DI SIDANG PERCERAIAN, SUAMIKU MENYEBUTKU “KULI GRATIS” YANG HANYA MENGANGKAT KARUNG SELAMA 22 TAHUN—AKU TIDAK MEMBANTAH. AKU HANYA MENGGULUNG LENGAN BAJUKU, MENUNJUKKAN BEKAS LUKA YANG SELAMA INI IA SEMBUNYIKAN, LALU MELETAKKAN SATU MAP MERAH DI ATAS MEJA. SEKETIKA PENGACARANYA BERHENTI TERSENYUM DAN HAKIM MEMINTA PINTU RUANG SIDANG DITUTUP.

“Dokumen itu bukan satu-satunya dokumen yang memiliki tanda tangan bermasalah.”

Kalimat Maya membuat suasana ruang sidang berubah total.

Keisha yang tadi berdiri membeku di tempatnya. Wajahnya pucat, sementara Bram menatap Maya seolah baru saja mendengar ancaman yang tidak pernah ia bayangkan.

Hakim meletakkan dokumen di tangannya.

“Berapa banyak dokumen yang Saudari maksud?”

Maya tidak langsung menjawab.

Ia membuka kembali map merah.

“Berdasarkan pemeriksaan sementara, sedikitnya ada enam.”

Enam.

Aku melihat jari Bram bergerak kecil di atas meja.

Selama dua puluh dua tahun menikah dengannya, aku mengenal gerakan itu.

Bram selalu mengetuk meja dengan telunjuk ketika sedang mencari kebohongan yang terdengar masuk akal.

Satu ketukan.

Dua.

Tiga.

Lalu berhenti.

“Ini fitnah,” katanya.

Kali ini suaranya tidak lagi terdengar seperti seorang pengusaha sukses yang yakin dapat membeli semua masalah dengan uang.

Maya mengeluarkan satu dokumen lagi.

“Dokumen pertama adalah perubahan struktur kepemilikan tahun 2011.”

Ia meletakkan lembar berikutnya.

“Dokumen kedua adalah surat persetujuan penggunaan aset Warung Pesisir Laras sebagai jaminan kredit.”

Lembar ketiga.

“Dokumen ketiga adalah persetujuan pengalihan hak sewa ruko.”

Bram langsung menoleh kepada pengacaranya.

“Apa ini?”

Pengacaranya tidak menjawab.

Maya melanjutkan.

“Dokumen keempat dan kelima berkaitan dengan pelepasan sebagian kepemilikan kepada PT Santoso Rasa Nusantara.”

Ia berhenti sejenak.

Kemudian mengeluarkan lembar terakhir.

“Dan dokumen keenam ditandatangani tiga bulan lalu.”

Aku sendiri masih merasakan dingin setiap kali mengingat dokumen itu.

Tiga bulan lalu.

Saat aku dan Bram masih tinggal serumah.

Saat ia setiap pagi masih meminum kopi yang kubuatkan.

Saat ia masih memanggilku “Bu Laras” dengan nada seolah kami hanya pasangan yang kehilangan kehangatan karena usia.

Padahal pada saat yang sama, ia sedang menyiapkan perceraian.

“Dokumen apa?” tanya hakim.

Maya menatap Bram.

“Surat pernyataan bahwa Ibu Laras secara sukarela melepaskan hak ekonominya atas saham dan aset usaha dengan kompensasi sebesar lima ratus juta rupiah.”

Ruangan kembali sunyi.

Aku mendengar Keisha menarik napas.

Ia menatap Bram.

“Kamu bilang dia sudah setuju.”

Bram menoleh cepat.

“Diam.”

Kalimat itu terdengar lebih keras dari yang seharusnya.

Keisha terdiam.

Namun sesuatu telah berubah di wajahnya.

Untuk pertama kalinya sejak sidang dimulai, ia tidak lagi melihatku sebagai mantan istri yang menghalangi kebahagiaannya.

Ia mulai melihat lelaki yang duduk di sampingnya.

Hakim membaca dokumen tersebut.

“Ibu Laras, apakah Ibu pernah menandatangani surat ini?”

“Tidak.”

“Apakah Saudara Bram pernah menunjukkan surat tersebut?”

“Tidak.”

Bram bangkit.

“Yang Mulia, tanda tangan istri saya berubah-ubah. Dia pernah menandatangani banyak dokumen.”

Maya menoleh kepadanya.

“Tepat.”

Kemudian ia mengeluarkan sebuah tablet.

“Karena itu kami tidak hanya meminta pemeriksaan tanda tangan.”

Wajah Bram mengeras.

“Kami juga meminta pemeriksaan metadata digital dari dokumen yang dibuat tiga bulan lalu.”

Pengacara Bram mendadak berdiri.

“Saya meminta waktu untuk berkonsultasi dengan klien.”

Hakim mengangguk.

“Lima menit.”

Namun sebelum mereka sempat bergerak, Maya berkata,

“Yang Mulia, kami juga ingin mengajukan permohonan agar bukti elektronik ini diamankan.”

Hakim memandangnya.

“Alasannya?”

“Karena dokumen tersebut dibuat menggunakan komputer kantor pusat Santoso Rasa. File asli masih tercatat dalam sistem perusahaan.”

Aku melihat perubahan di mata Bram.

Hanya sepersekian detik.

Tetapi cukup.

Maya melihatnya juga.

“Dan akun yang digunakan untuk membuat file tersebut,” lanjut Maya, “bukan milik Ibu Laras.”

Hakim menatapnya.

“Milik siapa?”

Maya menjawab pelan.

“Bram Santoso.”

Keisha mundur satu langkah.

Bram berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.

“Itu komputer kantor! Semua orang bisa memakainya!”

Hakim mengetuk meja.

“Saudara Bram, duduk.”

Namun Bram tidak langsung duduk.

Ia menatapku.

Tatapan yang selama bertahun-tahun membuatku diam.

Dulu setiap kali aku mempertanyakan rekening.

Setiap kali aku bertanya mengapa namaku menghilang dari dokumen.

Setiap kali aku mencoba berbicara tentang Keisha.

Tatapan itu selalu sama.

Seolah aku perempuan bodoh yang beruntung karena dinikahi lelaki seperti dirinya.

Tetapi pagi itu, untuk pertama kalinya, tatapan tersebut tidak lagi membuatku takut.

Aku justru merasa kasihan.

Karena aku akhirnya memahami sesuatu.

Bram tidak pernah benar-benar kuat.

Ia hanya terbiasa berada di ruangan tempat semua orang lebih takut kepadanya daripada berani mengatakan kebenaran.

Pengacaranya menarik lengannya.

“Duduk dulu.”

Bram akhirnya duduk.

Sidang diskors selama lima belas menit.

Begitu keluar dari ruang sidang, Maya membawaku ke lorong kecil dekat ruang saksi.

Tanganku gemetar.

Bukan karena takut.

Lebih seperti tubuhku baru menyadari bahwa selama satu jam terakhir aku menahan napas.

Maya memberikan air mineral.

“Kamu baik-baik saja?”

Aku mengangguk.

“Masih ada yang belum kamu ceritakan kepadaku?”

Maya terdiam.

Aku menatapnya.

“Maya.”

Ia menghela napas.

“Ada satu hal.”

“Apa?”

“Kemarin malam, tim kami mendapatkan konfirmasi dari bank.”

Aku langsung tahu ini berkaitan dengan rekening.

Sejak dua bulan lalu, Maya menemukan bahwa pendapatan restoran tidak semuanya masuk ke rekening perusahaan yang kukenal.

Ada rekening lain.

Awalnya kupikir hanya rekening operasional.

Ternyata tidak.

“Berapa banyak?” tanyaku.

Maya menyebut sebuah angka.

Aku sampai tidak bisa langsung memahaminya.

“Empat belas miliar?”

“Sekitar itu.”

“Di mana?”

“Dua rekening berbeda. Salah satunya atas nama perusahaan konsultasi.”

“Perusahaan siapa?”

Maya menatapku.

“Adik Bram.”

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Karena tiba-tiba semua makan malam keluarga selama bertahun-tahun terasa seperti sandiwara.

Adik Bram selalu memanggilku Mbak Laras.

Setiap Lebaran ia membawa kue ke rumah.

Saat ibuku meninggal, ia memelukku sambil menangis.

Dan ternyata namanya dipakai untuk mengalirkan uang perusahaan yang kubangun.

“Apa Keisha tahu?”

“Kami belum tahu.”

Pintu ruang sidang dibuka kembali.

Ketika kami masuk, Bram tidak menatapku.

Namun Keisha menatapku terus.

Sidang dilanjutkan.

Hakim meminta klarifikasi mengenai dokumen dan kepemilikan awal usaha.

Maya kemudian memanggil saksi pertama.

Namanya Pak Wahyu.

Usianya enam puluh tiga tahun.

Dulu ia pemasok ikan dan hasil laut pertama Warung Pesisir Laras.

Aku hampir menangis ketika melihatnya berjalan masuk.

Terakhir kali bertemu, rambutnya masih lebih banyak hitam daripada putih.

“Apakah Saudara mengenal Ibu Laras?”

Pak Wahyu tersenyum kepadaku.

“Kenal.”

“Sejak kapan?”

“Sejak sebelum restoran itu punya papan nama.”

Beberapa orang menoleh.

Pak Wahyu melanjutkan.

“Dulu Bu Laras datang sendiri ke pasar jam tiga pagi. Naik motor. Kadang membawa keranjang terlalu berat.”

Ia tertawa kecil.

“Saya sering marahi dia karena nekat.”

Aku menunduk.

Kenangan itu kembali begitu jelas.

Tanganku bau ikan.

Celana basah karena air pasar.

Bram masih tidur ketika aku pergi.

Ketika aku pulang, ia baru membantu menyusun kursi.

Maya bertanya,

“Siapa yang melakukan pembayaran kepada Saudara?”

“Bu Laras.”

“Siapa yang melakukan negosiasi harga?”

“Bu Laras.”

“Siapa yang menentukan kualitas bahan?”

“Bu Laras.”

Bram akhirnya berkata,

“Dia istri saya. Normal kalau membantu.”

Pak Wahyu menoleh kepadanya.

“Pak Bram.”

Nada suaranya berubah.

“Saya sudah tua. Tapi saya belum pikun.”

Ruangan sunyi.

“Waktu restoran pertama hampir tutup karena tidak bisa bayar listrik, siapa yang menjual perhiasan?”

Ia menunjuk kepadaku.

“Dia.”

“Waktu Bapak pergi tiga minggu karena urusan keluarga, siapa yang tidur di ruko?”

Aku melihat wajah Bram menegang.

Pak Wahyu menjawab sendiri.

“Dia.”

Hakim mencatat sesuatu.

Kemudian datang saksi kedua.

Mantan chef eksekutif.

Ketiga.

Mantan manajer cabang.

Kesaksian mereka berbeda, tetapi memiliki pola yang sama.

Aku bukan sekadar istri yang sesekali membantu.

Aku melakukan perekrutan.

Membuat jadwal.

Mengatur pemasok.

Menguji menu.

Menangani keluhan.

Mengawasi keuangan harian.

Bahkan resep saus seafood yang menjadi menu terlaris Santoso Rasa berasal dari buku resep ibuku.

Bram tetap berusaha menyangkal.

Sampai Maya memanggil saksi keempat.

Namanya Rudi Hartono.

Teknisi dapur yang menangani kecelakaanku pada 2011.

Begitu melihatnya, wajah Bram langsung kehilangan warna.

Rudi berdiri di depan hakim.

Ia menjelaskan kerusakan katup.

Ia menjelaskan bahwa mesin telah menunjukkan masalah tekanan selama beberapa minggu.

Kemudian Maya bertanya,

“Apakah sebelum kecelakaan Saudara pernah menyarankan penggantian komponen?”

Rudi mengangguk.

“Tiga kali.”

“Kepada siapa?”

“Pak Bram.”

Bram langsung berdiri.

“Bohong!”

Hakim mengetuk meja keras.

“Saudara Bram!”

Rudi tidak bergeming.

“Saya punya salinan email.”

Maya mengeluarkan dokumen lain.

Aku memandang Bram.

Untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, aku mengetahui bahwa kecelakaanku sebenarnya bisa dicegah.

Maya membacakan ringkasannya.

Teknisi memperingatkan bahwa katup tekanan harus diganti.

Biayanya saat itu sekitar delapan juta rupiah.

Bram menolak.

Alasannya tertulis jelas.

“Tunda sampai bulan depan. Jangan keluarkan biaya besar sebelum pembukaan cabang baru.”

Tanganku mendadak dingin.

Dua tulang rusukku retak.

Lenganku terbakar.

Aku menjalani operasi.

Karena Bram tidak mau mengeluarkan delapan juta rupiah.

Aku menatapnya.

“Jadi kamu tahu?”

Bram tidak menjawab.

“Kamu tahu mesin itu berbahaya?”

“Laras…”

“Jawab aku.”

Hakim tidak menghentikanku.

Bram menunduk.

Dan diamnya menjadi jawaban paling menyakitkan yang pernah kuterima.

Selama bertahun-tahun aku percaya kecelakaan itu hanyalah nasib buruk.

Aku bahkan pernah menghibur Bram ketika ia menangis di samping tempat tidur rumah sakit.

Ternyata mungkin yang ia takutkan saat itu bukan kehilangan istrinya.

Melainkan takut rahasianya terbongkar.

Keisha berdiri.

“Aku mau keluar.”

Bram memegang pergelangan tangannya.

“Duduk.”

Keisha menarik tangannya.

“Jangan sentuh aku.”

Semua orang menoleh.

Bram berbisik marah.

“Kamu mempermalukanku.”

Keisha tertawa pendek.

“Aku?”

Matanya berkaca-kaca.

“Kamu bilang Laras tidak pernah membangun restoran itu.”

Bram tidak menjawab.

“Kamu bilang dia hanya menuntut uang karena cemburu.”

“Keisha, ini bukan waktunya.”

“Lalu kamu bilang semua aset sudah milikmu jauh sebelum kalian menikah.”

Kalimat itu membuat Maya menoleh cepat.

Begitu pula aku.

Bram membeku.

Maya bertanya,

“Maaf. Bisa Anda ulangi?”

Keisha menatap Bram.

Kemudian perlahan mengambil ponselnya dari tas.

“Dia mengatakan kepada saya semua restoran adalah warisan keluarganya.”

Bram bangkit.

“Keisha!”

Namun Keisha sudah berjalan ke depan.

“Aku punya pesan.”

Pengacara Bram menutup mata.

Keisha menyerahkan ponselnya kepada Maya.

Ada percakapan.

Foto dokumen.

Dan satu rekaman suara.

Dalam rekaman itu, Bram terdengar tertawa.

Suara yang sangat kukenal.

“Tenang saja. Laras tidak akan dapat apa-apa. Semua dokumen sudah kubereskan. Kalau perlu, tanda tangannya gampang.”

Tidak ada seorang pun bergerak.

Bram seperti berhenti bernapas.

Hakim meminta pintu ruang sidang ditutup.

Kemudian ia memerintahkan agar ponsel Keisha dan salinan dokumen terkait diamankan sebagai barang bukti untuk diteruskan sesuai prosedur.

Bram menatap Keisha dengan kebencian.

Keisha justru menangis.

“Aku tidak tahu,” katanya kepadaku.

Aku memperhatikannya beberapa detik.

Perempuan itu memang masuk ke dalam pernikahanku.

Aku tidak bisa memaafkan itu begitu saja.

Namun pada saat yang sama, aku sadar Bram telah berbohong kepada kami berdua dengan cara berbeda.

Sidang hari itu tidak menghasilkan putusan perceraian.

Hakim memerintahkan pemeriksaan lebih lanjut terhadap aset dan dokumen.

Beberapa rekening diminta untuk ditelusuri.

Maya kemudian mengajukan permohonan agar aset tertentu tidak dialihkan sampai sengketa selesai.

Tetapi kejutan terbesar datang dua minggu kemudian.

Bukan dari Bram.

Bukan dari Keisha.

Melainkan dari notaris tua bernama Pak Herman yang dulu membantu ibuku mengurus surat warisan.

Ia datang ke kantor Maya membawa sebuah amplop cokelat.

“Ada sesuatu yang dulu diminta Ibu Ratih untuk saya simpan.”

Ibu Ratih.

Ibuku.

Tanganku gemetar ketika membuka amplop itu.

Di dalamnya terdapat salinan akta lama dan sebuah surat tulisan tangan.

Aku mengenali tulisan ibuku seketika.

Laras,

kalau suatu hari warung ini menjadi besar, jangan pernah merasa bahwa kerja kerasmu lebih kecil hanya karena orang lain lebih pandai bicara.

Ayahmu meninggalkan tanah kecil itu untukmu. Aku menjual sebagian dan memasukkan hasilnya sebagai modal pertama usaha atas namamu.

Jangan serahkan seluruh kendali hanya karena kau mencintai seseorang.

Cinta yang sehat tidak memintamu menghilang agar orang lain terlihat besar.

Aku menangis sebelum selesai membaca.

Maya mengambil dokumen lain.

Kemudian ia terdiam.

“Ada apa?”

Ia menunjukkan satu bagian.

Ternyata modal awal restoran bukan hanya berasal dari perhiasan ibuku.

Ada dana dari penjualan sebidang tanah warisan ayahku yang dimasukkan langsung sebagai penyertaan modal atas namaku.

Dokumen itu dibuat sebelum aku menikah dengan Bram.

Artinya, klaim kepemilikan awalku jauh lebih kuat daripada yang selama ini kami bayangkan.

Beberapa bulan kemudian, setelah audit, pemeriksaan dokumen, dan proses hukum yang melelahkan, semuanya mulai terbuka.

Pengalihan aset.

Rekening tersembunyi.

Dokumen bermasalah.

Transaksi kepada perusahaan adik Bram.

Aku tidak mendapatkan seluruh perusahaan.

Aku juga tidak menginginkannya.

Tetapi pengadilan mengakui bagian kepemilikanku, hak atas aset perkawinan, serta kontribusi ekonomi yang selama bertahun-tahun sengaja dihapus dari cerita perusahaan.

Bram kehilangan kendali tunggal atas bisnis yang selama ini ia sebut sebagai kerajaan miliknya.

Keisha meninggalkannya bahkan sebelum proses perceraian selesai.

Namun bagian yang paling mengejutkan terjadi satu tahun kemudian.

Aku berdiri di depan restoran pertama kami.

Bangunannya sudah direnovasi.

Papan nama baru tergantung di atas pintu.

Bukan Santoso Rasa.

Aku mengembalikan nama lamanya.

Warung Pesisir Laras.

Di dapur, seorang karyawan muda melihat bekas luka di lenganku.

“Bu Laras,” katanya, “sakit sekali ya waktu itu?”

Aku melihat bekas luka tersebut.

Dulu aku selalu menutupinya.

Bram mengatakan luka itu membuatku terlihat kasar.

Tidak anggun.

Tidak cocok berdiri di depan pelanggan.

Aku tersenyum.

“Dulu sakit.”

“Sekarang?”

Aku menurunkan lengan bajuku, tetapi tidak menutup bekas luka itu.

“Sekarang tidak.”

Ia mengangguk, lalu kembali bekerja.

Aku berjalan ke ruang makan.

Di salah satu dinding terdapat foto restoran kami dua puluh dua tahun lalu.

Aku masih kurus.

Bram berdiri di sampingku.

Namun foto itu tidak kupotong.

Aku membiarkannya tetap utuh.

Karena menghapus Bram dari foto masa lalu hanya akan membuatku melakukan hal yang sama seperti yang pernah ia lakukan kepadaku.

Menghapus seseorang agar cerita terlihat lebih sederhana.

Aku tidak membutuhkan itu lagi.

Di bawah foto tersebut hanya ada satu kalimat kecil.

Tidak ada usaha besar yang dibangun oleh satu orang saja.

Aku berdiri beberapa saat di sana.

Lalu seorang pemasok datang membawa karung beras.

Refleks, aku ikut mengangkat salah satunya.

Karyawan langsung berlari.

“Bu, biar kami saja.”

Aku tertawa.

“Kenapa?”

“Berat.”

Aku memindahkan karung itu ke bahuku.

Bekas luka di tanganku terlihat jelas.

“Dua puluh dua tahun lalu ada seseorang yang bilang aku cuma kuli gratis.”

Mereka saling memandang.

Aku tersenyum sambil membawa karung itu menuju dapur.

“Sekarang setidaknya aku kuli yang tahu siapa pemilik restorannya.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang