Galang menatapku beberapa detik, seolah pertanyaanku terlalu sederhana untuk dijawab.
Lalu dia menghela napas dan merapikan manset kemejanya.
“Laras, jangan membuat keadaan jadi sulit.”
Perasaan lega yang baru saja muncul di dadaku mendadak hilang.
Aku menatapnya tanpa mengerti.
“Tapi aku pikir aku pulang bersamamu.”

“Siapa bilang?”
Galang melirik mobil hitam yang berhenti beberapa meter di belakangku.
“Kamu ikut Arman. Cuma satu bulan.”
Aku meremas tali tas.
“Tiga puluh hari?”
“Iya.”
Aku menghitung cepat di dalam kepala, meskipun angka-angka belakangan sering terasa lebih sulit daripada dulu.
“Setelah tiga puluh hari, aku boleh pulang?”
Galang terlihat tidak sabar.
“Ya.”
“Benarkah?”
“Laras.”
Nada suaranya meninggi sedikit.
Aku langsung diam.
Galang paling tidak suka ketika aku mengulang pertanyaan.
Aku buru-buru mengeluarkan ponsel dan membuka catatan.
Tiga puluh hari. Jangan menelepon Galang. Setelah tiga puluh hari boleh pulang.
Aku menunjukkan layar kepadanya.
“Begini?”
Galang bahkan tidak melihatnya dengan sungguh-sungguh.
“Iya. Pokoknya jangan bikin masalah.”
Aku mengangguk.
Pintu belakang mobil Arman terbuka.
Seorang pria berkemeja hitam berdiri di sampingnya.
Aku mengenalinya sebagai sekretaris Arman yang tadi berada di kapal.
“Silakan, Nona Laras.”
Aku tidak bergerak.
Entah kenapa kakiku terasa berat.
Aku menoleh sekali lagi kepada Galang.
Dia sudah membuka pintu mobilnya sendiri.
“Galang.”
Dia berhenti.
“Apa?”
Aku ingin bertanya apakah dia akan merindukanku.
Tetapi aku teringat catatan di ponsel.
Jangan terlalu menempel.
Jadi aku mengganti pertanyaanku.
“Tidak apa-apa.”
Galang masuk ke mobil.
Beberapa detik kemudian, mobilnya melaju pergi.
Aku berdiri di bawah lampu parkiran sampai lampu belakang mobil itu menghilang di tikungan.
“Dia sudah pergi.”
Suara Arman terdengar dari belakangku.
Aku menoleh.
Dia berdiri di samping pintu mobil dengan kedua tangan masuk ke saku celana.
“Aku tahu.”
“Kalau tahu, kenapa masih melihat?”
Aku berpikir sebentar.
“Mungkin dia akan kembali.”
Arman terdiam.
Tatapannya berubah aneh.
Namun dia tidak mengatakan apa pun dan hanya menunjuk mobil.
“Masuk.”
Rumah Arman ternyata tidak seperti yang kubayangkan.
Aku kira seseorang yang membuat Galang dan Citra bicara dengan nada seperti itu akan tinggal di rumah gelap yang dipenuhi orang-orang berwajah menakutkan.
Ternyata rumahnya luas, tenang, dan sangat bersih.
Ada halaman dengan pohon kamboja, kolam kecil, dan seekor kucing abu-abu yang sedang tidur di atas kursi teras.
Begitu melihat kucing itu, rasa takutku berkurang sedikit.
Aku jongkok.
“Kucing.”
“Namanya Abu.”
Aku mendongak.
Arman berdiri di belakangku.
“Boleh kupegang?”
“Kalau dia mengizinkan.”
Aku mengulurkan tangan perlahan.
Abu mencium ujung jariku, lalu menggosokkan kepalanya ke telapak tanganku.
Aku tersenyum.
Itu pertama kalinya malam itu aku merasa senang.
Hari pertama berjalan aneh.
Aku bangun pukul enam pagi karena terbiasa membuat sarapan Galang.
Aku turun ke dapur dan menemukan dua asisten rumah tangga sedang menyiapkan makanan.
Aku berdiri cukup lama sampai salah satu dari mereka bertanya,
“Nona Laras mencari apa?”
“Aku mau membuat kopi.”
“Untuk siapa?”
“Arman.”
Perempuan itu terlihat bingung.
“Pak Arman biasanya minum kopi hitam tanpa gula. Tapi kami yang menyiapkan.”
Aku mengangguk.
“Kalau begitu aku tidak perlu?”
“Tidak perlu.”
Aku kembali ke ruang makan.
Aneh rasanya tidak perlu melakukan apa-apa.
Selama beberapa tahun terakhir, hariku selalu berputar di sekitar Galang.
Mengingat jadwalnya.
Menyiapkan bajunya.
Mencari barang-barangnya.
Menunggu dia pulang.
Kadang aku melakukan kesalahan.
Pernah aku memasukkan jas mahalnya ke mesin cuci dan membuatnya rusak.
Galang marah selama dua hari.
Setelah itu aku menulis catatan agar tidak mengulanginya.
Di rumah Arman, tidak ada yang menyuruhku melakukan apa pun.
Pada hari ketiga, aku malah mulai gelisah.
Aku mendatangi ruang kerja Arman.
Dia sedang menatap laptop ketika aku mengetuk pintu.
“Ada apa?”
“Aku boleh bekerja?”
Arman mengangkat kepala.
“Kerja apa?”
“Apa saja.”
“Kamu tamu.”
“Tapi aku tinggal dan makan di sini.”
“Lalu?”
Aku membuka ponsel.
Aku mencari catatan lama dan menunjukkannya.
Kalau tidak membantu, jangan merepotkan orang lain.
Arman membaca kalimat itu cukup lama.
“Galang yang bilang?”
Aku mengangguk.
Dia bersandar.
“Kalau begitu, hapus.”
Aku terkejut.
“Kenapa?”
“Karena aku tidak suka.”
Aku ragu beberapa detik, lalu menghapusnya.
Arman menatapku.
“Kenapa menurut begitu saja?”
“Karena ini rumahmu.”
“Kalau aku menyuruhmu melompat dari lantai dua?”
Aku menatap jendela.
“Apakah ada kasur di bawah?”
Arman memijat pelipisnya.
“Lupakan.”
Beberapa hari berikutnya, dia mulai memberiku hal-hal aneh untuk dilakukan.
Bukan pekerjaan rumah.
Dia memberiku puzzle.
Lalu permainan angka.
Kemudian sebuah papan catur.
“Mainlah.”
“Aku tidak bisa.”
“Coba.”
Aku menatap posisi bidak.
Tanganku bergerak tanpa banyak berpikir.
Lima belas menit kemudian, Arman kehilangan ratunya.
Dia menatap papan.
Aku ikut menatap papan.
“Apakah aku salah?”
Arman tidak menjawab.
Dia mengambil ponsel dan menelepon seseorang.
Besok paginya seorang dokter datang.
Aku tidak suka rumah sakit.
Bau antiseptik membuat kepalaku berdenyut dan telapak tanganku dingin.
Jadi ketika dokter itu mengatakan ingin melakukan beberapa tes sederhana, aku langsung bersembunyi di belakang Arman.
“Aku tidak mau.”
Dokter perempuan bernama Dr. Nadia tersenyum lembut.
“Tidak ada suntikan.”
“Benarkah?”
“Benar.”
Aku menoleh kepada Arman.
Dia mengangguk.
“Kalau kamu tidak nyaman, kita berhenti.”
Entah kenapa kalimat itu membuatku sedikit tenang.
Tes berlangsung hampir dua jam.
Ada gambar.
Angka.
Pola.
Kartu.
Beberapa terasa sangat sulit.
Namun beberapa lainnya terasa anehnya akrab, seolah tanganku masih mengingat sesuatu yang sudah dilupakan kepalaku.
Selesai pemeriksaan, Dr. Nadia berbicara lama dengan Arman di ruang sebelah.
Aku tidak sengaja mendengar satu kalimat.
“Kemampuan kognitifnya tidak hilang sepenuhnya. Masalah terbesar justru ketergantungan yang terbentuk setelah trauma.”
Aku tidak mengerti.
Malam itu Arman bertanya,
“Laras, sebelum kecelakaan, apa yang paling kamu sukai?”
“Aku tidak ingat.”
“Coba pikirkan.”
Aku menutup mata.
Kepalaku mulai sakit.
Lalu muncul suara.
Tepuk tangan.
Lampu terang.
Papan besar.
Tanganku memegang sesuatu yang dingin dan bulat.
Aku membuka mata.
“Medali.”
Arman tidak terlihat terkejut.
Dia menarik sebuah kotak dari laci meja.
Di dalamnya ada potongan berita lama yang sudah dicetak.
Foto seorang gadis berusia sekitar dua puluh tahun berdiri di podium.
Wajahnya adalah wajahku.
Namun matanya berbeda.
Mata gadis itu tajam dan percaya diri.
Judul berita menyebutkan namaku sebagai pemenang kompetisi matematika nasional.
Aku menyentuh foto itu dengan ujung jari.
“Ini aku?”
“Iya.”
“Bagaimana kamu mendapatkannya?”
“Mencari.”
“Kenapa?”
Arman menatapku lama.
“Karena aku ingin tahu kenapa seseorang yang pernah mengalahkan semua peserta nasional sekarang percaya kalau dirinya bodoh.”
Aku tidak bisa menjawab.
Hari kesepuluh, aku menerima telepon dari Galang.
Begitu namanya muncul di layar, aku sangat senang sampai hampir menjatuhkan ponsel.
Namun sebelum mengangkat, aku teringat catatanku.
Jangan terlalu menempel.
Aku menunggu tiga dering baru menjawab.
“Halo?”
“Laras, kamu di mana?”
Aku bingung.
“Di rumah Arman.”
“Aku tahu. Maksudku sedang apa?”
“Main puzzle.”
Galang terdiam sebentar.
“Arman memperlakukanmu baik?”
“Baik.”
“Dia menyentuhmu?”
Aku tidak mengerti maksud pertanyaannya.
“Pagi tadi tangannya menyentuh kepalaku karena aku hampir menabrak pintu.”
Galang mengumpat pelan.
“Bukan itu maksudku.”
Aku menunggu.
Namun dia tidak menjelaskan.
Sebaliknya, dia berkata,
“Pokoknya jangan terlalu dekat dengannya.”
Aku membuka catatan.
“Baik.”
“Dan jangan lupa kamu akan pulang setelah satu bulan.”
Aku tersenyum.
“Aku tidak lupa.”
Setelah telepon ditutup, Arman yang berdiri di pintu bertanya,
“Senang?”
Aku mengangguk.
“Galang masih mengingatku.”
Arman tersenyum kecil.
Tetapi senyum itu tampak dingin.
“Selamat.”
Hari kelima belas, Citra datang.
Begitu melihatku, dia langsung memelukku.
Aku kaku beberapa detik sebelum membalas pelukannya.
“Kamu kurusan?”
Aku menggeleng.
“Beratku naik satu kilogram.”
Citra tertawa sambil menangis.
Kemudian dia melihat tumpukan soal di meja.
“Apa ini?”
“Aku sedang belajar lagi.”
“Belajar?”
“Aku dulu katanya pintar.”
Wajah Citra berubah.
Dia menatap Arman.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Hal yang seharusnya dilakukan orang-orang di sekitarnya sejak beberapa tahun lalu.”
Citra tidak membantah.
Sore itu, Citra menunjukkan kepadaku sebuah video lama.
Video kompetisi.
Aku berdiri di panggung menjelaskan solusi sebuah soal.
Suara perempuan dalam video terdengar tenang dan cepat.
Aku hampir tidak percaya dia adalah aku.
Di akhir video, seorang pria muda naik ke panggung membawa bunga.
Galang.
Dia memelukku.
Aku tersenyum begitu lebar.
Video berikutnya direkam beberapa bulan kemudian.
Kecelakaan.
Bukan kecelakaannya, tetapi rekaman CCTV dari pinggir jalan.
Galang berjalan menyeberang sambil melihat ponsel.
Sebuah mobil melaju dari arah kanan.
Aku berlari.
Mendorong Galang.
Tubuhku sendiri terpental.
Tanganku gemetar.
“Matikan.”
Citra segera mematikannya.
Aku merasa sulit bernapas.
“Jadi benar aku menyelamatkannya?”
“Iya.”
“Kenapa aku tidak ingat?”
“Dokter bilang ingatanmu bisa kembali sebagian, bisa juga tidak.”
Aku menggenggam celana.
“Setelah itu Galang merawatku?”
Citra terdiam.
“Awalnya iya.”
Hanya dua kata.
Namun aku mulai memahami bahwa ada banyak hal di baliknya.
Hari kedua puluh tiga, aku mulai bisa pergi sendiri ke toko buku yang berjarak beberapa ratus meter dari rumah Arman.
Pertama kali aku pergi, sopir diam-diam mengikutiku.
Aku tahu itu perintah Arman.
Aku tidak marah.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku memilih buku sendiri.
Aku juga membeli es krim tanpa bertanya kepada siapa pun apakah aku boleh.
Rasanya sangat manis.
Aku duduk di bangku taman sambil berpikir lama.
Kemudian mengeluarkan ponsel.
Aku membuka catatan-catatan tentang Galang.
Jangan makan terlalu banyak.
Jangan terlalu sering menelepon.
Jangan membuat suara keras saat dia bekerja.
Jangan menangis saat dia sibuk.
Jangan bertanya berkali-kali.
Jangan menyentuh barangnya.
Jangan menunggu di kantornya.
Jangan membuatnya malu di depan teman.
Ada puluhan catatan.
Anehnya, hampir semuanya dimulai dengan kata jangan.
Aku membuat catatan baru.
Laras suka es krim rasa vanila.
Aku menatap kalimat itu cukup lama.
Kemudian tersenyum.
Hari ketiga puluh akhirnya tiba.
Sejak pagi aku sudah memasukkan barang-barang ke koper.
Arman melihat koper itu saat turun untuk sarapan.
“Kamu jadi pergi?”
“Iya.”
Dia menarik kursi.
“Baik.”
Hanya itu.
Aku sedikit kecewa.
Aku tidak tahu kenapa.
Pukul tujuh malam, Galang datang.
Dia tidak datang sendirian.
Di belakangnya ada beberapa teman yang kukenal dari kapal pesiar.
Sepertinya mereka baru selesai menghadiri acara.
Begitu masuk, Galang tertawa.
“Arman, satu bulan tepat. Aku datang mengambil barangku.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku yang sedang turun dari tangga berhenti.
Barangku.
Dua kata itu terdengar familiar.
Namun kali ini rasanya berbeda.
Arman berdiri.
“Dia bukan barang.”
Galang mengangkat bahu.
“Kamu tahu maksudku.”
Kemudian dia melihatku.
“Laras, ayo pulang.”
Dulu, kalau Galang berkata begitu, kakiku pasti langsung bergerak.
Malam itu aku tetap berdiri.
Galang mengernyit.
“Laras?”
Aku turun satu anak tangga.
Kemudian satu lagi.
Sampai akhirnya berdiri di ruang tamu.
“Aku boleh bertanya?”
“Apa?”
“Kalau aku pulang, apakah aku boleh ikut terapi?”
Galang terlihat bingung.
“Terapi apa?”
“Dr. Nadia bilang aku bisa belajar menjadi lebih mandiri.”
Wajah Galang berubah sedikit.
“Untuk apa? Selama ini kamu baik-baik saja.”
“Aku ingin bisa mengurus diriku.”
“Aku bisa mengurusmu.”
“Tapi kamu bilang aku merepotkan.”
Teman-temannya mulai saling melirik.
Galang tersenyum kaku.
“Aku cuma bicara saat emosi.”
“Kamu juga bilang biaya makanmu berkurang kalau aku pergi.”
“Laras.”
Nada suaranya mulai tajam.
Biasanya nada itu langsung membuatku takut.
Malam itu aku memang masih takut.
Tetapi untuk pertama kalinya, aku tidak mundur.
Aku mengeluarkan ponsel.
“Aku punya catatan supaya tidak membuatmu marah.”
Aku menunjukkan layar.
Galang tidak mengambilnya.
Aku membaca sendiri.
“Jangan menelepon. Jangan makan terlalu banyak. Jangan bertanya terlalu banyak. Jangan menunggu. Jangan menangis. Jangan membuat malu.”
Suaraku semakin pelan.
“Aku sudah berusaha menjadi orang yang tidak merepotkanmu.”
Galang terdiam.
Aku menatapnya.
“Tapi selama sebulan ini, aku baru tahu ada hal lain yang harus kuingat.”
Aku membuka halaman catatan baru.
“Aku suka es krim vanila.”
“Aku suka kucing.”
“Aku masih bisa bermain catur.”
“Aku suka matematika.”
“Aku tidak suka rumah sakit, tapi aku mau terapi.”
“Dan aku ternyata tidak bodoh.”
Wajah Galang memucat.
Aku tersenyum sedikit.
“Jadi aku tidak mau pulang.”
Semua orang terdiam.
Galang menatapku seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil.
“Apa?”
“Aku tidak mau kembali.”
Dia tertawa pendek.
“Laras, jangan bercanda.”
“Aku tidak bercanda.”
“Aku yang merawatmu bertahun-tahun.”
“Aku tahu.”
“Kalau bukan aku, kamu pikir siapa yang akan menanggungmu?”
Aku berpikir sebentar.
“Diriku sendiri.”
Galang melangkah maju dan meraih pergelangan tanganku.
Sebelum aku bereaksi, Arman sudah menepis tangannya.
“Jangan sentuh dia.”
Galang akhirnya kehilangan kesabaran.
“Arman, ini urusanku dengan Laras.”
“Tidak lagi.”
“Apa maksudmu?”
Suara lain tiba-tiba terdengar dari pintu.
“Artinya, mulai hari ini kamu memang tidak punya hak apa pun atas Laras.”
Citra masuk bersama seorang pria berkacamata membawa map.
Galang membeku.
Aku mengenali pria itu.
Pak Surya, pengacara yang pernah datang ke rumah beberapa tahun lalu.
Citra menyerahkan map kepadaku.
“Laras, ada sesuatu yang seharusnya kamu tahu sejak lama.”
Di dalamnya terdapat dokumen kepemilikan saham dan laporan keuangan.
Aku tidak memahami semuanya.
Tetapi satu angka membuatku terpaku.
Nama perusahaan itu familiar.
Perusahaan keluarga Galang.
“Kenapa namaku ada di sini?”
Pak Surya menjawab dengan tenang.
“Karena setelah kecelakaan, ayah Galang menyerahkan dua belas persen saham perusahaan kepadamu sebagai bentuk kompensasi dan terima kasih karena telah menyelamatkan putranya.”
Aku menatap Galang.
Wajahnya benar-benar pucat.
Pak Surya melanjutkan.
“Dividen dari saham itu selama beberapa tahun terakhir cukup besar. Semua dana disimpan dalam rekening atas nama Anda.”
Tanganku mulai dingin.
“Lalu selama ini biaya hidupku?”
Citra tertawa pahit.
“Dibayar dari uangmu sendiri.”
Aku menatap Galang.
Untuk pertama kalinya, potongan-potongan kecil yang selama ini tidak kupahami tersusun dengan sangat jelas.
Dia tidak menanggungku.
Dia tidak menghidupiku.
Bahkan mungkin selama ini akulah yang secara tidak langsung membantu menopang kehidupannya.
Galang melangkah mendekat.
“Laras, dengarkan aku. Aku bisa menjelaskan.”
Aku mundur.
Gerakan kecil itu membuatnya berhenti.
Aneh.
Dulu aku selalu mengejarnya.
Sekarang justru aku yang menjauh.
Aku membuka ponsel untuk terakhir kalinya.
Di bawah semua catatan tentang Galang, aku mengetik satu kalimat.
Jangan kembali ke tempat yang membuatmu percaya bahwa dirimu tidak berharga.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Lalu menghapus seluruh catatan lama.
Galang menatapku panik.
“Laras.”
Aku memasukkan ponsel ke saku.
“Aku pernah menyelamatkan hidupmu sekali.”
Suaraku bergetar, tetapi aku tetap menatap matanya.
“Mungkin karena itu aku merasa harus terus berada di sisimu.”
Aku tersenyum tipis.
“Tapi sekarang aku ingin menyelamatkan hidupku sendiri.”
Aku berbalik.
Arman berdiri beberapa langkah dariku.
Dia tidak mengulurkan tangan.
Tidak memintaku tinggal.
Tidak mengatakan akan menjagaku.
Dia hanya bertanya,
“Kamu mau ke mana?”
Aku memandang pintu rumah yang terbuka.
Di luar, malam Jakarta masih ramai. Lampu kendaraan bergerak seperti aliran panjang tanpa akhir.
Dulu dunia di luar terasa terlalu besar untukku.
Sekarang masih terasa besar.
Aku masih takut.
Masih ada banyak hal yang tidak kuingat.
Masih ada banyak hal sederhana yang harus kupelajari lagi.
Tetapi untuk pertama kalinya, ketakutan itu tidak membuatku ingin bersembunyi di belakang seseorang.
Aku menarik koperku.
“Entahlah.”
Arman mengangkat alis.
Aku tersenyum.
“Tapi kali ini, aku ingin memilih sendiri.”
Dan malam itu aku akhirnya mengerti sesuatu yang tidak pernah tertulis dalam semua catatan di ponselku.
Orang yang benar-benar menyayangimu tidak akan membuatmu mengecil agar lebih mudah berada di sisinya.
Kadang kehilangan seseorang bukanlah akhir dari hidupmu.
Kadang justru itulah pertama kalinya hidupmu benar-benar kembali menjadi milikmu.
