Pesan pertama antara Galang dan Kiki ternyata dikirim hampir sebelas tahun lalu.
Laras menggulir layar perlahan.
Saat itu Galang masih berusia dua puluh tahun, belum menjadi pembalap terkenal, belum memiliki apartemen mewah, bahkan belum punya mobil sendiri. Isi percakapan mereka sederhana. Foto makanan, keluhan tentang latihan, candaan yang hanya dimengerti dua orang, dan rencana-rencana kecil yang terasa sangat besar bagi anak muda.
Namun percakapan itu berhenti mendadak.
Pesan terakhir Galang bertahun-tahun lalu hanya berbunyi, “Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu.”
Tidak ada balasan.
Setelah itu, sebelas tahun sunyi.

Sampai tiga bulan lalu.
Kiki muncul kembali.
“Aku kembali ke Jakarta.”
Galang membalas enam jam kemudian.
“Selamat datang.”
Hanya dua kata.
Laras terus membaca.
Kiki beberapa kali mengajak bertemu. Galang selalu menolak dengan alasan latihan, balapan, atau urusan keluarga. Tetapi Kiki tidak berhenti.
“Aku cuma ingin melihatmu sekali.”
“Aku sudah menikah, Ki.”
“Aku tahu.”
“Kalau tahu, jangan membuat keadaan jadi rumit.”
Laras berhenti menggulir.
Untuk pertama kalinya malam itu, dadanya terasa sedikit lebih longgar.
Namun perasaan itu hanya bertahan beberapa detik.
Dua minggu lalu, Kiki mengirim sebuah foto dari Sirkuit Sentul.
“Aku datang. Seperti dulu.”
Galang tidak membalas.
Kemarin sore, sebuah pesan baru muncul.
“Aku sudah resmi bercerai.”
Di bawahnya ada foto surat perceraian.
Kemudian pesan berikutnya.
“Aku meninggalkan surat untukmu di tempat biasa. Kalau setelah membacanya kamu tetap memilih kehidupanmu sekarang, aku tidak akan mengganggumu lagi.”
Galang baru membalas pukul sembilan malam.
“Aku sudah membacanya.”
“Lalu?”
Tidak ada jawaban selama hampir satu jam.
Kiki mengirim lagi.
“Galang, selama sebelas tahun aku cuma ingin tahu satu hal. Kalau waktu itu aku tidak meninggalkanmu, apakah kita akan menikah?”
Balasan Galang muncul pukul 22.17.
Laras menatap kalimat itu lama sekali.
“Mungkin.”
Hanya satu kata.
Namun satu kata itu terasa lebih menyakitkan daripada seluruh surat yang ditemukan Laras di parkiran.
Karena “mungkin” berarti kemungkinan itu pernah ada.
Kiki bertanya lagi.
“Dan sekarang?”
Kali ini Galang menjawab hampir seketika.
“Sekarang aku punya istri.”
“Kamu mencintainya?”
Tidak ada jawaban.
Laras menunggu seolah-olah pesan itu baru dikirim malam ini.
Padahal percakapan tersebut sudah terjadi kemarin.
Ia menatap ruang kosong di bawah pertanyaan Kiki.
Tidak ada jawaban dari Galang.
Sama sekali tidak ada.
Laras mematikan layar.
Di belakangnya, Galang masih tertidur.
Tiga tahun.
Tiga tahun hidup bersama, dan ternyata ketika seseorang bertanya apakah Galang mencintainya, pria itu bahkan tidak mampu mengetik satu kata sederhana.
Ya.
Laras meletakkan ponsel di meja.
Malam itu ia tidak menangis.
Keesokan paginya, Galang bangun dengan sakit kepala hebat.
Ia menemukan segelas air dan obat di meja samping tempat tidur.
“Laras?”
Tidak ada jawaban.
Galang keluar kamar dan menemukan istrinya sedang membuat kopi di dapur.
“Aku pulang bagaimana semalam?”
“Aku jemput.”
Galang mengusap wajah.
“Maaf.”
“Tidak apa-apa.”
“Kemarin anniversary kita.”
“Aku tahu.”
Galang terdiam.
Ia melihat meja makan.
Ada sebuah kotak kue yang belum dibuka. Di sampingnya terdapat dua lilin angka, tiga dan nol. Laras membelinya karena bercanda bahwa mereka harus bertahan sampai ulang tahun pernikahan ketiga puluh.
Galang menarik kursi.
“Aku benar-benar minta maaf.”
Laras meletakkan kopi di depannya.
“Kenapa kamu mabuk?”
Pertanyaan itu membuat gerakan Galang berhenti.
“Habis ketemu teman.”
“Teman yang mana?”
“Anak-anak tim.”
Laras mengangguk.
Kebohongan pertama.
Setidaknya kebohongan pertama yang berhasil ia tangkap.
“Begitu.”
Galang menatapnya beberapa detik. “Kamu marah?”
“Menurutmu aku harus marah?”
“Aku melewatkan anniversary kita.”
“Kalau cuma itu, tidak.”
Galang mengerutkan kening.
Laras mengambil tas kerjanya.
“Aku berangkat dulu.”
Selama satu minggu berikutnya, tidak ada yang berubah.
Justru itulah yang membuat Galang mulai gelisah.
Laras tetap membuat sarapan jika bangun lebih dulu. Ia masih mengingatkan jadwal fisioterapi Galang. Ia masih menjawab pesan dengan normal.
Namun sesuatu menghilang.
Laras tidak lagi menunggu Galang pulang.
Tidak lagi bertanya bagaimana latihan hari itu.
Tidak lagi duduk di sofa sambil menonton rekaman balapan Galang.
Pada malam kedelapan, Galang akhirnya bertanya.
“Kamu kenapa?”
Laras menutup laptop.
“Aku baik-baik saja.”
“Kamu bohong.”
Laras hampir tertawa.
Ironis sekali mendengar kata itu keluar dari mulutnya.
Galang duduk di seberangnya.
“Aku melakukan sesuatu?”
Laras menatap wajah pria yang selama tiga tahun menjadi suaminya.
“Siapa Kiki?”
Wajah Galang berubah.
Hanya sepersekian detik.
Namun cukup.
“Kamu buka ponselku?”
“Aku menemukan suratnya dulu.”
Sunyi.
Galang berdiri dan berjalan ke jendela.
“Aku bisa jelaskan.”
“Silakan.”
Galang mengusap tengkuk.
“Kiki mantan pacarku waktu SMA.”
“Aku tahu.”
“Kami sudah lama selesai.”
“Aku juga tahu.”
“Dia baru bercerai dan menghubungiku lagi.”
“Yang itu juga aku tahu.”
Galang berbalik.
“Lalu apa yang ingin kamu dengar?”
Pertanyaan itu menusuk Laras lebih dalam daripada yang mungkin disadari Galang.
“Aku ingin mendengar jawaban yang tidak kamu berikan kepadanya.”
Galang membeku.
Laras melanjutkan.
“Dia bertanya apakah kamu mencintaiku.”
Galang tidak menjawab.
Laras tersenyum tipis.
“Lucu, ya? Bahkan sekarang kamu masih diam.”
“Laras.”
“Aku tidak meminta pidato. Cuma satu kata.”
Galang mengepalkan tangan.
“Aku tidak tahu cara menjawabnya.”
Untuk pertama kalinya, mata Laras memanas.
“Setelah tiga tahun menikah denganku?”
“Aku tidak mau berbohong.”
Kalimat itu membuat Laras benar-benar diam.
Galang menarik napas.
“Aku menghormatimu. Aku peduli sama kamu. Aku ingin kamu aman, nyaman, tidak kekurangan apa pun. Tapi kalau kamu bertanya apakah perasaan itu sama seperti yang pernah kurasakan kepada Kiki…”
Ia tidak menyelesaikannya.
Tidak perlu.
Laras mengangguk perlahan.
“Aku mengerti.”
“Laras, dengar dulu.”
“Aku sudah mendengar cukup banyak.”
Malam itu Laras tidur di kamar tamu.
Dua hari kemudian, ia membawa sebuah map cokelat ke meja makan.
Galang baru pulang latihan ketika melihatnya.
“Apa ini?”
“Kesepakatan perceraian.”
Galang menatap Laras seolah-olah ia salah mendengar.
“Kamu serius?”
“Aku pengacara, Galang. Aku jarang bercanda soal dokumen hukum.”
Galang tidak menyentuh map itu.
“Kamu mau cerai hanya karena Kiki kembali?”
“Bukan.”
“Lalu?”
Laras menatapnya lurus.
“Aku mau cerai karena selama tiga tahun aku hidup dalam pernikahan yang kupikir tenang, padahal sebenarnya kosong.”
“Aku tidak pernah selingkuh.”
“Aku tahu.”
“Aku tidak pernah menyentuh perempuan lain.”
“Aku tahu.”
“Aku memenuhi semua kewajibanku.”
“Itu masalahnya.”
Galang terdiam.
“Kamu menjalankan pernikahan seperti menjalankan kontrak sponsor. Tepat waktu, profesional, semua kewajiban terpenuhi. Tapi aku bukan sponsor kamu.”
Suara Laras akhirnya bergetar.
“Aku istrimu.”
Untuk pertama kalinya sejak Laras mengenalnya, Galang tampak kehilangan kendali.
“Aku tidak mau cerai.”
“Kenapa?”
“Karena…”
Galang berhenti.
Sekali lagi, kata-kata tidak keluar.
Laras tersenyum pahit.
“Lihat? Bahkan alasan untuk mempertahankanku pun kamu tidak punya.”
Ia berdiri.
Galang tiba-tiba meraih pergelangan tangannya.
“Kasih aku waktu.”
“Untuk apa?”
“Untuk mengerti apa yang sebenarnya kurasakan.”
Laras menarik tangannya perlahan.
“Jangan jadikan aku ruang tunggu sementara kamu memutuskan siapa yang kamu cintai.”
Tiga minggu setelah Laras pindah ke apartemen kecil dekat kantornya, Galang mengalami kecelakaan saat latihan.
Mobilnya kehilangan kendali di tikungan cepat Sentul dan menghantam pembatas.
Berita itu sampai kepada Laras dari manajer Galang.
Ia berlari ke rumah sakit tanpa sempat mengganti pakaian kerja.
Galang mengalami retak tulang rusuk dan gegar otak ringan, tetapi kondisinya stabil.
Ketika Laras tiba, seseorang sudah berdiri di depan ruang perawatan.
Seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun dengan rambut sebahu dan wajah pucat.
Laras langsung tahu siapa dia.
Kiki.
Mereka saling menatap.
“Kamu Laras?”
“Ya.”
“Aku Kiki.”
“Aku tahu.”
Kiki menunduk.
“Aku minta maaf.”
Laras tidak menjawab.
“Aku tidak seharusnya kembali.”
“Kamu kembali karena masih mencintainya.”
Kiki tersenyum pahit.
“Aku pikir begitu.”
Laras mengerutkan kening.
Kiki mengeluarkan ponselnya.
“Tapi tiga hari lalu Galang datang menemuiku.”
Jantung Laras berdetak lebih cepat.
Kiki membuka sebuah pesan suara.
Suara Galang terdengar.
“Aku pikir selama ini aku masih mencintaimu karena aku tidak pernah benar-benar menerima bahwa kamu meninggalkanku. Aku menyimpan versi dirimu yang berusia delapan belas tahun di kepalaku. Setiap kali hidup terasa berat, aku kembali ke kenangan itu.”
Laras tidak bergerak.
Suara Galang berlanjut.
“Tapi setelah Laras pergi, aku baru sadar sesuatu. Aku tidak merindukanmu ketika bangun pagi. Aku merindukan suara Laras membuka tirai. Aku tidak mencari pesanmu setelah latihan. Aku mencari pesan Laras. Aku tidak ingin pulang ke masa lalu. Aku ingin pulang ke rumah, dan rumah itu ternyata adalah dia.”
Rekaman berhenti.
Mata Kiki berkaca-kaca.
“Dia bilang itu kepadaku.”
Laras menelan ludah.
“Kenapa kamu menunjukkan ini?”
“Karena aku pernah kehilangan sebelas tahun hanya karena terlalu takut menghadapi perasaanku sendiri. Aku tidak ingin kalian melakukan kesalahan yang sama.”
Pintu ruang perawatan terbuka.
Dokter mempersilakan Laras masuk.
Galang terbaring dengan perban di kepala. Ketika melihat Laras, matanya langsung memerah.
“Kamu datang.”
“Aku datang.”
Galang berusaha bangun.
“Jangan bergerak.”
“Aku harus bilang sesuatu.”
“Kamu bisa bilang nanti.”
“Tidak.”
Untuk pertama kalinya, Galang tidak terdengar tenang.
“Aku takut nanti aku kembali jadi pengecut.”
Laras menatapnya.
“Aku mencintaimu.”
Kalimat itu akhirnya keluar.
Tidak sempurna.
Tidak romantis.
Tidak disertai bunga atau hadiah mahal.
Namun suara Galang bergetar ketika mengatakannya.
“Aku baru sadar setelah kamu pergi. Dan aku tahu itu terlambat.”
Laras menggigit bibir.
“Cinta bukan sesuatu yang baru muncul karena takut kehilangan.”
“Aku tahu.”
“Aku juga tidak mau kembali hanya karena kamu kecelakaan.”
“Aku tahu.”
“Dan perceraian kita tetap berjalan.”
Wajah Galang pucat.
Namun beberapa detik kemudian ia mengangguk.
“Kalau itu yang kamu butuhkan.”
Laras terkejut.
Galang menatapnya.
“Selama ini aku selalu berpikir menjadi suami yang baik berarti memastikan kamu punya semuanya. Ternyata aku bahkan tidak pernah bertanya apa yang sebenarnya kamu butuhkan.”
Air mata Laras akhirnya jatuh.
Enam bulan kemudian, perceraian mereka resmi selesai.
Galang tidak kembali kepada Kiki.
Laras juga tidak kembali kepada Galang.
Setidaknya, tidak langsung.
Mereka memulai dari nol.
Galang mengajak Laras makan malam seperti saat pertama kali mereka bertemu. Kali ini tanpa keluarga yang mengatur.
Ia datang membawa satu tangkai bunga yang dibeli dari pedagang di lampu merah, bukan buket mahal dari toko langganan.
“Aku tidak tahu bunga kesukaanmu,” katanya.
Laras menatapnya.
“Tiga tahun menikah dan kamu tidak tahu?”
“Makanya sekarang aku tanya.”
Laras tertawa untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan.
“Peony.”
Galang mencatatnya di ponsel.
“Jangan dicatat.”
“Kenapa?”
“Ingat.”
Galang menghapus catatan itu.
“Peony.”
Mereka tidak langsung kembali bersama.
Mereka berkencan.
Bertengkar.
Belajar berbicara.
Galang mulai menceritakan ketakutannya sebelum balapan. Laras mulai mengatakan ketika ia kecewa alih-alih menyembunyikannya di balik kata “tidak apa-apa”.
Setahun kemudian, Galang memenangkan kejuaraan kedelapannya.
Di podium, setelah menerima piala, ia tidak mengangkatnya ke arah kamera.
Ia mencari seseorang di antara kerumunan.
Laras berdiri di dekat pagar pit.
Galang turun dari podium, berjalan melewati fotografer dan kru televisi, lalu menyerahkan piala itu kepadanya.
“Apa ini?”
“Dulu aku pernah menjanjikan piala pertama kepada seseorang.”
Laras menatapnya.
Galang tersenyum.
“Ternyata aku salah orang.”
Laras menggeleng sambil tertawa.
“Jangan pakai aku untuk memperbaiki masa lalumu.”
“Bukan.”
Galang mengeluarkan sesuatu dari saku pakaian balapnya.
Bukan cincin.
Selembar kertas.
Laras langsung menegang.
Galang menyerahkannya.
Di atasnya hanya ada satu kalimat tulisan tangan.
“Aku tidak mau menikahimu lagi sebelum aku tahu cara mencintaimu dengan benar.”
Laras membaca bagian bawah.
“Kalau suatu hari kamu merasa aku sudah belajar, kamu yang melamarku.”
Laras tertawa sambil menangis.
Dua tahun kemudian, di sebuah restoran kecil di Jakarta Pusat, Laras meletakkan cincin di depan Galang.
Pria itu menatapnya tidak percaya.
“Serius?”
“Jangan bikin aku berubah pikiran.”
Galang langsung mengambil cincin itu.
Mereka menikah untuk kedua kalinya tiga bulan kemudian.
Tidak ada pesta besar.
Hanya keluarga dan beberapa sahabat dekat.
Pada ulang tahun pernikahan ketiga mereka yang baru, Galang pulang membawa sekuntum peony.
Laras sedang membaca di sofa ketika ia menyerahkannya.
“Kamu masih ingat?”
“Peony.”
Laras tersenyum.
Galang duduk di sampingnya.
“Dulu aku pikir cinta terbesar dalam hidup adalah orang yang membuat kita bermimpi ketika masih muda.”
“Sekarang?”
Galang menggenggam tangannya.
“Sekarang aku tahu, cinta terbesar adalah orang yang membuat kita berani menjadi dewasa.”
Laras menyandarkan kepala ke bahunya.
Bertahun-tahun sebelumnya, pernikahan mereka hampir berakhir karena sebuah surat dari masa lalu.
Namun pada akhirnya Laras memahami sesuatu.
Surat itu bukanlah benda yang menghancurkan rumah tangganya.
Surat itu hanya membuka pintu sebuah ruangan yang selama tiga tahun mereka pura-pura tidak ada.
Dan terkadang, sebuah hubungan memang harus berakhir terlebih dahulu agar dua orang berhenti menjalankan peran sebagai suami dan istri, lalu belajar untuk pertama kalinya bagaimana benar-benar mencintai satu sama lain.
