Suamiku sengaja mengendarai mobil kami ke sungai saat aku dan kakakku masih terjebak di dalam. Namun ketika air sudah mencapai leherku, pria yang selama lima belas tahun dianggap “lumpuh” itu tiba-tiba bangkit dari kursi rodanya, menendang pintu mobil hingga terbuka, lalu berbisik.

“Tiga tahun terakhir, Garrett bukan cuma memberimu susu hangat.”

Suara Tobias terdengar datar, tetapi justru itu yang membuat tengkukku meremang.

Kami masih bersembunyi di celah sempit di bawah dermaga tua. Air sungai menetes dari rambutku, pakaianku menempel dingin pada kulit, dan napasku belum sepenuhnya kembali normal.

“Apa maksudmu?”

Tobias mengeluarkan sebuah kantong plastik kedap air dari balik jaketnya. Dari sana, dia mengambil sebuah botol kecil berwarna gelap.

“Aku menemukan zat ini di kamar kerja Garrett dua bulan lalu.”

Aku menatap botol itu.

“Obat?”

“Antikoagulan dosis rendah, obat penenang, dan senyawa tertentu yang kalau dikonsumsi sedikit demi sedikit bisa membuat fungsi ginjal serta jantungmu menurun.”

Darah di wajahku seperti menghilang.

“Aku sudah memeriksakannya ke laboratorium swasta di Jakarta.”

Aku menelan ludah.

“Kenapa dia memberikannya kepadaku?”

Tobias menatapku lama.

“Supaya kematianmu terlihat alami.”

Aku hampir tidak bisa bernapas.

Selama berbulan-bulan aku memang sering merasa lelah. Jantungku beberapa kali berdebar tanpa sebab. Kepalaku mudah pusing saat berdiri.

Garrett selalu mengatakan aku terlalu sibuk.

Bahkan dialah yang membawaku ke dokter.

Aku baru menyadari sekarang bahwa dokter yang biasa kami datangi adalah teman kuliahnya.

“Berarti dokter itu…”

“Aku belum tahu apakah dia terlibat. Tapi aku tidak mau mengambil risiko.”

Suara mesin mobil terdengar dari kejauhan.

Tobias langsung mematikan senter kecil di tangannya.

Kami terdiam.

Dari sela beton, aku melihat sorot lampu menyapu permukaan sungai.

Garrett.

Dia belum pergi.

Beberapa menit kemudian terdengar suara laki-laki berteriak dari atas.

“Tidak ada yang mungkin selamat!”

Suara lain menjawab.

“Pastikan mobilnya ditemukan dalam keadaan terkunci. Polisi jangan sampai tahu ada kawat di sabuk pengamannya.”

Aku mengenali suara kedua itu.

Darius Hale.

Ayah Garrett.

Lututku hampir lemas.

Tobias menggenggam lenganku.

“Sekarang kau percaya?”

Aku tidak menjawab.

Tak ada lagi yang perlu dipercayai.

Aku sudah mendengarnya sendiri.

Kami menunggu sampai suara mobil menghilang, lalu Tobias membawaku melewati jalur sempit di bawah dermaga menuju sebuah gudang tua di pinggir kawasan industri.

Di sana sudah terparkir sebuah mobil.

Seorang pria berusia sekitar lima puluhan menunggu kami.

“Tobias.”

Dia memeluk kakakku singkat.

Kemudian menatapku.

“Jadi ini Rosalind.”

“Siapa dia?” tanyaku.

“Bram Santoso,” jawab Tobias. “Mantan kepala keamanan perusahaan Ayah.”

Aku mengenali namanya.

Bram diberhentikan beberapa minggu sebelum kecelakaan orang tua kami.

Setidaknya begitulah cerita yang kudengar.

“Aku tidak dipecat,” katanya seolah membaca pikiranku. “Ayah kalian menyuruhku pergi karena beliau tahu ada seseorang di dalam perusahaan yang membocorkan dokumen.”

Kami masuk ke gudang.

Di dalamnya ada beberapa layar komputer, peta, salinan dokumen, dan foto.

Aku merasa seperti memasuki ruangan investigasi.

Di dinding terpampang wajah Garrett.

Penelope.

Darius.

Beberapa direktur perusahaan kami.

Dan satu foto yang membuatku berhenti.

Foto ibuku.

Di sebelahnya ada Penelope ketika masih kecil.

“Apa ini?”

Tidak ada yang langsung menjawab.

Aku menoleh kepada Tobias.

“Apa yang kalian sembunyikan lagi?”

Tobias menarik napas panjang.

“Penelope bukan adik tirimu.”

Aku tertawa kecil karena otakku menolak memahami kalimat itu.

“Tentu saja dia adik tiriku. Ayah mengaku berselingkuh sebelum menikahi Ibu. Penelope adalah anaknya dari perempuan lain.”

“Cerita itu dibuat Ayah untuk melindungi seseorang.”

“Siapa?”

Tobias menunjuk foto ibu kami.

“Penelope adalah anak kandung Ibu.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Dengan siapa?”

Tobias belum sempat menjawab ketika Bram meletakkan sebuah amplop tua di meja.

“Dengan Darius Hale.”

Dunia seolah kehilangan suara.

Aku memegang ujung meja agar tidak jatuh.

“Tidak mungkin.”

“Darius mengenal ibumu sebelum beliau menikah dengan ayahmu,” kata Bram. “Hubungan mereka berakhir buruk. Ketika ibumu mengetahui dirinya hamil, ayahmu memilih menikahinya dan mengakui Penelope sebagai bagian dari keluarga.”

“Tapi kenapa aku tidak pernah tahu?”

“Karena Darius adalah pria berbahaya.”

Bram membuka sebuah dokumen.

“Dia sudah terlibat dalam perusahaan galangan kapal keluargamu sejak muda. Ketika kakek kalian masih hidup, Darius mencoba mengambil alih perusahaan melalui utang palsu dan permainan saham. Dia gagal.”

Tobias melanjutkan, “Kemudian dia mencoba menggunakan Penelope.”

Aku perlahan memahami arah cerita itu.

“Karena Penelope anaknya.”

Tobias mengangguk.

“Kalau garis keturunannya bisa dibuktikan dan kepemilikan perusahaan berpindah kepadamu lalu kau meninggal, Garrett sebagai suamimu bisa mengendalikan sebagian besar aset. Setelah itu mereka tinggal mengatur agar bagian milikku dianggap tidak aktif karena kondisiku.”

Aku menatap kursi roda Tobias yang masih basah di sudut ruangan.

Selama ini kelemahannya justru menjadi perlindungannya.

“Lalu Penelope?”

“Dia dijanjikan posisi dan saham.”

Aku memejamkan mata.

Ingatan tentang Penelope memenuhi kepalaku.

Kami tidak pernah benar-benar dekat, tetapi aku selalu berusaha menjadi kakak yang baik.

Aku membiayai kuliahnya.

Membelikannya apartemen ketika dia pindah ke Jakarta.

Ketika dia mengatakan ingin memulai usaha, akulah yang memberikan modal pertama.

Dan kini dia berdiri di tepi sungai sambil melihatku mati.

“Aku ingin menemui polisi.”

“Belum,” kata Tobias.

Aku membentak, “Garrett baru saja mencoba membunuh kita!”

“Dan jika kita muncul sekarang, dia akan mengatakan kecelakaan itu membuatmu syok.”

“Kita punya bukti.”

“Kita punya potongan bukti. Belum cukup untuk menjatuhkan seluruh jaringan mereka.”

Aku menatapnya marah.

“Jadi apa yang kau mau?”

Tobias mendekat.

“Biarkan mereka percaya kita mati.”

Dua hari kemudian, berita tenggelamnya SUV kami tersebar di seluruh Indonesia.

“Dua Pewaris Perusahaan Galangan Kapal Diduga Tewas dalam Kecelakaan.”

Tubuh kami belum ditemukan.

Pihak keluarga meminta pencarian dilanjutkan.

Garrett muncul di televisi dengan wajah pucat dan mata merah.

Dia bahkan menangis.

“Aku kehilangan istri yang paling kucintai.”

Aku menonton tayangan itu dari rumah aman milik Bram.

Tanganku gemetar memegang remote.

Di sebelah Garrett berdiri Penelope.

Perutnya tersembunyi di balik mantel longgar.

Dia memegang lengan Garrett seolah sedang menghibur seorang duda yang hancur.

Aku ingin memecahkan televisi.

Tobias mengambil remote dari tanganku.

“Marah nanti saja.”

“Bagaimana kau bisa begitu tenang?”

“Karena aku sudah marah selama lima belas tahun.”

Kalimat itu membuatku terdiam.

Baru saat itu aku menyadari sesuatu.

Tobias bukan sekadar bersembunyi.

Dia telah mengorbankan masa mudanya.

Lima belas tahun duduk di kursi roda.

Lima belas tahun membiarkan orang memandangnya dengan kasihan.

Lima belas tahun menahan diri agar pembunuh orang tua kami merasa aman.

“Aku minta maaf,” bisikku.

“Untuk apa?”

“Karena selama ini aku mengira kau sudah menyerah pada hidup.”

Dia tersenyum tipis.

“Justru karena aku ingin tetap hidup, aku harus berpura-pura tidak bisa berdiri.”

Tiga hari setelah “kematian” kami, Garrett mulai bergerak.

Bram berhasil masuk ke sistem internal perusahaan melalui akun lama milik seorang staf.

Garrett meminta rapat darurat dengan dewan direksi.

Dia membawa surat kuasa.

Surat itu menyatakan bahwa jika aku meninggal, kendali atas sahamku untuk sementara berpindah kepadanya sebagai suami.

Tandatanganku terlihat sempurna.

Masalahnya, aku tidak pernah menandatangani dokumen itu.

“Dia memalsukannya,” kataku.

Tobias menggeleng.

“Lihat tanggalnya.”

Aku melihatnya.

Enam bulan lalu.

Tiba-tiba aku teringat.

Suatu malam Garrett membawakan setumpuk dokumen pajak dan mengatakan aku perlu menandatangani beberapa halaman.

Saat itu aku sudah minum susu.

Kepalaku berat.

Pandangan kabur.

Aku menandatangani tanpa membaca.

Perutku mual.

“Dia bahkan tidak perlu memalsukan tanda tanganku.”

“Benar.”

Aku merasa jijik pada diriku sendiri karena begitu mempercayainya.

Namun Tobias berkata, “Jangan salahkan dirimu karena seseorang menggunakan kepercayaan sebagai senjata.”

Dua hari kemudian, sesuatu yang tidak kami perkirakan terjadi.

Penelope mengirim pesan ke nomor lamaku.

Nomor yang diyakini Garrett sudah hilang bersama tubuhku.

Pesannya hanya satu kalimat.

Aku tahu kau masih hidup.

Aku langsung berdiri.

“Tobias!”

Kami melacak asal pesan.

Sebuah rumah sakit swasta di Jakarta.

Aku ingin percaya Penelope sedang menjebak kami.

Tobias berpikir sama.

Namun beberapa menit kemudian masuk foto.

Penelope terbaring di ranjang rumah sakit.

Ada memar di lehernya.

Di bawah foto tertulis:

Garrett tahu bayiku bukan anaknya.

Aku menatap layar.

“Apa?”

Pesan berikutnya masuk.

Aku tidak pernah mencintai Garrett. Aku membantunya karena Darius bilang dia akan memberitahuku siapa ayah kandungku. Setelah aku tahu Darius adalah ayahku, aku ingin mundur. Mereka tidak membiarkanku.

Tobias masih tidak percaya.

“Bisa saja jebakan.”

Kemudian sebuah rekaman suara masuk.

Suara Garrett terdengar jelas.

“Kau pikir aku butuh kau setelah Rosalind mati?”

Lalu suara Penelope.

“Kau berjanji tidak akan menyakitinya.”

“Kau membantu mengganti obatnya.”

“Aku kira hanya obat tidur!”

Disusul suara tamparan.

Aku menutup mulut.

Penelope memang bersalah.

Tetapi rupanya dia tidak mengetahui seluruh rencana.

Kami memutuskan menemuinya.

Dengan bantuan Bram, aku masuk ke rumah sakit melalui area servis.

Ketika Penelope melihatku, dia menangis.

“Aku minta maaf.”

Aku berdiri beberapa meter dari ranjangnya.

“Kalau aku mati, apakah kau tetap akan minta maaf?”

Dia menunduk.

“Aku pantas dibenci.”

“Siapa ayah bayi itu?”

Penelope memegang perutnya.

“Bukan Garrett.”

“Lalu siapa?”

“Adrian.”

Aku mengenal nama itu.

Adrian adalah auditor internal perusahaan yang hilang enam bulan lalu.

Semua orang mengira dia kabur membawa uang perusahaan.

Penelope mulai menangis.

“Dia tidak kabur. Dia menemukan transaksi ilegal Darius. Garrett mengetahuinya.”

“Di mana Adrian?”

Penelope menatap kami.

“Darius membunuhnya.”

Ruangan itu sunyi.

Kemudian Penelope mengeluarkan flashdisk kecil dari balik bantal.

“Adrian memberikannya kepadaku sehari sebelum dia hilang.”

Di dalamnya terdapat bukti transfer ilegal, pemalsuan dokumen, dan yang paling penting, rekaman percakapan Darius lima belas tahun lalu.

Rekaman itu membahas sabotase rem mobil orang tua kami.

Tobias sampai harus duduk.

Untuk pertama kalinya sejak kami keluar dari sungai, aku melihat kakakku kehilangan ketenangannya.

“Kita punya mereka,” katanya.

Seminggu kemudian, dewan direksi mengadakan rapat untuk mengesahkan Garrett sebagai pengendali sementara perusahaan.

Darius hadir.

Para pengacara hadir.

Media menunggu di luar.

Garrett berdiri di ujung meja dengan setelan hitam.

“Mulai hari ini, saya akan melanjutkan warisan istri saya.”

Pintu ruang rapat terbuka.

Aku masuk.

Wajah Garrett berubah putih.

Beberapa orang berteriak kaget.

Penelope masuk di belakangku.

Kemudian Tobias.

Namun Tobias tidak menggunakan kursi roda.

Dia berjalan.

Darius bangkit begitu cepat hingga kursinya terjatuh.

“Kau…”

Tobias tersenyum.

“Sudah lama, Om Darius.”

Garrett mundur.

“Rosalind… aku bisa menjelaskan.”

Aku meletakkan dokumen di atas meja.

“Jelaskan kepada polisi.”

Pintu lain terbuka.

Penyidik kepolisian masuk bersama petugas.

Garrett mencoba kabur.

Bram sudah menunggu di luar.

Dalam beberapa menit, semuanya berakhir.

Atau setidaknya aku mengira begitu.

Ketika polisi memborgol Darius, dia tiba-tiba menatapku dan tertawa.

“Kalian masih belum tahu, ya?”

Aku berhenti.

“Tahu apa?”

Dia menatap Tobias.

“Kecelakaan lima belas tahun lalu memang aku rencanakan.”

Tobias mengepalkan tangan.

“Tapi targetku bukan orang tua kalian.”

Semua orang terdiam.

Darius menunjuk Tobias.

“Targetku adalah kau.”

Aku membeku.

Darius tertawa pelan.

“Karena ayahmu sudah memutuskan bahwa setelah dewasa, Tobias akan menerima saham pengendali. Selama dia hidup, aku tidak akan pernah bisa mengambil perusahaan.”

Aku menatap kakakku.

Wajah Tobias pucat.

Ayah kami tidak pernah memberitahu kami soal itu.

Darius melanjutkan, “Aku hanya tidak menyangka kedua orang tua kalian memilih membelokkan mobil ke pembatas untuk melindungi Tobias.”

Aku merasa air mata mengalir.

Selama lima belas tahun Tobias mengira dia selamat dari kecelakaan yang membunuh orang tua kami.

Padahal orang tua kami sengaja mengorbankan diri agar dia hidup.

Dua bulan setelah penangkapan, Garrett dan Darius didakwa atas percobaan pembunuhan, konspirasi, pemalsuan dokumen, serta sejumlah kejahatan finansial.

Penelope bersaksi melawan mereka.

Hukumannya lebih ringan karena bekerja sama dalam penyelidikan.

Aku tidak langsung memaafkannya.

Mungkin suatu hari nanti aku bisa.

Mungkin juga tidak.

Tetapi aku belajar bahwa memaafkan dan mempercayai kembali adalah dua hal yang berbeda.

Tobias akhirnya meninggalkan kursi rodanya untuk selamanya.

Hari pertama dia masuk kembali ke kantor dengan berjalan kaki, seluruh ruangan terdiam.

Beberapa karyawan menangis.

Aku berdiri di sebelahnya.

“Aneh?” tanyaku.

“Sedikit.”

“Setelah lima belas tahun?”

Dia tersenyum.

“Rasanya seperti akhirnya hidup sebagai diriku sendiri.”

Beberapa bulan kemudian, kami menjual rumah tempat aku pernah tinggal bersama Garrett.

Aku bahkan tidak membawa satu pun barang darinya.

Kecuali sebuah gelas kecil.

Gelas yang dulu selalu digunakannya untuk memberiku susu.

Aku menyimpannya di ruang kerja.

Bukan sebagai kenangan tentang Garrett.

Tetapi sebagai pengingat.

Bahwa racun paling berbahaya dalam hidup tidak selalu terasa pahit.

Kadang-kadang ia datang dengan rasa hangat, kata-kata lembut, dan tangan seseorang yang kita percaya sepenuhnya.

Dan orang yang terlihat paling lemah belum tentu benar-benar tidak berdaya.

Kadang-kadang, orang yang selama ini duduk diam di sudut ruanganlah yang sebenarnya sedang menunggu saat yang tepat untuk berdiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang