Baru-baru ini, aku terus-menerus mencium bau busuk yang tidak dapat dijelaskan berasal dari bagian bawah tubuh suamiku. Meskipun aku sudah mengganti seprai sampai tujuh kali, mencuci bersih bantal dan kasur, bahkan menggunakan minyak esensial untuk menghilangkan bau, aroma aneh itu tetap tidak mau hilang. Sebaliknya, baunya justru semakin kuat.

Yang pertama kulihat adalah sehelai kain berwarna krem yang sudah dipenuhi bercak kecokelatan.

Aku menahannya dengan ujung jari, lalu menarik perlahan.

Seketika sebuah kantong plastik hitam muncul dari sela-sela busa kasur.

Plastik itu dililit lakban berkali-kali, tetapi salah satu sisinya telah robek. Dari celah kecil itulah cairan keruh merembes ke dalam busa dan mengeluarkan bau yang selama berbulan-bulan membuatku hampir gila.

Tanganku gemetar hebat.

Aku ingin mundur.

Namun rasa takut yang kurasakan saat itu kalah oleh keinginanku mengetahui apa yang sebenarnya disembunyikan Ardi.

Dengan napas tertahan, aku mengambil gunting dari meja rias dan memotong lakban tersebut.

Begitu plastik terbuka, aku langsung menutup mulut.

Di dalamnya ada beberapa potong pakaian perempuan yang sudah lembap dan berjamur.

Sebuah blus putih.

Celana panjang hitam.

Sepasang kaus kaki.

Dan sebuah syal tipis berwarna biru muda.

Aku mengenal syal itu.

Aku pernah melihatnya.

Tetapi di mana?

Aku menatap benda tersebut cukup lama sampai sebuah ingatan tiba-tiba menghantam kepalaku.

Tiga bulan sebelumnya, Ardi pernah pulang larut malam dengan wajah pucat. Saat itu aku melihat sepotong kain biru keluar dari tas kerjanya.

Ketika kutanya milik siapa, ia langsung memasukkannya kembali.

“Punya rekan kantor. Salah masuk tas.”

Aku tidak memikirkannya lagi.

Sekarang syal yang sama berada di dalam kasur kami.

Di bawah pakaian itu terdapat sebuah dompet wanita.

Tanganku semakin dingin.

Di dalam dompet ada sedikit uang tunai, beberapa kartu, dan kartu identitas.

Nama yang tercetak di sana adalah Nabila Rahmawati.

Usianya tiga puluh dua tahun.

Alamatnya di Bandung.

Aku tidak mengenal nama itu.

Setidaknya, kupikir begitu.

Sampai aku melihat foto di kartu identitasnya.

Dadaku langsung terasa sesak.

Perempuan itu pernah kulihat berdiri bersama Ardi di sebuah foto acara kantor tahun lalu.

Ia mengenakan gaun hitam dan berdiri hanya beberapa langkah dari suamiku.

Aku pernah bertanya siapa dia.

Ardi mengatakan perempuan itu karyawan dari cabang Bandung.

Aku merogoh plastik sekali lagi.

Di bagian paling bawah terdapat sebuah ponsel yang layarnya sudah retak.

Ponsel itu mati.

Aku mencoba menyalakannya, tetapi tidak ada reaksi.

Lalu sebuah benda kecil jatuh ke lantai.

Kartu memori.

Saat itulah aku sadar.

Aku tidak sedang menemukan sekadar bukti perselingkuhan.

Ada sesuatu yang jauh lebih besar.

Aku segera mengambil laptop dan memasukkan kartu memori menggunakan adaptor.

Puluhan folder muncul.

Sebagian besar berisi foto.

Foto Ardi bersama Nabila.

Makan malam.

Di mobil.

Di hotel.

Di sebuah vila.

Tanganku mulai menggigil.

Jadi selama ini Ardi memang berselingkuh.

Aku merasa sakit, tetapi anehnya bukan itu yang paling membuatku takut.

Karena folder terakhir diberi nama dengan tanggal empat bulan lalu.

Tanggal yang sangat kuingat.

Hari ketika Ardi pulang pukul tiga pagi dengan alasan penerbangannya terlambat.

Aku membuka folder itu.

Hanya ada satu rekaman video.

Durasi dua menit tujuh belas detik.

Aku menekan tombol putar.

Gambar berguncang, seperti direkam secara diam-diam.

Suara seorang perempuan terdengar.

“Kalau kamu tidak mau mengaku kepada istrimu, aku sendiri yang akan datang menemuinya.”

Itu suara Nabila.

Kemudian terdengar suara Ardi.

“Nabila, jangan mulai lagi.”

“Aku hamil, Ardi.”

Aku membeku.

“Sudah dua bulan. Kamu bilang setelah proyek selesai kamu akan bicara dengan istrimu.”

“Pelankan suaramu.”

“Aku capek bersembunyi.”

Gambar bergerak. Kamera tampaknya disimpan di dalam tas atau saku.

Lalu suara Ardi berubah.

Dingin.

Sangat dingin.

“Sudah kubilang jangan bawa masalah ini ke rumahku.”

“Aku tidak akan diam.”

“Kalau Ratih sampai tahu, semuanya selesai.”

Namaku Ratih.

Saat mendengar namaku disebut, bulu kudukku berdiri.

Kemudian terdengar suara sesuatu jatuh.

Nabila berteriak pendek.

Rekaman berhenti.

Aku menatap layar laptop tanpa mampu bergerak.

Jantungku seperti menghantam tulang rusuk.

Aku langsung mencari nama Nabila di internet.

Hasil pertama yang muncul membuat seluruh tubuhku lemas.

“Perempuan asal Bandung dilaporkan hilang setelah perjalanan kerja ke Jakarta.”

Beritanya terbit empat bulan lalu.

Foto Nabila terpampang jelas.

Keluarganya mengatakan ia terakhir kali menghubungi adiknya setelah bertemu seseorang.

Mobilnya ditemukan di area parkir sebuah pusat perbelanjaan.

Sejak saat itu, jejaknya hilang.

Aku hampir menjatuhkan laptop.

Tidak.

Tidak mungkin.

Aku buru-buru menutup semua benda itu dan mundur dari kasur.

Pikiranku berputar-putar.

Kenapa barang milik perempuan hilang disembunyikan di kamar kami?

Kenapa di dalam kasur?

Dan kenapa Ardi begitu marah setiap kali aku mencoba membersihkan tempat tidurnya?

Tiba-tiba ponselku berdering.

Nama Ardi muncul di layar.

Aku tersentak.

Aku tidak langsung mengangkatnya.

Panggilan berhenti.

Lalu masuk lagi.

Kali ini kujawab.

“Halo?”

Suara Ardi terdengar biasa.

“Kamu di rumah?”

“Iya.”

“Sedang apa?”

Aku menatap kasur yang terbuka di lantai.

“Beres-beres.”

Hening.

Hanya dua detik.

Namun cukup untuk membuat tengkukku dingin.

“Beres-beres apa?”

“Rumah saja.”

“Jangan sentuh kamar.”

Nada suaranya berubah.

“Aku sudah bilang sebelumnya, kan?”

Aku berusaha terdengar santai.

“Kenapa memangnya?”

“Ratih.”

Ia menyebut namaku perlahan.

“Aku tanya sekali lagi. Kamu sedang apa?”

Aku langsung mematikan telepon.

Tanganku berkeringat.

Beberapa detik kemudian sebuah pesan masuk.

Aku pulang malam ini.

Aku langsung mengambil dompet, kartu identitas Nabila, kartu memori, dan ponsel rusak itu. Semua kumasukkan ke dalam tas.

Aku harus keluar dari rumah.

Namun baru saja mencapai ruang tamu, aku teringat kamera CCTV di depan rumah.

Ardi bisa melihatku pergi.

Aku bergegas mematikan jaringan internet rumah.

Kemudian aku menelepon sahabatku, Siska.

Begitu ia mengangkat, aku hanya berkata, “Sis, aku butuh bantuan. Sekarang.”

“Ada apa?”

“Aku tidak bisa jelaskan lewat telepon.”

Nada suaraku membuatnya berhenti bertanya.

“Aku ke sana.”

Dua puluh menit kemudian Siska tiba.

Ketika melihat kasur yang sudah kubelah dan barang-barang yang kutemukan, wajahnya langsung pucat.

“Kita harus lapor polisi.”

“Aku takut salah.”

“Ratih, ini barang milik orang hilang.”

“Tapi kalau Ardi cuma menyimpannya?”

Siska menatapku tajam.

“Orang normal tidak menyembunyikan pakaian orang hilang di dalam kasur.”

Kalimat itu menyadarkanku.

Kami segera menuju kantor polisi.

Aku menyerahkan kartu identitas, ponsel, pakaian, serta kartu memori.

Petugas yang menerima laporan awalnya terlihat skeptis. Namun setelah melihat identitas Nabila dan mencocokkannya dengan laporan orang hilang, suasana langsung berubah.

Dua penyidik dipanggil.

Aku diminta menceritakan semuanya dari awal.

Kurang dari satu jam kemudian, beberapa petugas menuju rumahku.

Aku ikut bersama mereka.

Saat kami sampai, sebuah mobil sudah terparkir di depan pagar.

Mobil Ardi.

Darahku terasa turun ke kaki.

Ia sudah pulang.

Pintu rumah terbuka.

Kasur di kamar telah kembali ditutup dengan seprai.

Sayatannya tersembunyi di bawah sisi yang dibalik.

Dan barang-barang yang sebelumnya tertinggal di sana sudah hilang.

Ardi keluar dari kamar sambil menatapku.

Lalu tatapannya bergeser kepada polisi di belakangku.

Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan.

Justru terlalu tenang.

“Ratih,” katanya pelan. “Apa yang kamu lakukan?”

Aku tidak menjawab.

Seorang penyidik maju.

“Pak Ardi Prasetyo?”

“Iya.”

“Kami perlu meminta keterangan terkait hilangnya Nabila Rahmawati.”

Untuk pertama kalinya, wajah Ardi berubah.

Hanya sedikit.

Tetapi aku melihatnya.

Ketakutan.

“Aku tidak tahu apa-apa.”

Petugas kemudian menggeledah rumah.

Aku berdiri di ruang tamu ditemani Siska ketika salah satu petugas memanggil penyidik dari garasi.

Mereka menemukan sebuah koper besar di plafon ruang penyimpanan.

Di dalamnya ada dokumen perusahaan, dua ponsel, beberapa kartu SIM, obat tidur, dan sejumlah kuitansi hotel.

Namun yang paling mengejutkan adalah sebuah buku catatan milik Nabila.

Di halaman terakhir tertulis:

Jika sesuatu terjadi padaku, cari Ratih. Dia juga korban Ardi, hanya saja dia belum mengetahuinya.

Aku menangis ketika membaca kalimat itu.

Nabila tahu tentangku.

Bahkan mungkin ia pernah berusaha memperingatkanku.

Penyidikan berlangsung berhari-hari.

Sedikit demi sedikit, kebenaran mulai terungkap.

Ardi dan Nabila memang memiliki hubungan selama hampir dua tahun.

Namun perselingkuhan ternyata bukan akar masalah sebenarnya.

Nabila bekerja di bagian audit internal perusahaan.

Ia menemukan bahwa Ardi selama bertahun-tahun memalsukan sejumlah transaksi dan mengalihkan dana perusahaan melalui rekening perusahaan fiktif.

Nilainya miliaran rupiah.

Ketika Nabila mengetahui semuanya, Ardi mencoba membujuknya agar diam.

Hubungan mereka kemudian berubah menjadi alat kendali.

Ardi membuat Nabila merasa terikat secara emosional sambil terus menunda janji untuk meninggalkanku.

Saat Nabila hamil, ia akhirnya memutuskan untuk mengungkap semuanya.

Pada malam ia menghilang, mereka bertengkar di sebuah vila di Puncak.

Ardi mengaku Nabila meninggalkannya dalam keadaan marah.

Namun rekaman kamera jalan menunjukkan mobil Ardi keluar dari vila hampir pukul dua pagi.

Dan data ponselnya menempatkannya di sebuah kawasan perkebunan sekitar tiga puluh kilometer dari sana.

Polisi melakukan pencarian.

Tiga hari kemudian, mereka menemukan tas dan beberapa barang milik Nabila di tepi sungai.

Tetapi tidak menemukan tubuhnya.

Ardi kemudian ditahan bukan hanya atas dugaan keterlibatan dalam hilangnya Nabila, tetapi juga kasus penggelapan dana perusahaan.

Aku mengira mimpi buruk itu akhirnya selesai.

Ternyata belum.

Seminggu setelah penahanan Ardi, seorang perempuan datang ke rumahku.

Usianya sekitar enam puluh tahun.

Ia memperkenalkan dirinya sebagai ibu Nabila.

Aku hampir tidak sanggup menatap matanya.

“Saya minta maaf,” kataku sambil menangis. “Saya benar-benar tidak tahu.”

Ia menggenggam tanganku.

“Saya tidak datang untuk menyalahkan kamu.”

Lalu ia mengeluarkan sebuah amplop.

“Nabila menitipkan ini kepada adiknya dua minggu sebelum hilang. Katanya kalau terjadi sesuatu, surat ini harus diberikan kepada kamu.”

Tanganku gemetar ketika membuka amplop itu.

Tulisan tangan memenuhi dua lembar kertas.

Ratih, maafkan aku karena masuk ke dalam rumah tanggamu. Tidak ada alasan yang bisa membenarkan apa yang kulakukan. Awalnya aku percaya Ardi ketika ia mengatakan kalian sebenarnya sudah lama berpisah secara emosional dan hanya tinggal bersama demi keluarga. Aku bodoh karena mempercayainya.

Tetapi kemudian aku menemukan sesuatu yang membuatku sadar bahwa bukan hanya aku yang sedang dibohongi.

Aku berhenti membaca.

Napas terasa berat.

Aku melanjutkan.

Ardi tidak menikahimu karena cinta.

Namamu digunakan untuk mendirikan salah satu perusahaan yang selama ini dipakainya memindahkan uang.

Aku langsung menatap ibu Nabila.

“Apa maksudnya?”

Beliau menggeleng.

“Saya juga baru tahu.”

Aku kembali membaca.

Periksa dokumen lama yang pernah ia suruh kamu tanda tangani setelah kalian menikah. Jangan percaya ketika ia mengatakan itu hanya dokumen asuransi atau investasi keluarga.

Aku teringat sesuatu.

Tujuh tahun lalu, Ardi pernah memberiku setumpuk dokumen untuk ditandatangani.

Ia mengatakan dokumen itu berkaitan dengan program investasi perusahaan.

Aku bahkan tidak membacanya.

Aku percaya kepada suamiku.

Dengan bantuan penyidik, dokumen tersebut dilacak.

Dan pada saat itulah aku mengetahui pengkhianatan terbesar dalam sembilan tahun pernikahanku.

Namaku tercatat sebagai salah satu pemilik perusahaan cangkang yang digunakan Ardi menerima aliran uang ilegal.

Secara hukum, aku bisa ikut terseret.

Tetapi catatan Nabila, pesan-pesan di ponselnya, dan sejumlah email membuktikan bahwa aku tidak mengetahui apa pun.

Justru Nabila telah mengumpulkan bukti untuk melindungiku sebelum ia menghilang.

Perempuan yang selama berbulan-bulan kupikir sebagai perebut suamiku ternyata menjadi orang yang menyelamatkanku dari kehancuran.

Enam bulan berlalu.

Ardi akhirnya diadili.

Dalam persidangan, muncul satu fakta terakhir yang tidak pernah kami duga.

Nabila ternyata masih hidup.

Pada malam pertengkaran itu, ia berhasil melarikan diri setelah Ardi mendorongnya hingga jatuh dan berusaha merebut ponselnya.

Ia pergi ke rumah seorang kerabat di Jawa Tengah dan sengaja memutus seluruh komunikasi karena takut Ardi akan menemukannya.

Tasnya di sungai sengaja dibuang untuk membuat Ardi percaya bahwa ia mungkin sudah meninggal.

Nabila baru berani muncul setelah melihat berita penangkapan Ardi.

Ketika aku bertemu dengannya untuk pertama kali di kantor penyidik, kami hanya berdiri saling menatap.

Tidak ada kata-kata yang terasa cukup.

Ia terlihat lebih kurus.

Perutnya mulai membesar.

“Aku minta maaf,” katanya akhirnya.

Aku tidak tahu apa yang harus kurasakan.

Marah masih ada.

Luka juga masih ada.

Namun di hadapanku berdiri seorang perempuan yang juga telah dimanipulasi oleh laki-laki yang sama.

“Aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkan semuanya sekarang,” jawabku.

Nabila mengangguk sambil menahan air mata.

“Aku mengerti.”

“Tapi terima kasih karena sudah meninggalkan bukti untukku.”

Ia menangis.

Aku pun menangis.

Kami tidak berpelukan.

Tidak ada rekonsiliasi dramatis seperti dalam film.

Kami hanya duduk di dua kursi berbeda dan memahami satu hal yang sama.

Kami sama-sama pernah mempercayai orang yang salah.

Setahun kemudian, aku menjual rumah itu.

Kasur yang pernah menyimpan rahasia tersebut sudah lama disita sebagai barang bukti.

Aku tidak pernah ingin melihatnya lagi.

Aku pindah ke rumah kecil yang jauh lebih sederhana.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidur sendirian.

Anehnya, aku justru merasa tenang.

Suatu malam, sebelum mematikan lampu, aku menerima sebuah pesan dari nomor yang sudah lama kusimpan tetapi jarang kuhubungi.

Nabila mengirim foto seorang bayi perempuan yang baru lahir.

Di bawah foto itu hanya ada satu kalimat.

Namanya Kirana. Semoga hidupnya tidak dibangun dari kebohongan seperti hidup kami dulu.

Aku menatap foto itu cukup lama.

Lalu aku membalas.

Semoga dia tumbuh dengan keberanian untuk selalu mencari kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu menyakitkan.

Aku meletakkan ponsel di meja.

Kamar terasa sunyi.

Tidak ada bau busuk.

Tidak ada rahasia tersembunyi.

Tidak ada seseorang di sampingku yang membuatku harus mempertanyakan kewarasanku sendiri.

Dan malam itu aku akhirnya memahami sesuatu.

Selama empat bulan, aku mengira bau dari kasur itu adalah hal paling mengerikan yang pernah masuk ke rumahku.

Ternyata aku salah.

Yang paling busuk bukanlah pakaian lembap yang disembunyikan di dalam kasur.

Melainkan kebohongan yang selama sembilan tahun tidur tepat di sebelahku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang