Semua dokumen itu jatuh dari tangan Arga.
Salah satu lembar meluncur hingga berhenti tepat di dekat kakiku. Aku tidak sempat membaca seluruh isinya, tetapi mataku menangkap beberapa kata yang membuat tengkukku terasa dingin.
Audit internal.
Pengalihan dana.
Rekening vendor.
Pak Hadi berdiri di tengah ruang keluarga dengan wajah tenang. Justru ketenangan itulah yang membuat suasana terasa semakin mencekam.
Arga membungkuk cepat, memungut dokumen-dokumen itu.

“Kakek salah paham.”
“Kalau aku salah paham, jelaskan.”
“Aku bisa jelaskan.”
“Aku sedang menunggu.”
Arga membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.
Aku menatap suamiku.
Selama empat tahun menikah, aku mengenal Arga sebagai lelaki yang selalu mempunyai jawaban. Ketika cicilan rumah membengkak, dia punya alasan. Ketika pulang lewat tengah malam, dia punya alasan. Ketika melewatkan pemeriksaan kandunganku, dia juga punya alasan.
Namun kali ini wajahnya kosong.
Pak Hadi menunjuk halaman terakhir.
“PT Surya Rekayasa Mandiri. Kamu mengenalnya?”
Arga menelan ludah.
“Itu vendor kantor.”
“Aku tahu.”
“Kalau Kakek sudah tahu, kenapa tanya?”
“Karena aku ingin mendengar dari mulutmu sendiri.”
Arga melirikku.
Gerakan kecil itu tidak luput dari perhatian Pak Hadi.
“Jangan lihat istrimu. Nadira tidak ada hubungannya dengan ini.”
Aku semakin bingung.
“Ada apa sebenarnya, Kek?”
Pak Hadi tidak langsung menjawab. Dia justru memandangku seolah sedang mempertimbangkan seberapa banyak yang boleh kuketahui.
Akhirnya dia berkata, “Tiga minggu lalu bagian keuangan menemukan pembayaran berulang kepada satu vendor. Nilainya tidak cukup besar untuk langsung mencolok, tapi terlalu rutin untuk diabaikan.”
“Berapa?”
“Sedikit di atas dua miliar rupiah dalam sebelas bulan.”
Aku menoleh tajam kepada Arga.
Wajahnya semakin pucat.
Pak Hadi melanjutkan, “Masalahnya, ketika alamat perusahaan itu diperiksa, kantornya hampir tidak ada. Hanya ruko kecil yang terdaftar atas nama seseorang bernama Reza Mahendra.”
Nama itu kukenal.
Sepupu Arga.
Arga langsung menyela, “Itu bukan perusahaan fiktif!”
“Aku belum bilang fiktif.”
“Tapi cara Kakek bicara seolah aku mencuri.”
Pak Hadi menatapnya dingin.
“Kalau begitu seharusnya kamu tidak takut diperiksa.”
Arga terdiam.
Aku merasa bayi di dalam perutku bergerak keras. Entah karena ketegangan atau karena sejak tadi aku terlalu lama duduk dalam posisi yang tidak nyaman.
Aku mengusap perut.
Pak Hadi langsung memperhatikannya.
“Kamu masih pusing?”
“Sedikit.”
“Sudah makan?”
“Sudah, Kek.”
“Minum?”
Aku melirik botol kosong di meja.
Pak Hadi mengikuti arah pandanganku.
Kemudian dia melihat kaleng minuman dingin di tangan Arga.
Tidak ada yang berkata apa-apa.
Namun wajah Pak Hadi berubah.
Dia berjalan ke dapur, mengambil segelas air, lalu memberikannya kepadaku.
Aku menerimanya dengan kedua tangan.
“Terima kasih.”
Pak Hadi kembali menatap cucunya.
“Lucu.”
Arga mengerutkan dahi.
“Apa?”
“Di kantor kamu selalu bicara tentang kepemimpinan. Ternyata mengambilkan air untuk istrimu saja terlalu berat.”
“Kek, jangan campur masalah rumah tangga dengan perusahaan.”
Pak Hadi tertawa kecil.
“Justru itu kesalahanmu.”
Arga terdiam.
“Kamu pikir karakter seseorang berhenti di depan pintu kantor?” lanjut Pak Hadi. “Lelaki yang terbiasa membiarkan orang lain menanggung bebannya di rumah akan melakukan hal yang sama di tempat lain ketika mendapat kesempatan.”
Arga mulai kehilangan kesabaran.
“Jadi sekarang Kakek menilai seluruh hidupku hanya karena Nadira merakit ranjang?”
Aku tersentak mendengar namaku disebut dengan nada seperti itu.
Pak Hadi tidak meninggikan suara.
“Aku menilaimu berdasarkan sebelas bulan transaksi yang sedang diperiksa. Hari ini hanya menjelaskan sesuatu yang sebelumnya tidak kupahami.”
“Apa?”
“Kenapa kamu melakukannya.”
Rahang Arga mengeras.
Pak Hadi mengambil kembali dokumen dari tangannya.
“Kamu merasa semua orang harus menyediakan sesuatu untukmu. Istrimu menyediakan kenyamanan. Ayahmu menyediakan jabatan. Aku menyediakan perusahaan. Dan sekarang kamu mulai menganggap perusahaan itu juga milikmu sebelum benar-benar menjadi milikmu.”
“Cukup!”
Arga membentak.
Aku belum pernah melihatnya membentak kakeknya.
Bahkan dia sendiri tampak terkejut setelah melakukannya.
Pak Hadi hanya menatapnya.
Beberapa detik kemudian, Arga menurunkan suara.
“Aku tidak mencuri.”
“Bagus. Audit akan membuktikannya.”
“Kalau audit itu berjalan, namaku akan hancur di kantor.”
“Kalau kamu bersih, namamu akan kembali.”
“Kakek tahu bagaimana orang bergosip.”
Pak Hadi mengangguk.
“Sekarang kamu mulai memahami harga sebuah reputasi.”
Arga berjalan mondar-mandir.
Lalu tiba-tiba dia menunjukku.
“Ini semua gara-gara kamu.”
Aku membeku.
“Apa?”
“Kalau kamu tidak sengaja bikin drama dengan duduk di lantai begitu, Kakek tidak akan marah.”
Aku tidak percaya apa yang kudengar.
“Aku hampir pingsan.”
“Tapi kamu tidak pingsan, kan?”
Kalimat itu baru saja keluar ketika Pak Hadi menghantam telapak tangannya ke meja.
Tidak terlalu keras.
Namun cukup membuat Arga diam.
“Jangan pernah bicara seperti itu kepada istrimu di depanku.”
Arga mengepalkan tangan.
Aku melihat sesuatu di wajahnya yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Bukan penyesalan.
Kemarahan karena kehilangan kendali.
“Semua orang selalu membelanya,” katanya. “Sejak dia hamil, semuanya tentang Nadira. Nadira capek. Nadira mual. Nadira harus dijaga. Aku bagaimana? Aku yang bekerja. Aku yang bayar cicilan. Aku yang harus memikirkan biaya rumah sakit, perlengkapan bayi, semuanya!”
Aku perlahan berdiri.
“Cicilan rumah?”
Arga menatapku.
Aku menahan pinggang sambil menatapnya lurus.
“Mas, uang muka rumah ini dibayar dari tabunganku.”
Dia terdiam.
“Perlengkapan bayi sebagian besar dibeli dari rekeningku. Asuransi persalinan dari kantor tempatku bekerja sebelum cuti. Bahkan renovasi kamar bayi dibayar ibuku.”
“Nadira, sekarang bukan waktunya.”
“Justru sekarang waktunya.”
Empat tahun kemarahan yang selama ini kutelan seperti naik sekaligus ke tenggorokan.
“Kamu selalu bilang kamu menanggung semuanya. Apa yang sebenarnya kamu tanggung, Mas?”
Wajah Arga memerah.
“Aku suamimu.”
“Aku tahu. Itu sebabnya aku terus menunggu kamu bertindak seperti suami.”
Ruangan mendadak hening.
Aku sendiri terkejut mendengar kalimat itu keluar dari mulutku.
Arga mendekat satu langkah.
“Kamu mau mempermalukanku di depan Kakek?”
“Aku tidak pernah menceritakan apa pun kepada keluarga kamu.”
“Karena kamu tahu aku tidak seperti yang kamu gambarkan.”
Aku tertawa hambar.
“Tidak. Karena selama ini aku masih berusaha menjaga harga dirimu.”
Arga hendak membalas ketika rasa sakit mendadak melingkari perutku.
Kali ini berbeda.
Aku berhenti bernapas beberapa detik.
Tanganku refleks mencengkeram sandaran sofa.
“Nadira?”
Pak Hadi langsung mendekat.
“Aku tidak apa-apa.”
Namun rasa sakit berikutnya datang jauh lebih cepat.
Aku membungkuk.
Lalu kurasakan sesuatu yang hangat mengalir di kakiku.
Aku menunduk.
Lantai di bawahku basah.
Wajah Pak Hadi berubah.
“Air ketubanmu pecah.”
Arga berdiri membeku.
“Apa?”
Aku menatapnya.
Ironis.
Selama berbulan-bulan dia menyebut dirinya suami siaga.
Saat saat yang sebenarnya datang, dia justru tidak bergerak.
Pak Hadi mengambil tas rumah sakit yang sudah kusiapkan di dekat tangga.
“Kunci mobil.”
Arga masih terpaku.
“KUNCI MOBIL, ARGA!”
Barulah dia tersadar.
Perjalanan menuju rumah sakit terasa seperti potongan-potongan gambar.
Lampu jalan.
Klakson.
Tanganku menggenggam sabuk pengaman.
Pak Hadi duduk di belakang bersamaku karena dia tidak membiarkanku sendirian.
Sementara Arga menyetir dengan wajah tegang.
Namun bahkan di tengah kontraksi, aku melihat ponselnya terus bergetar.
Sekali.
Dua kali.
Lima kali.
Nama yang muncul di layar membuatku mengernyit.
Reza.
Arga mematikannya.
Beberapa menit kemudian masuk pesan.
Aku hanya sempat melihat sebagian kalimat.
Server sudah diamankan.
Jantungku seperti jatuh.
Pak Hadi rupanya melihat hal yang sama.
“Jangan hapus pesan itu.”
Arga mencengkeram setir.
“Kakek jangan mulai lagi.”
“Aku tidak mulai apa-apa.”
“Kita sedang membawa Nadira ke rumah sakit!”
“Benar. Jadi fokus menyetir.”
Setelah tiba di rumah sakit, semuanya bergerak cepat.
Aku dibawa ke ruang bersalin.
Pembukaan sudah empat.
Dokter memperkirakan prosesnya masih membutuhkan waktu.
Arga duduk di kursi dekat jendela.
Pak Hadi menunggu di luar.
Untuk beberapa saat aku berharap kejadian tadi membuat Arga sadar.
Aku bahkan mengulurkan tangan.
“Mas.”
Dia menoleh.
“Aku takut.”
Arga menggenggam tanganku.
Untuk pertama kalinya hari itu, aku merasa dia benar-benar hadir.
Namun hanya beberapa detik.
Ponselnya kembali bergetar.
Dia melepaskan tanganku.
“Aku keluar sebentar.”
“Mau ke mana?”
“Telepon kantor.”
“Sekarang?”
“Ini penting.”
Aku menatapnya.
“Aku sedang melahirkan anakmu.”
“Aku cuma lima menit.”
Dia pergi.
Lima menit berubah menjadi dua puluh.
Dua puluh menjadi hampir satu jam.
Kontraksiku semakin kuat.
Perawat beberapa kali bertanya, “Suaminya mana, Bu?”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Akhirnya Pak Hadi masuk setelah mendapat izin.
Dia duduk di kursi yang tadi ditempati Arga.
“Kakek minta maaf.”
Aku menggeleng.
“Bukan salah Kakek.”
Pak Hadi menatap pintu.
“Dulu aku terlalu sibuk membangun perusahaan sampai tidak melihat bagaimana anak dan cucuku tumbuh. Aku pikir memberi mereka kehidupan nyaman berarti sudah menjadi kepala keluarga yang baik.”
Aku menatap lelaki tua itu.
“Ternyata uang hanya memperbesar sifat yang sudah ada,” katanya pelan.
Pintu terbuka.
Arga masuk dengan wajah seperti kehilangan darah.
Di belakangnya berdiri dua orang yang tidak kukenal.
Seorang pria berkemeja putih dan seorang perempuan membawa map.
Pak Hadi berdiri.
“Sudah?”
Pria itu mengangguk.
“Sudah, Pak.”
Arga menatap kakeknya.
“Kakek menyuruh mereka datang ke rumah sakit?”
“Aku menyuruh mereka menemui kamu di mana pun kamu berada.”
“Aku mau menemani istriku melahirkan!”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
Satu jam lalu dia meninggalkanku demi telepon.
Sekarang tiba-tiba dia ingin menjadi suami.
Perempuan yang membawa map menyerahkan sebuah dokumen.
Pak Hadi membacanya sebentar.
“Server tidak berhasil dihapus,” katanya.
Arga menutup mata.
Saat itulah aku tahu.
Semua tuduhan itu benar.
Pak Hadi melanjutkan, “Reza sudah mengaku.”
“Kek…”
“Dia mengatakan perusahaan vendor itu dibuat atas permintaanmu. Harga pengadaan dinaikkan antara delapan sampai dua belas persen, lalu selisihnya dibagi.”
Aku menatap Arga.
Suamiku.
Ayah anak yang sebentar lagi kulahirkan.
Lelaki yang beberapa jam lalu mengatakan dirinya menanggung semua biaya keluarga.
“Berapa?” tanyaku.
Arga tidak menjawab.
Pak Hadi yang menjawab.
“Bagian yang diduga masuk ke rekening yang terkait dengannya sekitar tujuh ratus delapan puluh juta.”
Aku merasa mual.
Bukan karena kontraksi.
Tiba-tiba semuanya masuk akal.
Jam tangan baru.
Perjalanan dengan teman-temannya yang katanya dibayar kantor.
Tagihan kartu kredit yang selalu disembunyikan.
Dan satu hal yang paling menyakitkan.
Beberapa minggu sebelumnya, ketika aku ingin membeli kursi menyusui seharga dua juta rupiah, Arga mengatakan kami harus berhemat.
Aku menatapnya.
“Kamu bilang kita tidak punya uang.”
“Nad…”
“Kamu bilang ranjang bayi yang kupilih terlalu mahal.”
“Aku bisa jelaskan.”
“Kamu bahkan menyuruhku membayar sendiri biaya kelas persiapan melahirkan.”
“Nadira, dengar dulu.”
Kontraksi datang lagi.
Aku memejamkan mata sambil menggenggam seprai.
Ketika rasa sakit itu mereda, sesuatu dalam diriku ikut berubah.
Aku tidak lagi ingin mendengar penjelasannya.
“Keluar.”
Arga terdiam.
“Apa?”
“Keluar dari ruangan.”
“Aku suamimu.”
“Aku tahu.”
Suaraku bergetar, tetapi bukan karena takut.
“Dan hari ini aku akhirnya mengerti bahwa status itu tidak otomatis membuatmu menjadi pasangan.”
“Nadira, jangan mengambil keputusan saat emosi.”
Aku menatapnya.
“Empat tahun aku tidak mengambil keputusan. Itu masalahnya.”
Arga hendak mendekat.
Pak Hadi berdiri di antara kami.
“Dia minta kamu keluar.”
Arga menatapku beberapa detik.
Kemudian pergi.
Tujuh jam kemudian, putraku lahir.
Tangis pertamanya memenuhi ruangan pada pukul 02.17 dini hari.
Beratnya tiga kilogram dua ratus gram.
Sehat.
Ketika perawat meletakkannya di dadaku, aku menangis.
Bukan karena Arga.
Bukan karena audit.
Bukan karena rumah atau saham.
Aku menangis karena tiba-tiba aku memahami sesuatu.
Anakku tidak membutuhkan gambaran keluarga sempurna.
Dia membutuhkan rumah yang aman untuk tumbuh.
Dua hari kemudian Pak Hadi datang menjenguk.
Dia membawa bunga dan sebuah amplop krem.
Aku langsung tertawa kecil ketika melihatnya.
“Jangan bilang ada dokumen lagi, Kek.”
Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, Pak Hadi tertawa.
“Ada.”
Dia menyerahkannya kepadaku.
Aku membukanya.
Bukan saham.
Bukan uang.
Sebuah surat.
Tulisan tangan.
Di dalamnya Pak Hadi meminta maaf karena keluarganya selama ini terlalu sering memuji Arga tanpa pernah benar-benar melihat bagaimana dia menjalani tanggung jawabnya.
Di bagian paling bawah ada satu kalimat.
Warisan terbesar seorang lelaki bukan perusahaan yang ditinggalkannya, melainkan rasa aman yang dirasakan keluarganya ketika dia berada di rumah.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
“Bagaimana Arga?”
“Dinonaktifkan dari perusahaan selama pemeriksaan. Kalau hasil audit membuktikan pelanggaran pidana, proses hukum tetap berjalan.”
Aku mengangguk.
“Dan saham delapan persen itu?”
Pak Hadi tersenyum.
“Tidak akan diberikan kepadanya.”
Aku tidak bertanya kepada siapa saham itu akan diberikan.
Bagiku, itu bukan urusanku lagi.
Namun sebelum pergi, Pak Hadi berhenti di pintu.
“Oh iya. Ada satu hal yang belum kamu tahu.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Ranjang bayi yang kita rakit kemarin.”
Aku tersenyum bingung.
“Kenapa?”
“Aku sengaja datang tanpa memberi kabar karena ingin mengantarkan dokumen audit itu sendiri. Tapi sebenarnya aku sudah berada di depan rumah hampir sepuluh menit sebelum masuk.”
Senyumku perlahan hilang.
Pak Hadi melanjutkan.
“Aku melihatmu dari jendela.”
Aku diam.
“Aku melihat kamu meminta bantuan. Aku melihat Arga mengambil minuman untuk dirinya sendiri. Aku hampir langsung masuk.”
“Kenapa Kakek tidak masuk?”
“Karena aku ingin memastikan.”
“Memastikan apa?”
Pak Hadi menatap bayi yang tidur di pelukanku.
“Apakah cucuku hanya melakukan satu kesalahan buruk hari itu, atau memang begitulah dia ketika merasa tidak ada orang yang sedang menilainya.”
Dadaku terasa sesak.
“Dan ternyata?”
Pak Hadi tersenyum pahit.
“Aku mendapatkan jawabannya.”
Tiga bulan kemudian aku mengajukan gugatan cerai.
Banyak orang terkejut.
Beberapa kerabat mengatakan aku seharusnya memberi Arga kesempatan karena kami baru memiliki bayi.
Mereka tidak tahu aku sudah memberinya kesempatan selama bertahun-tahun.
Audit akhirnya menemukan bukti penggelembungan harga dan pengalihan dana melalui perusahaan milik Reza. Arga kehilangan posisinya dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya melalui proses hukum.
Namun bagian paling aneh dari semuanya terjadi enam bulan kemudian.
Suatu pagi, Pak Hadi datang ke rumah kontrakan kecil tempat aku tinggal bersama putraku.
Dia membawa tas kulit cokelat yang sama.
Aku langsung menunjuknya.
“Kek, setiap kali tas itu datang, hidup seseorang berubah.”
Dia tertawa.
Kali ini dia tidak mengeluarkan amplop.
Dia mengeluarkan sebuah foto lama.
Foto dirinya ketika masih muda, berdiri di depan bengkel kecil bersama seorang perempuan.
“Itu siapa?”
“Istriku. Nenek Arga.”
Aku memperhatikan foto itu.
“Mahendra Teknik tidak kubangun sendirian,” katanya. “Modal pertamanya berasal dari gelang emas milik istriku. Selama bertahun-tahun orang hanya menyebut namaku sebagai pendiri.”
Dia menarik napas.
“Aku terlambat menyadari betapa mudahnya sejarah menghapus perempuan yang bekerja diam-diam.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Pak Hadi memasukkan foto itu kembali.
“Aku sedang mengubah struktur yayasan keluarga. Sebagian dividen perusahaan akan digunakan untuk program bantuan hukum dan dukungan ekonomi bagi perempuan yang terjebak dalam rumah tangga yang tidak sehat.”
Aku menatapnya terkejut.
“Kenapa Kakek cerita kepadaku?”
“Karena aku ingin kamu menjadi salah satu penasihat programnya.”
Aku langsung menggeleng.
“Aku bukan ahli.”
“Kamu tidak perlu menjadi ahli untuk mengetahui bagaimana rasanya ketika seseorang terus-menerus dibuat percaya bahwa kebutuhannya adalah beban.”
Aku terdiam.
Dari kamar terdengar suara putraku terbangun.
Aku berdiri.
Pak Hadi ikut bangkit.
Sebelum masuk ke kamar, aku melihat ranjang bayi yang kini berdiri di sudut.
Ranjang yang sama.
Ada satu goresan kecil di bagian bawah kayunya, bekas obengku yang terpeleset saat aku berusaha memasang baut dalam keadaan hamil sembilan bulan.
Dulu aku ingin menghapus goresan itu.
Sekarang tidak.
Aku membiarkannya tetap ada.
Karena suatu hari, ketika putraku cukup besar untuk memahami, aku ingin menceritakan kepadanya bahwa menjadi lelaki bukan soal siapa yang paling banyak menuntut penghormatan, siapa yang membawa uang paling banyak, atau siapa yang namanya tercetak paling besar di sebuah perusahaan.
Menjadi lelaki juga bukan tentang mengunggah foto USG dan menulis kalimat indah tentang keluarga.
Kadang ukurannya jauh lebih sederhana.
Apakah kamu bangkit dari sofa ketika orang yang kamu cintai membutuhkan bantuan.
Apakah kamu mengambilkan segelas air tanpa diminta dua kali.
Apakah kamu tetap memegang tangannya ketika keadaan menjadi sulit.
Dan yang terpenting, siapa dirimu ketika kamu yakin tidak ada seorang pun yang sedang melihat.
Arga kehilangan saham delapan persen pada hari itu.
Kemudian dia kehilangan jabatan.
Lalu kehilangan pernikahannya.
Namun aku akhirnya mengerti bahwa hukuman termahal yang diterimanya bukan semua itu.
Dia kehilangan kesempatan menyaksikan anaknya tumbuh setiap hari karena selama bertahun-tahun dia mengira menjadi kepala keluarga berarti semua orang harus melayaninya.
Padahal keluarga tidak pernah membutuhkan seorang penguasa.
Keluarga membutuhkan seseorang yang bersedia ikut memikul beban.
Dan semuanya terbongkar hanya karena pada suatu Sabtu siang, seorang lelaki tua berdiri di balik jendela dan melihat cucunya memilih menonton sepak bola ketika istrinya yang hamil sembilan bulan sedang berlutut sendirian, mencoba merakit ranjang untuk anak mereka.
