Suara baling-baling helikopter membelah langit tepat ketika pandanganku mulai mengabur.
Aku masih terikat pada jet ski, tubuhku basah kuyup, dan rasa sakit di perut datang bergelombang semakin kuat. Darah bercampur dengan air laut di bawah kakiku. Beberapa meter di depan, Victoria menghentikan jet skinya dan menatap ke langit dengan wajah pucat.
“Apa-apaan ini?” teriaknya.
Dua kapal cepat melaju dari sisi timur teluk. Dari pengeras suara terdengar perintah tegas agar seluruh kendaraan air berhenti.
Victoria panik. Dia menarik gas.
Kesalahan besar.
Tali yang menghubungkan jet ski kami kembali menegang. Tubuhku tersentak hingga jeritanku pecah.
Tiba-tiba sebuah kapal cepat memotong jalurnya. Dua petugas melompat ke air sementara petugas lain mengarahkan senjata ke Victoria.
“Matikan mesin! Sekarang!”
Victoria akhirnya menyerah.

Seseorang berenang mendekatiku dan memotong tali yang mengikat pergelangan tanganku.
“Bu, bisa dengar saya?”
“Bayi saya…” bisikku.
“Kami akan membawa Anda ke rumah sakit.”
Aku menoleh ke dermaga.
Julian sudah tidak ada.
Dia melarikan diri.
Dua puluh menit kemudian aku berada di dalam helikopter medis. Seorang paramedis memegang tanganku sementara petugas lain memeriksa kondisi janinku.
“Denyut jantung bayi masih ada.”
Aku menangis untuk pertama kalinya.
Bukan karena takut mati.
Karena anakku masih bertahan.
Saat helikopter mendarat di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta beberapa jam setelah aku diterbangkan pulang melalui evakuasi medis darurat, kontraksiku semakin kuat. Dokter mengatakan trauma yang kualami telah memicu persalinan.
Aku hampir tidak mengingat apa pun setelah itu.
Lampu putih.
Suara dokter.
Rasa sakit.
Lalu tangisan kecil memenuhi ruangan.
“Perempuan,” kata dokter. “Putri Anda selamat.”
Air mataku mengalir.
Aku memeluk tubuh mungil itu dan berbisik, “Kita berhasil.”
Namun ketika aku membuka mata keesokan paginya, orang pertama yang kulihat bukan Julian.
Ayah berdiri di dekat jendela.
Laksamana Hector Sterling tidak pernah terlihat tua di mataku. Tetapi pagi itu, untuk pertama kalinya, aku melihat uban di rambutnya dan kelelahan di wajahnya.
Dia mendekat tanpa mengatakan apa-apa.
Kemudian dia memelukku.
“Ayah hampir kehilangan kalian.”
“Aku minta maaf.”
Dia melepaskan pelukannya.
“Untuk apa?”
“Karena selama bertahun-tahun aku menjauh. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa membangun hidup tanpa nama keluarga kita.”
Ayah menatapku lama.
“Mandiri bukan berarti kau harus menghadapi semuanya sendirian.”
Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada ombak mana pun.
“Julian di mana?”
Wajah Ayah berubah.
“Ditahan.”
Aku terdiam.
“Victoria?”
“Sama.”
Ayah kemudian meletakkan sebuah tablet di meja.
“Ada sesuatu yang harus kau lihat.”
Di layar terdapat rekaman kamera keamanan resor.
Rekaman itu memperlihatkan Julian masuk ke ruang staf sebelum kejadian. Dia berbicara dengan seorang pegawai, kemudian menyerahkan sebuah amplop.
Rekaman berikutnya jauh lebih buruk.
Julian dan Victoria berada di gudang penyimpanan jet ski.
Victoria memegang tali pengikat.
Julian memeriksa pengaitnya.
Tidak ada kecelakaan.
Tidak ada lelucon yang kelewatan.
Semuanya direncanakan.
Tanganku menjadi dingin.
“Kenapa?”
Ayah menggeser layar.
Muncul dokumen asuransi.
Nilainya membuatku terpaku.
Dua puluh juta dolar.
Pemegang manfaatnya adalah Julian Vance.
Polis itu dibuat empat bulan sebelumnya.
“Aku tidak pernah menandatangani ini.”
“Kami tahu,” jawab Ayah. “Tanda tanganmu dipalsukan.”
Aku menutup mata.
Jadi bukan hanya perselingkuhan.
Suamiku benar-benar merencanakan kematianku.
Tetapi Ayah belum selesai.
“Perusahaannya juga hampir bangkrut.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Julian memalsukan laporan keuangan selama hampir dua tahun. Utangnya jauh lebih besar daripada yang kau ketahui.”
Dadaku terasa sesak.
Perusahaan yang kubantu selamatkan ternyata kembali berada di ambang kehancuran.
“Dia membutuhkan uang asuransi?”
“Bukan hanya itu.”
Ayah membuka dokumen berikutnya.
Sebuah perjanjian warisan.
Aku langsung mengenali tanda tangan ibuku.
Jika aku meninggal sebelum anakku lahir, sebagian aset tertentu yang selama pernikahan tercatat atas namaku dapat menjadi objek sengketa yang menguntungkan pasangan sah sebelum struktur trust keluarga berlaku penuh untuk anakku.
Aku akhirnya memahami semuanya.
Julian tidak tahu siapa ayahku.
Tetapi entah bagaimana dia telah mengetahui bahwa aku jauh lebih kaya daripada yang selama ini kukatakan.
“Siapa yang memberitahunya?”
Ayah menggeleng.
“Itu yang belum kami ketahui.”
Pintu kamar terbuka.
Ibuku masuk.
Wajahnya pucat.
Dan di belakangnya berdiri seseorang yang membuat darahku seperti berhenti mengalir.
Daniel Hayes.
Kakak Victoria.
Selama bertahun-tahun Daniel menjadi penasihat keuangan Julian.
“Keluar,” kataku.
“Genevieve, dengarkan dulu.”
“Aku bilang keluar.”
Daniel tidak bergerak.
“Aku yang mengirim informasi tentang asetmu kepada Julian.”
Ayah langsung berdiri.
“Berani sekali kau datang ke sini.”
Daniel menelan ludah.
“Aku tidak tahu mereka akan mencoba membunuhnya.”
Aku tertawa getir.
“Lalu apa yang kau pikir akan terjadi?”
“Aku pikir Julian akan menceraikanmu.”
“Kenapa?”
Daniel menatap lantai.
“Victoria terobsesi padanya. Dia yakin Julian hanya bertahan bersamamu karena uang. Aku ingin membuktikan bahwa dia benar.”
Ironisnya, mereka justru membuktikan hal sebaliknya.
Julian tidak pernah mengetahui kekayaanku selama hampir sepuluh tahun pernikahan.
Begitu mengetahuinya, dia mencoba membunuhku.
Aku menatap Daniel.
“Kau akan memberikan semua bukti yang kau punya.”
Dia mengangguk.
“Semua.”
Tiga minggu kemudian, aku meninggalkan rumah sakit bersama putriku, Elena.
Berita penangkapan Julian dan Victoria telah menyebar ke mana-mana.
Para investor menarik diri. Dewan direksi mengadakan rapat darurat. Saham perusahaan Julian jatuh.
Tetapi kehancuran terbesar belum terjadi.
Sebulan setelah kejadian, aku menghadiri rapat pemegang saham luar biasa.
Julian hadir melalui sambungan video dari tahanan sementara.
Ketika wajahku muncul di layar ruang rapat, ekspresinya berubah.
“Genevieve.”
Aku duduk tanpa menjawab.
Pengacaraku menyerahkan dokumen kepada dewan.
Ketua dewan membacanya, lalu menatapku dengan wajah terkejut.
“Apakah ini benar?”
“Benar.”
Julian terlihat kebingungan.
“Apa itu?”
Aku akhirnya menatapnya.
“Sepuluh tahun lalu, ketika perusahaanmu hampir bangkrut, ada investor anonim yang membeli tiga puluh delapan persen saham.”
Wajah Julian perlahan kehilangan warna.
Aku melanjutkan.
“Investor itu aku.”
Ruangan menjadi sunyi.
“Kau bohong.”
“Tidak.”
“Kau tidak punya uang sebanyak itu!”
Aku tersenyum tipis.
“Itulah masalahmu, Julian. Selama sepuluh tahun kau hidup bersamaku, tetapi tidak pernah benar-benar mengenalku.”
Ketua dewan mengumumkan hasil pemungutan suara.
Dengan dukungan pemegang saham lain, Julian dicopot dari seluruh jabatan eksekutif.
Aku tidak mengambil alih perusahaan.
Aku menjual sebagian sahamku dan membentuk dana perlindungan untuk perempuan korban kekerasan domestik serta keluarga yang membutuhkan bantuan hukum.
Julian kehilangan jabatan, reputasi, dan kebebasannya.
Victoria menghadapi dakwaan atas keterlibatannya dalam percobaan pembunuhan.
Daniel menjadi saksi utama dan menyerahkan bukti percakapan mereka.
Kupikir semuanya telah selesai.
Ternyata belum.
Tiga bulan kemudian, aku menerima surat dari Julian.
Aku hampir membuangnya.
Namun satu kalimat membuatku berhenti.
Victoria bukan orang yang merencanakan semuanya.
Aku membaca surat itu sampai selesai.
Julian mengaku bahwa ide awal untuk mencelakakanku memang datang darinya.
Victoria hanya membantu.
Dia merencanakan kejadian di laut agar terlihat seperti kecelakaan akibat aktivitas ekstrem yang kulakukan secara sukarela.
Namun ada satu hal yang bahkan Julian tidak tahu.
Seseorang telah mengirimkan kepadanya salinan dokumen asetku secara anonim.
Bukan Daniel.
Daniel hanya mengonfirmasi sebagian informasi setelah Julian mulai menyelidiki.
Di dalam amplop surat Julian terdapat salinan pesan pertama yang diterimanya.
Aku mengenali nomor pengirimnya.
Tanganku gemetar.
Nomor itu milik sekretaris pribadi ibuku.
Aku langsung pergi menemui Ibu.
Dia tidak menyangkalnya.
“Kenapa?”
Ibu duduk diam di ruang kerjanya.
“Aku ingin menguji Julian.”
Aku merasa mual.
“Menguji?”
“Aku selalu curiga padanya. Jadi aku membiarkan informasi mengenai kekayaanmu bocor sedikit demi sedikit. Aku ingin melihat apakah sikapnya berubah.”
Aku menatap perempuan yang selama hidupku kuanggap selalu bisa mengendalikan segalanya.
“Dan ketika sikapnya berubah?”
“Aku tidak tahu dia akan sejauh itu.”
“Karena Ibu memperlakukan hidupku seperti eksperimen.”
Air mata muncul di matanya.
“Aku ingin melindungimu.”
“Tidak.”
Suaraku tenang.
“Ibu ingin mengendalikan hasilnya.”
Untuk pertama kalinya, ibuku tidak mempunyai jawaban.
Aku meninggalkan rumah itu bersama Elena.
Aku tidak memutus hubungan dengan keluargaku, tetapi aku menetapkan batas yang selama ini tidak pernah kumiliki.
Ayah menghormatinya.
Ibu membutuhkan waktu lebih lama.
Setahun kemudian, aku kembali ke laut.
Bukan ke Cabo.
Aku berdiri di sebuah pantai di Bali saat matahari terbit, menggendong Elena yang sudah mulai belajar berjalan.
Ayah berdiri beberapa langkah di belakang kami.
Dia menunjuk jam tangan di pergelangan tanganku.
“Masih menyimpannya?”
Aku tersenyum.
Jam yang pernah menyelamatkan nyawaku masih berada di sana.
“Selalu.”
Ayah mengangguk.
“Bagus.”
Aku memandang laut.
Dulu aku mengira cinta berarti memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada seseorang.
Aku salah.
Cinta tidak meminta kita menyerahkan naluri, harga diri, atau keselamatan demi membuktikan kepercayaan.
Dan keluarga bukan berarti seseorang berhak mengendalikan hidup kita hanya karena mereka ingin melindungi kita.
Aku menghabiskan bertahun-tahun menyembunyikan siapa diriku untuk mengetahui apakah Julian akan mencintaiku tanpa kekayaan dan nama keluarga.
Pada akhirnya, aku menyadari bahwa pertanyaan itu sendiri salah.
Aku tidak seharusnya menghabiskan hidup untuk menguji apakah seseorang layak mencintaiku.
Aku seharusnya belajar mengenali kapan seseorang sudah berhenti menghargai diriku.
Elena menggenggam jariku.
Aku menunduk.
Dia tertawa melihat ombak kecil menyentuh kakinya.
Tiba-tiba jam tanganku bergetar.
Aku membeku sesaat.
Sebuah pesan masuk dari Ayah.
Aku membukanya.
Hanya ada satu kalimat.
Aku sudah menemukan siapa yang mengubah dosis obatmu malam itu.
Aku menoleh cepat ke arahnya.
Ayah tidak sedang memegang ponsel.
Dia berdiri membelakangiku, berbicara dengan seorang petugas keamanan.
Aku membaca pesan itu lagi.
Kemudian melihat nama pengirimnya.
Bukan Ayah.
Nomor itu hanya menggunakan identitas komunikasinya.
Sebuah foto menyusul.
Foto Julian dan Victoria di resor sebelum kejadian.
Namun di sudut belakang gambar berdiri seseorang yang selama ini tidak pernah disebut dalam penyelidikan.
Perempuan itu sedang menyerahkan sebuah kotak obat kepada Julian.
Aku memperbesar fotonya.
Napas tercekat di tenggorokanku.
Aku mengenal wajah itu.
Dia adalah perawat pribadi yang menemani ibuku selama lebih dari dua puluh tahun.
Di bawah foto terdapat pesan kedua.
Kali ini hanya lima kata.
Tanyakan kepada ibumu tentang Elena.
Aku refleks memeluk putriku lebih erat.
Setahun setelah kupikir semuanya telah berakhir, aku akhirnya memahami satu kenyataan yang jauh lebih mengerikan.
Permainan di laut itu mungkin bukan awal dari rencana mereka.
Dan mungkin juga bukan akhir.
