Di sana ada sebuah amplop cokelat dengan namaku tertulis di bagian depan.
LARAS.
Tulisan tangan itu membuat kedua lututku seketika lemas.
Aku mengenalnya.
Huruf-huruf yang sedikit miring ke kanan, dengan garis panjang pada huruf terakhir. Tulisan tangan Ibu.
Tanganku gemetar ketika mengambil amplop tersebut.
Di bawahnya tergeletak ponsel lama milik Ibu. Layarnya sudah mati. Ketika kutekan tombol daya berkali-kali, tidak ada reaksi sama sekali.
Aku membuka amplop itu.
Di dalamnya terdapat sebuah kunci kecil dan selembar kertas yang sudah terlipat.

“Laras, kalau kamu membaca surat ini, mungkin kamu sudah pulang. Jangan takut. Ibu tidak marah karena kamu lama tidak pulang. Ibu tahu hidupmu di Jakarta tidak mudah.”
Baru membaca dua kalimat, pandanganku sudah kabur oleh air mata.
Aku melanjutkan.
“Maaf kalau beberapa bulan terakhir Ibu tidak menjawab teleponmu. Bukan karena Ibu tidak ingin bicara denganmu. Ada hal yang belum sanggup Ibu ceritakan lewat telepon. Kalau kamu pulang, pergilah ke rumah Tulang Maruli. Bawa kunci ini.”
Surat itu berhenti sampai di sana.
Tidak ada penjelasan lain.
Aku menatap kunci kecil di telapak tanganku.
“Ibu sebenarnya ada di mana?”
Aku berlari keluar rumah tanpa sempat membersihkan wajah.
Rumah Tulang Maruli hanya berjarak sekitar dua ratus meter dari rumah kami. Dia sepupu mendiang Ayah dan sudah kuanggap seperti paman sendiri sejak kecil.
Aku mengetuk pintunya berkali-kali.
“Tulang! Tulang Maruli!”
Pintu terbuka.
Seorang laki-laki berusia hampir enam puluh tahun muncul dari dalam.
Begitu melihatku, wajahnya langsung berubah.
“Laras?”
“Tulang tahu Ibu di mana?”
Dia terdiam.
Keheningan itu membuat darahku terasa mendidih.
“Tiga bulan aku telepon Ibu tidak pernah diangkat. Rumah kosong. Ponselnya mati. Ada surat yang menyuruhku datang ke sini. Tolong jangan diam saja!”
Tulang Maruli menghela napas panjang.
“Masuk dulu.”
“Aku tidak mau masuk sebelum Tulang menjawab. Ibu di mana?”
Matanya memerah.
“Ibumu masih hidup.”
Aku hampir jatuh karena lega.
Namun rasa lega itu hanya bertahan beberapa detik.
“Kalau masih hidup, kenapa rumahnya kosong?”
“Karena sekarang dia tinggal di tempat lain.”
“Di mana?”
Tulang Maruli mengambil jaketnya.
“Ikut aku.”
Kami naik mobil pikap tua miliknya.
Sepanjang perjalanan aku terus bertanya, tetapi dia hanya mengatakan bahwa aku akan segera mengetahui semuanya.
Mobil melaju sekitar empat puluh menit menuju pusat kota.
Ketika Tulang membelokkan mobil memasuki halaman sebuah rumah sakit, jantungku kembali berdegup kencang.
Aku menoleh kepadanya.
“Kenapa kita ke rumah sakit?”
Dia tidak menjawab.
Aku langsung turun begitu mobil berhenti.
Tulang membawaku menuju sebuah bangunan di bagian belakang rumah sakit. Di depan pintunya tertulis Ruang Hemodialisis.
Aku tidak memahami artinya sampai melihat beberapa pasien berbaring di tempat tidur dengan selang terhubung ke mesin.
Langkahku mendadak berhenti.
Di tempat tidur paling ujung, dekat jendela, ada seorang perempuan tua bertubuh sangat kurus.
Rambutnya yang dahulu masih banyak berwarna hitam kini hampir seluruhnya memutih.
Wajahnya pucat.
Tangannya terlihat jauh lebih kecil daripada yang kuingat.
Namun aku mengenal wajah itu bahkan jika seluruh dunia berubah.
“Ibu…”
Perempuan itu perlahan membuka mata.
Ketika melihatku, bibirnya bergetar.
“Laras?”
Aku berlari menghampirinya.
“Ibu!”
Aku memeluk tubuhnya, tetapi segera melepaskan pelukan karena takut menyentuh selang di tangannya.
Air mataku mengalir tanpa bisa dihentikan.
“Ibu kenapa? Kenapa tidak bilang? Kenapa Ibu diam saja?”
Ibu justru tersenyum.
Senyum yang sama seperti ketika aku masih kecil dan pulang sekolah sambil menangis karena terjatuh.
