Sepuluh tahun.
Setiap bulan, tanpa pernah terlambat satu hari pun, Aris Pratama mengirim Rp35 juta untuk kedua orang tuanya di Surabaya.
Jika dihitung, jumlahnya sudah mencapai lebih dari empat miliar rupiah.
Namun malam itu, sambil berdiri di lorong rumah masa kecilnya yang nyaris roboh, Aris memegang setumpuk surat palsu dan sebuah dokumen bank yang membuat seluruh tubuhnya terasa dingin.
Nama yang tercetak sebagai pemegang kuasa rekening itu adalah Hendra Pratama.
Abangnya sendiri.
“Kembalikan kotak itu.”
Suara Hendra terdengar rendah dari ujung lorong.

Aris mengangkat wajah. Tatapannya tidak lagi menunjukkan kebingungan seperti beberapa jam sebelumnya.
“Selama sepuluh tahun, uang itu masuk ke mana?”
Hendra tidak menjawab.
“Aku tanya sekali lagi. Uang Bapak dan Ibu masuk ke mana?”
“Pelankan suaramu. Mereka sedang tidur.”
Aris tertawa pendek. Tidak ada sedikit pun humor dalam tawanya.
“Kamu masih takut mereka bangun?”
Hendra mengepalkan tangan.
“Aris, kamu tinggal di Jakarta. Kamu tidak tahu apa yang terjadi di sini.”
“Benar. Aku tidak tahu.”
Aris meletakkan dokumen bank di atas meja kecil di lorong.
“Aku tidak tahu Bapak berjalan dengan tongkat yang dibungkus lakban. Aku tidak tahu Ibu tinggal di rumah bocor. Aku tidak tahu obat mereka tinggal dua tablet. Aku juga tidak tahu mereka makan sup bening karena mengira anak bungsunya bangkrut.”
Wajah Hendra semakin pucat.
“Dan ternyata semua itu karena abangku sendiri.”
“Jangan bicara seolah kamu anak paling berbakti!”
Nada suara Hendra mendadak meninggi.
Pintu kamar Pak Bambang terbuka.
“Hendra?”
Suara tua itu membuat keduanya terdiam.
Pak Bambang muncul dengan tongkatnya. Di belakangnya, Ibu Hartini berdiri sambil memegang kusen pintu.
“Ada apa ini?”
Hendra langsung berubah.
“Tidak ada apa-apa, Pak. Aris cuma salah paham.”
Aris mengambil satu surat dari dalam kotak.
“Bapak pernah menerima surat ini?”
Pak Bambang melihatnya sekilas lalu mengangguk.
“Itu suratmu.”
“Bukan.”
Ruangan mendadak senyap.
Aris mengeluarkan surat lainnya.
“Yang ini juga bukan. Semuanya bukan tulisan saya.”
Ibu Hartini menutup mulut.
Pak Bambang menatap Hendra.
“Hendra?”
Abang Aris membuang muka.
Aris kemudian menunjukkan dokumen bank.
“Selama sepuluh tahun saya mengirim Rp35 juta setiap bulan. Hendra punya kuasa atas rekening yang menerima uang itu.”
Tongkat Pak Bambang hampir terlepas dari tangannya.
“Rp35 juta?”
Suara lelaki tua itu bergetar.
“Kamu kirim sebanyak itu?”
“Setiap bulan, Pak.”
Ibu Hartini langsung terduduk di kursi.
“Ya Allah…”
Hendra tiba-tiba mengambil jaketnya.
“Aku pulang dulu. Kita bicara besok.”
Aris berdiri menghalangi pintu.
“Tidak ada yang pergi.”
“Ini bukan kantor milikmu, Ris.”
“Benar. Ini rumah Bapak dan Ibu. Karena itu kamu akan menjelaskan semuanya di sini.”
Hendra menatap adiknya beberapa detik sebelum akhirnya tertawa pahit.
“Baik.”
Ia menjatuhkan tubuhnya ke kursi.
“Kamu mau tahu uangnya?”
Aris diam.
“Sudah habis.”
Ibu Hartini terisak.
“Hendra…”
“Aku menggunakannya.”
“Untuk apa?” tanya Aris.
“Bisnis.”
“Bisnis apa?”
“Macam-macam.”
Awalnya Hendra mengaku menggunakan sebagian uang untuk usaha distribusi bahan bangunan. Bisnis itu gagal. Setelah itu ia meminjam uang untuk menutup kerugian. Ketika utang jatuh tempo, ia mengambil lagi uang kiriman Aris.
Lalu muncul pinjaman baru.
Investasi baru.
Utang baru.
Kebohongan baru.
Namun Aris tahu cerita itu belum lengkap.
“Empat miliar lebih tidak mungkin hilang hanya karena bisnis kecil.”
Hendra terdiam.
Aris mengeluarkan ponselnya.
“Besok pagi aku akan meminta bank membuka seluruh histori transaksi.”
Hendra langsung berdiri.
“Jangan.”
Satu kata itu mengubah segalanya.
Aris menatapnya tajam.
“Kenapa?”
Tidak ada jawaban.
Keesokan paginya, Aris membawa kedua orang tuanya ke rumah sakit untuk pemeriksaan lengkap. Setelah itu ia menemui manajer cabang bank bersama pengacara perusahaan yang terbang dari Jakarta.
Butuh beberapa jam untuk menelusuri transaksi lama.
Saat laporan rekening akhirnya tercetak, Aris membaca setiap halaman tanpa bicara.
Sebagian besar uang memang ditarik oleh Hendra.
Tetapi ada transaksi lain yang jauh lebih besar.
Transfer ke perusahaan properti.
Pembayaran cicilan mobil.
Pembelian saham spekulatif.
Transfer ke rekening atas nama seorang perempuan bernama Maya Lestari.
Dan selama tiga tahun terakhir, ratusan juta rupiah mengalir ke berbagai platform perjudian daring melalui rekening perantara.
Aris menutup mata.
Sekarang semuanya masuk akal.
Tetapi kejutan terbesar muncul ketika pengacara mereka menemukan satu dokumen lain.
Rumah Pak Bambang dan Ibu Hartini telah dijaminkan kepada sebuah perusahaan pembiayaan.
Nilai pinjamannya Rp1,8 miliar.
Tanda tangan Pak Bambang tercantum di atas dokumen.
“Ini bukan tanda tangan Bapak,” kata Aris.
Pak Bambang melihat dokumen itu lama.
Tangannya gemetar.
“Bapak tidak pernah menandatangani ini.”
Aris merasa darahnya mendidih.
Hendra bukan sekadar mencuri uang.
Ia telah memalsukan surat.
Memalsukan tanda tangan.
Dan menjaminkan satu-satunya rumah milik orang tua mereka.
Lebih buruk lagi, pembayaran pinjaman sudah menunggak selama enam bulan.
Rumah itu tinggal menunggu proses eksekusi.
Sore harinya, Aris mendatangi rumah Hendra.
Rumah dua lantai itu berdiri di kompleks yang jauh lebih mewah dibanding rumah orang tua mereka.
Sebuah SUV baru terparkir di garasi.
Maya membuka pintu.
Perempuan itu terkejut melihat Aris.
“Hendra ada?”
Belum sempat Maya menjawab, Hendra muncul dari ruang tengah.
Aris melemparkan salinan dokumen hipotek ke meja.
“Kamu menjaminkan rumah Bapak dan Ibu.”
Maya menatap Hendra.
“Rumah siapa?”
Hendra membeku.
Ternyata Maya juga tidak mengetahui semuanya.
Selama bertahun-tahun, Hendra mengatakan kepada istrinya bahwa Aris secara sukarela memberikan uang sebagai bagian keuntungan bisnis keluarga.
Rumah mewah mereka, mobil, perjalanan ke luar negeri, bahkan sekolah mahal kedua anak mereka dibiayai dari uang yang seharusnya digunakan merawat Pak Bambang dan Ibu Hartini.
Maya mundur beberapa langkah.
“Kamu bilang perusahaanmu menghasilkan uang.”
Hendra membentak, “Diam!”
Aris justru semakin tenang.
“Besok pagi aku akan melapor ke polisi.”
Wajah Hendra berubah.
“Kamu mau memasukkan abangmu sendiri ke penjara?”
“Aku mau melindungi Bapak dan Ibu.”
“Kita keluarga!”
Aris menatapnya tanpa berkedip.
“Kamu baru ingat kata keluarga setelah ketahuan?”
Hendra mendekat.
“Aku abangmu.”
“Dan mereka orang tua kita.”
Kalimat itu membuat Hendra terdiam.
Malamnya, Aris menceritakan semuanya kepada Pak Bambang dan Ibu Hartini.
Ibu Hartini menangis lama.
Namun Pak Bambang justru berkata sesuatu yang membuat Aris tidak percaya.
“Jangan terlalu keras pada abangmu.”
“Pak, dia hampir membuat rumah ini disita.”
“Bapak tahu.”
“Dia mencuri uang lebih dari empat miliar.”
Pak Bambang mengangguk pelan.
“Bapak juga tahu sekarang.”
“Lalu kenapa Bapak masih membelanya?”
Pak Bambang menatap foto keluarga lama yang tergantung di dinding.
“Karena Bapak gagal membesarkan dia.”
Aris terdiam.
Pak Bambang lalu menceritakan sesuatu yang tidak pernah diketahui Aris.
Ketika Aris pindah ke Jakarta dua belas tahun lalu, Hendra sebenarnya sedang mengalami masalah keuangan berat. Usahanya bangkrut dan ia terlilit utang.
Saat itu Hendra meminta bantuan ayahnya.
Pak Bambang menjual sebidang tanah kecil warisan keluarga untuk menyelamatkan usaha Hendra.
Namun bisnis itu kembali gagal.
Hendra mulai berbohong karena malu.
Satu kebohongan menuntut kebohongan berikutnya.
“Bapak berkali-kali tahu Hendra mengambil barang dari rumah untuk dijual,” kata Pak Bambang.
“Kenapa tidak pernah bilang kepada saya?”
“Karena setiap kali Bapak mau menghubungimu, dia bilang bisnismu sedang dalam masalah.”
Aris menundukkan kepala.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa Hendra tidak hanya mencuri uang.
Ia mencuri hubungan sepuluh tahun antara dirinya dan orang tuanya.
Itulah bagian yang paling sulit dimaafkan.
Dua hari kemudian, Hendra datang.
Kali ini tidak membawa belanjaan.
Tidak ada senyum.
Tidak ada lelucon.
Ia berlutut di depan orang tuanya.
“Pak… Bu… maafkan aku.”
Ibu Hartini menangis.
Hendra mengaku semuanya.
Ia memang awalnya hanya mengambil lima juta dari transfer pertama Aris untuk menutup utang.
Bulan berikutnya ia mengambil sepuluh juta.
Kemudian dua puluh juta.
Ketika melihat Aris tidak pernah menanyakan laporan penggunaan uang, Hendra mulai mengambil seluruhnya.
Ia memberi orang tuanya uang secukupnya sambil mengatakan Aris sedang kesulitan.
Kebohongan itu berlangsung bertahun-tahun.
“Aku selalu berpikir bulan depan akan kukembalikan,” katanya sambil menangis.
“Tapi bulan depan selalu datang bersama utang baru.”
Aris berdiri di dekat jendela.
“Kenapa rumah dijaminkan?”
Hendra menunduk.
“Utang judi.”
Ibu Hartini menutup wajah.
“Berapa?”
“Dua koma tiga miliar.”
Aris memejamkan mata.
Hendra kemudian mengeluarkan sebuah map.
“Aku jual rumahku.”
Maya ternyata telah meninggalkan Hendra sehari sebelumnya dan membawa anak-anak mereka tinggal sementara bersama orang tuanya.
SUV sudah dijual.
Investasi yang tersisa dicairkan.
Rumah Hendra sedang dalam proses penjualan.
“Aku akan bayar semampuku.”
Hendra meletakkan map itu di meja.
“Aku tahu tidak cukup.”
Aris melihat map tersebut tetapi tidak menyentuhnya.
“Dan sisanya?”
“Aku akan bekerja.”
“Berapa lama?”
Hendra tertawa pahit.
“Mungkin seumur hidup.”
Pak Bambang memandang kedua anaknya.
“Bapak tidak ingin kehilangan salah satu dari kalian.”
Aris akhirnya duduk.
“Aku tidak akan mencabut proses hukum.”
Hendra mengangkat kepala.
Ibu Hartini terkejut.
“Aris…”
“Tapi aku juga tidak akan membiarkan Bapak dan Ibu kehilangan rumah.”
Aris sudah melunasi tunggakan dan meminta tim hukumnya menangani pembatalan serta sengketa dokumen jaminan yang dipalsukan.
Ia juga meminta Hendra menyerahkan seluruh aset yang diperoleh dari uang tersebut untuk proses pengembalian kerugian.
Hendra mengangguk.
Untuk pertama kalinya selama sepuluh tahun, ia tidak mencoba mencari alasan.
Beberapa bulan kemudian, Pak Bambang dan Ibu Hartini pindah.
Bukan ke rumah mewah yang awalnya ingin diberikan Aris.
Mereka justru memilih rumah satu lantai sederhana di Sidoarjo yang memiliki halaman kecil dan cukup dekat dengan fasilitas kesehatan.
“Rumah besar bikin capek bersih-bersih,” kata Ibu Hartini sambil tertawa.
Aris akhirnya lebih sering pulang.
Ia menunjuk seorang direktur operasional untuk mengurangi pekerjaannya di Jakarta dan mulai menghabiskan beberapa hari setiap bulan bersama orang tuanya.
Suatu sore, ketika membantu ayahnya menyiram tanaman, Aris melihat Pak Bambang masih menggunakan tongkat tua berlapis lakban.
“Pak, saya sudah belikan tongkat baru.”
Pak Bambang tersenyum.
“Yang ini masih bisa dipakai.”
Aris tertawa kecil.
Kemudian ia teringat sesuatu.
Jam tangan emas yang dulu dibelinya masih tersimpan di dalam koper.
Ia mengambil kotak itu dan memberikannya kepada ayahnya.
Pak Bambang membuka kotak tersebut, menatap jam itu, lalu menutupnya kembali.
“Kenapa, Pak? Tidak suka?”
“Bagus sekali.”
“Terus kenapa tidak dipakai?”
Pak Bambang menatap anaknya.
“Bapak lebih suka kamu pulang.”
Aris terdiam.
Selama bertahun-tahun ia mengira menjadi anak yang baik berarti memastikan uang selalu tersedia.
Rp35 juta setiap bulan.
Obat terbaik.
Makanan terbaik.
Rumah terbaik.
Tetapi di rumah kecil itu, ia akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan laporan keuangan mana pun.
Uang bisa membayar perawatan.
Uang bisa memperbaiki atap.
Uang bahkan bisa menyelamatkan rumah dari penyitaan.
Tetapi uang tidak pernah bisa menggantikan kehadiran.
Setahun kemudian, proses hukum terhadap Hendra masih berjalan ketika Aris menerima sebuah amplop di kantor pusatnya di Jakarta.
Di dalamnya ada bukti transfer Rp2.750.000.
Pengirimnya Hendra.
Keterangan transfernya hanya satu kalimat.
“Cicilan pertama untuk Bapak dan Ibu.”
Aris menatap layar cukup lama.
Kemudian sebuah pesan masuk.
“Aku sekarang bekerja sebagai supervisor gudang. Gajinya tidak besar. Aku tahu mungkin butuh puluhan tahun untuk mengembalikan semuanya. Aku tidak meminta kamu memaafkanku. Aku cuma tidak mau mati sebagai pencuri uang orang tua kita.”
Aris tidak langsung membalas.
Sore itu ia menelepon ibunya.
Ibu Hartini mengatakan Hendra sudah mulai datang setiap Minggu.
Bukan membawa uang.
Bukan membawa hadiah.
Ia datang untuk membersihkan halaman, memperbaiki keran, membeli obat, dan menemani Pak Bambang bermain catur.
“Bapakmu masih sering marah kepadanya,” kata Ibu Hartini.
“Bagus,” jawab Aris.
“Tapi setiap Minggu Bapakmu tetap menyiapkan papan catur.”
Aris tersenyum.
Sebelum menutup telepon, ibunya bertanya kapan ia akan pulang lagi.
Aris melihat kalender di meja.
Dulu, pertanyaan itu hampir selalu dijawab dengan alasan rapat, ekspansi bisnis, atau pekerjaan.
Kali ini tidak.
“Jumat malam saya pulang, Bu.”
“Tidak sibuk?”
Aris melihat gedung-gedung Jakarta dari balik jendela kantornya.
Selama sepuluh tahun ia telah membangun puluhan pusat perawatan untuk memastikan orang-orang lanjut usia mendapatkan perhatian yang layak.
Ironisnya, dua orang lansia yang paling berarti dalam hidupnya justru nyaris ia kehilangan karena terlalu percaya bahwa transfer bank adalah bentuk perhatian yang cukup.
“Pekerjaan selalu ada, Bu.”
Aris tersenyum kecil.
“Tapi waktu bersama Bapak dan Ibu tidak selalu ada.”
Tiga hari kemudian, sebuah mobil berhenti di depan rumah kecil di Sidoarjo.
Aris turun membawa satu tas pakaian.
Tidak ada jam emas.
Tidak ada dokumen rumah.
Tidak ada hadiah mahal.
Pak Bambang sedang duduk di teras bersama Hendra.
Papan catur berada di antara mereka.
Hendra menoleh dan tampak canggung.
Aris berjalan mendekat.
Pak Bambang menunjuk kursi kosong di sampingnya.
“Duduk.”
Aris duduk.
Pak Bambang memindahkan satu bidak catur lalu tersenyum.
“Bagus. Sekarang lengkap.”
Untuk pertama kalinya setelah lebih dari sepuluh tahun, tidak seorang pun di antara mereka membicarakan uang.
Dan justru sore sederhana itulah yang terasa paling mahal.
