Malam itu aku membawa Ibu ke rumah sakit dengan satu keyakinan yang sudah bulat. Pernikahanku dengan Dimas selesai.
Namun aku belum tahu bahwa uang Rp6 juta yang membuatnya menampar Ibu justru akan membuka sesuatu yang jauh lebih buruk daripada yang pernah kubayangkan.
Dokter memeriksa pipi dan rahang Ibu. Untungnya tidak ada retak tulang, hanya memar dan pembengkakan jaringan lunak. Maya datang tidak lama kemudian, masih mengenakan pakaian kantor dan membawa laptop.
Begitu melihat wajah Ibu, rahangnya langsung mengeras.
“Bu, boleh saya foto lukanya?”

Ibu mengangguk.
Maya mengambil beberapa foto dari berbagai sudut, lalu menyimpan surat hasil pemeriksaan.
“Sekarang jangan hapus pesan apa pun dari Dimas,” katanya kepadaku. “Kalau dia menelepon, nggak perlu berdebat. Simpan semuanya.”
Aku mengangguk.
Pukul hampir sebelas malam ketika kami kembali ke hotel.
Aku baru saja membantu Ibu berbaring ketika ponselku bergetar lagi.
Dimas.
Kali ini dia menelepon.
Aku membiarkannya berdering sampai berhenti.
Beberapa detik kemudian masuk pesan.
“Besok pulang. Kita selesaikan masalah ini.”
Aku tidak menjawab.
Pesan berikutnya muncul.
“Aku sudah bilang aku bisa minta maaf ke ibumu.”
Lalu satu lagi.
“Tapi uangku tetap harus kembali.”
Aku menatap layar cukup lama.
Bahkan setelah menampar seorang perempuan berusia lima puluh lima tahun, hal yang paling dipikirkannya masih uang Rp6 juta.
Aku mematikan layar.
Keesokan paginya Maya sudah menemukan apartemen kecil dekat kantorku. Tidak mewah, tetapi cukup bersih, memiliki dua kamar kecil dan jendela yang menghadap deretan gedung Bekasi.
Aku langsung membayar uang muka.
Siang harinya, ketika sedang membeli beberapa kebutuhan bersama Ibu, telepon masuk dari nomor tak dikenal.
Aku mengangkatnya.
“Laras?”
Suara itu kukenal.
Bu Mira, ibu Dimas.
“Ya, Bu.”
“Kamu di mana? Dimas bilang kamu pergi dari rumah gara-gara masalah kecil.”
Masalah kecil.
Aku menatap memar di wajah Ibu yang mulai berubah keunguan.
“Dimas menampar Ibu saya dua kali.”
Di seberang sana hening beberapa detik.
Kemudian Bu Mira menghela napas.
“Ibu sudah dengar.”
Aku menunggu.
“Tapi kamu juga harus memahami Dimas. Dia sedang banyak tekanan kerja. Uang Rp6 juta itu bukan sedikit.”
Aku hampir tidak percaya.
“Jadi menurut Ibu, kalau uang hilang, dia boleh menampar ibu saya?”
“Bukan begitu maksud Ibu. Dimas memang salah. Tapi ibumu juga seharusnya tidak membuka laci pribadi orang.”
Aku menutup mata.
Ternyata aku masih berharap seseorang dari keluarga itu akan mengatakan bahwa apa yang dilakukan Dimas tidak dapat dibenarkan.
Aku salah.
“Bu Mira.”
“Iya?”
“Waktu Ibu operasi lutut dua tahun lalu, siapa yang tidur di rumah sakit selama hampir tiga minggu?”
Dia diam.
“Siapa yang membantu Ibu mandi, mengganti pakaian, mengambil obat, dan menemani fisioterapi?”
“Laras, kenapa kamu mengungkit—”
“Saya.”
Aku memotongnya.
“Dan hari ini, ketika ibu saya ditampar anak Ibu, hal pertama yang Ibu pikirkan adalah Rp6 juta.”
Aku menarik napas.
“Mulai sekarang, kita nggak perlu membicarakan hal lain selain proses perceraian.”
Aku mematikan telepon.
Tanganku gemetar.
Ibu yang berdiri di sebelahku tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya mengambil dua botol air dari rak dan memasukkannya ke keranjang.
Seolah tahu aku membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.
Sore itu Dimas mengirim foto.
Foto kamar tidur kami.
Lemari pakaianku terbuka.
Beberapa koper diletakkan di lantai.
Pesannya singkat.
“Ambil barangmu besok. Kalau nggak, aku buang.”
Maya melarangku pergi sendiri.
Besoknya kami datang bertiga.
Aku, Maya, dan seorang petugas keamanan apartemen yang bersedia mendampingi sampai depan unit.
Dimas membuka pintu.
Matanya langsung berhenti pada Maya.
“Kamu bawa pengacara?”
“Dia sahabatku.”
Dimas tertawa kecil.
“Hebat. Masalah rumah tangga sekarang dibawa ke orang luar.”
Aku masuk tanpa menanggapi.
Barang-barangku sudah dikumpulkan sembarangan.
Ketika memasukkan pakaian ke koper, aku melihat sebuah amplop putih di bawah meja.
Aku mengenalinya.
Itu amplop tempat Dimas menyimpan uang tunai.
Aku membungkuk.
Kosong.
Dimas berdiri di pintu kamar.
“Nggak usah pura-pura cari. Uangnya nggak akan muncul.”
Aku menatapnya.
“Kamu sudah cek CCTV?”
Dimas mengerutkan kening.
“CCTV apa?”
“Di ruang kerja.”
Wajahnya berubah sedikit.
Enam bulan lalu, setelah laptop kantor Dimas hampir hilang karena pembantu harian lupa mengunci pintu, dia memasang kamera kecil di sudut rak buku.
Aku baru mengingatnya.
Dimas tidak menjawab.
“Kenapa nggak cek rekamannya?”
“Kameranya mati.”
“Kamu yakin?”
“Laras, jangan cari-cari alasan.”
Maya yang sejak tadi diam tiba-tiba berkata, “Kalau memang ada kamera, kita bisa cek penyimpanan cloud.”
Dimas menatapnya tajam.
“Ini rumah saya.”
“Benar,” jawab Maya tenang. “Dan ada dugaan pencurian Rp6 juta serta tindakan kekerasan. Rekaman itu bisa menjelaskan keduanya.”
“Aku bilang kameranya mati!”
Suara Dimas meninggi.
Aku memandangnya.
Untuk pertama kalinya, sesuatu terasa aneh.
Kemarin dia begitu yakin Ibu mencuri.
Sekarang dia justru tidak ingin melihat bukti.
Aku tidak berdebat.
Aku mengambil koper dan pergi.
Malamnya aku membuka laptop.
Akun kamera rumah pernah terhubung dengan alamat surelku karena akulah yang membantu Dimas memasangnya.
Aku mencoba masuk.
Kata sandinya belum berubah.
Rekaman masih ada.
Jantungku berdegup keras.
Aku membuka rekaman pada hari kejadian.
Pukul 14.07, Dimas masuk ke ruang kerja.
Dia membuka laci.
Mengambil amplop.
Menghitung uang.
Kemudian teleponnya berbunyi.
Dia menjawab sambil berjalan keluar.
Pukul 14.19, Ibu masuk membawa kain lap.
Dia membersihkan meja, mengangkat beberapa benda, lalu membuka laci.
Aku menahan napas.
Ibu hanya mengelap bagian dalam laci.
Tidak menyentuh amplop.
Dia menutup laci lalu keluar.
Pukul 14.31, sesuatu terjadi.
Dimas kembali.
Aku mendekatkan wajah ke layar.
Dia membuka laci.
Mengambil amplop.
Lalu memasukkan seluruh uang ke dalam saku celananya.
Aku membeku.
Aku memutar ulang.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tidak mungkin salah.
Dimas sendiri yang mengambil uang itu.
Aku menelepon Maya.
“Maya.”
“Ada apa?”
“Aku menemukan rekamannya.”
“Apa?”
“Dimas mengambil uangnya sendiri.”
Maya terdiam.
“Kirimi aku salinannya sekarang.”
Aku mengunduh rekaman dan menyimpannya di beberapa tempat.
Namun ada satu pertanyaan yang tidak bisa kulepaskan.
Kalau Dimas mengambil uangnya sendiri, kenapa dia kemudian menuduh Ibu?
Apakah dia lupa?
Atau…
Aku membuka rekaman beberapa menit setelahnya.
Pukul 14.38, Dimas kembali ke ruang kerja.
Kali ini dia menelepon seseorang.
Kamera tidak merekam suara dengan sempurna, tetapi sebagian percakapannya terdengar.
“Aku sudah ambil uangnya.”
Hening.
“Tenang saja.”
Hening lagi.
Lalu kalimat berikutnya membuat darahku terasa berhenti mengalir.
“Kalau begini Laras pasti suruh ibunya pergi.”
Aku duduk membeku di depan laptop.
Jadi semuanya disengaja.
Rp6 juta itu tidak pernah hilang.
Dimas menciptakan alasan untuk mengusir Ibu.
Yang tidak dia rencanakan mungkin hanya satu hal.
Aku pulang tepat ketika dia menampar Ibu.
Keesokan paginya Maya mengirimkan salinan rekaman itu kepada Dimas disertai pesan resmi bahwa aku akan melanjutkan proses hukum dan perceraian.
Tidak sampai lima menit, ponselku berdering.
Dimas.
Aku menolak.
Dia menelepon lagi.
Lalu lagi.
Akhirnya sebuah pesan masuk.
“Laras, kita harus bicara.”
Pesan kedua.
“Aku bisa jelaskan.”
Pesan ketiga.
“Itu nggak seperti yang kamu pikir.”
Aku menatap tiga kalimat itu dan merasa aneh.
Tiga tahun menikah dengannya membuatku terbiasa menjelaskan tindakannya untuknya.
Dimas marah karena lelah.
Dimas kasar karena tekanan pekerjaan.
Dimas tidak suka Ibu tinggal bersama kami karena dia membutuhkan privasi.
Selama bertahun-tahun aku selalu menemukan alasan.
Sekarang aku berhenti.
Aku mengirim satu kalimat.
“Jelaskan di depan pengacaraku.”
Dua hari kemudian Dimas datang ke apartemen baruku.
Entah bagaimana dia menemukan alamatnya.
Aku tidak membukakan pintu.
Dia berdiri di lorong hampir setengah jam.
“Laras!”
“Aku tahu kamu di dalam.”
“Aku salah.”
“Aku cuma ingin ibumu pulang ke kampung.”
“Aku nggak berniat semuanya jadi begini.”
Dari balik pintu aku bertanya, “Kenapa?”
Suasana mendadak sunyi.
“Kenapa kamu begitu ingin Ibu pergi?”
Dimas tidak langsung menjawab.
Akhirnya dia berkata pelan.
“Karena rumah kita terlalu sempit.”
Aku tertawa.
Bukan karena lucu.
Karena jawabannya terlalu bodoh untuk sebuah kebohongan.
“Pulang, Dimas.”
“Aku masih suamimu.”
“Tidak lama lagi.”
Dia mengetuk pintu keras.
“Laras, jangan keterlaluan!”
Ibu muncul dari kamar.
Aku memberi isyarat agar dia tetap di dalam.
Kemudian terdengar suara lain dari lorong.
“Pak, silakan meninggalkan area ini.”
Petugas keamanan yang kupanggil datang.
Dimas akhirnya pergi.
Aku pikir semuanya akan berakhir di sana.
Ternyata belum.
Seminggu kemudian, Reza meneleponku.
Adik Dimas yang pernikahannya dulu kubantu hampir Rp100 juta itu menangis.
“Kak Laras, aku minta maaf.”
“Untuk apa?”
“Aku baru tahu semuanya.”
“Tahu apa?”
Dia terdiam lama.
“Kak Dimas punya utang.”
Aku berdiri dari kursi.
“Utang?”
“Banyak.”
Menurut Reza, Dimas sudah hampir setahun terlibat investasi spekulatif bersama seorang temannya. Awalnya untung. Kemudian rugi. Dia meminjam dari beberapa tempat untuk menutup kerugian sebelumnya.
Jumlahnya bukan Rp6 juta.
Bukan Rp60 juta.
Hampir Rp800 juta.
Aku merasa lututku lemas.
“Tapi apa hubungannya dengan Ibu?”
“Dia butuh menjual apartemen.”
Aku terdiam.
Apartemen yang selama ini kami tinggali dibeli sebelum menikah, tetapi cicilan renovasi dan sebagian kewajiban finansial selama tiga tahun terakhir dibayar dari rekening rumah tangga kami.
“Dia bilang selama Ibu tinggal di sana, Kakak pasti nggak akan setuju pindah ke tempat lebih kecil,” lanjut Reza. “Dia ingin Ibu pergi dulu. Setelah itu dia mau membujuk Kakak menjual apartemen dan memakai tabungan Kakak untuk melunasi utangnya.”
Aku menutup mata.
Tiba-tiba semua potongan tersusun.
Keluhan kecil.
Tekanan kepada Ibu.
Uang Rp6 juta.
Tuduhan pencurian.
Semuanya bukan ledakan emosi sesaat.
Itu strategi.
Yang gagal karena dia kehilangan kendali dan menampar Ibu tepat saat aku pulang.
Proses perceraian berjalan jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan Dimas.
Dia mencoba meminta maaf.
Mengirim bunga.
Menghubungi teman-temanku.
Bahkan suatu malam Bu Mira datang menemui Ibu.
Dia menangis.
“Bu, tolong bantu bicara sama Laras. Dimas memang salah, tapi rumah tangga tiga tahun jangan dihancurkan begitu saja.”
Ibu menatapnya lama.
Kemudian berkata sesuatu yang tidak pernah kulupakan.
“Bu Mira, rumah tangga mereka bukan hancur ketika anak Ibu menampar saya.”
Bu Mira terdiam.
“Rumah tangga mereka hancur ketika anak Ibu merasa dia berhak menampar saya dan yakin Laras tetap akan tinggal bersamanya.”
Tidak ada lagi yang bisa dikatakan Bu Mira.
Beberapa bulan kemudian perceraian kami resmi.
Aku tidak mengambil banyak barang dari rumah lama.
Hanya pakaian, buku, beberapa dokumen, dan satu kotak kecil berisi pecahan vas hijau kebiruan milik Ayah.
Ibu sempat bertanya kenapa aku menyimpannya.
Aku tidak tahu.
Sampai suatu hari, sepulang kerja, aku melihat Ibu duduk di meja makan dengan pecahan vas itu di depannya.
Dia membeli lem khusus keramik.
“Apa yang Ibu lakukan?”
“Memperbaikinya.”
“Sudah pecah begitu, Bu.”
Ibu tersenyum.
“Pecah bukan berarti harus dibuang.”
Aku duduk di sebelahnya.
Kami menyusun pecahannya perlahan.
Beberapa bagian tidak bisa kembali sempurna. Ada garis-garis retak yang tetap terlihat jelas.
Tetapi vas itu akhirnya berdiri lagi.
Tidak seperti sebelumnya.
Namun tetap indah.
Setahun setelah perceraian, aku dan Ibu pindah ke rumah kecil yang kubeli dengan uangku sendiri.
Pada hari pertama, aku meletakkan vas itu di rak ruang tamu.
Di samping foto Ayah.
Sore itu Ibu membuat teh.
Kami duduk berdua dekat jendela sambil melihat hujan.
Tiba-tiba Ibu berkata, “Laras, ada sesuatu yang belum pernah Ibu ceritakan.”
Aku menoleh.
“Waktu Dimas menampar Ibu, sebenarnya Ibu bisa melawan.”
Aku tersenyum kecil.
“Aku tahu.”
“Tapi Ibu sengaja diam.”
“Kenapa?”
Dia memandang hujan.
“Karena waktu itu Ibu melihat kamu berdiri di pintu.”
Aku terdiam.
“Ibu ingin tahu satu hal.”
“Apa?”
“Apakah anak Ibu masih akan memilih menambal rumah tangga yang sudah melukai dirinya sendiri, atau akhirnya memilih menyelamatkan dirinya.”
Dadaku terasa sesak.
Ibu menggenggam tanganku.
“Dan kamu memilih dengan benar.”
Aku menatap vas yang sudah direkatkan.
Barulah aku memahami sesuatu.
Selama ini aku mengira dua tamparan itu menghancurkan pernikahanku.
Ternyata tidak.
Dua tamparan itu hanya menghancurkan kebohongan yang selama tiga tahun kusebut rumah tangga.
Lima detik setelah melihat ibuku dipukul, aku memang kehilangan seorang suami.
Tetapi pada lima detik yang sama, aku mendapatkan kembali sesuatu yang jauh lebih lama hilang.
Diriku sendiri.
