Pukul 15.40, Rina pulang lebih cepat dari biasanya dan menemukan ibunya duduk sendirian dalam gelap.
Udara di ruang tamu terasa seperti terperangkap di dalam kotak tertutup. Pengatur suhu menunjukkan 31 derajat. Ibu Sumiati duduk di ujung sofa sambil memegang sebotol air yang sudah hangat, wajahnya pucat dan rambutnya sedikit basah oleh keringat.
Rina belum sempat bertanya banyak ketika matanya menangkap sesuatu di dapur.
Kulkas dua pintu miliknya dirantai.
Sebuah rantai besi melilit kedua gagang pintu, lalu dikunci dengan gembok perak yang masih terlihat baru. Di atas meja terdapat secarik kertas bertuliskan spidol hitam.

Isi rumah ini dibeli dari uang anak dan cucu saya. Orang luar dilarang makan dari rezeki anak saya.
Rina membaca kalimat itu dua kali.
Anehnya, dia tidak berteriak.
Justru ketenangan yang muncul di wajahnya membuat Ibu Sumiati semakin khawatir.
“Ibu sudah makan?”
Ibu Sumiati menunduk.
“Tadi ada dua potong singkong rebus.”
“Selain itu?”
“Sudah cukup, Nak.”
Rina tahu jawaban itu bohong.
Ibunya selalu begitu. Sejak Rina kecil, perempuan itu lebih rela lapar daripada membuat anaknya merasa bersalah.
Rina berjalan ke lorong dan memeriksa kotak listrik. Hanya sakelar menuju kamar tamu yang diturunkan.
Bukan korsleting.
Bukan pemadaman.
Seseorang sengaja mematikannya.
Di samping kompor, Rina menemukan catatan kedua.
Saya pergi belanja bersama Bagas. Biar ibumu sadar tamu tidak punya hak mengatur di rumah orang lain.
Di bawahnya terdapat satu kalimat lagi.
Rumah ini nantinya akan menjadi milik anak-anak kandung saya. Setiap orang harus tahu diri di mana posisinya.
Rina mengeluarkan ponsel.
Dia memotret semuanya.
Rantai.
Gembok.
Catatan.
Kotak listrik.
Angka 31 derajat pada pengatur suhu.
Kemudian kedua catatan asli dimasukkan ke dalam map biru tebal yang selama beberapa minggu terakhir disimpan di lemari kerjanya.
“Rina.”
Ibu Sumiati memegang lengannya.
“Jangan bertengkar dengan mertuamu karena Ibu.”
Rina menatap perempuan yang membesarkannya sendirian setelah ayahnya meninggal ketika dia masih kuliah.
“Bukan Ibu yang memulai semua ini.”
Rina lalu mengambil tang pemotong dari gudang kecil di belakang rumah.
Sekali tekan kuat, gembok itu jatuh ke lantai.
Dia membuka kulkas, mengambil nasi, sup ayam, telur, buah, dan air dingin.
“Makan dulu.”
“Tapi nanti besanmu marah.”
Rina tersenyum tipis.
“Besok pagi, kulkas ini sudah bukan milik kita.”
Ibu Sumiati mengangkat wajah.
“Apa?”
Rina belum sempat menjawab ketika suara mobil terdengar dari halaman.
Ibu Hartini pulang bersama Bagas, putra bungsunya yang berusia tiga puluh tahun dan sudah hampir setahun tidak memiliki pekerjaan tetap.
Begitu masuk ke dapur, Hartini langsung melihat rantai yang tergeletak di lantai.
Wajahnya berubah.
“Siapa yang merusak gembok saya?”
“Saya.”
Rina menjawab tanpa meninggikan suara.
Hartini menatap meja makan. Ibu Sumiati sedang menyantap sup.
“Kamu sengaja menantang saya?”
“Tidak. Saya hanya memberi makan ibu saya.”
“Dengan makanan anak saya?”
Rina menatapnya beberapa detik.
“Ini rumah saya juga, Bu.”
Hartini tertawa pendek.
“Rumah kamu? Jangan lupa siapa suamimu. Dimas yang bekerja membiayai keluarga ini.”
Rina hampir tersenyum mendengarnya.
Selama dua belas tahun menikah, cicilan rumah dibayar dari rekening bersama. Bahkan ketika Dimas kehilangan pekerjaan selama delapan bulan pada masa pandemi, Rinalah yang menanggung hampir seluruh cicilan.
Tetapi Rina tidak menjelaskan apa pun.
Tidak malam itu.
“Besok pagi pukul delapan,” katanya. “Saya ingin Ibu dan Bagas ada di ruang tamu.”
Hartini menyilangkan tangan.
“Untuk apa?”
“Kita bicara soal rumah.”
Mata Hartini langsung berbinar.
Dia salah mengartikan kalimat itu.
“Bagus. Memang sudah waktunya.”
Bagas ikut tersenyum.
Rina tidak bertanya apa maksud mereka.
Pukul 18.20, Dimas pulang.
Begitu masuk, dia langsung menyadari suasana rumah berbeda.
Keisha berlari menyambut ayahnya, tetapi Rina hanya menyerahkan ponselnya.
Dimas melihat foto pertama.
Kemudian kedua.
Ketiga.
Saat melihat tulisan di atas kertas, rahangnya mengeras.
“Ibu melakukan ini?”
Rina mengangguk.
Dimas berjalan menuju kamar Hartini, tetapi Rina menahannya.
“Jangan sekarang.”
“Rin, dia mengunci makanan dari ibumu.”
“Saya tahu.”
“Dia mematikan listrik kamar tamu.”
“Saya juga tahu.”
Dimas menatap map biru di tangan istrinya.
Beberapa detik kemudian dia mengerti.
“Besok?”
“Besok.”
Dimas menarik napas panjang.
“Aku setuju.”
Malam itu mereka makan bersama.
Hartini justru terlihat sangat percaya diri. Dia bahkan beberapa kali berbisik dengan Bagas.
Rina akhirnya memahami alasannya ketika sekitar pukul sembilan malam, Hartini mendatanginya.
“Kalau besok kita bicara rumah, sekalian saja kamar bawah dikosongkan.”
“Untuk siapa?”
“Bagas.”
Rina memandang adik iparnya yang sedang bermain ponsel di sofa.
Hartini melanjutkan dengan santai.
“Dia akan tinggal di sini. Kamar tamu terlalu bagus kalau hanya dipakai orang yang datang sesekali.”
Ibu Sumiati yang mendengar dari meja makan langsung berdiri.
“Besok pagi saya pulang saja, Rina.”
Hartini tersenyum puas.
“Nah, begitu lebih baik.”
Namun Rina menahan tangan ibunya.
“Tidak, Bu. Besok Ibu tetap di sini.”
Pukul 07.55 keesokan harinya, semua orang sudah berada di ruang tamu.
Hartini mengenakan blus terbaiknya.
Bagas bahkan membawa sebuah buku catatan.
Tepat pukul delapan, bel rumah berbunyi.
Seorang pria berusia sekitar empat puluh lima tahun datang bersama seorang perempuan muda dan petugas dari agen properti.
Hartini mengernyit.
“Siapa mereka?”
Rina mempersilakan mereka masuk.
Pria itu tersenyum sopan.
“Selamat pagi. Saya Arief.”
Hartini masih kebingungan.
Rina meletakkan map biru di meja.
“Sebelum mulai, saya ingin menjelaskan sesuatu.”
Dia mengeluarkan catatan pertama.
Kemudian catatan kedua.
Hartini langsung berubah wajah.
“Untuk apa sampah itu disimpan?”
“Karena tulisan ini menjelaskan dengan sangat baik alasan keputusan saya kemarin.”
“Keputusan apa?”
Rina membuka bagian berikutnya.
Salinan dokumen transaksi rumah terletak rapi di dalam plastik transparan.
“Rumah ini sudah dijual.”
Ruangan mendadak sunyi.
Hartini menatap Rina seolah tidak memahami bahasa yang baru didengarnya.
“Apa?”
“Rumah ini sudah kami jual tujuh minggu lalu. Hari ini jadwal serah terima kepada pemilik baru.”
Hartini berdiri.
“Kamu bohong.”
Dimas mengambil dokumen itu dan meletakkannya di depan ibunya.
“Rina tidak bohong, Bu.”
Hartini membalik beberapa halaman dengan tangan gemetar.
“Kamu menjual rumah keluarga tanpa izin Ibu?”
Dimas menatap ibunya.
“Rumah ini milik aku dan Rina. Nama kami yang tercatat dalam sertifikat. Kami berdua yang membayar cicilannya. Jadi izin yang dibutuhkan adalah persetujuan kami berdua.”
“Tapi nanti rumah ini untuk Keisha!”
“Keisha akan ikut kami.”
Hartini terdiam.
Rina kemudian menjelaskan bahwa mereka telah membeli apartemen tiga kamar yang lebih dekat dengan sekolah Keisha dan kantor mereka.
Lalu dia mengeluarkan satu amplop lain.
