Rani tidak langsung menatap kakaknya ketika kembali ke ruang tengah. Ia justru berjalan ke meja makan, menuangkan air putih ke dalam gelas, lalu meminumnya perlahan.
Tangannya masih terasa dingin.
Bayangan lebam di dada ayahnya terus terputar di kepalanya.
Bagas menyandarkan tubuh di sofa sambil memainkan ponsel.
“Gimana Ayah?” tanyanya santai.

“Sudah tidur.”
“Syukurlah.” Siska tersenyum tipis. “Kalau malam biasanya memang agak rewel.”
Kata rewel membuat rahang Rani mengeras.
Namun ia tidak boleh terpancing.
“Besok aku mau bawa Ayah jalan-jalan sebentar,” katanya.
Siska langsung menoleh.
“Ke mana?”
“Cari udara segar. Mungkin sarapan.”
“Tidak usah,” potong Bagas. “Kondisi Ayah nggak memungkinkan.”
Rani akhirnya menatap kakaknya.
“Kondisi apa?”
Bagas terdiam sepersekian detik.
“Ya… kondisinya sekarang. Kamu kan lihat sendiri. Jalan juga sudah susah.”
“Aku jaksa, Mas. Bukan anak kecil. Kalau memang ada diagnosis tertentu, besok tunjukkan rekam medisnya.”
Suasana mendadak hening.
Siska meletakkan cangkirnya sedikit terlalu keras.
“Kamu baru datang beberapa jam sudah mulai menginterogasi orang.”
Rani tersenyum tipis.
“Belum. Kalau aku mulai menginterogasi, suasananya tidak akan sesantai ini.”
Ia kemudian berdiri dan masuk ke kamar tamu.
Begitu pintu tertutup, wajah tenang yang sejak tadi dipertahankannya langsung runtuh.
Rani mengeluarkan salinan mutasi rekening dari tas.
Transaksi sebesar Rp850 juta dilakukan tiga bulan sebelumnya. Keterangan transfer hanya mencantumkan nama penerima, PT Bumi Arunika Sejahtera.
Ia tidak mengenal perusahaan itu.
Ayahnya pun tadi mengatakan tidak pernah mendengar nama tersebut.
Rani membuka laptop dan mulai mencari informasi yang tersedia secara publik.
Hasil pertama tidak menunjukkan apa-apa yang mencurigakan. Perusahaan itu terdaftar bergerak di bidang konsultasi properti. Alamat kantornya berada di sebuah ruko di Semarang Barat.
Namun ketika Rani memperhatikan nama salah satu pengurusnya, napasnya tertahan.
Direktur perusahaan itu bernama Siska Larasati.
Nama lengkap kakak iparnya.
Rani memejamkan mata beberapa detik.
Jadi uang itu bukan hilang secara acak.
Uang itu masuk ke perusahaan milik Siska.
Pukul satu dini hari terdengar ketukan pelan di pintunya.
Rani segera menutup laptop.
“Aku,” terdengar suara Bagas.
Ketika pintu dibuka, kakaknya berdiri dengan wajah serius.
“Kita bicara.”
Bagas masuk tanpa menunggu izin.
“Aku nggak tahu Ayah cerita apa ke kamu. Tapi jangan percaya semuanya.”
Rani bersandar pada meja.
“Kenapa?”
“Ayah sudah mulai pikun.”
“Diagnosis siapa?”
“Dokter.”
“Dokter siapa?”
Bagas terdiam.
Rani melanjutkan, “Rumah Bandungan dijual berapa?”
Wajah Bagas berubah.
“Kenapa tiba-tiba tanya itu?”
“Karena itu rumah Ibu.”
“Itu urusan keluarga.”
“Aku keluarga.”
Bagas menarik napas panjang.
“Rumah itu dijual untuk biaya pengobatan Ayah.”
“Pengobatan apa yang menghabiskan hampir satu miliar?”
Bagas langsung menatapnya tajam.
Rani tahu ia baru saja mengenai titik yang paling sensitif.
“Jangan sok jadi penyidik di rumah sendiri, Ran.”
“Kalau tidak ada yang disembunyikan, kenapa takut?”
Bagas mendekat.
Untuk pertama kalinya Rani melihat sesuatu di mata kakaknya yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Bukan sekadar marah.
Ketakutan.
“Besok pagi kamu pulang ke Jakarta.”
Rani tersenyum kecil.
“Aku belum bilang kapan mau pulang.”
“Kamu pulang besok.”
“Kalau tidak?”
Bagas menatapnya beberapa detik, kemudian keluar tanpa menjawab.
Rani mengunci pintunya.
Ia tidak tidur sampai pagi.
Pukul enam, suara gaduh terdengar dari kamar ayahnya.
Rani berlari keluar.
Siska berdiri di depan pintu sambil membawa segelas air dan beberapa tablet obat.
“Ayah harus minum obat.”
Pak Surya duduk di tepi ranjang dengan wajah pucat.
“Tidak mau,” katanya pelan.
“Sudah waktunya.”
“Tidak mau.”
Siska meraih lengannya.
Rani langsung masuk.
“Obat apa?”
Siska menoleh kesal.
“Obat dari dokter.”
“Namanya?”
“Apa urusanmu?”
Rani mengambil salah satu tablet yang masih berada dalam kemasan.
Tulisan kecil di belakangnya menunjukkan obat penenang.
“Dosisnya berapa?”
Siska berusaha mengambil kembali obat itu.
“Kasih sini.”
Rani menjauhkan tangannya.
“Ayah minum ini berapa kali sehari?”
Bagas datang dari lorong.
“Ada apa lagi?”
Rani mengangkat obat tersebut.
“Obat penenang dengan dosis seperti ini diberikan dua kali sehari kepada pria 76 tahun tanpa aku melihat satu pun resep dokter.”
“Kamu bukan dokter,” ujar Bagas.
“Benar. Makanya hari ini kita bawa Ayah ke rumah sakit.”
“Tidak perlu.”
“Kita bawa.”
“Aku bilang tidak perlu!”
Suara Bagas menggema di seluruh rumah.
Pak Surya tersentak.
Tubuhnya otomatis mundur ke sudut ranjang, kedua tangannya melindungi kepala.
Gerakan refleks itu membuat ruangan seketika sunyi.
Rani menatap ayahnya.
Lalu menatap Bagas.
“Kenapa Ayah takut setiap kali kamu meninggikan suara?”
Bagas kehilangan kata-kata.
Saat itulah bel rumah berbunyi.
Siska terlihat panik.
“Siapa pagi-pagi begini?”
Rani tidak menjawab.
Ia berjalan menuju pintu dan membukanya.
Dua petugas kepolisian berdiri bersama seorang pekerja sosial dan petugas kesehatan.
Wajah Bagas seketika pucat.
“Ada laporan mengenai dugaan kekerasan terhadap lansia,” kata salah satu petugas. “Kami perlu melakukan pemeriksaan.”
“Siapa yang melapor?” bentak Bagas.
Rani menatapnya.
“Aku.”
Siska langsung berdiri.
“Kamu gila? Ini keluarga sendiri!”
“Justru karena keluarga sendiri aku tidak akan pura-pura tidak melihat.”
Pemeriksaan berlangsung hampir dua jam.
Petugas kesehatan mendokumentasikan luka di tubuh Pak Surya. Polisi meminta keterangan terpisah dari setiap orang.
Ketika ditanya apakah ingin meninggalkan rumah, Pak Surya mengangguk tanpa ragu.
“Ikut Rani.”
Siska mulai menangis.
“Ayah jangan fitnah kami. Kami yang rawat Ayah selama ini.”
Pak Surya menatap menantunya.
Untuk pertama kalinya sejak Rani datang, suaranya terdengar tegas.
“Merawat bukan berarti mengikat.”
Siska membeku.
Pak Surya melanjutkan, “Memberi makan bukan berarti mengambil uang saya.”
Bagas menunduk.
Rani kemudian membawa ayahnya ke rumah sakit untuk pemeriksaan lengkap.
Hasilnya membuat semuanya semakin jelas.
Dokter tidak menemukan bukti kuat bahwa Pak Surya mengalami demensia berat seperti yang diklaim Bagas. Ia memang mengalami penurunan daya ingat ringan yang wajar untuk usianya, tetapi masih mampu memahami keputusan keuangan dasar dan mengenali aset miliknya.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah adanya tanda penggunaan obat penenang secara berlebihan.
“Kalau obat ini dikonsumsi rutin dalam dosis seperti yang Anda sebutkan,” kata dokter kepada Rani, “beliau bisa terlihat linglung, mengantuk, bahkan seolah-olah mengalami gangguan kognitif yang lebih berat.”
Rani merasakan bulu kuduknya berdiri.
Jadi bukan hanya kekerasan fisik.
Ayahnya dibuat tampak tidak mampu mengurus dirinya sendiri.
Sore itu, dengan persetujuan Pak Surya, Rani mulai mengumpulkan dokumen.
Surat kuasa yang ditunjukkan Bagas diperiksa lebih teliti.
Tanda tangan ayahnya tampak asli.
Namun tanggalnya membuat Rani curiga.
Dokumen itu dibuat pada hari yang sama dengan tanggal transfer Rp850 juta.
“Ayah ingat tanda tangan ini?”
Pak Surya menatap lama.
“Bagas bilang itu formulir rumah sakit.”
“Mas Bagas menjelaskan isinya?”
“Tidak.”
Rani menutup map.
Ia sudah menduga modusnya.
Seseorang memberikan dokumen berbeda kepada ayahnya sambil mengatakan bahwa itu sekadar administrasi kesehatan.
Namun kejutan terbesar baru muncul dua hari kemudian.
Bank mengonfirmasi bahwa transfer Rp850 juta memang dilakukan berdasarkan instruksi yang menggunakan surat kuasa tersebut.
Uang itu masuk ke rekening PT Bumi Arunika Sejahtera, lalu dalam waktu kurang dari 48 jam dipecah ke tiga rekening berbeda.
Salah satunya milik Siska.
Yang kedua milik Bagas.
Dan rekening ketiga atas nama seorang pria bernama dr. Hendrawan Prasetyo.
Rani membaca nama itu berulang kali.
Dokter.
Ia segera mencari tahu.
Hendrawan ternyata dokter praktik umum di sebuah klinik swasta kecil.
Nama yang sama tercantum pada surat keterangan yang menyatakan bahwa Pak Surya mengalami penurunan kemampuan kognitif dan membutuhkan pendamping untuk mengelola keuangan.
Rani merasa dadanya sesak.
Semua mulai terhubung.
Bagas dan Siska tidak bekerja sendirian.
Polisi kemudian memeriksa klinik tersebut.
Dalam proses itu ditemukan sesuatu yang tak disangka.
Catatan kunjungan Pak Surya ternyata telah dimanipulasi.
Beberapa tanggal pemeriksaan tercatat ketika Pak Surya sebenarnya sedang berada di rumah dan tidak pernah pergi ke klinik.
Hendrawan awalnya menyangkal.
Namun setelah penyidik memperlihatkan aliran dana sebesar Rp75 juta yang masuk ke rekeningnya tiga hari setelah surat tersebut dibuat, sikapnya berubah.
Ia akhirnya mengaku.
Bagas membayarnya untuk membuat surat yang menggambarkan Pak Surya seolah tidak lagi mampu mengambil keputusan secara mandiri.
Menurut pengakuannya, Bagas mengatakan dokumen itu hanya diperlukan untuk “mempermudah administrasi keluarga”.
Tetapi Rani tahu kalimat seperti itu tidak akan menghapus jejak uang.
Seminggu kemudian, Bagas dan Siska diperiksa secara resmi.
Rani tidak ikut masuk ke ruang pemeriksaan.
Ia menunggu di lorong bersama ayahnya.
Pak Surya duduk diam cukup lama.
“Rani.”
“Ya, Yah?”
“Ayah salah.”
Rani menoleh.
“Ayah terlalu percaya sama Bagas.”
Rani menggenggam tangan ayahnya.
“Percaya kepada anak sendiri bukan kesalahan.”
Pak Surya tersenyum pahit.
“Ayah juga salah ke kamu.”
Rani terdiam.
“Apa maksud Ayah?”
Pak Surya menatap lantai.
“Dulu Ayah selalu bilang Bagas harus dapat lebih banyak karena dia anak laki-laki. Rumah utama mau Ayah kasih ke dia. Usaha juga.”
Rani ingat semuanya.
Sejak kecil Bagas memang selalu dianggap penerus keluarga.
Rani tidak pernah mempersoalkannya. Ia memilih membangun hidupnya sendiri.
“Ayah mungkin membuat Bagas merasa semua milik Ayah memang seharusnya menjadi miliknya.”
Rani menggeleng.
“Itu tetap tidak membenarkan apa yang dia lakukan.”
“Ayah tahu.”
Beberapa detik kemudian Pak Surya berkata pelan, “Tapi Ayah juga ingin memperbaiki kesalahan.”
Kasus itu terus berkembang.
Rumah Bandungan ternyata dijual menggunakan rangkaian dokumen yang cacat. Sebagian uang hasil penjualan digunakan untuk menutup utang bisnis Bagas.
PT Bumi Arunika Sejahtera juga bukan bisnis sukses seperti yang selama ini Siska ceritakan kepada keluarga.
Perusahaan itu hampir bangkrut.
Bagas memiliki utang investasi lebih dari satu miliar rupiah setelah gagal dalam proyek properti.
Mereka mulai mengambil uang Pak Surya sedikit demi sedikit.
Awalnya sepuluh juta.
Lalu dua puluh juta.
Pak Surya tidak sadar karena jarang memeriksa rekening.
Ketika akhirnya curiga dan mulai bertanya, Bagas panik.
Dari situlah semuanya memburuk.
Ponsel disita.
Obat penenang diberikan.
Akses rekening diambil alih.
Hingga akhirnya transfer Rp850 juta dilakukan.
Namun satu pertanyaan tetap mengganggu Rani.
Mengapa ayahnya diam begitu lama?
Suatu malam di apartemen sewa tempat mereka tinggal sementara, Pak Surya akhirnya menjawabnya.
“Ayah sebenarnya pernah berhasil menelepon kamu.”
Rani mengernyit.
“Kapan?”
“Sekitar dua bulan lalu.”
“Aku tidak pernah menerima telepon Ayah.”
Pak Surya berjalan perlahan menuju tas kecilnya.
Dari dalam lapisan kain di bagian bawah, ia mengeluarkan sebuah ponsel tua.
“Ini ponsel Ibu dulu.”
Rani terkejut.
Pak Surya ternyata menyembunyikannya selama berbulan-bulan.
“Ayah pernah coba telepon. Tapi yang mengangkat laki-laki.”
Rani merasa aneh.
“Nomor siapa?”
Pak Surya menyebutkannya.
Rani langsung mengenali nomor itu.
Itu nomor kantor lamanya yang sudah tidak digunakan hampir setahun.
“Ayah kira kamu sudah tidak mau bicara sama Ayah.”
Suara Pak Surya pecah.
Rani langsung memeluknya.
Untuk pertama kalinya sejak kasus itu dimulai, ia menangis.
Bukan karena Bagas.
Bukan karena uang.
Tetapi karena selama dua bulan ayahnya hidup dalam ketakutan sambil percaya bahwa putrinya sendiri telah meninggalkannya.
Dua bulan kemudian perkara itu memasuki tahap hukum yang lebih serius.
Bagas akhirnya mengakui sebagian perbuatannya.
Ia bersikeras bahwa awalnya ia hanya ingin meminjam uang untuk menyelamatkan bisnis.
Namun ketika Pak Surya menolak, ia dan Siska memilih jalan yang semakin gelap.
Hari ketika Bagas dibawa keluar dari ruang pemeriksaan, ia sempat berpapasan dengan Rani.
“Kamu puas?” tanyanya.
Rani menatap kakaknya lama.
“Tidak.”
Bagas tertawa sinis.
“Kamu menang.”
“Aku tidak sedang menang melawan siapa pun.”
“Karena kamu, keluarga kita hancur.”
Rani menggeleng pelan.
“Keluarga ini tidak hancur ketika polisi datang, Mas.”
Ia menatap mata kakaknya.
“Keluarga ini hancur saat Ayah harus takut kepada anaknya sendiri.”
Bagas tidak menjawab lagi.
Setelah proses hukum berjalan, sebagian besar dana berhasil dibekukan sebelum dipindahkan lebih jauh.
Tidak seluruh Rp850 juta dapat langsung kembali, tetapi aset hasil pembelian menggunakan dana tersebut berhasil dilacak.
Rumah Bandungan juga masuk dalam proses sengketa untuk dikembalikan haknya kepada Pak Surya.
Beberapa minggu kemudian, Pak Surya meminta Rani mengantarnya ke kantor notaris.
Rani mengira ayahnya hanya ingin memperbaiki dokumen kepemilikan.
Ternyata Pak Surya datang membawa surat wasiat baru.
“Ayah mau membagi semuanya sama rata,” katanya.
Rani menggeleng.
“Tidak perlu ubah wasiat karena kejadian ini.”
“Bukan karena Bagas.”
Pak Surya tersenyum.
“Karena Ayah baru sadar sesuatu.”
“Apa?”
“Warisan terbesar orang tua bukan rumah atau uang.”
Ia menggenggam tangan Rani.
“Warisan terbesar adalah cara kita memperlakukan anak. Kalau dari kecil satu anak terus diberi perasaan bahwa dia lebih berhak daripada yang lain, jangan kaget kalau suatu hari dia benar-benar merasa semua adalah miliknya.”
Rani terdiam.
Namun kejutan terakhir datang ketika notaris membuka satu map lain.
Pak Surya ternyata telah membuat keputusan jauh sebelum kasus itu terbongkar.
Enam bulan sebelumnya, ketika mulai mencurigai Bagas, ia telah menyiapkan surat untuk mendirikan sebuah yayasan kecil menggunakan sebagian asetnya.
Yayasan itu akan membantu lansia yang mengalami kekerasan dan eksploitasi keuangan oleh keluarganya sendiri.
Nama yayasan tersebut membuat Rani tidak mampu berkata-kata.
Yayasan Ratih.
Nama mendiang ibunya.
“Ayah pikir kalau suatu hari Ayah tidak berhasil keluar dari rumah itu,” kata Pak Surya, “setidaknya sesuatu dari hidup Ayah bisa membantu orang lain keluar dari rumah mereka.”
Rani menatap pria tua di sampingnya.
Selama ini ia mengira dirinya datang tepat waktu untuk menyelamatkan ayahnya.
Ternyata ayahnya, dalam diam dan ketakutannya, juga sedang berusaha meninggalkan jalan keluar bagi orang lain.
Rani menggenggam tangan Pak Surya lebih erat.
Uang Rp850 juta yang hilang memang menjadi awal terbongkarnya kejahatan itu.
Namun pada akhirnya mereka menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang yang berhasil diselamatkan.
Mereka menemukan kembali kepercayaan yang hampir hilang.
Dan Rani akhirnya memahami bahwa kekerasan dalam keluarga tidak selalu dimulai dari pukulan.
Kadang-kadang ia dimulai dari satu tanda tangan yang diminta tanpa penjelasan, satu rekening yang diam-diam diambil alih, satu ponsel yang disembunyikan, dan satu orang tua yang perlahan dibuat percaya bahwa suaranya tidak lagi berarti.
Karena itu, ketika seseorang yang kita cintai tiba-tiba menjadi lebih pendiam, lebih takut, atau seolah kehilangan kendali atas hidupnya sendiri, mungkin yang mereka butuhkan bukan pertanyaan mengapa mereka berubah.
Mungkin mereka hanya sedang menunggu seseorang datang, menutup pintu, menggenggam tangan mereka, dan berkata bahwa kali ini mereka tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
