Malam itu, Dimas tidak langsung turun menemui ibu dan adiknya.
Seluruh naluri militernya berteriak agar ia tetap tenang.
Enam bulan berada di wilayah konflik mengajarinya satu hal penting. Ancaman paling berbahaya bukan selalu orang yang memegang senjata. Kadang-kadang, ancaman justru datang dari orang yang duduk di meja makan sambil tersenyum dan memanggilmu keluarga.
Dimas menatap Laras yang masih gemetar di hadapannya.

“Sejak kapan mereka melakukan ini?”
Laras menyeka air mata.
“Sekitar empat bulan lalu.”
“Ceritakan semuanya.”
Laras menarik napas panjang.
Awalnya Bu Rahmi datang dengan alasan menemani Laras selama Dimas bertugas. Rendy ikut beberapa minggu kemudian karena mengaku sedang mengalami masalah keuangan.
Laras tidak curiga.
Bagaimanapun, mereka keluarga Dimas.
Namun perlahan semuanya berubah.
Bu Rahmi mulai meminta akses terhadap rekening rumah tangga. Rendy berkali-kali masuk ke ruang kerja Dimas dengan alasan membantu memeriksa dokumen perusahaan.
Ketika Laras menegur mereka, Bu Rahmi justru mengatakan bahwa semua aset Dimas pada akhirnya adalah milik keluarga Prasetya.
“Aku bilang perusahaan itu milikmu, bukan milik mereka,” ujar Laras lirih.
“Lalu?”
“Rendy marah.”
Laras menatap lantai.
“Pertama kali dia menamparku.”
Dimas mengatupkan rahangnya.
“Tapi yang paling membuatku takut bukan pukulannya.”
Laras menatap suaminya.
“Ibumu melihat semuanya. Dia bahkan berkata kepadaku, kalau aku terus melawan, mereka akan membuat semua orang percaya bahwa aku gila.”
Dimas memejamkan mata sesaat.
Ia teringat banyak percakapan video selama bertugas. Laras selalu mengatakan semuanya baik-baik saja.
Kadang wajah istrinya terlihat lelah.
Kadang kamera hanya menampilkan wajah Laras dari dekat.
Saat itu Dimas mengira koneksi internet buruk.
Sekarang ia sadar.
Mereka sengaja memastikan tubuh Laras tidak terlihat.
“Kenapa kamu tidak memberi tanda ketika kita video call?”
Laras tersenyum pahit.
“Rendy selalu berdiri di belakang kamera.”
Dimas terdiam.
“Mereka juga bilang kalau aku mencoba memberitahumu, mereka punya koneksi untuk membuatmu dipulangkan secara tidak hormat dari misi. Aku tidak tahu itu benar atau tidak. Tapi mereka menunjukkan beberapa dokumen dengan kop instansi.”
Dimas langsung mengerti.
Kemungkinan besar dokumen palsu.
Namun bagi Laras yang dikurung dan diteror setiap hari, ancaman itu pasti terasa nyata.
Dimas menggenggam tangan istrinya.
“Mulai sekarang, kamu tidak sendirian.”
Laras langsung menggeleng.
“Jangan gegabah. Mereka tahu kamu sudah pulang. Kalau memang rencana mereka adalah membuatmu dinyatakan tidak mampu mengambil keputusan, mereka pasti sudah menyiapkan sesuatu.”
Ucapan itu membuat Dimas berpikir.
Ia kembali memeriksa tablet.
Kali ini bukan hanya dokumen perusahaan.
Ia membuka riwayat surel.
Ada sebuah pesan dari klinik swasta kepada Rendy.
Subjeknya sederhana.
Evaluasi kesehatan Kapten Dimas Prasetya.
Dimas membuka lampiran.
Dadanya mendadak dingin.
Sebuah surat pemeriksaan psikologis sudah disiapkan atas namanya.
Isinya menyatakan bahwa Dimas menunjukkan tanda-tanda gangguan stres pascatrauma berat sepulang dari wilayah konflik, memiliki kecenderungan agresif, paranoid, dan berpotensi membahayakan dirinya maupun orang lain.
Padahal Dimas belum pernah bertemu dokter tersebut.
Bahkan ia baru tiba di Indonesia sehari sebelumnya.
Dimas menunjukkan dokumen itu kepada Laras.
Wajah Laras langsung pucat.
“Mereka akan bilang kamu gila.”
“Bukan hanya itu.”
Dimas menunjuk salah satu bagian.
Jika seseorang dianggap tidak mampu secara hukum akibat gangguan mental berat, pengelolaan bisnis dapat dialihkan melalui mekanisme tertentu sampai ada putusan selanjutnya.
Rendy dan Bu Rahmi sedang menyiapkan dasar cerita.
Laras sebagai istri dianggap tidak waras.
Dimas sebagai pendiri perusahaan dianggap mengalami gangguan mental akibat perang.
Setelah keduanya kehilangan kapasitas hukum, siapa yang tersisa untuk mengendalikan perusahaan?
Rendy dan Rahmi.
Terdengar suara langkah kaki di lorong.
Dimas segera mematikan tablet.
Pintu kamar terbuka.
Bu Rahmi berdiri di sana membawa dua cangkir teh.
“Astaga, kalian berdua belum tidur?”
Senyumnya hangat.
Terlalu hangat.
Dimas menatap ibunya.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa sedang melihat orang asing.
“Ibu buatkan teh. Kamu pasti capek.”
Bu Rahmi meletakkan cangkir di meja.
Dimas tersenyum kecil.
“Terima kasih, Bu.”
Laras menatap suaminya dengan gelisah.
Bu Rahmi kemudian keluar.
Dimas menunggu sampai suara langkah ibunya menjauh.
Ia mengambil kedua cangkir.
“Jangan diminum,” bisik Laras.
“Aku tahu.”
Mereka menuangkan teh itu ke dalam dua botol kecil yang ditemukan Dimas di lemari obat.
Keesokan paginya, Dimas berpura-pura sakit kepala hebat.
Ia bahkan sengaja berjalan sempoyongan ketika turun ke ruang makan.
Rendy langsung memperhatikan.
“Mas kelihatan nggak sehat.”
“Cuma jet lag.”
Bu Rahmi menyentuh dahinya.
“Kamu baru pulang dari daerah perang. Kondisi psikologis juga harus diperiksa.”
Dimas menatap ibunya.
Ucapan itu terlalu tepat.
Seolah naskah sudah disiapkan.
“Apa perlu dokter datang?” tanya Bu Rahmi.
Dimas tersenyum.
“Nanti saja.”
Siang hari, Dimas menghubungi seseorang melalui telepon lama yang masih tersimpan di garasi.
Namanya Arief Santoso, sahabatnya sejak akademi militer yang sekarang bekerja di bidang keamanan korporasi.
Dimas tidak menjelaskan semuanya.
Ia hanya mengatakan satu kalimat.
“Gue butuh orang yang bisa mengamankan istri gue dan menyalin seluruh data rumah ini tanpa diketahui siapa pun.”
Arief diam selama beberapa detik.
“Seberapa buruk?”
Dimas menatap lebam di lengan Laras.
“Lebih buruk dari yang bisa gue jelaskan lewat telepon.”
Malam itu, ketika Bu Rahmi dan Rendy pergi menghadiri makan malam dengan calon pembeli perusahaan, dua orang dari tim Arief datang melalui pintu belakang.
Semua dokumen dipindai.
Rekaman kamera rumah dipulihkan.
Dan di situlah mereka menemukan bukti yang jauh lebih mengerikan.
Rendy pernah lupa mematikan kamera ruang kerja.
Dalam rekaman terlihat jelas dirinya memegang lengan Laras dengan kasar, memaksanya duduk di depan dokumen.
Bu Rahmi berdiri di belakang sambil berkata dengan tenang, “Tanda tangan saja. Dimas bahkan mungkin tidak pulang hidup-hidup.”
Laras menolak.
Rendy menamparnya.
Dimas menghentikan video.
Tangannya gemetar.
Bukan karena takut.
Karena marah.
Namun Arief memegang bahunya.
“Kalau lo turun sekarang dan hajar adik lo, mereka menang.”
Dimas menatapnya.
“Mereka sudah menyiapkan surat yang mengatakan lo agresif dan mengalami gangguan mental. Satu pukulan dari lo akan jadi bukti sempurna.”
Kalimat itu membuat Dimas kembali tenang.
“Jadi kita tunggu.”
“Bukan tunggu,” jawab Arief. “Kita biarkan mereka melangkah sampai cukup jauh untuk mengungkap semuanya.”
Selama tiga hari berikutnya, Dimas memainkan perannya.
Ia pura-pura mengalami insomnia.
Pura-pura mudah marah.
Bahkan sengaja menjatuhkan gelas ketika sedang makan malam.
Bu Rahmi dan Rendy tampak semakin puas.
Pada hari keempat, seorang dokter datang.
Namanya Dokter Adrian.
Dimas langsung mengenali nama itu dari dokumen palsu.
“Pak Dimas,” katanya dengan nada profesional, “keluarga Anda khawatir terhadap kondisi Anda setelah kembali dari daerah konflik.”
Dimas duduk tenang.
“Keluarga mana?”
Dokter Adrian melirik Bu Rahmi.
Hanya sepersekian detik.
Tetapi cukup.
Pemeriksaan berlangsung hampir satu jam.
Dimas menjawab semua pertanyaan secara rasional.
Namun ketika dokter itu pulang, Arief yang memantau dari mobil melihat sesuatu.
Rendy memberikan sebuah amplop kepada Dokter Adrian.
Semuanya terekam.
Dua hari sebelum transaksi penjualan perusahaan, Rendy mengumumkan makan malam keluarga.
Di meja makan, Bu Rahmi bahkan membuka sebotol minuman mahal.
“Kita akan memulai kehidupan baru,” katanya.
Dimas pura-pura tidak mengerti.
Rendy tersenyum.
“Mas juga nanti bisa istirahat. Nggak usah mikirin perusahaan lagi.”
Saat itulah Dimas menerima pesan singkat dari Arief.
Semua siap.
Dimas meletakkan sendoknya.
“Rendy.”
“Ya?”
“Besok transaksi perusahaan jadi?”
Wajah Rendy berubah sedikit.
“Transaksi apa?”
Dimas tersenyum.
“Rp500 miliar.”
Ruangan langsung sunyi.
Bu Rahmi meletakkan gelasnya.
Laras yang duduk di samping Dimas menahan napas.
Rendy kemudian tertawa.
“Mas pasti salah paham.”
“Benarkah?”
Dimas mengeluarkan tablet.
Ia memperlihatkan dokumen akuisisi.
Wajah Rendy memucat sesaat, tetapi segera kembali tenang.
“Laras yang tanda tangan.”
Bu Rahmi ikut bicara.
“Kalau ada masalah, tanya istrimu. Jangan menuduh adikmu.”
Itulah saat yang mereka tunggu.
Rendy menunjuk Laras.
“Dia juga sudah terbukti punya masalah mental. Jangan percaya omongannya.”
Dimas mengangguk perlahan.
“Kebetulan sekali.”
Ia menyalakan televisi besar di ruang keluarga.
Sebuah video muncul.
Rendy terlihat menampar Laras.
Wajah Bu Rahmi berubah seketika.
Rendy berdiri.
“Matikan!”
Video berikutnya diputar.
Dokter Adrian menerima amplop.
Kemudian rekaman audio.
Suara Rendy terdengar jelas.
“Kalau Dimas dinyatakan PTSD berat, perusahaan bisa kita kuasai. Setelah penjualan selesai, uang masuk ke rekening escrow. Tinggal buat dia tidak bisa menggugat.”
Rendy menendang kursinya.
“Kamu merekam kami?”
Dimas berdiri.
Untuk pertama kalinya, tatapan seorang kapten yang terbiasa memimpin pasukan muncul di wajahnya.
“Rumah ini milikku. Perusahaan itu juga milikku. Dan perempuan yang kalian pukul adalah istriku.”
Bu Rahmi tiba-tiba menangis.
“Dimas, Ibu melakukan ini demi keluarga!”
“Demi keluarga?”
“Ibu membesarkanmu sendirian setelah ayahmu meninggal!”
“Dan karena itu Ibu merasa berhak menghancurkan hidup saya?”
Bu Rahmi terdiam.
Tiba-tiba Rendy berlari menuju pintu belakang.
Namun sebelum mencapainya, pintu terbuka dari luar.
Beberapa petugas kepolisian masuk bersama Arief.
Rendy membeku.
Dimas ternyata sudah menyerahkan bukti kekerasan, pemalsuan dokumen, dugaan penipuan bisnis, serta percobaan manipulasi kondisi kesehatan kepada pihak berwenang.
Bu Rahmi jatuh terduduk.
Untuk pertama kalinya, Laras berdiri tanpa gemetar.
Ketika polisi membawa Rendy pergi, lelaki itu berteriak kepada kakaknya.
“Mas pikir perusahaan itu benar-benar milik Mas?”
Dimas mengernyit.
Rendy tertawa seperti orang putus asa.
“Coba baca dokumen pendirian perusahaan yang asli!”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Dimas.
Malam setelah penangkapan, ia membuka brankas lama peninggalan ayahnya.
Di sana tersimpan dokumen pendirian pertama PT Medika Utama.
Dimas membuka halaman demi halaman.
Lalu ia menemukan sebuah surat tulisan tangan.
Tulisan ayahnya.
Dimas,
Kalau suatu hari kamu membaca surat ini, mungkin Ayah sudah tidak ada.
Perusahaan ini memang dibangun dengan namamu, tapi modal pertamanya bukan milik Ayah.
Ada seseorang yang menjual seluruh warisan keluarganya agar perusahaan ini bisa berdiri.
Orang itu tidak pernah meminta namanya dicantumkan.
Dimas berhenti membaca.
Tangannya mulai gemetar.
Ia melanjutkan.
Namanya Rahmi.
Ibumu.
Dimas terpaku.
Ternyata dua puluh tahun lalu, Bu Rahmi menjual tanah warisan dan perhiasan keluarganya untuk memberi modal awal kepada Dimas ketika usaha pertamanya hampir bangkrut.
Ia tidak pernah menceritakannya.
Dimas duduk lama dalam gelap.
Ia akhirnya mengerti sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.
Ibunya memang pernah menyelamatkan masa depannya.
Tetapi bertahun-tahun kemudian, rasa memiliki berubah menjadi keserakahan.
Pengorbanan berubah menjadi keyakinan bahwa semua yang dimiliki anaknya adalah haknya.
Beberapa bulan kemudian, kasus tersebut masuk proses hukum.
Rendy menjadi tersangka utama atas kekerasan, pemalsuan dokumen, dan percobaan penipuan.
Dokter Adrian juga diperiksa karena dugaan pembuatan laporan medis palsu.
Bu Rahmi tidak lolos dari penyelidikan, tetapi Dimas meminta pengacaranya memastikan satu hal.
Tidak ada balas dendam.
Hanya hukum.
Transaksi Rp500 miliar dibatalkan.
PT Medika Utama tetap berdiri.
Namun Dimas membuat keputusan yang mengejutkan seluruh direksi.
Ia mengalihkan sebagian keuntungan perusahaan ke sebuah yayasan perlindungan korban kekerasan dalam rumah tangga.
Yayasan itu diberi nama Yayasan Laras.
Ketika Laras mengetahuinya, ia menangis.
“Kenapa pakai namaku?”
Dimas menggenggam tangannya.
“Karena perusahaan ini hampir hilang gara-gara orang-orang yang menganggap kekuasaan lebih penting daripada manusia.”
Ia menatap istrinya.
“Aku ingin mulai sekarang perusahaan ini justru membantu orang yang pernah berada di posisi kamu.”
Laras tersenyum untuk pertama kalinya sejak Dimas pulang.
Beberapa minggu kemudian, Dimas mengunjungi ibunya.
Bu Rahmi duduk di balik meja ruang kunjungan dengan wajah jauh lebih tua.
Tidak ada perhiasan.
Tidak ada pakaian mahal.
Hanya seorang ibu yang akhirnya harus menghadapi akibat dari pilihannya sendiri.
Dimas meletakkan surat peninggalan ayahnya di atas meja.
“Saya tahu tentang modal pertama perusahaan.”
Bu Rahmi menunduk.
“Ibu cuma ingin mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi hak Ibu.”
Dimas menatapnya lama.
“Kalau Ibu meminta, saya mungkin akan memberikan lebih dari yang Ibu butuhkan.”
Bu Rahmi mengangkat wajah.
“Tapi Ibu tidak meminta.”
Suara Dimas pelan.
“Ibu menyakiti Laras. Ibu memalsukan hidup kami. Dan Ibu hampir menghancurkan anak Ibu sendiri hanya karena merasa pernah berkorban.”
Air mata Bu Rahmi jatuh.
Dimas berdiri.
Sebelum pergi, ia berkata satu kalimat yang membuat ibunya menangis semakin keras.
“Pengorbanan seorang ibu seharusnya melahirkan cinta, Bu. Bukan utang yang harus dibayar anaknya seumur hidup.”
Dimas keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi.
Di luar gedung, Laras menunggunya.
Ketika Dimas mendekat, Laras tidak lagi mundur.
Ia justru berjalan maju dan memeluk suaminya erat-erat.
Dan untuk pertama kalinya sejak kepulangannya dari Afrika, Dimas merasa benar-benar sudah pulang.