“Sudah pulang, Nak?”
Pertanyaan sederhana itu membuat tangisku semakin keras.
Aku menggenggam tangannya.
“Kenapa Ibu begini?”
Tulang Maruli berdiri beberapa langkah di belakangku.
Akhirnya dia menjelaskan.
Sekitar delapan bulan lalu, Ibu sering mengalami mual, sesak, dan pembengkakan pada kaki. Awalnya beliau menganggapnya hanya kelelahan karena terlalu lama berdiri di pasar.
Ketika kondisinya memburuk, Tulang membawanya ke rumah sakit.
Dokter menemukan fungsi ginjal Ibu sudah sangat menurun.
Beliau harus menjalani cuci darah secara rutin.
Aku merasa seolah ada sesuatu menghantam dadaku.
“Kenapa tidak ada yang memberitahuku?”
“Ibumu melarang,” jawab Tulang.
Aku menatap Ibu.
“Kenapa?”
Ibu memalingkan wajah ke jendela.
“Karena waktu itu kamu baru cerita usaha Ardi bangkrut. Kamu juga bilang kantormu sedang mengurangi karyawan.”
“Tapi aku anak Ibu!”
“Ibu tahu.”
“Justru karena itu aku harus tahu!”
Suaraku meninggi tanpa kusadari.
Beberapa orang menoleh.
Aku menundukkan kepala dan menangis.
“Ibu pikir uang lebih penting daripada Ibu?”
Ibu mengusap punggung tanganku.
“Tidak.”
“Lalu kenapa?”
“Karena Ibu tahu anak Ibu.”
Aku menatapnya.
“Kalau kamu tahu Ibu sakit, kamu pasti pulang. Kamu mungkin berhenti kerja, berutang, menjual barang-barangmu, melakukan apa saja. Ibu tidak mau hidupmu hancur hanya karena kamu berusaha mempertahankan hidup Ibu.”
Aku tidak mampu menjawab.
Selama beberapa menit hanya suara mesin yang terdengar.
Setelah proses cuci darah selesai, Tulang membawa kami ke sebuah rumah kecil tidak jauh dari rumah sakit.
Ternyata selama beberapa bulan terakhir Ibu tinggal di sana bersama seorang kerabat jauh agar lebih dekat dengan rumah sakit.
Itulah sebabnya rumah kami di kampung kosong.
Malam itu aku menelepon Ardi.
Begitu mendengar semuanya, dia langsung berkata, “Aku menyusul.”
“Mas, uang kita hampir habis.”
“Uang bisa dicari lagi.”
Aku terdiam.
“Dia ibumu, Ras.”
Dua hari kemudian Ardi tiba.
Dia langsung mencium tangan Ibu.
“Maaf, Bu. Saya terlambat datang.”
Ibu tersenyum.
“Kalian datang saja Ibu sudah senang.”
Aku kemudian mulai mencari tahu seluruh biaya pengobatan.
Saat itulah muncul keanehan pertama.
Menurut petugas administrasi rumah sakit, sebagian besar biaya perawatan Ibu selama beberapa bulan terakhir selalu dibayar tepat waktu.
Aku terkejut.
“Dibayar siapa?”
Petugas memeriksa komputer.
“Biasanya transfer.”
“Dari rekening siapa?”
“Maaf, Bu, kami hanya mencatat nomor transaksi.”
Aku menemui Tulang Maruli.
Dia terlihat gugup ketika kutanyakan hal itu.
“Tulang yang bayar?”
“Bukan.”
“Lalu siapa?”
Dia terdiam.
Aku teringat kunci kecil dari amplop Ibu.
“Tulang, kunci ini untuk apa?”
Wajahnya berubah.
Dia akhirnya membawaku kembali ke rumah.
Di kamar Ibu terdapat lemari kayu tua yang sudah ada sejak aku kecil. Bagian bawahnya memiliki sebuah laci kecil yang selalu terkunci.
Kunci dari amplop itu ternyata cocok.
Ketika laci terbuka, aku menemukan buku tabungan, beberapa dokumen, dan sebuah kotak plastik.
Aku membuka buku tabungan terlebih dahulu.
Mataku membesar.
Saldo terakhirnya lebih dari seratus delapan puluh juta rupiah.
Aku menatap Ibu yang duduk di tepi tempat tidur.
“Ibu dapat uang sebanyak ini dari mana?”
Ibu tertawa kecil.
“Jual sayur.”
“Jangan bercanda.”
Aku memeriksa riwayat transaksi.
Selama bertahun-tahun terdapat setoran kecil.
Lima ratus ribu.
Satu juta.
Dua juta.
Kadang hanya tiga ratus ribu.
Namun dilakukan terus-menerus.
“Ibu menabung sejak kamu mulai bekerja di Jakarta,” kata Tulang.
“Untuk apa?”
Ibu tidak menjawab.
Aku membuka kotak plastik.
Di dalamnya ada puluhan bukti transfer.
Namaku tercetak pada hampir semuanya.
Aku membeku.
Aku mengenali beberapa tanggal.
Ketika aku pertama kali kehilangan pekerjaan lima tahun lalu.
Ketika aku dan Ardi menikah.
Ketika kami membayar uang muka kontrakan.
Ketika usaha Ardi baru dimulai.
Selama ini setiap kali Ibu mengatakan, “Ada sedikit uang hasil jualan,” aku mengira beliau benar-benar hanya mengirim uang seadanya.
Aku tidak pernah menyadari bahwa “sedikit” itu berasal dari tabungan yang dikumpulkannya bertahun-tahun.
Lalu aku menemukan satu dokumen lain.
Sertifikat tanah.
Tanah kebun milik keluarga kami sudah dijual delapan bulan lalu.
Tanganku menjadi dingin.
“Ibu menjual kebun Ayah?”
Tidak ada jawaban.
“Untuk biaya pengobatan?”
Ibu menggeleng.
Aku semakin bingung.
Tulang Maruli akhirnya berkata pelan, “Sebagian untuk pengobatan. Sebagian besar tetap disimpan.”
“Kenapa?”
Ibu menatap Ardi.
Kemudian menatapku.
“Karena Ibu tahu kalian punya utang.”
Aku berdiri.
“Ibu sakit begini masih memikirkan utang kami?”
Ibu tersenyum.
“Ibu tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu.”
Aku menangis sambil menggeleng.
“Tapi aku punya Ibu. Kenapa Ibu tidak pernah berpikir begitu?”
Untuk pertama kalinya, senyum Ibu menghilang.
Matanya berkaca-kaca.
Aku berlutut di hadapannya.
“Seumur hidup Ibu selalu bilang semua baik-baik saja. Waktu Ayah meninggal, Ibu bilang baik-baik saja. Waktu uang sekolahku tidak cukup, Ibu bilang baik-baik saja. Waktu aku menikah dan pergi jauh, Ibu juga bilang baik-baik saja.”
Aku menggenggam kedua tangannya.
“Tapi ternyata Ibu tidak baik-baik saja.”
Air mata mengalir di pipinya.
Aku belum pernah melihat Ibu menangis seperti itu.
“Laras…”
“Mulai sekarang jangan bohong lagi.”
Aku memeluknya.
“Aku tidak butuh warisan. Aku tidak butuh uang. Aku cuma ingin punya waktu lebih lama bersama Ibu.”
Ardi kemudian membantu mengurus administrasi pengobatan, sementara aku meminta izin kerja untuk tinggal lebih lama di Sumatera Utara.
Beberapa minggu kemudian, kondisi Ibu mulai lebih stabil.
Namun sebuah kejadian kembali membuatku terkejut.
Suatu sore seorang perempuan berseragam perawat mendatangiku.
“Mbak Laras?”
“Iya.”
“Ada seseorang ingin bertemu.”
Di luar rumah sakit berdiri seorang laki-laki tua yang tidak kukenal.
Usianya sekitar tujuh puluh tahun.
Dia membawa tas hitam.
“Anda Laras?”
“Iya.”
Dia memperkenalkan diri sebagai Parlindungan Siregar, teman lama Ayah.
Kemudian dia mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak pernah kuduga.
Biaya cuci darah Ibu beberapa bulan terakhir bukan dibayar dari tabungan Ibu.
Dialah yang membayarnya.
“Kenapa Bapak melakukan itu?”
Laki-laki itu tersenyum.
“Karena dulu ayahmu menyelamatkan hidup saya.”
Aku terdiam.
Puluhan tahun lalu, sebelum menikahi Ibu, Ayah bekerja sebagai sopir angkutan. Suatu malam kendaraan Parlindungan mengalami kecelakaan. Ayah adalah orang pertama yang menolongnya dan membawa dirinya ke rumah sakit.
Setelah sukses menjalankan usaha di Medan, Parlindungan beberapa kali mencoba membalas kebaikan Ayah, tetapi Ayah selalu menolak.
Ketika mendengar Ibu sakit dari Tulang Maruli, dia akhirnya menemukan kesempatan untuk membayar utang yang menurutnya tidak pernah lunas.
“Kenapa tidak bilang kepada saya?”
“Ibumu meminta begitu.”
Aku hampir tertawa sekaligus menangis.
Tentu saja.
Lagi-lagi Ibu.
Laki-laki itu menyerahkan tas hitam kepadaku.
Di dalamnya terdapat dokumen tanah kebun kami.
Aku langsung mengenalinya.
“Tapi tanah ini sudah dijual.”
“Benar.”
“Jadi…”
“Saya yang membelinya.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Saya sengaja membeli atas nama anak saya. Ibumu tidak mau menerima bantuan cuma-cuma.”
Dia kemudian mengeluarkan dokumen lain.
Surat pengalihan hak.
Tanah itu dikembalikan kepadaku.
Aku menggeleng cepat.
“Saya tidak bisa menerima ini.”
Parlindungan tersenyum.
“Kalimat itu persis seperti yang dikatakan ayahmu tiga puluh tahun lalu.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Sore itu aku pulang membawa sertifikat tersebut.
Ibu sedang duduk di teras menikmati matahari sore.
Aku duduk di sampingnya.
“Ibu tahu Pak Parlindungan datang?”
Ibu tersenyum kecil.
“Sudah bertemu rupanya.”
Aku menyandarkan kepala di bahunya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa kembali menjadi anak kecil.
Tiga bulan kemudian, aku dan Ardi mengambil keputusan besar.
Kami tidak kembali menetap di Jakarta.
Ardi mendapatkan pekerjaan di Medan melalui seorang kenalan. Aku berhasil mendapatkan sistem kerja jarak jauh dari perusahaan.
Kami menyewa rumah sederhana yang memungkinkan kami lebih mudah menemani Ibu menjalani pengobatan.
Tabungan Ibu tidak kami gunakan untuk membayar utang kami.
Aku mengembalikannya ke rekening atas nama Ibu.
Suatu malam, ketika kami sedang makan bersama, Ibu tiba-tiba bertanya,
“Kalian tidak menyesal meninggalkan Jakarta?”
Aku menggeleng.
“Dulu aku pikir pulang berarti gagal.”
Ibu menatapku.
“Sekarang?”
Aku tersenyum.
“Sekarang aku tahu pulang berarti masih punya tempat untuk kembali.”
Ibu tertawa kecil.
Setahun kemudian, rumah tua di kampung kembali ramai.
Bunga kertas yang hampir mati mulai tumbuh lagi.
Aku menanam bibit baru di sampingnya, tetapi tidak mencabut batang yang lama.
Anehnya, setelah musim hujan tiba, batang tua itu kembali mengeluarkan daun.
Suatu pagi aku melihat Ibu berdiri di depan rumah sambil menyiram tanaman.
Tubuhnya masih kurus dan beliau masih harus menjalani cuci darah secara rutin, tetapi wajahnya jauh lebih cerah.
Aku berdiri di ambang pintu memperhatikannya.
Tiba-tiba aku teringat mimpi yang membuatku pulang setahun sebelumnya.
Dalam mimpi itu Ibu berdiri di tempat yang sama, melambaikan tangan sebelum diterbangkan angin.
Aku menghampirinya dan mengambil ember dari tangannya.
“Sudah, Bu. Biar aku.”
Ibu menyerahkan ember itu.
Kemudian beliau menatapku sambil tersenyum.
“Laras.”
“Hm?”
“Kalau nanti Ibu sudah tidak ada, jangan terlalu sedih.”
Aku langsung berhenti menyiram.
“Ibu mulai lagi.”
Beliau tertawa.
“Ibu cuma mau bilang sesuatu.”
“Apa?”
“Orang tua tidak pernah benar-benar menunggu anaknya membawa uang, hadiah, atau kesuksesan ketika pulang.”
Aku menatapnya.
Ibu menyentuh pipiku.
“Kami cuma ingin mendengar suara pintu terbuka, lalu mendengar anak kami berkata, ‘Bu, aku pulang.'”
Dadaku terasa sesak.
Aku memeluknya.
Dan pagi itu akhirnya aku memahami sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah kupahami.
Jarak Jakarta ke kampung kami memang lebih dari seribu kilometer.
Tetapi jarak paling jauh antara seorang anak dan ibunya bukanlah jarak yang dapat dihitung dengan kilometer.
Jarak paling jauh adalah ketika keduanya sama-sama saling menyayangi, sama-sama sedang kesulitan, tetapi memilih diam karena takut menjadi beban bagi satu sama lain.
Aku hampir kehilangan waktu bersama Ibu karena keheningan itu.
Sejak hari itu, kami membuat satu janji sederhana.
Tidak ada lagi kalimat “Ibu baik-baik saja” jika sebenarnya sedang sakit.
Tidak ada lagi kalimat “Aku baik-baik saja” jika sebenarnya sedang kesulitan.
Dan setiap kali aku harus pergi keluar kota karena pekerjaan, sebelum menutup telepon Ibu selalu mengatakan kalimat yang sama.
“Pulanglah kalau sudah sempat. Tidak usah bawa apa-apa.”
Aku selalu menjawab,
“Iya, Bu.”
Karena sekarang aku tahu, selama masih ada seseorang yang menunggu kita membuka pintu dan berkata bahwa kita sudah pulang, sesederhana apa pun rumah itu, kita masih memiliki sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Kita masih memiliki rumah.