“Kami juga sudah menyiapkan tempat tinggal untuk Ibu.”
Hartini perlahan duduk kembali.
Wajahnya sedikit melunak.
“Di mana?”
“Unit apartemen studio di Antapani. Sudah dibayar sewa dua tahun.”
Bagas langsung menyela.
“Kalau begitu aku ikut Ibu.”
Rina menatapnya.
“Tidak.”
Bagas mengernyit.
“Kenapa?”
“Unit itu hanya untuk Ibu Hartini.”
“Terus aku tinggal di mana?”
Dimas menjawab kali ini.
“Kamu sudah tiga puluh tahun, Gas. Sudah waktunya kamu mengurus hidupmu sendiri.”
Wajah Bagas memerah.
Hartini memukul meja.
“Jadi kalian mau mengusir anak saya?”
Rina tetap tenang.
“Tidak. Saya hanya berhenti membiayai orang dewasa yang menganggap rumah kami sebagai warisan yang sudah menjadi haknya.”
Hartini menunjuk Ibu Sumiati.
“Semua ini gara-gara perempuan itu datang!”
Ibu Sumiati langsung menunduk.
Namun sebelum Rina menjawab, Dimas berdiri.
“Jangan bawa Ibu Sumiati.”
Hartini membeku.
Selama ini putranya hampir tidak pernah meninggikan suara kepadanya.
Dimas melanjutkan.
“Kalau kemarin Rina tidak pulang cepat, Ibu membiarkan perempuan berusia enam puluh tiga tahun duduk kepanasan dan lapar hanya karena Ibu merasa punya kuasa atas rumah yang bahkan bukan milik Ibu.”
“Aku ibumu.”
“Benar. Karena itu selama sepuluh bulan kami menerima Ibu tinggal di sini. Kami membayar kebutuhan Ibu. Kami bahkan sudah menyiapkan tempat tinggal baru supaya Ibu tetap nyaman.”
Dimas mengambil catatan tulisan tangan Hartini.
“Tapi menjadi ibu tidak memberi hak untuk merendahkan ibu orang lain.”
Mata Hartini mulai berkaca-kaca.
Untuk pertama kalinya sejak datang ke Bandung, dia tidak punya jawaban.
Pak Arief, pembeli rumah, sejak tadi berdiri dengan canggung bersama agen properti.
Rina akhirnya meminta maaf.
“Maaf, Pak. Ada urusan keluarga yang harus kami selesaikan.”
Arief mengangguk.
“Tidak masalah.”
Lalu sesuatu yang tidak diduga terjadi.
Istrinya, perempuan yang berdiri di sampingnya, mendekati Ibu Sumiati.
“Bu, Anda dari Wonosobo?”
Ibu Sumiati mengangguk bingung.
Perempuan itu menunjuk dua toples sambal di meja dapur yang belum sempat dikemas.
“Sambal itu buatan Ibu?”
“Iya.”
Perempuan itu tertawa kecil.
“Saya pernah beli sambal dengan kemasan seperti itu waktu pulang dari Dieng. Enak sekali.”
Suasana yang sejak tadi menegang mendadak sedikit mencair.
Ibu Sumiati tersenyum untuk pertama kalinya pagi itu.
Namun kejutan sebenarnya belum selesai.
Ketika proses serah terima hampir berakhir, Hartini masuk ke kamar dan keluar membawa dua koper.
Dia berhenti di depan Rina.
“Aku tidak mau apartemen pemberianmu.”
Rina tidak menjawab.
Hartini mengangkat dagu, berusaha mempertahankan harga dirinya.
“Aku masih punya rumah lama di Garut.”
Dimas mengerutkan kening.
“Rumah itu kan katanya sudah dijual lima tahun lalu?”
Hartini diam.
Bagas tiba-tiba terlihat gelisah.
“Bu.”
Semua mata tertuju kepadanya.
Hartini akhirnya duduk kembali.
Ternyata rumah lama itu tidak pernah dijual.
Selama bertahun-tahun, Hartini menyewakannya kepada sebuah keluarga dan menyimpan uang sewanya sendiri.
Dimas tercengang.
“Jadi selama ini Ibu punya pemasukan?”
Hartini tidak menjawab.
Bagas justru keceplosan.
“Uangnya kan buat tabungan Ibu sama modal usaha aku.”
Rina memejamkan mata sejenak.
Selama sepuluh bulan, mereka membayar hampir seluruh kebutuhan Hartini. Tagihan kesehatan, makanan, pakaian, bahkan beberapa utang Bagas dibantu Dimas karena Hartini berkali-kali mengatakan tidak punya uang.
Ternyata bukan tidak punya.
Dia hanya tidak ingin menggunakan miliknya sendiri.
Rina membuka map biru sekali lagi.
Dia mengambil kontrak apartemen studio yang sudah disiapkan untuk Hartini.
Kemudian merobeknya menjadi dua.
“Kalau begitu ini tidak diperlukan.”
Hartini menatap potongan kertas itu.
“Rina!”
“Ibu punya rumah dan penghasilan sendiri. Saya senang mendengarnya. Berarti Ibu tidak akan kesulitan.”
Untuk pertama kalinya, wajah Hartini benar-benar pucat.
Pagi itu dia kehilangan sesuatu yang lebih besar daripada sebuah rumah.
Dia kehilangan kendali yang selama ini diperolehnya dengan membuat orang lain merasa bersalah.
Tiga minggu kemudian, kehidupan mereka berubah jauh lebih tenang.
Rina, Dimas, dan Keisha pindah ke apartemen baru. Keisha mendapat kamar sendiri dengan jendela besar menghadap kota.
Ibu Sumiati tidak langsung pulang ke Wonosobo.
Atas permintaan Keisha, dia tinggal dua minggu lagi.
Suatu sore, Rina pulang dan menemukan ibunya bersama Keisha di dapur.
Tepung ketan berceceran di meja.
Kelapa parut memenuhi sebuah mangkuk.
Keisha tertawa karena klepon buatannya berbentuk tidak beraturan.
“Nenek, yang ini bocor lagi!”
“Gula merahnya kebanyakan.”
Rina berdiri di pintu sambil tersenyum.
Ibunya menoleh.
“Rina, sini coba.”
Ibu Sumiati menyodorkan satu klepon hangat.
Rina menggigitnya.
Gula merah cair memenuhi mulutnya.
“Enak.”
Keisha mengangkat kedua tangan dengan bangga.
“Aku yang bikin.”
Saat itulah ponsel Rina berbunyi.
Sebuah pesan dari Dimas.
Dia mengirim foto Hartini berdiri di depan rumah lamanya di Garut. Di belakangnya terlihat papan kecil bertuliskan rumah kontrakan yang baru saja dilepas.
Di bawah foto itu hanya ada satu kalimat.
Ibu menjual rumahnya sendiri. Katanya mau mulai hidup tanpa bergantung pada anak.
Rina membaca pesan itu cukup lama.
Dia tidak merasa menang.
Anehnya, yang muncul justru rasa lega.
Beberapa hari kemudian, Hartini meneleponnya.
Tidak ada permintaan maaf panjang.
Tidak ada tangisan dramatis.
Hanya sebuah kalimat yang terdengar berat keluar dari mulut perempuan yang selama bertahun-tahun selalu ingin menjadi orang paling berkuasa dalam keluarga.
“Rina, waktu ibumu datang lagi ke Bandung, sampaikan aku ingin bertemu dengannya.”
Rina diam.
“Untuk apa?”
Di seberang telepon, Hartini menarik napas.
“Aku punya sesuatu yang seharusnya kukatakan langsung kepadanya.”
Rina tidak memaksa.
Dia hanya menjawab, “Nanti saya sampaikan.”
Malam itu, sebelum tidur, Rina membuka lemari kecil di ruang kerja.
Map biru masih ada di sana.
Di dalamnya tersimpan dua kertas bertuliskan hinaan yang pernah membuat ibunya duduk lapar dalam gelap.
Rina sempat ingin membuangnya.
Namun akhirnya dia menyimpannya kembali.
Bukan untuk menyimpan dendam.
Melainkan sebagai pengingat bahwa batas dalam sebuah keluarga bukan berarti kurang mencintai.
Kadang-kadang batas justru diperlukan agar kasih sayang tidak berubah menjadi kewajiban, bantuan tidak berubah menjadi hak, dan hubungan darah tidak berubah menjadi alasan untuk menguasai hidup orang lain.
Rina menutup lemari.
Dari kamar sebelah terdengar Keisha tertawa bersama neneknya.
Lampu menyala terang.
Pendingin ruangan bekerja seperti biasa.
Dan di dapur, kulkas tidak lagi memiliki rantai.
Tidak ada gembok.
Tidak ada tulisan tentang siapa yang berhak makan.
Hanya ada sebuah kotak berisi klepon buatan seorang nenek dan cucunya, dengan secarik kertas kecil yang ditempel Keisha di pintu kulkas.
Tulisan tangan anak itu miring dan tidak rapi.
Siapa pun yang lapar boleh makan.
