BARU 12 JAM MENIKAH, SUAMIKU MELEMPARKAN LAP KOTOR KE WAJAHKU DAN MENUNTUT AKU MEMBAYAR SEWA RUMAH. AKU LANGSUNG MENGAMBIL DOKUMEN ASET SENILAI RP3,5 MILIAR DAN PERGI!

Kirana menatap foto itu begitu lama sampai suara Rian dan Marni di belakangnya terdengar seperti dengungan yang jauh.

Delapan bulan lalu.

Itu berarti jauh sebelum Rian melamarnya.

Jauh sebelum cincin berlian melingkar di jarinya.

Jauh sebelum laki-laki itu bersumpah bahwa pertemuan mereka hanyalah kebetulan paling indah dalam hidupnya.

“Apa maksudnya ini?” Kirana berbalik.

Wajah Rian langsung kehilangan warna.

Marni bangkit dari kursinya. “Jangan percaya pesan sembarangan. Sekarang banyak orang bisa mengedit foto.”

Kirana tidak menjawab.

Dia menekan tombol panggilan pada nomor yang baru saja mengirim pesan.

Tidak aktif.

Namun beberapa detik kemudian, pesan kedua masuk.

“Kalau ingin tahu semuanya, tanyakan kepada ayahmu tentang Proyek Arunika.”

Kirana merasa jantungnya jatuh.

Proyek Arunika.

Dia mengenal nama itu.

Tiga tahun lalu, ayahnya pernah terlibat dalam pembangunan kompleks komersial besar di Tangerang. Proyek itu gagal setelah salah satu kontraktor mengalami masalah keuangan.

Kirana menatap Rian.

“Kamu kenal Proyek Arunika?”

Rian menghindari tatapannya.

Itu sudah cukup sebagai jawaban.

Kirana membuka pintu.

“Kirana!”

Rian mengejarnya sampai teras.

Namun kali ini Kirana tidak berhenti.

Dia memasukkan koper ke bagasi mobil, duduk di belakang kemudi, lalu mengunci pintu sebelum Rian sempat meraihnya.

“Kita bisa bicara baik-baik!” teriak Rian sambil mengetuk kaca.

Kirana menyalakan mesin.

“Seharusnya kamu memikirkan itu sebelum melempar lap ke wajah istrimu.”

Mobil melaju meninggalkan rumah.

Tangannya gemetar sepanjang perjalanan.

Bukan karena takut kepada Rian.

Melainkan karena satu nama yang terus berputar di kepalanya.

Hendra.

Ayahnya sendiri.

Empat puluh menit kemudian, Kirana tiba di rumah ayahnya di Kebayoran Baru.

Hendra sedang membaca koran ketika putrinya masuk sambil membawa koper.

Ekspresinya langsung berubah.

“Kirana?”

Kirana meletakkan ponselnya di atas meja.

Foto itu terpampang jelas di layar.

“Ayah kenal Rian sebelum aku mengenalnya?”

Hendra tidak menjawab.

“Ayah.”

Laki-laki berusia enam puluh tahun itu melepas kacamatanya perlahan.

“Duduk dulu.”

“Aku tidak mau duduk. Aku mau jawaban.”

Hendra mengembuskan napas panjang.

“Ya. Ayah mengenalnya.”

Dada Kirana terasa seperti dihantam benda berat.

“Sejak kapan?”

“Sekitar delapan bulan sebelum kalian bertemu.”

Kirana tertawa kecil, tetapi tidak ada kegembiraan di dalamnya.

“Jadi pertemuan kami bukan kebetulan?”

“Bukan.”

Kirana menatap ayahnya dengan mata memerah.

“Kenapa?”

Hendra berdiri.

“Rian datang menemui Ayah karena ayahnya.”

