Dalam Perjalanan Menjemput Pengantin, Suamiku Kehilangan Ingatan tentang Aku—Lalu Sengaja Menyerahkanku kepada Kakak Angkat yang Kasar

Aku mengetik dua kata yang bahkan tidak pernah kubayangkan akan kukirim kepada Bima.

Tidak bisa.

Pesan itu terkirim pukul sembilan lewat tujuh menit malam.

Tiga detik kemudian, tanda sedang mengetik muncul.

Kamu di rumah, kan? Cuma antar sepatu. Jangan membuat masalah kecil jadi rumit.

Aku membaca kalimat itu tanpa merasakan apa pun. Dulu, satu pesan dingin darinya bisa membuatku menangis semalaman. Sekarang rasanya seperti membaca pesan dari orang yang salah sambung.

Aku mematikan ponsel.

Besok pagi Om Dedi akan datang menjemputku. Semua dokumen sudah selesai. Aku akan meninggalkan Jakarta dan pindah ke Yogyakarta, tinggal sementara di rumah peninggalan ayahku yang selama bertahun-tahun kosong.

Tidak ada Bima.

Tidak ada Galang.

Tidak ada lagi kehidupan yang membuatku harus menoleh setiap kali mendengar suara langkah di belakang.

Malam itu aku hanya memasukkan pakaian, dokumen, obat-obatan, dan beberapa benda penting ke dalam koper.

Ketika tanganku menyentuh sebuah kotak beludru kecil di dasar lemari, aku terdiam.

Di dalamnya ada cincin pernikahan yang seharusnya kupakai pada hari kecelakaan Bima.

Aku memandangnya beberapa detik sebelum menutup kotak itu kembali.

Tidak kubawa.

Pukul sebelas malam, bel rumah berbunyi.

Tubuhku langsung menegang.

Bel berbunyi lagi.

Lalu terdengar suara Bima.

“Intan, buka pintunya.”

Aku tidak bergerak.

“Sepatu Sari cuma rusak sedikit,” lanjutnya dari luar. “Kenapa kamu harus bersikap seperti ini?”

Aku hampir tertawa.

Jadi dia datang bukan karena khawatir kepadaku.

Dia datang karena aku tidak mematuhi permintaannya.

Aku membuka pintu dengan rantai pengaman masih terpasang.

Bima berdiri dengan kemeja putih dan perban di pelipisnya.

Tatapannya jatuh ke koper di belakangku.

“Kamu mau ke mana?”

“Pergi.”

“Ke mana?”

“Bukan urusanmu.”

Wajahnya berubah.

Mungkin selama ini aku terlalu patuh. Terlalu sabar. Bahkan setelah kehilangan ingatan, dia terbiasa melihatku datang setiap kali dipanggil.

“Apa lagi sekarang?” tanyanya. “Kamu sengaja melakukan ini karena Sari?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Karena aku sudah lelah.”

Aku hendak menutup pintu ketika Bima menahannya.

“Dokter bilang terapiku belum selesai. Bukankah selama ini kamu yang paling ingin ingatanku kembali?”

“Dulu.”

“Sekarang?”

Aku menatapnya lurus.

“Sekarang aku berharap kamu tidak pernah mengingatku.”

Untuk pertama kalinya, Bima kehilangan kata-kata.

Aku menutup pintu.

Beberapa menit kemudian dia pergi.

Keesokan paginya, Om Dedi tiba sebelum matahari benar-benar tinggi. Lelaki berusia hampir enam puluh tahun itu adalah sahabat almarhum ayahku. Dia tidak banyak bertanya. Begitu melihat koperku, dia hanya mengambilnya dan memasukkannya ke bagasi.

“Kamu yakin?”

Aku mengangguk.

“Yakin.”

Kami baru keluar dari kompleks ketika ponselku kembali aktif dan puluhan notifikasi masuk.

Sebagian dari Bima.

Sebagian dari Galang.

Pesan terakhir Galang membuat napasku tercekat.

Jangan pikir pindah kota bisa membuatmu lepas dariku.

Aku langsung menatap Om Dedi.

“Om, jangan ke stasiun.”

Dia melirikku.

“Kenapa?”

“Galang tahu.”

Om Dedi tidak terlihat terkejut.

Dia malah mengangguk pelan dan membelokkan mobil.

“Akhirnya.”

Aku menoleh.

“Akhirnya apa?”

“Sudah waktunya kita mengetahui siapa yang memberinya informasi.”

Mobil berhenti di sebuah kantor kecil di kawasan Tebet. Di sana sudah menunggu seorang perempuan bernama Ratih, penyidik swasta yang ternyata disewa Om Dedi beberapa minggu sebelumnya.

Ratih meletakkan sebuah map di meja.

“Galang tidak menemukan alamat Mbak Intan sendiri.”

“Aku tahu. Bima yang memberikannya.”

“Tidak sesederhana itu.”

Ratih mengeluarkan beberapa lembar bukti transfer dan tangkapan layar percakapan.

Nama Sari muncul berkali-kali.

Aku membacanya sampai jari-jariku terasa dingin.

Sari berhubungan dengan Galang sejak sebelum kecelakaan.

Dialah yang pertama kali memberi tahu Galang mengenai jadwal pernikahanku.

Dialah yang berkali-kali mengirim lokasi.

Namun ada sesuatu yang lebih mengejutkan.

Setelah kecelakaan, Bima memang pernah memberikan alamatku kepada Galang. Bahkan lebih dari sekali.

Tetapi beberapa kebocoran terakhir terjadi tanpa sepengetahuan Bima.

Sari mengakses kalender kantor, data pengiriman, dan akun digital Bima untuk melacak keberadaanku.

“Kenapa?” suaraku hampir tidak terdengar.

Ratih menggeser satu lembar lain.

“Karena Sari takut Pak Bima mengingat Anda.”

Aku menatapnya.

Ratih kemudian memperlihatkan rekaman dari kamera sebuah restoran tiga minggu lalu.

Di layar terlihat Bima dan Sari duduk berhadapan.

Awalnya tidak ada yang aneh.

Kemudian Bima memegang kepala.

Wajahnya pucat.

Sari terlihat panik.

Bima mengatakan sesuatu.

Rekaman tidak memiliki suara, tetapi kamera lain menangkap gerakan bibirnya dari samping.

Ratih sudah meminta ahli membaca gerak bibir.

Kalimat Bima diperkirakan berbunyi, Aku ingat Intan.

Dunia seolah berhenti.

“Tidak mungkin.”

Ratih tidak menjawab.

Aku teringat dokter kemarin.

Tatapannya yang ragu.

Kalimat yang seperti tertahan di tenggorokan.

Aku berdiri begitu cepat sampai kursiku bergeser.

Aku menelepon rumah sakit.

Dokter Bima akhirnya menerima panggilanku setelah beberapa menit.

“Dok, saya cuma ingin jawaban jujur.”

Hening.

“Kapan ingatan Bima kembali?”

Tidak ada jawaban selama beberapa detik.

Kemudian terdengar helaan napas.

“Hampir dua bulan lalu.”

Tanganku gemetar.

Dua bulan.

Artinya saat aku dipukul Galang terakhir kali, Bima sudah mengingatku.

Saat dia duduk di lantai tiga kafe dan melihat semuanya, dia tahu persis siapa aku.

“Kenapa Dokter tidak bilang?”

“Pak Bima meminta saya merahasiakannya. Secara medis, saya terikat kerahasiaan pasien. Kemarin saya mencoba memberi isyarat agar Anda mempertimbangkan keputusan berdasarkan diri Anda sendiri, bukan berdasarkan harapan bahwa ingatannya akan kembali.”

Aku memejamkan mata.

Sakit yang kurasakan justru lebih tenang daripada yang kubayangkan.

Tidak ada lagi kebingungan.

Tidak ada lagi alasan.

Bima bukan orang yang tidak mengenaliku.

Dia mengenaliku dan tetap memilih diam.

Aku menutup telepon.

Om Dedi menggenggam bahuku.

“Sekarang kita pergi.”

Aku menggeleng.

“Belum.”

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan melarikan diri, aku tidak ingin kabur.

Aku ingin semuanya selesai.

Sore itu aku datang ke rumah Bima.

Sari ada di sana.

Begitu melihatku, dia langsung berdiri.

“Ngapain kamu datang?”

Aku tidak menjawabnya.

Tatapanku hanya tertuju kepada Bima.

“Kamu sudah ingat.”

Wajahnya berubah.

Hanya sepersekian detik.

Tetapi cukup.

Sari menoleh kepadanya.

“Mas?”

Aku tertawa kecil.

“Jadi benar.”

Bima berdiri.

“Intan, dengarkan dulu.”

“Aku sudah terlalu lama mendengarkan.”

“Aku memang ingat.”

Sari mundur satu langkah.

Bima mengusap wajahnya.

“Aku ingat semuanya dua bulan lalu.”

“Kenapa berpura-pura?”

Dia diam cukup lama sebelum menjawab.

“Karena ketika ingatanku kembali, aku juga ingat bagaimana hubungan kita sebelum kecelakaan.”

Aku menatapnya.

“Kita terus bertengkar. Kamu tidak suka Sari. Kamu selalu ingin aku memilih antara pekerjaan dan kamu. Aku merasa sesak.”

“Lalu kenapa tidak putus?”

“Aku pengecut.”

Jawabannya begitu sederhana hingga hampir terasa kejam.

“Aku takut menjadi orang jahat setelah tujuh tahun bersamamu. Ketika kecelakaan membuatku melupakanmu, semua orang menerima alasan bahwa aku sakit. Untuk pertama kalinya aku merasa punya jalan keluar tanpa harus mengaku bahwa perasaanku berubah.”

Aku tidak menangis.

Aneh sekali.

Selama ini aku mengira kebenaran akan menghancurkanku.

Ternyata kebenaran justru terasa seperti pintu yang akhirnya terbuka.

“Dan Galang?”

Bima menunduk.

“Aku tahu dia kasar. Tapi aku pikir dia hanya ingin mengendalikanmu, bukan benar-benar menyakitimu.”

“Kamu memberinya alamatku tiga belas kali.”

“Tidak semuanya dariku.”

“Tapi yang pertama darimu.”

Dia terdiam.

“Dan ketika kamu melihat dia menyerangku dari kafe?”

Bima memucat.

“Aku mau turun.”

“Tapi?”

“Aku takut situasinya makin buruk.”

Aku mengangguk.

“Sedangkan ketika Sari diganggu seorang lelaki, kamu berkelahi sampai masuk rumah sakit.”

Sari tiba-tiba menyela.

“Jangan menyalahkan Mas Bima. Dia cuma sudah tidak mencintaimu.”

Aku menoleh kepadanya.

“Benar.”

Sari tampak tidak menyangka aku akan setuju.

“Aku tidak datang untuk meminta dia mencintaiku.”

Aku meletakkan map Ratih di meja.

“Aku datang untuk memberi tahu kalian bahwa semua bukti sudah diserahkan kepada polisi.”

Wajah Sari langsung pucat.

“Bukti apa?”

“Percakapanmu dengan Galang. Data lokasi yang kamu kirim. Akses ilegal ke akun kantor Bima.”

Bima menatap Sari tajam.

“Apa maksudnya?”

Sari mundur.

“Mas, dia bohong.”

“Beberapa alamat terakhir ternyata bukan dari Bima,” kataku. “Kamu yang memberikannya.”

“Sari?”

Perempuan itu mulai menangis.

“Aku cuma takut dia merebut Mas lagi!”

Bima membeku.

“Aku tahu ingatan Mas mulai kembali. Aku tahu kalau Mas ingat semuanya, Mas mungkin kembali ke dia.”

“Kamu menyuruh Galang mencarinya?”

“Aku cuma kasih alamat!”

“Dan kamu tahu apa yang dilakukan Galang kepadanya?”

Sari tidak menjawab.

Bima terlihat seperti baru ditampar.

Namun aku tidak merasa puas.

Tidak ada kemenangan dalam melihat mereka saling menghancurkan.

Aku hanya merasa lelah.

“Ada satu hal lagi,” kataku.

Bima menatapku.

“Aku sudah membatalkan semua rencana pernikahan dan menyelesaikan urusan aset yang masih terkait dengan kita. Mulai hari ini, tidak ada lagi alasan untuk menghubungiku.”

Aku berbalik.

Bima mengejarku sampai halaman.

“Intan.”

Aku terus berjalan.

“Intan, tunggu.”

Tangannya hampir menyentuh lenganku, tetapi aku mundur refleks.

Gerakan kecil itu membuatnya berhenti.

Untuk pertama kalinya, aku melihat rasa bersalah yang nyata di wajahnya.

“Aku salah.”

Aku tersenyum tipis.

“Ya.”

“Aku tidak tahu semuanya akan sejauh ini.”

“Itulah masalahmu, Bima. Kamu selalu merasa tidak melakukan apa-apa. Padahal kadang-kadang membiarkan seseorang disakiti ketika kamu bisa menolong juga merupakan sebuah pilihan.”

Matanya memerah.

“Beri aku kesempatan memperbaikinya.”

Aku menggeleng.

“Kesempatan itu sudah kamu dapatkan tiga belas kali.”

Aku meninggalkannya.

Beberapa minggu kemudian, Galang ditahan setelah polisi mengumpulkan cukup bukti dari laporan medis, rekaman CCTV, pesan ancaman, dan keterangan saksi. Sari juga diperiksa terkait akses ilegal terhadap data pribadi serta keterlibatannya dalam membocorkan keberadaanku.

Bima tidak pernah menjadi tersangka atas kekerasan Galang, tetapi untuk pertama kalinya dia harus menghadapi konsekuensi dari semua pilihannya.

Aku pindah ke Yogyakarta.

Rumah peninggalan ayah ternyata lebih berdebu daripada yang kuingat. Minggu pertama kuhabiskan untuk membersihkan halaman, mengganti tirai, dan membeli perabot sederhana.

Suatu sore aku pergi ke supermarket.

Tanpa sadar, aku berhenti di depan rak buah.

Stroberi.

Aku mengambil satu kotak.

Lalu dua.

Aku hampir mengambil kotak ketiga ketika tiba-tiba tertawa sendiri.

Dulu aku selalu berpikir stroberi adalah kenangan tentang Bima.

Ternyata aku memang menyukainya jauh sebelum mengenalnya.

Malam itu aku mencuci buah-buah tersebut, duduk di teras, dan memakan bagian yang paling manis tanpa menyisakan bagian mana pun untuk siapa pun.

Ponselku berbunyi.

Nomor Bima.

Aku tidak mengangkatnya.

Beberapa menit kemudian sebuah pesan masuk.

Aku baru tahu sesuatu tentang kecelakaan kita. Tolong temui aku sekali saja.

Aku hendak menghapusnya ketika pesan kedua muncul.

Kecelakaan hari pernikahan kita mungkin bukan kecelakaan.

Jantungku berdegup lebih cepat.

Kemudian Om Dedi menelepon.

“Intan, jangan panik. Polisi baru menghubungi Om.”

“Ada apa?”

“Mobil rombongan Bima dulu diperiksa ulang karena penyidik menemukan percakapan lama di ponsel Galang.”

Aku berdiri.

“Percakapan dengan siapa?”

Om Dedi diam beberapa detik.

“Dengan Sari.”

Aku merasa darahku surut.

Ternyata hubungan mereka sudah dimulai jauh sebelum kecelakaan.

Sari pernah mengirim jadwal perjalanan rombongan pengantin kepada Galang. Galang kemudian meminta seseorang mengikuti kendaraan Bima dengan tujuan membuat rombongan terlambat sampai, agar pernikahan kami gagal.

Namun orang yang disuruhnya mengemudi secara ugal-ugalan kehilangan kendali.

Terjadilah kecelakaan beruntun.

Sari tidak pernah berniat membuat Bima terluka.

Galang juga tidak merencanakan kecelakaan sebesar itu.

Tetapi obsesi dua orang telah menciptakan sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan.

Aku duduk perlahan.

Ironisnya, kecelakaan yang mereka rancang untuk memisahkan kami memang berhasil.

Hanya saja bukan dengan cara yang mereka bayangkan.

Bima akhirnya datang ke Yogyakarta beberapa bulan kemudian setelah seluruh proses hukum berjalan.

Dia tidak datang ke rumahku.

Dia menunggu di sebuah kafe setelah meminta izin melalui Om Dedi.

Aku memilih menemuinya.

Bima tampak lebih kurus.

“Aku tidak datang untuk meminta kamu kembali,” katanya.

“Bagus.”

Dia tersenyum pahit.

“Aku cuma ingin mengembalikan ini.”

Dia meletakkan sebuah kotak beludru di meja.

Cincin pernikahan.

Aku terkejut.

“Aku meninggalkannya di kontrakan.”

“Pemilik rumah memberikannya kepadaku. Katanya kamu tidak kembali.”

Aku membuka kotak itu.

Cincin tersebut masih sama.

Bima menatap tangannya sendiri.

“Setelah ingatanku kembali, ada satu kenangan yang paling sering muncul.”

“Apa?”

“Malam sebelum kecelakaan. Kamu menelepon dan bertanya apakah aku gugup.”

Aku ingat.

Saat itu Bima tertawa dan berkata dia tidak sabar menjemputku.

“Aku baru mengerti sekarang,” katanya pelan. “Kehilangan ingatan bukan hal terburuk yang terjadi padaku.”

Aku menatapnya.

“Yang terburuk adalah ketika ingatanku kembali, aku memilih menjadi orang yang tidak layak dikenang.”

Matanya berkaca-kaca.

Aku menutup kotak cincin.

“Bima, aku memaafkanmu.”

Dia mengangkat kepala.

“Tapi memaafkan seseorang tidak berarti harus kembali kepadanya.”

Aku berdiri dan menyerahkan kotak itu kepadanya.

“Buang saja.”

“Kamu tidak mau menyimpannya?”

“Tidak.”

Aku berjalan keluar dari kafe.

Di trotoar, udara sore terasa hangat. Kota bergerak seperti biasa. Motor berlalu, penjual makanan memanggil pelanggan, dan langit mulai berubah jingga.

Untuk pertama kalinya setelah kecelakaan itu, aku tidak merasa sedang meninggalkan siapa pun.

Aku justru merasa sedang pulang.

Beberapa bulan kemudian aku membuka sebuah toko bunga kecil dengan uang peninggalan ayah. Di sudut dekat kasir, selalu ada satu mangkuk berisi stroberi segar.

Pelanggan sering bertanya mengapa.

Aku biasanya hanya tersenyum.

Suatu hari Om Dedi datang membawa sebuah amplop.

“Dari rumah sakit Jakarta.”

Aku membukanya.

Di dalamnya ada surat singkat dari dokter Bima.

Dia menulis bahwa beberapa penelitian medis menunjukkan ingatan yang hilang karena trauma dapat kembali melalui rangsangan emosional yang kuat. Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar kemampuan mengingat.

Ingatan menentukan siapa yang pernah hadir dalam hidup kita.

Pilihan menentukan siapa diri kita sebenarnya.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Kemudian aku melipat surat tersebut dan menyimpannya.

Di luar toko, hujan mulai turun.

Dulu suara hujan selalu membawaku kembali ke malam ketika aku berlari dari rumah sakit, ketakutan karena Galang mengetahui keberadaanku.

Sekarang aku membuka pintu lebar-lebar.

Aku berdiri di ambang toko dan membiarkan beberapa tetes hujan mengenai tanganku.

Aku tidak lagi bersembunyi.

Tidak lagi berpindah rumah.

Tidak lagi menunggu seseorang mengingatku agar aku merasa berharga.

Bima pernah kehilangan ingatan tentangku.

Lalu ketika ingatannya kembali, dia tetap memilih kehilangan aku.

Namun pada akhirnya aku memahami sesuatu yang jauh lebih penting.

Orang yang paling lama melupakanku ternyata bukan Bima.

Melainkan diriku sendiri.

Selama bertahun-tahun aku terlalu sibuk mempertahankan cinta, sampai lupa bahwa perempuan bernama Intan juga pantas diselamatkan.

Dan kali ini, aku memilih menyelamatkannya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang