Jam menunjukkan pukul 08.20 WIB ketika Nadia Indrawan melangkah melintasi lapangan utama Universitas Nusantara Jaya Jakarta.
Empat puluh menit lagi, namanya akan diumumkan secara resmi sebagai rektor termuda dalam sejarah universitas itu. Namun pagi tersebut Nadia sengaja datang sendirian, tanpa ajudan, sekretaris, ataupun rombongan Dewan Wali Amanat.
Ia ingin melihat kampus yang akan dipimpinnya dari sudut pandang orang yang tidak memiliki jabatan.
Ternyata, bahkan sebelum memasuki gedung rektorat, Nadia sudah mendapatkan jawabannya.
Di dekat perpustakaan, seorang mahasiswi berkacamata desainer berdiri menghalangi jalannya.
Namanya Sisca Pratama.
Usianya dua puluh tujuh tahun dan hampir semua orang di kampus mengenalnya. Bukan karena prestasi akademik, melainkan karena ia keponakan Wakil Rektor Darmawan Pratama dan berasal dari keluarga pengusaha besar yang baru menjanjikan hibah Rp30 miliar untuk pembangunan gedung inovasi.

Tatapan Sisca berhenti pada gaun putih elegan yang dikenakan Nadia.
“Lepaskan gaun itu.”
Nadia mengernyit.
“Maaf?”
“Saya tidak suka ada orang lain memakai pakaian yang sama dengan saya.”
Beberapa teman Sisca tertawa.
Memang, dari kejauhan kedua gaun itu tampak mirip. Namun Nadia mengenali setiap detail gaunnya. Gaun tersebut merupakan salah satu dari dua prototipe terakhir karya Amalia Kartika, desainer senior yang telah pensiun.
“Barang eksklusif tidak bisa disamakan dengan tiruan,” jawab Nadia tenang.
Wajah Sisca langsung berubah.
“Kamu bilang gaun saya palsu?”
“Jahitan pinggangnya berbeda. Motif bordir bagian bahu juga terbalik.”
Bisikan terdengar di antara mahasiswa yang lewat.
Sisca merasa dipermalukan.
Ketika Nadia mengeluarkan ponsel untuk menghubungi sekretarisnya, Sisca menepis tangannya.
Ponsel itu jatuh menghantam lantai.
Belum sempat Nadia mengambilnya, tumit sepatu Sisca menginjak layar ponsel tersebut.
Sekali.
Dua kali.
Sampai layar benar-benar mati.
“Nanti saya ganti,” katanya enteng. “Sekarang lepaskan gaunmu.”
Nadia tidak meninggikan suara.
“Kamu akan mengganti ponsel itu. Setelah itu, kamu akan menjelaskan tindakanmu kepada petugas keamanan.”
Sisca terkekeh.
“Paman saya Wakil Rektor.”
Lima menit kemudian Kepala Keamanan Kampus, Budi Santoso, datang bersama dua petugas.
Namun Budi tidak bertanya kepada Nadia.
Tidak memeriksa CCTV.
Tidak pula meminta keterangan saksi.
“Nona Sisca bilang Anda masuk tanpa identitas.”
“Saya memang tidak punya kartu mahasiswa.”
“Kalau begitu ikut kami.”
“Sebelum itu, amankan rekaman CCTV di sekitar perpustakaan.”
Budi menatapnya dari atas ke bawah.
“Tidak perlu. Nona Sisca tidak mungkin membuat laporan palsu.”
Jawaban itu justru membuat Nadia semakin tenang.
Malam sebelumnya, seseorang mengirimkan dokumen anonim ke email pribadinya.
Isinya ratusan halaman.
Penggelembungan anggaran.
Penerima beasiswa fiktif.
Pembayaran kepada perusahaan konstruksi yang alamat kantornya ternyata rumah kosong.
Dan satu nama muncul berkali-kali.
Darmawan Pratama.
Nadia belum tahu siapa pengirimnya.
Namun pagi itu ia mulai memahami mengapa seseorang begitu takut melapor melalui jalur resmi.
Sisca mengeluarkan uang tunai dari dompet dan melemparkannya ke dada Nadia.
“Ambil. Buat beli HP baru.”
Uang berhamburan di lantai.
Nadia tidak bergerak.
“Ambil kembali uangmu.”
Senyum Sisca menghilang.
Tak lama kemudian sebuah mobil dinas hitam berhenti.
Darmawan turun.
Pria berusia lima puluh enam tahun itu berjalan dengan wajah kesal. Ia belum pernah bertemu langsung dengan Nadia karena berhalangan hadir dalam rapat daring pengenalan rektor baru dua minggu sebelumnya.
“Siapa yang membuat keributan?”
“Saya bukan pembuat keributan,” jawab Nadia. “Saya datang untuk menjalankan tugas.”
Darmawan tertawa.
“Mahasiswi baru sekarang pintar bicara.”
Sisca mengambil kopi dingin milik temannya lalu menyiramkannya ke dada Nadia.
Cairan cokelat membasahi gaun putih itu.
“Sekarang pakaian kita sudah tidak sama lagi.”
Nadia melihat noda di gaunnya.
“Nilai taksiran gaun ini Rp4,8 miliar.”
Sisca tertawa semakin keras.
“Kalau gaun itu empat miliar, tas saya seratus miliar.”
Kemudian ia menarik bagian bahu gaun Nadia.
Kainnya robek.
Nadia langsung menampar pipinya.
Suara tamparan membuat suasana membeku.
Dua petugas keamanan meraih tangan Nadia. Saat berusaha menjaga keseimbangan, sikunya menghantam sudut etalase kaca.
Kulitnya tergores.
“Berlutut!” teriak Sisca sambil memegang pipinya. “Minta maaf!”
Nadia menatapnya tanpa berkedip.
Sisca mengambil kaleng cat merah dari proyek mural di dekat mereka.
Sebelum siapa pun bereaksi, cat itu disiramkan ke tubuh Nadia.
Rambut, wajah, gaun, dan sepatu Nadia penuh warna merah.
Seorang teman Sisca mengarahkan ponselnya.
Siaran langsung dimulai.
“Lihat penipu yang sok kaya ini!”
Dua petugas keamanan menekan bahu Nadia.
Namun sebelum lututnya menyentuh tanah, tiga mobil hitam memasuki lapangan.
Mobil pertama berhenti hanya beberapa meter dari kerumunan.
Pintunya terbuka.
Seorang perempuan berusia sekitar enam puluh tahun turun dengan blazer krem sederhana. Rambutnya disanggul rapi. Tidak ada perhiasan mencolok kecuali jam tangan tua di pergelangan kirinya.
Saat melihat Nadia berlumuran cat, wajahnya pucat.
“Nadia!”
Semua kepala berbalik.
Darmawan membeku.
Ia mengenal perempuan itu.
Semua pimpinan universitas mengenalnya.
Ratih Kusuma Indrawan.
Ketua Dewan Wali Amanat Universitas Nusantara Jaya.
Sekaligus salah satu pendiri yayasan pendidikan yang menaungi universitas tersebut.
Dan ibu kandung Nadia.
Ratih berjalan cepat mendekati putrinya.
“Apa yang kalian lakukan?”
Untuk pertama kalinya sejak datang, Budi terlihat ketakutan.
“Bu Ratih, ini salah paham.”
Ratih menatap kedua petugas yang masih memegang Nadia.
“Lepaskan tangan kalian.”
Mereka langsung melepaskannya.
Sisca menatap Nadia, kemudian Ratih.
Wajahnya kehilangan warna.
“Ibu mengenal dia?”
Ratih menoleh.
“Mengenal?”
Ia mengeluarkan saputangan lalu membersihkan cat di wajah putrinya.
“Dia anak saya.”
Kerumunan mahasiswa langsung gaduh.
Darmawan berusaha tersenyum.
“Bu Ratih, rupanya ini putri Ibu. Kalau begitu kami semua benar-benar salah paham.”
Namun Ratih belum selesai.
“Dan dalam tiga puluh menit, perempuan yang baru saja kalian paksa berlutut ini akan dilantik menjadi Rektor Universitas Nusantara Jaya.”
Suasana seketika sunyi.
Sisca seperti kehilangan kemampuan bicara.
Budi menatap Nadia dengan mata terbelalak.
Darmawan mundur satu langkah.
Nadia membungkuk mengambil ponselnya yang hancur.
Kemudian ia meletakkannya di telapak tangan Sisca.
“Sekarang kamu tahu siapa saya.”
Sisca menelan ludah.
“Aku… saya benar-benar tidak tahu.”
“Itulah masalahnya.”
Nadia menatap lurus ke matanya.
“Kamu menganggap boleh menghina seseorang selama orang itu tidak memiliki jabatan.”
Tak ada yang menjawab.
Darmawan buru-buru mendekat.
“Bu Rektor, mari kita selesaikan masalah ini secara internal. Sisca masih muda.”
Nadia menatapnya.
“Usianya dua puluh tujuh tahun.”
Darmawan terdiam.
“Itu cukup tua untuk memahami konsekuensi.”
Ratih meminta staf membuka jalan menuju gedung rektorat.
Namun Nadia tidak langsung pergi.
Ia menunjuk kamera CCTV.
“Simpan seluruh rekaman mulai pukul delapan pagi. Jangan ada satu detik pun dihapus.”
Kemudian ia menatap Budi.
“Anda dinonaktifkan sementara mulai sekarang.”
“Bu…”
“Anda menyalahgunakan kewenangan keamanan. Tugas Anda melindungi seluruh warga kampus, bukan melindungi kerabat pejabat.”
Budi menunduk.
Nadia lalu berbalik kepada para mahasiswa.
“Tolong kirim semua rekaman kejadian ini ke sekretariat rektorat. Tidak perlu diedit. Saya ingin rekaman lengkap.”
Salah satu mahasiswa mengangkat tangan.
“Bu, live-nya sudah ditonton hampir delapan puluh ribu orang.”
Sisca semakin pucat.
Darmawan berbisik kepada keponakannya, “Matikan semuanya.”
Tetapi sudah terlambat.
Pukul 09.00 tepat, aula utama dipenuhi dosen, mahasiswa, Dewan Wali Amanat, dan tamu undangan.
Mereka menunggu rektor baru.
Pintu aula terbuka.
Semua orang berdiri.
Nadia masuk.
Bukan dengan gaun putih mewahnya.
Ia telah mengganti pakaian dengan setelan hitam sederhana yang disediakan staf protokol.
Namun luka kecil di sikunya masih terlihat.
Begitu nama Nadia disebut, sejumlah orang yang telah melihat siaran langsung langsung saling berbisik.
Darmawan duduk di barisan pimpinan dengan wajah tegang.
Setelah prosesi pengambilan sumpah selesai, Nadia berdiri di podium.
Pidato yang telah dipersiapkannya semalaman masih tersimpan di laptop.
Namun ia tidak membacanya.
“Pagi ini, empat puluh menit sebelum saya dilantik, saya belajar lebih banyak tentang universitas ini daripada yang bisa saya pelajari dari seratus laporan.”
Ruangan sunyi.
“Saya melihat seorang mahasiswa merasa kekayaan keluarganya dapat membeli perlakuan khusus.”
Sisca yang duduk di belakang menunduk.
“Saya melihat petugas keamanan memilih percaya kepada seseorang berdasarkan status sosial.”
Budi yang menunggu di luar aula mendengar pidato melalui pengeras suara.
“Dan saya melihat bagaimana jabatan seseorang dapat membuat orang lain takut mengatakan kebenaran.”
Darmawan menggenggam sandaran kursi.
Nadia kemudian menatap seluruh hadirin.
“Karena itu, keputusan pertama saya sebagai rektor adalah membentuk tim audit independen terhadap anggaran universitas selama lima tahun terakhir.”
Wajah Darmawan berubah.
“Semua pengadaan, dana hibah, beasiswa, dan proyek pembangunan akan diperiksa.”
Darmawan langsung berdiri.
“Bu Rektor, keputusan sebesar itu seharusnya dibahas dalam rapat pimpinan.”
Nadia tersenyum tipis.
“Sudah.”
Pintu samping aula terbuka.
Tiga auditor independen masuk bersama dua orang dari kantor hukum yayasan.
Salah seorang membawa beberapa kotak dokumen.
“Saya mendapatkan cukup banyak bahan tadi malam.”
Darmawan pucat.
Nadia melanjutkan.
“Dan ada satu hal lagi.”
Layar besar di belakang panggung menyala.
Muncul daftar transaksi.
Perusahaan PT Cakrawala Edukasi Mandiri menerima pembayaran Rp18,7 miliar untuk pembangunan laboratorium digital.
Padahal laboratorium itu belum pernah dibangun.
Direktur perusahaan tersebut tercatat bernama Rudi Pratama.
Adik kandung Darmawan.
Ruangan langsung gaduh.
Darmawan berdiri.
“Itu fitnah!”
“Silakan jelaskan kepada auditor.”
“Dokumen ini ilegal!”
“Tidak.”
Suara seorang pria terdengar dari belakang aula.
Seorang dosen berusia sekitar empat puluh tahun berdiri.
Nadia mengenalinya dari berkas kepegawaian.
Namanya Arif Rahman, Kepala Unit Audit Internal.
“Saya yang mengirim dokumen itu.”
Darmawan menatapnya seolah ingin menerkam.
“Kamu?”
Arif berjalan ke depan.
“Tiga tahun saya melaporkan ke pimpinan. Tiga tahun laporan saya dihentikan sebelum sampai ke Dewan Wali Amanat.”
Ia kemudian mengeluarkan sebuah flashdisk.
“Saya menyimpan salinan setiap transaksi.”
Darmawan langsung memerintahkan staf keamanan.
“Ambil dia!”
Tidak seorang pun bergerak.
Nadia menatap Darmawan.
“Anda tidak lagi memiliki kewenangan memberikan perintah.”
Ratih berdiri dari kursinya.
“Mulai pukul sembilan lewat dua puluh menit hari ini, Dewan Wali Amanat menonaktifkan Saudara Darmawan dari jabatan Wakil Rektor sampai pemeriksaan selesai.”
Tepuk tangan spontan terdengar dari bagian belakang aula.
Darmawan memandang sekeliling.
Orang-orang yang selama bertahun-tahun selalu tersenyum kepadanya kini menghindari tatapannya.
Sisca menangis.
“Paman…”
Darmawan berjalan keluar tanpa berbicara lagi.
Namun kejutan terbesar muncul tiga hari kemudian.
Audit menemukan sesuatu yang tidak diduga Nadia.
Dana hibah Rp30 miliar yang selalu dibanggakan keluarga Sisca ternyata belum pernah masuk ke rekening universitas.
Surat komitmen hibah itu digunakan Darmawan untuk menekan panitia pengadaan agar menunjuk perusahaan tertentu.
Lebih mengejutkan lagi, keluarga Sisca tidak mengetahui hal tersebut.
Ayah Sisca, Surya Pratama, datang sendiri menemui Nadia.
“Saya memang pernah berbicara soal hibah,” katanya. “Tetapi saya tidak pernah menjanjikan tiga puluh miliar. Darmawan memakai nama keluarga kami.”
Sisca duduk di samping ayahnya tanpa kacamata mahal dan tanpa sikap angkuh.
Untuk pertama kalinya Nadia melihat seorang perempuan yang terlihat jauh lebih muda daripada sosok arogan di lapangan.
“Saya minta maaf,” katanya pelan.
Nadia tidak langsung menjawab.
Sisca melanjutkan.
“Saya terbiasa semua orang membiarkan saya melakukan apa pun karena mereka takut pada Paman. Lama-lama saya kira itu berarti saya memang lebih penting daripada mereka.”
Nadia menatapnya.
“Permintaan maaf tidak menghapus tindakan.”
“Saya tahu.”
“Kamu merusak barang orang lain, melakukan penghinaan di depan umum, dan ikut mendorong petugas keamanan bertindak sewenang-wenang.”
Sisca menunduk.
“Saya siap dikeluarkan.”
Namun Nadia menggeleng.
“Saya tidak ingin menghukum seseorang hanya untuk mempertontonkan kekuasaan.”
Sisca mengangkat kepala.
“Anda tetap akan menjalani sidang etik mahasiswa. Selain itu, selama satu semester kamu diwajibkan mengikuti program pelayanan sosial kampus dan membantu pusat bantuan mahasiswa.”
Sisca tampak terkejut.
“Kenapa tidak langsung mengeluarkan saya?”
“Karena universitas seharusnya menjadi tempat orang belajar berubah, bukan sekadar tempat orang dihukum.”
Enam bulan berlalu.
Darmawan akhirnya ditetapkan sebagai tersangka setelah audit menemukan kerugian puluhan miliar rupiah. Budi diberhentikan setelah penyelidikan membuktikan ia beberapa kali menutup laporan pelanggaran mahasiswa berpengaruh.
Sistem keamanan kampus dirombak.
Saluran pengaduan anonim dibentuk.
Laporan beasiswa diumumkan secara transparan.
Dan untuk pertama kalinya, seluruh mahasiswa dapat melihat penggunaan dana universitas melalui portal daring.
Suatu pagi, Nadia kembali berjalan melewati lokasi tempat semuanya bermula.
Di depan perpustakaan ia melihat Sisca sedang membantu seorang mahasiswi baru yang kesulitan membawa tumpukan buku.
Sisca mengenakan kaus sederhana dan celana jeans.
Tidak ada tas bermerek.
Tidak ada rombongan teman.
Ketika melihat Nadia, Sisca tersenyum kecil.
“Selamat pagi, Bu Rektor.”
“Selamat pagi.”
Nadia hendak melanjutkan langkah ketika Sisca memanggilnya.
“Bu Nadia.”
Nadia menoleh.
“Saya baru sadar sesuatu.”
“Apa?”
“Waktu itu saya pikir masalah terbesar saya adalah ada orang memakai gaun yang mirip dengan saya.”
Sisca tertawa kecil, malu pada dirinya sendiri.
“Padahal sebenarnya saya takut kalau ternyata tanpa nama keluarga saya, saya bukan siapa-siapa.”
Nadia diam sesaat.
Kemudian ia menjawab.
“Semua orang memang bukan siapa-siapa kalau hanya hidup dari nama orang lain.”
Sisca mengangguk.
Nadia berjalan pergi.
Di ruang rektor beberapa menit kemudian, sekretarisnya meletakkan sebuah kotak panjang di atas meja.
“Ada kiriman untuk Ibu.”
Nadia membukanya.
Di dalamnya terdapat gaun putih yang pagi itu pernah dirobek dan disiram cat.
Kini gaun tersebut telah diperbaiki dengan sempurna.
Di sampingnya terdapat sebuah surat tulisan tangan.
Nadia membaca nama pengirimnya.
Amalia Kartika.
Perancang gaun itu sendiri.
Nadia membuka suratnya.
Amalia ternyata melihat video kejadian yang viral.
Ia meminta gaun itu dikirim kepadanya untuk direstorasi.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Bekas robekan di bahu tidak ditutup sepenuhnya.
Amalia justru menyulam garis berwarna merah di atasnya.
Di bagian bawah surat, hanya ada satu kalimat.
Sesuatu yang pernah rusak tidak selalu harus dibuat seolah-olah tidak pernah rusak. Kadang bekasnya justru mengingatkan kita mengapa kita harus berubah.
Nadia menyentuh sulaman merah tersebut.
Kemudian ia berdiri di depan jendela ruang rektor.
Di bawah sana, ribuan mahasiswa berjalan menuju kelas mereka.
Hari itu ia akhirnya memahami mengapa pagi pelantikannya harus dimulai dengan penghinaan.
Karena seandainya ia datang menggunakan mobil dinas, dikawal petugas, dan disambut karpet merah, mungkin semua orang akan memperlakukannya dengan sempurna.
Dan ia tidak akan pernah mengetahui bagaimana kampus tersebut memperlakukan orang yang dianggap tidak memiliki kekuasaan.
Bagi Nadia, itulah ujian pertama seorang pemimpin.
Bukan bagaimana orang memperlakukan kita ketika mereka mengetahui jabatan kita.
Melainkan bagaimana sebuah sistem memperlakukan seseorang ketika mereka mengira orang itu bukan siapa-siapa.
