PULANG LEBIH AWAL DARI KANTOR, AKU MEMERGOKI SUAMIKU MENYUDUTKAN IBUKU DI DAPUR DAN MENGUSIRNYA. SAAT KAMI PERGI, REKENING TABUNGANKU JUSTRU MEMBONGKAR RENCANA BUSUK KELUARGANYA YANG SUDAH BERLANGSUNG SELAMA 7 TAHUN!

Maya menatap layar ponselnya begitu lama hingga angka-angka pada mutasi rekening itu terasa seperti bergerak di depan matanya.

Bagas Pratama.

Nama itu muncul lagi dan lagi.

Semakin Maya menggulir layar, semakin sesak dadanya.

Transfer pertama yang berhasil ia temukan terjadi hampir tujuh tahun lalu, hanya tiga bulan setelah pernikahannya dengan Rendy.

Rp8.000.000.

Keterangan transaksi tertulis sederhana.

Keperluan keluarga.

Enam bulan kemudian, ada Rp15.000.000.

Setahun setelahnya, Rp27.000.000.

Lalu jumlahnya membesar.

Rp35.000.000.

Rp50.000.000.

Rp72.000.000.

Beberapa bahkan dikirim hanya berselang beberapa hari.

“Rina,” bisik Maya. “Ini bukan cuma setahun.”

“Apa maksudmu?”

“Mereka sudah melakukannya sejak awal pernikahanku.”

Rina terdiam beberapa detik.

“Jangan sentuh rekening itu dulu. Jangan transfer apa pun. Kita butuh jejak transaksinya tetap utuh.”

Maya mengangguk meski Rina tidak dapat melihatnya.

Di sisi lain kamar hotel, Ibu Sumiati duduk di dekat jendela sambil memegang secangkir teh hangat. Lebam tipis masih terlihat di pipinya.

Melihat ibunya, Maya merasakan sesuatu yang lebih menyakitkan daripada kehilangan uang.

Selama tujuh tahun, ia berusaha menjadi istri yang baik.

Ia bekerja dari pagi hingga malam sebagai manajer hukum di perusahaan properti multinasional. Sebagian besar bonus tahunannya selalu masuk ke rekening bersama karena Rendy mengatakan mereka sedang membangun masa depan.

Rumah yang lebih besar.

Dana pensiun.

Investasi.

Anak, jika suatu hari mereka memutuskan memilikinya.

Ternyata selama Maya menabung untuk masa depan mereka, Rendy mungkin sedang menabung untuk masa depan keluarganya sendiri.

Tanpa dirinya.

Pukul sepuluh pagi, Maya dan ibunya menjalani pemeriksaan di rumah sakit.

Dokter mencatat memar di pipi Ibu Sumiati dan sedikit nyeri di pergelangan tangannya akibat ditarik Rendy.

Setelah itu mereka pergi ke kantor polisi ditemani Rina.

Laporan dibuat.

Semua pesan dari Rendy disimpan.

Foto kondisi wajah Ibu Sumiati diambil.

Saat keluar dari kantor polisi, ponsel Maya kembali berdering.

Nama Ibu Lestari muncul.

Maya memandang layar beberapa detik sebelum mengangkatnya.

“Maya!” suara ibu mertuanya langsung terdengar tajam. “Kamu keterlaluan sekali! Masalah suami istri kenapa dibawa ke polisi?”

Maya berhenti berjalan.

“Siapa yang bilang ke Ibu?”

“Rendy! Dia sampai tidak tidur semalaman karena kamu pergi begitu saja.”

Maya hampir tertawa.

“Apakah Rendy juga cerita kalau dia menyudutkan ibu saya sampai pipinya lebam?”

“Itu pasti cuma salah paham. Lagi pula ibumu seharusnya tahu diri. Tinggal di rumah orang jangan terlalu banyak tingkah.”

Maya menutup mata sebentar.

Tujuh tahun.

Selama tujuh tahun, perempuan ini memanggilnya anak.

Setiap kali membutuhkan sesuatu.

“Maya, pulang saja. Jangan memperbesar masalah. Bagas bilang Rendy sekarang sangat terpukul.”

Maya membuka matanya.

“Bagas ada di sana?”

Telepon mendadak sunyi.

Hanya sepersekian detik, tetapi cukup.

“Ada apa kamu tanya Bagas?”

Maya memandang Rina yang berdiri di sampingnya.

“Tidak apa-apa.”

Ia langsung menutup telepon.

Rina menaikkan alis.

“Mereka sudah berkumpul.”

“Dan mereka tahu aku mungkin menemukan transaksi itu.”

Rina mengangguk perlahan.

“Kita bergerak lebih cepat.”

Siang itu mereka pergi ke kantor cabang bank tempat rekening bersama Maya dan Rendy pertama kali dibuka.

Karena status rekening memungkinkan masing-masing pemilik melakukan transaksi, bank tidak bisa begitu saja mengembalikan dana yang telah dipindahkan.

Namun setelah menunjukkan laporan polisi dan menjelaskan adanya dugaan penyalahgunaan aset perkawinan, Maya meminta catatan transaksi lebih lengkap.

Yang mereka temukan jauh lebih buruk.

Sebagian transfer tidak menuju rekening pribadi Bagas.

Uang itu sempat masuk ke tiga rekening berbeda sebelum akhirnya digunakan sebagai setoran awal pembelian beberapa aset.

Salah satunya sebuah ruko di Bekasi.

Satu lagi sebuah rumah dua lantai di Depok.

Kemudian ada pembayaran rutin kepada sebuah perusahaan bernama PT Pratama Sentosa Bersama.

“Pemiliknya siapa?” tanya Maya.

Rina membuka laptopnya.

Tak sampai lima belas menit kemudian, ia menunjukkan layar.

Direktur utama perusahaan itu adalah Bagas Pratama.

Komisarisnya Ibu Lestari.

Dan salah satu pemegang saham awalnya adalah Doni Pratama.

Tidak ada nama Rendy.

“Mereka membuat perusahaan keluarga,” kata Maya pelan.

“Dan kemungkinan besar menggunakan uangmu sebagai modal.”

Maya merasakan telapak tangannya dingin.

Namun Rina belum selesai.

“Ada yang lebih aneh.”

“Apa?”

“Perusahaan ini didirikan enam tahun lalu.”

Maya menatapnya.

“Satu tahun setelah aku menikah.”

“Tepatnya sebelas bulan.”

Potongan-potongan masa lalu mulai bermunculan dalam ingatan Maya.

Saat tahun pertama pernikahan, Rendy pernah mendesaknya menggabungkan tabungan.

“Kalau sudah menikah, tidak seharusnya ada uangmu dan uangku.”

Saat tahun kedua, Rendy mengatakan Bagas sedang mengalami kesulitan bisnis.

Saat tahun ketiga, Ibu Lestari membutuhkan operasi.

Tahun keempat Doni kehilangan pekerjaan.

Tahun kelima mereka katanya berencana membeli rumah.

Tahun keenam Rendy menyarankan agar Maya menambah porsi bonus tahunannya ke rekening bersama karena bunga deposito lebih menguntungkan.

Semua alasan itu terdengar masuk akal ketika dilihat satu per satu.

Namun ketika disusun kembali, semuanya membentuk pola.

Malam itu, Maya tidak bisa tidur.

Sekitar pukul dua dini hari, Ibu Sumiati mengetuk pintu kamar hotelnya.

“Kamu belum tidur?”

Maya menggeleng.

Ibunya duduk di sebelahnya.

“Maaf, gara-gara Ibu rumah tanggamu jadi begini.”

Maya langsung menatapnya.

“Jangan pernah bilang begitu lagi.”

“Tapi kalau Ibu tidak tinggal di rumah kalian…”

“Maka aku mungkin akan menghabiskan sepuluh tahun lagi bersama orang yang menipuku.”

Ibu Sumiati terdiam.

Maya menggenggam tangan ibunya.

“Justru karena Ibu datang, aku akhirnya melihat siapa dia sebenarnya.”

Air mata menggenang di mata wanita tua itu.

Untuk pertama kalinya sejak kejadian di dapur, Maya menangis.

Bukan karena kehilangan Rendy.

Ia menangisi tujuh tahun hidupnya yang dibangun di atas kepercayaan yang ternyata tidak pernah benar-benar ada.

Dua hari kemudian, Rendy mengirim pesan yang berbeda dari sebelumnya.

Kita harus bicara. Aku akan menjelaskan semuanya.

Atas saran Rina, Maya setuju bertemu di sebuah kafe hotel yang ramai.

Rina duduk di meja lain beberapa meter dari mereka.

Rendy datang dengan wajah lelah.

Begitu duduk, ia mencoba meraih tangan Maya.

Maya menarik tangannya.

“Jelaskan.”

Rendy mengembuskan napas panjang.

“Aku memang membantu Bagas.”

“Rp775 juta?”

“Itu bukan semuanya untuk Bagas.”

“Berapa?”

Rendy terdiam.

“Berapa total uangku yang kamu pindahkan selama tujuh tahun?”

Rendy menatap meja.

“Aku tidak menghitung.”

“Lebih dari satu miliar?”

Rahang Rendy menegang.

Jawaban itu sudah cukup.

Maya tersenyum tipis.

“Kamu hebat.”

“Maya, dengarkan dulu. Semua aset itu masih milik keluarga.”

“Keluarga siapa?”

Rendy mengangkat wajah.

“Keluarga kita.”

“Namaku ada di mana?”

Rendy tidak menjawab.

“Di ruko?”

Diam.

“Rumah Depok?”

Diam.

“Perusahaan Bagas?”

Diam lagi.

Maya bersandar.

“Keluarga kita ternyata berarti keluargamu.”

Rendy mulai kehilangan kesabaran.

“Bagas sedang membangun bisnis. Kalau berhasil, semua orang akan menikmati hasilnya.”

“Kenapa tidak pernah bilang padaku?”

“Karena aku tahu kamu akan menolak.”

Jawaban itu keluar begitu cepat hingga Rendy sendiri seperti menyadari kesalahannya.

Maya menatapnya lekat-lekat.

“Jadi kamu sadar aku tidak akan setuju, lalu kamu tetap mengambil uang itu.”

“Aku suamimu.”

“Dan?”

“Uang dalam pernikahan itu milik bersama.”

“Kalau begitu kenapa aset hasil uang bersama hanya atas nama keluargamu?”

Rendy tidak mampu menjawab.

Beberapa detik kemudian, Maya menanyakan pertanyaan yang paling ingin ia ketahui.

“Uang dua belas juta itu ada di mana?”

Wajah Rendy berubah.

Hanya sedikit.

Tetapi Maya melihatnya.

“Entahlah.”

“Benarkah hilang?”

“Ya.”

“Kalau aku minta rekaman CCTV apartemen?”

Rendy membeku.

Gedung apartemen mereka memiliki kamera di koridor dan pintu masuk unit.

Bukan di dalam apartemen, tetapi cukup untuk mengetahui siapa yang keluar masuk.

“Apa hubungannya?”

“Karena kamu bilang hanya Ibu yang ada di rumah.”

Rendy menelan ludah.

Maya mencondongkan badan.

“Aku sudah meminta manajemen menyimpan rekaman hari itu.”

Itu sebenarnya gertakan.

Maya belum pernah meminta apa pun.

Namun reaksi Rendy mengonfirmasi semuanya.

“Itu cuma dua belas juta, Maya.”

Maya memejamkan mata.

Untuk sesaat ia tidak mendengar suara apa pun di sekelilingnya.

Saat membuka mata kembali, wajahnya tenang.

“Jadi uang itu tidak pernah hilang.”

Rendy tidak menjawab.

“Kamu sengaja menuduh ibuku.”

“Aku cuma ingin dia pergi.”

“Kenapa?”

Rendy mengusap wajah.

“Karena dia terlalu banyak memperhatikan.”

Maya terdiam.

“Apa maksudmu?”

Rendy tampak sadar telah berbicara terlalu jauh.

Namun sudah terlambat.

Maya teringat sesuatu.

Seminggu sebelum kejadian, Ibu Sumiati pernah bertanya kepadanya mengapa Bagas sering menelepon Rendy larut malam.

Saat itu Maya tidak memikirkannya.

Kemudian dua hari sebelum pertengkaran, ibunya mengatakan melihat Rendy membuka beberapa dokumen bank di meja kerja.

Maya bahkan menjawab sambil bercanda bahwa mungkin suaminya sedang mengurus investasi.

Rendy takut Ibu Sumiati melihat terlalu banyak.

Karena itu ia harus membuat wanita tua tersebut pergi.

Maya berdiri.

“Terima kasih.”

Rendy ikut berdiri.

“Untuk apa?”

“Karena akhirnya kamu jujur.”

“Maya, tunggu.”

“Aku akan mengajukan gugatan cerai.”

Rendy pucat.

“Kamu tidak bisa melakukan ini hanya karena uang.”

Maya menatapnya tanpa berkedip.

“Bukan karena uang.”

Ia menunjuk dada Rendy.

“Karena kamu sengaja menghina ibuku, menuduhnya mencuri, mengangkat tangan kepadanya, lalu memakai pernikahan kita sebagai ancaman untuk menutupi kebohonganmu.”

Rendy mencoba mendekat.

“Maya…”

“Jangan sentuh aku.”

Nada suara Maya begitu datar hingga Rendy berhenti.

Tiga minggu kemudian, penyelidikan keuangan yang dilakukan melalui jalur hukum menemukan fakta mengejutkan lainnya.

Ruko di Bekasi dan rumah di Depok memang dibeli menggunakan dana yang sebagian besar berasal dari rekening Maya dan Rendy.

Namun Bagas ternyata diam-diam telah mengagunkan kedua aset tersebut untuk mendapatkan pinjaman bisnis.

PT Pratama Sentosa Bersama terlilit utang hampir Rp2,4 miliar.

Bisnis mereka bukan berkembang.

Bisnis itu nyaris bangkrut.

Lebih buruk lagi, beberapa transfer besar dari rekening bersama dilakukan karena Bagas terus meminta Rendy menutup cicilan dan utang perusahaan agar aset keluarga tidak disita.

Rendy telah menguras tabungan rumah tangganya untuk mempertahankan bisnis yang sudah sekarat.

Ketika Maya menghentikan akses dana dan mengajukan proses hukum, semuanya runtuh dengan cepat.

Bagas datang menemui Maya di kantor.

Ia bahkan berlutut di ruang rapat kecil.

“Tolong cabut laporanmu. Kalau masalah ini diteruskan, perusahaan kami habis.”

Maya menatap pria yang tujuh tahun terakhir selalu memanggilnya adik sendiri.

“Berapa banyak uangku yang kalian ambil?”

Bagas menangis.

“Aku akan kembalikan.”

“Berapa?”

Pria itu terdiam.

Maya sudah mengetahui jawabannya dari audit sementara.

Rp1.286.000.000.

Lebih dari satu miliar rupiah selama tujuh tahun.

Sebagian berasal dari rekening bersama.

Sebagian berasal dari dana investasi yang sebelumnya Maya kira dikelola Rendy atas nama mereka berdua.

“Apa Ibu Lestari tahu?”

Bagas menunduk.

Maya tidak perlu mendengar jawabannya.

Semua orang tahu.

Doni tahu.

Bagas tahu.

Ibu Lestari tahu.

Rendy tahu.

Satu-satunya orang yang tidak tahu adalah Maya.

Enam bulan kemudian, perceraian Maya dan Rendy resmi diputuskan.

Proses pembagian aset berjalan panjang, tetapi bukti aliran dana yang dikumpulkan Rina membuat posisi Maya jauh lebih kuat.

Sebagian aset keluarga Rendy akhirnya dijual untuk memenuhi kewajiban finansial dan penyelesaian perkara.

Hubungan antaranggota keluarga itu juga pecah.

Bagas menyalahkan Rendy.

Rendy menyalahkan Bagas.

Ibu Lestari menyalahkan Maya.

Doni pergi ke Surabaya dan memutus kontak dengan semuanya.

Namun kejutan terbesar baru muncul delapan bulan setelah malam di dapur itu.

Suatu sore, Maya menerima telepon dari manajer apartemen lamanya.

Mereka sedang melakukan pembersihan gudang penyimpanan unit setelah proses kepemilikan selesai.

Ada sebuah kotak kecil atas nama Maya.

Ketika kotak itu sampai, Maya membukanya bersama ibunya.

Di dalamnya ada beberapa buku lama, sertifikat kuliah, dan sebuah amplop cokelat yang tidak dikenalnya.

Ibu Sumiati tiba-tiba menatap amplop itu.

“Ibu pernah lihat ini.”

“Kapan?”

“Hari sebelum Rendy menuduh Ibu mencuri.”

Maya berhenti.

“Di mana?”

“Di meja kerjanya.”

Dengan jantung berdebar, Maya membuka amplop tersebut.

Di dalamnya terdapat beberapa dokumen lama.

Salah satunya adalah salinan perjanjian pendirian PT Pratama Sentosa Bersama.

Namun bukan dokumen itu yang membuat Maya kehilangan kata-kata.

Ada selembar kertas tulisan tangan.

Tulisan Rendy.

Daftar rencana tujuh tahun.

Tahun pertama, gabungkan rekening.

Tahun kedua, mulai modal usaha.

Tahun ketiga, tambah aset.

Tahun keempat, gunakan bonus Maya untuk ekspansi.

Tahun kelima, rumah.

Tahun keenam, investasi.

Tahun ketujuh, pindahkan sebagian besar dana sebelum pembelian rumah baru.

Di bagian bawah terdapat satu kalimat.

Setelah semua aset aman di keluarga, Maya tidak perlu tahu semuanya.

Maya membaca kalimat itu berkali-kali.

Ternyata ini bukan keputusan panik seorang suami yang ingin membantu kakaknya.

Bukan pula serangkaian kesalahan karena terlalu loyal kepada keluarga.

Rencana itu telah dibuat bertahun-tahun.

Ibu Sumiati menatap putrinya dengan wajah pucat.

“Ibu mungkin melihat kertas itu hari itu.”

Maya perlahan mengangkat kepala.

Kini semuanya masuk akal.

Rendy bukan sekadar takut Ibu Sumiati memperhatikan percakapan mereka.

Ia takut wanita tua itu sudah membaca rencana tersebut.

Karena itulah tuduhan pencurian harus terjadi secepat mungkin.

Karena itulah Ibu Sumiati harus keluar malam itu juga.

Maya tiba-tiba tertawa kecil.

Air matanya ikut jatuh.

Ibu Sumiati memeluknya.

“Apa yang lucu?”

Maya mengusap air mata.

“Dia kehilangan semuanya karena uang dua belas juta yang bahkan tidak pernah hilang.”

Setahun setelah perceraian, Maya membeli sebuah rumah sederhana di pinggiran Jakarta.

Tidak besar.

Tidak mewah.

Namun rumah itu memiliki halaman kecil yang dipenuhi tanaman cabai, pandan, serai, dan bunga melati kesukaan ibunya.

Pada pagi pertama mereka tinggal di sana, Maya terbangun pukul lima karena suara dari dapur.

Aroma bawang putih goreng memenuhi rumah.

Ia berjalan keluar dan melihat Ibu Sumiati sedang memasak sambil bersenandung kecil.

Mesin cuci terdengar berputar dari belakang.

Pendingin ruangan ruang tengah masih menyala.

Kulkas dipenuhi sayuran, bumbu, sambal, dan kotak-kotak makanan rumahan.

Semua hal yang pernah dikeluhkan Rendy.

Maya berdiri di pintu dapur sambil tersenyum.

Ibu Sumiati menoleh.

“Bangun karena berisik?”

Maya menggeleng.

Ia menghampiri ibunya dan memeluknya dari belakang.

“Masak saja sesuka Ibu.”

Ibu Sumiati tertawa.

“Nanti listrik mahal.”

“Biarkan.”

“Mesin cuci juga hidup.”

“Biarkan.”

“Kulkas penuh.”

“Bagus.”

Ibu Sumiati terdiam sejenak sebelum tersenyum.

Maya memandang cahaya pagi yang mulai masuk melalui jendela dapur.

Dulu ia mengira rumah adalah tempat yang dibangun dari cicilan, tabungan, aset, dan dua nama di sertifikat.

Sekarang ia tahu dirinya salah.

Rumah adalah tempat di mana seseorang tidak perlu merasa bersalah karena keberadaannya.

Tempat di mana kasih sayang tidak dihitung sebagai utang.

Dan keluarga bukanlah orang-orang yang datang ketika mereka membutuhkan uang, lalu menyebut pengkhianatan sebagai kewajiban.

Kadang-kadang, kehilangan tujuh tahun kehidupan terasa seperti kegagalan.

Namun bagi Maya, tujuh tahun itu akhirnya mengajarkan satu hal yang tidak mungkin ia beli dengan uang sebesar apa pun.

Ada saatnya mempertahankan sebuah pernikahan bukanlah bentuk kesetiaan.

Ada saatnya berjalan pergi justru merupakan satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri sendiri.

Dan jika malam itu Maya tidak pulang lebih awal dari kantor, mungkin sampai hari ini ia masih menabung dengan tekun untuk masa depan yang diam-diam sedang dibangun tanpa dirinya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang