Suamiku mengusirku ke tengah badai saat aku sedang hamil enam bulan. Selingkuhannya menertawakanku. Ibunya bahkan meludah tepat ke wajahku dan berkata bahwa sejak awal aku memang tidak pernah pantas menjadi bagian dari keluarga mereka.

Hujan belum juga mereda ketika James Bennett berdiri di depan Ryan Mitchell dengan wajah yang nyaris tanpa ekspresi.

“Jadi, kaulah pria yang baru saja mengusir putriku dan cucuku dari rumah mereka sendiri?”

Ryan membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Beberapa menit sebelumnya, dia masih berdiri tegak dengan keyakinan bahwa dirinya memegang kendali. Rumah itu atas namanya, Samantha berdiri di sisinya, dan ibunya mendukung setiap keputusan yang dia buat.

Sekarang semuanya berubah.

James Bennett berdiri hanya beberapa langkah di depannya.

Di belakang James, dua pengacara turun dari SUV kedua. Seorang perempuan berjas abu-abu membawa map kulit tebal. Seorang pria berkacamata di sebelahnya memegang tablet.

Ryan menelan ludah.

“Mr. Bennett, ini sebenarnya masalah rumah tangga. Saya rasa kita bisa membicarakannya baik-baik.”

James menatapnya lama.

“Masalah rumah tangga?”

Tatapannya bergeser ke arah koper Olivia yang terbuka di atas jalan basah.

Pakaian hamil berserakan di genangan air.

Kemudian matanya berpindah ke Patricia.

“Apakah meludahi perempuan hamil juga bagian dari cara keluarga kalian menyelesaikan masalah rumah tangga?”

Wajah Patricia memucat.

“Saya… saya tidak tahu siapa dia.”

Olivia yang berdiri di samping ayahnya akhirnya tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Melainkan karena kalimat itu terdengar begitu ironis.

Tiga tahun.

Selama tiga tahun Patricia tidak pernah benar-benar ingin tahu siapa Olivia.

Dia hanya ingin tahu apakah Olivia cukup kaya, cukup bergengsi, cukup berguna untuk keluarga Mitchell.

Ketika jawabannya menurut mereka tidak, Olivia langsung diperlakukan seperti beban.

James berbalik kepada putrinya.

“Kau terluka?”

Olivia menggeleng.

“Tidak.”

“Bayinya?”

“Aku baik-baik saja.”

James memandang wajah putrinya beberapa detik lebih lama.

Olivia mengenal tatapan itu.

Ayahnya sedang menahan amarah.

James bukan tipe pria yang berteriak ketika marah. Dia justru menjadi lebih tenang.

Dan itu jauh lebih menakutkan.

Pengacara perempuan tadi melangkah mendekat.

“Miss Bennett.”

Olivia mengangguk.

“Claire.”

Ryan langsung menoleh.

“Miss Bennett?”

Claire membuka map.

“Olivia masih menggunakan nama Bennett dalam seluruh dokumen bisnis dan aset pribadinya.”

Ryan tertawa gugup.

“Aset pribadi?”

Claire menatapnya.

“Ya.”

Lalu dia melihat rumah besar dua lantai di belakang Ryan.

“Termasuk rumah ini.”

Semua orang terdiam.

Ryan mengerutkan kening.

“Apa maksud Anda?”

Claire membalik beberapa halaman.

“Properti ini dibeli tiga tahun lalu melalui Bennett Residential Trust.”

Ryan menggeleng cepat.

“Tidak. Saya membeli rumah ini.”

“Anda tinggal di sini,” jawab Claire tenang. “Itu berbeda.”

Samantha perlahan melepaskan tangannya dari lengan Ryan.

Claire melanjutkan.

“Uang muka, biaya renovasi, pajak properti tahun pertama, dan sebagian besar cicilan awal berasal dari trust milik Olivia.”

Ryan menatap Olivia.

“Kau bohong.”

Olivia menatap balik tanpa berkedip.

“Aku tidak pernah bilang rumah ini milikmu.”

“Kau membiarkanku percaya begitu.”

“Aku membiarkanmu merasa menjadi kepala keluarga.”

Nada suara Olivia tetap tenang.

“Karena waktu itu kupikir harga dirimu lebih penting daripada uang.”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada teriakan.

Ryan memalingkan muka.

James memberi isyarat kepada salah satu staf keamanan.

“Ambil barang-barang Olivia dari dalam.”

Ryan segera maju.

“Tidak ada yang masuk ke rumah saya.”

James menatapnya.

“Rumah putriku.”

Ryan berhenti.

Samantha yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.

“Ryan, kau bilang rumah ini atas namamu.”

Ryan menoleh tajam.

“Diam.”

Samantha mundur selangkah.

Untuk pertama kalinya Olivia melihat sesuatu yang berbeda di wajah perempuan itu.

Bukan kesombongan.

Ketakutan.

Claire kembali membuka dokumen.

“Dan ada satu hal lagi.”

Ryan menutup mata sebentar, seolah berharap semuanya berhenti.

Claire berbicara tanpa emosi.

“Perusahaan tempat Anda bekerja, Mitchell Capital Advisory, menerima pendanaan ekspansi dari Bennett Ventures dua tahun lalu.”

Ryan langsung menatap James.

Ekspresinya berubah total.

“Tidak mungkin.”

James akhirnya tersenyum tipis.

“Sekarang kau mulai mengenali namaku?”

Ryan menjadi semakin pucat.

Perusahaan tempatnya bekerja bukan miliknya. Dia hanya direktur regional yang selama bertahun-tahun berusaha mendapatkan posisi partner.

Sebagian besar keberhasilannya dalam dua tahun terakhir berasal dari proyek-proyek baru yang masuk secara misterius.

Ryan selalu menganggap itu hasil kerja kerasnya.

Kini dia mulai memahami sesuatu yang jauh lebih buruk.

James tidak pernah membantu Ryan secara langsung.

Olivia yang melakukannya.

Diam-diam.

Karena dia ingin suaminya berhasil tanpa merasa hidup di bawah bayang-bayang keluarga Bennett.

Ryan menatap Olivia.

“Kau yang melakukan itu?”

Olivia tidak langsung menjawab.

Samantha menatap Ryan dengan tidak percaya.

“Jadi semua yang kau bilang tentang membangun karier dari nol…”

“Bukan sekarang, Samantha.”

“Ryan, kau bilang kau akan jadi partner akhir tahun ini.”

Claire menutup map.

“Tidak lagi.”

Ryan membeku.

“Apa?”

Claire menatap tablet.

“Dewan direksi mengadakan rapat darurat sekitar tujuh menit lalu.”

James tidak mengatakan apa-apa.

Claire melanjutkan.

“Investigasi internal akan dilakukan terkait penggunaan dana perusahaan untuk kepentingan pribadi, termasuk perjalanan ke New York.”

Samantha langsung menoleh kepada Ryan.

Ryan mulai panik.

“Itu perjalanan bisnis.”

Claire mengangkat alis.

“Hotel selama empat malam untuk dua orang. Restoran. Spa. Perhiasan.”

Wajah Samantha berubah.

Olivia juga terkejut.

Dia tahu Ryan selingkuh.

Tetapi dia tidak tahu pengkhianatan itu dibayar dengan uang perusahaan.

Ryan segera berusaha menjelaskan.

“Samantha adalah konsultan proyek.”

Samantha tertawa pendek.

“Jangan bawa aku ke dalam kebohonganmu.”

“Kau juga menikmati semuanya.”

“Karena kau bilang kau membayarnya sendiri.”

Pertengkaran kecil itu justru memperjelas satu hal.

Hubungan Ryan dan Samantha tidak dibangun atas cinta.

Sama seperti pernikahannya dengan Olivia.

Semua berputar di sekitar status, uang, dan keuntungan.

Patricia tiba-tiba mendekati James.

“Mr. Bennett, mohon dengarkan saya.”

James menatapnya dingin.

“Kami benar-benar tidak tahu Olivia adalah putri Anda.”

Olivia menahan napas.

Di antara semua kalimat yang bisa diucapkan Patricia, itulah yang paling menyakitkan.

Bukan permintaan maaf.

Bukan penyesalan karena mempermalukannya.

Melainkan penyesalan karena salah memilih korban.

James rupanya memikirkan hal yang sama.

“Jadi kalau putriku bukan Olivia Bennett, tindakan kalian malam ini bisa dibenarkan?”

Patricia terdiam.

Hujan terdengar semakin keras.

Tak seorang pun menjawab.

Olivia memandang perempuan yang selama tiga tahun dipanggilnya Ibu.

Tiba-tiba semua luka yang pernah ia simpan terasa jauh lebih jelas.

Komentar tentang pakaian murahnya.

Sindiran tentang keluarganya.

Ucapan bahwa Ryan seharusnya menikah dengan perempuan yang bisa meningkatkan status keluarga.

Olivia melangkah maju.

“Bu Patricia.”

Perempuan itu menatapnya.

“Selama tiga tahun saya berusaha membuat Ibu menyukai saya.”

Patricia mulai menangis.

“Olivia, saya benar-benar—”

“Tapi sekarang saya sadar.”

Olivia menyentuh perutnya.

“Saya tidak pernah menjadi masalah. Masalahnya adalah Ibu hanya menghormati orang yang Ibu anggap lebih kuat.”

Patricia menunduk.

Ryan mendekati Olivia.

“Liv.”

Olivia menatapnya.

Sudah lama Ryan tidak memanggilnya begitu.

“Kita bisa memperbaiki ini.”

Olivia hampir tidak percaya.

“Memperbaiki?”

“Aku melakukan kesalahan.”

“Kau mengusir istrimu yang sedang hamil ke tengah badai karena perempuan lain.”

Ryan menatap Samantha sebentar.

“Itu tidak sesederhana itu.”

Olivia tersenyum tipis.

“Benar. Lebih buruk.”

Ryan menarik napas.

“Aku marah. Aku kehilangan kendali.”

“Tidak.”

Olivia menggeleng.

“Kau justru sangat sadar.”

Ryan terdiam.

“Kau mengemasi barangku.”

“Kau melempar koperku keluar.”

“Kau membiarkan ibumu meludahiku.”

“Kau berdiri di samping perempuan yang kau pilih menggantikanku.”

Suara Olivia sedikit bergetar, tetapi bukan karena lemah.

“Jangan hina aku lagi dengan menyebut semua itu kehilangan kendali.”

Ryan terlihat seperti ingin menangis.

“Bagaimana dengan bayi kita?”

Olivia menatapnya lama.

Itulah pertanyaan yang sejak tadi paling ia takutkan.

Salah satu tangannya bergerak ke perutnya.

“Anak ini tetap anakmu secara biologis.”

Ryan tampak lega.

“Tapi menjadi ayah bukan sekadar soal biologis.”

Rasa lega itu langsung hilang.

“Pengacara akan mengurus semuanya.”

Ryan menatap James.

“Kalian mau mengambil anakku?”

James tidak menjawab.

Olivia yang menjawab.

“Tidak ada yang mengambil siapa pun. Pengadilan akan menentukan hakmu.”

Ryan terlihat semakin putus asa.

Tiba-tiba suara sirene terdengar dari kejauhan.

Dua mobil polisi memasuki kompleks.

Ryan menoleh panik.

“Apa lagi sekarang?”

Claire menjawab.

“Salah satu tetangga melaporkan keributan.”

Ryan memandang Samantha.

Lalu ibunya.

Lalu Olivia.

Polisi turun dari kendaraan.

Seorang petugas perempuan berjalan mendekati mereka.

“Siapa Olivia Mitchell?”

Olivia mengangkat tangan.

“Saya.”

“Kami menerima laporan bahwa Anda diusir dari tempat tinggal dalam kondisi hamil dan terjadi tindakan penghinaan fisik.”

Patricia buru-buru berkata, “Saya tidak memukulnya.”

Petugas itu menatap Patricia.

“Tidak ada yang bilang Anda memukulnya.”

Patricia langsung diam.

Olivia memandang ke rumah seberang.

Di balik jendela, seorang perempuan tua yang selama ini sering menyapanya di pagi hari berdiri sambil memegang telepon.

Olivia baru menyadari sesuatu.

Ia tidak benar-benar sendirian malam itu.

Selama ini ia hanya terlalu sibuk mempertahankan orang-orang yang tidak pernah benar-benar mempertahankannya.

Beberapa menit kemudian barang-barang Olivia sudah dimasukkan ke dalam salah satu SUV.

James berdiri di dekat pintu kendaraan.

“Kita pergi.”

Olivia mengangguk.

Ryan mengejarnya.

“Olivia.”

Ia berhenti.

Ryan berdiri beberapa meter di belakangnya, basah kuyup.

Samantha sudah menjauh darinya.

Patricia duduk di anak tangga teras sambil menangis.

Untuk pertama kalinya Ryan tampak seperti pria biasa.

Bukan suami dominan.

Bukan eksekutif ambisius.

Bukan kepala keluarga.

Hanya seseorang yang baru menyadari bahwa ia menghancurkan sesuatu yang tidak bisa dibeli kembali.

“Apa kau pernah benar-benar mencintaiku?” tanyanya.

Olivia memejamkan mata sejenak.

Pertanyaan itu seharusnya datang bertahun-tahun lalu.

Ia menoleh.

“Ya.”

Ryan terlihat terkejut.

Olivia melanjutkan.

“Itulah sebabnya aku tidak pernah mengatakan siapa ayahku.”

“Aku ingin tahu apakah kau mencintaiku saat aku tidak punya apa-apa untuk kau ambil.”

Ryan menunduk.

“Dan sekarang aku sudah tahu jawabannya.”

Olivia masuk ke SUV.

Pintu tertutup.

Mobil mulai bergerak meninggalkan rumah.

Olivia menatap keluar jendela.

Rumah itu semakin kecil di belakangnya.

Anehnya, ia tidak menangis.

Dua minggu kemudian, Ryan resmi diberhentikan dari perusahaannya setelah audit menemukan pengeluaran fiktif dan penggunaan kartu perusahaan untuk kebutuhan pribadi.

Samantha meninggalkannya bahkan sebelum penyelidikan selesai.

Patricia menjual beberapa barang mewahnya untuk membayar pengacara putranya.

Namun kejutan terbesar baru muncul tiga bulan kemudian.

Olivia sedang duduk di taman rumah ayahnya ketika Claire datang membawa sebuah amplop.

“Surat pengadilan?”

Olivia bertanya.

Claire menggeleng.

“Bukan.”

Ia menyerahkan amplop itu.

Di dalamnya terdapat salinan dokumen lama yang ditemukan selama penelusuran aset pernikahan.

Olivia membaca nama di bagian bawah halaman.

Ia terdiam.

Ryan Mitchell.

Tetapi dokumen itu bertanggal empat tahun sebelum mereka menikah.

Olivia membaca perlahan.

Ryan ternyata pernah mengajukan proposal investasi kepada Bennett Global Holdings.

Permohonan itu ditolak.

Di dalam berkas terdapat catatan internal.

Pemohon terlalu agresif, memiliki kecenderungan memanipulasi data, dan terlalu berorientasi pada akses terhadap jaringan keluarga investor.

Olivia menatap Claire.

“Ayah tahu?”

Claire mengangguk.

“Sejak sebelum kalian menikah.”

Olivia terkejut.

“Lalu kenapa Ayah tidak memberitahuku?”

Suara James terdengar dari belakang.

“Karena kau tidak akan percaya.”

Olivia menoleh.

Ayahnya berdiri di ambang pintu.

James berjalan mendekat.

“Ayah bisa menghentikan pernikahan itu dengan uang dan pengaruh.”

Ia duduk di samping putrinya.

“Tapi kalau Ayah melakukan itu, suatu hari kau akan tetap percaya Ryan adalah cinta dalam hidupmu yang dirampas oleh keluarga sendiri.”

Mata Olivia mulai basah.

“Jadi Ayah membiarkanku melakukan kesalahan?”

James menggeleng.

“Ayah membiarkanmu membuat pilihan.”

Ia menatap perut Olivia yang kini semakin besar.

“Dan Ayah memastikan kalau pilihan itu menghancurkanmu, kau masih punya jalan pulang.”

Untuk pertama kalinya sejak malam badai itu, Olivia menangis.

Bukan karena Ryan.

Bukan karena Patricia.

Bukan karena tiga tahun penghinaan.

Ia menangis karena akhirnya memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah ia pahami.

Kekuatan ayahnya bukan pada mobil hitam, perusahaan besar, atau orang-orang yang takut menyebut namanya.

Kekuatan terbesar James Bennett adalah ia tidak pernah menggunakan semua itu untuk memaksa putrinya hidup sesuai kehendaknya.

Ia hanya memastikan Olivia tidak kehilangan dirinya sendiri.

Empat bulan kemudian, Olivia melahirkan seorang bayi perempuan.

Ia memberinya nama Eleanor.

Nama mendiang ibunya.

Ryan melihat putrinya untuk pertama kali di rumah sakit dengan pengawasan pengacara.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada dendam.

Ketika Ryan menggendong bayi itu, ia menangis.

Olivia hanya menatap dari tempat tidur.

Mungkin suatu hari Ryan akan berubah.

Mungkin tidak.

Tetapi Olivia tidak lagi membangun hidupnya berdasarkan kemungkinan seseorang berubah.

Sebelum meninggalkan kamar, James berdiri di dekat pintu.

Ryan menatapnya.

“Saya menghancurkan hidup saya sendiri, ya?”

James menggeleng perlahan.

“Tidak.”

Ryan terlihat bingung.

James memandang Olivia dan cucunya.

“Kau hanya kehilangan kehidupan yang tidak pernah kau hargai.”

Lalu ia pergi.

Olivia menatap putrinya yang tertidur.

Dulu ia berpikir malam ketika Ryan mengusirnya adalah malam terburuk dalam hidupnya.

Bertahun-tahun kemudian, ia akhirnya menyadari bahwa itu bukan malam ketika ia kehilangan keluarga.

Itu adalah malam ketika ia berhenti memohon untuk diterima oleh orang-orang yang tidak pernah pantas menentukan nilai dirinya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang