PUKUL TIGA DINI HARI, AYAH MENYERETKU BANGUN DARI TIDUR.

Dari belakang, suara ibuku semakin dekat.

“Naya! Berhenti!”

Aku tidak menoleh lagi.

Kakiku berlari tanpa arah melewati deretan kursi ruang tunggu. Beberapa orang memandang heran, tetapi aku tidak peduli. Napasku memburu, telapak tanganku basah, dan hanya satu kalimat Pak Rudi yang terus berputar di kepalaku.

Utang dua belas miliar rupiah itu tercatat atas namaku.

Aku baru berusia dua puluh empat tahun.

Aku bahkan tidak pernah meminjam uang seratus juta, apalagi dua belas miliar.

Saat melihat papan petunjuk toilet, aku berbelok cepat dan masuk. Aku mengunci diri di salah satu bilik, menutup mulut dengan tangan agar suara napasku tidak terdengar.

Beberapa detik kemudian, pintu toilet terbuka keras.

“Naya!”

Suara Ibu menggema.

Aku menggigit bibir.

“Cari semua bilik!” bentak seorang laki-laki.

Darahku terasa berhenti mengalir.

Mereka benar-benar mengejarku.

Ponselku kembali bergetar.

Pak Rudi.

“Keluar lewat pintu servis di ujung toilet. Saya sudah bicara dengan petugas kebersihan. Cepat.”

Aku membuka pintu bilik perlahan.

Seorang petugas kebersihan perempuan berdiri di dekat wastafel. Tatapan kami bertemu. Dia segera menunjuk sebuah pintu abu-abu di sudut ruangan.

Aku berlari ke sana.

Begitu keluar, aku mendapati lorong sempit yang biasa digunakan staf bandara. Seorang petugas membawaku menuju area lain, lalu mengantarku keluar melalui akses karyawan.

Aku baru berani bernapas ketika sudah berada di dalam taksi.

“Ke mana, Mbak?” tanya sopir.

Aku terdiam.

Rumah tidak aman.

Kantor Ayah tidak mungkin.

Teman-temanku bisa dicari Ibu.

Akhirnya aku menyebut satu alamat yang sudah hampir tiga tahun tidak pernah kudatangi.

Rumah Tante Mira.

Adik kandung Ayah.

Ketika pintu rumahnya terbuka pukul lima pagi, Tante Mira menatapku seperti melihat hantu.

“Naya?”

Aku langsung menangis.

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah, kakiku kehilangan tenaga.

Tante Mira menarikku masuk.

Setelah mendengar semuanya, wajahnya berubah pucat.

Namun bukannya terkejut, dia justru menutup mata.

Reaksinya membuatku curiga.

“Tante tahu?”

Dia tidak menjawab.

“Tante tahu, kan?”

“Naya…”

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Tante Mira duduk perlahan.

“Ayahmu bukan orang yang membuat utang itu.”

Aku tertawa getir.

“Dokumennya memakai namaku.”

“Memang.”

“Dan Ayah yang menyuruhku menandatanganinya.”

“Karena dia juga dijebak.”

Aku menatapnya.

Dua bulan sebelumnya, perusahaan keluarga kami, Wijaya Sentosa Group, mengalami masalah arus kas. Ayah membutuhkan dana cepat untuk menyelamatkan proyek properti yang terancam gagal.

Ibu menawarkan bantuan.

Melalui kakaknya, Surya, dia mengenalkan Ayah kepada sebuah perusahaan pembiayaan swasta.

Ayah menandatangani sejumlah dokumen.

Beberapa hari kemudian, Ibu meminta Ayah membujukku menandatangani beberapa lembar kosong dengan alasan pembukaan rekening investasi keluarga.

Aku masih ingat malam itu.

Ayah datang membawa map biru.

“Naya, tanda tangan di sini. Untuk administrasi investasi.”

Aku bahkan tidak membacanya.

Aku percaya kepadanya.

Ternyata lembar itu kemudian dipakai untuk membuat perjanjian utang.

“Tapi kenapa atas namaku?”

“Karena perusahaan ayahmu hampir bangkrut,” kata Tante Mira. “Kalau utangnya atas nama perusahaan, semuanya langsung terbongkar. Mereka butuh orang dengan catatan keuangan bersih.”

Aku merasa mual.

“Siapa mereka?”

Tante Mira menatapku lama.

“Ibumu dan Om Surya.”

Aku berdiri begitu cepat sampai kursiku terjatuh.

“Tidak mungkin.”

Tante Mira membuka lemari, mengambil sebuah map hitam, lalu meletakkannya di meja.

Di dalamnya ada fotokopi transfer, percakapan, dan beberapa dokumen perusahaan.

Aku membaca satu per satu.

Dana dua belas miliar itu memang pernah dicairkan.

Tetapi uang tersebut tidak pernah masuk ke rekeningku.

Sebagian masuk ke perusahaan cangkang milik Om Surya.

Sisanya masuk ke rekening investasi yang dikendalikan Ibu.

“Kalau begitu kenapa Ayah mengirimku ke Singapura?”

Tante Mira menatapku dengan ekspresi yang sulit kubaca.

“Karena tadi malam dia baru mengetahui rencana sebenarnya.”

Aku menahan napas.

Pukul dua dini hari, Ayah menemukan dokumen lain di laptop Ibu.

Mereka berencana melaporkan utang tersebut sebagai penipuan yang kulakukan terhadap perusahaan keluarga.

Dengan tanda tanganku pada dokumen dan transaksi yang sengaja direkayasa, aku akan menjadi tersangka utama.

Jika aku berada di Indonesia ketika laporan dibuat, aku bisa langsung diperiksa dan dicegah bepergian.

Ayah panik.

Itulah sebabnya dia membangunkanku pukul tiga pagi.

“Dia ingin menyelamatkanmu.”

“Dengan mengirimku kabur?”

“Dia tidak punya waktu.”

Aku teringat mata merah Ayah di bandara.

Dadaku terasa sesak.

“Tapi kenapa Pak Rudi menyuruhku jangan naik pesawat?”

Tante Mira tidak menjawab.

Saat itulah ponselku berbunyi.

Pak Rudi menelepon.

Aku langsung mengangkatnya.

“Pak, Ayah di mana?”

Hening beberapa detik.

“Nona…”

“Di mana Ayah?”

“Pak Hendra mengalami kecelakaan.”

Dunia seakan berhenti.

“Apa?”

“Mobil beliau menabrak pembatas jalan setelah meninggalkan bandara.”

Tanganku gemetar hebat.

“Rumah sakit mana?”

“Jangan datang.”

Aku membeku.

Pak Rudi melanjutkan dengan suara rendah.

“Polisi menemukan sesuatu di mobil beliau. Dokumen utang, salinan tanda tangan Anda, dan uang tunai. Sekarang semuanya terlihat seolah Pak Hendra adalah pelakunya.”

Aku terduduk.

Jadi seseorang sedang membersihkan jejak.

Aku tidak pergi ke rumah sakit.

Sebaliknya, aku melakukan sesuatu yang tidak pernah mereka perkirakan.

Aku menelepon seorang teman lama, Dimas Prasetyo, pengacara yang pernah bekerja menangani sengketa korporasi.

Selama dua hari berikutnya, kami mengumpulkan bukti.

Dimas menemukan sesuatu yang aneh.

Perjanjian utang atas namaku memang memiliki tanda tanganku.

Namun tanggal dokumen itu dibuat tiga hari sebelum aku menandatangani lembar kosong yang diberikan Ayah.

“Kalau bisa dibuktikan secara forensik, ini sangat penting,” kata Dimas.

Kami kemudian melacak aliran dana.

Dua belas miliar rupiah tersebut melewati tiga rekening sebelum akhirnya masuk ke perusahaan bernama PT Arunika Investama.

Pemilik manfaat perusahaan itu adalah Om Surya.

Namun kejutan terbesar datang dari rekaman CCTV kantor.

Pak Rudi berhasil mengambil salinan sebelum sistem dihapus.

Dalam rekaman terlihat Ibu memasuki ruang administrasi perusahaan tengah malam bersama Om Surya.

Mereka membawa map yang sama dengan dokumen yang kutandatangani.

Aku menatap layar tanpa berkedip.

Perempuan yang membesarkanku selama dua puluh empat tahun sedang menyiapkan kehancuranku sendiri.

“Kenapa?” bisikku.

Jawabannya baru kutemukan tiga hari kemudian.

Ayah sadar dari operasi.

Aku menemuinya secara diam-diam.

Begitu melihatku, air matanya mengalir.

“Naya…”

Aku berdiri di samping ranjang tanpa memeluknya.

“Kenapa Ayah menyuruhku menandatangani kertas kosong?”

Dia menutup mata.

“Karena Ayah bodoh.”

“Bukan jawaban.”

“Ayah percaya pada ibumu.”

Aku menahan amarah.

“Dan karena kepercayaan Ayah, hidupku hampir hancur.”

“Ayah tahu.”

“Tidak. Ayah tidak tahu bagaimana rasanya mengetahui orang tua sendiri bisa menyerahkan anaknya untuk menyelamatkan dirinya.”

Wajah Ayah berubah.

“Naya, dengarkan Ayah. Ayah memang bersalah karena memberikan dokumen itu kepadamu. Tapi Ayah tidak pernah tahu utang itu akan dibuat atas namamu.”

“Lalu satu miliar itu?”

Ayah menatapku.

“Itu bukan uang untuk membuangmu.”

Dia menarik napas dengan susah payah.

“Itu seluruh uang pribadi yang masih bisa Ayah selamatkan tanpa diketahui ibumu.”

Air mataku akhirnya jatuh.

“Ayah pikir kalau kamu berhasil pergi, setidaknya kamu punya sesuatu untuk memulai hidup baru.”

Aku menunduk.

Untuk pertama kalinya, aku memahami tatapannya di bandara.

Bukan rasa bersalah karena menjualku.

Itu tatapan seorang ayah yang mengira dirinya mungkin sedang melihat putrinya untuk terakhir kali.

Namun masih ada satu pertanyaan.

“Kenapa Ibu melakukan semua ini?”

Ayah terdiam lama.

Kemudian dia mengatakan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada utang dua belas miliar.

“Naya, Wijaya Sentosa Group sebenarnya bukan milik Ayah sepenuhnya.”

Aku mengerutkan kening.

“Lima puluh satu persen saham perusahaan secara hukum akan menjadi milikmu ketika kamu berusia dua puluh lima tahun.”

Aku terdiam.

Ternyata kakekku, pendiri perusahaan, tidak pernah benar-benar mempercayai Ibu maupun Om Surya.

Sebelum meninggal, dia membuat struktur kepemilikan khusus.

Saham pengendali dititipkan melalui perwalian dan baru akan berpindah kepadaku pada ulang tahunku yang kedua puluh lima.

Tinggal tiga bulan lagi.

Jika aku dinyatakan terlibat penipuan finansial dan dijatuhi hukuman, klausul tertentu memungkinkan hak pengelolaan saham dialihkan sementara kepada wali keluarga.

Dan wali yang tercatat adalah Ibu.

Sekarang semuanya masuk akal.

Utang.

Dokumen palsu.

Rencana penangkapan.

Bahkan kecelakaan Ayah.

Semua bukan tentang dua belas miliar.

Itu tentang perusahaan bernilai triliunan rupiah.

Kami tidak langsung melapor.

Dimas menyarankan kami berpura-pura tidak mengetahui rencana mereka.

Aku menghubungi Ibu.

“Ibu.”

Suara di seberang langsung berubah lembut.

“Naya? Kamu di mana? Ibu khawatir sekali.”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

“Aku takut.”

“Pulanglah. Kita selesaikan semuanya.”

“Bagaimana dengan utang itu?”

Hening sesaat.

Kemudian dia berkata dengan suara keibuan yang sempurna.

“Serahkan semuanya kepada Ibu.”

Aku menggenggam ponsel erat.

“Baik. Besok aku pulang.”

Keesokan harinya aku datang ke rumah keluarga.

Ibu langsung memelukku.

“Nak…”

Aku membiarkannya.

Di ruang kerja sudah menunggu Om Surya dan dua laki-laki yang tidak kukenal.

Di atas meja terdapat beberapa dokumen.

Ibu tersenyum.

“Kamu hanya perlu menandatangani ini.”

“Apa?”

“Surat kuasa. Biar Ibu yang mengurus utangmu.”

Aku membaca dokumen tersebut.

Itu bukan sekadar surat kuasa.

Aku menyerahkan hak pengelolaan aset dan saham masa depanku kepada Ibu.

Aku mengangkat pena.

Om Surya tersenyum puas.

Namun sebelum ujung pena menyentuh kertas, aku bertanya,

“Kalau aku tanda tangan, dua belas miliar itu hilang?”

“Semua akan selesai,” jawab Ibu.

“Termasuk masalah Ayah?”

Wajahnya berubah sedikit.

“Jangan pikirkan ayahmu.”

Aku tersenyum.

“Baik.”

Kemudian aku meletakkan pena.

“Tapi sepertinya ada beberapa orang lain yang ingin mendengar jawaban Ibu.”

Pintu ruang kerja terbuka.

Dimas masuk bersama penyidik.

Wajah Om Surya langsung pucat.

Ibu berdiri.

“Apa ini?”

Aku mengeluarkan ponsel dari saku.

Percakapan kami sejak aku masuk rumah telah direkam.

Tetapi itu belum semuanya.

Pak Rudi telah menyerahkan rekaman CCTV, aliran dana, dokumen asli, serta salinan komunikasi antara Ibu dan Om Surya kepada penyidik.

Penyelidikan berlangsung berbulan-bulan.

Dokumen utang dinyatakan telah dimanipulasi.

Aliran dana dua belas miliar berhasil ditelusuri.

Lebih mengejutkan lagi, penyelidikan terhadap kecelakaan Ayah menemukan bahwa selang rem mobilnya sengaja dirusak.

Seorang mantan sopir Om Surya akhirnya mengaku diperintah untuk melakukannya.

Ibu tidak pernah mengaku memerintahkan pembunuhan.

Namun pesan-pesan di ponselnya membuktikan bahwa dia mengetahui rencana tersebut.

Pada hari ulang tahunku yang kedua puluh lima, aku tidak mengadakan pesta.

Aku duduk di ruang rapat lantai tiga puluh dua kantor pusat Wijaya Sentosa Group.

Di depanku terletak dokumen pengalihan saham.

Lima puluh satu persen.

Saham yang membuat keluargaku hampir menghancurkan satu sama lain.

Ayah duduk di kursi roda di sebelahku.

Tangannya belum pulih sepenuhnya.

“Naya,” katanya pelan, “kalau kamu mau menjual semuanya dan pergi, Ayah tidak akan menyalahkanmu.”

Aku menatap gedung-gedung Jakarta di balik jendela.

Dulu aku mengira satu miliar rupiah yang diberikan Ayah di bandara adalah harga diriku.

Ternyata uang itu adalah semua yang bersedia dia kehilangan agar aku bisa hidup.

Aku menandatangani dokumen.

Namun aku tidak mengambil alih jabatan direktur utama.

Aku menunjuk manajemen profesional dan membentuk sistem audit independen yang tidak bisa dikendalikan satu anggota keluarga pun.

Sebagian dividen saham kugunakan untuk membayar kewajiban perusahaan yang sah dan membentuk yayasan bantuan hukum bagi korban pemalsuan identitas serta jeratan utang ilegal.

Ayah menatapku lama.

“Kamu tidak ingin membalas mereka?”

Aku menggeleng.

“Mereka sudah kehilangan sesuatu yang jauh lebih mahal daripada perusahaan.”

“Apa?”

Aku memandang foto keluarga lama yang masih tersimpan di meja.

“Kepercayaan.”

Enam bulan kemudian, ketika sedang membereskan barang-barang lama Ayah, aku menemukan map biru yang pernah dibawanya malam saat aku menandatangani lembar kosong.

Di bagian paling bawah terdapat sebuah amplop yang belum pernah kulihat.

Namaku tertulis di sana dengan tulisan tangan Kakek.

Aku membukanya.

Di dalamnya hanya ada satu lembar surat.

Kakek menulis bahwa saham itu tidak diberikan kepadaku karena aku cucu kesayangannya.

Dia memberikannya karena bertahun-tahun sebelumnya, ketika aku masih berusia sembilan tahun, dia pernah mengujiku.

Dia sengaja meninggalkan dompet berisi uang di meja dan mengatakan tidak ada seorang pun yang akan tahu jika uang itu hilang.

Aku mengambil dompet itu lalu berlari mengejarnya untuk mengembalikannya.

Aku bahkan sudah melupakan kejadian tersebut.

Namun Kakek tidak.

Kalimat terakhir surat itu membuatku terdiam lama.

“Kekayaan terbesar keluarga kita bukan perusahaan ini, Naya. Kekayaan terbesar adalah kemampuan untuk tetap menjadi manusia ketika uang memberimu alasan untuk berubah.”

Aku menutup surat tersebut.

Dari jendela, Jakarta mulai diterangi matahari pagi.

Untuk pertama kalinya sejak malam pukul tiga dini hari itu, aku tidak lagi merasa sedang melarikan diri.

Aku akhirnya mengerti sesuatu.

Malam ketika Ayah membangunkanku dan menyuruhku pergi ternyata bukan malam ketika keluargaku kehilangan dua belas miliar rupiah.

Itulah malam ketika semua topeng di keluarga kami mulai terlepas.

Dan anehnya, setelah kehilangan keluarga yang selama ini kukenal, aku justru menemukan siapa diriku sebenarnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang