SETELAH 7 HARI MERAWAT CUCU, MENANTUKU MENYODORKAN TAGIHAN Rp35 JUTA! DIA BERSANTAI SAAT AKU MENCUCI, LALU TERTANGKAP BASAH MEMAKAI UANGKU UNTUK MENUTUP UTANG RAHASIANYA!

Pagi berikutnya, Bu Rina terbangun bahkan sebelum alarm di ponselnya berbunyi.

Jam masih menunjukkan pukul 04.37.

Rumah itu sunyi. Dari kamar sebelah terdengar napas pelan Arka dan Maya yang malam sebelumnya kembali memilih tidur bersama nenek mereka.

Bu Rina duduk di tepi ranjang sambil memandang dua cucunya.

Semalam dia hampir tidak tidur.

Bukan karena tagihan Rp35 juta yang disodorkan Siska, melainkan karena sebuah notifikasi yang muncul di ponselnya tiga hari sebelumnya.

Bu Rina memiliki rekening tabungan yang jarang digunakan. Rekening itu berisi uang hasil penjualan sebidang tanah peninggalan almarhum suaminya. Reno tahu rekening tersebut, tetapi sejak bertahun-tahun lalu Bu Rina selalu mengelolanya sendiri.

Tiga hari lalu, muncul notifikasi transfer sebesar Rp18.500.000.

Bu Rina yakin dia tidak pernah melakukan transaksi itu.

Awalnya dia mengira ada kesalahan sistem. Namun ketika memeriksa mutasi rekening, uang tersebut ternyata dikirim ke rekening atas nama seseorang bernama Dedi Pratama.

Nama yang sama kemudian muncul dua kali lagi.

Rp7.500.000.

Rp4.000.000.

Totalnya tepat Rp30.000.000.

Yang lebih aneh, seluruh transaksi dilakukan dari perangkat yang tidak dikenalnya, tetapi lokasi akses tercatat di Tangerang Selatan.

Bu Rina tidak langsung menuduh siapa pun.

Dia hanya mencatat semuanya.

Lalu kemarin sore, tanpa sengaja dia mendengar percakapan Siska saat perempuan itu berbicara melalui telepon di balkon.

“Aku sudah bilang tunggu sampai besok.”

Suara Siska terdengar tegang.

“Aku akan dapat uangnya.”

Bu Rina yang sedang mengangkat pakaian dari jemuran berhenti.

Suara laki-laki dari telepon memang tidak terdengar jelas, tetapi jawaban Siska berikutnya membuat dadanya terasa dingin.

“Utang tiga puluh juta itu sudah aku bayar. Tinggal sisanya.”

Kemudian Siska berkata dengan suara lebih pelan.

“Pokoknya mertua aku punya uang. Besok beres.”

Saat itu semuanya mulai masuk akal.

Tagihan Rp35 juta bukan muncul secara tiba-tiba.

Siska memang sedang membutuhkan uang.

Pukul 06.00, Bu Rina sudah berpakaian rapi.

Dia membuat sarapan terakhir untuk Arka dan Maya, lalu memasukkan pakaian ke dalam koper.

Ketika Maya melihat koper neneknya di ruang tamu, wajah anak itu langsung murung.

“Nenek pulang hari ini?”

Bu Rina mengangguk.

Maya memeluk pinggangnya.

“Jangan pulang.”

Arka yang biasanya lebih tenang ikut berdiri di samping neneknya.

“Nenek balik lagi, kan?”

Bu Rina menahan rasa sesak di dada.

“Nenek pasti datang lagi.”

Dia mengecup kepala keduanya.

“Tapi kalian harus janji satu hal. Belajar yang rajin dan jangan bertengkar.”

Maya mengangguk meski matanya mulai berkaca-kaca.

Sekitar pukul 09.15, Siska akhirnya turun dari lantai atas.

Rambutnya masih berantakan, tetapi hal pertama yang ditanyakannya bukan keadaan anak-anak.

“Uangnya sudah siap?”

Bu Rina sedang duduk di meja makan.

“Duduk dulu, Siska.”

Siska mengernyit.

“Kenapa?”

“Ibu mau bicara.”

Siska menarik kursi dengan malas lalu duduk.

“Kalau soal tagihan, saya tidak mau debat lagi.”

Bu Rina mengeluarkan selembar kertas dari tasnya.

“Ini catatan pengeluaran Ibu selama tujuh hari.”

Dia meletakkannya di meja.

Belanja bahan makanan Rp3.460.000.

Keperluan sekolah dan anak-anak Rp780.000.

Transportasi Rp640.000.

Perbaikan keran dapur dan kamar mandi Rp520.000.

Obat Maya ketika demam ringan Rp185.000.

Berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya membuat totalnya hampir Rp6 juta.

Siska hanya melirik sekilas.

“Saya sudah bilang, saya tidak pernah meminta Ibu membeli itu semua.”

“Ibu tahu.”

“Kalau tahu, kenapa masih dihitung?”

Bu Rina tidak menjawab.

Dia mengeluarkan kertas kedua.

Kali ini wajah Siska berubah sedikit.

“Itu apa?”

“Mutasi rekening Ibu.”

Siska tidak bergerak.

Bu Rina mendorong kertas itu ke arahnya.

“Tiga puluh juta rupiah keluar dari rekening Ibu dalam tiga transaksi.”

Wajah Siska mulai pucat.

“Terus?”

“Dikirim ke rekening bernama Dedi Pratama.”

“Saya tidak kenal.”

Jawaban itu keluar terlalu cepat.

Bu Rina menatapnya lama.

“Benarkah?”

Siska bangkit.

“Kalau rekening Ibu dibobol orang, lapor bank saja. Kenapa tanya saya?”

Bu Rina tetap tenang.

“Karena perangkat yang mengakses rekening itu terhubung dari rumah ini.”

Siska membeku.

Bu Rina sebenarnya belum mengetahui perangkat persisnya. Petugas bank hanya mengatakan login berasal dari perangkat baru dan lokasi yang terdeteksi berada di sekitar Tangerang Selatan.

Namun reaksi Siska sudah menjawab banyak hal.

“Saya tidak tahu apa-apa,” katanya sambil memalingkan wajah.

“Baik.”

Bu Rina mengambil ponselnya.

“Ibu sudah membuat janji dengan bank untuk memblokir akses dan melaporkan transaksi tidak sah.”

Tangan Siska langsung mencengkeram sandaran kursi.

“Lapor?”

“Iya.”

“Maksud Ibu polisi juga?”

“Kalau memang diperlukan.”

Siska langsung berbalik.

“Ibu mau mempermalukan keluarga sendiri hanya karena Rp30 juta?”

Kalimat itu membuat ruangan seketika sunyi.

Bu Rina memandang menantunya.

Siska sendiri baru menyadari kesalahannya beberapa detik kemudian.

Bu Rina belum pernah mengatakan jumlah uang yang hilang adalah tepat Rp30 juta.

Dia hanya menyebut tiga transaksi.

“Kamu tahu jumlahnya.”

Siska membuka mulut, tetapi tidak ada suara keluar.

Bu Rina berdiri.

“Jadi benar kamu yang mengambilnya?”

Wajah Siska berubah merah.

“Saya cuma pinjam!”

Suara itu membuat Arka yang sedang berada di ruang keluarga menoleh.

Bu Rina segera menutup pintu dapur agar cucunya tidak mendengar lebih banyak.

“Pinjam?”

“Iya! Saya akan kembalikan!”

“Dengan meminta Ibu membayar tagihan Rp35 juta?”

Siska mulai menangis.

Namun Bu Rina tidak lagi yakin apakah air mata itu berasal dari penyesalan atau ketakutan.

“Saya terpaksa.”

“Terpaksa melakukan apa?”

Siska terduduk kembali.

Beberapa menit kemudian, rahasia yang selama berbulan-bulan dia sembunyikan akhirnya keluar.

Semuanya bermula dari aplikasi belanja dan layanan pinjaman daring.

Awalnya Siska hanya membeli tas mahal dan ponsel baru dengan cicilan.

Kemudian dia mulai mengikuti sebuah grup investasi yang menjanjikan keuntungan cepat.

Dia memasukkan Rp15 juta.

Uangnya hilang.

Untuk menutup kerugian, dia meminjam dari tiga aplikasi berbeda.

Bunga terus bertambah.

Ketika tagihan jatuh tempo, Siska meminjam lagi untuk menutup pinjaman sebelumnya.

Dalam waktu enam bulan, utangnya membengkak menjadi hampir Rp90 juta.

Dedi Pratama adalah penagih dari salah satu pihak yang memberinya pinjaman pribadi.

“Reno tidak tahu?”

Siska menggeleng cepat.

“Kalau dia tahu, dia pasti menceraikan saya.”

Bu Rina menatap perempuan di depannya.

Untuk pertama kali selama seminggu itu, Siska tidak lagi terlihat seperti menantu yang sombong.

Dia terlihat seperti seseorang yang sudah terlalu lama terjebak dalam kebohongannya sendiri.

Namun rasa iba Bu Rina berhenti ketika dia mengetahui bagaimana uang rekeningnya bisa diambil.

Beberapa bulan sebelumnya, saat Bu Rina menginap di rumah mereka, Siska pernah menawarkan bantuan memasang aplikasi mobile banking baru di ponselnya.

Diam-diam, dia mencatat PIN dan melihat kata sandi yang digunakan Bu Rina.

Minggu ini, ketika Bu Rina sibuk mengantar cucu dan membersihkan rumah, Siska mengambil ponselnya beberapa kali dan mengatur ulang akses rekening.

Bu Rina menutup mata.

Lebih menyakitkan daripada kehilangan uang adalah kenyataan bahwa orang yang dia anggap keluarga telah memanfaatkan kepercayaannya.

“Kenapa Rp35 juta?”

Siska menunduk.

“Sisa utang yang harus dibayar minggu ini sekitar segitu.”

Jadi benar.

Tagihan kamar, listrik, dan fasilitas rumah hanyalah cara untuk mendapatkan uang berikutnya.

Bu Rina mengambil tasnya.

“Saya akan pulang.”

Siska langsung berdiri.

“Ibu jangan bilang Reno.”

Bu Rina berhenti.

“Tolong.”

Siska meraih tangannya.

“Kalau Reno tahu, rumah tangga saya selesai.”

Bu Rina melepaskan tangannya perlahan.

“Rumah tanggamu tidak akan selesai karena Ibu berkata jujur.”

Tatapannya tajam.

“Rumah tanggamu rusak sejak kamu memilih berbohong kepada suamimu dan mencuri dari keluargamu.”

Tepat pada saat itu terdengar suara pintu depan terbuka.

“Bu?”

Bu Rina dan Siska sama-sama menoleh.

Reno berdiri di ambang pintu dapur dengan koper kecil di tangannya.

Wajah Siska langsung kehilangan seluruh warnanya.

“Kamu… bukannya pulang malam?”

“Pekerjaan selesai lebih cepat.”

Reno menatap ibunya, kemudian istrinya.

“Ada apa?”

Tidak seorang pun menjawab.

Lalu sesuatu yang tidak diduga terjadi.

Arka muncul dari ruang keluarga membawa sebuah amplop cokelat.

“Ayah.”

Dia menyerahkan amplop itu.

“Ini punya Mama. Kemarin jatuh dari tas Mama.”

Siska langsung bergerak.

“Arka, kasih Mama!”

Namun Reno lebih cepat mengambilnya.

Di dalam amplop terdapat beberapa surat penagihan, fotokopi KTP Siska, serta sebuah formulir pengajuan pinjaman.

Reno membaca halaman pertama.

Kemudian halaman kedua.

Tangannya mulai gemetar.

“Utang delapan puluh tujuh juta?”

Siska menangis.

“Reno, dengarkan dulu.”

Namun Reno tiba-tiba berhenti membaca.

Wajahnya berubah.

“Apa ini?”

Dia mengangkat satu formulir.

Nama peminjam yang tertera di sana bukan Siska.

Rina Kusumawati.

Nomor KTP milik Bu Rina.

Tanda tangan di bagian bawah dibuat menyerupai tanda tangan mertuanya.

Bu Rina bahkan tidak tahu dokumen itu ada.

Siska bukan hanya mengambil uang dari rekeningnya.

Dia juga mencoba mengajukan pinjaman atas nama Bu Rina sebesar Rp50 juta.

Jika disetujui, Bu Rina yang akan tercatat sebagai peminjam.

Reno menjatuhkan tubuh ke kursi.

“Siska… kamu pakai identitas Ibu?”

Siska menangis semakin keras.

“Aku panik.”

“Aku cuma butuh waktu.”

“Kamu bisa bikin Ibu masuk masalah hukum!”

“Aku akan bayar semuanya!”

“Pakai uang siapa?”

Reno membentak untuk pertama kalinya.

“Uang Ibu lagi?”

Dari balik pintu, terdengar tangisan Maya.

Bu Rina segera keluar dan memeluk cucunya.

Cukup.

Dia tidak ingin anak-anak melihat pertengkaran itu.

Beberapa jam kemudian, Reno mengantar ibunya ke bank.

Seluruh akses mobile banking diganti.

Transaksi yang mencurigakan dilaporkan.

Pengajuan pinjaman menggunakan identitas Bu Rina juga segera diblokir sebelum dana dicairkan.

Bu Rina memilih tidak langsung membawa perkara itu ke polisi dengan satu syarat.

Siska harus membuka seluruh utangnya kepada Reno, menyerahkan akses ke semua rekening, berhenti menggunakan pinjaman daring, dan mengikuti proses penyelesaian utang secara transparan.

Uang Rp30 juta yang diambil harus dikembalikan sedikit demi sedikit.

Bukan karena Bu Rina menganggap perbuatannya ringan.

Dia melakukannya karena memikirkan Arka dan Maya.

Namun ada satu hal yang tidak bisa dia lakukan lagi.

Percaya seperti sebelumnya.

Sebelum naik travel kembali ke Bandung, Bu Rina berdiri di depan rumah bersama Reno.

Anaknya terlihat sangat terpukul.

“Maaf, Bu.”

Bu Rina menggeleng.

“Bukan kamu yang harus minta maaf.”

“Aku seharusnya tahu keadaan rumahku sendiri.”

Bu Rina menatap putranya.

“Kalau begitu mulai sekarang, pulanglah bukan hanya membawa uang.”

Reno terdiam.

“Bawa juga perhatian.”

Kalimat itu membuat matanya berkaca-kaca.

Sebelum masuk ke mobil, Maya berlari memeluk neneknya.

Arka ikut menyusul.

Bu Rina tersenyum dan memeluk mereka erat.

Di dalam travel, dia membuka tas untuk mengambil botol minum.

Tangannya menyentuh kertas tagihan Rp35 juta yang diberikan Siska.

Bu Rina hampir membuangnya.

Namun kemudian dia melihat bagian belakang kertas itu.

Ada tulisan dengan pensil.

Tulisan tangan kecil milik Arka.

“Nenek tidak pernah numpang di rumah kami. Rumah ini jadi rumah lagi waktu Nenek datang.”

Bu Rina terdiam.

Matanya langsung dipenuhi air.

Selama tujuh hari, dia mengira dirinya hanya mencuci pakaian, memasak makanan, dan membersihkan rumah yang berantakan.

Ternyata dua anak kecil memperhatikan semuanya.

Bu Rina melipat kertas itu dengan hati-hati dan memasukkannya kembali ke dalam tas.

Bukan bagian tagihannya yang ingin dia simpan.

Melainkan kalimat di belakangnya.

Sebab pada akhirnya, nilai seseorang di dalam keluarga tidak pernah bisa dihitung dari berapa banyak listrik yang dipakai, makanan yang dimakan, atau berapa malam dia tidur di sebuah kamar.

Keluarga bukan tempat seseorang mengirimkan tagihan setelah menerima kebaikan.

Keluarga adalah tempat di mana kepercayaan seharusnya dijaga.

Dan ketika kepercayaan itu dikhianati, uang mungkin masih bisa dikembalikan sedikit demi sedikit.

Tetapi untuk mendapatkan kepercayaan yang sama sekali lagi, seseorang mungkin membutuhkan waktu jauh lebih lama daripada sekadar tujuh hari.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang