Mantan Suamiku Memilih Muridnya Saat Kami Disandera, Lima Tahun Kemudian Ia Melihat Tangan Palsuku

“Citra pernah menjadi pasienku.”

Kalimat itu membuat Raka akhirnya melangkah masuk ke ruang tindakan.

Wajahnya masih pucat. Tatapannya jatuh pada lengan kananku yang kosong, lalu buru-buru beralih ke wajahku, seolah melihatnya terlalu lama akan membuat rasa bersalah yang selama lima tahun ia kubur hidup kembali.

Sinta berdiri kaku di antara kami.

Aku menarik napas.

“Dua bulan sebelum penyanderaan itu, Citra datang ke rumah sakit tempatku menjalani residensi.”

Raka mengangkat kepala.

“Apa?”

“Kamu tidak tahu?”

Ia menggeleng perlahan.

Tentu saja.

Saat itu Raka hanya mengenal Citra sebagai salah satu peserta pelatihan negosiasi krisis yang dibimbingnya. Perempuan berusia dua puluh tiga tahun itu cerdas, disiplin, dan selalu terlihat berani.

Yang tidak diketahui siapa pun adalah bahwa beberapa bulan sebelumnya Citra kehilangan adik laki-lakinya karena kecelakaan.

Ia menyalahkan dirinya sendiri.

Malam ketika aku bertugas, petugas keamanan menemukannya berdiri di atap rumah sakit.

Aku yang berbicara dengannya hampir empat puluh menit.

Aku tidak mengenalnya.

Ia juga tidak mengenalku.

Aku hanya melihat seorang perempuan muda yang sudah terlalu lelah menanggung rasa bersalah.

“Aku mengatakan kepadanya bahwa rasa bersalah bisa membuat seseorang merasa dirinya tidak pantas hidup,” kataku. “Padahal terkadang kita hanya sedang menghukum diri sendiri atas sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan.”

Raka menunduk.

Aku tersenyum tipis.

“Lucu, bukan? Lima tahun kemudian, kalimat itu justru lebih cocok untukmu.”

Rahang Raka menegang.

“Laras, soal hari itu…”

“Jangan.”

Suaraku tidak keras, tetapi cukup untuk menghentikannya.

“Aku tidak ingin mendengar permintaan maaf.”

“Aku tidak akan meminta maaf.”

Aku menatapnya.

Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu kembali, ada sesuatu selain rasa bersalah di wajahnya.

“Karena kalau aku hanya meminta maaf,” katanya pelan, “itu berarti aku masih membiarkanmu percaya bahwa aku memilih Citra karena dia lebih penting daripada kamu.”

Dadaku terasa sesak.

“Bukankah itu yang terjadi?”

“Tidak.”

Aku tertawa pendek.

“Aku mendengarnya sendiri, Raka.”

“Karena itu satu-satunya cara agar kalian berdua punya kesempatan hidup.”

Ruangan mendadak terasa sunyi.

Raka menarik kursi, tetapi tidak duduk.

“Penculik itu bernama Bagas. Sebelum masuk ke gudang, tim sudah mengetahui dia memasang bahan peledak rakitan di dekat pintu belakang. Pemicu ada di sakunya.”

Aku mengerutkan kening.

Bagian itu tidak pernah ada dalam laporan yang kubaca.

“Tim penembak punya sudut pandang ke Bagas,” lanjutnya. “Tapi mereka tidak bisa menembak selama Citra berada di sisi kirinya. Tubuh Citra menutup garis tembak.”

Aku mulai memahami arah kalimatnya.

Dan aku membencinya.

“Ketika Bagas menyuruhku memilih, posisi kalian berbeda. Kalau aku memilihmu, dia akan mendorongmu ke pintu. Citra tetap berada di garis tembak. Tim tidak bisa melakukan apa-apa.”

Raka menelan ludah.

“Kalau aku memilih Citra, dia akan memindahkan Citra dari sisi kirinya. Penembak mendapat jalur bersih.”

Tanganku terasa dingin.

“Lalu kenapa mereka tidak menembak?”

“Karena Bagas melihat pantulan laser.”

Suara Raka hampir pecah.

“Dia bergerak sepersekian detik sebelum tembakan dilepaskan.”

Aku teringat semuanya.

Golok yang terangkat.

Kilatan logam.

Suara tulang.

Darah.

“Tim menyerbu tiga detik kemudian,” kata Raka. “Tapi tiga detik itu cukup untuk menghancurkan hidupmu.”

Aku menatapnya lama.

“Dan pelukan itu?”

Raka memejamkan mata.

“Aku tidak sedang memeluk Citra.”

Aku tertawa getir.

“Jangan berbohong.”

“Aku menariknya turun.”

Ia menatapku lagi.

“Bagas masih memegang pemicu. Aku menjatuhkan Citra ke lantai dan menutup tubuhnya karena kupikir bom akan meledak.”

Ingatan yang selama lima tahun kusimpan sebagai satu gambar tiba-tiba bergerak.

Citra berlari.

Raka menangkapnya.

Tubuh mereka merunduk.

Tangannya melingkari kepala Citra.

Dari tempatku terbaring, dengan darah memenuhi mata dan kesadaran yang hampir hilang, aku hanya melihat potongan akhirnya.

Aku telah mengubahnya menjadi sebuah pelukan.

Menjadi bukti.

Menjadi alasan untuk membenci.

Namun satu hal masih tidak berubah.

“Kamu tetap tidak menoleh kepadaku.”

Kali ini Raka tidak membantah.

Matanya memerah.

“Karena kalau aku menoleh, aku tidak akan bisa melakukan pekerjaanku.”

Aku terdiam.

“Aku mendengar kamu berteriak.”

Suaranya mulai serak.

“Aku tahu kamu terluka. Aku tahu darahmu ada di lantai. Tapi Bagas masih hidup dan pemicu masih ada di tangannya. Kalau aku berlari kepadamu, semua orang di gudang bisa mati.”

Ia menarik napas gemetar.

“Jadi aku tidak menoleh.”

Aku membenci betapa masuk akalnya penjelasan itu.

Lebih mudah hidup lima tahun dengan keyakinan bahwa Raka adalah monster.

Monster mudah dibenci.

Manusia yang membuat keputusan mustahil jauh lebih sulit.

“Tapi setelah semuanya selesai,” kataku, “kamu juga tidak datang.”

Raka membeku.

Itulah luka sebenarnya.

Aku terbangun setelah operasi tanpa lengan kanan.

Ibuku ada di samping ranjang.

Ayahku menangis di lorong.

Raka tidak ada.

Hari pertama.

Hari kedua.

Hari ketiga.

Yang datang justru pengacaranya membawa dokumen cuti, laporan kepolisian, dan pesan singkat bahwa Raka membutuhkan waktu.

Dua minggu kemudian aku meminta cerai.

Ia menandatanganinya tanpa pernah datang menemuiku.

“Aku datang,” katanya.

Aku menggeleng.

“Jangan.”

“Setiap malam.”

Aku menatapnya tajam.

“Aku datang setiap malam selama dua puluh satu hari.”

“Bohong.”

“Ayahmu melarangku masuk.”

Darah seperti berhenti mengalir di tubuhku.

Raka merogoh saku jaket dan mengeluarkan ponselnya. Setelah beberapa sentuhan, ia meletakkannya di meja.

Sebuah foto muncul.

Koridor rumah sakit.

Tanggalnya lima tahun lalu.

Kemudian foto kedua.

Ketiga.

Raka duduk sendirian di kursi tunggu.

Hari yang berbeda.

Pakaian berbeda.

Koridor yang sama.

“Ayahmu bilang setiap kali kamu bangun sambil menangis, kamu menyebut namaku lalu meminta semua orang mengusirku.”

Aku tidak mampu berkata-kata.

“Aku pikir kehadiranku membuatmu semakin hancur.”

“Jadi kamu menyerah?”

“Ya.”

Jawabannya begitu cepat hingga menyakitkan.

“Itulah kesalahanku yang sebenarnya, Laras. Bukan keputusan di gudang. Aku masih percaya keputusan itu adalah pilihan taktis terbaik yang kami punya saat itu.”

Air mata akhirnya jatuh dari matanya.

“Tapi setelahnya aku pengecut. Aku membiarkan rasa bersalah menentukan apa yang kamu butuhkan tanpa pernah bertanya kepadamu.”

Aku memalingkan wajah.

Sinta diam-diam keluar dan menutup pintu.

Untuk beberapa saat hanya suara monitor dari koridor yang terdengar.

“Kenapa kamu tidak pernah menjelaskan?”

“Karena laporan operasi disegel. Ada informan di dalam kepolisian yang membantu Bagas.”

Aku menatapnya kembali.

“Informan?”

Raka mengangguk.

“Itu sebabnya Bagas tahu jadwal pelatihan kami. Itu juga sebabnya dia tahu Citra adalah muridku.”

Sesuatu terasa ganjil.

“Kalau targetnya kamu, kenapa aku ikut diculik?”

Raka tidak langsung menjawab.

Wajahnya berubah.

“Awalnya kami pikir kamu hanya kebetulan bersamaku.”

“Awalnya?”

“Sampai tiga tahun lalu.”

Ia mengambil ponselnya lagi.

“Bagas meninggal di penjara. Sebelum meninggal, dia memberikan satu nama.”

Jantungku berdetak lebih cepat.

“Siapa?”

Raka menatap pintu, memastikan tidak ada orang lain.

“Orang yang membayar penculikan itu tidak menargetkan aku.”

Ia menatapku.

“Target sebenarnya adalah kamu.”

Aku berdiri begitu cepat hingga kursiku bergeser.

“Itu tidak masuk akal.”

“Kamu ingat pasien bernama Dimas Prasetyo?”

Aku mengingatnya.

Seorang mahasiswa yang meninggal setelah mengalami komplikasi pascaoperasi. Kasusnya sempat diperiksa internal karena ada dugaan obat yang diberikan tidak sesuai.

“Aku menulis laporan tentang obatnya.”

“Benar.”

Raka mengangguk.

“Dan laporanmu hampir membongkar jaringan distribusi obat ilegal yang menggunakan beberapa fasilitas kesehatan sebagai jalur masuk.”

Tenggorokanku mengering.

“Jaringan yang sekarang sedang diselidiki satuanku?”

“Ya.”

Aku menatap luka di bahu Raka yang tadi kujahit.

Ia datang ke IGD pagi ini setelah operasi penggerebekan gudang narkotika.

Pertemuan kami ternyata bukan kebetulan sederhana.

“Kamu datang ke rumah sakit ini karena mereka?”

Raka tidak sempat menjawab.

Terdengar bunyi keras dari luar.

Kemudian lampu padam.

Koridor dipenuhi teriakan.

Raka langsung bergerak.

“Di belakangku.”

“Aku dokter, bukan sandera.”

“Laras.”

Nada itu.

Nada yang sama seperti lima tahun lalu.

Namun kali ini aku tidak menurut.

Aku mengambil lampu senter kecil dari meja dan membuka pintu.

Asap tipis memenuhi ujung koridor.

Seorang petugas keamanan tergeletak di lantai.

Kemudian seorang perempuan muncul dari balik asap.

Aku mengenal wajahnya.

Sinta.

Namun bukan ekspresi lembut yang tadi kulihat.

Di tangannya ada pistol.

Raka membeku.

“Sinta?”

Perempuan itu tersenyum.

“Nama saya bukan Sinta.”

Ia mengarahkan pistol kepadaku.

“Dokter Laras seharusnya mati lima tahun lalu.”

Raka langsung berdiri di depanku.

Aku hampir tertawa karena ironi itu.

Lima tahun lalu aku yakin ia memilih perempuan lain.

Sekarang, tanpa ragu, ia menggunakan tubuhnya sendiri sebagai perisai.

“Turunkan senjatamu,” kata Raka.

“Geser.”

“Tidak.”

Sinta mengangkat pistol lebih tinggi.

“Kalian selalu membuat semuanya rumit.”

Tiba-tiba terdengar suara dari sisi kanan koridor.

“Dia tidak sendirian.”

Sinta menoleh.

Kesalahan kecil.

Raka menerjang.

Suara tembakan meledak.

Aku menjatuhkan diri.

Pistol terlepas dan meluncur di lantai.

Dua petugas antinarkotika muncul dari tangga darurat dan membekuk Sinta.

Raka terduduk di lantai.

Darah mengalir dari sisi tubuhnya.

“Raka!”

Aku berlari.

Untuk pertama kalinya setelah lima tahun, aku memanggil namanya tanpa kebencian.

Tanganku menekan lukanya.

Tangan kiriku.

Sementara lengan kanan yang tidak lagi ada terasa seolah masih bisa menyentuhnya.

Raka tersenyum lemah.

“Kali ini aku memilih orang yang benar?”

Air mataku jatuh.

“Diam. Kamu kehilangan terlalu banyak darah.”

Operasi berlangsung hampir tiga jam.

Raka selamat.

Dua hari kemudian, penyelidikan internal menemukan identitas asli perempuan yang menyamar sebagai Sinta. Ia adalah bagian dari jaringan yang selama bertahun-tahun berusaha menghilangkan semua orang yang mengetahui jalur distribusi obat ilegal tersebut.

Namun kejutan terbesar datang seminggu kemudian.

Citra datang menemuiku.

Aku hampir tidak mengenalinya.

Ia kini bekerja sebagai psikolog krisis.

“Ada sesuatu yang harus saya kembalikan,” katanya.

Ia menyerahkan sebuah amplop tua.

Di dalamnya terdapat surat dengan tulisan tangan Raka.

Tanggalnya sehari setelah operasiku.

Laras,

Kalau kamu bangun dan tidak ingin melihatku lagi, aku akan menerima itu. Tapi ada satu hal yang harus kamu tahu. Di gudang itu aku tidak memilih Citra karena aku ingin menyelamatkan dia dan meninggalkanmu. Aku memilih posisi yang menurutku memberi kalian berdua peluang hidup.

Aku gagal melindungi tanganmu.

Dan mungkin setelah ini aku juga gagal mempertahankan pernikahan kita.

Tapi aku tidak pernah memilih seseorang di atasmu.

Aku menatap Citra.

“Kenapa surat ini ada padamu?”

Matanya berkaca-kaca.

“Komandan Raka menitipkannya kepada saya karena ayah Dokter tidak mengizinkannya masuk.”

“Kenapa kamu tidak memberikannya?”

Citra menunduk.

“Saya takut.”

Aku tidak mengerti.

Kemudian ia mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak kuduga.

“Karena saya mencintai dia.”

Aku terpaku.

“Saya masih muda. Saya bodoh. Setelah kejadian itu, saya tahu pernikahan kalian sedang hancur. Saya pikir kalau surat itu tidak pernah sampai, suatu hari mungkin dia akan melihat saya sebagai lebih dari murid.”

Tangannya gemetar.

“Tapi dia tidak pernah melakukannya.”

Air mata mengalir di pipinya.

“Bahkan setelah kalian bercerai, setiap tahun pada tanggal kejadian itu dia datang ke rumah sakit lama dan duduk di koridor sampai pagi.”

Aku menatap surat di tanganku.

Lima tahun kebencian.

Lima tahun salah paham.

Sebagian lahir dari keputusan Raka.

Sebagian dari ketakutanku.

Sebagian lagi dari satu surat yang tidak pernah sampai.

Aku tidak kembali menikah dengan Raka.

Setidaknya tidak segera.

Hidup bukan cerita yang bisa memperbaiki lima tahun luka hanya dengan satu penjelasan.

Kami memulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Berbicara.

Kadang di kantin rumah sakit.

Kadang di taman rehabilitasi.

Kadang hanya sepuluh menit sebelum ia kembali bertugas.

Ia belajar bahwa aku tidak membutuhkan perlindungan setiap saat.

Aku belajar bahwa memaafkan tidak sama dengan melupakan.

Enam bulan kemudian, aku mendapat prostetik baru.

Saat pertama kali mencobanya, Raka berdiri beberapa meter dariku.

“Bagaimana rasanya?”

Aku menggerakkan jari-jari mekanis itu perlahan.

“Berat.”

Ia tersenyum.

“Seperti masa lalu?”

Aku menatapnya.

“Tidak.”

Aku mengangkat tangan prostetik itu dan menggenggam tangannya.

“Masa lalu lebih berat.”

Raka terdiam.

“Lalu sekarang?”

Aku tersenyum tipis.

“Sekarang aku sudah tahu kapan harus melepaskannya.”

Aku membuka genggaman.

Kemudian, sebelum senyumnya hilang, tangan kiriku meraih tangannya kembali.

“Dan kapan harus memegang sesuatu sekali lagi.”

Lima tahun lalu aku kehilangan sebuah lengan dan mengira pada hari yang sama aku juga kehilangan cinta.

Ternyata aku salah.

Yang benar-benar hilang adalah kemampuan kami untuk saling mengatakan kebenaran ketika luka masih terlalu segar.

Tubuh manusia bisa belajar hidup setelah kehilangan satu bagian dari dirinya.

Begitu pula hati.

Ia tidak tumbuh kembali seperti semula.

Ia membentuk cara baru untuk bertahan.

Dan terkadang, justru melalui bagian yang tidak lagi sempurna itu, kita akhirnya belajar membedakan antara seseorang yang meninggalkan kita dan seseorang yang pernah membuat keputusan salah, lalu menghabiskan bertahun-tahun berharap diberi kesempatan untuk memperbaikinya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang