“Kalian yang lebih dulu membuang ikan milikku ke tempat sampah.”
Kalimat itu membuat ruang tamu mendadak sunyi.
Raka menatapku seolah baru pertama kali melihat perempuan yang dinikahinya lima tahun lalu. Mungkin memang begitu. Selama ini, yang dia kenal bukan Nadia yang sebenarnya, melainkan Nadia yang selalu mengalah, selalu pulang membawa belanjaan, selalu menyediakan makanan hangat, dan selalu membuka dompet setiap kali keluarganya membutuhkan sesuatu.
Pak Budi berdiri di dekat pintu sambil memegang sertifikat rumah yang baru saja kuserahkan kepadanya.
“Bu Nadia,” katanya hati-hati, “kalau memang ada masalah keluarga, mungkin pengambilan foto bisa dijadwalkan ulang.”

“Tidak perlu.”
Aku membuka tirai ruang tamu lebar-lebar.
“Silakan mulai.”
Fotografer itu mengangguk dan mulai mengambil gambar dari sudut ruang keluarga.
Rani langsung berlari mengambil tas bermereknya dari sofa.
“Jangan sampai barangku ikut difoto!”
Aku menoleh.
“Tenang saja. Tidak ada calon pembeli yang tertarik dengan barangmu.”
“Nadia!”
Ibu mertua berteriak begitu keras sampai suara kameranya pun seolah tenggelam.
“Kamu benar-benar sudah tidak punya hati! Kami keluarga suamimu!”
Aku tersenyum tipis.
“Aneh. Lima tahun tinggal di rumahku, tapi baru hari ini Ibu ingat kita keluarga.”
Wajahnya pucat.
Raka akhirnya kehilangan kesabaran. Dia menarik lenganku cukup keras dan membawaku ke arah lorong.
“Aku mau bicara.”
Aku melepaskan tangannya.
“Bicara di sini.”
“Jangan mempermalukanku di depan orang lain.”
“Semalam kamu tidak masalah mempermalukanku di depan keluargamu.”
Rahangnya mengeras.
“Aku suamimu.”
“Dan aku istrimu. Tapi sejak kapan itu berarti seluruh keluargamu berhak hidup dari uangku sambil memperlakukanku seperti pembantu?”
Raka terdiam.
Untuk pertama kalinya, aku mengeluarkan semua hal yang selama ini kupendam.
Cicilan rumah.
Tagihan listrik.
Belanja bulanan.
Biaya pengobatan ibunya.
Uang kuliah Rani selama dua semester terakhir.
Bahkan uang muka mobil yang selama ini dibanggakan Raka kepada teman-teman kantornya ternyata berasal dari deposito peninggalan ayahku.
“Aku tidak pernah menghitung semuanya,” kataku. “Karena kupikir kita keluarga. Tapi rupanya hanya aku yang berpikir begitu.”
Rani mendengus.
“Jangan sok jadi korban. Kak Raka juga bekerja.”
Aku menatapnya.
“Benar. Lalu ke mana gajinya?”
Rani langsung diam.
Pertanyaan itu juga membuat Raka berubah wajah.
Selama dua tahun terakhir dia selalu berkata sedang menabung untuk investasi. Aku tidak pernah bertanya lebih jauh karena percaya kepadanya.
Sekarang kepercayaan itu terasa seperti lelucon.
Pak Budi berdeham.
“Bu Nadia, saya dan tim akan lanjut ke lantai atas.”
“Silakan.”
Setelah mereka naik, aku mengambil tas dan berjalan ke pintu.
Raka menahanku.
“Kalau rumah ini dijual, kita mau tinggal di mana?”
Aku menatapnya beberapa detik.
“Kita?”
Dia berkedip.
“Aku sudah menyewa apartemen kecil dekat kantor.”
Wajahnya berubah.
“Kapan?”
“Dua minggu lalu.”
Saat itu dia baru sadar bahwa keputusan menjual rumah bukan kemarahan sesaat karena seekor ikan.
Aku sudah lama mempersiapkannya.
Dua minggu sebelumnya, aku menemukan surat dari bank terselip di laci meja kerja Raka. Ada pengajuan pinjaman dengan jaminan rumah ini.
Yang membuat darahku membeku adalah tanda tangan pemilik rumah di bagian bawah.
Namaku.
Namun aku tidak pernah menandatanganinya.
Aku diam-diam membawa dokumen itu kepada seorang teman yang bekerja sebagai notaris.
Hasilnya jelas.
Tanda tanganku dipalsukan.
Untungnya pengajuan itu belum disetujui karena bank meminta kehadiranku sebagai pemilik sertifikat.
Sejak hari itu, aku mulai mengumpulkan semua dokumen penting dan memindahkannya ke tempat aman.
Aku juga menghubungi agen properti.
Ikan asam manis semalam bukan penyebab utama.
Itu hanya tetes terakhir yang membuat gelas penuh akhirnya meluap.
Aku belum mengatakan soal pemalsuan tanda tangan kepada Raka.
Belum.
Aku ingin melihat seberapa jauh dia akan berbohong.
Ketika aku sampai kantor, ponselku dipenuhi puluhan pesan.
Ibu mertua mengirim pesan panjang tentang dosa seorang istri yang melawan suami.
Rani menuduhku menghancurkan masa depannya karena rumah itu rencananya akan digunakan untuk acara pertunangannya.
Sedangkan Raka hanya mengirim satu kalimat.
Kita bicara malam ini.
Aku tidak membalas satu pun.
Sekitar pukul dua siang, Pak Budi menelepon.
“Bu Nadia, ada calon pembeli yang cukup serius. Seorang pengusaha yang sedang mencari rumah untuk anaknya. Mereka bersedia melihat sore ini.”
“Silakan.”
“Mereka meminta harga sedikit lebih rendah dari yang kita pasang.”
“Selama masih masuk akal, saya setuju.”
Pak Budi tertawa kecil.
“Ibu benar-benar ingin cepat selesai, ya?”
Aku memandang layar komputer.
“Sudah lima tahun saya terlalu lambat.”
Sore itu aku pulang lebih awal.
Ketika sampai rumah, ada sebuah mobil hitam terparkir di depan.
Calon pembeli sudah datang.
Di ruang tamu, Pak Budi sedang menjelaskan luas bangunan kepada pasangan paruh baya.
Yang mengejutkanku, Raka justru duduk bersama mereka dengan pakaian rapi.
Begitu melihatku, dia langsung tersenyum.
“Nadia, akhirnya pulang juga.”
Nada suaranya berubah seratus delapan puluh derajat.
Aku langsung tahu dia sedang merencanakan sesuatu.
Dia berdiri dan merangkul bahuku.
“Maaf soal pagi tadi. Istriku sedang emosional karena masalah keluarga.”
Calon pembeli terlihat canggung.
Aku melepaskan tangannya.
“Pak Budi, lanjutkan saja.”
Raka kembali menarikku.
“Kita bicara sebentar.”
Kali ini aku mengikutinya ke kamar.
Begitu pintu tertutup, senyumnya langsung hilang.
“Kamu mau apa sebenarnya?”
“Sudah jelas. Menjual rumah.”
“Aku sudah bicara dengan pengacara.”
“Bagus.”
“Kita menikah. Rumah yang dibeli selama perkawinan bisa menjadi harta bersama.”
Aku hampir tertawa.
“Rumah ini dibeli tiga bulan sebelum kita menikah.”
Wajahnya berubah.
“Uang muka berasal dari penjualan rumah orang tuaku. Akad kredit juga atas namaku. Kamu pindah ke sini setelah pernikahan.”
Raka mengepalkan tangan.
“Cicilannya dibayar selama pernikahan.”
“Dari rekeningku.”
“Kita tetap suami istri!”
Aku menatapnya.
“Untuk sementara.”
Dia membeku.
“Apa maksudmu?”
Aku membuka tas dan mengeluarkan sebuah amplop.
Di dalamnya ada salinan dokumen pengajuan pinjaman.
Kulemparkan ke atas tempat tidur.
“Jelaskan ini.”
Raka hanya perlu beberapa detik untuk mengenalinya.
Wajahnya langsung pucat.
“Nadia…”
“Kenapa tanda tanganku ada di sana?”
Dia tidak menjawab.
“Jawab.”
“Itu hanya untuk pengajuan awal.”
“Kamu memalsukan tanda tanganku.”
“Aku bermaksud menjelaskannya.”
“Kapan? Setelah rumah ini berhasil kamu jadikan jaminan?”
Raka mengusap wajahnya.
“Aku butuh uang.”
“Untuk apa?”
“Investasi.”
“Investasi apa?”
Dia diam.
Aku sudah menduga jawabannya tidak sederhana.
Tiba-tiba pintu terbuka.
Rani berdiri di sana.
“Mas, bilang saja!”
Raka menoleh tajam.
“Diam!”
Namun semuanya sudah terlambat.
Rani memandangku dengan kesal.
“Mas Raka meminjam uang karena calon suamiku meminta modal untuk bisnis. Memangnya kenapa? Kalau bisnisnya berhasil, uangnya juga kembali.”
Aku memandang mereka bergantian.
“Jadi rumahku mau dijadikan jaminan untuk modal calon suami Rani?”
Raka buru-buru berkata, “Bukan begitu.”
Aku malah tertawa.
Lima tahun.
Selama lima tahun aku memasak, membayar tagihan, mengurus rumah, dan menganggap orang-orang ini keluargaku.
Sementara mereka bahkan sudah membuat rencana menggunakan rumah peninggalan orang tuaku tanpa izinku.
“Terima kasih, Rani.”
Dia mengerutkan kening.
“Untuk apa?”
“Karena akhirnya ada satu orang di keluarga ini yang bisa berkata jujur.”
Aku kembali ke ruang tamu.
Pasangan calon pembeli masih berbicara dengan Pak Budi.
Aku duduk di depan mereka.
Setelah negosiasi singkat, kami mencapai kesepakatan.
Mereka bersedia membeli rumah secara tunai dengan harga hanya dua ratus juta di bawah pasar, dengan syarat rumah dikosongkan dalam dua minggu.
Aku menerima.
Begitu calon pembeli pergi, rumah meledak dalam kekacauan.
Ibu mertua menangis.
Rani menelepon pacarnya.
Raka membanting pintu kamar.
Namun aku tetap tenang.
“Masing-masing punya waktu empat belas hari untuk pindah.”
Ibu mertua menunjuk wajahku.
“Kamu pikir setelah menjual rumah ini hidupmu akan bahagia? Perempuan yang meninggalkan keluarga suaminya tidak akan punya siapa-siapa!”
Aku menatapnya.
“Lima tahun terakhir juga aku tidak punya siapa-siapa, Bu. Bedanya, sekarang aku sadar.”
Malam itu aku tidur di hotel.
Tiga hari berikutnya jauh lebih kacau dari yang kubayangkan.
Keluarga Raka mencoba menghubungi kerabatku.
Mereka bahkan menyebarkan cerita bahwa aku menjual rumah diam-diam demi mengambil semua uang untuk diri sendiri.
Namun keadaan berbalik ketika Pak Budi memberitahuku sesuatu.
Calon suami Rani membatalkan pertunangan.
Bukan karena rumah dijual.
Melainkan karena bisnis yang katanya membutuhkan modal ternyata tidak pernah ada.
Laki-laki itu memiliki utang hampir satu miliar rupiah dari perjudian daring dan beberapa pinjaman ilegal.
Dia berencana menggunakan uang dari keluarga Raka untuk menutup utang.
Yang lebih mengejutkan, Raka sudah memberinya hampir tiga ratus juta rupiah.
Akhirnya aku tahu ke mana gaji dan tabungan Raka pergi.
Ketika aku datang ke rumah pada hari kesepuluh untuk mengambil barang terakhir, suasananya seperti setelah perang.
Kotak-kotak kardus memenuhi lantai.
Rani duduk menangis di sofa.
Ibu mertua tidak lagi berteriak.
Sedangkan Raka berdiri sendirian di teras belakang.
“Nadia.”
Aku berhenti.
“Aku salah.”
Aku tidak menjawab.
“Kalau waktu bisa diputar…”
“Tidak bisa.”
Dia menunduk.
“Aku akan mengganti semua uangmu.”
“Aku tidak membutuhkan uangmu.”
“Lalu apa yang kamu mau?”
Aku memandang laki-laki yang pernah sangat kucintai itu.
“Aku ingin kembali menjadi diriku sendiri.”
Dia menggigit bibir.
“Apakah masih ada kesempatan untuk kita?”
Aku mengeluarkan satu map terakhir dari tas.
Surat gugatan cerai.
Kuserahkan kepadanya.
“Tidak.”
Tangannya gemetar saat menerima map itu.
Aku berjalan keluar tanpa menoleh lagi.
Dua bulan kemudian, aku pindah ke apartemen kecil yang hanya memiliki dua kamar.
Tidak ada ruang makan besar.
Tidak ada halaman luas.
Tidak ada tujuh orang yang harus kupikirkan seleranya.
Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rumah itu benar-benar terasa seperti milikku.
Pada hari ulang tahun Ayah, aku pulang lebih awal.
Aku pergi ke pasar dan membeli satu ekor gurame segar.
Kubersihkan perlahan.
Kubuat sayatan kecil di tubuhnya.
Kugoreng sampai kulitnya keemasan.
Kemudian kubuat saus dari cuka, gula aren, cabai, dan bumbu yang resepnya masih kusimpan dalam buku tua milik Ayah.
Aroma asam manis memenuhi dapur.
Tidak ada yang mengeluh.
Tidak ada yang menutup hidung.
Tidak ada yang mengatakan makanan kesukaanku kampungan.
Aku meletakkan ikan itu di meja.
Saat hendak makan, ponselku berbunyi.
Sebuah pesan dari Pak Budi.
Bu Nadia, saya baru tahu sesuatu yang mungkin membuat Ibu tertawa. Pembeli rumah lama Ibu ternyata merenovasi dapurnya menjadi studio memasak. Anak perempuan mereka seorang chef.
Aku tersenyum.
Beberapa menit kemudian dia mengirim foto.
Di dapur yang dulu selama lima tahun menjadi tempatku memasak untuk keluarga Raka, berdiri seorang perempuan muda dengan celemek putih.
Di atas mejanya ada seekor gurame.
Dan di sampingnya, sebotol cuka.
Aku menatap foto itu lama, lalu tanpa sadar tertawa.
Ternyata rumah itu tidak pernah membenci aroma asam.
Orang-orang yang tinggal di dalamnyalah yang tidak pernah bisa menerima bahwa aku juga punya selera, keinginan, dan kehidupan sendiri.
Aku mengambil sepotong ikan.
Rasanya persis seperti buatan Ayah.
Asam.
Manis.
Sedikit pedas.
Dan untuk pertama kalinya setelah lima tahun, tidak ada seorang pun yang menyuruhku meminta maaf karena menyukai sesuatu.
Aku akhirnya mengerti.
Kadang-kadang seseorang tidak perlu kehilangan rumah untuk menjadi tunawisma.
Dia hanya perlu tinggal terlalu lama di tempat yang membuatnya merasa tidak berhak menjadi dirinya sendiri.
Dan malam itu, di apartemen kecil yang bahkan belum selesai kutata, aku akhirnya pulang.
