Kalimat itu keluar jauh lebih tenang daripada detak jantungku.
Tangan Raka yang tadi mencengkeram pergelangan tanganku perlahan terlepas. Untuk pertama kalinya sejak aku masuk ke kamar itu, ekspresinya berubah.
Bukan marah.
Bukan pula terkejut.
Dia tertawa pendek.
“Begitu?”

Aku mengangguk.
“Jadi kamu datang ke kamar mantan kekasihmu hampir tengah malam, memakai gaun seperti itu, lalu meminta bantuan sambil mengatakan kamu sudah punya pacar?”
Nada suaranya terdengar ringan, tetapi aku mengenal Raka terlalu baik.
Semakin tenang suaranya, semakin dalam amarah yang sedang dia tahan.
“Aku tidak punya pilihan lain.”
“Kamu selalu punya pilihan, Laras.”
Dia akhirnya memanggil namaku.
Bukan Nona Laras.
Bukan Sutradara Laras.
Hanya Laras.
Aneh sekali bagaimana satu nama bisa terasa lebih menyakitkan daripada semua penghinaan Wira malam ini.
Raka bangkit dan berjalan menuju jendela. Dari lantai tinggi hotel itu, lampu Jakarta terlihat seperti ribuan bintang yang jatuh ke bumi.
“Enam tahun lalu kamu juga bilang tidak punya pilihan.”
Aku membeku.
“Aku tidak datang untuk membicarakan masa lalu.”
“Tentu saja.” Raka menoleh. “Kamu hanya datang karena butuh uang.”
Aku tidak menjawab.
Karena dia benar.
Setidaknya itulah kebenaran yang pernah kuberikan kepadanya.
Enam tahun lalu, aku menerima sebuah cek dari ibunya.
Rp2 miliar.
Jumlah yang bagi keluarga Adinata mungkin tidak berarti apa-apa, tetapi bagiku saat itu bisa menyelamatkan seluruh dunia.
Aku mengambil uang itu dan pergi.
Tanpa penjelasan.
Tanpa perpisahan yang layak.
Aku bahkan sengaja mengatakan kepada Raka bahwa selama ini aku hanya menunggu kesempatan untuk mendapatkan sesuatu dari keluarganya.
Aku membuatnya membenciku karena saat itu kebencian terasa jauh lebih aman daripada harapan.
Raka mengambil sebuah kartu nama dari meja.
“Besok pukul sembilan pagi, datang ke kantor.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Bukankah kamu meminta bantuan?”
“Jadi…”
“Aku akan melihat proposal filmmu.”
Dadaku seperti baru bisa bernapas lagi.
“Terima kasih.”
“Tapi jangan salah paham.”
Tatapan Raka kembali dingin.
“Aku membantumu bukan karena masa lalu. Aku hanya ingin melihat apakah sesuatu yang kamu pertahankan sampai rela berlutut di depan Wira memang cukup berharga.”
Aku mengangguk.
Saat hendak pergi, suaranya menghentikanku.
“Dan Laras.”
Aku menoleh.
“Lain kali jangan datang ke kamar laki-laki dengan pakaian seperti itu kalau kamu benar-benar punya pacar.”
Aku tersenyum tipis.
“Dia tidak keberatan.”
Untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat rahang Raka mengeras.
Aku pergi sebelum keberanianku habis.
Keesokan paginya, aku datang ke kantor pusat Adinata Group di kawasan Sudirman dengan tidur kurang dari tiga jam.
Kak Mira hampir pingsan ketika mengetahui siapa yang akan melihat proposal kami.
“Kamu kenal Raka Adinata?”
“Sedikit.”
“Sedikit bagaimana?”
“Mantan pacar.”
Kak Mira menatapku selama lima detik penuh.
“Laras, ada banyak cara membuatku terkena serangan jantung. Tolong jangan pilih yang paling mahal.”
Aku tertawa, tetapi tangan yang memegang map terasa dingin.
Raka membuat kami menunggu dua puluh menit.
Ketika akhirnya masuk, aku menemukan bukan hanya Raka di ruang rapat.
Wira juga ada di sana.
Senyumnya langsung menghilang ketika melihatku.
“Apa dia juga ikut rapat?”
Raka membuka proposal tanpa menatapnya.
“Dia sutradaranya. Tentu saja.”
Wira tertawa kecil.
“Pak Raka, perempuan ini tidak layak diberi satu rupiah pun.”
“Kenapa?”
“Dia membuat masalah di kapal.”
Raka membalik halaman proposal.
“Yang kulihat justru kamu yang melempar gelas.”
Wira terdiam.
Raka kemudian menatapku.
“Presentasikan.”
Aku berdiri.
Dua puluh menit berikutnya, aku melupakan semuanya.
Aku melupakan luka di kaki, penghinaan semalam, bahkan lelaki yang pernah kucintai sedang duduk beberapa meter di depanku.
Aku hanya berbicara tentang film.
Tentang perempuan-perempuan yang kehilangan rumah karena penggusuran pesisir.
Tentang keluarga yang bertahan hidup.
Tentang bagaimana sebuah film tidak harus memiliki bintang besar untuk membuat penonton merasa sesuatu.
Ketika selesai, ruangan sunyi.
Raka menutup proposal.
“Aku akan mendanai tujuh puluh persen.”
Kak Mira hampir menjatuhkan pulpennya.
Wira berdiri.
“Pak Raka!”
Raka mengangkat tangan.
“Tapi ada syarat.”
Aku sudah menduganya.
“Apa?”
“Kamu sendiri yang bertanggung jawab atas seluruh produksi. Kalau anggaran membengkak lebih dari sepuluh persen, investasi dihentikan.”
“Itu saja?”
“Belum.”
Dia menatapku lurus.
“Aku akan menjadi produser eksekutif.”
Jantungku tenggelam.
Artinya kami akan bertemu.
Sering.
Selama berbulan-bulan.
Aku ingin menolak.
Namun di sampingku, Kak Mira mencubit pahaku begitu keras sampai hampir meninggalkan memar.
“Setuju,” jawabku.
Begitulah kesalahan terbesar kedua dalam hidupku dimulai.
Selama tiga bulan berikutnya, Raka muncul di lokasi syuting lebih sering daripada yang diperlukan seorang investor.
Dia memeriksa laporan anggaran, berbicara dengan kru, bahkan beberapa kali ikut makan nasi kotak bersama kami.
Hubungan kami tetap dingin.
Setidaknya di depan orang lain.
Namun ada hal-hal kecil yang mulai mengacaukan pertahananku.
Ketika syuting berlangsung sampai pukul dua pagi, selalu ada kopi tanpa gula di dekat monitorku.
Ketika hujan turun, sebuah jaket tiba-tiba muncul di kursiku.
Ketika aku lupa makan, asisten Raka akan datang membawa makanan sambil berkata, “Pesanan kantor.”
Aku tahu itu bohong.
Raka dulu selalu seperti itu.
Dia tidak pandai mengatakan bahwa dia peduli.
Dia hanya mengingat semuanya.
Masalah sebenarnya muncul ketika seorang aktor utama kami mengalami kecelakaan dua minggu sebelum syuting selesai.
Produksi terancam berhenti.
Investor tambahan mundur.
Wira menggunakan kesempatan itu untuk menyebarkan kabar bahwa proyek kami kacau karena ketidakmampuanku.
Dalam dua hari, tiga sponsor membatalkan kerja sama.
Aku menghabiskan malam di ruang editing sendirian, menghitung angka sampai kepala terasa pecah.
Pukul satu dini hari, pintu terbuka.
Raka masuk.
“Kamu belum pulang?”
“Belum.”
“Kamu sudah makan?”
“Sudah.”
Dia melihat kotak makan siang yang masih tertutup di meja.
“Kamu tetap buruk dalam berbohong.”
Aku tidak punya tenaga untuk membalas.
Raka duduk di depanku.
“Aku akan menutup kekurangan dananya.”
Aku langsung menggeleng.
“Tidak.”
“Kamu akan kehilangan film ini.”
“Kalau terus menerima uangmu setiap kali aku gagal, apa bedanya aku dengan perempuan yang kamu pikir enam tahun lalu?”
Wajahnya berubah.
“Jangan gunakan masa lalu sebagai alasan.”
“Aku tidak mau berutang lagi kepadamu.”
Raka berdiri.
“Berutang?”
Suaranya mulai rendah.
“Menurutmu itu masalah kita?”
Aku ikut berdiri.
“Lalu apa?”
“Kenapa kamu meninggalkanku?”
Pertanyaan itu akhirnya datang.
Enam tahun terlambat.
Aku tidak menjawab.
Raka menghantam meja dengan telapak tangannya.
Tidak keras, tetapi cukup membuatku tersentak.
“Aku bertanya kepada ibuku. Dia bilang kamu meminta uang. Aku melihat bukti transfernya sendiri.”
“Kalau begitu kamu sudah tahu.”
“Aku mengenalmu.”
Matanya memerah.
“Itulah masalahnya, Laras. Aku mengenalmu. Dan selama enam tahun aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku ternyata salah.”
Aku menggigit bibir.
“Pulanglah, Raka.”
“Tidak.”
“Raka.”
“Untuk apa uang itu?”
Aku memalingkan wajah.
“Untuk diriku.”
“Bohong.”
Aku tertawa pahit.
“Kenapa sekarang kamu begitu ingin percaya aku perempuan baik?”
“Karena tiga bulan terakhir aku melihat seorang perempuan yang rela menghabiskan tabungannya untuk membayar kru sebelum dirinya sendiri. Perempuan yang berkelahi dengan sponsor agar pemeran figuran dibayar tepat waktu. Perempuan yang berlutut di depan bajingan seperti Wira tetapi tetap melindungi pelayan yang bahkan tidak dikenalnya.”
Dia mendekat.
“Jadi katakan kepadaku. Untuk apa dua miliar itu?”
Aku menutup mata.
Rahasia yang kujaga enam tahun akhirnya terasa terlalu berat.
“Operasi ayahmu.”
Raka berhenti bernapas.
Aku membuka mata.
“Enam tahun lalu perusahaan keluargamu sedang mengalami perebutan kendali. Ayahmu terkena serangan jantung di Singapura. Kondisinya dirahasiakan karena kalau dewan direksi tahu, pamanmu akan mengambil alih perusahaan.”
Wajah Raka perlahan kehilangan warna.
“Ibumu datang kepadaku.”
Aku masih ingat malam itu.
Perempuan yang selalu tampak anggun itu duduk di depanku dengan mata bengkak.
Dia membutuhkan uang yang tidak bisa keluar dari rekening perusahaan atau rekening keluarga tanpa meninggalkan jejak.
Aku baru saja mendapat tawaran membeli hak naskah pertamaku dari sebuah perusahaan luar negeri.
Jumlahnya tidak cukup.
Ibunya menawarkan skema yang sederhana.
Dia mentransfer dua miliar kepadaku sebagai uang perpisahan.
Aku kemudian menyerahkan hampir seluruhnya kepada seorang perantara medis di Singapura.
Secara administratif, uang itu terlihat seperti pembayaran pribadi kepada kekasih anaknya.
Bukan biaya pengobatan kepala keluarga Adinata.
“Kenapa harus kamu?” suara Raka hampir berbisik.
“Karena saat itu aku satu-satunya orang di luar keluarga yang dia percaya.”
“Kenapa kamu tidak memberitahuku setelah semuanya selesai?”
Aku tersenyum.
“Karena ibumu meminta satu hal sebagai gantinya.”
Raka menatapku.
“Aku harus meninggalkanmu.”
Ruangan terasa sangat sunyi.
“Dia percaya aku akan menjadi kelemahanmu. Dan waktu itu… mungkin dia benar.”
“Tidak.”
“Aku miskin, Raka. Ayahku meninggalkan utang. Ibuku sakit. Setiap minggu ada penagih datang ke rumah. Sementara kamu sedang berperang untuk menyelamatkan perusahaan keluargamu.”
Air mataku akhirnya jatuh.
“Aku tidak ingin menjadi satu lagi masalah yang harus kamu selamatkan.”
Raka berdiri diam.
Lalu dia bertanya sesuatu yang tidak kuduga.
“Berapa banyak uang yang kamu simpan dari dua miliar itu?”
Aku tertawa sambil menangis.
“Dua puluh tiga juta.”
Hanya itu.
Uang yang kupakai untuk membayar kontrakan ibu selama beberapa bulan.
Raka menutup wajah dengan kedua tangannya.
Untuk pertama kalinya aku melihat lelaki itu benar-benar hancur.
Namun sebelum salah satu dari kami sempat berkata lagi, pintu ruang editing terbuka.
Sari berdiri di sana.
Pelayan perempuan dari kapal.
Wajahnya pucat.
“Kak Laras, maaf. Saya harus menunjukkan sesuatu.”
Dia menyerahkan ponselnya.
Sebuah rekaman suara sedang diputar.
Suara Wira terdengar jelas.
Dia sedang berbicara dengan seseorang tentang menyabotase produksi kami.
Kecelakaan aktor utama ternyata bukan kecelakaan.
Mobilnya sengaja dirusak.
Wira ingin filmku gagal agar aku kembali memohon kepadanya.
Tetapi bagian terakhir rekaman jauh lebih mengejutkan.
Wira menyebut nama ibu Raka.
Raka langsung mengambil ponsel itu.
“Apa hubungan ibuku dengan ini?”
Sari menelan ludah.
“Saya tidak tahu. Tapi saya mendengar Pak Wira bilang semua ini dilakukan supaya Kak Laras tidak pernah kembali ke kehidupan Bapak.”
Keesokan paginya, Raka membawa rekaman itu kepada ibunya.
Aku tidak ikut.
Aku tidak ingin melihat perempuan yang enam tahun lalu memintaku pergi.
Namun sore harinya, dia datang sendiri ke lokasi syuting.
Rambutnya kini lebih banyak berwarna putih.
Dia berdiri di depanku cukup lama sebelum berkata, “Maaf.”
Ternyata Wira adalah putra salah satu pemegang saham lama yang selama bertahun-tahun berusaha menjodohkan putrinya dengan Raka.
Ibunya memang pernah meminta Wira memastikan aku tidak kembali mendekati Raka.
Tetapi dia tidak pernah memerintahkan sabotase.
Wira bertindak lebih jauh karena ingin mempertahankan pengaruh keluarganya di Adinata Group.
Rekaman Sari cukup untuk menghancurkan semuanya.
Raka melaporkannya.
Perusahaannya memutus seluruh kontrak dengan keluarga Wira.
Namun hal yang paling mengejutkanku terjadi dua bulan kemudian.
Film kami selesai.
Tidak menjadi film dengan pendapatan terbesar tahun itu.
Tidak pula membuatku mendadak terkenal.
Namun film itu mendapat sambutan hangat di festival nasional dan kemudian dibeli platform streaming regional.
Pada malam pemutaran perdana, aku berdiri di belakang bioskop sambil menenangkan diri.
Raka datang membawa dua botol air mineral.
“Pacarmu tidak datang?”
Aku hampir tersedak.
Dia masih mengingat kebohongan itu.
Aku menerima botol darinya.
“Putus.”
“Kapan?”
“Sekitar enam tahun lalu.”
Raka menatapku.
Aku menahan senyum.
“Aku tidak pernah punya pacar setelah kamu.”
Dia diam cukup lama.
“Jadi malam itu kamu berbohong?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Karena aku tahu kamu marah.”
“Dan kamu pikir mengatakan punya pacar akan membuatku tidak marah?”
“Tidak.”
Aku menatapnya.
“Aku ingin tahu apakah kamu masih cemburu.”
Raka tertawa.
Benar-benar tertawa untuk pertama kalinya sejak kami bertemu kembali.
Kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Bukan cincin.
Sebuah cek lama.
Nominalnya Rp2 miliar.
Namaku masih tertulis di sana.
Aku mengenalinya.
“Itu…”
“Ibuku menyimpannya.”
Raka merobek cek itu menjadi dua.
Lalu empat.
Lalu delapan.
Potongan kertas jatuh ke tempat sampah.
“Aku menghabiskan enam tahun membencimu karena uang yang ternyata tidak pernah benar-benar kamu ambil.”
Aku menatapnya tanpa mampu berkata apa-apa.
Raka melanjutkan, “Aku tidak bisa mengembalikan enam tahun itu.”
“Tidak perlu.”
“Tapi aku ingin meminta satu hal.”
“Apa?”
“Kali ini, jangan putuskan sendiri apa yang terbaik untukku.”
Mataku terasa panas.
Aku tersenyum.
“Kalau aku bilang belum tentu mau kembali?”
“Aku akan menunggu.”
“Berapa lama?”
Raka menatapku dengan ekspresi tenang yang sangat kukenal.
“Enam tahun kalau perlu.”
Aku tertawa sambil menangis.
Dulu aku berpikir cinta berarti bertahan bersama apa pun yang terjadi.
Kemudian hidup mengajariku bahwa cinta juga bisa membuat seseorang pergi karena merasa dirinya adalah beban.
Aku salah.
Raka juga salah.
Kami kehilangan enam tahun karena dua orang yang saling mencintai sama-sama merasa tahu apa yang terbaik bagi satu sama lain tanpa pernah benar-benar bertanya.
Aku tidak langsung kembali menjadi kekasihnya malam itu.
Tidak ada pelukan dramatis.
Tidak ada janji bahwa semua luka akan hilang.
Kami hanya berjalan masuk ke bioskop bersama.
Di depan pintu, Raka tiba-tiba berhenti.
“Ada satu hal lagi.”
“Apa?”
“Waktu di hotel, kamu benar-benar berniat membuka gaunmu?”
Wajahku langsung panas.
“Raka!”
Dia tersenyum.
Senyum yang sama seperti enam tahun lalu.
Aku memukul lengannya pelan.
Dia menangkap tanganku.
Dan kali ini, aku tidak menariknya kembali.
Enam tahun lalu aku meninggalkan seorang pria demi uang yang sebenarnya digunakan untuk menyelamatkan keluarganya.
Enam tahun kemudian aku kembali kepadanya karena membutuhkan uang untuk menyelamatkan filmku.
Ironisnya, setelah semua kesalahpahaman itu terbongkar, kami akhirnya memahami sesuatu yang jauh lebih mahal daripada dua miliar rupiah.
Kesempatan kedua tidak diberikan agar kita mengulang masa lalu.
Kesempatan kedua diberikan agar, ketika hidup mempertemukan dua orang yang sama sekali lagi, mereka cukup dewasa untuk memilih dengan cara yang berbeda.
