KARENA TERLALU “BERSENANG SENANG”, SUAMIKU DAN SELINGKUHANNYA HARUS DILARIKAN KE IGD. MEREKA BAHKAN MENGGUNAKAN KARTU KREDITKU UNTUK MEMBAYAR BIAYA RUMAH SAKIT. SIAPA SANGKA, KETIKA DOKTER MENGUMUMKAN APA YANG SEBENARNYA TERJADI, KEDUANYA LANGSUNG MENANGIS KERAS…

“Kamu… kenapa kamu ada di sini?”

Suara Ardi terdengar serak. Wajahnya yang pucat mendadak semakin tegang ketika melihatku berdiri di ambang pintu IGD.

Aku tidak langsung menjawab.

Tatapanku beralih dari suamiku kepada perempuan di ranjang sebelah. Rani menundukkan kepala. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat, dan kedua tangannya mencengkeram selimut rumah sakit seolah kain tipis itu mampu menyembunyikannya dariku.

Dua belas tahun menikah dengan Ardi membuatku mengenal hampir setiap ekspresi wajahnya.

Aku tahu bagaimana wajahnya ketika berbohong.

Aku tahu bagaimana caranya menghindari tatapanku ketika merasa bersalah.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang berbeda.

Ketakutan.

“Rumah sakit yang meneleponku,” jawabku akhirnya. “Katanya suamiku masuk IGD. Ternyata kamu tidak sendirian.”

“Maya, dengarkan dulu.”

“Aku sedang mendengarkan.”

Ardi membuka mulut, tetapi tidak ada kalimat yang keluar.

Seorang perawat datang membawa beberapa dokumen. Ia tampak tidak menyadari ketegangan yang memenuhi ruangan.

“Ibu Maya?”

“Iya.”

“Untuk administrasi Pak Ardi, tadi beliau memberikan kartu kredit atas nama Ibu. Tetapi transaksinya ditolak.”

Aku menatap Ardi.

Jadi benar.

Kartu yang kublokir beberapa jam sebelumnya memang dibawanya.

Perawat menyerahkan kartu itu kepadaku.

Aku mengenal goresan kecil di sudutnya. Kartu itu kusimpan di laci meja kerja dan hanya kugunakan untuk kebutuhan keluarga, terutama biaya sekolah Daffa dan keadaan darurat.

Rupanya menurut Ardi, membawa selingkuhannya ke rumah sakit setelah menghabiskan malam bersama juga termasuk keadaan darurat keluarga.

Aku memasukkan kartu itu ke dalam tas.

“Maaf, Mbak. Kartu ini sudah saya blokir.”

Wajah Ardi langsung berubah.

“Maya, jangan bikin masalah sekarang. Bayar dulu. Nanti kita bicara di rumah.”

Aku hampir tertawa.

“Masalah?”

Aku menatapnya lurus.

“Kamu masuk rumah sakit bersama perempuan lain sambil membawa kartu kredit istriku, lalu menurutmu aku yang sedang membuat masalah?”

Rani tiba-tiba menyela.

“Mbak Maya, sebenarnya ini tidak seperti yang Mbak pikirkan.”

Aku menoleh kepadanya.

“Kalimat itu memang wajib diucapkan, ya?”

Rani terdiam.

Aku tidak berteriak. Tidak menangis. Bahkan aku sendiri terkejut melihat betapa tenangnya diriku.

Mungkin karena rasa sakit terbesarku sebenarnya sudah terjadi ketika menemukan struk hotel dan lipstik itu.

Malam ini hanya memberikan nama dan wajah pada pengkhianatan yang selama beberapa minggu terakhir sudah kurasakan.

Seorang dokter kemudian masuk membawa hasil pemeriksaan awal.

“Bapak Ardi, Ibu Rani, hasil laboratorium sementara sudah keluar.”

Ardi langsung memalingkan wajah dariku.

Dokter memeriksa lembar di tangannya.

“Kondisi kalian sudah lebih stabil. Tetapi kami menemukan dehidrasi cukup berat, ketidakseimbangan elektrolit, dan denyut jantung yang sempat meningkat signifikan. Ada satu hal lagi yang perlu kami tanyakan.”

Dokter menatap keduanya.

“Apakah sebelum kejadian kalian mengonsumsi obat, suplemen, atau minuman tertentu?”

“Tidak,” jawab Ardi terlalu cepat.

Dokter mengernyit.

“Yakin?”

Rani tampak gelisah.

“Cuma… suplemen biasa, Dok.”

Ardi langsung menoleh tajam kepadanya.

“Rani.”

“Apa? Dokternya harus tahu.”

Dokter mendekat.

“Suplemen apa?”

Rani menyebut sebuah produk yang tidak kukenal.

Dokter menghela napas.

“Berapa banyak?”

Rani mengangkat dua jari dengan ragu.

“Dua kapsul.”

“Per orang?”

Rani tidak menjawab.

Ardi memejamkan mata.

Dokter seolah sudah memahami jawabannya.

“Produk seperti itu tidak boleh dikonsumsi sembarangan, apalagi dengan dosis berlebihan. Dari pemeriksaan awal, reaksi tubuh kalian kemungkinan diperparah oleh kombinasi suplemen tersebut dengan minuman berenergi dan kurangnya asupan cairan.”

Aku menatap Ardi.

Pria yang selama ini selalu mengaku pulang terlambat karena rapat penting ternyata terbaring di IGD karena kebodohannya sendiri.

Namun dokter belum selesai.

“Kami juga melakukan pemeriksaan tambahan karena ada beberapa keluhan lain yang disampaikan ketika pasien tiba.”

Wajah Rani berubah.

“Keluhan apa, Dok?” tanyaku.

Dokter memandang Ardi dan Rani bergantian.

“Sebaiknya saya membicarakannya dengan pasien terlebih dahulu.”

“Dok,” kata Ardi cepat, “istri saya bisa menunggu di luar.”

Aku mengangguk.

“Tentu.”

Aku berbalik hendak pergi.

Namun Rani mendadak berkata, “Tidak usah.”

Aku berhenti.

Rani menatap Ardi.

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku capek terus disuruh menyembunyikan semuanya.”

“Rani, diam.”

“Kenapa aku harus diam?”

Nada suaranya meninggi.

“Kamu bilang akan menceraikan dia setelah urusan rumah selesai. Kamu bilang tinggal menunggu sertifikatnya bisa dipakai untuk pinjaman.”

Langkahku membeku.

Aku perlahan berbalik.

“Rumah?”

Ardi tampak panik.

“Dia sedang tidak sadar bicara apa.”

Tetapi Rani justru semakin emosional.

“Kamu sendiri yang bilang rumah itu bisa dijadikan jaminan setelah Maya menandatangani suratnya!”

Darahku serasa berhenti mengalir.

Beberapa hari sebelumnya Ardi memang pernah menyodorkan setumpuk dokumen kepadaku. Katanya hanya pembaruan data untuk asuransi keluarga.

Aku tidak menandatanganinya karena sedang sibuk dan berjanji membacanya akhir pekan.

Ternyata firasatku kembali menyelamatkanku.

“Apa yang mau kamu lakukan dengan rumah kita?” tanyaku.

“Tidak ada.”

“Jawab.”

“Maya, ini rumah sakit.”

“Justru bagus. Banyak saksi.”

Ardi terdiam.

Dokter terlihat tidak nyaman dengan pertengkaran itu dan mencoba mengembalikan pembicaraan pada kondisi medis.

“Ada hal lain yang perlu diketahui. Dari hasil pemeriksaan, kami menemukan indikasi infeksi yang membutuhkan tes lanjutan. Kami belum bisa mengambil kesimpulan sebelum pemeriksaan konfirmasi selesai.”

Rani langsung menatap dokter.

“Infeksi?”

“Iya.”

“Dari siapa?”

“Tidak bisa ditentukan seperti itu.”

Ardi mendadak duduk sedikit lebih tegak.

“Dok, maksudnya infeksi apa?”

Dokter menjelaskan bahwa keduanya perlu menjalani pemeriksaan lebih lanjut dan sebaiknya tidak membuat asumsi sebelum hasil lengkap keluar.

Namun kalimat itu justru menjadi percikan api.

Rani menatap Ardi dengan wajah tidak percaya.

“Kamu bilang aku satu-satunya.”

Ardi mengerutkan kening.

“Memangnya bukan dari kamu?”

“Aku melakukan pemeriksaan kesehatan tiga bulan lalu!”

“Terus kamu pikir aku dari siapa?”

Rani tiba-tiba menangis.

“Jadi masih ada perempuan lain?”

Aku berdiri beberapa meter dari mereka dan nyaris tidak percaya pada apa yang kusaksikan.

Ternyata aku bukan satu-satunya orang yang dibohongi Ardi.

Selingkuhannya pun ditipu.

“Rani, jangan ngawur!”

“Jangan sentuh aku!”

Rani menarik tangannya ketika Ardi mencoba mendekat.

Tangisnya pecah.

“Aku meninggalkan tunanganku karena kamu!”

Kalimat itu membuat ruangan mendadak sunyi.

Aku menatapnya.

“Kamu punya tunangan?”

Rani menutup wajahnya.

Ardi memaki pelan.

Dan untuk beberapa detik, situasi itu terasa begitu absurd sampai aku tidak tahu harus marah atau tertawa.

Suamiku berselingkuh dengan perempuan yang ternyata juga berselingkuh dari tunangannya.

Keduanya saling menjanjikan masa depan sambil sama-sama menyembunyikan kehidupan masing-masing.

Namun kejutan malam itu belum selesai.

Ponsel Ardi yang tergeletak di meja tiba-tiba berbunyi.

Layar menyala.

Sebuah pesan muncul.

Aku tidak berniat membacanya, tetapi nama pengirimnya terlihat jelas.

Nadia Kantor.

Pesannya hanya beberapa kata.

Mas, kok belum datang? Aku masih nunggu di apartemen.

Rani juga melihatnya.

Wajahnya langsung kosong.

“Siapa Nadia?”

Ardi tidak menjawab.

“SIAPA NADIA?”

Rani menangis semakin keras.

Ardi berusaha meraih ponselnya, tetapi infus di tangannya membatasi gerakannya.

Aku akhirnya tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Aku hanya baru menyadari betapa sia-sianya selama ini aku bertanya-tanya apa kekuranganku.

Ternyata persoalannya tidak pernah tentang aku.

Tidak ada istri yang cukup sempurna untuk membuat pria yang memang memilih berbohong menjadi setia.

Aku mengambil tasku.

“Maya.”

Aku berhenti.

Ardi menatapku.

Untuk pertama kalinya malam itu, kesombongannya hilang.

“Tolong jangan pergi dulu.”

“Aku harus pulang.”

“Terus biaya rumah sakit?”

Aku memandangnya beberapa detik.

Bahkan dalam keadaan seperti itu, yang pertama kali dipikirkannya masih uangku.

“Hubungi Nadia,” kataku. “Siapa tahu dia punya kartu kredit yang masih aktif.”

Rani menatap Ardi penuh kebencian.

Aku berjalan keluar.

Tetapi sebelum mencapai pintu, Ardi memanggilku lagi.

“Maya!”

Aku menoleh.

“Jangan bawa-bawa Daffa dalam masalah kita.”

Mendengar nama putraku, senyumku hilang.

“Aku justru melakukan semua ini karena Daffa.”

Aku mendekatinya kembali.

“Kamu tahu kenapa kartu itu langsung kubekukan?”

Ardi terdiam.

“Karena beberapa minggu terakhir aku sudah memindahkan dana pendidikan Daffa ke rekening khusus yang hanya bisa kuakses sendiri.”

Wajah Ardi berubah.

“Dan kemarin aku sudah bertemu pengacara.”

“Kamu sudah merencanakan ini?”

“Tidak.”

Aku menggeleng.

“Kamulah yang merencanakannya. Aku cuma berhenti menjadi orang terakhir yang tahu.”

Aku meninggalkan IGD tanpa menoleh lagi.

Dalam perjalanan pulang, aku menangis untuk pertama kalinya.

Bukan karena kehilangan Ardi.

Aku menangisi dua belas tahun hidupku yang selama ini kuanggap dibangun bersama seseorang yang mengenalku.

Ternyata orang yang tidur di sampingku setiap malam bisa menjadi orang asing tanpa kusadari.

Sesampainya di rumah, aku masuk ke kamar Daffa.

Ia tertidur sambil memeluk bantal berbentuk dinosaurus. Buku pelajarannya masih terbuka di meja.

Aku duduk di tepi ranjang dan membelai rambutnya.

Saat itulah aku tahu satu hal.

Aku tidak boleh membiarkan pengkhianatan Ardi menghancurkan masa depan anak kami.

Keesokan paginya, pengacaraku datang membawa salinan dokumen yang sebelumnya hendak diberikan Ardi kepadaku.

Dugaanku benar.

Di antara dokumen-dokumen itu terdapat surat persetujuan yang bisa membuka jalan untuk menggunakan aset rumah sebagai jaminan pinjaman bisnis.

Lebih buruk lagi, ternyata Ardi sedang terlilit utang.

Ia telah menggunakan uang perusahaan tempatnya bekerja untuk menutup beberapa investasi pribadi yang gagal.

Hubungannya dengan Rani bukan sekadar perselingkuhan.

Rani bekerja di perusahaan rekanan dan pernah membantu Ardi menyembunyikan sejumlah transaksi.

Aku menyerahkan semua dokumen yang kumiliki kepada pengacara.

Aku tidak membalas dendam.

Aku hanya melindungi apa yang menjadi hakku dan hak anakku.

Dua hari kemudian, hasil pemeriksaan lanjutan dari rumah sakit keluar.

Aku mengetahuinya bukan dari Ardi, melainkan karena ia sendiri meneleponku puluhan kali.

Aku akhirnya menjawab.

“Maya…”

Suaranya terdengar hancur.

“Apa?”

“Hasil tesku keluar.”

Aku diam.

“Dokter bilang hasil pemeriksaan awal itu ternyata bukan seperti yang kami takutkan. Tes konfirmasinya negatif.”

Seharusnya ia lega.

Namun ia justru terdengar seperti sedang menangis.

“Lalu kenapa kamu meneleponku?”

Ardi terisak.

“Rani pergi.”

Aku tidak menjawab.

“Dia mengaku semua soal transaksi perusahaan. Nadia juga memblokir aku. Kantor melakukan audit. Mereka menemukan semuanya.”

Aku memejamkan mata.

Jadi itulah alasan tangisnya.

Bukan karena kehilangan keluarga.

Melainkan karena seluruh kebohongan yang dibangunnya runtuh pada saat bersamaan.

“Aku mungkin kehilangan pekerjaan.”

“Semoga kamu bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan.”

“Maya, kita sudah dua belas tahun menikah.”

“Benar.”

“Setidaknya beri aku satu kesempatan.”

Aku menatap foto keluarga yang masih tergantung di ruang tamu.

Dalam foto itu, Ardi memeluk bahuku. Daffa berdiri di tengah kami sambil tertawa.

Dulu aku mengira mempertahankan keluarga berarti mempertahankan pernikahan apa pun yang terjadi.

Sekarang aku mengerti bahwa terkadang menyelamatkan keluarga justru berarti berani mengakhiri sesuatu yang terus merusaknya.

“Aku sudah memberimu kesempatan selama dua belas tahun, Ardi.”

Aku memutus sambungan telepon.

Enam bulan kemudian, perceraian kami selesai.

Ardi kehilangan pekerjaannya setelah audit internal menemukan pelanggaran serius. Ia harus menghadapi proses hukum terkait sejumlah transaksi yang dilakukannya. Rani bekerja sama dalam penyelidikan dan kemudian menghilang sepenuhnya dari kehidupan kami.

Aku menjual rumah besar yang terlalu penuh kenangan dan membeli rumah yang lebih sederhana di bagian Bandung yang lebih tenang.

Daffa sempat bertanya kenapa ayahnya tidak tinggal bersama kami lagi.

Aku tidak pernah mengatakan bahwa ayahnya adalah orang jahat.

Aku hanya berkata bahwa orang dewasa terkadang membuat pilihan yang memiliki konsekuensi besar.

Suatu sore, ketika aku sedang membereskan kardus terakhir setelah pindahan, Daffa datang membawa sebuah amplop.

“Bu, ini punya Ibu?”

Aku mengenal amplop itu.

Di dalamnya terdapat kartu kredit yang malam itu dikembalikan perawat kepadaku.

Kartu yang menjadi awal terbongkarnya semuanya.

Aku memandangnya cukup lama, kemudian mengambil gunting dan memotongnya menjadi beberapa bagian.

Daffa tertawa.

“Kenapa dipotong?”

“Karena sudah tidak dibutuhkan.”

Ia mengangguk, lalu berlari keluar untuk bermain.

Aku hendak membuang potongan kartu itu ketika melihat tulisan kecil di belakang salah satunya.

Nomor layanan bank.

Aku teringat sesuatu dan mengambil ponsel.

Beberapa menit kemudian aku berbicara dengan petugas bank untuk memastikan seluruh akun lama benar-benar sudah ditutup.

Petugas itu memeriksa data.

“Ibu Maya, kartu atas nama Ibu memang sudah ditutup. Tapi ada satu informasi yang mungkin perlu Ibu ketahui.”

“Apa?”

“Pada malam sebelum kartu diblokir, ada percobaan transaksi dalam jumlah besar yang gagal.”

Jantungku berdetak lebih cepat.

“Di mana?”

Petugas menyebut nama sebuah kantor notaris.

Aku langsung terdiam.

Bukan rumah sakit.

Jadi sebelum membawa Rani ke hotel malam itu, Ardi ternyata sudah mencoba menggunakan kartuku untuk membayar sesuatu di kantor notaris.

Aku menghubungi pengacaraku.

Setelah ditelusuri, kami menemukan fakta terakhir yang bahkan lebih mengejutkan.

Ardi bukan hanya berencana menjaminkan rumah.

Ia sudah menyiapkan dokumen untuk mengalihkan sebagian kepemilikan aset melalui perusahaan baru yang diam-diam didirikannya.

Dan nama calon pemegang saham kedua perusahaan itu bukan Rani.

Bukan pula Nadia.

Namanya adalah seseorang yang sama sekali tidak kukenal.

Seorang perempuan lain.

Aku menatap dokumen itu cukup lama sebelum akhirnya tertawa kecil.

Selama berbulan-bulan aku mengira malam di IGD adalah malam ketika perselingkuhan suamiku terbongkar.

Ternyata aku salah.

Malam itu bukan tentang seorang istri yang memergoki suaminya bersama perempuan lain.

Malam itu adalah malam ketika satu kartu kredit yang kututup beberapa jam lebih awal menghentikan rangkaian kebohongan yang hampir merampas rumah, tabungan, dan masa depan anakku.

Aku tidak pernah mencari perempuan keempat itu.

Aku juga tidak lagi ingin tahu berapa banyak kebohongan Ardi yang belum terbongkar.

Ada kebenaran yang perlu kita cari agar bisa menyelamatkan diri.

Namun ada pula kebenaran yang tidak lagi penting setelah kita berhasil keluar dari tempat yang seharusnya sudah lama kita tinggalkan.

Aku memasukkan dokumen itu ke dalam map untuk pengacaraku, lalu berjalan ke halaman.

Daffa sedang berusaha menerbangkan layang-layang kecil. Ketika melihatku, ia melambaikan tangan.

“Bu! Lihat! Tinggi banget!”

Aku mendongak.

Layang-layang itu belum terlalu tinggi.

Tapi aku tersenyum.

“Iya,” jawabku. “Terus tarik. Jangan dilepas.”

Saat melihat anakku tertawa di bawah langit sore Bandung, aku akhirnya memahami sesuatu yang selama ini tidak kupahami.

Kehilangan pernikahan tidak selalu berarti kehilangan keluarga.

Kadang-kadang, justru setelah seseorang yang terus berbohong pergi, kita baru menyadari bahwa rumah bukanlah bangunan yang harus dipertahankan dengan segala cara.

Rumah adalah tempat di mana kita tidak perlu hidup dalam ketakutan, kecurigaan, dan kebohongan.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa benar-benar sudah pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang