Ella menatapku cukup lama sebelum akhirnya membuka mulut.
“Olivia bilang kalau kami takut, kami harus datang ke rumah ini.”
Aku merasa udara pegunungan mendadak berhenti bergerak.
“Apa?”
Emma segera menyentuh lengan saudarinya, seperti sedang memperingatkan agar jangan bicara terlalu banyak.
Tapi Ella sudah terlanjur menatapku.

“Olivia,” ulangnya pelan. “Dia bilang rumah ini aman.”
Aku berdiri terlalu cepat sampai kepalaku sedikit berkunang-kunang.
“Dari mana kalian kenal Olivia?”
Kedua anak itu diam.
Aku menatap wajah mereka satu per satu, berharap menemukan tanda bahwa ini hanya salah paham. Mungkin ada Olivia lain. Mungkin nama itu kebetulan sama.
Namun naluriku mengatakan bukan itu jawabannya.
Olivia bukan nama yang biasa disebut orang asing di tempat terpencil seperti ini.
Terlebih lagi, tidak ada alasan dua anak kecil yang tampaknya sudah berhari-hari hidup tanpa pengawasan bisa tahu bahwa rumah ini pernah menjadi tempat paling aman bagi istriku.
Aku mengambil ponsel dari saku.
“Aku harus menelepon seseorang.”
Begitu layar menyala, Emma langsung mundur satu langkah.
“Jangan polisi.”
Aku membeku.
“Kenapa?”
Wajah kecilnya berubah tegang.
“Kalau polisi datang, dia akan tahu.”
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Ella mulai menangis tanpa suara.
Aku mematikan layar ponsel.
“Oke. Aku tidak akan menelepon siapa pun sekarang.”
Aku tidak yakin itu keputusan yang benar. Tapi aku yakin satu hal, jika aku memaksa, mereka mungkin akan lari ke hutan.
Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi.
“Kalian sudah berapa lama di sini?”
Emma mengangkat dua jari.
“Dua hari?”
Ia menggeleng.
“Dua malam.”
Aku merasakan sesuatu mencengkeram dadaku.
“Dan kalian makan apa?”
Emma menunjukkan rotinya.
“Cuma itu?”
Sekali lagi, ia mengangguk.
Aku langsung membuka pintu rumah.
“Masuk.”
Kedua gadis itu tidak bergerak.
Aku mencoba tersenyum.
“Aku punya makanan. Air hangat juga.”
Mereka saling berpandangan.
Lalu Ella bertanya sesuatu yang aneh.
“Di dalam masih ada piano?”
Aku menatapnya.
Jantungku berdetak lebih cepat.
Olivia memang punya piano kecil di ruang tamu.
Kami membelinya di Asheville karena dia bersikeras rumah pegunungan tanpa musik terasa seperti gereja tanpa lonceng.
Aku tidak pernah menceritakan hal itu kepada siapa pun.
“Bagaimana kamu tahu?”
Ella menggigit bibir bawahnya.
“Olivia pernah bilang.”
Aku membiarkan mereka masuk.
Rumah itu berbau debu, kayu tua, dan kenangan yang terlalu lama dikunci.
Emma dan Ella berjalan pelan di belakangku.
Begitu melihat piano di sudut ruang tamu, Ella berhenti.
Matanya membesar.
“Masih ada.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Aku menyalakan pemanas, mengambil selimut dari lemari, lalu membuat sup kalengan, roti panggang, dan cokelat panas.
Saat kuletakkan makanan di meja, mereka makan seolah takut seseorang akan mengambilnya kembali.
Namun mereka tetap menyisakan potongan roti basi yang tadi mereka genggam.
Aku menunjuk roti itu.
“Kalian masih mau menyimpannya?”
Emma mengangguk.
“Untuk Ibu.”
Aku tidak bertanya lagi.
Setelah mereka makan, aku menemukan pakaian lama milik keponakanku yang pernah tertinggal di sana beberapa tahun sebelumnya. Ukurannya sedikit kebesaran, tetapi cukup.
Aku menyuruh mereka mandi satu per satu.
Saat Emma masuk ke kamar mandi, Ella duduk di sofa, membungkus tubuhnya dengan selimut.
Aku duduk di kursi seberangnya.
“Ella.”
Ia menatapku.
“Aku perlu tahu bagaimana kalian mengenal Olivia.”
Ia terdiam cukup lama.
“Dia teman Ibu.”
Aku menelan ludah.
“Kapan?”
“Dulu.”
“Dulu kapan?”
Ella menunduk.
“Aku enggak tahu.”
“Apakah Olivia datang menemui kalian?”
Ia menggeleng.
“Ibu yang sering lihat fotonya.”
“Foto?”
Ella mengangguk.
“Ibu punya foto Olivia.”
Sebelum aku sempat bertanya lagi, Emma keluar dari kamar mandi dan langsung memotong pembicaraan.
“Jangan bilang.”
Nada suaranya tajam.
Ella menunduk.
Aku memandang Emma.
“Aku cuma ingin membantu.”
“Kata orang dewasa selalu begitu.”
Kalimat itu terasa seperti tamparan.
Malam semakin larut.
Aku menidurkan mereka di kamar tamu, lalu duduk sendirian di depan perapian.
Aku seharusnya menelepon sheriff.
Seharusnya.
Tapi nama Olivia membuat semuanya terasa berbeda.
Aku mengambil laptop dan membuka arsip lama.
Email.
Dokumen.
Foto.
Apa pun yang mungkin menghubungkan istriku dengan seseorang yang punya anak kembar.
Aku mencari selama hampir dua jam.
Tidak ada Emma.
Tidak ada Ella.
Tidak ada catatan tentang anak kembar.
Lalu aku teringat sesuatu.
Olivia pernah mempunyai akun email lama yang tidak pernah dia hapus. Aku masih punya kata sandinya karena dulu kami menggunakannya untuk akun bersama rumah ini.
Aku login.
Sebagian besar isinya tidak penting.
Tagihan lama.
Pemesanan hotel.
Resep.
Undangan.
Lalu aku melihat satu folder yang tidak pernah kukenal.
Namanya hanya satu kata.
Maya.
Tanganku berhenti di touchpad.
Aku membuka folder itu.
Ada puluhan email.
Sebagian besar sudah lebih dari lima tahun.
Pengirimnya seorang perempuan bernama Maya Reed.
Aku mulai membaca.
Semakin lama membaca, semakin dingin tubuhku.
Maya adalah perawat anak yang pernah bekerja bersama Olivia saat istriku masih menjadi konsultan untuk sebuah yayasan kesehatan.
Dalam email-email itu, Maya bercerita tentang hubungan yang penuh kekerasan dengan seorang pria bernama Daniel Mercer.
Ia ingin pergi.
Ia takut.
Lalu muncul email tentang kehamilan.
Kembar.
Emma dan Ella.
Aku menutup mulut dengan tangan.
Olivia tahu tentang mereka.
Bukan sekadar tahu.
Ia membantu Maya kabur.
Ada transfer uang.
Alamat rumah singgah.
Kontak pengacara.
Bahkan ada satu email yang membuatku harus membacanya dua kali.
Jika suatu hari sesuatu terjadi padaku, aku akan mengirim anak-anak ke rumah pegununganmu. Kau pernah bilang tempat itu selalu terbuka untuk orang yang benar-benar membutuhkan tempat aman.
Email itu dikirim dua bulan sebelum Olivia meninggal.
Balasannya singkat.
Selalu.
Aku memejamkan mata.
Tiga tahun lalu, aku kehilangan Olivia karena kecelakaan mobil.
Dan selama tiga tahun itu, sebagian hidup istriku tetap tersembunyi dariku.
Bukan karena ia ingin berbohong.
Mungkin karena ia melindungi seseorang.
Tiba-tiba terdengar suara lantai berderit.
Aku menoleh.
Emma berdiri di lorong.
“Kamu baca email Ibu?”
Aku terdiam.
“Ya.”
Wajahnya berubah.
“Kamu enggak boleh.”
“Emma, dengarkan aku. Aku sekarang tahu sedikit tentang ibumu. Aku tahu Olivia membantunya.”
Mata anak itu memerah.
“Kalau begitu kamu tahu kenapa kami ke sini.”
“Belum.”
Ia menarik napas.
“Ibu hilang.”
Aku berdiri.
“Kapan?”
“Tiga hari lalu.”
“Bagaimana?”
Emma menelan ludah.
“Kami tinggal sama Ibu di motel dekat Boone. Malam itu Ibu bilang kalau dia harus ketemu seseorang. Dia bilang kalau dia enggak balik sampai pagi, kami harus ambil tas merah di lemari dan pergi ke rumah Olivia.”
“Siapa yang ditemui ibumu?”
Emma menggeleng.
“Dia enggak bilang.”
“Bagaimana kalian sampai ke sini?”
“Bus. Terus jalan.”
Aku hampir tidak bisa bernapas.
Dua anak sembilan tahun bepergian sendiri dari Boone ke gunung.
“Kenapa kalian tidak cari bantuan?”
“Karena dia cari kami.”
“Daniel?”
Emma langsung pucat.
Aku sudah mendapat jawabannya.
Keesokan paginya, aku akhirnya menelepon Sheriff County.
Namun aku melakukannya dengan hati-hati.
Aku menceritakan semuanya, termasuk nama Daniel Mercer.
Sheriff yang datang bernama Paul Harris, pria berusia sekitar lima puluh tahun dengan wajah lelah tetapi suara tenang.
Begitu melihat anak-anak, ia tidak memaksa mereka bicara.
Ia duduk di lantai.
Itu membuatku sedikit percaya padanya.
Setelah mendengar cerita kami, ia meminta izin memeriksa tas yang dibawa Emma.
Di dalamnya ada pakaian, beberapa dolar, obat asma, dan sebuah amplop tertutup.
Nama di depan amplop itu ditulis tangan.
Untuk Ethan Brooks.
Aku merasakan darahku turun ke kaki.
Emma menatapku.
“Ibu bilang cuma kasih kalau kami ketemu kamu.”
Tanganku gemetar ketika membuka amplop.
Tulisan Maya memenuhi dua halaman.
Ethan,
Kau mungkin tidak mengenalku, tetapi aku mengenalmu dari cerita Olivia.
Jika Emma dan Ella sampai kepadamu, berarti aku gagal menjaga mereka sendirian.
Daniel menemukan kami.
Aku yakin ia mengikuti rekening bank lama dan mulai menghubungi orang-orang dari masa lalu. Aku tidak tahu siapa yang masih bisa dipercaya.
Olivia dulu mengatakan bahwa kalau sesuatu terjadi padanya, kau akan tetap melakukan hal yang benar bahkan saat kau marah.
Aku harap dia benar.
Ada satu hal yang harus kau tahu.
Kecelakaan Olivia mungkin bukan kecelakaan.
Aku berhenti membaca.
Paul berdiri.
“Apa?”
Aku menyerahkan surat itu.
Bagian berikutnya membuat ruangan seolah berputar.
Menurut Maya, beberapa minggu sebelum kematiannya, Olivia menemukan bahwa Daniel terlibat dalam skema pencucian uang melalui yayasan kesehatan tempat mereka pernah bekerja.
Olivia menyimpan salinan dokumen.
Ia berniat menyerahkannya kepada penyelidik federal.
Sebelum sempat melakukannya, mobilnya keluar dari jalan pada malam hujan.
Polisi menyimpulkan kecelakaan.
Aku percaya itu selama tiga tahun.
Hingga sekarang.
Paul langsung menghubungi departemennya.
Dalam hitungan jam, rumah dipenuhi penyidik.
Mereka mencari dokumen yang disebutkan Maya.
Masalahnya, aku tidak tahu di mana Olivia menyimpannya.
Lalu Ella tiba-tiba berkata,
“Di piano.”
Semua orang menoleh.
Ella menunjuk bangku piano.
“Olivia bilang ke Ibu, kalau sesuatu terjadi, musik akan menjaga rahasianya.”
Aku membuka bangku itu.
Kosong.
Aku hampir kecewa ketika Emma berjongkok dan menyentuh bagian bawahnya.
“Ada sesuatu.”
Kami membalik bangku.
Di balik lapisan kain tua terdapat papan tipis yang bisa digeser.
Di dalamnya ada flash drive kecil.
Paul menatapku.
“Ini mungkin yang kita cari.”
Ternyata memang benar.
Flash drive itu berisi catatan keuangan, nama perusahaan fiktif, transfer bank, dan rekaman percakapan.
Salah satu nama muncul berulang kali.
Daniel Mercer.
Tapi ada nama lain yang membuatku merasa lebih hancur daripada sebelumnya.
Richard Brooks.
Ayahku.
Aku tidak percaya.
Ayahku sudah pensiun dari firma hukum keluarga bertahun-tahun lalu.
Aku selalu menganggapnya keras, manipulatif, tetapi bukan kriminal.
Namun dokumen menunjukkan ia membantu membuat perusahaan cangkang yang digunakan Daniel.
Mungkin itulah sebabnya Olivia tidak pernah mengatakan apa pun kepadaku.
Ia sedang menyelidiki keluargaku sendiri.
Dua hari kemudian, Daniel ditangkap di Tennessee.
Maya ditemukan hidup di sebuah gudang sewaan di luar Asheville.
Ia terluka, dehidrasi, tetapi selamat.
Daniel rupanya menahannya untuk memaksa Maya mengungkap lokasi anak-anak dan salinan bukti yang tersisa.
Ayahku juga ditangkap tiga minggu kemudian.
Aku tidak pernah pergi menemuinya.
Banyak orang bilang seharusnya aku meminta penjelasan.
Aku tidak membutuhkannya.
Beberapa jawaban hanya membuat luka semakin dalam.
Enam bulan kemudian, Maya dan kedua putrinya kembali ke rumah pegunungan.
Kali ini bukan untuk bersembunyi.
Maya berdiri di beranda sambil menangis ketika melihat lonceng angin Olivia.
“Aku tidak pernah sempat mengucapkan terima kasih kepadanya,” katanya.
Aku memandang padang rumput.
“Aku juga ternyata tidak pernah benar-benar mengenalnya sepenuhnya.”
Maya tersenyum tipis.
“Mungkin kita memang enggak pernah mengenal seseorang sepenuhnya.”
Emma dan Ella berlari melewati kami menuju halaman.
Mereka tidak lagi membawa roti basi.
Tidak lagi berjalan sambil melihat ke belakang.
Mereka tertawa.
Suara mereka memenuhi tempat yang selama bertahun-tahun hanya menyimpan kesedihan.
Aku datang ke rumah itu untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Olivia.
Aku pikir dengan kembali ke sana, aku akan menutup satu bab kehidupan.
Ternyata aku salah.
Rumah itu justru membuka bagian terakhir dari hidupnya yang tidak pernah kuketahui.
Dan yang paling aneh, untuk pertama kalinya sejak kematiannya, aku tidak merasa Olivia telah meninggalkanku.
Aku merasa dia masih melakukan apa yang selalu dia lakukan.
Menolong seseorang.
Membuka pintu.
Menyalakan cahaya di tempat gelap.
Beberapa bulan kemudian, aku memutuskan tidak menjual rumah itu.
Aku memperbaiki berandanya.
Mengganti atap.
Menanam kembali blackberry di sisi jalan setapak.
Lalu, atas usul Maya, kami mengubah sebagian rumah menjadi tempat singgah sementara bagi perempuan dan anak-anak yang melarikan diri dari kekerasan rumah tangga.
Kami menamainya Olivia House.
Pada hari papan nama dipasang, Ella berdiri di sampingku.
“Ethan?”
“Ya?”
“Menurutmu Olivia tahu kami bakal datang?”
Aku tersenyum kecil.
“Aku enggak tahu.”
Ella memandang lonceng angin yang bergerak pelan diterpa angin.
Lalu ia berkata,
“Aku rasa dia tahu.”
Saat itu lonceng berbunyi sekali.
Hanya sekali.
Mungkin itu cuma angin.
Aku tahu itu.
Tetapi untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku tidak merasa perlu mencari penjelasan lain.
Karena kadang-kadang, hidup tidak mengembalikan apa yang sudah kita kehilangan.
Ia hanya membawa sesuatu yang baru ke depan pintu kita.
Sesuatu yang tidak kita minta.
Sesuatu yang sama sekali tidak kita duga.
Dan jika kita cukup berani untuk membukakan pintu, mungkin di sanalah proses penyembuhan benar-benar dimulai.
