BARU SEBULAN SETELAH MELAHIRKAN, AKU MENGETAHUI BAHWA SETIAP MALAM SUAMIKU DIAM-DIAM MENGAMBIL ASI MILIKKU DAN MEMBAWANYA KE RUMAH IBUNYA. SAAT AKU MENGIKUTINYA, AKU BENAR-BENAR TERKEJUT KETIKA MELIHAT…

Tanganku langsung menutup mulut ketika melihat isi ruang tengah rumah ibu mertuaku.

Di atas sofa tua yang biasanya dipakai Pak Surya, ayah mertuaku, terbaring seorang perempuan muda dengan wajah pucat. Tubuhnya tampak sangat kurus. Rambutnya terurai berantakan, dan kedua matanya sembap seperti baru saja menangis berjam-jam.

Namun bukan perempuan itu yang membuat kakiku hampir kehilangan tenaga.

Di dalam gendongannya ada seorang bayi.

Usianya mungkin tidak jauh berbeda dengan putriku.

Bayi itu menangis pelan sambil menggerakkan kedua tangannya.

Ibu mertuaku, Bu Ratna, membuka tas yang dibawa Ardi, mengambil satu kantong ASI milikku, lalu menuangkannya ke dalam botol.

“Nih, cepat dikasih. Kasihan dari tadi nangis,” katanya.

Perempuan muda itu menerima botol tersebut.

Aku membeku.

Jadi selama ini ASI yang kupompa untuk anakku dibawa ke sini untuk diberikan kepada bayi lain?

Darahku seakan naik ke kepala.

Tetapi yang lebih membuatku takut adalah wajah perempuan itu.

Aku mengenalnya.

Namanya Siska.

Dia sepupu jauh Ardi dari pihak ibunya. Beberapa tahun lalu kami pernah bertemu dalam acara keluarga. Setelah itu aku jarang mendengar kabarnya.

Yang kuingat, Siska belum menikah.

Aku hampir mendorong pintu dan menerobos masuk ketika suara Bu Ratna membuatku berhenti.

“Jangan sampai Mira tahu dulu.”

Namaku disebut.

Jantungku serasa diremas.

Ardi mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.

“Aku juga nggak mau bohong terus, Bu.”

“Lalu kamu mau bilang apa?” balas Bu Ratna. “Istrimu baru melahirkan. Dia masih lemah. Kalau tahu sekarang, pikirannya bisa macam-macam.”

“Aku setiap malam mengambil ASI tanpa izin. Kalau ketahuan, justru lebih parah.”

Aku menggigit bibir menahan air mata.

Setidaknya dia sadar perbuatannya salah.

Namun itu tidak mengurangi rasa sakitku.

Siska tiba-tiba menangis.

“Mas Ardi, besok nggak usah bawa lagi. Aku nggak enak sama Mbak Mira.”

Ardi menatap bayi di pelukannya.

“Terus Daffa minum apa?”

Nama bayi itu Daffa.

Siska menunduk.

“Dokter bilang susu formula masih bisa dicoba lagi.”

Bu Ratna langsung menggeleng.

“Kemarin baru dua kali minum, badannya langsung merah semua.”

Aku terdiam.

Rasa marahku sedikit tertahan.

Ardi kemudian duduk di kursi.

“Dokter bilang kemungkinan alergi protein susu sapi. Susu khusus yang disarankan harganya mahal dan harus dipesan. Aku sudah cari ke beberapa apotek.”

“Lalu kenapa tidak bilang kepada istrimu?” tanya Siska lirih.

Ardi tidak langsung menjawab.

“Aku takut.”

“Takut apa?”

Ardi menunduk.

“Takut Mira menolak.”

Dadaku terasa semakin sakit.

Bukan karena aku pasti akan menolak.

Tetapi karena suamiku lebih memilih mencuri dan berbohong daripada mempercayaiku.

Aku tidak sanggup lagi berdiri di luar.

Kudorong pintu perlahan.

Bunyi engsel membuat ketiganya menoleh.

Wajah Ardi langsung pucat.

“Mira?”

Botol susu hampir terlepas dari tangan Bu Ratna.

Aku masuk dengan kaki gemetar.

“Jadi ini alasan ASI-ku selalu hilang?”

Tidak ada seorang pun yang menjawab.

Aku menatap Ardi.

“Jawab.”

“Mira, aku bisa jelaskan.”

“Jelaskan apa? Bahwa setiap malam kamu mengambil ASI yang kusimpan untuk anak kita lalu membawanya ke sini tanpa izin?”

Ardi berdiri.

“Aku salah.”

“Memang salah.”

Suaraku pecah.

“Aku sampai berpikir kamu punya perempuan lain. Aku pikir mungkin kamu punya anak lain yang selama ini kamu sembunyikan.”

Ketika mengatakan kalimat itu, aku melihat ekspresi aneh melintas di wajah Bu Ratna.

Hanya sepersekian detik.

Namun aku menangkapnya.

Aku menoleh kepada bayi di tangan Siska.

Kemudian kepada Ardi.

“Anak siapa dia?”

Siska terlihat panik.

Bu Ratna buru-buru menjawab.

“Ya anaknya Siska.”

“Mana ayahnya?”

Ruangan tiba-tiba sunyi.

Siska mulai menangis.

Ardi mendekatiku.

“Mira, sebaiknya kita pulang dulu.”

Aku mundur.

“Nggak. Aku mau tahu sekarang.”

“Mira…”

“Kenapa semuanya seolah harus disembunyikan dariku?”

Bu Ratna menarik napas panjang.

“Siska mengalami masalah. Ayah bayinya tidak mau bertanggung jawab.”

Aku menatapnya.

“Kalau cuma itu, kenapa Mas Ardi harus datang diam-diam tengah malam?”

Tidak ada jawaban.

Kecurigaanku kembali muncul.

Aku menatap wajah bayi itu lebih teliti.

Hidungnya kecil. Kulitnya putih. Rambutnya tipis.

Aku mencoba mencari kemiripan dengan Ardi dan langsung membenci diriku sendiri karena memikirkannya.

Siska tiba-tiba berdiri.

“Mbak Mira, Mas Ardi bukan ayah Daffa.”

Aku menoleh kepadanya.

Siska menangis semakin keras.

“Aku bersumpah.”

“Kalau begitu siapa?”

Siska memeluk bayinya erat.

“Rendy.”

Aku mengernyit.

Nama itu terasa tidak asing.

Lalu aku teringat.

Rendy adalah adik kandung Ardi.

Adik yang selama dua tahun terakhir hampir tidak pernah disebut di rumah kami.

Rendy pergi dari Yogyakarta setelah berselisih besar dengan keluarganya. Yang kutahu, dia bekerja di Kalimantan.

“Rendy?”

Ardi mengangguk pelan.

“Daffa anak Rendy.”

Aku menatap mereka bergantian.

“Kenapa kalian merahasiakannya dariku?”

Bu Ratna duduk dengan tubuh lemas.

“Karena Rendy sudah meninggal.”

Aku terdiam.

Seolah ada sesuatu yang menghantam dadaku.

“Apa?”

Ardi memejamkan mata.

“Tiga minggu sebelum kamu melahirkan.”

Aku menatap suamiku tidak percaya.

Selama sebulan terakhir dia merawatku, tersenyum kepadaku, menggendong putri kami, bahkan bercanda seperti biasa.

Dan selama itu pula dia menyimpan kabar kematian adik kandungnya.

“Kamu nggak pernah bilang.”

“Aku mau bilang.”

“Kapan?”

Ardi tidak mampu menjawab.

Bu Ratna terisak.

“Rendy kecelakaan waktu perjalanan dari tempat kerjanya. Dia meninggal sebelum sampai rumah sakit.”

Aku memandang Siska.

Perempuan itu menghapus air matanya.

“Ternyata sebelum pergi, Mas Rendy sudah menikah siri denganku. Kami berencana meresmikan pernikahan setelah dia pulang. Tapi dia nggak pernah pulang.”

Daffa mulai menangis lagi.

Siska menggoyangkan tubuhnya pelan.

“Aku melahirkan lebih cepat dari perkiraan karena stres. ASI-ku hampir nggak keluar sama sekali.”

Ardi melanjutkan.

“Beberapa hari setelah kamu pulang dari rumah sakit, kondisi Daffa sempat buruk. Dia nggak cocok dengan beberapa susu formula biasa. Saat itu ASI kamu sedang banyak.”

Aku menatap tajam suamiku.

“Jadi kamu mengambilnya.”

Ardi mengangguk.

“Hari pertama cuma satu kantong. Aku berniat bilang setelah itu.”

“Tapi ternyata kamu mengulanginya.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Ardi menunduk.

“Karena aku melihat dia bisa minum tanpa masalah. Dan aku… aku nggak tega melihat anak terakhir Rendy kelaparan.”

Aku memahami alasan itu.

Tetapi memahami bukan berarti membenarkan.

Aku mengusap air mata di pipiku.

“ASI itu bukan barang yang bisa kamu ambil sesuka hati. Setiap kantong aku pompa sambil menahan sakit. Aku simpan karena takut suatu hari anak kita kekurangan.”

“Aku tahu.”

“Nggak. Kalau kamu tahu, kamu pasti minta izin.”

Ardi terdiam.

Aku menatap Bu Ratna.

“Dan Ibu juga tahu?”

Bu Ratna mengangguk dengan rasa bersalah.

“Ibu yang meminta Ardi jangan bilang dulu.”

Aku tersenyum pahit.

“Jadi semua orang boleh mengambil keputusan tentang tubuhku kecuali aku sendiri?”

Kalimat itu membuat ruangan benar-benar sunyi.

Aku pergi malam itu tanpa mengatakan apa pun lagi.

Ardi mencoba mengikutiku, tetapi aku menyuruhnya tinggal.

Sepanjang perjalanan pulang, air mataku tidak berhenti.

Aku bukan marah karena ASI-ku diberikan kepada bayi yang membutuhkan.

Yang menghancurkan hatiku adalah kenyataan bahwa suamiku tidak menganggapku cukup layak untuk mengetahui kebenaran.

Sesampainya di rumah, aku melihat putriku tertidur di samping ibuku.

Wajah kecilnya begitu tenang.

Aku duduk di sampingnya dan menangis.

Ibuku terbangun.

“Kamu dari mana?”

Aku menceritakan semuanya.

Ibu mendengarkan tanpa menyela.

Setelah selesai, ia hanya berkata, “Besok kalau emosimu sudah lebih tenang, pikirkan satu hal. Yang salah itu memberi ASI kepada bayi lain, atau caranya?”

Aku terdiam.

Aku tahu jawabannya.

Caranya.

Keesokan paginya Ardi pulang dengan wajah kusut.

Dia tidak langsung masuk kamar.

Dia duduk di lantai ruang tamu.

“Aku minta maaf.”

Aku menatapnya tanpa menjawab.

“Aku salah karena mengambil keputusan sendiri.”

“Kenapa kamu sembunyikan kematian Rendy juga?”

Ardi menutup wajah.

Beberapa detik kemudian bahunya bergetar.

Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, aku melihat suamiku menangis seperti anak kecil.

“Aku takut kamu stres waktu hamil tua.”

Suaranya terbata-bata.

“Setelah kamu melahirkan, kamu kesulitan tidur, jahitan masih sakit, bayi kita sering menangis. Setiap hari aku berpikir besok aku akan cerita.”

Dia menarik napas panjang.

“Tapi setiap melihat kamu tersenyum sambil menggendong anak kita, aku nggak tega membawa kabar kematian ke rumah.”

Aku akhirnya memahami sesuatu yang tidak kusadari sebelumnya.

Ardi bukan lelaki tanpa perasaan.

Dia justru terlalu banyak menahan semuanya sendiri.

Menjadi suami.

Menjadi ayah baru.

Menjadi kakak yang kehilangan adiknya.

Dan menjadi anak yang harus menenangkan ibunya.

Tetapi tetap saja dia membuat keputusan yang salah.

“Aku bisa memaafkan kamu karena menyembunyikan kabar Rendy sementara,” kataku.

Ardi mengangkat wajah.

“Tapi soal ASI, jangan pernah mengambil lagi tanpa bertanya.”

Dia mengangguk cepat.

“Nggak akan.”

“Kalau Siska butuh, bilang.”

Ardi terdiam.

Aku melanjutkan.

“Aku nggak berjanji selalu bisa memberi. Anak kita tetap prioritas. Tapi kalau produksiku cukup dan kondisi Daffa memang membutuhkan, aku bisa berbagi.”

Mata Ardi langsung memerah lagi.

“Mira…”

“Jangan terharu dulu. Kamu masih salah.”

Dia tertawa kecil di tengah tangisnya.

Untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya, dadaku terasa sedikit lebih ringan.

Beberapa hari kemudian aku menemani Siska membawa Daffa ke dokter anak.

Setelah diperiksa lebih lanjut, ternyata Daffa memang memiliki dugaan alergi protein susu sapi. Dokter menjelaskan beberapa pilihan nutrisi yang lebih aman dan menyarankan agar kebutuhan bayi tidak hanya bergantung pada ASI donor tanpa pemeriksaan dan pengelolaan yang tepat.

Sejak itu kami menjalani semuanya dengan lebih terbuka.

Aku memberikan sebagian ASI ketika produksiku berlebih.

Siska juga mendapatkan bantuan konselor laktasi untuk meningkatkan produksi ASI-nya sendiri.

Ardi membantu membeli susu khusus ketika dibutuhkan.

Namun kejutan terbesar justru datang sekitar dua bulan kemudian.

Suatu sore seorang kurir menyerahkan amplop tebal atas nama Ardi.

Di dalamnya terdapat surat dari sebuah perusahaan tempat Rendy bekerja.

Rendy ternyata memiliki asuransi jiwa dan santunan kecelakaan kerja.

Nama penerima manfaatnya bukan Bu Ratna.

Bukan Ardi.

Melainkan Daffa.

Karena sebelum meninggal, Rendy diam-diam telah mengurus dokumen pengakuan anak dan mencantumkan Siska sebagai wali.

Bu Ratna menangis ketika membaca surat itu.

Siska bahkan tidak mampu berdiri.

Namun di antara dokumen tersebut ada satu lembar surat tulisan tangan.

Rupanya Rendy menitipkannya kepada seorang rekan kerja untuk dikirim apabila sesuatu terjadi kepadanya.

Surat itu ditujukan kepada Ardi.

Ardi membacanya keras-keras.

“Mas, kalau suatu hari aku tidak sempat pulang, tolong jangan jadikan kesalahanku sebagai bebanmu. Jaga Ibu kalau kau mampu. Kalau anakku lahir, bantu dia sebisamu. Tapi jangan sampai demi menolong keluargaku, kau menyakiti keluargamu sendiri.”

Suara Ardi berhenti.

Tangannya gemetar.

Aku menatapnya.

Dia menatapku kembali.

Kalimat terakhir itu terasa seperti teguran yang datang terlambat dari seseorang yang sudah tidak ada.

Ardi menangis.

“Aku malah melakukan persis hal yang dia takutkan.”

Aku menggenggam tangannya.

“Kamu salah. Tapi kamu memperbaikinya.”

Setahun kemudian Daffa tumbuh menjadi anak yang sehat.

Siska berhasil membangun kehidupan baru dengan menggunakan sebagian santunan Rendy untuk membuka usaha kecil. Dia tetap tinggal dekat Bu Ratna agar Daffa bisa tumbuh mengenal keluarga ayahnya.

Sedangkan putriku dan Daffa tumbuh bersama hampir seperti saudara kandung.

Suatu hari ketika kami sedang berkumpul, Bu Ratna bercanda bahwa mereka pernah meminum ASI dari perempuan yang sama.

Semua tertawa.

Namun aku menatap Ardi dengan tatapan tajam.

Dia langsung mengangkat kedua tangan.

“Aku tahu. Jangan diungkit. Aku sudah bertobat.”

Aku ikut tertawa.

Ada satu hal yang kupelajari dari kejadian itu.

Terkadang seseorang berbohong bukan karena berniat jahat, melainkan karena merasa sedang melindungi orang yang dicintainya.

Namun kebohongan yang dibuat atas nama kebaikan tetap bisa melukai.

Karena kasih sayang bukan hanya tentang melakukan sesuatu yang menurut kita benar.

Kasih sayang juga berarti menghormati hak orang lain untuk mengetahui kebenaran dan menentukan pilihannya sendiri.

Malam ketika aku mengikuti Ardi, aku mengira akan menemukan pengkhianatan terbesar dalam rumah tanggaku.

Ternyata yang kutemukan adalah seorang bayi yang kehilangan ayah, seorang ibu muda yang hampir putus asa, seorang ibu yang sedang berduka, dan seorang suami yang mencoba menyelamatkan semua orang dengan cara yang salah.

Dan ironisnya, bayi yang awalnya membuatku merasa telah dirampas sesuatu dariku justru menjadi alasan keluarga kami belajar satu hal yang selama ini kami anggap sederhana.

Kepercayaan tidak tumbuh karena kita tidak pernah melakukan kesalahan.

Kepercayaan tumbuh ketika setelah sebuah kesalahan terbongkar, kita memilih berhenti menyembunyikan apa pun lagi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang