Mantan Kekasihku yang Kini Mayor Jenderal Memaksaku Datang ke Pernikahannya dengan Menjadikan Karier dan Rumah Sakitku Sebagai Taruhan

Aku mengangkat kepala dan menatap Arman tanpa menghindar.

Tujuh tahun lalu, berdiri sedekat ini dengannya bisa membuat jantungku berdebar hanya karena satu tatapan. Sekarang yang kurasakan justru kelelahan.

“Kalau menurutmu aku datang karena lima alat itu, berarti kamu masih belum mengenalku.”

Arman menyipitkan mata.

“Bukankah faktanya kamu tetap datang?”

“Aku datang karena lima alat itu bisa membantu pasien yang tidak punya pilihan untuk diterbangkan ke Jakarta. Aku datang karena rumah sakit kami membutuhkan fasilitas itu. Bukan karena kamu.”

Rahangnya mengeras.

Aku berjalan melewatinya, membuka pintu kamar selebar mungkin, lalu menunjuk koridor.

“Sekarang silakan keluar.”

Arman tidak bergerak.

“Besok malam pernikahanku.”

“Aku tahu.”

“Datang.”

“Tidak.”

Jawabanku terlalu cepat hingga ekspresinya berubah.

“Aku sudah membuatmu berada di Jakarta.”

“Dan itu satu-satunya hal yang berhasil kamu lakukan.”

Tatapannya menjadi dingin.

“Jangan memaksaku menggunakan cara lain.”

Aku tertawa kecil.

“Ancaman?”

“Aku hanya mengingatkan bahwa rekomendasi pengadaan alat itu belum ditandatangani.”

Kalimat tersebut membuat seluruh kehangatan dalam tubuhku seakan menghilang.

Jadi benar.

Dia sengaja menghubungkan kepentingan rumah sakit dengan keinginannya sendiri.

Aku mengeluarkan ponsel dari saku jas.

“Ulangi.”

Arman mengernyit.

“Apa?”

“Kalimat tentang rekomendasi alat tadi. Ulangi.”

Dia langsung memahami maksudku.

Tatapannya jatuh pada ponsel di tanganku.

“Kamu merekamku?”

“Seorang dokter belajar mendokumentasikan hal penting.”

Wajahnya berubah.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat sedikit keraguan di matanya.

Aku mendekat satu langkah.

“Kalau lima alat medis itu memang bagian dari program resmi, prosesnya harus berjalan berdasarkan kebutuhan rumah sakit, bukan berdasarkan apakah mantan pacarmu datang ke pesta pernikahanmu.”

“Citra.”

“Kalau kamu menahannya karena aku tidak datang, aku akan membuat laporan resmi.”

Arman menatapku lama.

Kemudian dia tertawa pendek, tetapi tidak ada sedikit pun kegembiraan di sana.

“Kamu berubah.”

“Syukurlah.”

Aku membuka pintu lebih lebar.

“Kamu juga seharusnya begitu.”

Kali ini dia pergi.

Namun sebelum melangkah keluar, Arman berhenti di ambang pintu.

“Besok pukul tujuh malam. Hotel Mahardika.”

Aku tidak menjawab.

“Laras benar-benar ingin bertemu denganmu.”

Pintu kututup tepat di depan wajahnya.

Keesokan harinya konferensi berlangsung sejak pagi.

Aku sengaja menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Presentasi mengenai teknik damage control surgery, sistem navigasi laparoskopi portabel, dan penanganan trauma vaskular membuatku hampir berhasil melupakan Arman.

Hampir.

Menjelang sore, seorang perempuan menghampiriku di area pameran alat medis.

“Dokter Citra?”

Aku menoleh.

Perempuan itu mungkin seusia denganku. Rambutnya sebahu, mengenakan blazer krem sederhana, wajahnya cantik dengan pembawaan tenang.

Dia tersenyum.

“Saya Laras.”

Tanganku berhenti di atas brosur.

Jadi inilah perempuan yang selama bertahun-tahun hidup sebagai bayangan dalam hubunganku dengan Arman.

Anehnya, aku tidak merasakan kebencian.

Hanya rasa ingin tahu.

“Senang bertemu denganmu.”

Laras mengulurkan tangan.

Aku menyambutnya.

“Selamat atas pernikahan kalian.”

Senyumnya berubah tipis.

“Terima kasih.”

Kami berdiri dalam keheningan yang canggung sampai akhirnya Laras berkata, “Boleh minum kopi sebentar?”

Aku seharusnya menolak.

Namun sesuatu pada wajahnya membuatku menerima.

Kami duduk di sudut kafe hotel.

Laras tidak berputar-putar.

“Aku minta maaf.”

Aku menatapnya.

“Untuk apa?”

“Karena namaku pernah menjadi alasan kalian berpisah.”

“Kamu bukan alasannya.”

Dia tampak terkejut.

“Arman adalah alasannya.”

Aku mengaduk kopi.

“Hubungan tidak hancur hanya karena ada orang ketiga di dalam pikiran seseorang. Hubungan hancur ketika orang itu menganggap pasangannya wajib menerima keadaan tersebut.”

Laras terdiam.

Beberapa detik kemudian, dia bertanya pelan, “Dia bilang apa tentangku waktu itu?”

Aku tersenyum hambar.

“Cukup banyak.”

Mata Laras memerah.

“Aku pergi tujuh tahun lalu bukan karena tidak mencintainya.”

“Aku tahu.”

“Dia memberitahumu?”

“Dia menulisnya.”

Laras menunduk.

“Aku pergi karena keluarganya ingin menggunakan karier militer Arman untuk kepentingan bisnis keluarga. Mereka ingin aku berhenti bekerja, mengikuti semua keputusan mereka, dan menjadi istri yang tidak banyak bertanya. Aku tidak sanggup.”

Dia menarik napas.

“Sekarang aku kembali karena kupikir dia sudah berubah.”

Aku memandangnya.

Ada sesuatu dalam kalimat itu.

“Kupikir?”

Laras mengangkat wajah.

“Sejak dua bulan lalu, dia terus membicarakanmu.”

Tanganku berhenti.

“Katanya dia hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Lalu dia mulai mencari tahu tempatmu bekerja. Setelah itu dia mengatur konferensi ini.”

Aku merasakan sesuatu yang dingin menjalar di punggung.

“Konferensi ini sudah direncanakan berbulan-bulan.”

“Benar. Tapi namamu dimasukkan belakangan.”

Laras tersenyum pahit.

“Dia mengatakan kepadaku bahwa kalau kamu bersedia datang ke pernikahan kami, berarti masa lalu benar-benar sudah selesai.”

Aku hampir tertawa karena ironinya.

“Jadi aku semacam tes?”

“Awalnya kupikir begitu.”

“Sekarang?”

Laras menatapku lama.

“Sekarang aku tidak yakin siapa sebenarnya yang sedang dia uji.”

Pukul enam lewat dua puluh menit, aku kembali ke kamar.

Di meja terdapat sebuah kotak gaun berwarna hitam.

Aku bahkan tidak perlu membaca kartu di atasnya.

Kutelepon resepsionis.

“Tolong kirim seseorang mengambil paket di kamar saya dan kembalikan kepada pengirim.”

Lima menit kemudian, seseorang mengetuk pintu.

Bukan petugas hotel.

Arman.

Dia sudah mengenakan seragam upacara lengkap.

“Kenapa dikembalikan?”

“Karena aku tidak memesannya.”

“Pakai gaunnya.”

“Aku tidak datang.”

Wajah Arman langsung mengeras.

“Citra, jangan mempermalukanku.”

Kalimat itu akhirnya membuatku memahami sesuatu.

Ini bukan tentang Laras.

Bahkan mungkin bukan tentang cinta.

Ini tentang Arman yang tidak tahan kehilangan kendali.

Tujuh tahun lalu aku adalah satu-satunya orang yang pergi setelah dia mengatakan bahwa mencintai dua perempuan sekaligus bukan masalah.

Aku tidak memohon.

Tidak menunggu.

Tidak kembali.

Dan bagi laki-laki seperti Arman, penolakanku mungkin telah menjadi luka pada harga dirinya yang tidak pernah sembuh.

“Aku tidak punya kewajiban menjaga harga dirimu.”

Dia menggenggam pergelangan tanganku.

Tidak keras, tetapi cukup membuatku berhenti.

“Datang satu jam saja.”

“Lepaskan.”

“Citra.”

“Lepaskan tangan saya, Mayor Jenderal.”

Panggilan itu membuatnya tersadar.

Tangannya terlepas.

Aku mengambil koper.

“Aku pindah hotel.”

Saat aku hendak melewatinya, ponselnya berbunyi.

Arman mengabaikannya.

Berbunyi lagi.

Kemudian lagi.

Akhirnya dia menjawab.

Ekspresinya berubah.

“Apa maksudmu Laras tidak ada di hotel?”

Aku berhenti.

Suara ajudannya samar terdengar dari telepon.

Arman berbalik.

“Cari dia.”

Aku langsung teringat percakapanku dengan Laras.

Tanpa berkata apa pun, aku pergi.

Aku baru mengetahui apa yang terjadi satu jam kemudian.

Pernikahan yang seharusnya menjadi salah satu resepsi militer paling bergengsi tahun itu berubah menjadi kekacauan.

Ratusan tamu sudah hadir.

Pejabat, perwira senior, keluarga kedua mempelai, dan kolega memenuhi ballroom.

Namun pengantin perempuan tidak muncul.

Sebagai gantinya, pukul tujuh lewat lima belas menit, sebuah surat diserahkan kepada Arman.

Laras membatalkan pernikahan.

Aku mengetahuinya dari dr. Hendra yang menelepon dengan panik.

“Citra, kamu di mana?”

“Hotel dekat bandara.”

“Mayor Jenderal Arman mencari kamu.”

Aku memejamkan mata.

“Tolong jangan berikan lokasi saya.”

“Citra, ada masalah lain.”

Nada suaranya berubah serius.

“Direktur baru mendapat pemberitahuan. Dukungan pengadaan alat kita ditangguhkan.”

Aku berdiri.

“Apa?”

“Tidak ada alasan jelas.”

Darahku mendidih.

Aku langsung membuka laptop.

Kali ini aku tidak berniat diam.

Aku menulis kronologi lengkap mengenai telepon tengah malam, konferensi, perubahan kamar, ancaman mengenai rekomendasi alat, serta konflik kepentingan yang terjadi.

Rekaman percakapan kusimpan sebagai bukti.

Sebelum mengirim laporan, sebuah pesan masuk.

Nomor tidak dikenal.

Turun ke lobi.

Aku tahu siapa pengirimnya.

Aku tidak turun.

Lima menit kemudian telepon kamar berdering.

Aku cabut kabelnya.

Sepuluh menit berikutnya terdengar ketukan keras.

“Citra.”

Arman.

Aku membuka pintu tetapi tetap memasang rantai pengaman.

Seragam upacaranya masih terpasang. Wajahnya pucat dan matanya merah.

“Laras pergi.”

“Aku tahu.”

“Dia bertemu denganmu.”

“Ya.”

“Apa yang kamu katakan kepadanya?”

Aku menatapnya tak percaya.

“Kamu pikir aku menyuruh calon istrimu kabur?”

“Setelah bertemu denganmu, dia membatalkan pernikahan!”

“Kalau begitu tanyakan kepadanya, bukan kepadaku.”

“Dia memblokirku.”

Aku hampir menutup pintu.

Namun Arman berkata, “Aku tidak pernah menangguhkan alat rumah sakitmu.”

Tanganku berhenti.

“Apa?”

“Aku tidak melakukannya.”

“Direktur baru menerima pemberitahuan.”

Arman mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang dengan pengeras suara.

“Ajudan, status lima perangkat untuk Rumah Sakit Perbatasan Kalimantan.”

Suara di seberang menjawab, “Masih dalam proses prioritas, Jenderal. Tidak ada penangguhan.”

Aku terdiam.

“Lalu siapa?”

Arman menatapku.

Untuk pertama kalinya malam itu, kemarahannya berubah menjadi sesuatu yang lain.

Kewaspadaan.

Keesokan paginya jawabannya datang.

Inspektorat militer memasuki lokasi konferensi.

Tiga pejabat bagian pengadaan diperiksa atas dugaan manipulasi tender perangkat medis. Nama rumah sakit kami ternyata dicatut sebagai salah satu penerima dalam skema penggelembungan harga.

Dan yang lebih mengejutkan, orang yang pertama kali menyerahkan dokumen tersebut kepada penyidik adalah Laras.

Dia tidak kembali kepada Arman untuk menikah.

Selama enam bulan terakhir, Laras bekerja sebagai auditor hukum dalam tim yang menelusuri perusahaan pemasok yang terhubung dengan keluarga Arman.

Pernikahan itu memang pernah direncanakan sungguhan.

Namun beberapa minggu sebelum hari pernikahan, Laras menemukan bahwa paman Arman menggunakan nama dan akses institusional Arman untuk menekan sejumlah rumah sakit agar menerima pemasok tertentu.

Dia mulai ragu.

Lalu Arman menyeretku ke Jakarta menggunakan pengadaan rumah sakit sebagai umpan.

Bagi Laras, itulah bukti terakhir bahwa laki-laki yang hendak dinikahinya masih menganggap kekuasaan sebagai alat untuk mengatur orang lain.

Siang itu aku bertemu Laras sekali lagi.

Dia berdiri di depan gedung pemeriksaan membawa koper kecil.

“Kenapa tidak memberitahuku kemarin?”

“Karena aku belum tahu apakah kamu bagian dari semua ini.”

“Dan sekarang?”

Dia tersenyum.

“Sekarang aku tahu kamu hanya korban dari laki-laki keras kepala yang sama.”

Aku ikut tersenyum.

“Kenapa membatalkan pernikahan tepat saat semua tamu sudah datang?”

Laras memandang gedung di belakangnya.

“Karena kalau aku membatalkannya diam-diam, keluarga Arman akan menganggap aku bisa dibujuk kembali.”

Dia menarik napas panjang.

“Aku pernah pergi tujuh tahun lalu tanpa menjelaskan apa pun. Kali ini aku ingin keputusan itu terdengar jelas.”

Sore harinya Arman menungguku di halaman rumah sakit pusat.

Tidak ada ajudan.

Tidak ada mobil dinas.

Tidak ada seragam upacara.

Hanya seorang laki-laki yang tampak sangat lelah.

“Aku sudah mencabut semua intervensiku terhadap penugasanmu,” katanya.

Aku mengangguk.

“Bagus.”

“Pengadaan alat rumah sakitmu akan diproses melalui evaluasi independen.”

“Memang seharusnya begitu.”

Dia menatapku.

“Citra.”

Aku berhenti.

“Tujuh tahun lalu aku salah.”

Aku tidak menjawab.

“Aku pikir mencintaimu berarti aku berhak mempertahankanmu meskipun sebagian hatiku masih berada pada orang lain.”

Matanya turun.

“Sekarang aku melakukan hal yang sama. Aku pikir selama aku bisa membuatmu datang, berarti aku belum benar-benar kehilanganmu.”

Angin sore bergerak di antara pepohonan.

“Aku tidak datang kepadamu, Man.”

Dia mengangkat wajah.

“Aku datang untuk pasien-pasienku.”

Aku melanjutkan berjalan.

Arman tidak mengejarku.

Tiga bulan kemudian, lima perangkat bedah minimal invasif tiba di rumah sakit kami melalui tender baru yang diawasi secara independen.

Tidak ada nama Arman dalam surat persetujuannya.

Dan justru itulah yang membuatku lega.

Setahun kemudian aku resmi diangkat menjadi Wakil Kepala Departemen Bedah Umum.

Bukan karena rekomendasi seorang Mayor Jenderal.

Bukan karena menghadiri pernikahan siapa pun.

Aku mendapatkannya setelah menyelesaikan program trauma surgery dan memimpin tim yang berhasil menurunkan angka rujukan operasi darurat secara signifikan.

Suatu malam, setelah operasi panjang, aku pulang ke rumah dinas.

Seekor anjing tua berlari menyambutku.

Ya, pembuat masalah yang sama.

Dia sudah jauh lebih lambat dibandingkan tujuh tahun lalu, tetapi kebiasaan buruknya hampir tidak berubah.

Saat aku sedang mengisi mangkuk airnya, ponselku berbunyi.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah lama tidak menghubungiku.

Arman.

Aku akan menikah bulan depan.

Aku menatap layar beberapa detik.

Pesan kedua masuk.

Tenang. Kali ini aku tidak akan mengirim undangan.

Tanpa sadar aku tertawa.

Aku membalas singkat.

Selamat.

Tiga titik muncul, menghilang, lalu muncul lagi.

Akhirnya hanya satu pesan yang datang.

Terima kasih sudah pernah meninggalkanku.

Aku membaca kalimat itu lama.

Kemudian layar ponsel kumatikan.

Anjingku tiba-tiba mulai menjilati air yang tumpah di lantai.

Aku langsung membungkuk.

“Berhenti! Jangan dijilat!”

Ponselku kembali berbunyi.

Pesan Arman masuk.

Tujuh tahun lalu ternyata kamu memang sedang bicara dengan anjing?

Aku menatap layar.

Lalu, untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu dimulai, aku tertawa sampai mataku berair.

Ada hubungan yang berakhir karena tidak ada cinta.

Ada pula yang berakhir justru karena cinta saja tidak cukup.

Aku pernah mengira meninggalkan Arman berarti kehilangan masa depan yang sudah kubangun bersamanya.

Ternyata aku hanya sedang menyelamatkan masa depanku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang