Selama tiga hari setelah kejadian di lantai 28, aku hidup seperti seorang buronan yang kebetulan masih harus masuk kerja.
Setiap kali mendengar suara sepatu kulit di lorong, jantungku berdebar. Setiap kali ponsel bergetar, aku takut menerima pesan pemecatan. Bahkan ketika sedang membersihkan kaca di lantai sebelas, aku beberapa kali merasa ada seseorang yang mengawasiku dari balik jendela.
Aku tahu siapa orangnya.
Aditya Pratama belum percaya bahwa aku buta.
Masalahnya, sekarang aku benar-benar bisa melihat.

Penglihatanku memang belum sempurna. Cahaya terlalu terang masih membuat mataku sakit dan benda yang terlalu jauh terlihat sedikit kabur. Namun wajah seseorang dari jarak beberapa meter sudah bisa kulihat dengan jelas.
Termasuk wajah Direktur Utama yang sedang menatapku dari balik kaca.
Hari Kamis pagi, aku sedang membersihkan jendela ruang rapat lantai 21 ketika Aditya berdiri di dalam bersama beberapa eksekutif.
Aku langsung mengalihkan pandangan.
Tidak boleh bereaksi.
Aku harus tetap menjadi Citra yang tidak pernah melihat dunia.
Seorang pria di ruang rapat menunjuk grafik di layar. Semua orang memperhatikan presentasi, kecuali Aditya.
Dia memperhatikanku.
Lalu dengan sengaja dia mengambil spidol merah dan menjatuhkannya.
Spidol itu menggelinding sampai tepat di dekat kaca.
Aku tidak menoleh.
Aditya menendangnya sedikit.
Spidol itu jatuh dari meja.
Aku tetap membersihkan kaca.
Lima menit kemudian, seorang staf perempuan membuka jendela kecil dan memanggilku.
“Mbak Citra?”
Aku memiringkan kepala mengikuti arah suara.
“Iya?”
“Pak Aditya bilang hasil pekerjaan di sudut kanan atas kurang bersih.”
Aku hampir mengumpat.
Kaca di sana sudah mengilap seperti cermin.
Namun aku tersenyum.
“Baik, Mbak.”
Aku membersihkannya lagi.
Dari sudut mata, kulihat Aditya menyilangkan tangan di dada.
Pria itu benar-benar tidak punya pekerjaan lain?
Kupikir ujian itu akan berhenti.
Ternyata aku terlalu naif.
Siang harinya Pak Hendra memanggilku.
“Mulai besok kamu tidak perlu membersihkan kaca luar.”
Aku langsung tegang.
“Kenapa, Pak?”
“Pratama Group meminta kamu dipindahkan ke bagian kebersihan kantor eksekutif.”
Aku membeku.
“Siapa yang meminta?”
Pak Hendra menatapku seolah aku baru saja menanyakan apakah matahari terbit dari timur.
“Siapa lagi?”
Aku ingin mengundurkan diri saat itu juga.
Namun saldo rekeningku hanya cukup untuk membayar kontrakan dua bulan, biaya pemeriksaan mata masih berjalan, dan ibuku di Semarang bergantung pada sebagian penghasilanku.
Jadi keesokan harinya, aku datang ke lantai 28.
Intan menyerahkan jadwal kepadaku.
Kemudian dia berhenti.
Wajahnya berubah canggung.
“Oh, maaf.”
Dia baru ingat aku seharusnya tidak bisa membaca.
Aku tersenyum.
“Bisa dibacakan, Mbak?”
Intan membacakan daftar ruangan yang harus kubersihkan.
Ruang kerja Direktur Utama berada paling akhir.
Ketika aku masuk, Aditya sedang duduk di belakang meja.
Aku berpura-pura meraba sisi meja dengan kain lap.
“Selamat pagi, Pak.”
Tidak ada jawaban.
Aku mulai membersihkan rak.
Lima menit berlalu.
Sepuluh menit.
Aditya masih diam.
Aku mulai berpikir mungkin dia benar-benar bekerja.
Tiba-tiba terdengar suara benda pecah.
Refleks tubuhku hampir membuatku menoleh.
Aku berhasil menahannya.
“Pak?”
“Gelas jatuh.”
“Oh.”
“Pecah di dekat kakimu.”
Aku langsung berhenti.
Sial.
Kalau aku melangkah sembarangan, kakiku bisa terluka.
Kalau aku menghindari pecahan dengan tepat, penyamaranku selesai.
Aku perlahan berjongkok dan meraba lantai.
“Jangan.”
Suara Aditya terdengar dekat.
Tangannya menangkap pergelangan tanganku.
Untuk pertama kalinya aku menyadari betapa tinggi pria itu ketika berdiri tepat di depanku.
“Bisa terluka.”
Aku mendongak tanpa memfokuskan mata.
“Terima kasih, Pak.”
Dia tidak langsung melepaskan tanganku.
“Citra.”
“Iya?”
“Kamu takut padaku?”
Pertanyaan itu membuatku hampir tertawa.
“Kenapa saya harus takut?”
“Karena kamu menyimpan sesuatu.”
Darahku terasa dingin.
Aku tersenyum kecil.
“Saya cuma petugas kebersihan, Pak. Apa yang bisa saya sembunyikan dari Direktur Utama?”
Aditya mendekat sedikit.
“Misalnya penglihatanmu.”
Aku diam.
Ruangan itu mendadak terasa terlalu sunyi.
Kemudian terdengar ketukan pintu.
Intan masuk membawa beberapa dokumen.
Aditya akhirnya melepaskan tanganku.
Aku segera keluar.
Begitu pintu tertutup, aku bersandar di dinding dan mengembuskan napas.
Aku harus berhenti bekerja di sini.
Secepatnya.
Malam itu aku membuka laptop lama di kontrakan dan mulai mencari lowongan.
Namun sebelum sempat mengirim satu lamaran, sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Jangan datang bekerja besok kalau kamu ingin selamat.
Aku menatap layar.
Pesan kedua masuk.
Dan jangan pernah mengatakan kepada siapa pun apa yang kamu lihat di lantai 28.
Bulu kudukku berdiri.
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Apa yang kulihat?
Aditya di toilet?
Siapa yang sampai mengancam seseorang hanya karena melihat Direktur Utama sembelit?
Aku hampir tertawa karena absurditasnya.
Lalu aku teringat sesuatu.
Saat tergantung di luar jendela hari itu, sebelum melihat Aditya, aku sebenarnya sempat melihat bagian lain dari ruangan.
Ada seorang laki-laki keluar dari pintu samping kamar mandi.
Aku tidak terlalu memperhatikannya karena beberapa detik kemudian fokusku teralihkan kepada Aditya.
Pria itu membawa sebuah map hitam.
Saat itu kupikir dia staf.
Sekarang aku tidak yakin.
Keesokan paginya aku tetap datang bekerja.
Bukan karena berani.
Aku membutuhkan gaji.
Sekitar pukul sebelas, aku sedang membersihkan pantry ketika mendengar dua orang berbicara di lorong.
“Dokumennya belum ketemu.”
“Cari lagi.”
Aku mengenali suara kedua.
Bima Santoso, Direktur Keuangan Pratama Group.
Aku pernah melihat wajahnya di majalah bisnis.
“Kalau Aditya tahu laporan audit itu ada salinannya, kita habis.”
Aku membeku.
Langkah kaki mendekat.
Aku langsung mengambil tongkat lipat dari keranjang dan berpura-pura mencari jalan.
Bima masuk ke pantry.
Dia berhenti ketika melihatku.
“Kamu siapa?”
“Citra, Pak. Petugas kebersihan.”
Matanya mengamatiku.
Kemudian ekspresinya berubah.
“Kamu pegawai yang buta itu?”
“Iya, Pak.”
Entah kenapa senyumnya membuatku tidak nyaman.
Dia mendekat.
“Kamu bekerja di lantai ini hari Senin lalu?”
Aku mengangguk.
“Ya.”
“Dekat kamar Direktur Utama?”
Aku merasakan tengkukku menegang.
“Sepertinya iya. Saya tidak terlalu hafal ruangan.”
Bima menatap mataku beberapa detik.
Lalu dia tertawa.
“Benar juga. Kamu tidak bisa melihat.”
Dia pergi.
Saat itulah aku mengerti.
Ancaman itu bukan tentang Aditya.
Ada sesuatu yang terjadi di lantai 28 hari Senin lalu.
Dan mungkin tanpa sengaja aku melihat pelakunya.
Sore harinya aku memutuskan memberi tahu Aditya.
Namun ketika tiba di ruang kerjanya, ruangan kosong.
Di meja terdapat map hitam.
Sama persis dengan yang kulihat dibawa pria misterius hari itu.
Aku mendekat.
Tulisan di bagian depan terbaca jelas.
Laporan Audit Internal.
Tanganku baru menyentuh map ketika pintu terbuka.
“Akhirnya.”
Suara Aditya.
Aku membeku.
Dia berdiri di ambang pintu.
Tatapannya turun ke tanganku.
Kemudian ke tulisan pada map.
“Kamu bisa melihat.”
Tidak ada lagi gunanya berpura-pura.
Aku menutup mata sesaat.
Ketika membukanya kembali, aku menatap langsung ke wajahnya.
“Iya.”
Aditya berjalan masuk dan mengunci pintu.
Aku mundur.
“Pak, saya bisa menjelaskan.”
“Sejak kapan?”
“Senin minggu lalu.”
“Jadi hari itu kamu melihat semuanya?”
Aku menelan ludah.
“Kalau yang Bapak maksud kejadian di toilet…”
Rahangnya mengeras.
Aku buru-buru melanjutkan.
“Saya tidak akan cerita kepada siapa pun.”
Wajahnya berubah gelap.
“Bukan itu.”
Aku terdiam.
Aditya mengambil map dari tanganku.
“Siapa yang keluar dari ruangan ini sebelum kamu melihatku?”
Jantungku berdebar.
Jadi dia tahu.
“Ada laki-laki.”
“Siapa?”
“Saya tidak tahu.”
Aditya mengambil tablet dan menunjukkan beberapa foto eksekutif.
Aku melihat satu per satu.
Kemudian jariku berhenti.
“Dia.”
Wajah Aditya langsung berubah.
Foto itu adalah Bima Santoso.
Aku menceritakan percakapan yang kudengar di pantry dan pesan ancaman semalam.
Aditya tidak mengatakan apa pun selama hampir satu menit.
Kemudian dia menelepon Intan.
“Batalkan semua agenda sore ini. Hubungi tim audit dan keamanan internal. Jangan beri tahu Bima.”
Setelah telepon ditutup, dia menatapku.
“Kamu pulang sekarang.”
“Kenapa?”
“Karena kalau Bima tahu kamu bisa melihat, kamu dalam bahaya.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu di wajah Aditya yang tidak pernah muncul di media.
Kekhawatiran.
Namun semuanya sudah terlambat.
Saat aku keluar dari gedung, sebuah mobil hitam berhenti di depan trotoar.
Dua pria turun.
Salah satunya berjalan ke arahku.
Aku langsung berbalik.
“Citra!”
Aku berlari.
Tidak ada lagi alasan berpura-pura buta.
Aku menerobos area parkir, mendengar langkah kaki mengejar dari belakang.
Sebuah tangan hampir menangkap bahuku ketika suara keras terdengar.
“Berhenti!”
Petugas keamanan berlari dari pintu gedung.
Dua pria itu kabur.
Aku baru menyadari seluruh tubuhku gemetar ketika seseorang memegang lenganku.
Aditya.
Dia turun sendiri dari lantai 28.
“Kamu baik-baik saja?”
Aku mengangguk.
Dia menatap jalan tempat mobil tadi menghilang.
Kemudian berkata pelan, “Sekarang mereka tahu.”
Malam itu aku ditempatkan di apartemen perusahaan dengan pengamanan.
Dalam dua hari berikutnya, audit internal menemukan penggelapan dana proyek bernilai lebih dari seratus miliar rupiah. Bima menggunakan perusahaan vendor fiktif untuk mengalihkan pembayaran selama hampir tiga tahun.
Hari Senin itu, dia masuk ke ruang kerja Aditya untuk mengambil salinan laporan audit.
Namun dia tidak tahu ada seorang pembersih kaca di luar gedung yang baru mendapatkan kembali penglihatannya.
Polisi menangkap Bima tiga hari kemudian.
Kupikir semuanya selesai.
Ternyata belum.
Seminggu kemudian Aditya memanggilku.
Aku duduk di seberang mejanya.
Kali ini aku tidak berpura-pura tidak melihat.
“Kontrakmu dengan perusahaan kebersihan akan berakhir bulan ini,” katanya.
Dadaku langsung sesak.
Jadi akhirnya aku tetap kehilangan pekerjaan.
“Saya mengerti.”
“Aku belum selesai.”
Dia mendorong sebuah dokumen ke arahku.
Aku membacanya.
Staf Administrasi Pengendalian Internal.
Aku mendongak.
“Saya?”
“Kamu teliti, mampu menjaga rahasia, berani di bawah tekanan, dan berhasil membohongi Direktur Utama selama beberapa hari.”
“Yang terakhir itu terdengar seperti alasan untuk tidak mempekerjakan saya.”
Untuk pertama kalinya aku melihat Aditya tersenyum.
Tipis sekali.
“Hendra bilang kamu pegawai terbaik.”
Aku menatap surat itu lagi.
Gajinya hampir tiga kali lipat dari penghasilanku sekarang.
“Tapi pendidikan saya cuma diploma.”
“Perusahaan bisa membiayai kuliah lanjutan kalau kinerjamu bagus.”
Aku masih tidak percaya.
“Kenapa Bapak melakukan ini?”
Aditya bersandar.
“Karena kalau bukan karena kamu, aku mungkin masih mencari siapa yang mencuri laporan audit.”
Aku mengangguk.
Kemudian tanpa sengaja mataku jatuh ke laci meja yang sedikit terbuka.
Di dalamnya ada beberapa kotak obat.
Salah satunya bertuliskan obat pencahar.
Aditya mengikuti arah pandanganku.
Wajahnya langsung membeku.
Aku buru-buru menatap dokumen.
“Saya tidak melihat apa-apa.”
“Citra.”
“Iya, Pak?”
“Mulai besok, jangan pernah melihat ke dalam laci meja saya.”
Aku menggigit bibir agar tidak tertawa.
“Baik.”
Aku berdiri membawa surat penawaran.
Saat tanganku hampir menyentuh gagang pintu, Aditya memanggil.
“Citra.”
Aku menoleh.
Dia tampak ragu beberapa detik.
“Waktu itu… kamu benar-benar melihat semuanya?”
Aku tahu persis apa yang dia maksud.
Aku memasang wajah polos.
“Yang mana, Pak?”
Tatapannya menyipit.
Aku tersenyum.
“Tenang saja. Rahasia perusahaan aman bersama saya.”
Aku keluar sebelum dia sempat menjawab.
Tiga bulan kemudian aku resmi menjadi pegawai Pratama Group. Enam bulan kemudian perusahaan memberiku beasiswa untuk melanjutkan kuliah malam.
Penglihatanku juga semakin membaik.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku bisa melihat langit pagi dengan jelas.
Ternyata warnanya tidak pernah sesederhana yang kubayangkan.
Ada biru, putih, sedikit keemasan, dan bayangan gedung-gedung Jakarta yang memantulkan cahaya matahari.
Aku berdiri di dekat jendela lantai 28 ketika Aditya datang membawa dua cangkir kopi.
Dia menyerahkan satu kepadaku.
“Kamu sedang melihat apa?”
“Langit.”
“Bagus?”
Aku mengangguk.
“Sangat.”
Dia berdiri di sampingku.
Beberapa saat kami sama-sama diam.
Lalu aku berkata, “Pak Aditya.”
“Hm?”
“Saya baru sadar satu hal.”
“Apa?”
“Kalau hari itu penglihatan saya pulih satu minggu lebih lambat, mungkin kasus Pak Bima tidak akan pernah terbongkar.”
Aditya mengangguk.
“Mungkin.”
“Kalau pulih satu minggu lebih cepat, data perusahaan sudah diperbarui dan saya juga tidak mungkin berhasil berpura-pura buta.”
“Benar.”
Aku menyesap kopi.
“Jadi semua ini terjadi karena kebetulan.”
Aditya menatapku.
“Tidak semuanya.”
Aku mengangkat alis.
Dia tersenyum kecil.
“Kebetulan membuatmu melihat. Keberanianmu yang membuatmu tidak berpaling.”
Aku terdiam.
Kemudian ponsel Aditya berbunyi.
Dia melihat layar, mendesah, lalu berjalan menuju kamar mandi pribadinya.
Aku melihatnya membawa sebuah kotak kecil dari laci.
Obat pencahar.
Aku menahan tawa.
Sebelum pintu tertutup, dia menoleh tajam.
“Jangan melihat ke arah sini.”
Aku langsung menatap jendela.
“Tenang, Pak.”
Pintu kamar mandi tertutup.
Aku tersenyum sambil memandangi langit Jakarta.
“Anggap saja saya masih buta.”