Ternyata ayah Rian, almarhum Surya, merupakan salah satu kontraktor kecil dalam Proyek Arunika. Ketika proyek itu bermasalah, perusahaan Surya ikut terseret. Utang menumpuk, aset disita, dan beberapa bulan kemudian Surya meninggal akibat serangan jantung.

Rian percaya Hendra adalah orang yang menghancurkan keluarganya.

“Dia datang ke kantor Ayah membawa dokumen dan mengancam akan menuntut,” kata Hendra.

“Lalu kenapa dia menikahiku?”

Hendra terdiam.

Pertanyaan itulah yang paling ditakutinya.

“Ayah menawarkan penyelesaian.”

Kirana membeku.

“Penyelesaian apa?”

“Ayah membayar kewajiban perusahaan Surya yang masih tertunggak dan menawarkan pekerjaan kepada Rian.”

Kirana menggeleng.

“Itu tidak menjelaskan kenapa dia mendekatiku.”

“Karena setelah pertemuan itu, dia tahu kamu anak Ayah.”

Ruangan mendadak terasa dingin.

Kirana mengambil ponselnya.

“Jadi Ayah tahu dia mendekatiku?”

“Awalnya tidak.”

“Awalnya?”

“Ketika kamu memperkenalkannya enam bulan lalu, Ayah langsung mengenalinya.”

Kirana menatap ayahnya tidak percaya.

“Dan Ayah diam?”

“Ayah sudah memperingatkanmu.”

“Kapan?”

“Waktu Ayah bilang jangan buru-buru menikah.”

“Itu bukan peringatan, Yah! Ayah seharusnya mengatakan siapa dia!”

Suara Kirana pecah.

Untuk pertama kalinya sejak keluar dari rumah Rian, air matanya jatuh.

“Aku menikahi laki-laki yang mungkin mendekatiku untuk membalas dendam, sementara Ayah tahu dan membiarkannya?”

Hendra menunduk.

“Ayah salah.”

Kirana mengambil koper.

“Kirana.”

“Jangan hubungi aku dulu.”

Dia pergi.

Hari itu Kirana menyewa kamar di sebuah serviced apartment di Jakarta Pusat.

Dia mematikan ponselnya selama hampir lima jam.

Ketika akhirnya dinyalakan kembali, terdapat 47 panggilan tak terjawab.

Sebagian besar dari Rian.

Ada pula pesan dari Marni.

“Kamu sudah menjadi istri Rian. Jangan mempermalukan keluarga hanya karena emosi.”

Kirana menghapusnya.

Namun ada satu pesan dari Rian yang membuatnya berhenti.

“Aku memang mengenal ayahmu sebelum mengenalmu. Tapi tidak semuanya seperti yang kamu pikirkan. Beri aku satu kesempatan menjelaskan.”

Kirana membalas singkat.

“Besok pukul 10.00. Kafe di SCBD. Datang sendiri.”

Rian tiba lebih awal.

Wajahnya kusut seperti tidak tidur semalaman.

Kirana duduk di seberangnya tanpa melepas blazer kerjanya.

“Kenapa kamu menikahiku?”

Rian menatap meja.

“Awalnya aku memang mendekatimu karena ayahmu.”

Kirana mengepalkan tangan di bawah meja.

“Aku ingin tahu seperti apa putri orang yang menurutku menghancurkan keluargaku.”

“Lalu?”

“Aku ingin membuat ayahmu merasakan kehilangan.”

Kirana tersenyum getir.

“Dengan menghancurkan hidupku?”

Rian tidak menjawab.

Jawaban itu lebih menyakitkan daripada pengakuan apa pun.

“Tapi semuanya berubah,” katanya cepat. “Aku benar-benar jatuh cinta kepadamu.”

“Dan Rp3,5 miliar itu?”

Rian terdiam lagi.

“Katakan.”

“Ibu tahu tentang deposito itu.”

“Dari mana?”

“Aku pernah melihat dokumennya ketika kamu meninggalkan tas di apartemenku.”

Kirana merasa mual.

“Ibu punya utang.”

“Berapa?”

“Hampir Rp1,8 miliar.”

Kirana terbelalak.

Rian menjelaskan bahwa Marni terjerat investasi ilegal dan pinjaman berbunga tinggi. Rumah yang mereka tempati bahkan terancam disita.

“Jadi kalian ingin uangku.”

“Aku berniat mengembalikannya.”

“Kamu bahkan belum mendapatkannya.”

“Aku terdesak.”

Kirana berdiri.

Rian segera memegang pergelangan tangannya.

“Tolong.”

Kirana menatap tangannya.

Rian langsung melepaskan.

“Pernikahan kita bahkan belum berumur dua hari,” kata Kirana. “Tapi aku sudah menemukan kebohongan delapan bulan, rencana mengambil uangku, dan keluarga yang menganggapku pembantu.”

“Aku bisa berubah.”

“Kamu mungkin bisa. Tapi bukan tugasku menunggu.”

Kirana pergi.

Tiga hari kemudian, melalui pengacara, Kirana mengajukan proses pembatalan dan penyelesaian hukum terkait pernikahannya.

Dia juga menghubungi bank dan memperbarui seluruh akses keamanan aset pribadinya.

Namun kejutan terbesar muncul seminggu kemudian.

Seorang perempuan bernama Siska menghubunginya.

“Saya yang mengirim foto itu.”

Mereka bertemu di sebuah restoran kecil di Menteng.

Siska ternyata mantan staf keuangan perusahaan milik ayah Rian.

Dia membawa sebuah map.

“Sebelum Pak Surya meninggal, beliau menemukan sesuatu.”

Di dalam map terdapat salinan laporan transaksi Proyek Arunika.

Kirana membaca satu per satu.

Tangannya mulai dingin.

Perusahaan Surya ternyata tidak bangkrut semata-mata karena proyek gagal.

Ada pembayaran yang sengaja ditahan oleh perusahaan utama.

Dan tanda tangan yang menyetujui penahanan dana tersebut adalah milik Hendra.

“Ayah saya melakukan ini?”

“Tidak sesederhana itu,” jawab Siska. “Pak Hendra menahan pembayaran karena menemukan penggelembungan biaya dari perusahaan Pak Surya.”

Kirana membalik halaman berikutnya.

Nilainya mencapai Rp6,2 miliar.

“Pak Surya sedang diselidiki secara internal. Tetapi sebelum proses selesai, beliau meninggal. Pak Hendra memilih tidak membawa kasus itu ke polisi demi menjaga nama baik keluarga Rian.”

Kirana terdiam.

Jadi selama bertahun-tahun, Rian membenci orang yang justru menutupi kesalahan ayahnya.

“Kenapa Anda baru memberitahu sekarang?”

Siska menatapnya.

“Karena dua minggu sebelum pernikahan, Rian datang mencari saya.”

Kirana mengangkat wajah.

“Untuk apa?”

“Dia sudah mengetahui semuanya.”

Dunia Kirana seperti berhenti.

“Rian tahu ayahnya bersalah?”

Siska mengangguk.

“Dia tahu.”

“Lalu kenapa dia tetap menikahiku?”

“Karena saat itu tujuannya bukan lagi balas dendam.”

Siska mengeluarkan selembar dokumen terakhir.

Itu salinan perjanjian pinjaman.

Debitur: Marni.

Penjamin: Rian Pratama.

Jaminan tambahan yang direncanakan tercantum sebagai aset pasangan setelah pernikahan.

Kirana menatap tulisan itu sampai pandangannya kabur.

Rian sudah mengetahui kebenaran sebelum menikah.

Namun dia tetap melanjutkan pernikahan karena membutuhkan akses terhadap kekayaan Kirana.

Malam itu Kirana mendatangi rumah ayahnya.

Hendra membuka pintu sendiri.

Kirana meletakkan seluruh dokumen di meja.

“Kali ini ceritakan semuanya.”

Hendra membaca halaman pertama dan wajahnya langsung berubah.

“Ayah seharusnya mengatakan ini sejak awal.”

“Kenapa Ayah melindungi keluarga mereka?”

“Karena Surya pernah menyelamatkan Ayah.”

Bertahun-tahun sebelumnya, ketika perusahaan Hendra hampir bangkrut, Surya meminjamkan modal tanpa jaminan. Mereka pernah bersahabat seperti saudara.

Namun keserakahan mengubah Surya.

“Ayah tidak mau anaknya menanggung dosa bapaknya,” kata Hendra. “Itulah sebabnya Ayah membantu Rian.”

“Dan ketika dia mendekatiku?”

“Ayah ingin percaya bahwa dia benar-benar mencintaimu.”

Kirana menatap ayahnya lama.

“Kita berdua melakukan kesalahan yang sama.”

“Apa?”

“Kita mengira cinta bisa memperbaiki karakter seseorang.”

Hendra terdiam.

Dua bulan berlalu.

Kirana kembali bekerja dan pindah ke apartemen miliknya sendiri.

Rumah yang sebelumnya ditempati Rian akhirnya disita setelah kredit macet.

Marni menjual mobilnya dan pindah ke rumah saudaranya di Bekasi.

Rian beberapa kali mencoba menemui Kirana, tetapi tidak pernah berhasil.

Sampai suatu sore, Kirana menemukan sebuah amplop di meja resepsionis kantornya.

Tidak ada bunga.

Tidak ada hadiah.

Hanya surat.

“Aku tidak meminta kamu kembali. Aku cuma ingin mengatakan bahwa kehilangan Rp3,5 miliar bukan hal terburuk yang hampir terjadi padamu. Hal terburuk adalah kamu hampir kehilangan dirimu sendiri karena percaya kepada orang seperti aku. Sekarang aku mengerti kenapa kamu pergi.”

Kirana membaca surat itu sekali.

Kemudian melipatnya kembali.

Dia tidak menangis.

Tidak pula membalas.

Enam bulan kemudian, proses hukum mereka selesai.

Deposito Rp3,5 miliar itu tetap utuh.

Namun Kirana melakukan sesuatu yang tidak pernah diperkirakan siapa pun.

Dia mencairkan sebagian kecil hasil bunganya dan mendirikan program bantuan hukum serta konsultasi keuangan untuk perempuan yang mengalami manipulasi ekonomi dalam rumah tangga.

Pada hari peluncuran program tersebut, Hendra duduk di barisan belakang.

Setelah acara selesai, dia menghampiri putrinya.

“Ayah bangga padamu.”

Kirana tersenyum.

“Dulu Ayah bilang jangan pernah menyerahkan kendali keuangan kepada orang lain.”

Hendra mengangguk.

“Ternyata nasihat itu bukan cuma soal uang.”

Kirana memandang gedung-gedung Jakarta dari balik jendela.

“Benar.”

Karena pagi setelah pernikahannya, Kirana mengira dia hanya sedang menyelamatkan deposito Rp3,5 miliar.

Baru kemudian dia menyadari sesuatu yang jauh lebih penting.

Yang sebenarnya dia selamatkan ketika menarik koper keluar dari rumah itu bukanlah uang, rumah, atau kariernya.

Melainkan hak untuk tetap menjadi dirinya sendiri.

Dan lap kotor yang dilemparkan Rian ke wajahnya pada pagi pertama pernikahan mereka akhirnya menjadi hadiah paling mahal yang pernah dia terima.

Bukan karena nilainya.

Melainkan karena benda kotor itulah yang membuat Kirana melihat wajah asli orang-orang di sekelilingnya sebelum dia kehilangan sesuatu yang tidak mungkin dibeli kembali dengan Rp3,5 miliar sekalipun.

Kebebasannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang