Rendra masih menatap tempat dupa itu dengan wajah pucat. Ia berusaha mempertahankan sikap tenangnya, tetapi jemarinya yang menggenggam buku catatan terlihat gemetar.
“Itu cuma kebetulan,” katanya sekali lagi. “Asap bisa membentuk apa saja kalau kita sudah lebih dulu membayangkan bentuk tertentu.”
Nadira tidak membantah.
Ia justru mematikan sisa bara dupa, lalu mendekati meja jenazah.

“Dok, waktu korban ditemukan, apakah ada bekas cincin di jari manis tangan kanannya?”
Rendra terdiam.
Kompol Bagas langsung menoleh kepadanya.
“Ada atau tidak?”
Rendra membuka berkas lama yang tersimpan di lemari. Ia membalik beberapa halaman sebelum berhenti pada foto dokumentasi jenazah.
“Ada,” jawabnya akhirnya. “Bekas tekanan melingkar. Tapi cincinnya tidak ditemukan.”
“Kenapa tidak masuk sebagai petunjuk utama?”
“Karena bekas seperti itu tidak cukup untuk mengidentifikasi seseorang.”
Nadira memperhatikan foto tersebut.
“Kalau cincin itu biasa, mungkin benar. Tapi perempuan tadi menunjukkan bentuk cincin yang besar dan berukir.”
Rendra mendengus, meski kali ini tidak sekeras sebelumnya.
“Kita tidak bisa membuat laporan penyidikan berdasarkan apa yang kamu sebut perempuan tadi.”
“Saya juga tidak meminta itu.”
Nadira mengangkat wajah.
“Saya hanya meminta kita memeriksa kembali bukti yang sudah ada.”
Kalimat itu membuat Rendra terdiam.
Malam itu, seluruh dokumentasi kasus lama dibawa kembali ke ruang rapat.
Korban ditemukan tiga tahun sebelumnya oleh seorang pemulung di tepi Kali Pesanggrahan. Tubuhnya dibungkus terpal abu-abu. Kepala tidak pernah ditemukan. Tidak ada identitas, telepon, perhiasan, atau barang pribadi.
Pemeriksaan memperkirakan korban perempuan berusia antara dua puluh delapan hingga tiga puluh lima tahun.
Penyebab kematian adalah luka benda tajam pada bagian leher.
Tidak ada kecocokan DNA yang membantu identifikasi.
Kasus akhirnya membeku.
Nadira membaca setiap halaman tanpa bicara.
Hampir dua jam kemudian, ia berhenti pada sebuah foto.
“Perbesar ini.”
Seorang penyidik muda bernama Arif mendekat.
Foto itu memperlihatkan tangan kanan korban.
Di jari manis terdapat bekas pucat melingkar.
“Bekas cincin,” kata Arif.
“Bukan itu.”
Nadira menunjuk bagian kecil di sisi jari.
“Ada luka lama.”
Rendra memasang kacamatanya dan mendekat.
Benar.
Terdapat bekas luka tipis berbentuk setengah bulan.
“Gesekan benda keras,” gumamnya.
“Atau cincin dengan bagian tertentu yang menonjol,” kata Nadira.
Kompol Bagas segera memahami maksudnya.
“Kalau kita tahu bentuk cincin itu, kita mungkin bisa mencari pembuatnya.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Rendra tidak mengejek.
Tim kemudian menelusuri toko perhiasan dan pengrajin cincin di Jakarta berdasarkan perkiraan bentuk yang Nadira gambarkan dari gerakan bayangan perempuan tersebut.
Lingkaran besar.
Ukiran menyerupai bunga dengan empat kelopak.
Bagian tengah menonjol.
Pencarian berlangsung hampir dua hari tanpa hasil.
Sampai Arif menemukan sebuah foto lama dari akun media sosial sebuah toko perhiasan di kawasan Blok M.
Foto itu diunggah hampir enam tahun lalu.
Sebuah cincin emas putih dengan batu safir oval, dikelilingi empat ukiran menyerupai kelopak.
Di bawah foto tertulis bahwa cincin tersebut merupakan pesanan khusus dan hanya dibuat satu buah.
Kompol Bagas langsung meminta data pemesan.
Pemilik toko yang sudah lanjut usia masih menyimpan buku transaksi lama.
Nama pembelinya adalah Adrian Wibowo.
Alamat pengiriman berada di sebuah kompleks perumahan mewah di Kebayoran Lama.
Namun yang membuat ruangan kembali sunyi adalah tulisan tangan kecil pada kolom keterangan.
Hadiah ulang tahun pernikahan untuk Maya.
“Maya siapa?” tanya Bagas.
Pencarian dilakukan.
Dalam waktu kurang dari satu jam, mereka menemukan Maya Kirana Wibowo.
Perempuan tiga puluh dua tahun.
Istri Adrian Wibowo.
Dilaporkan hilang tepat tiga tahun lalu.
Semua orang saling menatap.
“Kenapa laporan orang hilang ini tidak pernah dikaitkan dengan korban?” tanya Bagas.
Arif membaca berkas digital.
“Laporannya dicabut tiga minggu setelah dibuat.”
“Oleh siapa?”
“Suaminya.”
Rendra yang sejak tadi berdiri di belakang meja perlahan mengangkat kepala.
“Apa alasannya?”
Arif menelan ludah.
“Katanya istrinya sudah menghubungi keluarga dan memilih pergi ke luar negeri bersama pria lain.”
Nadira menutup berkas.
“Dan karena keluarga percaya, pencarian berhenti.”
Keesokan paginya, Adrian Wibowo dipanggil ke Polres.
Ia datang mengenakan kemeja mahal dan jam tangan mewah. Sikapnya tenang, bahkan ketika foto jenazah tanpa kepala diletakkan di hadapannya.
“Saya tidak tahu siapa perempuan ini.”
Bagas kemudian meletakkan foto cincin.
Wajah Adrian berubah sepersekian detik.
Cukup singkat.
Namun Nadira melihatnya.
“Itu cincin istri Anda?” tanyanya.
“Banyak cincin seperti itu.”
“Yang ini dibuat khusus satu buah.”
Adrian diam.
Bagas mendorong buku transaksi toko perhiasan ke hadapannya.
Nama Adrian tertera jelas.
Ia menarik napas.
“Baik. Saya pernah membelikan Maya cincin seperti itu. Tapi itu tidak membuktikan jasad tersebut adalah Maya.”
“Di mana istri Anda sekarang?”
“Saya tidak tahu.”
“Anda mencabut laporan orang hilang.”
“Karena dia menghubungi saya.”
“Dari nomor mana?”
Adrian tersenyum tipis.
“Itu tiga tahun lalu. Saya tidak ingat.”
Nadira yang sejak tadi duduk di sudut ruangan akhirnya bicara.
“Pak Adrian, kenapa cincin Maya tidak ikut pergi bersamanya?”
Tatapan Adrian berpindah kepadanya.
“Apa maksud Anda?”
“Cincin itu dilepas dari jarinya setelah dia meninggal.”
Adrian tertawa pendek.
“Anda menuduh saya?”
“Tidak.”
Nadira menatap lurus ke matanya.
“Saya sedang bertanya di mana cincinnya.”
Senyum Adrian perlahan hilang.
Ia berdiri.
“Kalau tidak ada bukti resmi, saya ingin pulang.”
Polisi tidak bisa menahannya.
Belum.
Malam itu, Nadira meminta melihat terpal yang digunakan untuk membungkus korban.
Terpal tersebut masih tersimpan sebagai barang bukti.
Ia tidak membawa dupa kali ini.
Ia hanya memeriksa lipatan-lipatannya.
Rendra berdiri di sampingnya.
“Kamu tidak akan membakar sesuatu?”
Nadira tersenyum tipis.
“Tidak semua jawaban membutuhkan dupa, Dok.”
Ia mengarahkan senter ke sudut terpal.
Ada butiran kecil berwarna putih yang hampir menyatu dengan permukaan plastik.
Rendra mengambil sampel.
Hasil laboratorium keluar keesokan harinya.
Debu marmer.
Lebih spesifik lagi, campuran serpihan marmer putih dengan resin tertentu yang umum digunakan dalam proses pemolesan batu dekoratif.
Tim memeriksa riwayat bisnis Adrian.
Tiga tahun lalu, keluarganya memiliki perusahaan interior yang menyimpan material marmer di sebuah gudang tua di Ciledug.
Gudang itu sudah lama tidak digunakan.
Penggeledahan dilakukan sore itu.
Bangunannya berdebu dan hampir kosong.
Namun anjing pelacak menunjukkan respons kuat di dekat saluran pembuangan lama di belakang bangunan.
Tim membongkar bagian beton.
Di bawahnya ditemukan sesuatu yang membuat seluruh penyidik terdiam.
Sebuah kantong plastik hitam berisi rambut panjang, beberapa fragmen tulang, dan sebuah gigi.
Tes DNA dilakukan.
Hasilnya cocok dengan DNA jasad tanpa identitas.
Korban akhirnya memiliki nama.
Maya Kirana Wibowo.
Tetapi satu pertanyaan besar masih tersisa.
Apakah Adrian pembunuhnya?
Polisi menggeledah rumah Adrian.
Tidak ditemukan senjata.
Tidak ditemukan cincin.
Tidak ditemukan pakaian korban.
Adrian tetap menyangkal.
“Saya memang pernah ke gudang itu bersama Maya,” katanya saat pemeriksaan kedua. “Banyak orang punya akses ke sana. Kalian tidak bisa menuduh saya hanya karena sisa tubuh istri saya ditemukan di properti keluarga.”
Bagas mengepalkan rahang.
Secara hukum, Adrian benar.
Mereka membutuhkan bukti yang menghubungkannya langsung dengan pembunuhan.
Malam berikutnya Nadira kembali ke ruang penyimpanan jenazah.
Kali ini hanya Bagas dan Rendra yang menemaninya.
Ia menyalakan tiga batang dupa.
Asap kembali naik.
Namun tidak ada bayangan perempuan.
Yang terjadi justru berbeda.
Asap bergerak ke arah pintu.
Nadira mengikuti.
Asap tipis itu seperti ditarik oleh aliran udara menuju ruang forensik lama.
Di sana terdapat puluhan kotak barang bukti dari berbagai kasus.
Asap berhenti di depan sebuah lemari besi kecil.
Rendra mengernyit.
“Itu tempat penyimpanan barang bukti lama.”
Nadira menatapnya.
“Kasus Maya?”
“Tidak ada barang pribadinya.”
Rendra membuka daftar.
Kemudian wajahnya berubah.
“Ada satu.”
Sebuah kantong barang bukti dikeluarkan.
Isinya potongan kecil kain berwarna hitam yang ditemukan tersangkut di kuku korban.
Tiga tahun lalu, hasil pemeriksaan hanya menyimpulkan kain tersebut berasal dari bahan sintetis yang umum digunakan pada pakaian.
Nadira menatap Rendra.
“Teknologi tiga tahun lalu berbeda dengan sekarang.”
Rendra langsung mengerti.
Sampel diperiksa ulang.
Laboratorium menemukan sesuatu yang sebelumnya terlewat.
Partikel mikroskopis logam pada serat kain.
Paduan titanium dan nikel.
Bahan yang tidak lazim terdapat pada pakaian biasa.
Arif kemudian menemukan foto Adrian pada malam sebelum Maya dilaporkan hilang.
Foto itu berasal dari acara perusahaan.
Adrian mengenakan jas hitam dengan sebuah pin logam khusus di bagian dada.
Pin penghargaan perusahaan.
Terbuat dari paduan titanium dan nikel.
Tetapi itu masih belum cukup.
Sampai penyidik memperbesar foto tersebut.
Salah satu sisi jas Adrian terlihat robek kecil tepat di dekat pin.
Potongan kain dari kuku Maya cocok dengan bahan jas tersebut.
Surat penangkapan segera diterbitkan.
Namun ketika polisi mendatangi rumahnya, Adrian sudah pergi.
Teleponnya mati.
Mobilnya ditemukan di parkiran sebuah apartemen.
Selama hampir enam jam, tim mencari keberadaannya.
Kemudian Nadira menerima pesan dari nomor tidak dikenal.
Kalau kamu ingin tahu kebenaran tentang Maya, datang sendiri ke gudang lama. Jangan bawa polisi.
Nadira menunjukkan pesan itu kepada Bagas.
“Kamu tidak pergi,” kata Bagas tegas.
“Saya harus pergi.”
“Ini jelas jebakan.”
“Karena itu Bapak akan mengikuti saya.”
Malam itu Nadira masuk ke gudang sendirian sementara tim kepolisian mengepung lokasi dari kejauhan.
Adrian berdiri di tengah ruangan.
Di tangannya ada sebuah kotak kecil.
“Kamu membuat semuanya berantakan,” katanya.
“Bukan saya. Maya.”
Wajah Adrian menegang.
“Orang mati tidak bisa melakukan apa-apa.”
Nadira menatap kotak di tangannya.
“Kalau begitu kenapa Anda masih menyimpan cincinnya?”
Adrian membeku.
Ia membuka kotak itu.
Cincin safir Maya berada di dalamnya.
“Saya mencintainya,” katanya lirih.
“Orang yang mencintai tidak memenggal kepala istrinya.”
“Saya tidak membunuh Maya!”
Teriakannya menggema di gudang.
Nadira terdiam.
Ada sesuatu dalam nada suaranya.
Bukan sekadar penyangkalan.
Ketakutan.
“Kalau bukan Anda, siapa?”
Adrian menatap ke belakang Nadira.
Wajahnya mendadak pucat.
“Dia.”
Nadira berbalik.
Seseorang berdiri di pintu gudang.
Rendra.
Dokter forensik itu memegang sebuah pistol.
Bagas dan tim belum bergerak karena mereka tidak mengetahui Rendra berada di dalam.
Nadira menatapnya tanpa berkedip.
“Jadi Anda yang mengirim pesan itu?”
Rendra tersenyum dingin.
“Adrian terlalu pengecut untuk melakukan semuanya sendiri.”
Adrian berteriak.
“Kamu bilang cuma mau membuat Maya diam!”
Rendra mengangkat pistol.
Tiga tahun lalu, Maya ternyata mengetahui praktik ilegal yang dilakukan Adrian dan Rendra. Adrian menggunakan perusahaan keluarganya untuk memalsukan sejumlah dokumen pengadaan alat medis, sementara Rendra membantu memanipulasi laporan pemeriksaan kesehatan untuk menutupi transaksi.
Maya mengancam akan melapor.
Adrian membawanya ke gudang untuk membujuknya.
Pertengkaran terjadi.
Namun Rendra yang datang kemudian kehilangan kendali dan membunuh Maya.
Adrian panik.
Ia membantu menghilangkan bukti.
Kepala Maya dipisahkan untuk mempersulit identifikasi melalui rekonstruksi wajah dan pemeriksaan gigi.
“Selama tiga tahun kasus itu ada tepat di depan meja saya,” kata Rendra. “Saya sendiri yang memastikan setiap petunjuk penting terlihat tidak berarti.”
Nadira akhirnya memahami semuanya.
Itulah sebabnya kasus tersebut tidak pernah terpecahkan.
Bukan karena polisi tidak memiliki petunjuk.
Melainkan karena orang yang dipercaya membaca petunjuk itu adalah orang yang sengaja mengaburkannya.
“Dan sekarang,” kata Rendra sambil mengarahkan pistol kepada Nadira, “semuanya harus berakhir.”
Tiba-tiba Adrian menerjangnya.
Suara tembakan meledak.
Nadira menjatuhkan diri.
Beberapa detik kemudian pintu gudang didobrak.
Bagas dan tim masuk.
Rendra berhasil dilumpuhkan.
Peluru hanya menyerempet bahu Adrian.
Di tengah kekacauan itu, Nadira melihat cincin Maya tergeletak di lantai.
Ia mengambilnya.
Beberapa minggu kemudian, Adrian ditetapkan sebagai tersangka karena membantu menghilangkan jenazah dan menutupi pembunuhan. Rendra menghadapi dakwaan yang jauh lebih berat atas pembunuhan dan manipulasi barang bukti.
Kasus yang membeku selama tiga tahun akhirnya ditutup.
Suatu sore, Bagas menemukan Nadira berdiri sendirian di halaman belakang Polres.
Rendra sedang dibawa menuju kendaraan tahanan.
Saat melewati Nadira, ia berhenti.
Wajahnya terlihat lelah.
Ia menatap perempuan muda yang dahulu disebutnya hanya datang untuk mencari ketenaran.
Kemudian, di depan para penyidik yang berkumpul, Rendra menundukkan kepala.
“Saya pernah berjanji.”
Nadira diam.
Rendra menarik napas.
“Guru Besar.”
Beberapa anggota polisi saling berpandangan.
Tidak ada yang tertawa.
Nadira hanya tersenyum tipis.
Setelah kendaraan tahanan pergi, Bagas mendekatinya.
“Saya masih tidak mengerti satu hal.”
“Apa?”
“Tiga batang dupa itu. Apa sebenarnya yang kamu lihat?”
Nadira memandang kotak kayu kecil di tangannya.
Lalu ia menyerahkannya kepada Bagas.
“Silakan buka.”
Bagas membukanya.
Di dalamnya hanya terdapat dupa herbal biasa.
Ia menatap Nadira kebingungan.
“Jadi?”
Nadira tersenyum.
“Dupa tidak pernah memberi saya nama pelaku.”
“Lalu bayangan Maya?”
“Saya juga tidak punya penjelasan untuk itu.”
Bagas semakin bingung.
Nadira memandang gedung forensik di belakang mereka.
“Tapi sejak awal, Maya tidak menunjuk Adrian.”
Bagas terdiam.
“Dia menunjuk cincin.”
Nadira melanjutkan dengan suara pelan.
“Cincin membawa kita kepada identitasnya. Identitas membawa kita kepada gudang. Gudang membawa kita kepada bukti. Dan bukti membawa kita kepada orang yang selama tiga tahun berusaha menyembunyikannya.”
Bagas menatap tiga batang dupa yang tersisa di dalam kotak.
“Jadi selama ini kamu hanya mengikuti petunjuk?”
Nadira mengangguk.
“Orang terlalu sibuk bertanya apakah sesuatu itu mistis atau ilmiah sampai lupa bahwa tugas penyidik bukan mempercayai semuanya.”
Ia menutup kotak itu.
“Tugas kita adalah memeriksa semuanya.”
Nadira berjalan meninggalkan halaman Polres.
Namun baru beberapa langkah, ia berhenti.
Di kaca jendela ruang forensik, tampak pantulan seorang perempuan berdiri di belakangnya.
Kali ini perempuan itu memiliki kepala.
Wajahnya tenang.
Di jari manis tangan kanannya, tidak ada lagi cincin.
Maya tersenyum.
Hanya sesaat.
Kemudian pantulan itu menghilang.
Nadira tidak menoleh.
Ia hanya tersenyum kecil dan melanjutkan langkahnya.
Tiga tahun lamanya Maya tidak membutuhkan seseorang yang percaya pada hantu.
Ia hanya membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan petunjuk yang selama ini diabaikan.
