“Kalau sertifikat rumahmu sudah berada di tangannya, kamu mungkin bukan korban pertamanya.”
Aku mengenali suara di ujung telepon itu dengan sangat baik.
Kompol Reza Mahendra.
Teman SMA-ku yang sekarang bertugas di unit kejahatan harta benda dan pemalsuan dokumen di Polres Bogor. Selama sepuluh tahun terakhir, hubungan kami hanya sebatas ucapan Lebaran dan sesekali bertemu di reuni.
Malam itu, untuk pertama kalinya aku meneleponnya karena aku benar-benar membutuhkan bantuan.
“Jadi aku harus bagaimana?” tanyaku.

“Jangan hubungi Dina lagi. Jangan kasih tahu kalau kamu menemukan ponselnya. Foto semua percakapan dan dokumen yang ada. Kirim ke aku.”
Aku menatap Rafi yang tertidur di lenganku.
“Dia membawa sertifikat rumahku, Za.”
“Makanya jangan gegabah.”
“Tapi mereka sedang menandatangani sesuatu sekarang.”
“Aku tahu.”
Nada suara Reza berubah tegas.
“Dan justru karena itu kita butuh mereka menyelesaikan cukup banyak langkah untuk meninggalkan bukti.”
Kalimat itu membuatku terdiam.
Sebagian diriku ingin langsung mengemudi ke Cibinong, mendobrak pintu kantor itu, menarik Dina keluar, lalu menuntut penjelasan.
Tetapi aku menoleh ke lantai bawah.
Naira sedang duduk di sofa sambil memeluk lututnya.
Anak itu sudah menghabiskan hampir lima jam menjaga adiknya karena ibunya sedang berusaha mengambil rumah kami.
Aku tidak boleh membuat keadaan lebih buruk hanya demi melampiaskan amarah.
Aku memotret setiap percakapan di ponsel rahasia itu.
Dokumen pinjaman.
Foto sertifikat.
Percakapan tentang tanda tangan palsu.
Rencana perceraian.
Sampai pesan tentang meninggalkan Naira kepadaku.
Semuanya kukirim kepada Reza.
Lima belas menit kemudian dia menelepon kembali.
“Arif, dengarkan baik-baik. Jangan pergi ke lokasi. Anggotaku sedang menuju sana.”
“Bisa dihentikan?”
“Kalau dokumen belum diproses, kemungkinan besar bisa. Tapi ada sesuatu yang lebih aneh.”
“Apa?”
“Nama Dimas.”
Reza berhenti sejenak.
“Dimas Setiawan, kan?”
Aku melihat foto profil di ponsel.
“Iya.”
“Tiga tahun lalu seorang perempuan di Depok melaporkan suaminya karena menggadaikan rumah tanpa sepengetahuannya. Ada perantara bernama Dimas Setiawan. Dua tahun lalu muncul laporan serupa di Bekasi. Tidak pernah cukup bukti untuk menghubungkan semuanya.”
“Jadi Dina bekerja sama dengan penipu?”
“Belum tentu sesederhana itu.”
Aku tidak menyukai cara Reza mengatakannya.
“Apa maksudmu?”
“Bisa jadi istrimu pelaku. Bisa juga dia sedang dimanfaatkan. Kita cari tahu.”
Aku menutup telepon.
Saat turun, Naira langsung berdiri.
“Mama sudah ketemu?”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Aku tidak ingin berbohong.
Tetapi aku juga tidak mungkin mengatakan kepada anak sepuluh tahun bahwa ibunya mungkin sedang mencoba memalsukan tanda tangan ayahnya.
“Papa tahu Mama ada di mana.”
“Dia pulang?”
“Mungkin nanti.”
Naira menunduk.
“Papa marah sama Mama?”
Aku duduk di sampingnya.
“Papa sedang kecewa.”
Dia diam cukup lama.
Kemudian berkata, “Mama sering pergi begitu.”
Aku menoleh cepat.
“Sering?”
Naira mengangguk.
“Kalau Papa kerja.”
“Berapa lama?”
“Kadang satu jam. Kadang lama.”
“Rafi ditinggal sama siapa?”
Naira tidak menjawab.
Aku sudah tahu jawabannya.
Dadaku terasa sesak.
“Kenapa kamu nggak pernah cerita?”
“Mama bilang Papa capek kerja.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Katanya kalau aku bikin Papa khawatir, nanti Papa bisa pergi dari rumah.”
Aku menahan napas.
Pada saat itulah kemarahanku berubah.
Bukan lagi kemarahan seorang suami yang dikhianati.
Melainkan kemarahan seorang ayah yang baru sadar bahwa putrinya sudah lama hidup dalam ketakutan.
Aku memeluknya.
“Kamu dengar Papa baik-baik. Tidak ada satu pun kesalahan kamu yang bisa membuat Papa meninggalkan kamu.”
Naira menangis di dadaku.
Sekitar pukul enam sore, Dina akhirnya menelepon.
Aku membiarkannya berdering tiga kali sebelum mengangkat.
“Kamu di rumah?” tanyanya.
“Iya.”
“Naira telepon kamu?”
“Iya.”
Dina mengembuskan napas kesal.
“Aku sudah bilang cuma sebentar. Dia memang suka panik.”
Aku memandang Naira yang sedang menyusun mainan Rafi di lantai.
Hampir lima jam.
Dan perempuan itu menyebutnya sebentar.
“Kamu di mana?”
“Aku bilang sedang urus sesuatu.”
“Apa?”
“Urusan pribadi.”
Aku hampir tertawa.
“Pulanglah.”
Dina diam.
“Kamu marah?”
“Pulang. Kita bicara di rumah.”
Dia menutup telepon.
Tujuh belas menit kemudian, Reza mengirim pesan.
Jangan bereaksi. Dina baru keluar dari lokasi. Dimas masih di dalam.
Aku membaca pesan itu berkali-kali.
Berarti mereka sedang mengawasi.
Sekitar pukul tujuh, mobil Dina masuk ke halaman.
Dia masuk membawa tas tangan dan satu kantong belanja.
Wajahnya tampak tenang.
Seolah-olah dia baru pulang dari supermarket.
“Naira mana?”
“Di kamar.”
“Rafi?”
“Tidur.”
Dina meletakkan belanjaan.
“Aku tadi memang kelamaan. Ada urusan sama teman.”
Aku memperhatikannya.
Selama sebelas tahun mengenal perempuan ini, aku selalu berpikir aku tahu ketika dia berbohong.
Ternyata aku hanya tahu ketika dia berbohong dengan buruk.
“Kamu bawa apa dari brankas?”
Tangannya berhenti.
Hanya sepersekian detik.
Tetapi aku melihatnya.
“Apa?”
“Brankas.”
“Kenapa?”
“Sertifikat rumah nggak ada.”
Wajahnya berubah.
Kemudian dia tertawa kecil.
“Oh, itu. Aku bawa buat fotokopi.”
“Fotokopi hampir delapan jam?”
“Arif, jangan mulai.”
Dia melewatiku.
Aku tidak menahannya.
Tidak membentak.
Tidak menunjukkan ponsel rahasia.
Aku hanya berkata, “Besok kembalikan.”
Dia menoleh.
Tatapan kami bertemu.
Untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat ketakutan kecil di matanya.
“Aku capek,” katanya.
Dia naik ke lantai atas.
Pukul sembilan lewat dua belas, pesan dari Reza masuk.
Kami sudah amankan beberapa dokumen dari lokasi. Jangan kasih tahu Dina. Besok pagi datang ke kantor.
Malam itu aku tidak tidur.
Sekitar pukul dua dini hari, aku mendengar pintu kamar terbuka.
Dina berjalan pelan menuju lantai bawah.
Aku pura-pura tidur.
Beberapa menit kemudian terdengar pintu lemari dapur dibuka.
Lalu langkah kaki naik lagi.
Paginya, sebelum Dina bangun, aku memeriksa lemari itu.
Ponsel rahasia sudah hilang.
Dia tahu.
Aku segera mengantar Naira ke sekolah, lalu membawa Rafi ke rumah kakakku. Setelah memastikan keduanya aman, aku pergi menemui Reza.
Di ruangannya sudah ada tiga map.
Satu berisi fotokopi sertifikat rumahku.
Satu berisi dokumen pinjaman.
Dan satu lagi membuatku hampir tidak percaya.
Surat persetujuan penjualan rumah.
“Ini belum sah,” kata Reza. “Tapi mereka sedang menyiapkan jalurnya.”
Aku menunjuk tanda tangan.
“Itu bukan tanda tanganku.”
“Kami tahu.”
“Dina ditangkap?”
“Belum.”
“Kenapa?”
Reza menyandarkan tubuh.
“Karena ada fakta yang perlu kamu tahu.”
Dia mengeluarkan beberapa lembar foto.
Foto Dimas bersama perempuan berbeda.
Satu di Depok.
Satu di Bekasi.
Satu lagi di Tangerang.
“Semua perempuan ini pernah punya hubungan pribadi dengannya. Dua di antaranya kehilangan aset keluarga.”
Aku menatap foto-foto itu.
“Dina korban berikutnya?”
“Mungkin.”
“Dia tahu tanda tanganku dipalsukan.”
“Benar. Jadi secara hukum, posisinya tetap serius.”
Kemudian Reza mendorong satu kertas ke arahku.
“Tapi tadi malam kami periksa komputer dari kantor itu. Ada folder atas nama istrimu.”
Aku membuka halaman pertama.
Ada salinan KTP Dina.
Data rekening.
Foto buku tabungan.
Dan sebuah dokumen asuransi.
Penerima manfaat tertulis:
Dimas Setiawan.
Aku mengernyit.
“Ini apa?”
“Polisnya belum aktif. Tapi lihat nominalnya.”
Aku melihat angka tersebut.
Dua miliar rupiah.
“Dimas ternyata tidak hanya merencanakan mengambil uang dari rumahmu.”
Reza menunjuk halaman berikutnya.
Ada percakapan yang bukan berasal dari ponsel Dina.
Percakapan Dimas dengan seseorang bernama Rendi.
Begitu dana pinjaman cair, perempuan itu tidak diperlukan lagi.
Aku membaca kalimat berikutnya.
Buat seolah dia kabur setelah mengambil uang suaminya.
Aku merasa tengkukku dingin.
“Perempuan itu Dina?”
Reza mengangguk.
“Dimas berencana mengambil uang, menjadikan Dina kambing hitam, lalu menghilang.”
Aku tidak tahu apakah harus marah atau merasa kasihan.
Dina sedang berusaha menghancurkanku.
Tetapi pria yang dia percaya ternyata sedang merencanakan hal yang sama terhadapnya.
Siang itu Dina menelepon berkali-kali.
Aku tidak menjawab.
Sampai pukul tiga, pesan masuk.
Arif, kamu di mana? Ada polisi datang ke kantor Dimas.
Aku tetap diam.
Lima menit kemudian:
Kamu tahu sesuatu?
Lalu:
Kita harus bicara.
Dan akhirnya:
Tolong pulang.
Ketika aku tiba di rumah menjelang sore, Dina duduk sendirian di ruang keluarga.
Wajahnya pucat.
“Kamu ambil HP itu?”
Aku tidak menjawab.
“Arif, aku bisa jelaskan.”
“Kamu meninggalkan anak sepuluh tahun menjaga bayi sembilan bulan selama hampir lima jam.”
“Aku salah.”
“Kamu memalsukan tanda tanganku.”
Dia menangis.
“Aku cuma mau pinjam uang.”
“Dengan sertifikat rumahku?”
“Dimas bilang nanti bisa dikembalikan.”
Aku menatap perempuan yang selama ini tidur di sampingku.
“Dan setelah uang cair kamu mau menceraikanku?”
Wajahnya langsung kehilangan warna.
Berarti dia tahu aku sudah membaca semuanya.
“Aku… waktu itu marah.”
“Berminggu-minggu?”
Dia menutup wajah.
“Aku merasa hidupku berhenti sejak punya Rafi. Kamu selalu kerja. Aku di rumah terus. Dimas bilang aku masih bisa mulai hidup baru.”
“Jadi Naira kamu jadikan pengasuh supaya kamu bisa mulai hidup baru?”
Dina terisak.
Aku tidak meninggikan suara.
Justru ketenanganku membuatnya semakin sulit menatapku.
“Aku nggak pernah bermaksud menyakiti anak-anak.”
“Tapi kamu melakukannya.”
Dia menangis lebih keras.
Kemudian aku meletakkan salinan dokumen yang diberikan Reza.
“Dan pria yang kamu pilih ternyata juga berencana membuangmu.”
Dina membaca percakapan itu.
Wajahnya perlahan berubah.
“Ini bohong.”
“Polisi menemukan sendiri.”
“Dimas nggak mungkin…”
“Dia melakukan pola yang sama kepada perempuan lain.”
Dina mulai gemetar.
Untuk pertama kalinya, aku melihat bukan seorang istri yang berselingkuh.
Aku melihat seseorang yang baru sadar bahwa kebohongan yang dia bangun telah menelannya sendiri.
Dua hari kemudian Dina diperiksa polisi.
Kasusnya berkembang jauh lebih besar dari yang kuduga.
Dimas akhirnya ditahan terkait dugaan pemalsuan dokumen dan serangkaian pengalihan aset. Dari perangkat yang disita, polisi menemukan data beberapa keluarga lain yang sedang dia incar.
Sertifikat rumahku berhasil diamankan sebelum transaksi apa pun selesai.
Tetapi pernikahanku tidak bisa diselamatkan semudah itu.
Aku mengajukan gugatan cerai.
Bukan karena perselingkuhan saja.
Bukan pula karena rumah.
Ada sesuatu yang tidak bisa kuhapus dari pikiranku.
Naira duduk di lantai dapur dengan bayi sembilan bulan menggantung di tubuh kecilnya sambil meminta maaf karena belum mengerjakan PR.
Beberapa bulan kemudian, pengadilan menetapkan anak-anak tinggal bersamaku sementara proses hukum dan pengasuhan berjalan.
Dina mendapat kesempatan bertemu mereka sesuai ketentuan yang ditetapkan.
Aku tidak pernah mengajarkan Naira membenci ibunya.
Kesalahan orang dewasa tidak seharusnya diwariskan menjadi kebencian anak.
Suatu malam, setelah menidurkan Rafi, aku menemukan Naira duduk di meja makan mengerjakan matematika.
Aku menarik kursi di sampingnya.
“Sulit?”
Dia mengangguk.
“Sedikit.”
Aku membantunya mengerjakan dua soal.
Tiba-tiba dia berhenti menulis.
“Pa?”
“Iya?”
“Waktu itu Mama pergi karena aku nggak bisa jaga Rafi dengan benar?”
Dadaku terasa seperti diremas.
Aku menutup bukunya.
“Tidak.”
“Tapi Mama bilang…”
“Naira.”
Aku menatap matanya.
“Orang dewasa kadang membuat keputusan yang buruk. Dan kadang mereka mencoba membuat orang lain merasa bertanggung jawab supaya kesalahan mereka terasa lebih ringan.”
Dia terdiam.
“Jadi bukan salah aku?”
“Bukan.”
“Sedikit pun?”
“Sedikit pun bukan.”
Naira tersenyum kecil.
Kemudian dia memelukku.
Kupikir itulah akhir dari semuanya.
Ternyata belum.
Tiga minggu kemudian Reza menelepon.
“Arif, kami menemukan sesuatu dari ponsel Dimas.”
“Apa lagi?”
“Percakapan lama. Hampir dua tahun.”
Aku berdiri dari kursi.
“Dengan Dina?”
“Bukan.”
Suara Reza terdengar berat.
“Dengan seseorang yang mengenal keluargamu.”
Jantungku berdegup lebih cepat.
“Siapa?”
“Namanya Bayu Pratama.”
Aku membeku.
Itu nama adikku sendiri.
Reza melanjutkan.
“Ternyata Dimas tidak menemukan Dina secara kebetulan. Dia sudah mengincar rumahmu jauh sebelum mengenal istrimu.”
Aku tidak mampu berkata apa-apa.
“Bayu pernah punya utang pada jaringan Dimas. Dia memberikan informasi tentang aset keluarga sebagai jaminan. Termasuk alamatmu, nilai rumah, bahkan kebiasaan jam kerjamu.”
Tanganku mulai dingin.
“Kenapa dia melakukan itu?”
“Menurut percakapannya, awalnya dia cuma memberi data supaya utangnya ditunda. Tapi kemudian Dimas melihat peluang.”
Aku menatap foto keluarga yang tergantung di dinding.
Aku, Dina, Naira, Rafi.
Dan di ujung foto, Bayu berdiri tersenyum sambil memegang bahuku.
Orang yang selama ini kupikir keluarga ternyata menjadi pintu pertama bagi orang asing masuk ke kehidupan kami.
Saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.
Rumah kami hampir hilang bukan pada hari Dina mengambil sertifikat dari brankas.
Semuanya dimulai jauh sebelumnya.
Dari utang yang disembunyikan.
Dari kebohongan kecil yang dibiarkan.
Dari rahasia yang dianggap tidak akan menyakiti siapa pun.
Aku memandang Naira yang sedang tertawa karena Rafi mencoba merangkak mengejar pensilnya.
Lalu aku sadar rumah bukan sertifikat yang hampir dicuri Dimas.
Bukan bangunan yang hampir dijual Dina.
Rumah adalah dua anak di depanku yang masih percaya bahwa ketika mereka memanggil, ayah mereka akan pulang.
Dan kali ini, aku berjanji pada diriku sendiri, tidak akan ada rahasia siapa pun yang membuat mereka merasa ditinggalkan lagi.
