SAYA PULANG DARI RUMAH SAKIT JAM 6 SORE DAN MENEMUKAN MEREKA BERSULANG CANGKIR DI PONDOK INDAH! SAAT ANANNYA BERSIMBAH AIR MATA MEMELUK PERUTNYA, MERCEDES BERKATA: “BAYI ITU HANYA BEBAN!”

Pukul enam sore, Rahma menghentikan mobil tuanya beberapa meter dari gerbang rumah keluarga Hartono di Pondok Indah.

Hujan sudah berhenti, tetapi langit Jakarta masih kelabu. Jalanan basah memantulkan cahaya lampu dari rumah tiga lantai yang malam itu tampak seperti hotel mewah.

Mobil-mobil mahal berjejer di halaman. Musik terdengar dari taman belakang. Para tamu berdatangan mengenakan gaun dan jas terbaik mereka.

Tak seorang pun di sana tampak seperti keluarga yang baru beberapa jam sebelumnya meninggalkan seorang wanita hamil dalam keadaan sekarat di pinggir jalan.

Rahma mematikan mesin.

Jeriken berisi bahan bakar masih berada di bagasi.

Tangannya menggenggam kunci mobil begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih.

Bayangan Maya terus berputar di kepalanya.

Wajah bengkak putrinya.

Selang oksigen.

Suara dokter yang mengatakan detak jantung bayi semakin lemah.

Rahma membuka pintu mobil.

Namun sebelum kakinya menyentuh aspal, ponselnya berdering.

Dokter dari rumah sakit.

Jantungnya seperti berhenti.

“Bu Rahma, kondisi Maya menurun. Kami mungkin harus melakukan tindakan darurat. Mohon Ibu tetap bisa dihubungi.”

“Bayinya?”

Dokter terdiam sesaat.

“Kami sedang berusaha menyelamatkan keduanya.”

Rahma menutup mata.

Ketika telepon berakhir, tangannya bergerak menuju tombol pembuka bagasi.

Lalu ia berhenti.

Delapan belas tahun bekerja di bidang keselamatan proyek mengajarkannya satu hal penting.

Kemarahan bisa menghancurkan dalam beberapa menit apa yang dibangun seseorang sepanjang hidupnya.

Jika ia masuk ke rumah itu membawa bahan bakar, keluarga Hartono mungkin akan hancur.

Tetapi Rahma juga akan hancur.

Dan jika Maya selamat, putrinya akan terbangun tanpa seorang ibu di sisinya.

Rahma menutup kembali bagasi.

“Bukan begini caranya,” gumamnya.

Ia kemudian berjalan menuju gerbang.

Petugas keamanan mencoba menghentikannya.

“Undangannya, Bu?”

“Saya ibunya Maya.”

Wajah petugas itu berubah.

Rupanya nama Maya sudah diperintahkan untuk tidak boleh masuk.

“Maaf, Bu. Saya tidak bisa membiarkan Ibu masuk.”

Rahma menatap kamera CCTV di atas gerbang.

“Kamera itu merekam dua puluh empat jam?”

Petugas terdiam.

Pertanyaan sederhana itu membuatnya gugup.

Rahma langsung mengerti.

“Siapa yang menyuruh kalian menghapus rekaman semalam?”

Wajah pria itu pucat.

“Saya tidak tahu maksud Ibu.”

Rahma tidak memaksanya. Ia mengeluarkan ponsel dan memotret wajah petugas, kamera, serta posisi gerbang.

Kemudian ia menelepon polisi yang menangani kasus Maya.

“Saya berada di rumah Hartono. Saya menduga ada rekaman CCTV yang berkaitan dengan kendaraan yang membawa Maya tadi malam. Tolong amankan sebelum dihapus.”

Belum sempat Rahma pergi, sebuah Mercedes hitam masuk melalui gerbang.

Jendelanya terbuka.

Di kursi belakang duduk Sofia Hartono.

Tatapan mereka bertemu.

Sofia meminta sopir berhenti.

“Rahma?”

Perempuan itu turun dengan gaun mahal berwarna gelap. Tidak ada sedikit pun rasa bersalah di wajahnya.

“Kamu seharusnya berada di rumah sakit menemani anakmu.”

Rahma menatapnya.

“Kamu tahu Maya di rumah sakit?”

Sofia tersenyum tipis.

“Berita buruk cepat menyebar.”

“Kamu tahu dia hamil lima bulan ketika kalian membuangnya?”

Sofia mendekat dan berbisik agar para tamu tidak mendengar.

“Jaga mulutmu. Kamu tidak punya bukti.”

Rahma tidak menjawab.

Ponsel di dalam tasnya sedang merekam.

Sofia melanjutkan dengan nada merendahkan.

“Anakmu sendiri yang membuat masalah. Sejak masuk keluarga kami, dia hanya membawa beban. Sekarang bahkan bayi itu menjadi beban tambahan.”

Rahma menatap perempuan di depannya tanpa berkedip.

“Apa katamu?”

Sofia tersenyum.

“Bayi itu hanya beban.”

Kali ini Rahma justru mundur satu langkah.

Bukan karena takut.

Ia sudah mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berguna daripada kemarahan.

Pengakuan tentang kebencian Sofia terhadap Maya dan kandungannya.

Rahma berbalik meninggalkan gerbang.

Sofia tertawa kecil di belakangnya.

“Kamu memang tahu diri.”

Rahma tidak menoleh.

“Besok kamu akan tahu siapa yang sebenarnya harus tahu diri.”

Satu jam kemudian, Rahma kembali ke rumah sakit.

Maya sedang menjalani operasi.

Rahma duduk sendirian di lorong sambil membuka seluruh isi ponsel Maya yang berhasil dipulihkan sebagian oleh tim digital kepolisian.

Di antara foto-foto yang rusak, polisi menemukan sesuatu.

Sebuah rekaman suara otomatis.

Maya ternyata mengaktifkan aplikasi keamanan pribadi beberapa bulan sebelumnya setelah Rendy pernah mengancamnya.

Aplikasi itu otomatis merekam ketika Maya menekan tombol daya lima kali.

Rekaman malam kejadian berlangsung sebelas menit tiga puluh delapan detik.

Suara pertama adalah Sofia.

“Kamu merusak nampan keluarga kami dan masih berani membantah?”

Kemudian terdengar suara Maya.

“Aku tidak merusaknya. Goresan itu sudah ada sejak kemarin.”

Suara benda jatuh.

Maya menangis.

Kemudian suara Rendy terdengar sangat jelas.

“Sudah cukup, Ma. Kalau dia tetap di sini, pesta besok bisa kacau.”

Maya memohon.

“Aku bisa pergi sendiri. Jangan sentuh aku. Tolong, aku sedang hamil.”

Lalu suara Sofia.

“Bawa dia keluar.”

Beberapa menit terakhir jauh lebih mengerikan.

Suara pintu mobil.

Tangisan Maya.

Suara Rendy berkata, “Taruh saja di tempat yang jauh dari kamera.”

Rahma mendengarkan sampai selesai.

Tangannya gemetar.

Polisi yang duduk di sampingnya berkata, “Dengan rekaman ini, keterangan korban, barang bukti, dan kemungkinan rekaman CCTV, kasusnya berubah total.”

Rahma hanya bertanya satu hal.

“Kapan kalian menangkap mereka?”

“Malam ini.”

Tetapi Rahma punya permintaan.

“Tunggu sampai saya memberi kabar.”

Polisi menatapnya curiga.

Rahma menjelaskan rencananya.

Malam dana keluarga Hartono dihadiri puluhan pengusaha, pejabat perusahaan, mitra bisnis, dan wartawan gaya hidup.

Selama bertahun-tahun, Sofia membangun citra keluarganya sebagai keluarga dermawan.

Malam itu mereka bahkan menggalang dana untuk program kesehatan ibu dan anak.

Ironi yang membuat Rahma nyaris muak.

Pukul sembilan malam, Rahma kembali ke Pondok Indah.

Kali ini polisi berada tidak jauh di belakangnya.

Di taman belakang, Sofia berdiri di panggung sambil mengangkat gelas.

Rendy berada di sebelahnya.

“Keluarga adalah fondasi masyarakat,” kata Sofia kepada para tamu. “Dan setiap ibu berhak mendapatkan perlindungan.”

Tepuk tangan terdengar.

Saat itulah Rahma berjalan masuk.

Beberapa kepala menoleh.

Sofia langsung kehilangan senyumnya.

“Siapa yang membiarkan perempuan ini masuk?”

Rahma terus berjalan sampai berada di depan panggung.

Rendy turun dengan wajah tegang.

“Ibu, jangan membuat keributan.”

Rahma menatap laki-laki yang tiga tahun dipanggilnya anak.

“Di mana istrimu, Rendy?”

Para tamu mulai saling berbisik.

“Dia sedang beristirahat,” jawab Rendy.

Rahma tersenyum pahit.

“Beristirahat?”

Ia mengangkat ponselnya.

“Kalau begitu mari kita dengarkan bagaimana kamu mengantarnya beristirahat.”

Rekaman diputar melalui pengeras suara yang sebelumnya sudah dihubungkan polisi dengan sistem audio acara.

Suara Maya memenuhi taman.

“Aku sedang hamil. Tolong jangan pukul aku lagi.”

Semua orang membeku.

Wajah Rendy berubah pucat.

Kemudian terdengar suaranya sendiri.

“Taruh saja di tempat yang jauh dari kamera.”

Seorang perempuan menjatuhkan gelas.

Sofia berlari menuju meja audio.

“Matikan! Itu rekaman palsu!”

Namun polisi sudah masuk dari beberapa sisi.

Dua petugas menghampiri Rendy.

Rendy mundur.

“Ini fitnah! Istri saya mengalami kecelakaan!”

Rahma mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

Anting emas yang patah.

“Polisi menemukannya bersama Maya.”

Lalu seorang petugas lain masuk membawa seorang pria.

Petugas keamanan rumah Hartono yang tadi sore berbicara dengan Rahma.

Pria itu menunduk.

“Saya ingin memberikan keterangan.”

Sofia menatapnya tajam.

“Diam!”

Namun pria itu justru semakin yakin.

“Saya melihat Pak Rendy memasukkan Bu Maya ke mobil sekitar pukul dua belas lewat. Bu Sofia menyuruh saya mematikan kamera gerbang.”

Kerumunan langsung gaduh.

Sofia kehilangan kendali.

“Kalian semua dibayar perempuan miskin ini!”

Rahma berdiri tepat di depannya.

“Saya tidak punya uang sebanyak kalian.”

Ia menatap seluruh tamu.

“Tapi anak saya punya sesuatu yang tidak bisa kalian beli.”

“Kebenaran.”

Polisi memborgol Rendy.

Sofia masih berteriak ketika tangannya ikut diborgol.

Saat keduanya dibawa melewati taman, ponsel Rahma tiba-tiba berdering.

Rumah sakit.

Semua keberanian yang sejak pagi menopangnya mendadak runtuh.

Rahma menjawab dengan tangan gemetar.

“Bu Rahma?”

“Iya.”

“Operasinya selesai.”

Rahma tidak berani bernapas.

“Maya berhasil melewati masa kritis.”

Lutut Rahma hampir lemas.

“Bayinya?”

Dokter terdiam beberapa detik.

“Detak jantungnya kembali stabil.”

Untuk pertama kalinya sejak pagi, Rahma menangis.

Bukan tangisan keras.

Air mata itu hanya mengalir tanpa bisa dihentikan.

Ia meninggalkan rumah mewah itu tanpa melihat Rendy maupun Sofia lagi.

Tiga hari kemudian, Maya sadar sepenuhnya.

Hal pertama yang dilakukannya adalah menyentuh perut.

“Bu…”

Rahma menggenggam tangannya.

“Dia masih bersama kamu.”

Maya menangis.

Beberapa minggu kemudian, penyelidikan menemukan fakta yang bahkan tidak diketahui Maya.

Goresan pada nampan perak yang menjadi awal pertengkaran ternyata bukan dibuat Maya.

Rekaman kamera ruang penyimpanan menunjukkan Sofia sendiri menjatuhkan nampan itu sehari sebelumnya.

Dia mengetahui goresan tersebut sejak awal.

Artinya, nampan itu hanyalah alasan.

Polisi kemudian menemukan percakapan antara Sofia dan Rendy.

Maya ternyata telah mengetahui adanya pengalihan aset perusahaan keluarga ke sejumlah rekening pribadi. Ia berencana memberi tahu auditor perusahaan.

Sofia takut skandal tersebut menghancurkan bisnis keluarga.

Maya bukan diserang karena sebuah nampan.

Ia diserang karena mengetahui terlalu banyak.

Kasus itu kemudian berkembang menjadi penyelidikan penganiayaan, percobaan menghilangkan barang bukti, serta dugaan kejahatan keuangan.

Para mitra bisnis mulai meninggalkan keluarga Hartono.

Acara amal mereka dibatalkan.

Beberapa proyek besar dibekukan sambil menunggu audit.

Berbulan-bulan kemudian, Maya melahirkan seorang bayi perempuan dengan selamat.

Ketika Rahma pertama kali menggendong cucunya, Maya tersenyum lemah dari ranjang rumah sakit.

“Ibu ingat apa yang Sofia katakan?”

Rahma mengangguk.

“Katanya bayi ini beban.”

Maya menatap anaknya.

“Dia salah.”

Rahma memandang wajah kecil cucunya yang tertidur.

“Bukan bayi ini yang menjadi beban.”

Maya menatap ibunya.

Rahma melanjutkan pelan.

“Yang menjadi beban adalah kebencian yang mereka pelihara sendiri.”

Setelah keluar dari rumah sakit, Maya tidak kembali ke rumah Hartono.

Ia mengajukan perceraian, memberikan kesaksian penuh kepada penyidik, lalu membangun kehidupannya kembali bersama putrinya.

Sementara itu, jeriken bahan bakar yang pernah Rahma ambil dari gudang masih tersimpan di sudut garasinya.

Suatu pagi, Maya melihatnya.

“Ibu mau membakar rumah mereka malam itu?”

Rahma terdiam cukup lama.

“Iya.”

“Kenapa tidak jadi?”

Rahma memandang cucunya yang sedang tertidur di pelukan Maya.

“Karena kalau Ibu membakar rumah itu, mungkin Ibu bisa membalas mereka dalam satu malam.”

Ia mengambil jeriken tersebut dan menuangkan isinya ke tangki mesin pemotong rumput.

“Tapi kalau Ibu melakukan itu, Ibu juga akan memberikan mereka alasan untuk menyebut kita sama seperti mereka.”

Maya terdiam.

Rahma tersenyum tipis.

“Kadang balas dendam paling keras bukan menghancurkan orang yang menyakiti kita.”

Ia menutup jeriken kosong itu.

“Melainkan memastikan mereka melihat kita tetap hidup setelah mereka melakukan segala cara untuk menghancurkan kita.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang